17/09/2025
Mukadimah
Suluk Senen Pahingan #40
๐๐๐ ๐: ๐ถฬถ๐ดฬถ๐ฝฬถ๐ดฬถ๐ฬถ๐ฐฬถ๐ฬถ๐ธฬถ ฬถ๐ฬถ๐ดฬถ๐ฑฬถ๐ฐฬถ๐ทฬถ๐ฐฬถ๐ฝฬถ, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐
๐๐๐ฃ ๐ ๐๐ช๐ ๐๐ฃ ๐จ๐๐ ๐๐๐๐ง ๐ก๐๐๐๐ง ๐๐ ๐๐ง๐ ๐๐๐๐๐ฉ๐๐ก, ๐ข๐๐ง๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ง๐ช๐๐๐๐๐ฃ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐จ๐๐๐๐ฃ๐ ๐๐๐ง๐๐๐ก๐๐ฃ. ๐ฟ๐๐ง๐ ๐ก๐๐ฎ๐๐ง ๐ ๐๐๐๐ก ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐๐ข๐๐ฃ, ๐ข๐๐ง๐๐ ๐ ๐๐๐จ๐ ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐ก๐๐ ๐๐ฃ ๐๐ฅ๐ ๐ฅ๐๐ง๐ช๐๐๐๐๐ฃ.
๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐, mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, kini bukan lagi sekadar kategori usia dalam demografi. Mereka adalah tulang punggung baru yang jumlahnya mencapai 74,93 juta jiwa atau sekitar 27,94% dari total populasi Indonesia.
Angka yang begitu besar membuat Gen Z bukan hanya bonus demografi, melainkan juga kekuatan sosial, budaya, dan politik yang bisa menentukan arah bangsa.
Namun, apakah kekuatan sebesar ini sudah benar-benar disadari oleh para pemiliknya? Apakah Gen Z menyadari bahwa merekalah ujung tombak perubahan yang sedang lahir di abad digital ini?
Di era internet, Gen Z bukan hanya pengguna, tetapi penguasa. Indonesia kini memiliki 212 juta pengguna internet aktif, atau 74,6% dari total penduduk. Dari jumlah itu, penetrasi di kalangan Gen Z jauh lebih tinggi, mencapai 87% (Reuters).
Lebih dari 70% di antaranya memiliki smartphone dan televisi pintar, artinya mayoritas mereka sudah hidup dalam ekosistem digital yang sepenuhnya online, baik di genggaman maupun di ruang keluarga.
Kehidupan mereka tidak terpisah dari layar; interaksi sosial, pendidikan, hiburan, hingga pekerjaan dijalani dalam ekosistem digital yang mereka kuasai. TikTok, Instagram, Facebook, Whatshapp dan Pinterest menjadi arena utama.
TikTok digunakan oleh 44% Gen Z, Instagram oleh 36%, dan Pinterest oleh 32%. Di ruang inilah mereka membentuk identitas, menyerap tren global, sekaligus memproduksi budaya baru yang cepat menyebar lintas batas.
Namun Gen Z bukan hanya generasi digital, mereka juga generasi estetika. Keaslian (authenticity), kesehatan mental, dan keseimbangan hidup menjadi nilai yang mereka agungkan.
Branding in Asia mencatat bahwa Gen Z Indonesia menaruh perhatian besar pada pola tidur, olahraga teratur, dan nutrisi seimbang. Tren wellness ini makin menguat karena 70% konsumen Indonesia, termasuk Gen Z, kini memilih produk berdasarkan aspek kesehatan.
Fenomena budaya digital pun ikut mempertegasnya. Aura farming, misalnya, adalah cara Gen Z membangun daya tarik personal di media sosial, sementara tren โsummer personasโ menunjukkan ragam ekspresi gaya hidup: mulai dari Pilates Princess (17%) yang fokus pada rutinitas sehat, hingga Grandmacore (22%) yang merayakan kesederhanaan vintage.
Semua ini membuktikan bahwa bagi Gen Z, estetika bukan sekadar gaya, melainkan narasi hidup yang membangun identitas.
Akan tetapi, di balik kilau digital dan estetika wellness, realitas ekonomi Gen Z jauh dari ideal. Tingkat pengangguran di kalangan muda masih tinggi: hampir 10 juta Gen Z tidak terserap dalam lapangan kerja formal.
Mereka menyumbang 70% dari total pengangguran nasional. Angka ini menegaskan paradoks besar: generasi paling digital, paling kreatif, justru paling rapuh dalam sistem ekonomi konvensional.
