02/11/2020
BMKG menyebutkan fenomena La Nina yang diprediksi akan menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan bulanan di Indonesia. Sehingga bisa menyebabkan bencana, seperti gelombang tinggi dan banjir.
Potensi kerawanan bencana ini mendorong pemerintah Jateng menyiapkan SOP penanganan bencana dengan memperhatikan prosedur keselamatan terhadap covid-19. Hal ini menjadi isu penting agar tidak menimbulkan bencana di atas bencana. Pengungsian warga terdampak bencana bisa menjadi cluster baru covid-19, sehingga ini menjadi salah satu alasan pentingnya mitigasi dan kesiapan menghadapi fenomena La Nina.
Apalagi saat ini, dimana sejumlah wilayah di Jateng Selatan terindikasi masuk kategori rawan gelombang tinggi, seperti di Cilacap, Banyumas, Purworejo, dan Kebumen.
Tuban Wiyoso, Kepala Stasiun Klimatologi Semarang menjelaskan iklim dan cuaca Jawa Tengah dipengaruhi oleh iklim global, regional dan pengaruh lokal. Pengaruh global itu antara lain fenomena El Nino atau la Nina, karena Indonesia diapit dua benua dan dua Samudra.
“La Nina, sendiri terjadi di samudra Pasifik, jika di Pasifik Timur suhunya dingin itu akan terjadi fenomena la Nina jika panas terjadi El Nino, tahun ini suhu di Pasifik saat ini mendingin lebih dari 1 derajat, dengan kondisi itu membuat massa udara bergerak dari samudra Pasifik bagian Timur ke wilayah Indonesia sehingga menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat” tambah Tuban.
Di samping faktor global dan regional, faktor lokal seperti ada angin darat angin laut itu terintegrasi menjadi cuaca Indonesia khususnya di Jawa Tengah.