27/02/2026
⚫ TERSESAT 7 HARI SEBELUM LEBARAN (1 / 2 ) ⚫
Tujuh hari lagi Lebaran.
Kalimat itu berulang kali terlintas di kepala Raka sejak subuh tadi. Ia mengucapkannya pelan, seolah takut jika kenyataan itu pecah hanya karena diucapkan terlalu keras. Tujuh hari lagi seharusnya rumah penuh aroma ketupat, suara piring beradu, tawa ibu, dan pesan berantai di grup keluarga yang tak pernah sepi. Namun pagi ini, Raka justru berdiri di pelataran basecamp gunung, memanggul ransel berat, menatap jalur tanah yang menghilang ke dalam hutan.
Udara dingin menusuk kulit. Kabut menggantung rendah, seperti tirai yang belum sepenuhnya dibuka.
“Masih yakin?” tanya Ilham, berdiri di sampingnya. Suaranya tenang, tapi matanya memeriksa ransel Raka, lalu jam di pergelangan tangan sendiri.
Raka mengangguk. “Yakin. Sekalian… ya, sekalian merenung.”
Ilham tidak menanggapi. Ia hanya menarik napas panjang, seakan kata merenung itu memiliki bobot lebih berat daripada isi ranselnya.
Di sisi lain pelataran, Bayu sibuk merapikan sepatu, memukul-mukul ujungnya ke tanah. Wajahnya santai, bahkan terlalu santai untuk seseorang yang akan mendaki gunung di bulan puasa.
“Tenang aja,” katanya sambil tersenyum. “Kita cuma naik bentar. Nggak ngejar summit juga. Lagian niatnya kan bagus.”
Niat.
Kata itu melayang di udara pagi, lalu jatuh entah ke mana.
Mereka bertiga sudah saling kenal sejak kuliah. Raka yang pendiam dan cenderung memendam segalanya. Ilham yang tertib, rajin ibadah, dan sering jadi penengah. Bayu—selalu Bayu—yang hidupnya seperti candaan panjang, tapi entah kenapa selalu berhasil menyeret orang lain ke dalam ide-idenya.
Ide mendaki di akhir Ramadhan pun datang dari Bayu.
“Lu bayangin,” katanya seminggu lalu di warung kopi, “malam takbiran di gunung. Sunyi. Hening. Pasti dapet banget rasanya.”
Ilham sempat menolak. “Bulan puasa bukan buat gaya-gayaan.”
“Justru itu,” Bayu menyahut cepat. “Biar nggak kebanyakan nongkrong, nggak kebanyakan godaan. Kita fokus sama diri sendiri.”
Raka diam saja waktu itu. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar. Ia baru saja melewati bulan Ramadhan dengan kepala penuh. Masalah kerja, orang tua yang mulai sering sakit, dan rasa kosong yang tak bisa ia jelaskan. Mendaki terdengar seperti jeda yang ia butuhkan.
Dan kini, mereka benar-benar di sini.
Langkah pertama selalu terasa ringan.
Jalur awal landai, tanah masih padat, dan sinar matahari pagi menembus sela dedaunan. Nafas mereka teratur. Raka merasakan puasanya masih kuat—tidak ada lapar berlebihan, hanya rasa kering di tenggorokan yang biasa.
“Kalau kita konsisten,” kata Ilham sambil berjalan, “ini bisa jadi puasa paling bermakna buat kita.”
Bayu tertawa kecil. “Siap, ustaz.”
Ilham melirik, tapi tidak tersinggung. Ia tahu Bayu seperti itu. Dan ia tahu, tantangan sebenarnya belum dimulai.
Beberapa jam kemudian, jalur mulai menanjak. Keringat membasahi punggung. Matahari naik perlahan, membuat udara semakin lembap. Langkah Bayu masih cepat, tapi candaan mulai jarang keluar. Raka merasakan perutnya sesekali berkontraksi, mengingatkan bahwa jam makan siang biasanya sudah lewat.
Ia menelan ludah.
“Air?” tawar Ilham.
Raka menggeleng. “Nanti aja.”
Mereka sepakat sejak awal untuk menahan diri—tidak minum berlebihan, tidak memancing rasa ingin makan. Disiplin kecil, pikir Raka, demi niat besar.
Namun niat seringkali diuji bukan dengan hal besar, melainkan celah kecil yang terasa sepele.
