Suluk Pahingan

Suluk Pahingan Media Online

SAAT ini kita dihadapkan dengan berbagai ketidakpastian zaman mulai dari tekanan ekonomi, konflik global, hingga dinamik...
07/03/2026

SAAT ini kita dihadapkan dengan berbagai ketidakpastian zaman mulai dari tekanan ekonomi, konflik global, hingga dinamika kebijakan di dalam negeri, harapan tetap perlu dirawat bersama.

Melalui ruang kebudayaan dan seni, pesan optimisme itu digaungkan dalam Simfoni Ramadan: Menumbuhkan Harapan di Tengah Ketidakpastian.

Bertempat di Joglo Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Kota Semarang, menghadirkan perpaduan refleksi sosial, serta pertunjukan seni dan tentunya musik.

Sejumlah tokoh, seniman, dan musisi hadir untuk menyampaikan pesan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga waktu untuk meneguhkan harapan dan solidaritas di tengah tantangan zaman.

Melalui tausiyah, musik, dan dialog kebudayaan, Simfoni Ramadan menjadi ruang perjumpaan antara pesantren, seniman, dan masyarakat luas untuk membaca situasi yang sedang dihadapi bangsa sekaligus menyalakan optimisme untuk masa depan.

Ramadan mengajarkan bahwa di tengah gelapnya ketidakpastian, selalu ada cahaya harapan yang bisa kita jaga bersama. โœจ

  | Suluk Senen Pahingan  #41Perubahan KUHP dan KUHAP menandai babak baru dalam arah hukum pidana Indonesia. Apa maknany...
06/02/2026

| Suluk Senen Pahingan #41

Perubahan KUHP dan KUHAP menandai babak baru dalam arah hukum pidana Indonesia. Apa maknanya bagi keadilan, masyarakat, dan praktik hukum ke depan?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas dalam Ngaji Bareng Mbah Ubaid dengan tema:

โ€œNGAJI KUHP DAN KUHAP BARU
(Membaca Arah Baru Hukum Pidana Indonesia)โ€

Diskusi akan menghadirkan:
1. Dr. Umi Rozah, S.H., M.Hum (Akademisi Universitas Diponegoro)
2. Prof. Dr. Ali Masyhar, S.H., M.H (Akademisi Universitas Negeri Semarang)

Dipandu oleh Beno Siang Pamungkas, serta dimeriahkan penampilan:
1. Mere Nauval
2. Kaukab Band

๐Ÿ—“ Jumat, 6 Februari 2026
๐Ÿ•ข 19.30 WIB โ€“ selesai
๐Ÿ“ Joglo Ponpes Al-Itqon
(Bugen โ€“ Tlogosari โ€“ Semarang)

๐ŸŽŸ TIDAK BERBAYAR | TERBUKA UNTUK UMUM

Mari ngaji, berdiskusi, dan membaca arah baru hukum pidana dengan pikiran jernih dan hati terbuka.

Selamat Hari Santri Nasional 2025Santri itu adalah โ€˜tafaqquh fiddinโ€™ memahami agama. Siapa yang โ€˜tafaqquh fiddinโ€™ melalu...
22/10/2025

Selamat Hari Santri Nasional 2025

Santri itu adalah โ€˜tafaqquh fiddinโ€™ memahami agama. Siapa yang โ€˜tafaqquh fiddinโ€™ melalui sanad yang shohih, maka dia adalah santri. Meskipun dia tidak berada di pondok pesantren, ataupun bukan sebagai alumni pondok pesantren. (KH. Ubaidullah Shodaqoh)

MukadimahSuluk Senen Pahingan  #40๐†๐„๐ ๐™: ๐™ถฬถ๐™ดฬถ๐™ฝฬถ๐™ดฬถ๐šฬถ๐™ฐฬถ๐š‚ฬถ๐™ธฬถ ฬถ๐šฬถ๐™ดฬถ๐™ฑฬถ๐™ฐฬถ๐™ทฬถ๐™ฐฬถ๐™ฝฬถ, ๐€๐†๐„๐ ๐๐„๐‘๐”๐๐€๐‡๐€๐๐™‚๐™š๐™ฃ ๐™• ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™™๐™–๐™ง ๐™ก๐™–๐™๐™ž๐™ง ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง...
17/09/2025

