26/09/2025
NASI BERKAT DARI MASJID
Menatap tikar yang ditutupi tudung saji. Seharian mengais rejeki dengan berjualan koran. Sayang, tak banyak yang laku karena marak koran digital yang tinggal diunggah di ponsel saja.
Secara perlahan kubuka tudung saji. Sepiring nasi, sayur tumis di mangkuk kecil dan ayam goreng. Tak lupa ada daun selada yang sudah layu beserta dua irisan timun dan sambal di mika kecil.
"Hole ... Yayah puyang!" seru putri kecilku berlari menyambutku.
"Wah ... Anak ayah sudah mandi?" Ceria menganggukkan kepalanya semangat.
Ceria Maharani, nama gadis kecilku. Tubuhnya kurus, rambutnya tipis. Tapi binaran matanya tak pernah pudar.
"Mas ... Sudah pulang?" Istriku datang membawa segelas air putih.
Ia mencium punggung tanganku mencari ridho ... Seketika mataku memanas.
"Yayah .... Ayo matan. .. Liya dah lapal!" Ajak Ceria mengelus perutnya.
Aku mengangguk kencang. Hampir seluruh makanan masuk ke perut putriku dan hanya sesuap ke diriku dan istriku.
"Makanan dari mana?" Tanyaku lembut pada istriku saat menidurkan Ceria.
"Berkat Jumat dari masjid, Mas," jawab Jelita, istriku.
Aku hanya tertegun, waktu pukul 21.39. jika itu memang berkat Jumat. Berapa lama anak dan istriku menunggu sampai aku pulang, agar bisa makan bersama.