Siang itu, mereka berhenti di sebuah tanah datar di bawah pohon besar. Angin berembus pelan, tapi panas tetap terasa. Raka duduk, memejamkan mata. Bayu membuka ransel, pura-pura mencari sesuatu.
“Capek juga, ya,” katanya.
Ilham mengangguk. “Istirahat sebentar. Jangan lama-lama.”
Bayu mengangguk, lalu… tangannya berhenti di satu kantong kecil. Ia terdiam sepersekian detik. Raka melihat gerak itu dari sudut matanya.
Bayu mengeluarkan sebungkus biskuit. Bungkusnya sudah penyok.
“Ini… dari kapan?” tanya Raka, pelan.
Bayu tersenyum canggung. “Entah. Mungkin sisa lama.”
Ilham menoleh cepat. “Yu.”
Bayu mengangkat bahu. “Santai. Cuma liat doang.”
Namun bungkus itu terbuka. Aromanya tipis, tapi cukup untuk membangunkan sesuatu di perut Raka. Dan saat itulah, hutan terasa berubah.
Angin berhenti.
Tidak ada suara serangga.
Sunyi yang tiba-tiba.
Raka menegakkan badan. “Lu ngerasa nggak?”
Bayu tertawa kecil, mencoba meremehkan. “Perasaan apa? Lu kebanyakan mikir.”
Ilham berdiri. “Tutup. Kita lanjut.”
Namun Bayu ragu. Matanya menatap biskuit itu lebih lama dari seharusnya. “Cuma satu,” katanya akhirnya. “Buat tenaga.”
Ilham menggeleng keras. “Jangan.”
Raka menelan ludah. Di kepalanya, ada suara lain yang membujuk. Toh nggak ada yang lihat. Toh cuma sedikit.
Ia membenci dirinya sendiri saat tangan itu bergerak.
Mereka bertiga makan.
Tidak rakus. Tidak terburu-buru. Tapi cukup untuk menandai satu pelanggaran kecil yang tak bisa ditarik kembali.
Saat bungkus biskuit dilipat dan dimasukkan kembali ke ransel, angin kembali berembus. Tapi rasanya tidak sama.
Sore hari, jalur mulai terasa… aneh.
Penanda yang seharusnya mereka temui tidak ada. Pohon-pohon terasa lebih rapat. Cahaya matahari redup lebih cepat dari perkiraan.
“Kita harusnya sudah sampai pos,” gumam Ilham.
Bayu melihat peta. “Sesuai kok. Mungkin jalurnya agak geser.”
Raka tidak menjawab. Ia merasakan dadanya sesak, bukan karena capek, tapi karena firasat yang menekan. Seolah-olah langkah mereka sejak siang tadi sudah masuk ke ruang yang berbeda.
Magrib datang tanpa tanda jelas. Tidak ada langit jingga yang biasa. Hanya kabut tipis dan udara dingin.
Mereka berbuka dengan air. Tidak banyak bicara. Setiap tegukan terasa seperti pengingat yang pahit.
Malam itu, Raka sulit tidur. Di dalam tenda, ia mendengar sesuatu—bukan suara jelas, tapi seperti bisikan yang tertahan di antara daun dan tanah. Ia memejamkan mata, mencoba membaca doa, tapi pikirannya melompat-lompat.
Tujuh hari lagi Lebaran.
Ia tidak tahu kenapa kalimat itu kini terdengar seperti peringatan, bukan harapan.
Dan jauh di dalam hutan, sesuatu seperti sedang menunggu.
Raka terbangun sebelum subuh.
Udara di dalam tenda terasa lebih dingin dari malam sebelumnya. Napasnya keluar seperti asap tipis, meski ia yakin suhu tidak sedingin itu saat mereka tidur. Ia melirik ke kanan—Ilham masih terlelap, tangan memeluk ransel kecilnya seolah takut kehilangannya. Di sisi lain, Bayu mendengkur pelan, wajahnya tampak gelisah.
Raka meraih jam tangan. Masih gelap.
Ia duduk, menyingkap sedikit resleting tenda. Kabut menyelimuti hutan, lebih tebal dari kemarin. Jarak pandang tak sampai sepuluh meter. Suara alam hampir tak ada—tidak ada jangkrik, tidak ada burung pagi. Hanya sunyi yang terasa padat, seperti sesuatu yang bisa disentuh.
Raka menelan ludah.
