Cerita Horor Pendaki Gunung

Cerita Horor Pendaki Gunung Tempat berbagi cerita horor kawan-kawan semua

👻 BAB 4 – MBG ( Makanan Bergizi Gentayangan ) 👻Bel istirahat baru saja berbunyi.Anak-anak segera berhamburan keluar kela...
01/07/2026

👻 BAB 4 – MBG ( Makanan Bergizi Gentayangan ) 👻

Bel istirahat baru saja berbunyi.

Anak-anak segera berhamburan keluar kelas.

Sebagian menuju lapangan.

Sebagian lagi pergi ke kantin.

Namun Raka, Siti, dan Bimo masih berdiri di dekat jendela.

Mereka masih memikirkan sosok Si Gentayangan Bergizi.

"Aneh ya," kata Siti.

"Iya," jawab Raka.

"Hantu kok s**a kasih makanan."

Bimo mengangguk.

"Dan dia baik."

Raka mengingat sesuatu.

"Tadi dia menunjuk kantin."

Siti ikut mengangguk.

"Terus dia menggeleng."

Bimo mengernyit.

"Memangnya kenapa sama kantin?"

Raka mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

"Ya sudah, kita lihat saja."

Mereka bertiga berjalan menuju kantin.

---

Kantin sekolah tidak terlalu besar.

Bangunannya sederhana.

Di dalamnya terdapat beberapa meja kayu.

Di etalase terpajang berbagai makanan dan minuman.

Ada gorengan.

Ada mi instan.

Ada kerupuk.

Ada permen.

Ada minuman manis dalam kemasan.

Namun...

Tidak ada buah.

Tidak ada susu.

Tidak ada makanan bergizi lainnya.

Siti memperhatikan etalase.

"Pantas saja."

"Apa?" tanya Bimo.

"Mungkin itu maksud hantu tadi."

Raka mengangguk pelan.

Bimo juga mulai mengerti.

"Jadi... dia nggak s**a makanan di kantin?"

Belum sempat mereka berbicara lagi...

Terdengar suara gaduh.

Bruk!

Seseorang jatuh.

Semua anak menoleh.

Ternyata seorang murid laki-laki terjatuh di dekat pintu kantin.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya lemas.

"Rendi!" teriak seseorang.

Raka dan teman-temannya segera menghampiri.

Rendi adalah murid kelas lima.

Tubuhnya sangat kurus.

Kulitnya pucat.

Ia tampak kesulitan berdiri.

Bu Ratna yang mendengar keributan segera datang.

"Ya ampun! Ada apa?"

Rendi menggeleng pelan.

"Pusing..."

"Kamu sakit?"

"Sedikit..."

Bu Ratna membantu Rendi duduk.

"Kamu sarapan tadi?"

Rendi terdiam.

"Kamu belum sarapan lagi?"

Rendi menunduk.

Bu Ratna menghela napas.

Raka dan teman-temannya saling pandang.

"Lagi?" bisik Siti.

Sepertinya kejadian seperti ini bukan pertama kali.

Bu Ratna mengusap kepala Rendi.

"Kenapa tidak sarapan?"

Rendi menunduk lebih dalam.

"Ayah sedang bekerja di luar kota..."

"Lalu?"

"Ibu sakit."

Suasana mendadak hening.

"Aku nggak mau membangunkan Ibu."

Bu Ratna terdiam.

Anak-anak lain ikut diam.

Rendi melanjutkan.

"Jadi aku berangkat saja."

Suara Rendi terdengar pelan.

Bimo mulai merasa kasihan.

Ia melihat wajah Rendi yang pucat.

Tiba-tiba...

"Hihihihi..."

Suara tawa kecil terdengar.

Raka langsung menoleh.

Suara itu berasal dari belakang kantin.

Mereka bertiga saling pandang.

"Itu dia..." bisik Bimo.

Tanpa berpikir panjang, mereka berlari ke belakang kantin.

Dan benar saja.

Si Gentayangan Bergizi berdiri di sana.

Namun kali ini...

Ia tidak tersenyum.

Wajahnya terlihat sedih.

Ia sedang memperhatikan Rendi dari kejauhan.

"Halo..." kata Bimo pelan.

Si Gentayangan tidak menjawab.

Ia hanya terus melihat Rendi.

Kemudian...

Ia mengangkat sebuah pisang.

Lalu segelas susu.

Kemudian menunjuk Rendi.

Raka mengerti.

"Dia lapar."

Si Gentayangan mengangguk.

Lalu...

Pluk!

Tiba-tiba muncul sebuah kotak makan di tangannya.

Kotak makan itu berisi nasi, telur, sayur, dan buah.

Bimo sampai melongo.

"Keren..."

Si Gentayangan menyodorkan kotak makan itu kepada Raka.

"Buat Rendi?"

Sosok putih itu mengangguk cepat.

"Tapi... bagaimana caranya?"

Si Gentayangan menunjuk ke arah Rendi lagi.

Lalu mengacungkan jempol.

Raka tersenyum.

"Baiklah."

Ia menerima kotak makan tersebut.

Masih hangat.

Bahkan aroma telurnya masih terasa.

Mereka bertiga kembali ke kantin.

Bu Ratna masih menemani Rendi.

"Bu..." kata Raka.

Bu Ratna menoleh.

"Ada apa?"

Raka bingung harus menjelaskan.

Ia tidak mungkin berkata kalau makanan itu dari hantu.

Jadi ia hanya berkata,

"Ini... untuk Rendi."

Bu Ratna tampak heran.

"Kamu bawa dari mana?"

Raka menelan ludah.

"Dari... seseorang."

Bu Ratna mengangguk pelan.

Ia tidak bertanya lagi.

Kotak makan itu diberikan kepada Rendi.

Rendi melihat isinya.

Matanya membesar.

"Buat aku?"

"Iya," kata Bimo.

Rendi terlihat ragu.

Namun perutnya berbunyi.

Kruuuk...

Bimo tersenyum.

"Makan saja."

Rendi akhirnya mulai makan.

Suapan pertama.

Lalu suapan kedua.

Kemudian ketiga.

Perlahan-lahan wajahnya mulai berubah.

Ia tampak lebih segar.

Bahkan mulai tersenyum.

Enam menit kemudian...

Ia sudah menghabiskan semuanya.

Bu Ratna terkejut.

"Kamu lebih baik?"

Rendi mengangguk.

"Pusingnya hilang."

Anak-anak ikut tersenyum.

Dari belakang kantin...

Si Gentayangan memperhatikan semuanya.

Kemudian...

Ia tersenyum.

"Hihihihi..."

Raka melihat ke arahnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Ia merasa bahwa Si Gentayangan bukan sekadar hantu.

Ia seperti seseorang yang benar-benar peduli pada anak-anak.

---

Sore harinya...

Raka, Siti, dan Bimo p**ang bersama.

Di tengah perjalanan, mereka melewati rumah kecil milik Rendi.

Rumah itu sederhana.

Atapnya sebagian sudah kusam.

Halamannya sempit.

Ketika mereka lewat, pintu rumah terbuka.

Rendi keluar.

Ia tersenyum.

"Terima kasih ya."

Raka mengangguk.

"Kamu sudah enakan?"

"Sudah."

Lalu Rendi berkata pelan,

"Sebenarnya... tadi bukan pertama kali."

