Ryuji Win 2

Ryuji Win 2 Nama pena: Ryujiwin
Open Jasprom 5k untuk 10 postingan
+62 881-0272-80311

BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.KUBURAN SUMIekstra partKarena keseringan cuti, Rahmad ...
05/06/2026

BU SUMI SAKIIT-SAKIITAN DAN SEKAR4T. KONDISINYA MAKIN MENGEN4SKAN.

KUBURAN SUMI

ekstra part

Karena keseringan cuti, Rahmad anak semata wayang Bu Sumi pun memilih keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan dan p**ang ke kota kecilnya. Untuk merawat ibunya dan meneruskan usaha pertanian milik keluarga.

Rahmad merasa bersalah, meninggalkan Ibunya di kota kecil ini. Sementara dirinya bekerja sebagai karyawan swasta di ibukota propinsi. Jarak tempuh lima jam, membuatnya jarang p**ang. Rahmad tahu, ibunya rapuh perlu arahan dan bimbingan.

Tidak semua orang memiliki mental yang kuat. Setelah kepergian suaminya, membuat Bu Sumi berubah menjadi lintah darat. Sebelumnya dia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Rahmad, sang anak, berjanji untuk menemani sang Ibu disisa umurnya. Tidak bosan mengajak Ibunya untuk bertaubat.

Apalah daya, Bu Sumi tetap keras kepala. Meski sakit parah, dia masih mengingat hartanya. Sering dia mengigau dengan menyebut, "hartaku, hartaku, kembalikan uangku," kemudian terbangun dan kembali mengeluh kesakitan.

Harta yang masih banyak, tidak membuatnya tenang. Kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk bangkit. Membuatnya semakin tersiksa, bayangan uang yang mau ditarik kembali terlintas.

Bu Sumi sampai mimpi dan berteriak-teriak, "bayar hutangmu, kembalikan uangku," serta sumpah serapahnya pada orang yang tidak mampu bayar.

Karena tidak mau dibawa ke rumah sakit kembali, Rahmad memanggil dokter keluarga, untuk memberikan infus dan rawatan pada Bu Sumi di rumah saja. Pak dokter itu sampai geleng-geleng kepala menyaksikan kondisi Bu Sumi. Dia teringat saat menangani Pak Kadir, almarhum suami Bu Sumi, yang tenang dan mudah meninggalnya. Berbeda dengan Bu Sumi yang mengamuk sehingga di ikat tangan dan kakinya di ranjang, karena berusaha menyakiti diri sendiri.

Rahmad, memberhentikan anak buah Ibunya. Memberikan gaji terakhir dan memintakan maaf dan doa kesembuhan untuk ibunya. Dia tidak mau lagi sang Ibu terlibat ribawi, aktifitas penggandaan uang milik Ibunya, dihentikan. Dia tidak perduli dengan sisa utang orang pada ibunya. Dia hanya memikirkan siapa saja yang pernah dizalimi sang Ibu. Meminta maaf dan mengembalikan hak-hak mereka. Tentu bukan hal mudah, karena tidak semua yang dizalimi ibunya mau memberikan maaf secara tulus.

Bu Sumi mulai melolong kesakitan, dan meracau seperti orang gila. Pak Dokter memberikan obat penenang agar Bu Sumi bisa beristirahat sementara. Tidak berpengaruh lama, Bu Sumi kembali menggelinjang, tak dapat dikendalikan. Ingatannya ditarik, wajahnya menyeramkan. Sudah tidak mempan lagi tausiyah, nasihat dan ajakan bertaubat.

Hanya keluarga inti, tidak ada keluarga besar yang menjenguk Bu Sumi, seolah orang-orang menjauhinya dan malu mengakuinya sanak kerabat. Hanya sang anak dan menantu, serta cucunya saja di rumah itu yang terus mendoakan. Beberapa kali dalam sehari, dokter berkunjung memastikan Bu Sumi mendapat asupan dan obat.

Pak dokter memberi masukkan berdasarkan hasil pemeriksaannya pada Rahmad, anak semata wayang Bu Sumi.

"Ibumu sedang sekarat, dia kesakitan parah dua hari ini, namun rohnya belum dicabut. Kamu harus ikhlas, kasihani ibumu, sepertinya ada sesuatu yang menahannya. Maaf saya harus menyampaikan, coba kamu ingat lagi, kesalahan apa yang dilakukan Ibumu, cobalah mintakan maaf untuk ibumu.

Secara medis, harusnya Ibumu sudah meninggal, karena pembuluh darahnya pecah. Tubuhnya sudah menolak asupan infus, ini sudah dua hari, jika dibiarkan tubuhnya akan membusuk sementara nyawanya masih ada," terang Pak Dokter.

Rahmad tambah sedih mendengarnya, menangislah dia di hadapan Pak dokter. Rahmad sungguh awam akan usaha Ibunya. Siapa saja yang sudah dizalimi, pastinya banyak. Dia bingung memulai darimana.

"Anto, ya dia ajudan Ibu. Tangan kanan Ibu, dia pasti tahu, siapa saja yang pernah dizalimi oleh Ibu," ucap Rahmad pada istrinya, Aisyah. Selepas kepergian Pak Dokter, mereka mulai memikirkan cara memintakan maaf untuk Ibunya.

Anto pun dipanggil dan diberi pekerjaan sementara untuk mengantar Rahmad pada orang-orang yang pernah dizalimi Bu Sumi. Dengan berbekal data di buku catatan dan ingatannya, Anto membantu mengantarkan. Dia pun prihatin pada mantan majikannya itu, dan takut mendapat azab yang serupa.

