02/06/2026
Kontroversi Pemahaman Istiwa dalam Pemikiran Ibnu Taimiyah
Salah satu perdebatan teologis yang paling sering dibahas dalam sejarah Islam adalah persoalan istiwa Allah di atas Arsy. Gambar ini menampilkan pandangan yang dinisbatkan kepada Ibnu Taimiyah, yaitu bahwa nash-nash Al-Qur'an dan hadis tentang istiwa dipahami sesuai makna zahirnya tanpa menakwilkannya menjadi makna lain.
Pendukung pandangan ini berargumen bahwa Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur'an bahwa Dia "beristiwa di atas Arsy". Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa seorang muslim wajib menetapkan apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa mengubah makna, menolak, ataupun menyerupakannya dengan makhluk. Mereka juga berpegang pada prinsip "tanpa menanyakan bagaimana caranya (bilฤ kayf)".
Namun, kritik terhadap pandangan tersebut muncul karena sebagian ulama menilai bahwa pemahaman zahir dapat menimbulkan konsekuensi bahwa Allah memiliki arah, tempat, atau perpindahan sebagaimana makhluk. Kelompok Asy'ariyah dan Maturidiyah menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari ruang dan waktu, sehingga ayat-ayat tentang istiwa perlu dipahami dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, baik melalui tafwidh (menyerahkan makna hakikinya kepada Allah) maupun takwil yang dibenarkan.
Perdebatan ini bukan sekadar persoalan bahasa, tetapi menyangkut cara memahami hubungan antara nash dan akal dalam akidah Islam. Karena itu, pembahasan tentang istiwa terus menjadi salah satu tema sentral dalam kajian teologi Islam hingga saat ini. Yang terpenting, perbedaan pandangan ini harus disikapi dengan ilmu, adab, dan penghormatan terhadap para ulama yang berijtihad dalam memahami nash-nash syariat.
Perselisihan ini bukan tentang apakah Allah berada di atas Arsy atau tidak, melainkan:
Apakah "di atas" dipahami secara hakiki tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, atau harus dipahami dengan makna yang lebih sesuai dengan kemahasucian Allah dari ruang dan arah?