Mukadimah
Suluk Senen Pahingan #40

๐†๐„๐ ๐™: ๐™ถฬถ๐™ดฬถ๐™ฝฬถ๐™ดฬถ๐šฬถ๐™ฐฬถ๐š‚ฬถ๐™ธฬถ ฬถ๐šฬถ๐™ดฬถ๐™ฑฬถ๐™ฐฬถ๐™ทฬถ๐™ฐฬถ๐™ฝฬถ, ๐€๐†๐„๐ ๐๐„๐‘๐”๐๐€๐‡๐€๐

๐™‚๐™š๐™ฃ ๐™• ๐™—๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™™๐™–๐™ง ๐™ก๐™–๐™๐™ž๐™ง ๐™™๐™ž ๐™š๐™ง๐™– ๐™™๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก, ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™–๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™–๐™œ๐™š๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ช๐™—๐™–๐™๐™–๐™ฃ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™จ๐™š๐™™๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™š๐™ง๐™Ÿ๐™–๐™ก๐™–๐™ฃ. ๐˜ฟ๐™–๐™ง๐™ž ๐™ก๐™–๐™ฎ๐™–๐™ง ๐™ ๐™š๐™˜๐™ž๐™ก ๐™™๐™ž ๐™œ๐™š๐™ฃ๐™œ๐™œ๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ, ๐™ข๐™š๐™ง๐™š๐™ ๐™– ๐™—๐™ž๐™จ๐™– ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ช๐™—๐™–๐™๐™–๐™ฃ.

๐†๐„๐๐„๐‘๐€๐’๐ˆ ๐™, mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, kini bukan lagi sekadar kategori usia dalam demografi. Mereka adalah tulang punggung baru yang jumlahnya mencapai 74,93 juta jiwa atau sekitar 27,94% dari total populasi Indonesia.

Angka yang begitu besar membuat Gen Z bukan hanya bonus demografi, melainkan juga kekuatan sosial, budaya, dan politik yang bisa menentukan arah bangsa.

Namun, apakah kekuatan sebesar ini sudah benar-benar disadari oleh para pemiliknya? Apakah Gen Z menyadari bahwa merekalah ujung tombak perubahan yang sedang lahir di abad digital ini?

Di era internet, Gen Z bukan hanya pengguna, tetapi penguasa. Indonesia kini memiliki 212 juta pengguna internet aktif, atau 74,6% dari total penduduk. Dari jumlah itu, penetrasi di kalangan Gen Z jauh lebih tinggi, mencapai 87% (Reuters).

Lebih dari 70% di antaranya memiliki smartphone dan televisi pintar, artinya mayoritas mereka sudah hidup dalam ekosistem digital yang sepenuhnya online, baik di genggaman maupun di ruang keluarga.

Kehidupan mereka tidak terpisah dari layar; interaksi sosial, pendidikan, hiburan, hingga pekerjaan dijalani dalam ekosistem digital yang mereka kuasai. TikTok, Instagram, Facebook, Whatshapp dan Pinterest menjadi arena utama.

TikTok digunakan oleh 44% Gen Z, Instagram oleh 36%, dan Pinterest oleh 32%. Di ruang inilah mereka membentuk identitas, menyerap tren global, sekaligus memproduksi budaya baru yang cepat menyebar lintas batas.

Namun Gen Z bukan hanya generasi digital, mereka juga generasi estetika. Keaslian (authenticity), kesehatan mental, dan keseimbangan hidup menjadi nilai yang mereka agungkan.

Branding in Asia mencatat bahwa Gen Z Indonesia menaruh perhatian besar pada pola tidur, olahraga teratur, dan nutrisi seimbang. Tren wellness ini makin menguat karena 70% konsumen Indonesia, termasuk Gen Z, kini memilih produk berdasarkan aspek kesehatan.

Fenomena budaya digital pun ikut mempertegasnya. Aura farming, misalnya, adalah cara Gen Z membangun daya tarik personal di media sosial, sementara tren โ€œsummer personasโ€ menunjukkan ragam ekspresi gaya hidup: mulai dari Pilates Princess (17%) yang fokus pada rutinitas sehat, hingga Grandmacore (22%) yang merayakan kesederhanaan vintage.

