Konggolio Tano Peling

Konggolio Tano Peling Visi
​"Pulau Peling yang Mandiri, Lestari, dan Sejahtera melalui Kemitraan Ekonomi Berkelanjutan demi Keselamatan Ruang Hidup Generasi Mendatang."

Misi
​Dengan masuknya tujuan jangka panjang sebagai jembatan ekonomi berkelanjutan, kita membagi misi gerak Konten kreator Sulawesi

09/06/2026

Apakah semua orang yang hidup dan tinggal di Banggai Kepulauan saat ini sudah tidak punya solusi untuk meningkatkan ekonomi selain TAMBANG GAMPING???

berat

*BELAJAR DARI DUA LUKA MASA LALU: MENGAPA KITA HARUS MENGATAKAN “TOLAK PADA TAMBANG BATU GAMPING BANGKEP?”*Sejarah adala...
09/06/2026

*BELAJAR DARI DUA LUKA MASA LALU: MENGAPA KITA HARUS MENGATAKAN “TOLAK PADA TAMBANG BATU GAMPING BANGKEP?”*

Sejarah adalah guru terbaik, namun ia akan menjadi hakim yang paling kejam jika kita terus-menerus mengabaikan polanya. Hari ini, saat bentang alam karst Banggai Kepulauan (Bangkep) sedang diincar oleh ekspansi industri tambang gamping, kita tidak perlu meraba-raba masa depan. Kita hanya perlu menengok ke belakang, berkaca pada dua luka besar yang pernah—dan masih—kita tanggung akibat kelalaian kita sendiri.
*Pelajaran Pertama: Ilusi Kesejahteraan Perusahaan Kayu*
Mari kita ingat kembali ingatan kolektif di wilayah timur pulau kita. Selama puluhan tahun, sebuah perusahaan kayu besar beroperasi di Desa Luksaku (wilayah garapan : Peling Timur) Saat itu, janji manisnya serupa dengan apa yang kita dengar hari ini: pembukaan lapangan pekerjaan. *Memang benar, beberapa dari kita sempat terserap menjadi tukang masak, operator, atau pekerja di sawmill (somel).* Namun, mari kita jujur pada diri sendiri—berapa upah yang mereka terima? Tidak seberapa jika dibandingkan dengan kekayaan alam yang diangkut keluar.
*Lalu, apa yang terjadi setelah perusahaan angkat kaki?*
Para pekerja kehilangan mata pencaharian, dipaksa kembali ke pekerjaan semula tanpa membawa modal kesejahteraan jangka panjang. Namun, alam telah berubah total. Hutan yang dulunya kokoh kini kehilangan pohon-pohon gelondongan berdiameter lebih dari satu meter yang habis dibabat.
Dampaknya? Hari ini, hujan sedikit saja langsung memicu banjir. Bahkan untuk mencari sepotong kayu dengan kualitas terbaik—seperti kayu besi—masyarakat kini setengah mati kesulitan. Perbandingan antara secuil dampak positif sesaat dengan kehancuran ekologis jangka panjangnya terlalu jauh, terlalu timpang, dan sama sekali tidak sebanding.
*Pelajaran Kedua: 30 Tahun Bom dan Bius yang Merampas Masa Depan Nelayan*
Pelajaran kedua datang dari kelalaian kita yang abai dan membiarkan praktik pengrusakan terumbu karang melalui pengeboman dan pembiusan ikan di masa lalu. Berapa banyak rupiah yang didapatkan seorang nelayan dari satu ledakan bom? Dan mari kita lihat faktanya hari ini: setelah 30 tahun berlalu, apakah mereka yang melakukan pengeboman itu kini hidup sejahtera? Jawabannya adalah tidak. Yang paling diuntungkan hanyalah para penadah besar di luar sana, sementara nelayan kita tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan, dan laut kita hancur.
Jika hari ini kita mencoba menanam kembali terumbu karang yang hancur itu, butuh berapa ratus tahun agar ia bisa kembali seindah 30 tahun yang lalu?
Coba bayangkan, andai saja terumbu karang kita hari ini masih seutuh dan seindah 30 tahun lalu. Andai saja hasil tangkapan ikan kita melimpah seperti dulu. Nelayan kita pasti sejahtera. Lebih dari itu, bukan sekadar pantai biasa yang dicari, melainkan keindahan bawah laut kita yang akan mengundang ribuan turis mancanegara datang ke Bangkep. Kita telah menukar potensi ekonomi berkelanjutan berbasis pariwisata dan perikanan dengan kehancuran instan yang menyisakan penyesalan.
*Refleksi Hari Ini: Menatap 5 Hingga 10 Tahun Masa Depan Tambang Gamping*
Dari dua tragedi di atas, kita harus bisa berkaca secara jernih sebelum terlambat. Saat ini, mesin-mesin tambang gamping memang belum mulai mengeruk karst Bangkep. Namun, jika kita abai dan membiarkan mereka beroperasi dengan kedok izin di bawah 200 hektar, coba bayangkan apa yang terjadi 5 sampai 10 tahun ke depan?
- Ke mana masyarakat yang hari ini diiming-imingi pekerjaan sebagai buruh tambang setelah gampingnya habis dikeruk?
- Berapa persen sebenarnya warga lokal yang bisa direkrut secara permanen?
- bagaimana dampak pada terumbu Karang?
- bagaimana dampak polusi abu jika perusahaan beroperasi bertahun2. Dan jarak antara kavling Tambang sangat dekat dengan Pemukiman.
Ketika gunung karst yang berfungsi sebagai spons penyimpan air bersih kita runtuh menjadi debu dan menyisakan lubang raksasa, uang Triliunan rupiah pun tidak akan mampu mengembalikan mata air yang hilang. Alam yang rusak tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.
*Terlalu naif jika kita tetap berprasangka baik* ketika fakta sejarah dan siasat administratif sudah benderang di depan mata. Ketika sebuah investasi sejak awal tidak menunjukkan niat baik untuk menjaga lingkungan—terlihat indikasi upaya menghindari ketatnya dokumen AMDAL—maka satu-satunya pilihan rasional kita adalah menyelamatkan ruang hidup kita sendiri.
Sebelum alat berat pertama menyentuh tanah karst kita, sebelum air bersih kita berubah menjadi batu, sikap kita harus bulat dan tegas: Setop Tambang! Jangan biarkan luka hilangnya Kekayaan Hutan dan hancurnya terumbu karang terulang kembali di atas gunung-gunung gamping Banggai Kepulauan.

