24/09/2021
Mungkin... inilah bacaan yang Anda cari selama ini ...
Pengetahuan yang Bikin Hidup Malah Acakadut
: om Sukamoto, penutur.-
Ternyata ada jenis pengetahuan yang bukannya mempermudah dan mencerahkan hidup pemilik, malah ia menyusahkannya. Dan ternyata, bukan saja menyusahkannya saja, tetapi juga menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Kok bisa?
Baiklah! Saya akan alkisahkan kepada Anda:
Saya mempunyai seorang kawan. Ia panutan bagi saya perihal seorang yang demikian update perkara penguasaan IT. Bagi saya yang masuk kategori ‘komodosaurus’ dalam bidang penguasaan teknologi digital-virtual, ia seorang Master IT mumpuni yang menjadi model panutan.
Bagaimana tidak, saya harus bekerja pontang-panting mengerahkan segenap kepiawaian analog yang saya miliki untuk bisa survival, sementara beliau ini hongkang-hongkang saldonya rekeningnya terus berkembang. Bukan oleh receh rupiah seperti saldo tabungan saya, namun saldo miliknya terus dialiri dollar dari dunia antah-berantah maya. Jenis bisnis dia adalah bisnis yang s**ar sekali masuk diakal saya yang masih setengah analog-setengah digital semrawut. Kekayaan uang digitalnya lebih besar daripada apa yang ada direkening dan dompetnya. Orang ini piawai dalam mengelola dan menyiasati sistem teknologi informasi berbasis jaringan internet. Jadi, ketika kita baru berwacana perihal IoS [internet of things], ia dan penghidupannya sudah berada di sana.
Akan tetapi, bukan kecanggihan itu yang membuat saya kagum kepadanya. Saya kagum bahwa dengan segenap kemutakhirannya itu sudah empat kali [4x] dan mungkin lebih, ia gagal dalam percintaan. Kala kawan-kawannya sudah memiliki pasangan, berumah tangga dan bahkan sudah beranak-pinak, ia masih jomblo belaka. Oleh sebab itu, saya perhatikan ia s**a touring dan jalan-jalan—mungkin untuk menghalau dia punya galau.
Kawan ini termasuk tinggi badannya dan tidaklah tergolong jelek seperti saya, bahkan ia bisa masuk jajaran orang tampan pada daftar yang agak bawah. Dan itu sudah bagus, sebab selain tampangnya yang tak acakadut, wajah dia empatik, kelakuannya tak bejat, dan yang istimewa dia berwatak baik hati, tidak sombong, s**a menolong. Hampir tak ada kawan-kawan dalam lingkup pergaulan kami yang tak mengakuinya sebagai kawan yang baik dus menyenangkan. Namun kenapakah orang sebagus ini mutunya, malah s**ar sekali jodoh dia? Apakah doi terlalu pemilih? Ataukah kriteria yang di maui terlalu high-end? Ternyata TIDAK juga.
Oleh catatan banyaknya kisah percintaannya yang ‘bergelimpangan’ di tengah proses ini, saya sempat curiga jangan-jangan daripada Tina, ia lebih memilih Tono atau Marwoto daripada Marwati?! Alhasil, kecurigaan saya terbukti: …SALAH! Ternyata ia tetaplah lelaki sewajarnya. Namun ada apakah gerangan?
Melalui suatu investigasi yang tidak bisa dikatakan mudah, sebab kawan ini tergolong orang yang s**ar berbagi informasi private, dapatlah saya menggali informasi lebih mendalam darinya. Ia bercerita bahwa dalam keluarganya, ada tokoh kunci yang sangat menentukan perihal perjodohan, yakni nenek alias si Mbah. Tak ada pernikahan yang bisa dilangsungkan dalam tradisi keluarganya itu apabila tanpa ‘restu’ si Mbah yang sangat dihormati dan disegani oleh segenap anggota keluarga besarnya. Orang-orang di kampung kawan saya itu bahkan menggelari si Mbah ini sebagai ‘Sesepuh Linuwih’ alias sosok sakti. Kesaktian Beliau ini—konon, sudah teruji oleh waktu. Sejumlah perkataan dan penerawangan beliau seringkali benar-benar terbukti.
Wah, ini betul-betul kontradiksi! Si cucu ahli IT sementara sang Mbah ahli mistik. Dua bidang yang seringkali dipandang bertolak belakang. Dan sekalipun Master IT, ternyata kawan saya itu tetap saja takut kualat. Ia cenderung memilih taat pada tradisi keluarganya. Beberapa calon jodoh yang diajukannya, kandas oleh hasil terawangan dan teknik kalkulasi multidimensi primbonik ala si Mbah. Hebatnya lagi, orang ini awet. Almusabab itulah, hingga menjelang umur 30-an, sang cucu kawan saya itu tak juga ketemu-cucok jodohnya.
