05/06/2026
BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.
KUBURAN SUMI
ekstra part
Karena keseringan cuti, Rahmad anak semata wayang Bu Sumi pun memilih keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan dan p**ang ke kota kecilnya. Untuk merawat ibunya dan meneruskan usaha pertanian milik keluarga.
Rahmad merasa bersalah, meninggalkan Ibunya di kota kecil ini. Sementara dirinya bekerja sebagai karyawan swasta di ibukota propinsi. Jarak tempuh lima jam, membuatnya jarang p**ang. Rahmad tahu, ibunya rapuh perlu arahan dan bimbingan.
Tidak semua orang memiliki mental yang kuat. Setelah kepergian suaminya, membuat Bu Sumi berubah menjadi lintah darat. Sebelumnya dia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Rahmad, sang anak, berjanji untuk menemani sang Ibu disisa umurnya. Tidak bosan mengajak Ibunya untuk bertaubat.
Apalah daya, Bu Sumi tetap keras kepala. Meski sakit parah, dia masih mengingat hartanya. Sering dia mengigau dengan menyebut, "hartaku, hartaku, kembalikan uangku," kemudian terbangun dan kembali mengeluh kesakitan.
Harta yang masih banyak, tidak membuatnya tenang. Kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk bangkit. Membuatnya semakin tersiksa, bayangan uang yang mau ditarik kembali terlintas.
Bu Sumi sampai mimpi dan berteriak-teriak, "bayar hutangmu, kembalikan uangku," serta sumpah serapahnya pada orang yang tidak mampu bayar.
Karena tidak mau dibawa ke rumah sakit kembali, Rahmad memanggil dokter keluarga, untuk memberikan infus dan rawatan pada Bu Sumi di rumah saja. Pak dokter itu sampai geleng-geleng kepala menyaksikan kondisi Bu Sumi. Dia teringat saat menangani Pak Kadir, almarhum suami Bu Sumi, yang tenang dan mudah meninggalnya. Berbeda dengan Bu Sumi yang mengamuk sehingga di ikat tangan dan kakinya di ranjang, karena berusaha menyakiti diri sendiri.
Rahmad, memberhentikan anak buah Ibunya. Memberikan gaji terakhir dan memintakan maaf dan doa kesembuhan untuk ibunya. Dia tidak mau lagi sang Ibu terlibat ribawi, aktifitas penggandaan uang milik Ibunya, dihentikan. Dia tidak perduli dengan sisa utang orang pada ibunya. Dia hanya memikirkan siapa saja yang pernah dizalimi sang Ibu. Meminta maaf dan mengembalikan hak-hak mereka. Tentu bukan hal mudah, karena tidak semua yang dizalimi ibunya mau memberikan maaf secara tulus.
Bu Sumi mulai melolong kesakitan, dan meracau seperti orang gila. Pak Dokter memberikan obat penenang agar Bu Sumi bisa beristirahat sementara. Tidak berpengaruh lama, Bu Sumi kembali menggelinjang, tak dapat dikendalikan. Ingatannya ditarik, wajahnya menyeramkan. Sudah tidak mempan lagi tausiyah, nasihat dan ajakan bertaubat.
Hanya keluarga inti, tidak ada keluarga besar yang menjenguk Bu Sumi, seolah orang-orang menjauhinya dan malu mengakuinya sanak kerabat. Hanya sang anak dan menantu, serta cucunya saja di rumah itu yang terus mendoakan. Beberapa kali dalam sehari, dokter berkunjung memastikan Bu Sumi mendapat asupan dan obat.
Pak dokter memberi masukkan berdasarkan hasil pemeriksaannya pada Rahmad, anak semata wayang Bu Sumi.
"Ibumu sedang sekarat, dia kesakitan parah dua hari ini, namun rohnya belum dicabut. Kamu harus ikhlas, kasihani ibumu, sepertinya ada sesuatu yang menahannya. Maaf saya harus menyampaikan, coba kamu ingat lagi, kesalahan apa yang dilakukan Ibumu, cobalah mintakan maaf untuk ibumu.
Secara medis, harusnya Ibumu sudah meninggal, karena pembuluh darahnya pecah. Tubuhnya sudah menolak asupan infus, ini sudah dua hari, jika dibiarkan tubuhnya akan membusuk sementara nyawanya masih ada," terang Pak Dokter.
Rahmad tambah sedih mendengarnya, menangislah dia di hadapan Pak dokter. Rahmad sungguh awam akan usaha Ibunya. Siapa saja yang sudah dizalimi, pastinya banyak. Dia bingung memulai darimana.
"Anto, ya dia ajudan Ibu. Tangan kanan Ibu, dia pasti tahu, siapa saja yang pernah dizalimi oleh Ibu," ucap Rahmad pada istrinya, Aisyah. Selepas kepergian Pak Dokter, mereka mulai memikirkan cara memintakan maaf untuk Ibunya.
Anto pun dipanggil dan diberi pekerjaan sementara untuk mengantar Rahmad pada orang-orang yang pernah dizalimi Bu Sumi. Dengan berbekal data di buku catatan dan ingatannya, Anto membantu mengantarkan. Dia pun prihatin pada mantan majikannya itu, dan takut mendapat azab yang serupa.
"Ibumu, menjadi lintah darat beberapa tahun terakhir. Ada memang kami bertindak di luar kendali, seperti mengusir seorang wanita tua dari rumah kayunya, dan menghancurkan dagangan orang-orang di pasar.
Juga kata-kata kasar Ibumu pada orang-orang, sebagian orang kecewa dan mengutuk Ibumu. Aku prihatin melihat kondisi beliau, aku bersedia membantumu, lebih cepat lebih baik," papar Anto.
