Merah Hitam

Merah Hitam Menuntut ilmu tak mengenal usia ...

Cerita ini aku tulis berdasarkan kisah yang diceritakan langsung oleh seorang perawat senior. Nama rumah sakit dan beber...
31/12/2025

Cerita ini aku tulis berdasarkan kisah yang diceritakan langsung oleh seorang perawat senior. Nama rumah sakit dan beberapa detail sengaja disamarkan.
Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2016 di sebuah rumah sakit tua di kota Semarang. Rumah sakit itu termasuk besar dan sudah berdiri sejak zaman kolonial. Para pegawai biasa menyebutnya RS “S”—nama aslinya sengaja tidak pernah diucapkan lengkap, bahkan oleh stafnya sendiri.
Aku bertugas sebagai perawat malam di bangsal penyakit dalam, lantai tiga. Lantai itu dikenal paling sepi karena sebagian ruangannya sudah tidak dipakai lagi. Beberapa kamar dikunci permanen, lampunya dimatikan, dan cat temboknya mulai mengelupas.
Malam itu shift terasa berat. Sekitar pukul 01.30, salah satu pasienku—seorang bapak tua—meninggal dunia. Setelah prosedur standar selesai, jenazah dibawa ke kamar jenazah, dan bangsal kembali sunyi.
Sekitar pukul 02.10, saat aku duduk di ruang jaga, bel pasien di lorong berbunyi.
Tin… tin… tin…
Aku cek papan monitor. Anehnya, lampu indikator menyala dari Kamar 317.
Padahal kamar itu sudah kosong sejak dua minggu lalu. Pasien terakhir meninggal mendadak, dan kamar itu belum dipakai lagi.
Aku berpikir mungkin sistemnya error. Tapi bel itu berbunyi lagi, kali ini lebih lama.
Dengan senter kecil dan berkas di tangan, aku berjalan menyusuri lorong. Lampu lorong agak redup, dan hanya suara langkah kakiku yang terdengar.
Saat sampai di depan Kamar 317, pintunya sedikit terbuka.
Aku mengetuk pelan.
“Permisi…?”
Tidak ada jawaban.
Aku dorong pintunya.
Di dalam kamar, lampu menyala terang. Tirai ranjang tertutup, dan monitor jantung menyala—padahal seharusnya semua alat sudah dilepas.
Lalu dari balik tirai, terdengar suara lirih seorang perempuan.
“Mb… suster…”
Jantungku langsung berdegup kencang. Aku yakin, tidak ada pasien perempuan yang dirawat di kamar itu.
Dengan tangan gemetar, aku buka tirainya.
Ranjang itu kosong.
Namun… bekas tubuh seperti lekukan masih terlihat di kasurnya. Selimutnya perlahan bergerak, seolah baru saja ditarik seseorang.
Tiba-tiba monitor jantung berbunyi nyaring.
Tiinnnnnn—
Di layar muncul garis lurus.
Aku terpaku. Nafasku sesak. Bau khas ruang rawat—campuran obat dan sesuatu yang amis—terasa makin menyengat.
Dari arah kamar mandi, aku melihat bayangan berdiri. Rambut panjang menutupi wajah, mengenakan gaun pasien warna hijau pucat. Di pergelangan tangannya, masih terpasang gelang identitas rumah sakit.
Aku mundur selangkah.
Bayangan itu tidak berjalan, tapi meluncur perlahan mendekat.
Sambil menunduk, dia berbisik sangat dekat di telingaku:
“Kenapa saya ditinggal, Suster…?”
Aku menjerit dan berlari keluar kamar. Saat menoleh ke belakang, pintu Kamar 317 tertutup sendiri dengan keras.
Keesokan paginya, aku melapor ke perawat senior. Wajahnya langsung berubah pucat.
Dia hanya berkata pelan,
“Kamar itu dulu pasien perempuan. Meninggal sendirian waktu jaga malam. Belnya rusak… tapi sering bunyi sendiri.”
Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi mendapat jadwal jaga malam di lantai tiga.
Dan sampai sekarang, Kamar 317 tetap terkunci.



potret emak emak jaman now 😘 yang penting jrengggg 😅
27/12/2025

potret emak emak jaman now 😘 yang penting jrengggg 😅



tu oyen makan apa coba, mk gue di jeda 🤣
27/12/2025

tu oyen makan apa coba, mk gue di jeda 🤣


bete amat monetisasi reel di jeda 😭
27/12/2025

bete amat monetisasi reel di jeda 😭


Address

Jalan Perumahan Kebon Jeruk Baru Blok A No. 16
Rawa Barat

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Merah Hitam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share