By. Syukur T. Adam

berat semua orang

Visi​"Pulau Peling yang Mandiri, Lestari, dan Sejahtera melalui Kemitraan Ekonomi Berkelanjutan demi Keselamatan Ruang H...
08/06/2026

Visi
​"Pulau Peling yang Mandiri, Lestari, dan Sejahtera melalui Kemitraan Ekonomi Berkelanjutan demi Keselamatan Ruang Hidup Generasi Mendatang."

Misi
​Dengan masuknya tujuan jangka panjang sebagai jembatan ekonomi berkelanjutan, kita membagi misi gerakan ke dalam Dua Sayap Perjuangan: Sayap Benteng (Proteksi) dan Sayap Jembatan (Produksi & Investasi).

​1. 𝙆𝙤𝙣𝙜𝙜𝙤𝙡𝙞𝙤 𝙏𝙖𝙣𝙤 (𝙈𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙍𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙙𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙩𝙚𝙣𝙜 𝘼𝙡𝙖𝙢 𝙆𝙖𝙧𝙨𝙩)
​Menjaga bentang alam karst dan ekosistem Pulau Peling dari ancaman industri ekstraktif batu gamping yang merusak cadangan air bawah tanah, kesuburan lahan pertanian, dan ruang hidup masyarakat desa.

​2. 𝙆𝙞𝙣𝙖𝙡𝙞𝙖 𝙉𝙪 𝙊𝙡𝙞𝙤𝙣𝙜𝙖𝙣 (Menghidupkan Pusat Edukasi & Literasi Warga)
​Menjadi ruang belajar bersama yang melintasi segala perbedaan latar belakang politik, fokus pada penyadaran hak-hak ekologis warga serta penguatan kapasitas komunitas dalam mengelola potensi lokal.

​3. 𝙈𝙤𝙡𝙤𝙡𝙤 𝙆𝙤𝙨𝙤𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩𝙖𝙣 (Merajut Solidaritas Organik Lintas Sektor)
​Menghubungkan komunitas, organisasi pemuda, petani, nelayan, dan elemen masyarakat dalam ikatan kekeluargaan yang solid, independen, dan terbebas dari kepentingan politik elektoral demi satu komitmen bersama: keselamatan Pulau Peling.