"Maksudnya?" tanya Siti.

Rendi menatap mereka.

"Dua malam lalu..."

Mereka bertiga langsung memperhatikan.

"Aku juga lihat hantu putih."

Mata Bimo membesar.

"Serius?"

Rendi mengangguk.

"Dia datang ke rumahku."

"Lalu?"

"Dia menaruh pisang dan susu di depan pintu."

Raka terdiam.

"Tapi aku takut."

"Lalu?"

"Aku nggak berani mengambilnya."

Suasana menjadi hening.

Rendi menunduk.

"Kalau tahu dia baik... mungkin aku sudah memakannya."

Tiba-tiba...

Angin sore bertiup pelan.

Daun-daun pohon mangga di dekat rumah bergoyang.

Lalu...

"Hihihihi..."

Semua orang menoleh.

Di bawah pohon mangga...

Si Gentayangan Bergizi berdiri.

Ia melambaikan tangan.

Rendi membelalakkan mata.

"Itu dia..."

Namun kali ini...

Si Gentayangan tidak membawa makanan.

Ia hanya mengangkat tangan.

Kemudian...

Ia menepuk dadanya sendiri.

Lalu menunjuk ke arah Rendi.

Dan mengacungkan jempol.

Rendi perlahan tersenyum.

Tanpa sadar...

Ia ikut mengacungkan jempol.

Si Gentayangan tampak sangat senang.

Lalu...

Ia menghilang.

Begitu saja.

Yang tertinggal hanya hembusan angin sore.

Raka memandang tempat kosong itu.

Ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Mengapa hantu itu sangat peduli pada makanan dan kesehatan anak-anak?

Dan yang lebih aneh lagi...

Mengapa ia terlihat sedih setiap kali melihat anak yang lapar?

Mereka belum mengetahui jawabannya.

Namun sebentar lagi...

Mereka akan menemukan sebuah tempat tua di pinggir desa.

Tempat yang mungkin menyimpan rahasia masa lalu Si Gentayangan Bergizi.

Bersambung ke Bab 5

👻 BAB 3 – MBG ( Makan Bergizi Gentayangan ) 👻Keesokan paginya, Desa Sukamaju masih membicarakan kejadian di bawah pohon ...
29/06/2026

👻 BAB 3 – MBG ( Makan Bergizi Gentayangan ) 👻

Keesokan paginya, Desa Sukamaju masih membicarakan kejadian di bawah pohon beringin.

Mangkuk ajaib yang mengeluarkan makanan sendiri menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.

Ada yang percaya itu keajaiban.

Ada p**a yang menganggapnya hanya mimpi.

Namun Raka, Siti, dan Bimo tahu satu hal.

Si Gentayangan Bergizi benar-benar ada.

---

Pagi itu langit sangat cerah.

Burung-burung berkicau di pepohonan.

Raka berjalan menuju sekolah bersama Bimo.

Bimo membawa bekal yang cukup banyak.

Di tangannya ada kotak makan berisi nasi, telur dadar, dan pisang.

"Kamu bawa makanan banyak amat?" tanya Raka.

Bimo tersenyum.

"Aku takut ketemu hantunya lagi."

"Lalu?"

"Kalau dia ngajak makan, aku sudah siap."

Raka tertawa.

"Tidak begitu juga."

Mereka terus berjalan.

Sesampainya di gerbang sekolah, ternyata suasana sudah ramai.

Anak-anak sedang membicarakan sesuatu.

"Katanya hantunya terbang!"

"Nggak, katanya jalan."

"Kata ibuku, hantunya putih."

"Kata ayahku, hantunya gemuk."

Bimo langsung menyela.

"Nggak gemuk! Dia lucu!"

Semua anak menoleh.

"Kamu lihat?"

Bimo mengangguk bangga.

"Aku lihat sendiri."

Seketika mereka mengelilinginya.

"Serius?"

"Dia tinggi?"

"Punya rambut panjang?"

"Pakai sandal?"

Bimo mulai kebingungan.

"Aku nggak tahu."

Anak-anak tertawa.

Bel berbunyi.

Ting!

Semua murid segera masuk kelas.

---

Di dalam kelas, Bu Ratna sudah berdiri di depan.

Beliau adalah wali kelas mereka.

"Selamat pagi!"

"Pagi, Bu!"

Bu Ratna tersenyum.

"Hari ini sebelum belajar, Ibu mau bertanya."

Semua murid diam.

"Siapa yang tadi sarapan?"

Sebagian murid mengangkat tangan.

Sebagian lagi tidak.

Bu Ratna mengangguk.

"Yang belum sarapan?"

Lima anak mengangkat tangan.

Bimo ikut mengangkat tangan.

Raka melotot.

"Kamu belum sarapan?"

"Tadi bangun kesiangan."

Bu Ratna menggeleng.

"Kalian harus membiasakan sarapan."

"Kenapa, Bu?" tanya Siti.

"Karena tubuh kita membutuhkan energi."

"Kalau nggak sarapan?"

"Kita mudah lelah dan sulit berkonsentrasi."

Bimo mengangguk-angguk.

Namun sebenarnya ia tidak terlalu mendengarkan.

Perhatiannya justru tertuju ke arah jendela.

Entah kenapa...

Ia merasa melihat sesuatu.

Sebuah bayangan putih.

Bimo menyipitkan mata.

Bayangan itu hilang.

Mungkin hanya perasaannya.

Pelajaran pun dimulai.

Satu jam berlalu.

Kemudian dua jam.

Saat pelajaran Matematika berlangsung...

Tiba-tiba...

Tok.

Suara kecil terdengar dari luar.

Semua murid diam.

Tok.

Tok.

Tok.

Bu Ratna berhenti menulis.

"Suara apa itu?"

Tidak ada yang menjawab.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara itu terdengar lagi.

Kali ini dari jendela.

Raka dan Bimo saling pandang.

Jangan-jangan...

Perlahan-lahan...

Bu Ratna mendekati jendela.

Semua murid ikut menoleh.

Dan...

"Hah?"

Bu Ratna membelalakkan mata.

Murid-murid berdiri.

Di luar jendela...

Berdiri sosok putih.

Si Gentayangan Bergizi.

Ia membawa nampan.

Di atas nampan terdapat nasi, sayur, telur, dan susu.

Seluruh kelas membeku.

Bimo sampai membuka mulut lebar-lebar.

"Itu dia..."

Siti menelan ludah.

Raka bahkan tidak berkedip.

Sementara itu...

Si Gentayangan Bergizi justru melambaikan tangan.

"Hihihihi..."

Suara tawanya terdengar pelan.

Bu Ratna mematung.

Seumur hidupnya...

Beliau belum pernah melihat hantu seperti ini.

"Hantu..." bisiknya.

Anehnya...

Hantu itu malah mengangguk.

Seolah membenarkan.

Kemudian...

Ia mengangkat segelas susu.

Lalu menunjuk ke arah murid-murid.

Kemudian mengacungkan jempol.

Semua anak bingung.

Siti mengerutkan dahi.

"Dia... menyuruh kita minum susu?"

Si Gentayangan mengangguk cepat.

Bimo malah membalas acungan jempol.

"Halo!"

Si Gentayangan membalas lagi.

Kini suasana kelas berubah.

Rasa takut perlahan hilang.

