Rhen Abrehom

Rhen Abrehom Salam ^ 𝓑𝓻𝓲𝓰𝓪𝓭𝓮 𝓸𝓯 𝓬𝓸𝓷𝓷𝓮𝓷𝓽𝓲𝓷𝓰 𝓼𝓹𝓲𝓻𝓲𝓽𝓾𝓪𝓵𝓵𝔂

20/03/2026

Pengantin
Pengikut Sorotan Semuaorang

20/03/2026

Pengikut Sorotan Semuaorang

20/03/2026

Pengikut Sorotan Semuaorang

Wajar Indonesia dianggap paling bahagia oleh penelitian Internasional. Soalnya kreatifitas netizen kita memang diluar pr...
15/03/2026

Wajar Indonesia dianggap paling bahagia oleh penelitian Internasional. Soalnya kreatifitas netizen kita memang diluar prediksi BMKG.

Dulu saja dengan neti Korea, bukannya naik darah, malah bikin ngakak pengguna tread dan platform X.

Begitu juga saat war dimulai, selat Homuz ditutup, neti Indonesia malah hapy dengan koment2 absurd di sosmed. Apa mungkin karena rakyat Indonesia dah b aja dengan hidup susah? Jadi apa pun yang terjadi, tetap MBG.

Eh, salah. Apa pun yang terjadi tetap tertawa.

Nah, tadi saat kematin nyahuk rilis, lalu terbit permintaan Iran. Dengan jari tanpa beban, banyak yg ngirim lokasi Abu Jahal. Eh, abu janda.😅

Pengikut Sorotan Semuaorang

Emang keren banget si Fara, fakta yang membagongkan. Pengakuan Ferdi ( pacar fara) dan Raihan selengkinya Fara. Ferdi ya...
05/03/2026

Emang keren banget si Fara, fakta yang membagongkan. Pengakuan Ferdi ( pacar fara) dan Raihan selengkinya Fara. Ferdi yang membiayai semua kuliah Fara, dan Raihan yang mengerjakan semua tugas kuliah nya di Fara, pengaturan kerja sama yang klop tapi berakhir tragis.

05/03/2026
Seekor bebek kecil berdiri di tengah dua raksasa yang saling menerjang. Bukan karena ia paling kuat, tapi karena ia mera...
04/03/2026

Seekor bebek kecil berdiri di tengah dua raksasa yang saling menerjang. Bukan karena ia paling kuat, tapi karena ia merasa paling benar. Masalahnya: ia sendiri masih tertatih mengurus sarangnya yang berantakan.

Di satu sisi ada singa besar bernama Amerika. Di sisi lain ada banteng keras kepala bernama Iran. Keduanya bertarung bukan sekadar soal ego, tapi soal pengaruh, harga diri, dan dominasi. Lalu si bebek—Indonesia—datang mengepakkan sayap, berniat melerai, tanpa benar-benar menghitung terpaan angin dari dua arah.

Ini bukan cerita tentang geopolitik. Ini pelajaran tentang kepemimpinan.

Bebek itu punya niat baik. Tapi niat tanpa kapasitas bisa berubah jadi kecerobohan. Di dalam negerinya sendiri, masih ada persoalan ekonomi, birokrasi, hukum, dan ketimpangan yang belum rapi. Namun ia memilih berdiri di panggung global, berharap dihormati karena keberanian, bukan karena kesiapan.

Di sinilah konflik sebenarnya:
Ambisi lebih cepat berlari daripada kesiapan.
Citra lebih dulu dibangun sebelum fondasi diperkuat.

Ketika organisasi—atau negara—sibuk ingin menjadi penengah konflik besar, ada tiga risiko yang sering tak disadari:

Pertama, kehilangan fokus internal. Energi kepemimpinan terpecah antara memadamkan api luar dan membenahi atap yang bocor di rumah sendiri.

Kedua, salah membaca peta kekuatan. Dua raksasa tidak bertarung dengan emosi saja. Ada kepentingan ekonomi, militer, dan aliansi global. Masuk ke tengah tanpa kalkulasi matang bisa membuat kita sekadar jadi latar, bukan aktor strategis.

Ketiga, kredibilitas dipertaruhkan. Jika mediasi gagal, bukan hanya hubungan eksternal yang terganggu—kepercayaan domestik ikut tergerus.

Namun pelajarannya bukan “jangan pernah jadi penengah”. Pelajarannya adalah:
Jadilah relevan sebelum menjadi vokal.
Kuatkan fondasi sebelum naik ke panggung.

Dalam manajemen, ini disebut sequencing problem—urutan prioritas menentukan hasil. Perusahaan yang belum stabil secara internal tapi agresif ekspansi sering kolaps bukan karena kurang ambisi, tapi karena salah timing.

Begitu juga negara. Diplomasi yang kuat lahir dari stabilitas ekonomi, ketahanan pangan, sistem hukum yang dipercaya, dan konsistensi kebijakan. Tanpa itu, posisi tawar hanyalah retorika.

Sebagai publik, kita perlu berhenti melihat ini sebagai “pro kontra politik”. Ini soal pola kepemimpinan. Soal bagaimana keputusan besar diambil: berbasis data atau dorongan pencitraan? Berdasarkan kalkulasi risiko atau sekadar momentum?

Bebek kecil itu tidak salah ingin damai. Tapi damai bukan dicapai dengan berdiri di tengah amukan, melainkan dengan memastikan ia cukup kuat untuk tidak terinjak.

Sekarang pertanyaannya untuk kita:
Apakah kita ingin pemimpin yang terlihat berani di luar, atau yang diam-diam memperkuat dari dalam?
Mana yang lebih berdampak jangka panjang?

Karena pada akhirnya, negara yang dihormati bukan yang paling keras bersuara—melainkan yang paling stabil berdiri.

Address

Serang
42171

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rhen Abrehom posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Rhen Abrehom:

Share

Category