Semua ini membuktikan bahwa bagi Gen Z, estetika bukan sekadar gaya, melainkan narasi hidup yang membangun identitas.

Akan tetapi, di balik kilau digital dan estetika wellness, realitas ekonomi Gen Z jauh dari ideal. Tingkat pengangguran di kalangan muda masih tinggi: hampir 10 juta Gen Z tidak terserap dalam lapangan kerja formal.

Mereka menyumbang 70% dari total pengangguran nasional. Angka ini menegaskan paradoks besar: generasi paling digital, paling kreatif, justru paling rapuh dalam sistem ekonomi konvensional.

Persoalan tidak berhenti di situ. Literasi keuangan Gen Z masih rendah, hanya 40โ€“44%, jauh di bawah standar ideal, sementara literasi nasional pun stagnan di angka 49,68%. Minimnya literasi ini membuat banyak dari mereka terjebak dalam pola konsumsi berlebihan.

Fenomena doom spending belanja impulsif sebagai pelarian emosional menjadi nyata. Sebanyak 49% Gen Z mengaku kesulitan menabung. Pola pengeluaran mereka juga mengarah pada gaya hidup: 23,6% dialokasikan untuk restoran, sementara 11% untuk hiburan dan hobi, lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Gaya hidup ini tentu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi, tetapi menjadi beban ketika pendapatan stagnan sementara biaya hidup terus meningkat.

Fakta lain yang menekan adalah kenaikan biaya hidup. Tercatat 66% Gen Z menganggap inflasi biaya hidup sebagai hambatan utama dalam mengatur keuangan. Banyak di antara mereka merasa penghasilan tidak cukup untuk standar hidup layak, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya.

Tekanan ini menciptakan krisis harapan. Tagar yang sempat populer di media sosial menjadi simbol frustrasi generasi ini terhadap kondisi ekonomi domestik. Tidak sedikit yang menganggap masa depan lebih cerah jika mereka mencari peluang di luar negeri.

Jika tren ini dibiarkan, maka alih-alih menjadi kekuatan nasional, Gen Z bisa berubah menjadi arus eksodus talenta yang merugikan bangsa.

Tetapi justru di titik inilah perubahan harus dimulai. Gen Z tidak boleh sekadar menjadi konsumen sistem lama yang tidak ramah terhadap mereka. Mereka harus menciptakan sistem baru, dengan teknologi sebagai senjata utama.

Revolusi digital adalah ruang di mana mereka bisa beralih dari scrolling menjadi mencipta, dari doom spending menjadi financial independence, dari pengangguran menjadi wirausahawan kreatif.

Dunia maya tidak boleh hanya menjadi panggung hiburan, melainkan juga ladang perjuangan. Setiap status, video, thread, dan karya digital harus diarahkan bukan hanya untuk mencari likes, tetapi untuk menggerakkan solidaritas, membongkar ketidakadilan, dan melahirkan inovasi yang berdampak nyata.

Lihatlah ke Nepal, di mana Gen Z memainkan peran penting dalam mendorong demokrasi baru. Dengan jumlah yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia, mereka bisa menciptakan gelombang perubahan politik yang signifikan.

Jika di negeri Himalaya itu generasi muda mampu menggerakkan perubahan sosial, maka di Indonesia dengan 74 juta Gen Z yang terkoneksi internet, potensinya jauh lebih besar. Cukup satu isu yang dikemas tepat, satu hashtag yang menyentuh kesadaran kolektif, maka perubahan bisa bergaung dari Sabang sampai Merauke.

Perubahan hari ini bukan lagi tentang bambu runcing, melainkan tentang jempol yang menekan tombol, ide yang viral, startup yang lahir, dan jejaring yang dibangun. Tantangan memang ada, mulai dari pekerjaan tidak pasti, gaya hidup serba instan, hingga literasi finansial yang rendah.

Tetapi perubahan lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kesadaran dan keberanian melawan keterbatasan. Gen Z harus menolak tunduk pada narasi lama yang meminggirkan mereka. Mereka harus mendirikan ekosistem baru: ekonomi kreatif, bisnis berbasis teknologi, solidaritas digital, dan gerakan kultural yang menantang status quo.