Yang tersisa justru rasa penasaran.

Bu Ratna akhirnya memberanikan diri membuka jendela.

"Halo..."

Si Gentayangan tersenyum.

"Hihihi..."

"Siapa... kamu?"

Sosok itu berpikir.

Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri.

Lalu menunjuk makanan.

Lalu mengangkat kedua tangan.

Namun tidak ada yang mengerti.

Raka tiba-tiba berkata,

"Mungkin dia tidak bisa bicara."

Semua memandang Raka.

Sepertinya benar.

Si Gentayangan kembali mengangguk.

Lalu...

Ia mengambil sebuah wortel.

Kemudian memakannya.

Kriuk.

Setelah itu...

Ia mengangkat kedua tangannya.

Seperti orang kuat.

Bimo tertawa.

"Hantunya lagi pamer otot!"

Si Gentayangan kembali mengangguk.

Anak-anak mulai tertawa.

Bahkan Bu Ratna ikut tersenyum.

Belum pernah mereka melihat hantu yang bertingkah seperti badut.

Tiba-tiba...

Prak!

Kotak pensil seorang murid jatuh.

Anak itu terkejut.

Si Gentayangan melihatnya.

Lalu ia berjalan mendekati jendela.

Perlahan...

Ia mengulurkan tangan.

Dan...

Ajaib.

Kotak pensil itu terangkat sendiri.

Melayang.

Semua anak membelalakkan mata.

Kotak pensil itu kembali ke meja.

Si pemilik langsung pucat.

Namun Si Gentayangan hanya mengacungkan jempol.

"Hebat..." bisik Bimo.

Saat itulah...

Perut Bimo berbunyi.

Kruuuk...

Seluruh kelas menoleh.

Bimo tersipu.

"Aku lapar."

Si Gentayangan menatapnya.

Kemudian...

Pluk!

Sebuah pisang muncul di atas nampannya.

Semua terkejut.

Si Gentayangan menyodorkan pisang itu.

Bimo melongo.

"Buat aku?"

Si Gentayangan mengangguk.

Bimo menerima pisang itu perlahan.

Masih hangat.

"Terima kasih..."

Si Gentayangan tampak senang.

Lalu...

Bel istirahat berbunyi.

Ting!

Ting!

Ting!

Anak-anak keluar kelas.

Namun saat mereka kembali melihat jendela...

Sosok putih itu sudah tidak ada.

Menghilang.

Yang tertinggal hanyalah satu buah pisang di tangan Bimo.

Semua anak saling pandang.

Raka menarik napas panjang.

"Sekarang sudah pasti."

"Apa?" tanya Siti.

"Hantu itu benar-benar s**a makanan bergizi."

Bimo mengangguk.

"Dan dia baik."

Tiba-tiba...

Dari arah halaman belakang sekolah...

Terdengar suara tawa kecil.

"Hihihihi..."

Mereka bertiga menoleh.

Di dekat pohon mangga...

Sosok putih itu berdiri lagi.

Ia melambaikan tangan.

Kemudian menunjuk ke arah kantin sekolah.

Lalu menggeleng.

Semua bingung.

Apa maksudnya?

Mereka belum tahu.

Namun beberapa menit lagi...

Mereka akan menemukan sesuatu yang aneh di kantin sekolah.

Sesuatu yang membuat mereka semakin penasaran terhadap Si Gentayangan Bergizi.

Bersambung ke Bab 4

👻 BAB 2 – MBG ( Makanan Bergizi Gentayangan ) 👻Pagi itu, Desa Sukamaju tidak setenang biasanya.Di warung kopi milik Pak ...
26/06/2026

👻 BAB 2 – MBG ( Makanan Bergizi Gentayangan ) 👻

Pagi itu, Desa Sukamaju tidak setenang biasanya.

Di warung kopi milik Pak Ujang, beberapa warga berkumpul sambil membicarakan kejadian semalam.

"Di rumah saya juga ada!" kata Pak Darto.

"Saya dapat nasi sama ikan!" sahut Bu Lina.

"Lho, saya dapat telur sama susu!" timpal Pak Rahman.

Semua orang saling memandang.

Biasanya, cerita tentang hantu membuat orang ketakutan.

Namun kali ini berbeda.

Karena hantu yang mereka bicarakan justru membawa makanan.

Bahkan makanan yang dibawanya terlihat bersih dan lezat.

Di sudut warung, Raka duduk sambil mendengarkan.

Ia sesekali menyeruput teh hangat.

Kepalanya penuh pertanyaan.

Siapa sebenarnya hantu itu?

Kenapa membawa makanan?

Dan mengapa makanan itu masih hangat sampai pagi?

"Tadi malam saya lihat sendiri!" kata Pak Darto lagi.

"Bentuknya gimana?" tanya seseorang.

"Putih."

"Seram?"

Pak Darto berpikir.

"Lumayan."

"Matanya merah?"

"Nggak."

"Taringnya panjang?"

"Nggak."

"Lalu?"

Pak Darto menggaruk kepala.

"Malah senyum."

Semua orang terdiam.

"Hantu kok senyum?"

Pak Darto mengangkat bahu.

"Malah kayak ramah."

Warga mulai bingung.

Sementara itu, Raka semakin penasaran.

Ia belum pernah mendengar ada hantu seperti itu.

Saat sedang berpikir, seseorang menepuk bahunya.

Ternyata Siti.

Siti adalah teman sekelas Raka.

Ia memakai jilbab biru dan membawa tas kecil.

"Kamu dengar juga?" tanya Siti.

Raka mengangguk.

"Kamu lihat hantunya?"

"Lihat."

"Mukanya gimana?"

"Lucu."

Siti melotot.

"Hantu kok lucu?"

"Serius."

Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, seorang anak laki-laki berlari mendekat.

Itu Bimo.

Tubuhnya gemuk dan wajahnya selalu tampak ceria.

"Kalian lagi ngomongin hantu, ya?"

"Iya," jawab Siti.

Bimo langsung duduk.

"Aku juga lihat!"

"Kamu juga?" kata Raka.

Bimo mengangguk cepat.

"Semalam aku lagi makan kerupuk di teras."

"Lalu?"

"Tiba-tiba ada hantu putih."

Raka dan Siti mendekat.

"Hantunya bawa apa?" tanya Siti.

"Pisang."

"Hah?"

"Sama susu."

Raka dan Siti saling pandang.

Bimo menelan ludah.

"Aku kira mau diculik."

"Lalu?"

"Eh, hantunya malah kasih jempol."

Raka hampir tertawa.

"Habis itu?"

"Hilang."

Mereka bertiga diam.

Kini semakin jelas.

Hantu itu benar-benar ada.

Dan ia mendatangi banyak rumah.

Namun tujuannya masih menjadi misteri.

---

Siang harinya, Raka sedang duduk di teras rumah ketika ibunya keluar membawa sapu.

"Melamun saja."

Raka tersenyum.

"Bu."

"Iya?"

"Menurut Ibu, hantu itu jahat nggak?"

Bu Sari berhenti menyapu.

"Kalau jahat, mungkin dari semalam sudah bikin orang ketakutan."

"Tapi dia malah kasih makanan."

"Iya."

Raka kembali berpikir.

Tiba-tiba...

Ting!

Suara sendok jatuh terdengar dari dalam rumah.