Ada perasaan tidak enak sejak bangun. Bukan sekadar cemas, tapi rasa bersalah yang menggumpal di dada. Ia teringat biskuit kemarin. Rasa asin-manis itu masih terbayang, dan bersamaan dengan itu muncul pertanyaan yang tidak ingin ia jawab: kenapa aku ikut?
Ilham terbangun tak lama kemudian. Ia duduk tanpa bicara, langsung berwudu dengan air seadanya, lalu salat subuh dengan suara pelan. Bayu ikut bangun belakangan, tampak lesu.
“Aneh ya,” kata Bayu sambil menguap. “Mimpi gue kacau.”
“Mimpi apa?” tanya Raka.
Bayu menggeleng. “Nggak jelas. Kayak jalan muter-muter, tapi nggak nyampe-nyampe.”
Ilham berhenti mengikat tali sepatu. “Mimpi itu sering datang kalau badan capek.”
Namun raut wajahnya tidak sepenuhnya yakin.
Mereka melanjutkan perjalanan setelah subuh. Jalur yang kemarin mereka lewati seharusnya jelas, tapi pagi itu tampak berbeda. Tanah lebih lembek. Daun-daun basah menutup jejak langkah mereka sendiri.
“Lu yakin ini jalurnya?” tanya Raka.
Bayu membuka peta lagi. “Iya. Nih, harusnya lurus.”
Mereka berjalan lurus—dan bertemu semak rapat.
Ilham menghela napas. “Kita geser dikit.”
Mereka bergeser—dan bertemu tanah menurun yang tidak ada di peta.
Raka mulai merasakan keringat dingin. Setiap pilihan terasa salah. Setiap langkah seperti membawa mereka semakin masuk, bukan keluar.
Menjelang siang, matahari terasa lebih kejam dari hari sebelumnya. Puasa mulai terasa berat. Perut Raka mual, tenggorokannya kering. Ia berusaha tidak memikirkan makanan, tapi pikirannya justru dipenuhi bayangan air dingin, nasi hangat, dan suara ibu memanggil dari dapur.
Bayu mulai melambat. “Kita istirahat bentar,” katanya, kali ini tanpa canda.
Mereka duduk di bawah pohon besar lain—pohon yang entah kenapa mirip dengan yang kemarin. Batangnya bengkok, akarnya mencuat seperti tangan-tangan tua.
Ilham menegur, “Jangan lama.”
Bayu mengangguk. Tangannya merogoh ransel lagi. Kali ini, ia mengeluarkan botol minum.
“Minum dikit nggak apa-apa, kan?” katanya, ragu.
Ilham mengangguk pelan. “Iya. Jangan kebanyakan.”
Raka ikut minum. Air itu terasa biasa saja, tapi setelahnya, rasa haus justru makin kuat. Seperti tubuhnya menuntut lebih.
Bayu menatap ranselnya lagi.
“Kenapa?” tanya Raka.
Bayu terdiam. Lalu ia berkata pelan, hampir berbisik, “Gue lapar.”
Ilham langsung menatap tajam. “Jangan mulai lagi.”
“Tapi badan gue lemes,” Bayu membela diri. “Kemarin cuma biskuit. Itu juga sedikit.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Raka tahu, di situlah letak godaan yang sebenarnya. Bukan pada rasa lapar, tapi pada pembenaran. Pada logika yang dibengkokkan agar pelanggaran terasa wajar.
Ilham berdiri. “Kita lanjut. Jangan mikir yang aneh-aneh.”
Namun Bayu tidak langsung bangkit. Ia membuka kantong kecil di ransel—kantong yang kemarin menyimpan biskuit. Kali ini, ada yang lain. Permen. Entah dari mana.
Raka membeku. “Lu bawa banyak juga.”
Bayu tersenyum lemah. “Lupa.”
Ilham menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya, sorotnya berbeda—lelah, kecewa. “Yu… stop.”
Bayu menatap permen itu lama. Lalu… ia memasukkannya ke mulut.
Satu.
Raka merasakan sesuatu berdesir di kulitnya. Angin berembus tiba-tiba, membuat dedaunan bergetar keras. Dari kejauhan, terdengar bunyi seperti ranting patah—padahal tak ada yang lewat.
Bayu menelan. “Gue cuma—”
Ilham tidak menunggu. Ia berbalik, melangkah menjauh. Raka ragu sepersekian detik… lalu mengikuti.
Di belakang, Bayu mengumpat pelan, lalu mengejar.
Sejak saat itu, jalur benar-benar menghilang.