"Ibumu, menjadi lintah darat beberapa tahun terakhir. Ada memang kami bertindak di luar kendali, seperti mengusir seorang wanita tua dari rumah kayunya, dan menghancurkan dagangan orang-orang di pasar.

Juga kata-kata kasar Ibumu pada orang-orang, sebagian orang kecewa dan mengutuk Ibumu. Aku prihatin melihat kondisi beliau, aku bersedia membantumu, lebih cepat lebih baik," papar Anto.

"Kau tahu mengenai Ibuku, antarkan aku sekarang menemui mereka," desak Rahmad, mereka pun pergi, menitipkan penjagaan Bu Sumi pada Aisyah.

Pertama-tama, mereka mendatangi Mbok Yun di bedakan kumuh pinggir sungai, memintakan maaf untuk Bu Sumi.

"Permisi, Mbok, masih ingat dengan saya, Anto?" tanya Anto pada Mbok Yun.

"Kamu! ngapain kesini, masih belum puas kalian mengusir kami ?" Mbok Yun masih marah.

"Maaf, Mbok, saya bukan menagih. Maksud saya kesini mau meminta maaf secara pribadi dan beliau ini anak Bu Sumi, juga memintakan maaf untuk Ibu beliau yang sedang sekarat," mohon Anto.

"Biarin dia sekarat, hukuman untuknya, mengambil hak orang lain, dia wanita jahat, aku masih sakit hati jika mengingatnya," keluh Mbok Yun.

"Saya minta tolong, ampuni ibu saya. Saya akan kembalikan rumah Mbok itu, belum sama sekali dijual. Hanya sempat dikontrak oleh orang selama satu bulan setelah itu kosong, Mbok bisa balik lagi ke rumah Mbok sendiri. Saya ikhlaskan utang anak Mbok, tolong sekali lagi ya Mbok," pinta Rahmad mengiba bahkan menangis.

Mbok Yun tak sampai hati melihat ketulusan anak Bu Sumi. Meski dia masih marah, tapi berusaha berlapang dada dan memaafkan.

"Baiklah, Nak. Saya ampuni kesalahan Ibumu, semoga beliau dimudahkan jalannya, terima kasih atas keikhlasanmu. Mbok pun ikhlas, pergilah. Mintakan ampun maaf pada orang-orang yang pernah Ibumu kecewakan, semoga jalannya dimudahkan," Mbok Yun meneteskan air mata haru.

Rahmad tak hentinya mengucap syukur dan terima kasih. Dia mengembalikan surat rumah Mbok Yun sebelum pergi.

Kemudian Anto mengajak Rahmad ke pasar, disana banyak orang yang dikecewakan Bu Sumi.

Anto dan Rahmad menghampiri Mbak Puji dan Mbak Yati, mereka menceritakan keadaan Bu Sumi, memintakan ampun dan maaf.

"Kasihan sekali Bu Sumi ya, kami tidak menyangka beliau sedang sekarat. Walau dulu pernah sakit hati, tapi kami tetap kasihan sama beliau. Kami berusaha memaafkan ya Mbak Yati, ya. Semoga jalan beliau dimudahkan," ucap Mbak Puji diiringi anggukan Mbak Yati. Mereka berlapang dada memaafkan.

"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih, ketulusan kalian memaafkan, sangat diharapkan untuk kemudahan Ibu saya dalam menghadap Ilahi, terimalah ini, sedikit rezeki dari saya yang tak seberapa," Rahmad memberikan uang dalam amplop kepada mereka berdua.

"Apa ini, kami ikhlas kok, nggak perlu dibayar maaf dari kami," ucap Mbak Yati.

"Saya juga ikhlas berbagi, saya tahu, Ibu saya pernah merusak dagangan kalian. Saya mohon maaf sekali lagi," balas Rahmad.

"Oalah sudah lama itu, nggak seberapa juga," ucap Mbak Puji.

"Ijinkan saya berbagi saya ikhlas, terimalah, terima kasih sekali lagi ya Mbak berdua saya pamit," Rahmad segera berlalu sebelum meneteskan air mata kembali.

"Anaknya Bu Sumi, orangnya baik ya Mbak, tidak seperti Ibunya," ucap Mbak Puji.

"Hussh, jangan ghibah, kita sudah memaafkan, jangan diungkit-ungkit lagi, ya," jawab Mbak Yati, diiringi anggukan Mbak Puji.

Anto dan Rahmad mendatangi Acil Janah dan Hajjah Ifit, memintakan maaf dan memohonkan ampun atas segala kesalahan Bu Sumi. Melihat ketulusan Rahmad, baik Acil Janah maupun Hajjah Ifit pun memaafkannya.

Begitu p**a pada beberapa pedagang kecil yang Anto ketahui, dia mengarahkan Rahmad menemui mereka dan menyampaikan permohonan maaf dan ampunan untuk Bu Sumi, beruntungnya, semua yang didatangi, mau dan bersedia memberikan maaf dan ampunan mereka untuk Bu Sumi.

Bahagialah Anto dan Rahmad, mereka berdoa agar Bu Sumi diringankan dan dimudahkan jalannya. Setelah berkeliling di pasar, dan dirasa sudah memintakan maaf dan memohonkan ampun kepada semua orang yang mereka kenal, selama bersentuhan dengan Bu Sumi. Akhirnya, Anto dan Rahmad pun p**ang menemui Bu Sumi. Mereka berharap usaha mereka membawa perubahan dan menerima kabar baik untuk kemudahan Bu Sumi.