Generasi ini harus sadar bahwa mereka bukan sekadar pengguna digital, melainkan pemilik masa depan digital. Jika hari ini mereka memilih diam, masa depan akan ditentukan oleh orang lain. Tetapi jika mereka memilih bergerak, Indonesia akan lahir kembali sebagai kekuatan besar yang dipimpin oleh generasi muda.

Revolusi digital bukanlah mimpi jauh, melainkan jalan yang sudah ada di depan mata. Hanya dibutuhkan keberanian untuk melangkah.

Dan kelak, ketika sejarah menoleh ke belakang, ia akan menulis bahwa Gen Z Indonesia adalah generasi yang tidak hanya bercermin pada layar, tetapi menjadikan layar itu sebagai senjata untuk menyalakan api perubahan.

Bahwa generasi ini adalah ujung tombak perubahan, bukan karena jumlahnya besar, tetapi karena keberaniannya untuk mengambil alih masa depan. Perubahan itu ada di tangan kita, ada di genggaman kalian. Bangkitlah, Gen Z Indonesia, sebagai agen perubahan. []

POLICY BRIEF: LENTERA CERITA DESA TENGGELAM TIMBULSLOKODesa Timbulsloko di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, bukan lagi...
07/09/2025

POLICY BRIEF: LENTERA CERITA DESA TENGGELAM TIMBULSLOKO

Desa Timbulsloko di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, bukan lagi sekadar titik kecil di peta Jawa Tengah. Ia kini menjelma menjadi potret luka ekologis yang terus menganga.

Hari-hari di desa ini tak lagi dipenuhi suara anak-anak berlarian di halaman, melainkan dentuman ombak yang merangsek masuk hingga ke ruang-ruang rumah.

Jalanan yang dulu kokoh kini terendam air asin, menyisakan papan-papan kayu seadanya sebagai pijakan rapuh. Banjir rob bukan lagi tamu musiman, tetapi telah menjadi penghuni tetap yang menguasai ruang hidup warga.

Di balik genangan itu, ada ribuan jiwa yang dipaksa bertahan dengan segala keterbatasan. Seorang ibu menatap kosong ke arah halaman rumahnya yang telah berubah menjadi kolam.

Seorang kakek masih setia menjaga mushola kecil yang kerap dikepung air, seakan tak rela keyakinan mereka ikut hanyut. Dan anak-anak, yang semestinya bermain riang, justru tumbuh dalam dunia di mana air asin lebih akrab daripada tanah lapang.

Namun, isu strategis Timbulsloko jauh melampaui sekadar urusan teknis penanggulangan bencana. Yang tengah dipertaruhkan adalah keberlangsungan sebuah peradaban kecil: tradisi, budaya, dan ikatan sosial yang berakar kuat di tanah leluhur.

Bila desa ini tenggelam sepenuhnya, bukan hanya rumah yang hilang, tetapi juga ingatan kolektif, doa-doa di surau kecil, dan cerita-cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.

Timbulsloko adalah cermin dari wajah pesisir Indonesia yang rapuh. Bila kita membiarkannya hilang tanpa upaya nyata, maka yang tenggelam bukan hanya desa, melainkan juga rasa kemanusiaan kita sendiri.

Selengkapnya dan link Policy Brief di kolom komentar:

BERAS LANGKA DAN MAHAL DI TENGAH SURPLUS: KRISIS KEPERCAYAAN DAN KEGAGALAN TATA KELOLAPEMERINTAHAN Presiden Prabowo Subi...
06/09/2025

BERAS LANGKA DAN MAHAL DI TENGAH SURPLUS: KRISIS KEPERCAYAAN DAN KEGAGALAN TATA KELOLA

PEMERINTAHAN Presiden Prabowo Subianto tengah dihadapkan pada paradoks paling telanjang dalam kebijakan pangan: data resmi menunjukkan surplus beras, tetapi di pasar rakyat menjerit karena harga melambung dan pasokan kian terasa langka.

Inilah wajah nyata kegagalan tata kelola pangan: angka statistik yang gemerlap, namun perut rakyat tetap lapar.