Mereka berjalan berjam-jam, tapi pemandangan seolah berulang. Pohon yang sama. Batu yang sama. Bahkan tanah datar yang sama. Raka mulai yakin mereka berputar.
“Kita muter,” katanya akhirnya.
Bayu membantah, tapi suaranya tak sekuat tadi. “Nggak mungkin.”
Ilham berhenti. “Kita memang muter.”
Matahari mulai condong, tapi rasanya waktu berjalan tidak wajar. Terlalu lama, terlalu berat. Raka merasa langkahnya makin pendek, napasnya makin dangkal.
Menjelang magrib, hujan turun tiba-tiba. Bukan hujan deras, tapi rintik dingin yang menusuk. Mereka membuka jas hujan, menampung air seadanya.
Berbuka hari itu hanya dengan air hujan.
Raka meminum air itu dengan tangan gemetar. Rasanya hambar, tapi menyelamatkan. Saat ia meneguk terakhir, ia mendengar sesuatu—seperti langkah kaki di balik kabut.
Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
“Lu denger?” bisiknya.
Bayu menggeleng cepat. Ilham diam, wajahnya pucat.
Malam itu, mereka mendirikan tenda seadanya. Hujan mereda, tapi kabut tetap tebal. Raka berbaring sambil menatap langit-langit tenda. Kepalanya berdenyut.
Di antara kantuk dan sadar, ia mendengar suara—pelan, seperti orang berbisik.
“Belum selesai…”
Raka tersentak bangun. “Ilham?”
Ilham terbangun juga. “Kenapa?”
“Lu denger apa-apa?”
Ilham menggeleng, tapi raut wajahnya tidak meyakinkan. “Tidur, Rak.”
Namun Raka tahu. Mereka tidak sendirian. Bukan sejak tadi siang.
Di luar tenda, hutan berdiri diam, seolah menahan napas.
Dan jauh di dalamnya, sesuatu mencatat setiap pelanggaran kecil yang mereka anggap sepele.
Hari ketiga.
Raka bangun dengan kepala berat dan tenggorokan seperti digosok pasir. Ia tidak langsung membuka mata. Ia berharap ketika ia membuka mata, ia akan melihat atap kamar rumahnya. Mendengar suara motor tetangga. Mencium aroma masakan sahur.
Namun yang terdengar hanya angin tipis menyentuh kain tenda.
Ia membuka mata.
Gelap.
“Jam berapa?” suara Bayu terdengar parau.
Ilham meraba jam tangannya. “Hampir subuh.”
Tidak ada yang langsung bergerak. Tubuh mereka terasa jauh lebih lemah dibanding kemarin. Puasa dua hari dengan aktivitas berat sudah mulai menggerogoti tenaga. Ditambah tekanan pikiran yang tidak mereka akui.
Raka duduk perlahan. Ada rasa aneh di dadanya—seperti perasaan kehilangan arah, bukan hanya secara fisik, tapi juga batin.
Subuh itu mereka salat dengan suara lebih lirih dari biasanya. Bacaan Ilham terdengar bergetar. Ketika selesai, tidak ada yang saling menatap.
Hujan semalam meninggalkan tanah lembek dan kabut lebih tebal dari hari sebelumnya.
Mereka membereskan tenda.
Dan saat itulah Raka menyadari sesuatu.
“Jejak kita mana?”
Bayu menoleh. “Maksudnya?”
“Tanahnya lembek. Harusnya ada bekas kaki kita.”
Tidak ada.
Tanah di sekitar tenda bersih. Seolah mereka tidak pernah bermalam di situ.
Ilham berdiri diam cukup lama. “Kita jalan.”
Tidak ada yang membahasnya lagi.
Perjalanan hari itu seperti masuk ke dunia yang perlahan bergeser dari logika.
Pohon-pohon terlihat sama, tapi tidak identik. Batu-batu tampak familiar, tapi tidak persis seperti kemarin. Bahkan aroma hutan terasa lebih pekat—lembap dan sedikit anyir.
Bayu mencoba memecah suasana. “Mungkin kita terlalu tinggi.”
“Kita nggak naik,” jawab Ilham singkat.
Raka melihat kompas yang tergantung di tasnya. Jarumnya bergerak gelisah, tidak stabil. Ia menepuk-nepuknya, tapi tetap saja berputar perlahan seperti kebingungan sendiri.
Menjelang siang, rasa haus kembali menyerang. Perut mereka kosong. Tidak ada lagi makanan—biskuit dan permen sudah habis.
