C.V Cipta Prima Nusantara

C.V Cipta Prima Nusantara Anggota IKAPI: Editor naskah; penulisan biografi; layout; dokumentaor events [foto/video]; edit foto

Kami membantu semua orang, instansi maupun lembaga dalam bidang pencetakan dan penerbitan buku, majalah, dll. Menyelenggarakan kerjasama pelatihan kepenulisan dan jurnalistik serta desain grafis dengan berbagai pihak, seperti sekolah, kampus, dan atau komunitas. Pendampingan bagi penulis pemula, pendampingan pra-cetak, penyuntingan dan editing naskah, layout, kover, dan ilustrasi.

UP to YOUSetidaknya, maafkanlah dulu dirimu sendiri.SEBAB, orang lain belum tentu![Vladimir Korskowski]
14/10/2022

UP to YOU

Setidaknya, maafkanlah dulu dirimu sendiri.
SEBAB, orang lain belum tentu!

[Vladimir Korskowski]

CINTA ACAKADUT: om Sukamoto, Penutur Alkisah.-Ketika seorang mengatakan ‘cinta’, sebetulnya “cinta” apakah yang dia maks...
23/05/2022

CINTA ACAKADUT
: om Sukamoto, Penutur Alkisah.-

Ketika seorang mengatakan ‘cinta’, sebetulnya “cinta” apakah yang dia maksud?
[Marsundun]

Entah sudah berapa milyar orang yang mengucapkan, mengatakan, menyatakan, mengutarakan, atau menuliskan kata ‘CINTA’. Singkatnya, kata ‘cinta’ berhamburan dan bertebaran dimana-mana di seluruh dunia pun di sekitar kita. Orang-orang mengatakannya sudah seumpama melepeh [: cuih] belaka.

Kecuali orang yang sudah terlanjur mati, semua orang bisa mengatakan bahkan meneriakkannya. Akan tetapi arti dan makna dari kata ‘cinta yang diucapkan, dikatakan, dinyatakan, atau diutarakan itu, beragam dan ses**a dia yang mengujarkannya atau yang memaknainya. Sebab CINTA-- apatah sebagai kata atau pemahaman, adalah subversif dan interpretatif. Belum ada muktamar yang mencapai kesepakatan bulat perihal arti dus makna definitif atas CINTA dan kata ‘cinta’.

Selain kata ‘demokrasi’ dan ‘rakyat’, kata yang paling banyak diselewengkan di dunia ini adalah kata ‘cinta’ [love]. Sebagaimana penguasa yang mengatakan atau menyatakan: «Bla... bla ... Demi demokrasi atau bla... bla... bla Demi rakyat,» entah ‘demi demokrasi dan demi rakyat’ yang apa, yang mana, dan yang bagaimana sebenarnya yang dia maksud!? Itu cuma perkataan dan pernyataan nisbi dan berkelindan menurut konteks, ko-oteks, kepentingan, dus beserta hidden agenda-nya. Begitupun dengan CINTA dan kata ‘cinta’.

André Malreaux, seorang pemikir Perancis pernah berseloroh: «Di balik kata ‘cinta’ ada makhluk hitam, bodoh, dus berbulu.» Diksi ‘berbulu’ si Malreaux ini bila disepadankan dengan versi bahasa Jawi sama berarti ‘ber-jembut’.

Dan cermatilah bahwa pada sebagian besar lirik lagu yang dihasilkan manusia sepanjang tiga [3] abad terakhir yang memuat kata ‘cinta’, melulu bertendensi dan berkonotasi ke arti dan makna terselubung atau ‘bersayap’ [ambigu] ke arah keinginan tersirat dus subversif untuk me-ngentot pihak yang dicintai, atau berkait-kelindan [ber-valensi] dengan hasrat birahi, kelamin-perkelaminan, atau perselontopan.

Ada berjibun lagu yang liriknya ‘mengatakan’ hal itu, baik secara vulgar [profan] dan banyak yang secara tersirat samar-samar. Lirik: «Cintaku [di] kocok-kocok sama dia ...// » misalnya, atau lirik lagu «Mari Bercinta» [: Aura Kasih] adalah contoh lirik dan lagu yang secara efisien membimbing imagi dan pikiran ke arah perihal hasrat/aktivitas seksual, dan cocok sekali untuk sound-track adegan film dokumenter bergenre ‘cowgirl reverse’.

