Hardjakusuma Digistore

Hardjakusuma Digistore 1. Dapatkan cerita nostalgia dalam bentuk PDF eStory tentang perjalanan dengan Bus malam sejak Tahun 1980
2. eComic legend sejak tahun 1980
3.

ebook tips and trick bussines & pekerjaan
4. eWallpaper Bus jadul
5. ebook, Elearning digital store Hardja Digistore, all product dalam bentuk digital dan dikirim via email atau link melalui WhatsApp.

20/07/2026

Memahami AI dalam membuat karya, sama dengan anda memahai excel ketika membuat tabulasi data.

Quotes day
14/07/2026

Quotes day

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 8: Harapan Ibu di Sela Kesunyian Suasana di dalam ruangan menjadi tenang...
12/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 8: Harapan Ibu di Sela Kesunyian

Suasana di dalam ruangan menjadi tenang setelah tamu-tamu lain berpamitan. Hanya tersisa aku yang bersandar di bantal, dan Ibu yang duduk di kursi samping tempat tidur sambil merapikan selimutku perlahan. Tatapan Ibu lekat menatapku, seolah ada banyak hal yang ingin ia sampaikan sejak lama.

"Arga..." suaranya terdengar lembut namun serius, memecah keheningan. "Kapan kamu berniat menikah? Sudah ada calonnya atau belum?"

Aku tersenyum tipis, sedikit menggaruk kepala yang tak gatal. "Belum ada, Bu. Kita santai saja dulu ya. Pekerjaan sekarang masih banyak yang menyita waktu dan pikiran. Belum sempat terpikirkan hal itu sungguh-sungguh."

Ibu menghela napas panjang, tangannya menggenggam tanganku hangat. "Ya harus diniatkan, Nak. Kasihan nanti kalau kamu punya anak saat usiamu sudah terlanjur tua. Segeralah memikirkan masa depan itu. Tidak usah terlalu memikirkan soal biaya. Ayah dan Ibu sudah lama menyisihkan tabungan khusus untuk saat nanti kamu menikah, jadi jangan khawatirkan hal itu."

Ia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca penuh harap. "Kami cuma ingin melihat kamu ada yang menjaga, ada tempat berbagi saat lelah atau sedih seperti sekarang ini. Jangan biarkan kesendirian menjadi kebiasaanmu selamanya."

Aku mengangguk pelan, merasakan betapa tulusnya kasih sayang yang terselip dalam setiap kata yang terucap. "Iya Bu... Arga mengerti maksud Ibu. Nanti Arga akan pertimbangkan semuanya dengan baik."

Aku berfikir keras. Aku sudah punya pekerjaan yang cukup mapan dan tinggal dengan fasilitas perusahaan besar. Dari sisi finansial, tidak ada sama sekali ganjalan untuk aku membina rumah tangga. Namun, aku tidak pernah tau bagaimana caranya mendekati wanita. Hanya perasaan s**a saja yang aku pendam. Aku belum pernah merasakan namanya pacaran atau dekat dengan lawan jenis.

Andai ibu tahu, ibu pilihkan pun aku akan patuh. Karena aku tidak tahu bagaimana memulai untuk bisa dekat dengan wanita yang aku s**a.

Meski begitu, tak sadar bayangan wajah seseorang melintas di benakku sesaat. Namun aku segera menepisnya pelan, membiarkan percakapan itu tetap menjadi rahasia kecil di dalam hatiku sendiri.

Bersambung ke Bag IX

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 7: Cerita Ibu dan Senyum Suster Lina Keesokan paginya, Ayah harus segera...
12/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 7: Cerita Ibu dan Senyum Suster Lina

Keesokan paginya, Ayah harus segera kembali ke Bandung untuk mengurus pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Ibu memilih tetap tinggal, tidur di kamar menjagaku agar bisa menemaniku setiap waktu.

Siang itu, saat Ibu sedang merapikan selimutku, pintu ruangan terbuka pelan. Suster Lina masuk membawa catatan medis dan perlengkapan cek kondisi rutin.

Aku segera berbisik pada Ibu, lalu menunjuk ke arahnya: "Bu... ini Suster Lina, yang paling banyak membantu merawat Arga selama sendirian di sini."