Bagaimana kondisi Bu Sumi setelah ini, apakah usaha Anto dan Rahmad berhasil memuluskan kepergian Bu Sumi ? Apakah dengan dimintakan maaf dan ampunan dari orang-orang, Bu Sumi terbebas dari siksa? juga terbebas dari kutukan orang-orang yang dizaliminya?

Ikuti terus kelanjutannya.

KUBURAN SUMI - nazarsyarif

Sumi, janda kaya paruh baya itu, mendadak menjadi lintah darat, setelah kematian suaminya,...

Karma memang benar adanya, aku yang mengkhianati istriku kini dapat balasannya, ba yi  yang  dikandung kekasihku ternyat...
05/06/2026

Karma memang benar adanya, aku yang mengkhianati istriku kini dapat balasannya, ba yi yang dikandung kekasihku ternyata....

Lelahnya berpoligami 2

Sinar mentari menembus kaca jendela kamar, menciptakan pantulan cahaya di lantai marmer yang dingin. Aku menggeliat, mataku terasa berat. Sisa kelelahan masih melekat di tubuh, tapi ingatan semalam membuat sudut bibirku terangkat. Malam yang panjang, penuh gairah, dan memabukkan.

Dengan malas, aku menyeret tubuh ini menuju kamar mandi. Air hangat menyentuh kulit, mengalir deras dari shower, membasuh semua sisa dosa yang melekat. Aku menyandarkan dahi ke dinding keramik, membiarkan tubuhku rileks di bawah pancuran.

Senyumku terkembang samar. Dua wanita. Dua kehidupan. Dua cinta yang harus kubagi.

Aku tak ingin berpikir lebih jauh. Yang kutahu, aku sedang menikmati permainan ini.

Setelah selesai mandi, aku mengenakan kemeja santai dan turun ke lantai bawah. Aroma nasi kuning menyeruak dari dapur. Di meja makan, Kinara, putriku yang berusia lima tahun, tengah menyuap makanannya sendiri. Adinda, istriku, sibuk menata hidangan.

Aku menarik kursi dan duduk, mengusap kepala Kinara penuh sayang. "Anak Ayah udah bisa makan sendiri sekarang, ya?"

"Anak siapa dulu d**g!" Kinara terkikik, bangga dengan pujianku.

Aku tersenyum kecil, sementara Adinda hanya melirik kami sambil tersenyum lembut. Tangannya lincah menuang teh ke dalam cangkir.

Aku mengambil sendok, siap menyantap sarapan, tapi Adinda tiba-tiba menarik napas panjang. Ia merogoh sesuatu dari saku celemeknya, lalu menyodorkan sebuah amplop kecil ke arahku.

"Ayah, aku ada kejutan buat kamu," katanya dengan nada sedikit gugup.

Aku menatapnya heran, kemudian meraih amplop itu dan membukanya. Secarik kertas putih berada di dalamnya. Aku membaca isinya, lalu terdiam.

Mataku membesar, jantungku berdegup lebih kencang. Aku menatap Adinda, seakan meminta penjelasan lebih lanjut.

Adinda tersenyum kecil, matanya berbinar penuh haru. "Iya, Mas... Aku hamil."

Aku merasakan sesuatu yang mencengkeram dadaku. Ada kebahagiaan, tapi di saat yang sama, ada sesuatu yang lebih besar—kegelisahan.

Kinara berteriak kegirangan. "H**e! Aku jadi kakak!"

Adinda tertawa kecil, tangannya mengelus perutnya dengan lembut. "Aku baru cek ke dokter kemarin. Baru beberapa minggu, tapi sudah bisa dipastikan."

Aku menarik napas panjang, berusaha memasang senyum. "Ini... hadiah terbaik."

Adinda menggenggam tanganku, matanya dipenuhi kebahagiaan yang tulus. Aku seharusnya ikut bahagia. Aku seharusnya merasa tenang.

Tapi ponsel di atas nakas tiba-tiba bergetar. Sekilas aku melirik layarnya, dan darahku seakan membeku. Nama itu muncul di layar—Raisya.

Aku berusaha tetap tenang. Dengan santai, aku meraih ponsel dan mengecilkan volumenya. Aku tak ingin Adinda curiga.

Setelah sarapan, aku beralasan ingin menikmati udara pagi dan berjalan ke arah gazebo di halaman belakang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, sementara ikan koi berenang tenang di kolam.

Dengan ragu, aku membuka pesan yang masuk.

[Mas, hari ini aku mau periksa kandungan...]

[Aku naik taksi online...]

[Jemput ya, sayang... 😙]

Tenggorokanku terasa kering. Tanganku gemetar saat menggenggam ponsel. Rasanya ingin aku menutup mata dan berharap ini semua hanya mimpi. Tapi ini nyata.

Aku menekan pelipis. Dua wanita. Dua janin. Dua kehidupan yang sekarang bergantung padaku.

Seakan tak cukup, sebuah pesan baru masuk.

[Aku rindu.]

Dadaku mendadak sesak.

"Mas?"

Aku tersentak, buru-buru memasukkan ponsel ke saku. Adinda berdiri di belakangku, tatapannya penuh tanda tanya. "Kamu kenapa? Kok dari tadi diam?"