Nah, untuk membuktikan kalau statemen itu ada betulnya, sila coba ganti via imajinasi Anda semua kata ‘cinta’ dari lirik lagu apa saja dengan kata ‘kelamin’ atau hal seksual. Alas! Anda bakal mangut-manggut dus senyam-senyum sendiri ... So, betul-lah lantun Elvy Sukaesih:
« ... Bila cinta... sudah direkayasa //
Banyak bocah disulapnya dewasa... //
Cinta sungguhan; cinta bohongan, ... //
Sukar dibedakan ...!”

Meski demikian, ada juga lirik dari lagu-lagu yang memuat kata ‘cinta’, tetapi arti dan maknanya tidak ke arah “Let’s do it [f**k] atau Let’s makes love not war.” Nah, jenis lagu-lagu itu bisa masuk dalam kategori ‘cinta’ yang berarti dan bermakna absurd atau utopis dus miscellineous atau misterius. Bahkan dalam sejarah Bahasa dan sejarah sosial Indonesia modern kata ‘cinta’ pernah menjadi ‘begitu-begini’:

“Engkau masih anak sekolah ... //
satu es-em-a... [: SMA] //
belum tepat waktu tuk begitu-begini ... //
Anak sekolah, datang kembali ... //
dua atau tiga tahun lagi ... // yay... yay... ya .. ”

Maka berdasarkan preferensi lagu tersebut jo menurut Undang-Undang Perlindungan Perempuan dan Anak, batas umur untuk ‘boleh’ “begitu-begini” adalah 19 tahun. Dan taklimat UU itu ternyata tidak untuk ‘melindungi’ CINTA sebagai sebagai satu essensi yang dikeramatkan mulia itu, namun--malah secara tersamar tapi terasa, dimaksudkan guna mencegah kelamin anak dari penetrasi ‘cinta palsu’ alias nafsu berkedok cinta.

Alas, sekarang banyak anak dan remaja yang di bawah 19 itu yang ber-cinta-cinta-an, dan itu bisa dipandang lebih berisiko, sebab mereka masih kurang berpengalaman dan karena cinta itu ternyata mengandung risiko dan juga bahaya [dampak], lalu apakah mereka bakal dijerat pasal? Agaknya – fenomena ini problematis! Oleh sebab itu, cinta mereka digolongkan ‘cinta monyet’, sebab Undang-Undang dibuat tidak untuk menjerat hewan atau binatang.

Dalam kajian bahasa era post-truth, CINTA dan kata ‘cinta’ bahkan bisa diekspresikan melalui morfem zero [bebas]: « wik... iwik ... » Begitulah arti dan makna kata ‘cinta’ itu bisa sebegitu inovatif dus akrobatik, seperti lantun Broery Pesolima perihal «semangka berdaun sirih» atau ‘sirih berbuah mengkudu’, atau serupa ‘batang tebu habis manis sepah dibuang’. Ia bisa begitu diasporik dus konspiratif dan kamuflatif. *

16/02/2022

Legenda Jurus Tongkat Pemukul Anjing
: om Sukamoto, Penutur tengil nan imajiner.-)