Suster Lina tersenyum ramah, menunduk sopan menyapa: "Oh, Ibu orang tua Pak Arga ya? Selamat datang di Surabaya, Bu. Semoga merasa nyaman di sini. Pak Arga mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar penuh Rumah Sakit Permata, dan kami akan terus memantau kondisinya sampai pulih total."

Ibu segera bangkit berdiri, menyambut uluran tangan Suster Lina dengan hangat. "Terima kasih banyak ya, Suster... Terima kasih sudah sabar menjaga anak saya ini. Memang dia dari dulu bikin khawatir. Sendirian di Surabaya, kerjanya cuma kerja terus—dari masa kuliah pun apa-apa maunya sendiri. Udah mau menginjak usia 30 tahun begini belum juga nikah nikah."

Ibu bercerita panjang lebar tanpa henti, sambil sesekali mengelus punggung tanganku. "Kami sering khawatir nanti dia terlalu lama sendirian. Padahal kami ingin sekali melihat dia punya pendamping hidup yang bisa menjaga apalagi kalo ada hal begini..."

Wajahku seketika terasa panas membara. Aku mencoba menyela pelan, "Bu... Suster Lina masih bekerja, jangan diganggu cerita-cerita pribadi begini..."

Namun Suster Lina justru tertawa kecil dengan nada yang sangat lembut, matanya berbinar hangat. "Tidak apa-apa kok, Pak Arga. Saya sangat mengerti perasaan orang tua. Banyak pria sibuk menunda hal itu karena ingin mapan lebih dulu. Tapi percayalah, waktu yang tepat akan datang pada saatnya nanti."

Ia menatapku sekilas, lalu kembali menatap Ibu dengan senyum tulus. "Saya permisi dulu, silhakan pencet tombol panggil apabila mebuttuhkan bantuan saya. Jam 16.00 saya akan ganti shifr dan selanjutnya rekan saya shift malam." Suster lina permisi pergi dan keluar dari kamar.

Mendengar itu, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Entah mengapa, harapan kecil tiba-tiba menyelinap di hati. Ibu pun tersenyum lega mendengar kata-kata Suster Lina, seolah langsung merasa akrab dan percaya sepenuhnya padanya.

Bersambung ke Bab VIII

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 6: Kehadiran yang Tak Disangka Pintu ruangan terbuka perlahan, dan seket...
12/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 6: Kehadiran yang Tak Disangka

Pintu ruangan terbuka perlahan, dan seketika napasku tertahan. Di sana berdiri Ayah dan Ibu, dengan wajah yang tampak lelah namun penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Ayah berusia 55 tahun, berpakaian rapi, rambutnya sudah memutih banyak namun tetap terawat apik. Di sampingnya Ibu yang berusia 52 tahun, tampak anggun mengenakan busana muslim sederhana namun rapi, matanya langsung berkaca-kaca saat menatapku terbaring di kasur.

"Arga..." suara Ibu bergetar, ia segera melangkah mendekat dan menggenggam tanganku erat seolah takut aku hilang. "Ayah kemarin menelpon Dito, bertanya di mana kamu dirawat. Ibu dari kemarin malam tak bisa tidur, Nak... khawatir sekali kamu sendirian di kota orang."

Aku menunduk menahan rasa bersalah yang mendalam. "Maafkan aku, Bu... Aku hanya tak ingin kalian cemas dan menempuh perjalanan jauh."

Ayah menatapku, sorot matanya tegas namun penuh kasih sayang. "Lha kamu ini, kenapa tidak memberi kabar jujur saja? Kami sekeluarga pasti akan datang. Kami berangkat pagi sekali tadi dari Bandung, naik kereta seharian hanya untuk menjengukmu."

Ia berhenti sejenak, lalu menatap sekeliling ruangan sebelum kembali bertanya lembut namun tegas: "Siapa yang merawatmu selama ini di rumah sakit, Nak? Siapa yang menjagamu saat kamu belum kuat bergerak?"

Aku mengangguk pelan, berusaha menenangkan mereka. "Tenang saja, Yah, Bu. Semua perawat di sini sangat baik dan telaten merawatku. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku diperhatikan dengan sangat baik setiap saat."

Ibu mengusap keringat samar di pelipisku, wajahnya perlahan terlihat lebih tenang meski masih terlihat sisa cemas. "Syukurlah kalau begitu... Ibu lega mendengarnya. Kamu harus banyak istirahat ya, biar cepat pulih sepenuhnya."

Bersambung ke Bab VII

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 5: Candaan Teman dan Rasa yang Mulia Tumbuh Pintu ruangan terbuka lebar ...
12/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 5: Candaan Teman dan Rasa yang Mulia Tumbuh

Pintu ruangan terbuka lebar tanpa ketukan terlebih dahulu, disusul gelak tawa yang langsung memenuhi ruang sepi itu. Empat sahabat sekantorku—Dito, Rian, Sari, dan Bayu—berdiri di ambang pintu sambil membawa buah tangan dan bungkusan kecil. Wajah mereka tampak lega sekaligus ingin bercanda melihatku yang sudah bisa duduk bersandar di bantal.

"Nah, ini dia pahlawan yang takluk sama gigitan nyamuk!" seru Dito sambil meletakkan keranjang buah di meja samping tempat tidur, senyumnya lebar sekali. "Masa Arga yang biasa begadang sampai pagi mengerjakan desain malah kalah sama nyamuk kecil... payah sekali kau, Ga!"

Tawa mereka meledak bersamaan. Aku hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis, ikut tertawa meski tenagaku belum sepenuhnya pulih. "Apa kau tahu nyamuk ini kelas berat, Dit? Bukan nyamuk biasa," sahutku pelan.

Sari menyikut lengan Dito pelan agar tidak terlalu berisik, namun tak bisa menahan senyumnya. "Sudah, sudah, jangan gitu juga. Tapi jujur saja, kami semua kaget tahu kau dirawat sendirian di sini."

Rian tiba-tiba menoleh ke arah pintu, lalu berbisik cukup keras agar bisa kudengar: "Tapi katanya suster-suster di bangsal ini cantik semua ya? Jomblo pasti betah berlama-lama di sini, bukan? Mana ada yang mau pulang cepat kalau ada perawat yang ramah dan manis begini..."

Bayu menyambung sambil mengedipkan mata padaku: "Betul itu! Mungkin saja Arga diam-diam senang dirawat dengan penuh perhatian, makanya tak buru-buru sembuh. Siapa tahu ada yang dirindukan setiap kali bel pintu berbunyi..."

Wajahku seketika terasa panas. Tanpa sadar mataku melirik sejenak ke arah pintu, seolah takut kalimat itu terdengar oleh siapa pun yang lewat. Pikiranku langsung melayang pada sosok Suster Lina yang selalu datang dengan senyum teduhnya. Candaan mereka seolah menyentuh sesuatu yang selama ini kusembunyikan dalam diam—rasa nyaman yang mulai terasa berbeda setiap kali sosok itu muncul.

"Suweee luuuu," jawabku berusaha menutupi rasa malu yang menyelinap, meski sudut bibirku tak berhenti tersenyum. "Biasa aja sih. Lumayan lah, seger2 rapih lagii."

"Yah, kalau begitu kenapa mukamu memerah?" goda Sari sambil tertawa kecil.

Kami terus mengobrol riang selama hampir satu jam. Mereka cerita hal-hal lucu di kantor, mengeluh tentang tumpukan pekerjaan yang kini menumpuk di mejaku, dan terus saja menyindirku dengan candaan ringan. Suasana yang tadinya sepi dan dingin kini berubah hangat penuh tawa.

Tepat saat mereka berpamitan dan membuka pintu keluar, berpapasanlah mereka dengan Suster Lina yang hendak masuk membawa nampan obat. Teman-temanku sekilas saling berpandangan sambil menahan senyum menggoda, lalu menunduk sopan menyapa sebelum melangkah pergi satu per satu.

Suster Lina melangkah masuk dengan tenang, menatapku yang masih tersenyum sisa tawa. "Tadi suasananya sangat riang sekali ya, Pak Arga. Baguslah Bapak ditemani sahabat," ucapnya lembut sambil menyiapkan obat.