Aku tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang. "Nggak apa-apa, Bun. Lagi lihat berita aja."

Adinda menatapku sejenak, lalu tersenyum. "Jangan terlalu serius, Mas. Ini hari bahagia kita."

Dia duduk di sampingku, menyandarkan kepalanya di bahuku. "Aku senang sekali. Kita akhirnya akan punya anak lagi..." bisiknya lembut.

Aku mengangguk, meski di dalam kepala, pikiranku berantakan.

Ponselku kembali bergetar. Aku tahu siapa pengirimnya, dan aku tahu ini belum berakhir.

Sandiwara ini baru saja dimulai.

Next.

Lanjut di KBM App
Judul: Lelahnya Berpoligami
Penulis: Titik Triana

Berbagai kesibukan dilalui Husna  setelah dia mulai bekerja. Berkutat dengan rancangan, pola, dan evaluasi pekerjaan jad...
05/06/2026

Berbagai kesibukan dilalui Husna setelah dia mulai bekerja. Berkutat dengan rancangan, pola, dan evaluasi pekerjaan jadi menu sehari-hari. Husna mengerjakannya dengan senang hati dan semangat. Bahkan, terkadang dia merasa kembali ke masa-masa kuliah dulu. Setiap hari tidak lepas dari tugas.

Apa yang dikhawatirkannya sedari awal akan bekerja penuh tekanan dan dalam bayang-bayang Randy tidak terjadi. Kesibukan Randy sebagai pemimpin berbeda dengan kesibukan Husna. Intensitas pertemuan mereka jarang terjadi.

Ada yang berubah dari Randy, dia lebih rajin p**ang. Walaupun terkadang sudah larut malam tetapi sikapnya terhadap Husna tidaklah berubah.

Selama bekerja Husna menemukan banyak hal yang berbeda dari Randy. Randy rutin mengadakan acara kajian keagamaan setiap akhir minggu bagi karyawan yang membutuhkan. Husna teringat bagaimana kegiatan ini dihindari Randy sewaktu kuliah dulu. Satu hal lagi yang membuat Husna bertanya-tanya karyawan Randy lebih di dominasi oleh laki-laki.

"Akhir-akhir ini Pak Randy banyak memberhentikan karyawan perempuan." jelas Tantri, seorang asisten pengawas lapangan bagian produksi. Husna mengenalnya ketika ikut kajian.

"Apa alasannya?" tanya Husna sambil menuangkan kecap ke sotonya. Mereka sedang makan siang di kantin pabrik.

Tantri mengakat bahu, "Entahlah?" jawab Tantri. "Sedihnya yang diberhentikan itu banyak dari bagian produksi. Mereka dari golongan ekonomi rendah, bukan perempuan-perempuan yang kayak ono!" Tambah Tantri lagi sembari mengarahkan mulutnya kearah seberang ruangan kantin.

Husna menoleh ke tempat yang diisyratkan Tantri. Tampak beberapa wanita berkelompok di satu meja. Mereka terdiri dari staf-staf kantor yang cara pakaiannya seperti wanita karir kelas atas.

"Kadang aku berpikir pak Randy alergi mungkin melihat perempuan-perempuan di bagian produksi, tidak ada yang bagus!" kata Tantri blak-blakan sehingga membuat Husna tertawa mendengarnya. Tantri perempuan tomboi, berbicara semaunya dan apa adanya. Hal itu yang membuat Husna menyukainya.

"Hush, jangan ngomong gitu ... ah. Mungkin dia punya alasan sendiri." sahut Husna.

Tantri ikut tertawa tetapi dengan miris, "Coba kamu pikir Husna, apa kemampuan mereka itu? Di sini kerja mereka hanya mengetik laporan dan surat-suratan, bukan membuat atau merancangnya. Tapi, gaya pakaian mereka, ish!" kata Tantri emosi dengan suara pelan "Apa mereka pikir bisa mendapatkan pak Randy dengan berpakaian seperti itu?" lanjutnya lagi.

Husna tersedak mendengar kata-kata terakhir Tantri dan dia terbatuk-terbatuk.

"Kamu kenapa?" tanya Tantri heran, Husna menggeleng lalu mengambil air minum untuk mengurangi batuknya. "Sotonya pedas" jawab Husna asal.

"Bila ada rapat dengan pak Randy, ih ... gaya mereka, malas melihatnya," lanjut Tantri lagi tanpa mempedulikan Husna yang mulai merasa jengah dan tak nyaman.

"Ya ... namanya juga pria tampan dan mapan, wajarlah mereka berlomba-lomba mencari perhatian," Husna mencoba berkomentar yang menenangkan.

Hening sesaat, masing-masing kembali melanjutkan menghabiskan makanannya. Lalu Tantri menyentuh tangan Husna. Husna menoleh ke arah Tantri yang mengarahkan alisnya ke depan pintu masuk.

"Panjang umur, jarang-jarang lho si bos makan siang di kantin sama kawan-kawannya lagi" bisik Tantri. Husna ikut memandang ke arah pintu depan.

Tampak Randy dan dua orang rekannya memasuki kantin. Dua orang yang ikut mewawancaranya hari itu. Randy sedang bicara dengan serius jadi tidak tahu dengan keberadaan Husna.

Randy dan rekan-rekannya duduk di seberang ruangan tidak jauh dari rombongan wanita -wanita yang diceritakan Tantri tadi. Bisa dibayangkan kehebohan yang terjadi.

"Wajar mereka begitu mengagumi Pak Randy karena mereka tidak di perlakukan seperti kita, kalau sama kita Pak Randy seperti tak punya hati," rutuk Tantri dengan nada cemburu. Husna menoleh ke arah Tantri dan tidak bisa membalas perkataannya.

Husna memperhatikan gerak-gerik Randy yang dengan santai mengambil makanan sendiri di meja makanan dan tidak dilayani. Tidak merasa canggung seperti sudah terbiasa. Bahkan, Randy menyapa dan mengobrol dengan pelayan kantin. Dia tampak ramah, tidak kelihatan kesan bahwa dia adalah orang nomor satu di perusahaan ini. Randy tertawa lebar, hal yang tidak pernah ditemui Husna dalam beberapa bulan ini. Jika melihat semua ini tidak ada yang percaya kalau Randy tak punya hati dan tak peduli dengan orang-orang kecil.

"Ingat suami di rumah, Buk" kata Tantri di telinga Husna, wajah Husna merona. Tantri tertawa, "Jangan sampai kamu seperti mereka, diam-diam mengaguminya."

Husna mendengus, pandangannya beralih ke wanita-wanita yang dimaksud Tantri. Mereka berbisik-bisik dan tertawa cekikikan sambil mencuri-curi pandang ke arah meja Randy dan rekan-rekannya. Husna meringis.

Tantri tertawa lagi, "Kenapa wajahmu seperti itu."

Husna menggeleng, berpikir sejenak lalu, "Apa reaksi mereka seandainya mereka tahu si bos pujaan mereka sudah punya istri," gumam Husna pelan tapi cukup membuat tawa Tantri berhenti.

"Apa maksudmu" tanya Tantri tak percaya. Husna tergagap menoleh ke arah Tantri. Melihat perubahan wajah Tantri, timbul ide di kepala Husna. "Iya, dia punya istri" jawab Husna.

Kepala Tantri menggeleng, tidak percaya, "Tidak mungkin, kalau hal itu terjadi akan ada pesta besar dua hari dua malam."

Tertegun mendengar jawaban Tantri, Husna berusaha bersikap biasa-biasa saja, "Hal itu bisa saja Tantri, misalnya dia menikah karena dijodohkan lalu tak s**a dengan pilihan orang tuanya karena itu dia menyembunyikan pernikahannya" papar Husna dengan mimik sok tahu.

Tantri memandang Husna yg begitu meyakinkan, mencoba mencerna. Lalu, " Kalau begitu, kira-kira siapa gadis malang itu?" tanya Tantri merenung.

Husna mencond**gkan badan,"Aku!" jawab Husna tenang. Mata Tantri terbelalak mendengarnya dia menatap Husna dengan alis nyaris bersatu.

"Kamu?" gumam Tantri, Husna mengangguk. Tantri mengamatinya dengan pandangan menilai. Sesaat suasana di antara mereka tersa tegang.

"Tidak buruk, kamu nggak jelek-jelek amat," kata Tantri kemudian "tapi sayang..." lanjut Tantri sengaja menggantung, Husna deg-degan.

"Itu hanya dimimpimu Husna, kamu jangan mimpi di siang bolong" kata Tantri gusar.

Dengan tidak bersuara Husna tertawa lepas, Tantri berhasil dikerjainya meskipun hatinya terasa teriris.

"Jangan buat gosip Husna, tidak lucu! Duh, jantungku rasa mau lepas," Tantri bersungut-sungut. Tawa Husna bertambah.

Inilah kebahagiaan Husna akhir-akhir ini. Kesibukan kerja, bertemu dan bercanda dengan Tantri. Beban yang ada tidak begitu terasa.

Husna tidak mempedulikan Tantri yang masih mengomel, tawanya tetap berderai. Sesekali dia menimpali omelan Tantri. Tanpa dia sadari sepasang mata tidak berhenti memandangnya.
***
"Kamu yakin keputusanmu itu tidak akan menimbulkan masalah Randy?" kata Reza di sela-sela makan siang mereka.

Siang ini mereka makan di kantin pabrik. Ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan jadi Randy mengajak rekan-rekannya makan siang di tempat makan yang dekat saja.

Randy mengangguk, " Iya, aku sudah memikirkan baik buruknya serta solusi apabila nanti terjadi masalah." Sekilas matanya mengitari ruangan kantin yang ramai. Tempat yang biasa dia kunjungi apabila waktunya sempit dan tidak sempat makan di luar. Sedikit ada kilat di mata Randy ketika melihat kelompok wanita-wanita yang mencoba menarik perhatiannya, tetapi hanya sesaat Randy kembali bersikap biasa.

"Jadi kamu sudah menyiapkan semua?" tanya Reza meyakinkan. Randy mengangguk mantap,"Aku akan segera menemui Bang Ilham." jawab Randy dan tak sengaja matanya tertumbuk ke arah seberang ruangan. Tampak Husna sedang makan dan mengobrol dengan kawannya.

Randy mengamati Husna, gadis itu kelihatan ceria. Sama sekali berbeda dengan keadaan sehari-hari apabila mereka bertemu di rumah. Husna banyak diam dan wajahnya selalu muram.

Randy tertegun sejenak, mengernyit menatap Husna yang sedang tertawa. Ini yang pertama kali dilihatnya. Wajah polos dan alami Husna tampak bercahaya dan mempesona. Dengan riasan sederhana dan tampil apa adanya Husna tampak berbeda dengan perempuan-perempuan yang mengitarinya.