Beberapa tahun lalu beta mengeluhkan sakit punggung yang beta derita kepada seorang sahabat dan Guru kehidupan. Gejalanya aneh. Sakit ini dari tengah tulang belakang menjalarkan rasa kebas serta nyeri ke arah kulit perut sebelah kanan tepat di area setelapak tangan di bawah rusuk jejer terakhir. Setiap bangun tidur tulang belakang terasa kaku dan seakan mau patah saja dan di kulit perut sebelah kanan sengkriwing rasannya. Mau tahu komentar Beliau:
“Wah, itu perlu perubahan gaya secara menyeluruh. Antara lain: gaya kerja, gaya duduk, gaya tidur, gaya makan, dan gaya hidup... !“ kata Beliau.
Mak Jleb...! Beta yang sudah agak sesak sebab sakit aneh ini, tambah bengep. Sakit hati? Oo... tidak! Beta tak bisa sakit hati kepada sahabat dan Ur-Sensei yang satu ini atau atas apa yang Beliau katakan. Apalagi hampir 98% yang Beliau kata hampir selalu betul, dan hanya 2% yang berkemungkinan tidak benar: 1% tidak benar menurut beta dan 1% lagi sebab masih ada alternatif kebenaran lain. Dan beta tahu serta paham betul “Jurus” Beliau. Jurus tingkat tinggi yang tak lagi memanfaatkan teknik pukulan langsung, tetapi energinya bisa menghantam sampai ke tulang-belulang dan menyesak ke ulu hati. Dan hantaman jurus itulah yang sedang beta terima sampai sempoyongan—tersentak sambil terhenyak dan tentu saja agak sesak. Sebab dengan bertambah umur, daya tahan dan kebebalan kita terhadap pukulan dan serangan mendadak, agaknya semakin menurun—pun pada diri beta.
Jadi, beta ini memanglah tergolong murid yang bebal, tengil, dan kadang sungguh membutuhkan pembelajaran lewat “jurus-jurus” ampuh berdaya hentak mengagumkan. Sebab, jika cuma jurus sindir-menyindir level rendahan pada beta mana mempan.
Tetapi begitulah, selain bebal dan tengil, beta ini tergolong murid yang juga begitu merepotkan lagi membutuhkan kesabaran dan berlimpah belas kasihan. Beta memahami harapan besar para Guru kepada diri beta, namun beta perlu memperbaiki dan memodifikas teknik kuda-kuda dasar yang pas dengan bobot dan postur beta. Istilah bekennya di-tune–up and costuming. Juga menyembuhkan sendi-sendi yang cidera serta luka-luka dari kesalahan-kesalahan teknik dan sisa pertarungan keliru di masa lalu. Dalam situasi seperti itu, betapa beta membutuhkan pengertian dan dukungan. Begitulah, entah mengapa, ketika seorang mulai ber[t]obat atau dalam proses berbenah, macam-macam saja cobaan yang justru berdatangan, bukan serba kemudahan. Pantas saja para muallaf mendapat privileges istimewa dalam sebuah agama.
Para Guru Besar bisa ringan tangan-ringan kaki dan juga ringan lidah melepaskan ajian sakti ke arah beta, kemungkinan sebab mereka tahu beta ini tergolong pendekar pilih tanding--yang bakal sanggup menahan dan menanggulangi rupa-rupa serangan, dengan kekebalan dan kebebalan serupa Sengkuni dan Duryudona yang kadung terguyur tumpahan minyak aji pasugola. Juga berselimut sisik gaib Naga Gini yang cuma bisa lungkrah bila dijilat. Apalagi dari mahaguru Shidar, beta pernah menerima ajian ahimsa. Suatu ajian yang tidak melawan serangan dengan serangan, tapi menerima dengan kepasrahan—menghindar seperlunya atau bahkan menyerap dan menjinakkannya. Jadi, sistem imunitas ini membuat beta tak mudah terluka—kecuali lecet yang lalu sembuh dengan cepat, apalagi sampai mendendam.
Meski tampaknya beta diserang sedemikian rupa, beta tetap takzim, hormat, dan berterima kasih kepada para sahabat dan para Sensei. Tanpa jasa dan kebaikan mereka, apalah beta ini! Dan dalam diam-diam beta menyimak, memilah, serta mendengarkan nada tulus dibalik gempita pengajaran jurus-jurus yang cuma serupa serangan itu. Beta masih terus menyimpan dendam belajar dan kelemotan respons--juga auto-refleks defensif yang menyebalkan yang beta tampilkan, mohonlah sangat dimaafkan.
Ada saat di mana beta sok tegar di hadapan para guru dan sahabat. Jadi, beta tahu rasanya tersenyum di luar, tapi rentas di dalam. Dan ada kalanya beta sok tegar menerima jurus-jurus pengajaran, justru pada saat pertahanan diri dan stamina beta sedemikian rapuhnya—dan ketika cuma segebrak jurus tongkat pemukul anjing yang telak menghantam, beta mengalami luka dalam. Luka dalam yang ditahan-tahankan dan disikapi selayaknya biasa saja: tersenyum di luar – remuk di dalam!
Suatu keuntungan bahwa untuk situasi super genting, beta selalu menyisakan 5% tenaga dalam cadangan. Rei Djin-chu-Reiki yang bisa diaktifkan pada saat daya hidup sedemikian kritis, sehingga harapan yang kolaps bisa didenyutkan kembali dan dengkul yang goyah bisa ditegakkan lagi. 5% itu belum pernah digunakan. Beta tak pernah mengharapkan penggunaan jurus pamungkas itu. Sebab, jika hal itu sampai terjadi... beta sendiri belum tahu apa gerangan yang bakal terjadi!
Begitulah beta berharap, duhai kalian:
Para sahabat dan para Sensei sekalian—Jangan cepat menyerah kepada murid tengil ini!
Sebab, beta sendiri belum menyerah pada harapan baik ....
***
Sungguh suatu keuntungan bagi beta memiliki para sahabat dan para Guru yang ringan kaki-ringan tangan, dan ringan lidah, yang tak jua menyerah, yang tak rela beta terpuruk dan terjerembab jadi pecundang. Mereka yang begitu sigap “mengulurkan lengan kasih” dan bahkan “menggampar” beta dengan keras ketika menilik gelagat beta mulai limbung ke batas naas atau mulai melampaui batas—diminta atau tidak. Bagaimana mungkin beta tak mensyukuri berkah luar biasa ini!
Sering, dan ini terlalu sering dan agak menyebalkan. Beta cuma bisa membalas kebaikan-kebaikan yang beta terima hanya dengan doa selepas sembahyang:
“Rabby ahsin ilayya wa ahsin ila man ahsana ilayya wa ahly, warhamhum birahmatika yâ Arhamar Râhimîn; Tuhanku berbaiklah kepadaku juga kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadaku dan keluargaku, rahmati dan lemah-lembutlah kepada mereka itu, wahai yang Maha Kasih lagi Penyayang...”
***