Pernyataan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, yang meminta BPS melakukan cross check data produksi beras adalah bukti gamblang bahwa kepercayaan antar-lembaga pemerintah runtuh di hadapan publik.

Bagaimana mungkin seorang pejabat setingkat menteri secara terbuka meragukan data resmi negara?

Bukankah data itu yang sebelumnya dipakai Presiden untuk mengumumkan bahwa stok beras melimpah? Jika ternyata angka itu cacat, maka kredibilitas Presiden pun ikut dipertaruhkan.

Artinya, jika data BPS terbukti lebih rendah dari yang selama ini diklaim, maka pernyataan Presiden tentang surplus beras menjadi kehilangan legitimasi. Ini bukan sekadar soal beras, melainkan soal kredibilitas pemerintah.

Statistik yang dipublikasikan bukan hanya angka, tetapi dasar kepercayaan publik. Ketika angka itu dipertanyakan pejabat sendiri, maka keraguan publik pun tak terhindarkan.

Berdasarkan data resmi BPS, total produksi beras nasional dari Januari hingga Oktober 2025 tercatat sebesar 31,04 juta ton. Angka ini lebih tinggi 12,18 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi hanya sekitar 25,83 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus beras mencapai 5,20 juta ton.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Harga beras tetap tinggi, bahkan menembus rekor baru di sejumlah pasar tradisional.

Lebih ironis lagi, kegaduhan data ini terjadi di tengah kebijakan Bulog yang justru memicu masalah baru. Policy Brief INDEF (Agustus 2025) mencatat, surplus beras yang diklaim pemerintah memang tercermin dalam stok cadangan Bulog hampir 4 juta ton.

Namun, harga beras medium justru tembus Rp14.172/kg, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi. Bulog boleh saja menyerap gabah petani dalam jumlah besar, tetapi apa gunanya jika beras tetap tidak sampai ke meja makan rakyat dengan harga terjangkau?

Kebijakan penghapusan rafaksi harga adalah contoh nyata salah urus. Dengan alasan melindungi petani, Bulog menyerap gabah tanpa membedakan mutu.

Hasilnya, insentif kualitas hilang, stok beras menumpuk dalam kondisi beragam bahkan rawan rusak, sementara beban logistik dan penyimpanan membengkak.

Pemerintah seolah sibuk menimbun angka โ€œsurplusโ€ untuk dipajang di laporan, tetapi gagal menjawab pertanyaan paling sederhana rakyat: mengapa harga beras tidak turun?

Krisis beras ini mengungkap tiga kegagalan serius dalam pemerintahan Prabowo.

Pertama, krisis data: BPS yang seharusnya menjadi pilar objektivitas justru dipertanyakan oleh lembaga pemerintah sendiri.

Kedua, krisis distribusi: surplus di gudang Bulog tidak otomatis mengalir ke pasar, sehingga rakyat tetap membeli beras dengan harga mahal.

Ketiga, krisis mutu: kebijakan tanpa rafaksi mengikis motivasi petani untuk menjaga kualitas panen.

Beras bukan sekadar komoditas dagang; ia adalah jantung kehidupan sosial. Dalam setiap rumah tangga miskin, harga beras menentukan apakah anak-anak bisa makan tiga kali sehari atau tidak.

Maka ketika pemerintah gagal menjaga stabilitas harga beras, kegagalan itu bukan hanya ekonomi, tetapi juga moral dan politik.

Jika Presiden Prabowo membiarkan paradoks ini berlarut-larut, maka surplus beras hanya akan menjadi angka kosong di atas kertas.

Rakyat tidak bisa makan statistik. Yang mereka butuhkan adalah beras murah dan mudah diakses. [Luk]

Turut berduka cita atas wafatnya KH. Abdul Malik Shodaqoh.ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ูYa...
27/08/2025

Turut berduka cita atas wafatnya KH. Abdul Malik Shodaqoh.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุงุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู ูˆูŽุงุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ู

Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, maafkan segala khilafnya, dan tempatkanlah beliau di surga-Mu. Aamiin.

Address

Jl. Kyai H. Abdur Rosyid Bugen Tlogosari Wetan Pedurungan
Semarang
50196

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suluk Pahingan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share