Aku menunduk sedikit, masih merasakan sisa rasa hangat di p**i. "Iya Suster... mereka memang s**a bercanda saja."

Ia tersenyum tipis, seolah tak menyadari atau mungkin mengerti tanpa perlu bertanya lebih lanjut. "Tetap semangat sembuh ya. Senang melihat Bapak lebih bersemangat hari ini."

Di tengah candaan teman-temanku, aku baru menyadari satu hal: mungkin benar kata mereka—aku memang mulai menanti setiap kedatangan Suster Lina dengan perasaan yang tak lagi sekadar sebagai pasien.bersambung ke Bab VI

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 4: Kebohongan Kecil Demi Ketenangan Mereka Hari kedua perawatan. Demamku...
12/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 4: Kebohongan Kecil Demi Ketenangan Mereka

Hari kedua perawatan. Demamku memang sudah tak setinggi hari pertama, namun tubuh masih terasa berat dan lemas. Pagi itu, setelah Suster Lina selesai mengecek tanda-tanda vital dan meninggalkan ruangan, aku akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggil video ke nomor ibuku di kota kelahiranku. Jauh di sana, mereka tak perlu tahu betapa lelah dan rapuhnya aku beberapa hari ini.

Tak lama, wajah Ibu dan Ayah muncul di layar ponsel. Wajah mereka tampak cemas seketika melihatku terbaring di kasur rumah sakit.

"Arga! Kamu sakit apa? Kenapa baru bilang sekarang?" suara Ibu terdengar gemetar dari seberang.

Aku tersenyum selebar mungkin, berusaha menyembunyikan rasa lemas yang masih terasa. "Ibu, Ayah... jangan khawatir ya. Semuanya baik-baik saja kok. Cuma masuk angin agak berat sedikit, dokter menyarankan istirahat total di sini sebentar saja."

"Kamu sendirian di sana? Siapa yang merawatmu?" tanya Ayah tak kalah khawatir.

"Jangan khawatir, Ayah. Di sini ada yang merawatku dengan sangat baik. Perawatnya sangat telaten, ramah, selalu datang tepat waktu. Aku tidak merasa kesepian sama sekali," ujarku tulus teringat pada Suster Lina yang selalu ada dengan kehangatannya.

Kuputuskan untuk sedikit berlebih-lebih demi menenangkan hati mereka. "Dokter bilang kondisiku sudah membaik pesat. Lusa saja insya Allah aku sudah boleh pulang ke apartemen. Jadi Ibu dan Ayah tidak perlu sampai jauh-jauh ke Surabaya ya, nanti malah merepotkan."

Sebenarnya dokter baru saja bilang setidaknya butuh tiga hingga empat hari lagi untuk memastikan trombosit benar-benar aman. Tapi melihat napas Ibu yang mulai teratur kembali, aku tahu kebohongan kecil ini sepadan.

"Ya sudah kalau begitu... jaga kesehatan yang baik ya Nak. Makan yang banyak, minum obat teratur," pesan Ibu dengan nada yang jauh lebih tenang.

"Iya Bu, pasti. Kalian juga sehat-sehat ya di sana. Aku akan kabari lagi nanti kalau sudah di rumah," jawabku sebelum mengakhiri panggilan perlahan.

Saat layar ponsel kembali gelap, aku menghela napas panjang namun terasa lega. Setidaknya mereka tidak lagi cemas berlebihan. Tepat saat itu pintu ruangan terbuka, dan Suster Lina masuk membawa segelas air hangat.

"Baru saja menghubungi orang tua ya, Pak?" tanyanya lembut sambil meletakkan gelas di meja samping. "Terlihat Bapak tampak lebih tenang sekarang."

Aku mengangguk pelan, sedikit tersenyum malu. "Iya Suster... sedikit membohongi mereka soal jadwal pulang, supaya mereka tidak terlalu khawatir dan ingin segera datang ke sini."

Suster Lina tersenyum penuh pengertian, matanya menatapku dengan pandangan yang seolah mengerti segalanya. "Itu bukan kebohongan yang buruk, Pak. Itu bentuk kasih sayang Bapak kepada mereka. Bagus sekali Bapak sudah memberi kabar. Beban di hati pasti jadi lebih ringan sekarang kan?"