Kilasan SejarahEnglish Debate Society Universitas Negeri Semarang: M. Rohani *TUJUH mahasiswa Universitas Negeri Semaran...
04/12/2021

Kilasan Sejarah
English Debate Society Universitas Negeri Semarang
: M. Rohani

*TUJUH mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) membela almamaternya dalam kompetisi debat bahasa Inggris bergengsi, Java Overland Intervarsity Debate Championship (JOVED) yang diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, dari tanggal 30 Agustus sampai 3 September 2000.

Lima mahasiswa berasal dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris: *Rohani, Puji Astuti, Sri Winarni, Sri Kingkin, dan Puji Lestari.* Sedangkan dua lainnya berasal dari Jurusan Bahasa dan Sastra Asing Program Studi Bahasa Perancis, yakni *Andika Endah Prameswari dan Yassir Arafat Hatta.*

Perlombaan debat bahasa Inggris dengan sistem Australian Parliamentary Debate tersebut merupakan kompetisi yang baru pertama kali diikuti oleh tim dari UNNES. Tdak ada satu orangpun dari anggota delegasi yang pernah mendapatkan pelatihan debat sebelumnya.

Pada waktu itu, debat bahasa Inggris juga belum dikenal luas sebagai ajang tanding keterampilan berkomunikasi secara intelektual.
Tiga pekan sebelum keberangkatan tim UNNES, anggota tim belajar secara autodidak tanpa pelatih khusus untuk mempersiapkan diri berlaga di medan lomba.

Perhelatan akbar JOVED diikuti lebih dari lima puluh tim debat dari Jawa, DIY, dan Bali. Karena banyak pendatang baru, tim senior dari Universitas Indonesia (UI) didaulat mengawali gelaran pertandingan dengan sebuah eksebisi yang dilanjutkan dengan penjelasan aturan main debat.

Tim dari UNNES merasa sangat tertantang setelah melihat eksebisi. Sempat terbersit nyali ciut di hati kami, akankah kami bisa bersaing dengan tim-tim lain.

Babak demi babak kami lalui dan kami beberapa kali harus melawan tim tangguh dari universitas besar yang telah lama memiliki Unit Kegiatan Debat Bahasa Inggris. Kami kalah dengan mereka tetapi tidak putus asa karena beberapa kali kami juga menang. Salah satu kemenangan terbesar kami adalah ketika mengalahkan tim dari Akademi Angkatan Laut (AAL). Para calon jenderal TNI AL itu kami babat habis pada babak penyisihan. Kemenangan itu membuat nyali kami untuk bertempur menjadi besar dan kami lupa bahwa kami adalah pendatang baru.