"Kau tahu mengenai Ibuku, antarkan aku sekarang menemui mereka," desak Rahmad, mereka pun pergi, menitipkan penjagaan Bu Sumi pada Aisyah.
Pertama-tama, mereka mendatangi Mbok Yun di bedakan kumuh pinggir sungai, memintakan maaf untuk Bu Sumi.
"Permisi, Mbok, masih ingat dengan saya, Anto?" tanya Anto pada Mbok Yun.
"Kamu! ngapain kesini, masih belum puas kalian mengusir kami ?" Mbok Yun masih marah.
"Maaf, Mbok, saya bukan menagih. Maksud saya kesini mau meminta maaf secara pribadi dan beliau ini anak Bu Sumi, juga memintakan maaf untuk Ibu beliau yang sedang sekarat," mohon Anto.
"Biarin dia sekarat, hukuman untuknya, mengambil hak orang lain, dia wanita jahat, aku masih sakit hati jika mengingatnya," keluh Mbok Yun.
"Saya minta tolong, ampuni ibu saya. Saya akan kembalikan rumah Mbok itu, belum sama sekali dijual. Hanya sempat dikontrak oleh orang selama satu bulan setelah itu kosong, Mbok bisa balik lagi ke rumah Mbok sendiri. Saya ikhlaskan utang anak Mbok, tolong sekali lagi ya Mbok," pinta Rahmad mengiba bahkan menangis.
Mbok Yun tak sampai hati melihat ketulusan anak Bu Sumi. Meski dia masih marah, tapi berusaha berlapang dada dan memaafkan.
"Baiklah, Nak. Saya ampuni kesalahan Ibumu, semoga beliau dimudahkan jalannya, terima kasih atas keikhlasanmu. Mbok pun ikhlas, pergilah. Mintakan ampun maaf pada orang-orang yang pernah Ibumu kecewakan, semoga jalannya dimudahkan," Mbok Yun meneteskan air mata haru.
Rahmad tak hentinya mengucap syukur dan terima kasih. Dia mengembalikan surat rumah Mbok Yun sebelum pergi.
Kemudian Anto mengajak Rahmad ke pasar, disana banyak orang yang dikecewakan Bu Sumi.
Anto dan Rahmad menghampiri Mbak Puji dan Mbak Yati, mereka menceritakan keadaan Bu Sumi, memintakan ampun dan maaf.
"Kasihan sekali Bu Sumi ya, kami tidak menyangka beliau sedang sekarat. Walau dulu pernah sakit hati, tapi kami tetap kasihan sama beliau. Kami berusaha memaafkan ya Mbak Yati, ya. Semoga jalan beliau dimudahkan," ucap Mbak Puji diiringi anggukan Mbak Yati. Mereka berlapang dada memaafkan.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih, ketulusan kalian memaafkan, sangat diharapkan untuk kemudahan Ibu saya dalam menghadap Ilahi, terimalah ini, sedikit rezeki dari saya yang tak seberapa," Rahmad memberikan uang dalam amplop kepada mereka berdua.
"Apa ini, kami ikhlas kok, nggak perlu dibayar maaf dari kami," ucap Mbak Yati.
"Saya juga ikhlas berbagi, saya tahu, Ibu saya pernah merusak dagangan kalian. Saya mohon maaf sekali lagi," balas Rahmad.
"Oalah sudah lama itu, nggak seberapa juga," ucap Mbak Puji.
"Ijinkan saya berbagi saya ikhlas, terimalah, terima kasih sekali lagi ya Mbak berdua saya pamit," Rahmad segera berlalu sebelum meneteskan air mata kembali.
"Anaknya Bu Sumi, orangnya baik ya Mbak, tidak seperti Ibunya," ucap Mbak Puji.
"Hussh, jangan ghibah, kita sudah memaafkan, jangan diungkit-ungkit lagi, ya," jawab Mbak Yati, diiringi anggukan Mbak Puji.
Anto dan Rahmad mendatangi Acil Janah dan Hajjah Ifit, memintakan maaf dan memohonkan ampun atas segala kesalahan Bu Sumi. Melihat ketulusan Rahmad, baik Acil Janah maupun Hajjah Ifit pun memaafkannya.
Begitu p**a pada beberapa pedagang kecil yang Anto ketahui, dia mengarahkan Rahmad menemui mereka dan menyampaikan permohonan maaf dan ampunan untuk Bu Sumi, beruntungnya, semua yang didatangi, mau dan bersedia memberikan maaf dan ampunan mereka untuk Bu Sumi.
Bahagialah Anto dan Rahmad, mereka berdoa agar Bu Sumi diringankan dan dimudahkan jalannya. Setelah berkeliling di pasar, dan dirasa sudah memintakan maaf dan memohonkan ampun kepada semua orang yang mereka kenal, selama bersentuhan dengan Bu Sumi. Akhirnya, Anto dan Rahmad pun p**ang menemui Bu Sumi. Mereka berharap usaha mereka membawa perubahan dan menerima kabar baik untuk kemudahan Bu Sumi.
Bagaimana kondisi Bu Sumi setelah ini, apakah usaha Anto dan Rahmad berhasil memuluskan kepergian Bu Sumi ? Apakah dengan dimintakan maaf dan ampunan dari orang-orang, Bu Sumi terbebas dari siksa? juga terbebas dari kutukan orang-orang yang dizaliminya?
Ikuti terus kelanjutannya.
KUBURAN SUMI - nazarsyarif
Sumi, janda kaya paruh baya itu, mendadak menjadi lintah darat, setelah kematian suaminya,...