Ia menepuk pelan ujung selimut, seolah memberikan kekuatan tanpa kata. "Lanjutkan istirahatnya ya, Pak Arga. Saya akan datang lagi nanti siang."

Melihat punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu, aku merasa bersyukur. Di tengah kesendirianku di kota ini, kehadiran Suster Lina benar-benar menjadi penenang—bukan hanya untuk tubuh yang sakit, tapi juga untuk hati yang kadang merasa sepi.

Bersambung ke Bab 5

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 3: Suapan yang Tak Pernah Terasa Begitu Berarti Tak lama setelah selesai...
11/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 3: Suapan yang Tak Pernah Terasa Begitu Berarti

Tak lama setelah selesai dibersihkan, pintu ruanganku terbuka kembali. Suster Lina mendorong troli berisi nampan makan siang yang tertutup rapat. Aroma samar tercium, namun tak sedikit pun membangkitkan selera makanku yang mati rasa akibat demam.

"Siang, Pak Arga. Ini makan siangnya," ucapnya lembut sambil menurunkan nampan. Ia membuka tutupnya perlahan: nasi tim pucat, ayam rebus, sayur bening, dan sepiring kecil potongan buah pepaya serta jeruk. Semuanya tampak polos sesuai anjuran medis.

Aku mencoba menyendok nasi, mengunyahnya pelan. Rasanya benar-benar hambar—seperti mengunyah kapas basah. Lidahku tak menangkap rasa sedikit pun. Setelah tiga suapan, aku meletakkan sendok dengan berat hati.

Suster Lina melihat itu dengan tatapan pengertian. "Saya mengerti rasanya, Pak. Demam berdarah memang membuat lidah tumpul. Tapi tubuh butuh asupan agar trombosit cepat naik. Setidaknya kita berusaha sedikit demi sedikit ya? Dokter memperkirakan butuh sekitar 5 hari sampai Bapak benar-benar lewat fase kritis ini."

Ia tersenyum hangat, lalu beranjak menuju pintu. "Saya tidak akan mengganggu waktu makan Bapak. Silakan makan pelan-pelan saja, jangan dipaksa kalau belum sanggup. Saya akan kembali sebentar lagi."

Setelah pintu tertutup, aku kembali mencoba menyantapnya dengan sangat perlahan. Nasi, sayur, dan ayam tetap terasa tawar sepenuhnya, seolah tak ada bumbu sedikit pun. Namun saat tanganku meraih potongan buah, segarnya manis jeruk dan lembutnya pepaya seketika terasa nyata di lidahku. Hanya buah-buahan ini yang mampu kuelapkan dengan nikmat, sisanya kuhabiskan sekuat tenaga meski tanpa rasa sama sekali.

Saat Suster Lina kembali beberapa saat kemudian, ia melihat nampan yang sudah kosong, meski aku tahu wajahku tak bisa menyembunyikan betapa beratnya melakukannya. Matanya berbinar lembut. "Hebat sekali, Pak. Terima kasih sudah mau berusaha. Terutama buahnya memang paling enak dan segar untuk kondisi Bapak sekarang, bukan?"

Aku mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Hanya buah yang terasa segar, Suster. Sisanya... entahlah, tak ada rasa sama sekali."

Ia tertawa kecil halus, lalu merapikan nampan. "Tidak apa-apa. Yang penting masuk ke perut. Nanti saat sudah pulih total, Bapak boleh makan apa saja yang paling dis**ai. Sekarang istirahatlah lagi ya."

Dia kemudian merapikan meja dan sisa makanan. Merendahkan sandaran tempat tidur pasien dan meninggkalkan ruangan. "Pencet tombol itu arga, andai ada yang bapak butuhkan" ucapnya. "Saya tinggal di ruang jaga. Selamat istirahat" menuju pintu keluar kamar dan menutup.

Aku memilih tidur. Demam ku sudah mulai reda, namun sakit kepala masih aku rasakan dan rasanya berputar putar.