JOVED Onsoed tahun 2000 belum menjadikan kami jawara debat yang pulang berkalung medali emas, tetapi tidak terlalu buruk. Kami pulang dengan predikat *The Best New Comer (Pendatang Baru Terbaik).*

Ajang JOVED menanamkan keyakinan kepada kami bahwa debat bahasa Inggris memiliki potensi sebagai ajang pengkaderan intelektual yang kritis. Kami bertujuh dibantu para fungsionaris Himpunan Mahasiswa Jurusan menggelar beberapa kali eksebisi debat yang disaksikan oleh para mahasiswa baru. Bak veteran perang yang pulang dari medan peperangan, dengan heroik tim tujuh berusaha keras membuat calon kader terkesan. Tujuannya adalah untuk merekrut anggota-anggota baru.

Dalam salah satu eksebisi yang dilakukan di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Pembantu Rektor III, Bidang Kemahasiswaan waktu itu, Bejo Purwanto yang juga hadir menyaksikan mendorong kami untuk menjadikan debat bahasa Inggris sebagai kegiatan mahasiswa yang "nggegirisi" (mengerikan, dalam nuansa makna positif).

Selanjutnya tim tujuh dengan arahan Pembantu Dekan III FBS, Triyanto mengusulkan agar debat bahasa Inggris dijadikan sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat Universitas. Usulan disetujui dan berdirilah secara resmi UKM Debat Bahasa Inggris dengan nama resmi English Debate Society (EDS). Tanggal pasti berdirinya masih dalam penyelidikan.

Tujuh belas tahun setelah EDS berdiri, para kader EDS telah tumbuh menjadi kader-kader handal yang berkontribusi dalam bidang pilihan masing masing. Sebagian menjadi akademisi di perguruan tinggi. Sebagian yang lain menjadi guru, wiraswasta, dan profesional di bidang yang lain. Satu karakter khas yang melekat pada kader EDS adalah kritis, pemberani, dan komunikatif.
(Hamz) — bersama I Yassir Arafat - Andhien Nadzoery

'Cinta" Disruptif ...Perihal cewek; yang cantik dan seksi cenderung murah, sementara yang tanggung malah jual mahal. Kaw...
04/10/2021

'Cinta" Disruptif ...

Perihal cewek; yang cantik dan seksi cenderung murah, sementara yang tanggung malah jual mahal. Kawan saya Imam Besar Masalaike mengatakan: “Itu tergantung tawar-menawar.”

Perihal cowok, yang tampan cenderung gampangan, sementara yang tanggung atau jelek sering menyusahkan. Kawan saya Vladimir mengatakan: “Itu tergantung iman-takwa [: ideologi] masing-masing.”

Cewek mempunyai beragam fungsi di mata para cowok, terutama sebagai mitra bersenang-senang. Fungsi cowok di mata para cewek sama juga. Sebab, di era hedonism-complex tak ada asyiknya perhubungan cewek-cowok apabila tak [saling] menyenangkan.

Mungkin... inilah bacaan yang Anda cari selama ini ...
24/09/2021

Mungkin... inilah bacaan yang Anda cari selama ini ...

Pengetahuan yang Bikin Hidup Malah Acakadut
: om Sukamoto, penutur.-

Ternyata ada jenis pengetahuan yang bukannya mempermudah dan mencerahkan hidup pemilik, malah ia menyusahkannya. Dan ternyata, bukan saja menyusahkannya saja, tetapi juga menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Kok bisa?

Baiklah! Saya akan alkisahkan kepada Anda:

Saya mempunyai seorang kawan. Ia panutan bagi saya perihal seorang yang demikian update perkara penguasaan IT. Bagi saya yang masuk kategori ‘komodosaurus’ dalam bidang penguasaan teknologi digital-virtual, ia seorang Master IT mumpuni yang menjadi model panutan.