Randy mengamati Husna dalam diam, gadis itu tampak cantik. Cantik dengan caranya sendiri dan alami. Kecantikannya terpancar yang berasal dari dalam jiwa. Randy terpana dan terpesona.

"Randy?"

Randy tersentak. Tergagap menoleh ke arah Reza. "Ya?"

"Kapan kita menemui Bang Ilham" tanya Reza keheranan.

"Oh, sorry." jawab Randy tergagap. Dia memusatkan perhatiannya dan berusaha fokus. "Nanti malam kita menemui dia," lanjutnya kemudian, lalu kembali memandang Husna yang berjalan keluar sampai gadis itu hilang dari pandangannya.

Randy menarik napas, menyadari dia terpesona kepada Husna. Sesuatu yang tak pernah diduga dan dipikirkannya. Dan Randy tidak memungkiri ada perasaan aneh merayapi hatinya.
***

Perlahan Cinta Menyapa (6)
Afriyenni Jamsukin

Tamat di KBM Applikasi,

https://read.kbm.id/book/detail/4cd78023-ab63-73ca-8334-f8c0ecd60647?af=83ec6b84-9889-5d11-605e-3aac9214f539

Yang ingin gabung grup grup baca Telegram silahkan hubungi kontak, 082179886083

Sudah Transfer Semua Ga-jinya, Tapi Sang Kakak Masih Bilang: "Kamu Pe-lit!"bab 7 Kafe itu kecil, tetapi nyaman, dengan a...
05/06/2026

Sudah Transfer Semua Ga-jinya, Tapi Sang Kakak Masih Bilang: "Kamu Pe-lit!"

bab 7

Kafe itu kecil, tetapi nyaman, dengan aroma kopi yang memenuhi udara dan suara musik lembut mengalun dari pengeras suara. Aluna menatap jam tangannya, lalu kembali menatap pintu masuk. Hatinya berdegup sedikit tidak nyaman. Ia tahu, pertemuan kali ini bukan untuk sekadar ngobrol santai seperti dulu.

Tak lama, Fara masuk dengan langkah tergesa. Kakaknya itu langsung melangkah ke mejanya tanpa senyum, duduk, dan menaruh tas dengan gerakan sedikit kasar.

“Mau pesan apa, Mbak?” tanya Aluna pelan, mencoba menjaga suasana tetap tenang.

“Enggak usah. Kita nggak usah lama-lama,” jawab Fara ketus dan lebih terang-terangan sekarang. “Langsung aja ya. Aku butuh uang.”

Aluna terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Maaf, Mbak. Aku belum bisa kasih sekarang. Aku belum gajian.”

Fara mengangkat alisnya. “Lho, bukannya kamu udah kerja ya di lembaga riset apa gitu? Ibu yang bilang. Sampai-sampai kamu berhenti ngajar privat karena fullday kerjanya. Gajinya pasti gede, kan?”

“Iya, baru kerja dari awal bulan ini. Ga-jiannya bulan depan,” jawab Aluna.

Fara mendecak pelan, lalu mencond**gkan tubuhnya ke depan. “Jangan pelit d**g, Luna! Kamu tuh S2! Masak kalah sama aku? Kamu belum nikah, belum punya anak, enggak banyak pengeluaran. Harusnya bisa bantu mbakmu yang lagi susah, d**g!”

Kata-kata itu menghantam dada Aluna. Ia menunduk sejenak, lalu berkata hati-hati, “Aku nggak pelit, Mbak. Aku cuma belum punya uang sekarang, tapi nanti kalau udah gajian, aku kasih.”

Fara menyilangkan tangan. “Kapan ga-jiannya?”

“Awal bulan depan.”

“Ya udah, aku tunggu,” jawab Fara ta-jam. “Tapi jangan alasan lagi, ya.”

Sikap Fara makin blak-balkan dan berani meminta u.a n g ke Aluna tanpa ada rasa bersalah lagi.

“Nara sama siapa, Mbak? Tumben nggak diajak.”

“Lagi sama kakeknya,” jawab Fara.

“Mbak rapi banget mau kemana habis dari sini?” tanya Aluna.

“Kamu detektif? Nanya-nanya aja. Oya, pesenin aku makanan terenak di sini. Lapar belum makan.”

“Iya, Mbak.”

Aluna merasa kakaknya agak berubah dari yang biasanya kalem dan anggun, tapi sekarang terlihat lebih nyentrik dan berani dalam berpakaian.

***

Tepat di tanggal yang dijanjikan, Aluna menerima gajinya. Jumlahnya tak seberapa besar, tapi cukup untuk menutupi kebutuhan bulanan dan sedikit ditabung. Dengan berat hati, ia mengirim u. a n g 5OO ri-bu ke re-ke ning Fara, berharap itu bisa sedikit membantu.

Namun, harapannya tak berlangsung lama. Beberapa jam kemudian, telepon dari Fara masuk.

“Cuma segini?” Suara Fara di ujung sana terdengar kecewa dan marah. “Kamu pikir ini cukup buat apa, Luna? Nggak kerasa sama sekali!”

Aluna mencoba menjelaskan, “Mbak, aku juga butuh buat makan, transport, dan buat Ayah Ibu.”

“Kamu belum punya anak! Belum punya suami! Masa pengeluarannya lebih gede sama aku yang harus ngurus anak dan suami. Ayah Ibu sudah ada penghaslan sendiri dari toko buat apa kamu kasih-kasih juga.”