​4. 𝙆𝙖𝙠𝙖𝙩𝙪𝙖 𝙋𝙤𝙩𝙤𝙪𝙩𝙖𝙣 (Menjadi Jembatan Investasi Hijau & Berkelanjutan)
​Menjadi wadah strategis dan mitra tepercaya yang menjembatani para investor di sektor 𝙋𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖𝙣, 𝙋𝙚𝙩𝙚𝙧𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣, dan 𝙋𝙖𝙧𝙞𝙬𝙞𝙨𝙖𝙩𝙖 untuk masuk ke Banggai Kepulauan; memastikan investasi yang hadir adalah investasi yang memuliakan hak warga, ramah lingkungan, dan membawa kemakmuran jangka panjang bagi masyarakat lokal.

Pulau Peling Adalah “Paru-Paru Kehidupan”, Jangan Korbankan Masa Depan Banggai Kepulauan demi Tambang Batu Gamping!!! To...
08/06/2026

Pulau Peling Adalah “Paru-Paru Kehidupan”, Jangan Korbankan Masa Depan Banggai Kepulauan demi Tambang Batu Gamping!!!

Tokoh masyarakat Banggai Kepulauan, Israfil Malinggong, menyuarakan keprihatinannya terhadap rencana pengerukan batu gamping skala besar di Pulau Peling. Dalam pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk melihat kembali kondisi geografis tanah kelahiran mereka dan memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Menurut Israfil Malinggong, para leluhur tidak salah ketika mewariskan tanah Banggai Kepulauan kepada generasi sekarang. Ia mengibaratkan bentuk wilayah Banggai Kepulauan, khususnya Pulau Peling dan gugusannya, sebagai sepasang paru-paru yang diletakkan Tuhan di tengah hamparan lautan.

“Jika diperhatikan dengan baik, Banggai Kepulauan tidak berbentuk seperti batuan mati. Ia menyerupai sepasang paru-paru. Pulau Peling dan gugusannya adalah organ hidup yang menopang kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Israfil menjelaskan bahwa kawasan karst gamping yang terdapat di Pulau Peling memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Karst tersebut berperan sebagai spons alami yang menyaring dan menyimpan air bersih, sehingga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat, pertanian, serta ekosistem pesisir.

“Karst gamping di dalamnya merupakan jaringan spons alami yang menyaring air bersih, memastikan napas kehidupan mengalir ke setiap sumur, ke setiap ladang pertanian petani, dan ke setiap muara tempat nelayan mencari makan,” katanya.

Sebagai putra daerah yang telah lama hidup dan menyaksikan perkembangan wilayah tersebut, Israfil mengaku hatinya bergetar setiap kali mendengar kabar mengenai rencana eksploitasi batu gamping dalam skala besar. Ia menilai, menjual batu gamping Pulau Peling demi keuntungan segelintir pihak sama saja dengan membiarkan tanah leluhur dirusak.

“Menjual batu gamping Peling demi keuntungan segelintir orang sama saja dengan mengizinkan orang asing datang, merobek dada tanah leluhur kita, dan menusuk paru-parunya sendiri hingga bocor,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga akan diwariskan kepada generasi mendatang. Menurutnya, ketika sumber mata air mengering dan debu tambang mulai mengepung desa-desa, keuntungan ekonomi yang diperoleh tidak akan mampu menggantikan hilangnya sumber kehidupan.

“Jika paru-paru ini berlubang dan hancur, dengan apa anak cucu kita akan bernapas nanti? Saat mata air mengering dan debu tambang mengepung desa, uang miliaran di kantong para oligarki tidak akan bisa membeli kembali segelas air bersih untuk anak cucu yang kehausan,” ujarnya.

Meski demikian, Israfil menegaskan bahwa dirinya bersama masyarakat tidak menolak kemajuan dan pembangunan daerah. Sebaliknya, mereka berharap kemajuan dapat diwujudkan melalui sektor-sektor yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan.