Bagaimana tidak, saya harus bekerja pontang-panting mengerahkan segenap kepiawaian analog yang saya miliki untuk bisa survival, sementara beliau ini hongkang-hongkang saldonya rekeningnya terus berkembang. Bukan oleh receh rupiah seperti saldo tabungan saya, namun saldo miliknya terus dialiri dollar dari dunia antah-berantah maya. Jenis bisnis dia adalah bisnis yang s**ar sekali masuk diakal saya yang masih setengah analog-setengah digital semrawut. Kekayaan uang digitalnya lebih besar daripada apa yang ada direkening dan dompetnya. Orang ini piawai dalam mengelola dan menyiasati sistem teknologi informasi berbasis jaringan internet. Jadi, ketika kita baru berwacana perihal IoS [internet of things], ia dan penghidupannya sudah berada di sana.

Akan tetapi, bukan kecanggihan itu yang membuat saya kagum kepadanya. Saya kagum bahwa dengan segenap kemutakhirannya itu sudah empat kali [4x] dan mungkin lebih, ia gagal dalam percintaan. Kala kawan-kawannya sudah memiliki pasangan, berumah tangga dan bahkan sudah beranak-pinak, ia masih jomblo belaka. Oleh sebab itu, saya perhatikan ia s**a touring dan jalan-jalan—mungkin untuk menghalau dia punya galau.

Kawan ini termasuk tinggi badannya dan tidaklah tergolong jelek seperti saya, bahkan ia bisa masuk jajaran orang tampan pada daftar yang agak bawah. Dan itu sudah bagus, sebab selain tampangnya yang tak acakadut, wajah dia empatik, kelakuannya tak bejat, dan yang istimewa dia berwatak baik hati, tidak sombong, s**a menolong. Hampir tak ada kawan-kawan dalam lingkup pergaulan kami yang tak mengakuinya sebagai kawan yang baik dus menyenangkan. Namun kenapakah orang sebagus ini mutunya, malah s**ar sekali jodoh dia? Apakah doi terlalu pemilih? Ataukah kriteria yang di maui terlalu high-end? Ternyata TIDAK juga.

Oleh catatan banyaknya kisah percintaannya yang ‘bergelimpangan’ di tengah proses ini, saya sempat curiga jangan-jangan daripada Tina, ia lebih memilih Tono atau Marwoto daripada Marwati?! Alhasil, kecurigaan saya terbukti: …SALAH! Ternyata ia tetaplah lelaki sewajarnya. Namun ada apakah gerangan?

Melalui suatu investigasi yang tidak bisa dikatakan mudah, sebab kawan ini tergolong orang yang s**ar berbagi informasi private, dapatlah saya menggali informasi lebih mendalam darinya. Ia bercerita bahwa dalam keluarganya, ada tokoh kunci yang sangat menentukan perihal perjodohan, yakni nenek alias si Mbah. Tak ada pernikahan yang bisa dilangsungkan dalam tradisi keluarganya itu apabila tanpa ‘restu’ si Mbah yang sangat dihormati dan disegani oleh segenap anggota keluarga besarnya. Orang-orang di kampung kawan saya itu bahkan menggelari si Mbah ini sebagai ‘Sesepuh Linuwih’ alias sosok sakti. Kesaktian Beliau ini—konon, sudah teruji oleh waktu. Sejumlah perkataan dan penerawangan beliau seringkali benar-benar terbukti.

Wah, ini betul-betul kontradiksi! Si cucu ahli IT sementara sang Mbah ahli mistik. Dua bidang yang seringkali dipandang bertolak belakang. Dan sekalipun Master IT, ternyata kawan saya itu tetap saja takut kualat. Ia cenderung memilih taat pada tradisi keluarganya. Beberapa calon jodoh yang diajukannya, kandas oleh hasil terawangan dan teknik kalkulasi multidimensi primbonik ala si Mbah. Hebatnya lagi, orang ini awet. Almusabab itulah, hingga menjelang umur 30-an, sang cucu kawan saya itu tak juga ketemu-cucok jodohnya.

Jadi, inilah alkisah yang menunjukkan bahwa ternyata ada pengetahuan yang tidak mempermudah hidup dus malah meribetkannya. Bukan saja menyulitkan diri sendiri, bahkan mempersulit orang lain.