Dan kali ini, tidak ada yang mencoba membenarkan apa pun.
Lapar itu sunyi. Tidak gaduh seperti kemarin. Justru lebih berbahaya karena datang bersama lemas dan pikiran lambat.
Raka mulai mendengar sesuatu.
Awalnya seperti suara angin yang menyerupai bisikan. Lalu berubah seperti potongan takbir yang jauh.
“Allahu… ak…”
Ia berhenti berjalan.
“Lu kenapa?” tanya Bayu.
“Lu nggak denger?” Raka berbisik.
“Denger apa?”
Suara itu hilang.
Ilham menatap Raka lama. “Fokus. Jangan kebawa.”
Tapi tak lama kemudian, Bayu yang berhenti.
“Anjir…” katanya pelan.
Di depan mereka berdiri pohon tumbang.
Batangnya besar. Melintang seperti gerbang alami.
Raka membeku.
Itu pohon yang sama.
Pohon yang mereka lewati kemarin.
“Ini nggak mungkin,” gumam Ilham.
Bayu menggeleng cepat. “Kita muter lagi?”
Ilham memeriksa peta. Lalu melihat sekitar. Lalu peta lagi.
“Kita sudah jalan lurus.”
“Berarti?” Raka bertanya.
Ilham tidak menjawab.
Angin tiba-tiba berembus kencang, membuat daun-daun bergetar seperti suara ribuan langkah kecil.
Dan untuk pertama kalinya, ketiganya merasakan hal yang sama.
Mereka tidak hanya tersesat.
Mereka seperti tidak diizinkan keluar.
Menjelang sore, kondisi fisik mulai benar-benar menurun.
Bayu beberapa kali terhuyung. Ilham mulai sering berhenti tanpa sadar. Raka merasakan kakinya seperti digerakkan oleh kebiasaan, bukan kesadaran.
Magrib datang tanpa warna.
Langit abu-abu. Tidak ada jingga. Tidak ada gradasi.
Hanya gelap yang turun perlahan.
Hujan kembali turun, lebih deras dari kemarin.
Mereka membuka jas hujan, menampung air sebanyak mungkin. Kali ini, tangan mereka gemetar bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan yang mulai nyata.
Saat berbuka hanya dengan air hujan, Bayu tertawa kecil.
Tawa yang tidak wajar.
“Kita lucu ya,” katanya.
Raka menatapnya. “Apa?”
“Orang-orang di luar mungkin lagi beli baju Lebaran. Kita? Minum air dari langit.”
Ilham menutup mata. “Jangan ngomong gitu.”
Bayu menatap kosong ke kabut. “Gue ngerasa… ini bukan soal tersesat.”
Kalimat itu menggantung.
Dan malam itu, mereka tidak mendirikan tenda.
Kabut terlalu tebal. Tanah terlalu basah. Mereka hanya duduk bersandar pada batang pohon besar, bergantian terlelap sebentar-sebentar.
Di tengah malam, Raka terbangun.
Ada suara langkah.
Jelas.
Bukan ranting jatuh. Bukan hewan kecil.
Langkah pelan, mengitari mereka.
Ia membuka mata perlahan.
Kabut bergerak seperti ada yang berjalan di dalamnya.
Raka menahan napas.
Langkah itu berhenti tepat di depan mereka.
Ia tidak melihat sosok. Tapi ia merasakan tatapan.
Dingin.
Menilai.
Bayu mendadak bergumam dalam tidur, “Maaf… maaf…”
Ilham terbangun juga. Matanya langsung mencari Raka.
“Kamu juga ngerasa?” bisiknya.
Raka mengangguk pelan.
Lalu, dari dalam kabut, terdengar suara sangat pelan.
“Puasa…”
Hanya satu kata.
Lalu sunyi kembali.
Pagi hari keempat datang tanpa kelegaan.
Wajah mereka pucat. Mata cekung. Bibir pecah-pecah.
Raka sadar sesuatu yang lebih menakutkan dari semua ini.
Hari terus berjalan.
Ramadhan terus berjalan.
Dan jika mereka tidak keluar…
Lebaran akan datang di sini.
Di dalam hutan yang tidak mengakui arah.
Ilham berdiri perlahan. “Kita nggak boleh panik.”
Bayu menatap kosong ke depan. “Kalau ini hukuman?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena di dalam hati masing-masing, pertanyaan itu sudah tumbuh sejak hari pertama.
Dan hutan, dengan sabar, belum selesai.