03/05/2026
Hilirisasi aspal Buton seharusnya menjadi momentum kebangkitan ekonomi lokal, bukan sekadar proyek industrialisasi yang memindahkan nilai tambah ke daerah lain. Ketika proses pengolahan justru dilakukan di luar Buton, muncul pertanyaan mendasar,untuk siapa sebenarnya hilirisasi ini dijalankan?
Buton bukan hanya sumber bahan mentah, tetapi juga wilayah yang memiliki hak moral dan ekonomi untuk menikmati hasil pengolahan sumber dayanya sendiri. Dengan memindahkan industri ke luar daerah, pemerintah dan pelaku industri seolah mengulang pola lama,menjadikan daerah penghasil sebagai penyedia bahan baku semata, tanpa kesempatan berkembang menjadi pusat industri.
Padahal, jika hilirisasi dilakukan langsung di Buton, dampaknya akan jauh lebih luas. Tidak hanya Lapangan kerja terbuka, keterampilan masyarakat meningkat, infrastruktur berkembang, Efek berganda inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama hilirisasi, bukan hanya peningkatan produksi semata.kebijakan ini sangat jauh dari rasa keadilan,daerah lain justru menikmati nilai tambah, sementara Buton tetap berada di posisi pinggiran dalam rantai industri nasional.
Kritik ini bukan sekadar penolakan, melainkan ajakan untuk berpikir ulang. Hilirisasi yang sejati adalah yang membangun dari hulu ke hilir di tempat asalnya. Jika aspal Buton adalah kekayaan Buton, maka sudah seharusnya Buton p**a menjadi pusat pengolahannya.Tanpa keberpihakan pada daerah penghasil, hilirisasi hanya akan menjadi slogan kosong indah di atas kertas, tetapi timpang dalam kenyataan.
Prabowo Subianto Fraksi Partai Gerindra