18/01/2026
Zainuddin Hamidi, lebih dikenal dengan nama Zainuddin M.Z., lahir di Jakarta pada 2 Maret 1952. Nama belakangnya, “M.Z.”, merupakan singkatan dari nama ayahnya, Turmudzi. Zainuddin merupakan anak tunggal dari pasangan Turmudzi dan Zainabun, keluarga Betawi asli. Ayahnya, yang merupakan pensiunan pegawai PLN, dikenal taat beragama, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Zainuddin kehilangan ayahnya sejak usia dua tahun, dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia sering membantu ibunya berjualan nasi uduk.
Sejak kecil, Zainuddin sudah menunjukkan bakat berbicara di depan umum. Ia sering naik ke meja untuk berpidato di depan tamu yang datang ke rumah kakeknya. Bakat oratorinya berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan. Selama enam tahun, Zainuddin belajar di bawah bimbingan K.H. Idham Chalid, seorang ulama dan politikus terkemuka. Di madrasah tersebut, Zainuddin mempelajari seni pidato melalui forum Ta’limul Muhadharah dan semakin dikenal karena kemampuannya dalam mendongeng dan membawakan ceramah yang menghibur.
Kariernya sebagai dai pun semakin melambung, dengan ceramah yang sering dihadiri puluhan ribu orang. Zainuddin M.Z. dijuluki ‘Dai Sejuta Umat’ berkat pengaruhnya yang luas. Selain ceramah, Zainuddin juga merambah dunia rekaman, dan kaset ceramahnya tersebar luas hingga ke luar negeri. Kesuksesannya dalam dunia dakwah membuatnya dilirik oleh stasiun televisi swasta dan ia mulai tampil dalam program-program televisi, termasuk “Nada dan Dakwah” yang menggabungkan dakwah dan hiburan.
Zainuddin juga terjun ke dunia politik. Pada periode 1977-1982, ia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), berkat pengaruh K.H. Idham Chalid, gurunya yang juga merupakan deklarator PPP. Dalam perannya sebagai politisi, Zainuddin berkeliling Indonesia bersama Rhoma Irama, kampanye untuk partai PPP. Kiprahnya dalam PPP membuatnya terlibat dalam pengaruh politik yang signifikan, yang turut memengaruhi dominasi Golkar pada saat itu.
Pada 20 Januari 2002, Zainuddin M.Z. bersama rekan-rekannya mendeklarasikan PPP Reformasi, yang kemudian berubah nama menjadi Partai Bintang Reformasi (PBR) pada Muktamar Luar Biasa pada 8-9 April 2003. Zainuddin juga diangkat sebagai calon presiden oleh PBR dan menjabat sebagai ketua umum hingga tahun 2006. Setelah itu, Zainuddin kembali fokus pada dakwah dan berada di tengah-tengah umat.
Zainuddin M.Z. meninggal dunia pada 5 Juli 2011, akibat serangan jantung dan gula darah yang terjadi saat perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ia meninggal setelah sarapan bersama keluarganya di rumahnya di Gandaria I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.