Bersambung ke Bab IV

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 2: Sentuhan yang Tak Pernah Kurasakan sebelumnya Malam pertama di rumah ...
11/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 2: Sentuhan yang Tak Pernah Kurasakan sebelumnya

Malam pertama di rumah sakit terasa jauh lebih panjang dari yang kubayangkan. Demam naik turun, membuatku terus terjaga di sela-sela kantuk yang berat. Orang tua belum kukabari—masih kuharap ini akan segera reda sebelum mereka tahu. Hanya ada aku, bunyi detak infus yang berirama, dan kesunyian yang sesekali pecah saat suster lain datang mengecek kondisi.

Suster-suster lain itu ramah, namun gerakannya terburu-buru, nada bicaranya datar seolah mereka hanya menjalankan rutinitas semata. Tak ada obrolan santai, tak ada senyum yang benar-benar sampai ke mata. Setiap kali mereka pergi, ruangan kembali terasa dingin dan sepi.

Hingga pagi mulai menyelinap di balik tirai jendela, pintu ruanganku terbuka lagi. Kali ini, aku langsung mengenali sosoknya.

"Selamat pagi, Pak Arga. Bagaimana tidurnya semalam?" Suster Lina masuk dengan nampan berisi perlengkapan mandi kecil, wajahnya tetap teduh meski hari baru baru saja dimulai. "Suhu mulai sedikit turun, tapi Bapak masih terlihat sangat lemas. Izinkan saya membantu membersihkan badan sebentar ya, supaya Bapak merasa lebih segar."

Aku mengangguk pelan, meski jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang. Aku belum pernah sedekat ini dengan wanita selain ibu dan kerabat dekatku. Usia 28 tahun kulalui dengan kesibukan kerja yang menumpuk, tak pernah ada waktu, atau mungkin juga keberanian, untuk mendekati lawan jenis. Belum pernah ada yang menyentuhku selain sekadar jabat tangan yang sopan.

Suster Lina bekerja dengan sangat profesional. Ia menurunkan suhu ruangan sedikit, menutupi bagian tubuhku yang tidak dibersihkan dengan hati-hati, setiap gerakannya penuh rasa hormat. Namun saat jari-jarinya yang halus menyentuh lengan dan bahuku, sensasi hangat yang tak bisa kujelaskan merambat perlahan ke seluruh tubuh. Tak ada rasa canggung, tak ada rasa terganggu—yang kurasakan justru kenyamanan yang aneh, seolah semua rasa sakit dan kecemasanku sedikit luruh bersamaan dengan sentuhan itu.

Ia tak bicara banyak saat bekerja, namun sesekali bertanya pelan, "Apakah airnya terlalu dingin? Atau ada bagian yang terasa sakit?"

Suaranya lembut seperti aliran air yang tenang. Aku hanya bisa menggeleng pelan, suaraku nyaris tak terdengar, "Tidak... Suster sudah sangat baik."

Suster Lina tersenyum tipis, lalu melanjutkan tugasnya dengan telaten. "Bapak sangat sopan. Tidak perlu sungkan dengan saya ya. Di sini, tugas saya bukan hanya merawat penyakit Bapak, tapi juga memastikan Bapak merasa nyaman."

Saat ia selesai merapikan selimut dan perlengkapannya, aku merasa tubuhku memang terasa jauh lebih ringan. Lebih dari itu, hatiku yang sempat terasa sepi dan dingin seolah mendapatkan sedikit kehangatan yang tak pernah kusalami sebelumnya.

"Saya akan kembali lagi nanti dengan sarapan dan obat, Pak Arga. Istirahatlah kembali," ucapnya sebelum melangkah menuju pintu.

Saat pintu tertutup, aku masih diam terpaku menatap arah kepergiannya. Suster lain mungkin melakukan hal yang sama, namun tak ada yang mampu membawa suasana sehangat yang dibawa Suster Lina. Di tengah hari pertamaku yang penuh kesendirian, ia menjadi satu-satunya hal yang membuatku tak lagi merasa sendirian sepenuhnya.

