11/01/2026
"Di sebuah negeri yang subur makmur, hiduplah seorang petani bernama Pak Tani. Tanah Pak Tani sangat subur, namun hasil panennya selalu sedikit. Ini karena pemerintah membangun jalan tol di atas lahan pertaniannya, tanpa memberikan ganti rugi yang layak.
​Suatu hari, Pak Tani memberanikan diri untuk mengkritik kebijakan pemerintah dalam sebuah pertemuan desa. Ia berbicara dengan lantang, menyuarakan keresahan para petani lainnya yang juga merasakan dampak negatif dari pembangunan yang tidak pro rakyat.
​Kritik Pak Tani sampai ke telinga para pejabat. Bukannya mendengarkan dan mencari solusi, mereka malah menuduh Pak Tani sebagai penghasut dan menyebarkan berita bohong. Pak Tani pun ditangkap dan dipenjarakan.
​Namun, semangat Pak Tani tidak padam. Dari dalam penjara, ia menulis surat-surat yang berisi kritikannya terhadap pemerintah. Surat-surat itu diselundupkan keluar dan dibaca oleh banyak orang. Rakyat pun mulai menyadari kebenaran kata-kata Pak Tani.
​Gelombang protes pun bermunculan di seluruh negeri. Rakyat menuntut keadilan bagi Pak Tani dan perubahan kebijakan yang lebih pro rakyat. Pemerintah akhirnya kewalahan menghadapi desakan rakyat. Mereka membebaskan Pak Tani dan berjanji akan meninjau ulang kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat.
​Pak Tani memang seorang petani biasa, namun keberaniannya untuk menyuarakan kebenaran telah menggerakkan hati banyak orang dan membawa perubahan bagi negerinya."
​Berikut adalah gambar yang menyinggung tentang kritik pemerintah: