02/01/2026
Suatu hari, lahirlah sebuah berita tentang banjir di Hutanabolon II. Judulnya galak, isinya berotot, nadanya seperti wasit yang meniup peluit sambil marah-marah. Sekilas, pembaca dibuat yakin.
“Wah, ini pasti berita investigasi kelas berat.”
Tapi setelah dibaca pelan-pelan, ternyata ini bukan berita ini curhat.
Sejak paragraf pertama, penulis sudah menunjuk terdakwa. Palu hakim diketok sebelum sidang dimulai. Pemerintah dinyatakan gagal, klaim dinyatakan runtuh, dan kepemimpinan dinyatakan tamat, padahal saksi belum dipanggil satu pun.
Fakta? Nanti dulu. Emosi dulu yang maju ke depan. Bupati disebut, pemerintah daerah diseret, tapi anehnya 😄 semuanya absen. Tidak ada yang diwawancarai.
Tidak ada yang diberi hak jawab. Seolah-olah penulis menggelar konferensi pers sendirian: bertanya sendiri, menjawab sendiri, lalu marah sendiri.
Bahasanya pun dramatis. Ada “tamparan keras”, “laporan manis”, sampai “panggung pencitraan”. Lengkap sudah tinggal lampu sorot dan backsound sinetron.
Sayangnya, istilah-istilah itu bukan kutipan warga, melainkan hasil imajinasi yang mungkin sedang menulis sambil mendengarkan musik sendu.
Lebih seru lagi, tiba-tiba muncul tuduhan serius: kebebasan pers dibungkam! Tapi siapa yang membungkam? Bagaimana caranya? Kapan kejadiannya? Tidak dijelaskan.
Tuduhan besar itu melayang bebas seperti balon tanpa tali tinggi, tapi tak tahu arahnya ke mana.
Narasumber pun misterius. Semua pakai inisial. Warga A, jurnalis B, mungkin besok muncul pejabat C. Kenapa disamarkan? Tidak dijelaskan.
Pembaca pun bertanya-tanya ini perlindungan sumber atau sekadar gaya?
Yang paling ironis, meski topiknya banjir, airnya sendiri jarang muncul dalam berita. Tidak ada data hujan, tidak ada kondisi drainase, tidak ada ukuran genangan. Banjirnya nyata, tapi faktanya entah ke mana.
Di akhir tulisannya, kembali menutup dengan kesimpulan besar semua ini salah pemimpin. Tamat. Tanpa data, tanpa konfirmasi, tanpa rem langsung gas pol.
Padahal kritik itu penting. Tapi kritik tanpa fakta ibarat sirene tanpa ambulans: ribut, bikin panik, tapi tak menolong siapa pun.
Akhir kata, pers seharusnya menjernihkan air yang keruh, bukan ikut menambah lumpur. Kalau tidak, yang kebanjiran bukan cuma warga logika juga ikut tenggelam. 🌊😄