“Kami tidak anti terhadap kemajuan. Kami justru ingin melihat anak-anak muda Peling maju melalui pertanian yang subur, peternakan yang tangguh, dan pariwisata yang mendunia. Kita bisa makmur tanpa harus menguliti tubuh ibu kandung kita sendiri,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Israfil juga menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan terkait izin pengerukan batu gamping. Ia mengingatkan agar kepentingan politik dan ekonomi jangka pendek tidak mengorbankan masa depan masyarakat Banggai Kepulauan.

“Kepada mereka yang saat ini mengetuk meja-meja kekuasaan, yang sibuk menandatangani izin pengerukan, dan yang menggadaikan masa depan daerah ini demi mahar politik, ingatlah bahwa kalian mungkin bisa menghindar dari hukum manusia, tetapi tidak akan pernah bisa bersembunyi dari kutuk air dan tanah Peling yang kalian khianati,” tegasnya.

Lebih lanjut, Israfil menekankan bahwa tanah Peling merupakan rumah bersama seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun pilihan politik. Karena itu, menurutnya, tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

“Rumah besar ini adalah milik kita bersama, lintas suku, lintas agama, bahkan lintas pilihan politik. Pilihan ada di tangan kita hari ini: ikut merawat paru-paru kehidupan ini atau diam menonton sampai napas terakhir bumi Peling dihentikan oleh mesin-mesin tambang,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Israfil Malinggong mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam gerakan Konggolio Tano Peling (Merawat Tanah Peling). Ia menegaskan bahwa perjuangan menjaga tanah dan lingkungan Pulau Peling bukan semata-mata persoalan politik, melainkan upaya mempertahankan sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

“Karena menjaga tanah ini bukan lagi sekadar urusan politik, tetapi urusan menyambung nyawa,” pungkasnya.

Logo dan Makna dari Gerakan Konggolio Tano Peling 🙏🙏🙏1. Simbol Utama: Gagak PelingBurung digambar dengan gaya abstrak mo...
07/06/2026

Logo dan Makna dari Gerakan Konggolio Tano Peling 🙏🙏🙏

1. Simbol Utama: Gagak Peling
Burung digambar dengan gaya abstrak modern (abstract pictorial mark).

Posisi kepala menghadap kanan melambangkan:
- visi masa depan,
- kewaspadaan,
- keberanian mengambil sikap.

Bentuk sayap yang terbuka menunjukkan:
- perlindungan,
- pergerakan rakyat,
- solidaritas masyarakat.

Lekukan tubuh membentuk garis mengalir yang memberi kesan:
- dinamis,
- tidak kaku,
- terus bergerak.

2. Simbol Wilayah: Banggai Kepulauan
Siluet kepulauan berada di sisi kanan.
Berfungsi sebagai identitas geografis yang langsung mengikat gerakan pada ruang hidup Pulau Peling dan Banggai Kepulauan.
Makna:
- tanah leluhur,
- ruang hidup yang harus dijaga,
- kedaulatan wilayah.
3. Lingkaran Terbuka
Garis melengkung yang mengitari logo melambangkan:
- persatuan masyarakat,
- kesinambungan generasi,
- ekosistem yang saling terhubung,
- hubungan antara perlindungan alam dan ekonomi berkelanjutan.

Karena lingkarannya tidak tertutup penuh, ia juga memberi makna:
- keterbukaan,
- kolaborasi,
- ruang bagi kemitraan.

4. Gelombang di Bagian Bawah
Elemen biru-hijau di bawah burung dapat dimaknai sebagai:
- laut Banggai Kepulauan,
- sumber kehidupan masyarakat pesisir,
- pergerakan yang terus mengalir.

Taqaballahu minna wa minkum, taqabballaahu yaa Kariim🙏Dengan penuh rasa syukur, kami sekeluarga mengucapkan:Selamat Hari...
20/03/2026

Taqaballahu minna wa minkum, taqabballaahu yaa Kariim🙏

Dengan penuh rasa syukur, kami sekeluarga mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni segala dosa, serta mengembalikan kita kepada fitrah yang suci.

Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan salah

Keluarga Indonesia Travel

semua orang

Pulau Papan, Ampana, Indonesia
17/03/2026

Pulau Papan, Ampana, Indonesia

Ampana, Indonesia
17/03/2026

Ampana, Indonesia

Address

Jalan Trikora No. 019 Kota Salakan
Salakan
94785

Telephone

+6285394561557

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Konggolio Tano Peling posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Konggolio Tano Peling:

Shortcuts

Share