Mereka masuk.

Piring makanan yang semalam ditemukan masih berada di atas meja.

Namun sekarang...

Telur rebusnya hilang.

"Bu..."

"Iya?"

"Telurnya ke mana?"

Bu Sari terkejut.

"Lho?"

Padahal tadi masih ada.

Mereka mencari ke bawah meja.

Tidak ada.

Di dapur.

Tidak ada.

Di lantai.

Tidak ada.

Baru beberapa detik kemudian...

Tok.

Sesuatu jatuh dari atas lemari.

Ternyata telur rebus itu.

Raka dan ibunya saling pandang.

"Lho..."

Belum sempat mereka berbicara, terdengar suara anak-anak berteriak dari luar.

"Rakaaaa!"

"Itu Bimo," kata Raka.

Ia berlari keluar.

Di depan rumah, Bimo dan Siti tampak panik.

"Ada apa?" tanya Raka.

"Di pohon beringin!" kata Bimo.

"Kenapa?"

"Ada sesuatu!"

"Apa?"

"Mangkuk!"

Raka bingung.

"Mangkuk?"

"Iya!"

Mereka bertiga segera berlari menuju ujung desa.

Di sana berdiri pohon beringin tua yang sangat besar.

Pohon itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

Akar-akarnya menjuntai ke tanah.

Batangnya begitu besar hingga tidak bisa dipeluk oleh tiga orang dewasa sekaligus.

Anak-anak desa jarang bermain di sana.

Bukan karena angker.

Melainkan karena tempat itu sangat sepi.

Namun siang itu...

Sudah banyak warga berkumpul di bawah pohon.

"Permisi!"

"Sebentar!"

Raka dan teman-temannya menerobos kerumunan.

Lalu...

Mereka melihat sesuatu.

Sebuah mangkuk besar.

Warnanya putih.

Bentuknya sederhana.

Mangkuk itu terletak tepat di bawah pohon beringin.

Dan yang membuat semua orang terkejut...

Mangkuk itu berisi nasi hangat.

Pak Darto mengerutkan dahi.

"Siapa yang taruh di sini?"

Tidak ada yang menjawab.

Pak Rahman maju.

Ia mengambil sedikit nasi.

Masih hangat.

"Lho..."

Semua orang mulai berbisik.

Tiba-tiba...

Pluk.

Sebuah telur rebus muncul di dalam mangkuk.

Semua orang membelalakkan mata.

"Lihat!"

Pluk.

Sekarang muncul wortel.

Pluk.

Lalu muncul brokoli.

Pluk.

Kemudian ikan goreng.

Mangkuk itu terus terisi sendiri.

Suasana langsung menjadi heboh.

"Astaga!"

"Ini apa?"

"Jangan-jangan sihir!"

"Tidak mungkin!"

Raka menelan ludah.

Ia belum pernah melihat hal seperti ini.

Bimo bahkan sampai melongo.

"Hantunya kaya raya..."

Siti memukul pelan lengannya.

"Jangan ngawur."

Namun saat itulah...

Angin tiba-tiba berembus pelan.

Daun-daun pohon beringin bergerak.

Kemudian...

Terdengar suara kecil.

"Hihihihi..."

Semua orang menoleh.

Di balik batang pohon...

Ada sosok putih.

Si Gentayangan Bergizi.

Ia sedang mengintip.

Tangannya memegang nampan.

Wajahnya tampak tersenyum.

"Hantunya!" teriak Bimo.

Semua warga mundur.

Namun anehnya...

Sosok itu tidak bergerak.

Ia hanya menunjuk ke arah mangkuk.

Kemudian menunjuk ke arah perutnya sendiri.

Lalu mengacungkan jempol.

Semua orang bingung.

Siti mengerutkan dahi.

"Dia... menyuruh kita makan?"

Raka berpikir.

Sepertinya benar.

Sosok itu mengangguk pelan.

Lalu...

Ia kembali menunjuk mangkuk.

Pak Darto memberanikan diri.

"Ini... buat kami?"

Sosok putih itu mengangguk lagi.

Lalu mengangkat kedua tangannya dengan gembira.

Seperti orang yang sedang senang.

Bimo malah melambaikan tangan.

"Halo, Hantu!"

Siti memukul bahunya lagi.

Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Si Gentayangan Bergizi...

Membalas lambaian tangan itu.

Bimo langsung membeku.

"Dia balas..."

Raka hampir tertawa.

Karena untuk pertama kalinya...

Mereka melihat hantu yang ramah.

Tiba-tiba angin bertiup lebih kencang.

Daun-daun berjatuhan.

Ketika semua orang menutup mata...

Sosok putih itu sudah tidak ada.

Menghilang.

Yang tersisa hanya mangkuk ajaib berisi makanan hangat.

Semua orang kembali saling memandang.

Pak Darto berkata pelan,

"Saya rasa..."

"Apa?" tanya Bu Lina.

"Hantu itu tidak jahat."

Semua terdiam.

Pak Darto melihat mangkuk.

"Mungkin... dia ingin membantu."

Raka menatap mangkuk itu.

Entah kenapa...

Ia mulai merasa bahwa di balik senyum lucu Si Gentayangan Bergizi...

Tersimpan sebuah rahasia besar.

Dan tanpa mereka sadari...

Di balik batang pohon beringin yang besar...

Sepasang mata putih sedang memperhatikan mereka.

Disertai tawa kecil.

"Hihihihi..."

Bersambung ke Bab 3

👻 BAB 1 – MBG ( Makanan Bergizi Gentayangan ) 👻Malam di Desa Sukamaju selalu datang dengan tenang.Desa kecil yang berada...
26/06/2026

👻 BAB 1 – MBG ( Makanan Bergizi Gentayangan ) 👻

Malam di Desa Sukamaju selalu datang dengan tenang.

Desa kecil yang berada di kaki perbukitan itu tidak terlalu ramai. Ketika matahari tenggelam, satu per satu lampu rumah mulai menyala. Suara jangkrik mengambil alih suasana. Sesekali terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan.

Di siang hari, Desa Sukamaju terlihat indah. Sawah hijau membentang luas. Pohon-pohon kelapa berdiri di pinggir jalan. Anak-anak bermain layang-layang di lapangan. Para petani bekerja di kebun, sementara para ibu bercengkerama di teras rumah.

Namun ketika malam tiba, suasana desa berubah.

Bukan karena ada sesuatu yang menyeramkan.

Melainkan karena desa itu sangat sepi.

Begitu sepinya hingga suara sandal orang yang berjalan di jalan kampung bisa terdengar dari kejauhan.

Malam itu adalah malam Sabtu.

Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam.

Di sebuah rumah sederhana bercat biru, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun sedang mengerjakan tugas sekolah.

Namanya Raka.

Raka memiliki tubuh kurus, kulit sawo matang, dan rambut hitam yang selalu sedikit berantakan. Ia tinggal bersama ibunya, Bu Sari, yang bekerja sebagai penjual gorengan.

"Sudah selesai tugasnya?" tanya Bu Sari dari dapur.

"Belum, Bu!" jawab Raka.

"Jangan terlalu malam."

"Iya."

Bu Sari keluar dari dapur sambil membawa segelas susu hangat.

"Nih."

Raka menatap susu itu.

"Lagi, Bu?"