Aluna terdiam. Lidahnya kelu. “Setidaknya Luna ingin nyisihin juga buat Ayah Ibu di g a ji pertama ini supaya dapat berkah.”

“Kamu sengaja, ya?” lanjut Fara dengan nada tuduh. “Sengaja nyimpen uang buat kamu sendiri. Nggak mau bantu kakak kandung! Kamu pikir aku ini siapa? Memangnya berkah hanya dari Ayah dan Ibu. Ngasih ke kakakmu juga bisa dapat berkah.”

“Mbak... bukan gitu. Aku…”

“Udah! Aku tahu kamu pasti ga jinya gede. Kamu tuh pelit. Mentang-mentang udah S2, udah kerja, terus lupa sama kakak kandung sendiri.”

Aluna menggenggam ujung baju panjangnya. Suara-suara di sekelilingnya mengabur. Kata-kata Fara berputar di kepalanya, “Kamu belum nikah, belum punya anak, harusnya bantu kakakmu ini.”

Rasa bersalah menjalar seperti kabut. Ia merasa ja-hat, merasa egois. Bukankah seharusnya ia membantu? Bukankah ini keluarga? Bukankah selama ini, ia yang dibantu ketika masih kuliah?

Dengan tangan gemetar, Aluna membuka aplikasi b a n k di ponselnya. Ia transfer hampir seluruh sisa gajinya ke rekening Fara. Hanya menyisakan satu juta rupiah, itu pun ngepas banget untuk makan siang dan transportasi selama sebulan ke depan.

Setelah transfer selesai, ia mengirim pesan singkat.



Mbak, maaf ya. Ini semua yang aku bisa kasih bulan ini, semoga cukup ya buat bantu kebutuhan di rumah.

Pesan itu hanya dibalas dengan.



Oke.

Dingin. Tak ada terima kasih. Tak ada empati, tapi Aluna mencoba tidak berharap. Ia hanya ingin tenang.

***

Malam itu, Aluna duduk di kasur tipis kamarnya yang sempit. Lampu belajar menyala redup. Di atas meja, ada daftar kebutuhan yang ia coret satu per satu: sabun muka, vitamin, transport, bahkan pulsa.

Ia mengambil napas panjang, mencoba merasionalisasi semuanya. Namun, rasa sesak tak juga pergi. Di ponselnya, muncul notifikasi video yang dikirim Fara, di situ anaknya Fara, Nara, sedang makan ayam goreng cepat saji. Di latar belakang, televisi menampilkan film dari saluran ber ba-yar. Ada gelak tawa, ada kebahagiaan.

Aluna menatap layar itu lama. Matanya panas. Bukan karena iri, tapi... lelah.

Apakah ia salah kalau ingin menyisihkan sedikit untuk dirinya sendiri? Salahkah kalau ia ingin merasa aman, meski hanya sejenak?

Paginya, Aluna memberanikan diri bertanya lewat telepon, “Mbak, maaf ya, aku nanya. Suaminya Mbak belum dapat kerja lagi?”

Fara menjawab cepat, “Sudah, tapi ga-jinya nggak sebesar dulu. Nggak cukup buat sehari-hari.”

“Oh...” Aluna mengangguk meski tak terlihat.

“Tapi kamu tenang aja,” lanjut Fara. “Kalau bulan depan kamu udah gajian lagi, bantu lebih banyak ya. Nara lagi butuh les juga dan aku mau buka usaha kecil-kecilan.”

Aluna menggi-git bibirnya. “Insya Allah, Mbak.”

Setelah menutup telepon, Aluna menatap kalender di dinding. Tanggal merah semakin dekat. Bulan berganti, tagihan datang, dan hidup terus berjalan. Namun, siapa yang benar-benar peduli apa yang ia rasakan?

Dalam sunyi, ia berkata pelan, hanya untuk dirinya sendiri,

“Aku bukan mesin A T M. Aku juga manusia.”

Namun seperti biasa, suara itu hanya terdengar oleh dinding kamarnya.

***
judul: Aku Anak Tengah, Bukan Mesin A T M
penulis: windrayu
novel KBM App

PYDL 7 ☞ Ancaman∘₊✧---✧₊∘“Kita p**ang, ya? Ayah sudah bahagia dan tidak lagi merasakan sakit, sekarang waktunya kita mel...
05/06/2026

PYDL 7 ☞ Ancaman

∘₊✧---✧₊∘

“Kita p**ang, ya? Ayah sudah bahagia dan tidak lagi merasakan sakit, sekarang waktunya kita melanjutkan hidup,” ucap Muhammad lembut dan Kanaya menatapnya gamang dengan tatapan sayu.

Lama perempuan itu duduk di atas tanah basah dekat nisan sang ayah, bahkan sampai adzan dzuhur Kanaya masih betah duduk di sana ditemani Muhammad yang setia. Rasa takut karena tak akan ada lagi lelaki yang menyayanginya membuatnya tetap menunggu, siapa tahu akan ada keajaiban, ayahnya hidup kembali.

Namun, nyatanya, tidak. Kanaya benar-benar telah ditinggal sendiri. Tak ada ibu, tak ada p**a ayah yang merupakan keluarga satu-satunya yang ia punya selama ini.

Akhirnya, ia mau diajak p**ang dan menapaki rumah yang sudah ... sepi. Lelaki yang biasa duduk di kursi rotan sudah tak ada. Pun yang biasa menyapanya ketika p**ang dan memanggilnya si gadis pemarah. Bayangan itu kembali terburai, seolah Kanaya melihat rekam ulang di mana kehadiran ayahnya.