* * *
Orang-orang berpengetahuan khusus [indigenious] semacam si Mbah kawan saya itu, sudah banyak saya temui dan ketemukan. Saya sendiri tetap menaruh respek terhadap pengetahuan spesifik bahkan langka semacam astrologi Kejawan dan t**i mangsa itu. Pengetahuan semacam ini bersifat empiris dan merupakan suatu upaya serius sinkretisme yang sudah melewati observasi dan revisi demi revisi selama ratusan dan bahkan ribuan tahun. Khazanah pengetahuan dan kearifan manusia Nusantara. Sekalipun bukan seorang ahli atau pakar, saya pernah cukup intens mempelajari bidang ini, dan pada sejumlah situasi dan konteks pengetahuan itu ada gunanya juga bagi saya.

Alkisah bonus---Saya pernah ‘mendamprat’ seorang sanak kadang keluarga saya yang memiliki ideologi mirip si Mbah kawan saya itu. Sedulur kadang saya itu memiliki seorang istri yang sedang menderita sakit dan semustinya segera mendapatkan tindakan medis. Akan tetapi, ia mencla-mencle alias lambat sekali mengambil keputusan dan bertindak asertif. Dari laporan sedulurnya, saya mendengar kalau dia menunda pengobatan istrinya karena menurut dia jadwal operasi yang dibuat dokter bukanlah tanggal dan ‘hari-hari baik’. Maka muntap-lah saya. Dan kalau saya sudah muntap, saya bakal menyampaikan damprat ultimatum sambil senyum seraya kalem belaka, serupa raja hutan prangas-prenges ke arah mangsanya.

“Wah, mau diangkut ke UGD masih dicari dulu ‘hari baiknya’ bakal wassalam, bang,” ujar adik saya.

* * *
Begitulah. Bahkan menuntut ilmu dan mengamalkannya mempunyai jebakan.

Serupa yang diyakini orang ramai, saya juga mempercayai bahwa ilmu pengetahuan sebaiknya diamalkan. Akan tetapi jika pengamalan satu ilmu-pengetahuan tak mendatangkan kebaikan dan maslahat, bahkan malah memicu mudarat, lebih baik lagi ilmu pengetahuan itu tidak usah diamalkan.

Seringkali kemanfaatan satu ilmu pengetahuan itu berkaitan dengan sikotek [situasi, kondisi, dan konteks]. Seorang yang menguasi ilmu ‘mblandrek’ alias pakar buka kunci, misalnya, jika untuk membantu orang yang kehilangan anak kunci tentu baik dan bermanfaat. Namun jika diterapkan pada rumah dan brankas orang lain secara diam-diam, ilmu dan keahlian itu pastilah membawa mudarat, maka sepatutnya ia tidak diamalkan atau dibagikan kepada sembarang orang.

Filososfi basis dari menuntut dan mengamalkan ilmu pengetahuan adalah agar dengan kepemilikan ilmu pengetahuan itu si empunya bisa memperoleh kemudahan dalam menjalani hidup dan kehidupan, bisa memberi manfaat kepada sesama, dan termuliakan oleh karenanya. Dengan marwah pengetahuan yang benar, seorang bisa bertindak betul-benar-dan beres serta berperilaku waras dan genah.

Ada perbedaan antara menguasai pengetahuan daripada dikuasai oleh pengetahuan. Bocil yang pegang smartphone besar kemungkinan dikuasai alat dan pengetahuan/teknologi daripada smartphone itu berada di tangan seorang Master IT. Oleh sebab itu, jika suatu ilmu pengetahuan tidak membawa faedah malah mudarat, sebaiknya pengetahuan itu dibuang saja. Jika suatu ilmu pengetahuan mulai terasa dan terindikasi membatasi, ilmu pengetahuan itu perlu direview, direvisi, direadaptasi, direkomposisi, dan diperbaharui. Dan sekiranya ia tak memberi Anda kebebasan dus malah menjajah dan mengacaukan hidup Anda, buang saja!

Bagaimana kalau itu: Suami atau istri atau kekasih…?!
Nah, kalo yang ini, beta malah mau dengar pendapat Anda … *

Address

Semarang
511921

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when C.V Cipta Prima Nusantara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to C.V Cipta Prima Nusantara:

Share

Category