Bu Sari tersenyum.

"Supaya badanmu kuat."

Raka menghela napas.

"Kenapa sih Ibu selalu nyuruh aku minum susu?"

"Karena kamu susah makan."

"Aku makan kok."

"Makan mi instan terus?"

Raka nyengir.

Bu Sari menggeleng.

"Kamu itu harus makan yang bergizi."

Raka mengangguk pelan.

Sebenarnya ia tahu ibunya benar.

Tetapi ia memang pilih-pilih makanan.

Ia tidak s**a sayur.

Ia jarang makan buah.

Ia lebih s**a mi instan, kerupuk, dan jajanan.

Bu Sari duduk di sampingnya.

"Dulu waktu seusiamu, Ibu makan apa saja."

"Sayur juga?"

"Iya."

"Kalau terong?"

"Iya."

"Pare?"

"Iya."

Raka meringis.

"Kalau pare aku nggak kuat."

Bu Sari tertawa.

"Ayo diminum susunya."

Raka akhirnya meminum susu itu.

Belum habis setengah gelas, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar.

Tok.

Tok.

Tok.

Raka dan ibunya saling berpandangan.

"Siapa malam-malam begini?" kata Bu Sari.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukannya terdengar lagi.

Bu Sari berdiri.

"Tunggu di sini."

Ia berjalan menuju pintu.

Raka ikut mengintip.

Ketika pintu dibuka...

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya halaman yang diterangi lampu kecil.

Angin malam bertiup pelan.

Bu Sari mengerutkan dahi.

"Siapa ya?"

Raka ikut melihat ke luar.

Sepi.

Sangat sepi.

Bu Sari menutup pintu lagi.

"Mungkin anak-anak iseng."

Raka mengangguk.

Mereka kembali masuk.

Namun belum lima menit...

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan itu muncul lagi.

Kali ini lebih pelan.

Bu Sari langsung berdiri.

"Ya ampun."

Raka ikut berdiri.

Ketika pintu dibuka...

Tetap tidak ada siapa-siapa.

Namun kali ini ada sesuatu di depan pintu.

Sebuah piring.

Di atas piring itu terdapat nasi, telur rebus, brokoli, wortel, dan segelas susu.

Bu Sari terdiam.

Raka juga terdiam.

"Bu..."

"Iya?"

"Itu makanan?"

"Iya."

"Siapa yang taruh?"

Bu Sari menggeleng.

Mereka melihat ke kanan.

Tidak ada orang.

Melihat ke kiri.

Tidak ada orang.

Jalan kampung kosong.

Tiba-tiba...

"Hihihihi..."

Suara tawa kecil terdengar.

Raka merinding.

"Bu... ada yang ketawa..."

Bu Sari juga mendengarnya.

Namun suara itu tidak terdengar menyeramkan.

Justru seperti suara seseorang yang sedang menahan tawa.

Mereka melihat ke ujung jalan.

Di sana...

Ada sesuatu.

Sebuah sosok putih.

Tingginya sekitar anak SMP.

Bentuknya seperti hantu yang memakai kain putih.

Namun anehnya...

Ia membawa sebuah nampan.

Di atas nampan terdapat sepiring makanan.

Sosok itu diam.

Kemudian...

Ia melambaikan tangan.

Raka membelalakkan mata.

"Bu..."

Bu Sari juga terpaku.

Sosok putih itu kemudian berjalan pelan.

Anehnya, langkahnya tidak menyeramkan.

Malah terlihat lucu.

Setelah beberapa detik...

Sosok itu menghilang di tikungan jalan.

Raka dan ibunya masih diam.

Mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Beberapa saat kemudian...

Raka berkata pelan.

"Bu..."

"Iya?"

"Tadi itu..."

"Ibu juga lihat."

"Itu hantu?"

Bu Sari menelan ludah.

"Mungkin..."

"Lho, kok hantunya bawa makanan?"

Bu Sari tidak bisa menjawab.

Karena seumur hidupnya...

Ia juga belum pernah melihat hantu membawa brokoli dan susu.

Malam itu, mereka tidak menyentuh makanan tersebut.

Bu Sari menyimpannya di meja.

Sementara Raka masuk kamar dengan perasaan aneh.

Ia tidak bisa tidur.

Di kepalanya terus terbayang sosok putih tadi.

Hantu.

Tetapi membawa makanan bergizi.

Semakin dipikirkan, semakin aneh.

Akhirnya, menjelang tengah malam, ia tertidur.

Namun...

Esok paginya...

Peristiwa yang lebih aneh terjadi.

Ketika Raka bangun, ia melihat ibunya sedang memandang piring yang semalam ditemukan di depan rumah.

"Bu?"

Bu Sari menoleh.

"Kamu bangun?"

"Iya."

"Itu makanannya..."

"Kenapa?"

"Masih hangat."

Raka terdiam.

"Apa?"

"Masih hangat."

Raka mendekat.

Benar.

Nasi itu masih mengepulkan uap.

Seolah-olah baru dimasak beberapa menit yang lalu.

Padahal semalam sudah dibiarkan berjam-jam.

Mereka saling berpandangan.

Lalu...

Dari luar rumah terdengar suara seseorang.

"Bu Sari! Bu Sari!"

Ternyata Pak Darto, tetangga sebelah.

Bu Sari keluar.

"Ada apa, Pak?"

Pak Darto terlihat pucat.

"Semalam... saya didatangi hantu."

Bu Sari terdiam.

"Hah?"

"Iya! Hantu putih!"

Jantung Raka berdetak cepat.

"Hantunya bawa makanan!"

Bu Sari dan Raka membelalakkan mata.

"Lho?"

Pak Darto mengangguk cepat.

"Demi apa, Bu! Saya juga bingung!"

Belum selesai mereka berbicara...

Datang lagi Bu Lina dari ujung jalan.

Mukanya juga terlihat aneh.

"Kalian juga lihat?"

Pak Darto menoleh.

"Lihat apa?"

"Hantu bawa makanan!"

Pak Darto terdiam.

Bu Sari terdiam.

Raka terdiam.

Mereka saling berpandangan.

Perlahan-lahan...

Mereka mulai menyadari sesuatu.

Mungkin...

Yang datang semalam...

Bukan hanya ke rumah mereka.

Dan mungkin...

Malam itu adalah awal dari munculnya sosok yang kelak dikenal seluruh Desa Sukamaju dengan satu nama yang sangat aneh.

Si Gentayangan Bergizi.

Pilih cerita yang mana nih 😭😭😭Mumpung lagi libur wkwkwk
26/06/2026

Pilih cerita yang mana nih 😭😭😭
Mumpung lagi libur wkwkwk

Halo para penghuni chpg ? Masih pada idup ? Komen yang masih idup, yang ga komen mumun anggap dah meninggoy aja 😅
10/06/2026

Halo para penghuni chpg ? Masih pada idup ? Komen yang masih idup, yang ga komen mumun anggap dah meninggoy aja 😅

Tes
10/04/2026

Tes

⚫ TERSESAT 7 HARI SEBELUM LEBARAN (1 / 2 ) ⚫Tujuh hari lagi Lebaran.Kalimat itu berulang kali terlintas di kepala Raka s...
27/02/2026

⚫ TERSESAT 7 HARI SEBELUM LEBARAN (1 / 2 ) ⚫

Tujuh hari lagi Lebaran.