Jadi, inilah alkisah yang menunjukkan bahwa ternyata ada pengetahuan yang tidak mempermudah hidup dus malah meribetkannya. Bukan saja menyulitkan diri sendiri, bahkan mempersulit orang lain.
* * *
Orang-orang berpengetahuan khusus [indigenious] semacam si Mbah kawan saya itu, sudah banyak saya temui dan ketemukan. Saya sendiri tetap menaruh respek terhadap pengetahuan spesifik bahkan langka semacam astrologi Kejawan dan t**i mangsa itu. Pengetahuan semacam ini bersifat empiris dan merupakan suatu upaya serius sinkretisme yang sudah melewati observasi dan revisi demi revisi selama ratusan dan bahkan ribuan tahun. Khazanah pengetahuan dan kearifan manusia Nusantara. Sekalipun bukan seorang ahli atau pakar, saya pernah cukup intens mempelajari bidang ini, dan pada sejumlah situasi dan konteks pengetahuan itu ada gunanya juga bagi saya.
Alkisah bonus---Saya pernah ‘mendamprat’ seorang sanak kadang keluarga saya yang memiliki ideologi mirip si Mbah kawan saya itu. Sedulur kadang saya itu memiliki seorang istri yang sedang menderita sakit dan semustinya segera mendapatkan tindakan medis. Akan tetapi, ia mencla-mencle alias lambat sekali mengambil keputusan dan bertindak asertif. Dari laporan sedulurnya, saya mendengar kalau dia menunda pengobatan istrinya karena menurut dia jadwal operasi yang dibuat dokter bukanlah tanggal dan ‘hari-hari baik’. Maka muntap-lah saya. Dan kalau saya sudah muntap, saya bakal menyampaikan damprat ultimatum sambil senyum seraya kalem belaka, serupa raja hutan prangas-prenges ke arah mangsanya.
“Wah, mau diangkut ke UGD masih dicari dulu ‘hari baiknya’ bakal wassalam, bang,” ujar adik saya.
* * *
Begitulah. Bahkan menuntut ilmu dan mengamalkannya mempunyai jebakan.
Serupa yang diyakini orang ramai, saya juga mempercayai bahwa ilmu pengetahuan sebaiknya diamalkan. Akan tetapi jika pengamalan satu ilmu-pengetahuan tak mendatangkan kebaikan dan maslahat, bahkan malah memicu mudarat, lebih baik lagi ilmu pengetahuan itu tidak usah diamalkan.
Seringkali kemanfaatan satu ilmu pengetahuan itu berkaitan dengan sikotek [situasi, kondisi, dan konteks]. Seorang yang menguasi ilmu ‘mblandrek’ alias pakar buka kunci, misalnya, jika untuk membantu orang yang kehilangan anak kunci tentu baik dan bermanfaat. Namun jika diterapkan pada rumah dan brankas orang lain secara diam-diam, ilmu dan keahlian itu pastilah membawa mudarat, maka sepatutnya ia tidak diamalkan atau dibagikan kepada sembarang orang.
Filososfi basis dari menuntut dan mengamalkan ilmu pengetahuan adalah agar dengan kepemilikan ilmu pengetahuan itu si empunya bisa memperoleh kemudahan dalam menjalani hidup dan kehidupan, bisa memberi manfaat kepada sesama, dan termuliakan oleh karenanya. Dengan marwah pengetahuan yang benar, seorang bisa bertindak betul-benar-dan beres serta berperilaku waras dan genah.
Ada perbedaan antara menguasai pengetahuan daripada dikuasai oleh pengetahuan. Bocil yang pegang smartphone besar kemungkinan dikuasai alat dan pengetahuan/teknologi daripada smartphone itu berada di tangan seorang Master IT. Oleh sebab itu, jika suatu ilmu pengetahuan tidak membawa faedah malah mudarat, sebaiknya pengetahuan itu dibuang saja. Jika suatu ilmu pengetahuan mulai terasa dan terindikasi membatasi, ilmu pengetahuan itu perlu direview, direvisi, direadaptasi, direkomposisi, dan diperbaharui. Dan sekiranya ia tak memberi Anda kebebasan dus malah menjajah dan mengacaukan hidup Anda, buang saja!
Bagaimana kalau itu: Suami atau istri atau kekasih…?!
Nah, kalo yang ini, beta malah mau dengar pendapat Anda … *