09/10/2026
Kisah Wahyudin, Pemulung Selama 12 Tahun yang Berhasil Meraih Gelar S2 di ITB
Wahyudin, yang dikenal dengan julukan “Pemulung Ganteng”, merupakan sosok inspiratif yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Sejak duduk di kelas 4 SD, ia harus ikut memulung sampah demi membantu memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai sekolahnya. Perjuangan tersebut dijalaninya selama kurang lebih 12 tahun, hingga berhasil menyelesaikan pendidikan S1.
Setiap hari, Wahyudin menjalani rutinitas yang sangat melelahkan. Ia bangun pukul 02.00 dini hari untuk menyusuri jalanan dan mengumpulkan barang bekas hingga waktu Subuh. Setelah itu, ia mandi, mengenakan seragam, lalu berangkat ke sekolah. Di sela-sela kegiatannya, ia juga menjajakan gorengan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Sepulang sekolah, perjuangannya belum berakhir. Ia kembali memulung hingga pukul 22.00 atau bahkan 23.00 malam. Karena kelelahan dan kurang tidur, ia terkadang tidur di atas tumpukan karung. Ia juga pernah mengoleskan minyak kayu putih atau balsam di dekat matanya agar tetap terjaga saat mengikuti pelajaran di kelas.
Meski hidup dalam keterbatasan, Wahyudin tidak pernah menyerah mengejar cita-citanya. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Manajemen di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) dengan predikat cumlaude. Selain bekerja, ia juga beternak entok dengan modal bantuan dari para donatur.
Kisah perjuangannya kemudian menarik perhatian media nasional dan mengundang simpati banyak pihak. Berkat kesempatan tersebut, Wahyudin memperoleh Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan pendidikan magister program Master of Business Administration (MBA) di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Wahyudin akhirnya berhasil menyelesaikan studi S2 di ITB Kampus Jakarta. Gelar akademiknya pun bertambah menjadi Wahyudin, S.E., M.B.A., dengan biaya pendidikan yang ditanggung melalui program beasiswa pemerintah.
Setelah lulus, ia mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan doktoral atau S3 ke luar negeri. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah kemampuan bahasa Inggris. Demi melatih percakapan secara langsung, ia bahkan pernah pergi ke kawasan Jatinegara tanpa alas kaki untuk menemui turis asing dan belajar berbicara dalam bahasa Inggris.
Namun, sebelum melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Wahyudin juga memiliki impian untuk menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci, Makkah.
Kehidupannya kini jauh berbeda dibandingkan masa ketika ia harus memulung setiap hari. Dengan bantuan modal dari para donatur, ia mengembangkan usaha peternakan, mulai dari entok, ayam, hingga kambing. Ia juga aktif menjalankan kegiatan sosial dan program amal untuk membantu anak-anak yatim serta para lansia.
Perjalanan Wahyudin menjadi bukti bahwa perjuangan panjang, kesempatan pendidikan, dan dukungan orang-orang yang peduli dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Dari seorang anak yang harus bekerja sejak dini hari demi bisa bersekolah, ia berhasil meraih gelar magister dan terus berusaha mewujudkan cita-citanya untuk menempuh pendidikan doktoral di luar negeri.