Persoalan tidak berhenti di situ. Literasi keuangan Gen Z masih rendah, hanya 40โ44%, jauh di bawah standar ideal, sementara literasi nasional pun stagnan di angka 49,68%. Minimnya literasi ini membuat banyak dari mereka terjebak dalam pola konsumsi berlebihan.
Fenomena doom spending belanja impulsif sebagai pelarian emosional menjadi nyata. Sebanyak 49% Gen Z mengaku kesulitan menabung. Pola pengeluaran mereka juga mengarah pada gaya hidup: 23,6% dialokasikan untuk restoran, sementara 11% untuk hiburan dan hobi, lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Gaya hidup ini tentu sah-sah saja sebagai bentuk ekspresi, tetapi menjadi beban ketika pendapatan stagnan sementara biaya hidup terus meningkat.
Fakta lain yang menekan adalah kenaikan biaya hidup. Tercatat 66% Gen Z menganggap inflasi biaya hidup sebagai hambatan utama dalam mengatur keuangan. Banyak di antara mereka merasa penghasilan tidak cukup untuk standar hidup layak, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya.
Tekanan ini menciptakan krisis harapan. Tagar yang sempat populer di media sosial menjadi simbol frustrasi generasi ini terhadap kondisi ekonomi domestik. Tidak sedikit yang menganggap masa depan lebih cerah jika mereka mencari peluang di luar negeri.
Jika tren ini dibiarkan, maka alih-alih menjadi kekuatan nasional, Gen Z bisa berubah menjadi arus eksodus talenta yang merugikan bangsa.
Tetapi justru di titik inilah perubahan harus dimulai. Gen Z tidak boleh sekadar menjadi konsumen sistem lama yang tidak ramah terhadap mereka. Mereka harus menciptakan sistem baru, dengan teknologi sebagai senjata utama.
Revolusi digital adalah ruang di mana mereka bisa beralih dari scrolling menjadi mencipta, dari doom spending menjadi financial independence, dari pengangguran menjadi wirausahawan kreatif.
Dunia maya tidak boleh hanya menjadi panggung hiburan, melainkan juga ladang perjuangan. Setiap status, video, thread, dan karya digital harus diarahkan bukan hanya untuk mencari likes, tetapi untuk menggerakkan solidaritas, membongkar ketidakadilan, dan melahirkan inovasi yang berdampak nyata.
Lihatlah ke Nepal, di mana Gen Z memainkan peran penting dalam mendorong demokrasi baru. Dengan jumlah yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia, mereka bisa menciptakan gelombang perubahan politik yang signifikan.
Jika di negeri Himalaya itu generasi muda mampu menggerakkan perubahan sosial, maka di Indonesia dengan 74 juta Gen Z yang terkoneksi internet, potensinya jauh lebih besar. Cukup satu isu yang dikemas tepat, satu hashtag yang menyentuh kesadaran kolektif, maka perubahan bisa bergaung dari Sabang sampai Merauke.
Perubahan hari ini bukan lagi tentang bambu runcing, melainkan tentang jempol yang menekan tombol, ide yang viral, startup yang lahir, dan jejaring yang dibangun. Tantangan memang ada, mulai dari pekerjaan tidak pasti, gaya hidup serba instan, hingga literasi finansial yang rendah.
Tetapi perubahan lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari kesadaran dan keberanian melawan keterbatasan. Gen Z harus menolak tunduk pada narasi lama yang meminggirkan mereka. Mereka harus mendirikan ekosistem baru: ekonomi kreatif, bisnis berbasis teknologi, solidaritas digital, dan gerakan kultural yang menantang status quo.
Generasi ini harus sadar bahwa mereka bukan sekadar pengguna digital, melainkan pemilik masa depan digital. Jika hari ini mereka memilih diam, masa depan akan ditentukan oleh orang lain. Tetapi jika mereka memilih bergerak, Indonesia akan lahir kembali sebagai kekuatan besar yang dipimpin oleh generasi muda.
Revolusi digital bukanlah mimpi jauh, melainkan jalan yang sudah ada di depan mata. Hanya dibutuhkan keberanian untuk melangkah.
Dan kelak, ketika sejarah menoleh ke belakang, ia akan menulis bahwa Gen Z Indonesia adalah generasi yang tidak hanya bercermin pada layar, tetapi menjadikan layar itu sebagai senjata untuk menyalakan api perubahan.
Bahwa generasi ini adalah ujung tombak perubahan, bukan karena jumlahnya besar, tetapi karena keberaniannya untuk mengambil alih masa depan. Perubahan itu ada di tangan kita, ada di genggaman kalian. Bangkitlah, Gen Z Indonesia, sebagai agen perubahan. []