Bersambung ke Bab 3

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina Bab 1: Hari yang Tak Terduga Keringat dingin membasahi seluruh punggungku sa...
11/07/2026

Antara Aku, Demam Berdarah, dan Suster Lina

Bab 1: Hari yang Tak Terduga

Keringat dingin membasahi seluruh punggungku saat aku menyeret tubuhku yang limbung menuju meja resepsionis Rumah Sakit Permata, Surabaya. Badanku terasa seperti dihantam ribuan batu bata; demam yang tak kunjung turun selama tiga hari ini akhirnya membuatku tak sanggup lagi menahannya sendirian di apartemen sempitku.

Namaku Arga, 28 tahun, bekerja sebagai arsitek dan hidup sendiri di kota ini. Orang tuaku menetap jauh di kota kelahiranku, belum sempat kuberitahu mereka sakitku—takut mereka cemas berlebihan dan terburu-buru menempuh perjalanan jauh.

"Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda Demam Berdarah Dengue, Pak Arga. Harus segera dirawat inap untuk pemantauan," ujar dokter muda di hadapanku dengan nada tegas.

Tanpa banyak tanya, aku mengangguk pasrah. Tak lama kemudian, seorang petugas mengantarku ke bangsal lantai dua, ruang kelas utama yang bersih dan sepi. Baru saja aku duduk di tepi tempat tidur, pintu ruangan terbuka perlahan.

Seorang wanita berseragam perawat berjalan masuk dengan langkah tenang namun sigap. Rambutnya yang hitam pekat diikat rapi ke belakang, senyum lembut terukir di wajahnya yang tampak teduh. Ia meletakkan nampan peralatan medis di meja samping tempat tidur, lalu menoleh padaku.

"Selamat sore, Pak Arga. Saya Suster Lina, yang akan merawat Bapak selama di sini," suaranya lembut namun jelas, seolah mampu menenangkan rasa sakit yang kurasakan seketika. "Apa yang Bapak rasakan sekarang? Masih terasa sangat pusing atau mual?"

Aku menghela napas panjang, mencoba duduk lebih tegak meski terasa berat. "Sore, Suster... Kepalaku rasanya mau pecah, dan seluruh tubuhku terasa nyeri sekali. Jujur saja, ini pertama kalinya aku sakit seberat ini sendirian."

Suster Lina mengangguk paham, lalu meraih termometer dengan gerakan hati-hati. "Wajar saja kalau Bapak merasa begitu. Demam berdarah memang menguras tenaga luar biasa. Tapi Bapak jangan khawatir, Bapak akan kami pantau setiap saat. Sekarang saya cek suhu tubuh Bapak dulu ya."

Saat ia mendekat, aku melihat sorot matanya yang penuh perhatian—tak ada sedikit pun keraguan atau terburu-buru dalam gerakannya. "Keluarga Bapak tidak ada yang menemani?" tanyanya pelan sambil mencatat angka di termometer.

"Orang tua di luar kota, Suster. Saya sendiri di surabaya, mereka Belum sempat saya kabari," jawabku pelan, seketika rasa sepi menyelinap di sela rasa sakit. "Takut mereka panik."

Suster Lina berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan yang hangat. "Sangat pengertian Bapak. Tapi ingat, Bapak tidak sendirian di sini. Ada saya dan tim medis lainnya yang siap membantu kapan saja. Bapak harus istirahat total, jangan banyak bergerak. Minum air putih yang cukup, dan beri tahu saya segera kalau ada rasa tidak nyaman—sekecil apapun itu."

Ia merapikan selimut hingga menutupi sebatas dadaku, sentuhannya lembut namun menenangkan. "Suhu Bapak masih cukup tinggi. Saya akan siapkan obat dan tangan yang di infus jangan banyak bergerak. Istirahatlah dulu, Pak Arga. Saya akan kembali lagi nanti."

Saat ia beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi, aku tanpa sadar menyahut pelan, "Terima kasih, Suster Lina."

Ia menoleh kembali, senyumnya melebar sedikit lebih hangat. "Sama-sama, Pak Arga. Semoga lekas membaik."

Pintu tertutup perlahan di belakangnya....

Beraambung bab 2

Address

Barusari II No. 29
Semarang
50127

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hardjakusuma Digistore posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share