Kalimat itu berulang kali terlintas di kepala Raka sejak subuh tadi. Ia mengucapkannya pelan, seolah takut jika kenyataan itu pecah hanya karena diucapkan terlalu keras. Tujuh hari lagi seharusnya rumah penuh aroma ketupat, suara piring beradu, tawa ibu, dan pesan berantai di grup keluarga yang tak pernah sepi. Namun pagi ini, Raka justru berdiri di pelataran basecamp gunung, memanggul ransel berat, menatap jalur tanah yang menghilang ke dalam hutan.

Udara dingin menusuk kulit. Kabut menggantung rendah, seperti tirai yang belum sepenuhnya dibuka.

“Masih yakin?” tanya Ilham, berdiri di sampingnya. Suaranya tenang, tapi matanya memeriksa ransel Raka, lalu jam di pergelangan tangan sendiri.

Raka mengangguk. “Yakin. Sekalian… ya, sekalian merenung.”

Ilham tidak menanggapi. Ia hanya menarik napas panjang, seakan kata merenung itu memiliki bobot lebih berat daripada isi ranselnya.

Di sisi lain pelataran, Bayu sibuk merapikan sepatu, memukul-mukul ujungnya ke tanah. Wajahnya santai, bahkan terlalu santai untuk seseorang yang akan mendaki gunung di bulan puasa.

“Tenang aja,” katanya sambil tersenyum. “Kita cuma naik bentar. Nggak ngejar summit juga. Lagian niatnya kan bagus.”

Niat.

Kata itu melayang di udara pagi, lalu jatuh entah ke mana.

Mereka bertiga sudah saling kenal sejak kuliah. Raka yang pendiam dan cenderung memendam segalanya. Ilham yang tertib, rajin ibadah, dan sering jadi penengah. Bayu—selalu Bayu—yang hidupnya seperti candaan panjang, tapi entah kenapa selalu berhasil menyeret orang lain ke dalam ide-idenya.

Ide mendaki di akhir Ramadhan pun datang dari Bayu.

“Lu bayangin,” katanya seminggu lalu di warung kopi, “malam takbiran di gunung. Sunyi. Hening. Pasti dapet banget rasanya.”

Ilham sempat menolak. “Bulan puasa bukan buat gaya-gayaan.”

“Justru itu,” Bayu menyahut cepat. “Biar nggak kebanyakan nongkrong, nggak kebanyakan godaan. Kita fokus sama diri sendiri.”

Raka diam saja waktu itu. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergetar. Ia baru saja melewati bulan Ramadhan dengan kepala penuh. Masalah kerja, orang tua yang mulai sering sakit, dan rasa kosong yang tak bisa ia jelaskan. Mendaki terdengar seperti jeda yang ia butuhkan.

Dan kini, mereka benar-benar di sini.

Langkah pertama selalu terasa ringan.

Jalur awal landai, tanah masih padat, dan sinar matahari pagi menembus sela dedaunan. Nafas mereka teratur. Raka merasakan puasanya masih kuat—tidak ada lapar berlebihan, hanya rasa kering di tenggorokan yang biasa.

“Kalau kita konsisten,” kata Ilham sambil berjalan, “ini bisa jadi puasa paling bermakna buat kita.”

Bayu tertawa kecil. “Siap, ustaz.”

Ilham melirik, tapi tidak tersinggung. Ia tahu Bayu seperti itu. Dan ia tahu, tantangan sebenarnya belum dimulai.

Beberapa jam kemudian, jalur mulai menanjak. Keringat membasahi punggung. Matahari naik perlahan, membuat udara semakin lembap. Langkah Bayu masih cepat, tapi candaan mulai jarang keluar. Raka merasakan perutnya sesekali berkontraksi, mengingatkan bahwa jam makan siang biasanya sudah lewat.

Ia menelan ludah.

“Air?” tawar Ilham.

Raka menggeleng. “Nanti aja.”

Mereka sepakat sejak awal untuk menahan diri—tidak minum berlebihan, tidak memancing rasa ingin makan. Disiplin kecil, pikir Raka, demi niat besar.

Namun niat seringkali diuji bukan dengan hal besar, melainkan celah kecil yang terasa sepele.

Siang itu, mereka berhenti di sebuah tanah datar di bawah pohon besar. Angin berembus pelan, tapi panas tetap terasa. Raka duduk, memejamkan mata. Bayu membuka ransel, pura-pura mencari sesuatu.

“Capek juga, ya,” katanya.

Ilham mengangguk. “Istirahat sebentar. Jangan lama-lama.”

Bayu mengangguk, lalu… tangannya berhenti di satu kantong kecil. Ia terdiam sepersekian detik. Raka melihat gerak itu dari sudut matanya.

Bayu mengeluarkan sebungkus biskuit. Bungkusnya sudah penyok.

“Ini… dari kapan?” tanya Raka, pelan.

Bayu tersenyum canggung. “Entah. Mungkin sisa lama.”

Ilham menoleh cepat. “Yu.”

Bayu mengangkat bahu. “Santai. Cuma liat doang.”

Namun bungkus itu terbuka. Aromanya tipis, tapi cukup untuk membangunkan sesuatu di perut Raka. Dan saat itulah, hutan terasa berubah.

Angin berhenti.

Tidak ada suara serangga.

Sunyi yang tiba-tiba.

Raka menegakkan badan. “Lu ngerasa nggak?”

Bayu tertawa kecil, mencoba meremehkan. “Perasaan apa? Lu kebanyakan mikir.”

Ilham berdiri. “Tutup. Kita lanjut.”

Namun Bayu ragu. Matanya menatap biskuit itu lebih lama dari seharusnya. “Cuma satu,” katanya akhirnya. “Buat tenaga.”

Ilham menggeleng keras. “Jangan.”

Raka menelan ludah. Di kepalanya, ada suara lain yang membujuk. Toh nggak ada yang lihat. Toh cuma sedikit.

Ia membenci dirinya sendiri saat tangan itu bergerak.

Mereka bertiga makan.

Tidak rakus. Tidak terburu-buru. Tapi cukup untuk menandai satu pelanggaran kecil yang tak bisa ditarik kembali.

Saat bungkus biskuit dilipat dan dimasukkan kembali ke ransel, angin kembali berembus. Tapi rasanya tidak sama.

Sore hari, jalur mulai terasa… aneh.

Penanda yang seharusnya mereka temui tidak ada. Pohon-pohon terasa lebih rapat. Cahaya matahari redup lebih cepat dari perkiraan.

“Kita harusnya sudah sampai pos,” gumam Ilham.

Bayu melihat peta. “Sesuai kok. Mungkin jalurnya agak geser.”

Raka tidak menjawab. Ia merasakan dadanya sesak, bukan karena capek, tapi karena firasat yang menekan. Seolah-olah langkah mereka sejak siang tadi sudah masuk ke ruang yang berbeda.

Magrib datang tanpa tanda jelas. Tidak ada langit jingga yang biasa. Hanya kabut tipis dan udara dingin.

Mereka berbuka dengan air. Tidak banyak bicara. Setiap tegukan terasa seperti pengingat yang pahit.

