15/10/2025
WAJAH MENANTUKU
Renata cemberut. Dari balik sorot matanya, aku tahu ia sedang menahan kesal. Aku duduk santai di lantai dapur, mengupas singkong dengan pisau besar. Tanah dari kulit singkong tercecer ke mana-mana, padahal lantai baru saja dipel olehnya pagi tadi.
“Kok dikupasnya di sini, Bu? Kan tadi udah dipel bersih…”
Aku pura-pura tidak dengar. Padahal kupingku masih sehat. Tapi aku tetap meneruskan pekerjaanku. Pisau bekas kupasan singkong kuletakkan sembarangan di meja, ujungnya nyaris jatuh. Renata melirik tajam, tapi tak berkata apa-apa lagi. Dia pasti hafal, kalau bicara pun aku akan membalas, “Ya tinggal dibersihin aja, kenapa sih repot?”
---
Malamnya, Renata menyajikan sup jagung yang dia masak sejak sore. Anak dan cucuku duduk rapi di meja makan. Aku juga ikut duduk, meski diam-diam aku sudah menyantap kerupuk dan pisang goreng di dapur sebelumnya. Aku hanya mengambil sesendok, mencicipi sedikit, lalu mendorong mangkuknya menjauh.
“Bu, nggak s**a supnya?” tanya Raka, anakku.
“Enak, cuma Ibu udah kenyang.”
Padahal tidak. Aku hanya merasa sup buatan Renata terlalu banyak bumbu.
Renata membereskan meja, tapi wajahnya jelas kecewa. Apalagi saat melihat mangkukku masih hampir penuh. Belum sempat dicuci, sudah didatangi semut.
“Bu... ini kok semutnya banyak banget?”
“Halah, itu karena kamu naruh gula di dekat kompor, makanya dateng semua,” kataku enteng, padahal aku tahu karena aku tak menghabiskan makanan.
---
Masalah kecil tak berhenti di situ.
Setiap habis memakai pisau, aku tak pernah meletakkannya kembali ke tempatnya. Kadang aku biarkan di atas talenan, kadang di rak piring dalam keadaan basah. Renata beberapa kali memindahkannya, tapi aku pura-pura tak tahu. Sampai suatu hari dia tak tahan.
“Bu, maaf ya... Pisau itu harus dikeringin, kalau nggak bisa berkarat... Lagian bahaya kalau nanti dibuat mainan Alfa, Bu."
“Loh, pisau emangnya besi biasa? Pisau zaman sekarang kok lemah amat,” balasku. “Zaman Ibu dulu, pisau berkarat pun masih dipakai. Nggak mati kok. Lagipula tugas kamu sebagai Ibu lebih awas menjaga Alfa, jangan cuma main HP doang."
Renata menghela napas dalam-dalam, lalu tersenyum pahit. “Iya, Bu...”
---
Yang paling membuatnya pening mungkin koleksiku.
Aku senang menyimpan barang. Bukan karena pelit, tapi aku percaya setiap barang punya takdirnya. Bahkan saat kursi plastik kaki tiga rusak pun tak kubuang. Aku bilang, “Nanti bisa jadi pot tanaman.” Botol plastik? “Bisa jadi tempat sambal.” Kertas bekas? “Buat alas menggoreng.”
Garasi perlahan berubah jadi gudang. Renata pernah mencoba membereskan dan membuang satu karung plastik kresek yang sudah sobek-sobek.
Tapi saat tahu, aku marah besar.
“Kamu buang barang-barang Ibu?! Astaga, itu semua masih bisa dipakai! Kamu tahu nggak, kita ini hidup harus hemat!”
“Tapi, Bu... itu sudah rusak... bahkan ada yang sudah berjamur...”
“Kalau kamu nggak s**a, jangan tinggal di rumah ini!”
Raka yang mendengar keributan itu hanya bisa mengelus dada.
---
Puncaknya terjadi saat Renata tidak sengaja memecahkan cangkir favoritku. Cangkir bergambar bunga melati, yang sudah ku pakai sejak Raka masih balita.
“Aduh, Bu... maaf banget... saya—saya nggak sengaja... tadi jatuh pas cuci piring...”
Aku terdiam sebentar. Lalu menangis.
“Ibu memang sudah nggak dianggap di rumah ini! Cangkir aja dibuang!”
“Bu, bukan saya buang... tidak sengaja jatuh—”
“Cuma Ibu yang ngerti arti barang-barang ini! Kamu cuma tahu buang-buang! Hati orang tua juga kamu buang!”
Renata menangis juga akhirnya. Tapi dia pergi ke kamar, menutup pintu. Di balik pintu, kudengar tangisnya tertahan.
---
Malam itu, Raka duduk di sebelahku.
“Bu, boleh saya ngomong?”
Aku menatapnya, mengangguk.
“Kenapa Ibu seperti ini ke Renata? Saya tahu Ibu pernah capek hidup sendiri, pernah sakit hati. Tapi Renata juga manusia, Bu. Dia bukan musuh Ibu.”
Aku terdiam.
“Dia selalu bilang ke saya, meski Ibu bikin repot, dia tetap ingin berbakti. Tapi Ibu malah terus-terusan bikin dia seolah orang jahat.”
Aku memejamkan mata. Tanganku mengelus cangkir lain, yang tersisa satu dari pasangan itu.
---
Pagi harinya, Renata menyiapkan sarapan nasi goreng sederhana, telur mata sapi, dan teh panas.
Aku duduk di meja makan. Tidak banyak bicara. Tapi kali ini, aku menghabiskan makananku. Bahkan aku angkat piring ke wastafel. Pelan-pelan, kubersihkan sendiri.
Renata terkejut, tapi tak berkata apa-apa.
“Renata...” panggilku lirih. “Nanti sore, bantu Ibu sortir barang-barang di gudang, ya. Kita buang yang sudah nggak perlu...”
Renata menoleh, matanya sedikit berkaca.
“Beneran, Bu?”
Aku mengangguk. “Ibu... juga pengen belajar sayang sama kamu. Tapi pelan-pelan, ya.”
---
Wajah menantuku memang punya dua sisi. Mungkin itu juga karena sikapku. Tapi sekarang aku sadar, mungkin aku pun punya dua wajah, wajah yang keras, dan wajah yang takut ditinggalkan. Kini aku ingin belajar... menurunkan topengku sendiri, menurunkan egoku.
-Tamat-