11/07/2026
Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina
Bab 1: Hari yang Tak Terduga
Keringat dingin membasahi seluruh punggungku saat aku menyeret tubuhku yang limbung menuju meja resepsionis Rumah Sakit Permata, Surabaya. Badanku terasa seperti dihantam ribuan batu bata; demam yang tak kunjung turun selama tiga hari ini akhirnya membuatku tak sanggup lagi menahannya sendirian di apartemen sempitku.
Namaku Arga, 28 tahun, bekerja sebagai arsitek dan hidup sendiri di kota ini. Orang tuaku menetap jauh di kota kelahiranku, belum sempat kuberitahu mereka sakitku—takut mereka cemas berlebihan dan terburu-buru menempuh perjalanan jauh.
"Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda Demam Berdarah Dengue, Pak Arga. Harus segera dirawat inap untuk pemantauan," ujar dokter muda di hadapanku dengan nada tegas.
Tanpa banyak tanya, aku mengangguk pasrah. Tak lama kemudian, seorang petugas mengantarku ke bangsal lantai dua, ruang kelas utama yang bersih dan sepi. Baru saja aku duduk di tepi tempat tidur, pintu ruangan terbuka perlahan.
Seorang wanita berseragam perawat berjalan masuk dengan langkah tenang namun sigap. Rambutnya yang hitam pekat diikat rapi ke belakang, senyum lembut terukir di wajahnya yang tampak teduh. Ia meletakkan nampan peralatan medis di meja samping tempat tidur, lalu menoleh padaku.
"Selamat sore, Pak Arga. Saya Suster Lina, yang akan merawat Bapak selama di sini," suaranya lembut namun jelas, seolah mampu menenangkan rasa sakit yang kurasakan seketika. "Apa yang Bapak rasakan sekarang? Masih terasa sangat pusing atau mual?"
Aku menghela napas panjang, mencoba duduk lebih tegak meski terasa berat. "Sore, Suster... Kepalaku rasanya mau pecah, dan seluruh tubuhku terasa nyeri sekali. Jujur saja, ini pertama kalinya aku sakit seberat ini sendirian."
Suster Lina mengangguk paham, lalu meraih termometer dengan gerakan hati-hati. "Wajar saja kalau Bapak merasa begitu. Demam berdarah memang menguras tenaga luar biasa. Tapi Bapak jangan khawatir, Bapak akan kami pantau setiap saat. Sekarang saya cek suhu tubuh Bapak dulu ya."
Saat ia mendekat, aku melihat sorot matanya yang penuh perhatian—tak ada sedikit pun keraguan atau terburu-buru dalam gerakannya. "Keluarga Bapak tidak ada yang menemani?" tanyanya pelan sambil mencatat angka di termometer.
"Orang tua di luar kota, Suster. Saya sendiri di surabaya, mereka Belum sempat saya kabari," jawabku pelan, seketika rasa sepi menyelinap di sela rasa sakit. "Takut mereka panik."
Suster Lina berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan yang hangat. "Sangat pengertian Bapak. Tapi ingat, Bapak tidak sendirian di sini. Ada saya dan tim medis lainnya yang siap membantu kapan saja. Bapak harus istirahat total, jangan banyak bergerak. Minum air putih yang cukup, dan beri tahu saya segera kalau ada rasa tidak nyaman—sekecil apapun itu."
Ia merapikan selimut hingga menutupi sebatas dadaku, sentuhannya lembut namun menenangkan. "Suhu Bapak masih cukup tinggi. Saya akan siapkan obat dan tangan yang di infus jangan banyak bergerak. Istirahatlah dulu, Pak Arga. Saya akan kembali lagi nanti."
Saat ia beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi, aku tanpa sadar menyahut pelan, "Terima kasih, Suster Lina."
Ia menoleh kembali, senyumnya melebar sedikit lebih hangat. "Sama-sama, Pak Arga. Semoga lekas membaik."
Pintu tertutup perlahan di belakangnya....
Beraambung bab 2