Malam itu, Raka sulit tidur. Di dalam tenda, ia mendengar sesuatu—bukan suara jelas, tapi seperti bisikan yang tertahan di antara daun dan tanah. Ia memejamkan mata, mencoba membaca doa, tapi pikirannya melompat-lompat.

Tujuh hari lagi Lebaran.

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu kini terdengar seperti peringatan, bukan harapan.

Dan jauh di dalam hutan, sesuatu seperti sedang menunggu.

Raka terbangun sebelum subuh.

Udara di dalam tenda terasa lebih dingin dari malam sebelumnya. Napasnya keluar seperti asap tipis, meski ia yakin suhu tidak sedingin itu saat mereka tidur. Ia melirik ke kanan—Ilham masih terlelap, tangan memeluk ransel kecilnya seolah takut kehilangannya. Di sisi lain, Bayu mendengkur pelan, wajahnya tampak gelisah.

Raka meraih jam tangan. Masih gelap.

Ia duduk, menyingkap sedikit resleting tenda. Kabut menyelimuti hutan, lebih tebal dari kemarin. Jarak pandang tak sampai sepuluh meter. Suara alam hampir tak ada—tidak ada jangkrik, tidak ada burung pagi. Hanya sunyi yang terasa padat, seperti sesuatu yang bisa disentuh.

Raka menelan ludah.

Ada perasaan tidak enak sejak bangun. Bukan sekadar cemas, tapi rasa bersalah yang menggumpal di dada. Ia teringat biskuit kemarin. Rasa asin-manis itu masih terbayang, dan bersamaan dengan itu muncul pertanyaan yang tidak ingin ia jawab: kenapa aku ikut?

Ilham terbangun tak lama kemudian. Ia duduk tanpa bicara, langsung berwudu dengan air seadanya, lalu salat subuh dengan suara pelan. Bayu ikut bangun belakangan, tampak lesu.

“Aneh ya,” kata Bayu sambil menguap. “Mimpi gue kacau.”

“Mimpi apa?” tanya Raka.

Bayu menggeleng. “Nggak jelas. Kayak jalan muter-muter, tapi nggak nyampe-nyampe.”

Ilham berhenti mengikat tali sepatu. “Mimpi itu sering datang kalau badan capek.”

Namun raut wajahnya tidak sepenuhnya yakin.

Mereka melanjutkan perjalanan setelah subuh. Jalur yang kemarin mereka lewati seharusnya jelas, tapi pagi itu tampak berbeda. Tanah lebih lembek. Daun-daun basah menutup jejak langkah mereka sendiri.

“Lu yakin ini jalurnya?” tanya Raka.

Bayu membuka peta lagi. “Iya. Nih, harusnya lurus.”

Mereka berjalan lurus—dan bertemu semak rapat.

Ilham menghela napas. “Kita geser dikit.”

Mereka bergeser—dan bertemu tanah menurun yang tidak ada di peta.

Raka mulai merasakan keringat dingin. Setiap pilihan terasa salah. Setiap langkah seperti membawa mereka semakin masuk, bukan keluar.

Menjelang siang, matahari terasa lebih kejam dari hari sebelumnya. Puasa mulai terasa berat. Perut Raka mual, tenggorokannya kering. Ia berusaha tidak memikirkan makanan, tapi pikirannya justru dipenuhi bayangan air dingin, nasi hangat, dan suara ibu memanggil dari dapur.

Bayu mulai melambat. “Kita istirahat bentar,” katanya, kali ini tanpa canda.

Mereka duduk di bawah pohon besar lain—pohon yang entah kenapa mirip dengan yang kemarin. Batangnya bengkok, akarnya mencuat seperti tangan-tangan tua.

Ilham menegur, “Jangan lama.”

Bayu mengangguk. Tangannya merogoh ransel lagi. Kali ini, ia mengeluarkan botol minum.

“Minum dikit nggak apa-apa, kan?” katanya, ragu.

Ilham mengangguk pelan. “Iya. Jangan kebanyakan.”

Raka ikut minum. Air itu terasa biasa saja, tapi setelahnya, rasa haus justru makin kuat. Seperti tubuhnya menuntut lebih.

Bayu menatap ranselnya lagi.

“Kenapa?” tanya Raka.

Bayu terdiam. Lalu ia berkata pelan, hampir berbisik, “Gue lapar.”

Ilham langsung menatap tajam. “Jangan mulai lagi.”

“Tapi badan gue lemes,” Bayu membela diri. “Kemarin cuma biskuit. Itu juga sedikit.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Raka tahu, di situlah letak godaan yang sebenarnya. Bukan pada rasa lapar, tapi pada pembenaran. Pada logika yang dibengkokkan agar pelanggaran terasa wajar.

Ilham berdiri. “Kita lanjut. Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Namun Bayu tidak langsung bangkit. Ia membuka kantong kecil di ransel—kantong yang kemarin menyimpan biskuit. Kali ini, ada yang lain. Permen. Entah dari mana.

Raka membeku. “Lu bawa banyak juga.”

Bayu tersenyum lemah. “Lupa.”

Ilham menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya, sorotnya berbeda—lelah, kecewa. “Yu… stop.”

Bayu menatap permen itu lama. Lalu… ia memasukkannya ke mulut.

Satu.

Raka merasakan sesuatu berdesir di kulitnya. Angin berembus tiba-tiba, membuat dedaunan bergetar keras. Dari kejauhan, terdengar bunyi seperti ranting patah—padahal tak ada yang lewat.

Bayu menelan. “Gue cuma—”

Ilham tidak menunggu. Ia berbalik, melangkah menjauh. Raka ragu sepersekian detik… lalu mengikuti.

Di belakang, Bayu mengumpat pelan, lalu mengejar.

Sejak saat itu, jalur benar-benar menghilang.

Mereka berjalan berjam-jam, tapi pemandangan seolah berulang. Pohon yang sama. Batu yang sama. Bahkan tanah datar yang sama. Raka mulai yakin mereka berputar.

“Kita muter,” katanya akhirnya.

Bayu membantah, tapi suaranya tak sekuat tadi. “Nggak mungkin.”

Ilham berhenti. “Kita memang muter.”

Matahari mulai condong, tapi rasanya waktu berjalan tidak wajar. Terlalu lama, terlalu berat. Raka merasa langkahnya makin pendek, napasnya makin dangkal.

Menjelang magrib, hujan turun tiba-tiba. Bukan hujan deras, tapi rintik dingin yang menusuk. Mereka membuka jas hujan, menampung air seadanya.

Berbuka hari itu hanya dengan air hujan.

Raka meminum air itu dengan tangan gemetar. Rasanya hambar, tapi menyelamatkan. Saat ia meneguk terakhir, ia mendengar sesuatu—seperti langkah kaki di balik kabut.

Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.

“Lu denger?” bisiknya.

Bayu menggeleng cepat. Ilham diam, wajahnya pucat.

Malam itu, mereka mendirikan tenda seadanya. Hujan mereda, tapi kabut tetap tebal. Raka berbaring sambil menatap langit-langit tenda. Kepalanya berdenyut.

Di antara kantuk dan sadar, ia mendengar suara—pelan, seperti orang berbisik.

“Belum selesai…”

Raka tersentak bangun. “Ilham?”

Ilham terbangun juga. “Kenapa?”

“Lu denger apa-apa?”

Ilham menggeleng, tapi raut wajahnya tidak meyakinkan. “Tidur, Rak.”

Namun Raka tahu. Mereka tidak sendirian. Bukan sejak tadi siang.

Di luar tenda, hutan berdiri diam, seolah menahan napas.

Dan jauh di dalamnya, sesuatu mencatat setiap pelanggaran kecil yang mereka anggap sepele.

Hari ketiga.

Raka bangun dengan kepala berat dan tenggorokan seperti digosok pasir. Ia tidak langsung membuka mata. Ia berharap ketika ia membuka mata, ia akan melihat atap kamar rumahnya. Mendengar suara motor tetangga. Mencium aroma masakan sahur.

Namun yang terdengar hanya angin tipis menyentuh kain tenda.

Ia membuka mata.

Gelap.

“Jam berapa?” suara Bayu terdengar parau.

Ilham meraba jam tangannya. “Hampir subuh.”

Tidak ada yang langsung bergerak. Tubuh mereka terasa jauh lebih lemah dibanding kemarin. Puasa dua hari dengan aktivitas berat sudah mulai menggerogoti tenaga. Ditambah tekanan pikiran yang tidak mereka akui.

Raka duduk perlahan. Ada rasa aneh di dadanya—seperti perasaan kehilangan arah, bukan hanya secara fisik, tapi juga batin.

Subuh itu mereka salat dengan suara lebih lirih dari biasanya. Bacaan Ilham terdengar bergetar. Ketika selesai, tidak ada yang saling menatap.

Hujan semalam meninggalkan tanah lembek dan kabut lebih tebal dari hari sebelumnya.

Mereka membereskan tenda.

Dan saat itulah Raka menyadari sesuatu.

“Jejak kita mana?”

Bayu menoleh. “Maksudnya?”

“Tanahnya lembek. Harusnya ada bekas kaki kita.”

Tidak ada.

Tanah di sekitar tenda bersih. Seolah mereka tidak pernah bermalam di situ.

Ilham berdiri diam cukup lama. “Kita jalan.”

Tidak ada yang membahasnya lagi.

Perjalanan hari itu seperti masuk ke dunia yang perlahan bergeser dari logika.

Pohon-pohon terlihat sama, tapi tidak identik. Batu-batu tampak familiar, tapi tidak persis seperti kemarin. Bahkan aroma hutan terasa lebih pekat—lembap dan sedikit anyir.

Bayu mencoba memecah suasana. “Mungkin kita terlalu tinggi.”

“Kita nggak naik,” jawab Ilham singkat.

Raka melihat kompas yang tergantung di tasnya. Jarumnya bergerak gelisah, tidak stabil. Ia menepuk-nepuknya, tapi tetap saja berputar perlahan seperti kebingungan sendiri.

Menjelang siang, rasa haus kembali menyerang. Perut mereka kosong. Tidak ada lagi makanan—biskuit dan permen sudah habis.

Dan kali ini, tidak ada yang mencoba membenarkan apa pun.

Lapar itu sunyi. Tidak gaduh seperti kemarin. Justru lebih berbahaya karena datang bersama lemas dan pikiran lambat.

Raka mulai mendengar sesuatu.

Awalnya seperti suara angin yang menyerupai bisikan. Lalu berubah seperti potongan takbir yang jauh.

“Allahu… ak…”

Ia berhenti berjalan.

“Lu kenapa?” tanya Bayu.

“Lu nggak denger?” Raka berbisik.

“Denger apa?”

Suara itu hilang.

Ilham menatap Raka lama. “Fokus. Jangan kebawa.”

Tapi tak lama kemudian, Bayu yang berhenti.

“Anjir…” katanya pelan.

Di depan mereka berdiri pohon tumbang.

Batangnya besar. Melintang seperti gerbang alami.

Raka membeku.

Itu pohon yang sama.

Pohon yang mereka lewati kemarin.

“Ini nggak mungkin,” gumam Ilham.

Bayu menggeleng cepat. “Kita muter lagi?”

Ilham memeriksa peta. Lalu melihat sekitar. Lalu peta lagi.

“Kita sudah jalan lurus.”

“Berarti?” Raka bertanya.

Ilham tidak menjawab.

Angin tiba-tiba berembus kencang, membuat daun-daun bergetar seperti suara ribuan langkah kecil.

Dan untuk pertama kalinya, ketiganya merasakan hal yang sama.

Mereka tidak hanya tersesat.

Mereka seperti tidak diizinkan keluar.

Menjelang sore, kondisi fisik mulai benar-benar menurun.

Bayu beberapa kali terhuyung. Ilham mulai sering berhenti tanpa sadar. Raka merasakan kakinya seperti digerakkan oleh kebiasaan, bukan kesadaran.

Magrib datang tanpa warna.

Langit abu-abu. Tidak ada jingga. Tidak ada gradasi.

Hanya gelap yang turun perlahan.

Hujan kembali turun, lebih deras dari kemarin.

Mereka membuka jas hujan, menampung air sebanyak mungkin. Kali ini, tangan mereka gemetar bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan yang mulai nyata.

Saat berbuka hanya dengan air hujan, Bayu tertawa kecil.

Tawa yang tidak wajar.

“Kita lucu ya,” katanya.

Raka menatapnya. “Apa?”

“Orang-orang di luar mungkin lagi beli baju Lebaran. Kita? Minum air dari langit.”

Ilham menutup mata. “Jangan ngomong gitu.”

Bayu menatap kosong ke kabut. “Gue ngerasa… ini bukan soal tersesat.”

Kalimat itu menggantung.

Dan malam itu, mereka tidak mendirikan tenda.

Kabut terlalu tebal. Tanah terlalu basah. Mereka hanya duduk bersandar pada batang pohon besar, bergantian terlelap sebentar-sebentar.

Di tengah malam, Raka terbangun.

Ada suara langkah.

Jelas.

Bukan ranting jatuh. Bukan hewan kecil.

Langkah pelan, mengitari mereka.

Ia membuka mata perlahan.

Kabut bergerak seperti ada yang berjalan di dalamnya.

Raka menahan napas.

Langkah itu berhenti tepat di depan mereka.

Ia tidak melihat sosok. Tapi ia merasakan tatapan.

Dingin.

Menilai.

Bayu mendadak bergumam dalam tidur, “Maaf… maaf…”

Ilham terbangun juga. Matanya langsung mencari Raka.

“Kamu juga ngerasa?” bisiknya.

Raka mengangguk pelan.

Lalu, dari dalam kabut, terdengar suara sangat pelan.

“Puasa…”

Hanya satu kata.

Lalu sunyi kembali.

Pagi hari keempat datang tanpa kelegaan.

Wajah mereka pucat. Mata cekung. Bibir pecah-pecah.

Raka sadar sesuatu yang lebih menakutkan dari semua ini.

Hari terus berjalan.

Ramadhan terus berjalan.

Dan jika mereka tidak keluar…

Lebaran akan datang di sini.

Di dalam hutan yang tidak mengakui arah.

Ilham berdiri perlahan. “Kita nggak boleh panik.”

Bayu menatap kosong ke depan. “Kalau ini hukuman?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena di dalam hati masing-masing, pertanyaan itu sudah tumbuh sejak hari pertama.

Dan hutan, dengan sabar, belum selesai.

Address

Rawa Barat

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cerita Horor Pendaki Gunung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category