Hari demi hari Kanaya lalui dengan diam, beruntung sudah ada Muhammad yang membantu untuk merawatnya. Lelaki itu selalu telaten dan gesit mengurusnya seperti seorang anak yang membutuhkan bantuan orang dewasa.

”Aku mau berangkat kuliah. Sudah lama aku gak masuk kuliah. Sudah seminggu lebih,” kata Kanaya.

Ia menghidupkan ponselnya yang lama tak terurus sampai baterainya lowbat. Ia pun lekas mengecas dan menghidupkan untuk melihat pesan-pesan yang masuk.

“Yakin sudah baikan? Aku sudah minta surat ijin pada kampus dan Bu Indri,” kata Muhammad duduk di kursi menghadap sang istri yang ada di kasur.

Kanaya menoleh, menatap Muhammad, suaminya. Meski mereka sudah berada dalam satu atap rumah yang sama, namun lelaki itu selalu sopan dengan tidak menyentuhnya selain pelukan di kala ia kembali menangis mengingat sang ayah, juga saat tidur, Muhammad akan tidur di sofa ruang tahu karena hanya ada dua kamar di sana. satu milik Kanaya, satu lagi mendiang mertuanya.

“Makasih sudah mengurusku,” ungkapnya mengulas senyum dan untuk pertama kalinya Kanaya melihat Muhammad tersenyum.

“Seperti amanah ayahmu, aku berjanji untuk menjagamu. Menjagamu, sekarang adalah tanggung jawabku.”

Kanaya mengangguk, hatinya tersentuh melihat ketulusan Muhammad padanya yang sudah menepati janji dengan sang ayah. Bahkan, tak sedikitpun lelaki itu mengambil kesempatan di saat ia larut dalam duka.

“Sekali lagi makasih sudah menjagaku, tapi aku harus masuk kuliah, sebentar lagi ujian semester,” katanya sambil memasukkan buku mata kuliahnya, Kanaya melihat ponselnya yang tak henti bersuara.

Ia pun melihat pesan chat teratas, dan itu dari Rivan yang sudah lama tak terdengar kabarnya.

[Beb! Aku gak terima kamu putusin. Kita bisa bicara baek-baek. Aku juga akan melamarmu di depan ayah sekarang juga kalo kamu mau. Atau aku langsung ke rumahmu aja sekarang?]

Itu chat terbawah dari Rivan yang mengatakan kalau ia tak ingin putus dengan Kanaya, tertanggal 21 Februari sebelum Kanaya memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan tiga hari sebelum ia menikah.

Sejak tahu penyakit Ridho, Kanaya memang memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Rivan, lelaki yang jelas tidak mendapat restu ayahnya karena menurut Ridho, Rivan hanya menginginkan Kanaya karena napp suu semata, bukan murni karena Kanaya. Terlebih, Ridho tidak pernah membenarkan putrinya berpacaran sebelum halal sebab itu juga mereka diam-diam walau ketahuan juga.

Namun, Rivan tidak setuju mereka putus sampai akhirnya Ridho sakit dan terakhir meninggal membuat Kanaya tidak bisa lagi bertemu dengan lelaki yang ia cintai.

Komunikasi pun sempat terputus sampai lanjut dengan duka kepergian ayahnya hingga kini.

Rentetan chat Rivan ia baca semua tanpa terkecuali, sampai di pesan terakhir, Kanaya tertegun dan terperanjat.

Sebuah foto dikirim padanya. Foto dirinya tanpa sehelai pun benang menempel di tubuhnya, foto itu dikirim Rivan tanpa di blur, sangat jelas dan wajahnya yang terpejam pun, jelas terlihat di layar ponsel.

[Aku dapet foto ini dari seseorang, gak tau kamu sudah berbuat apa dan sama siapa, tapi aku gak peduli, dan entah bagaimana tanggapan suamimu kalau tau foto ini jika aku sebar ke media.]

[Aku tau kamu sudah nikah diam-diam tanpa persetujuanku, Beb. Aku juga tau kalau ayahmu hari ini meninggal. Kalau kamu gak ingin foto yang aku kirimkan ini tersebar, maka ceraikan suamimu dan kembali padaku!]

[Karena dia juga aku gak bisa datang ke rumahmu karena selalu ada penjagaan ketat di sana. Cepat hubungi aku atau kamu akan menemukan foto ini di media sosial. Asal kamu tau aja, aku masih banyak menyimpan foto seperti ini, Beb. Cepat, kembalilah padaku! Atau kamu akan melihat fotomu yang lain lewat sosial media.]

Tangan Kanaya gemetar, napasnya memburu, hingga membuat ponsel yang ia pegang jatuh tiba-tiba.

Ia lupa, tujuannya hari itu kalau ingin mencari dalang dari penyebab kejadian itu ada. Tapi, karena perginya Ridho, Kanaya sama sekali tak ingat akan tekadnya. Bahkan, lupa soal kejadian di mana tubuhnya harus terlepas dari pelindungnya.

“Kamu kenapa?” Muhammad terlihat bingung, ia hendak mengambil ponsel yang jatuh, tapi Kanaya buru-buru mengambilnya dan mematikan ponselnya dengan segera supaya Muhammad tidak melihat fotonya yang tanpa busana atau membaca pesan chat dari Rivan.

“Gak, gak papa. Aku … harus berangkat ke kampus, takut … terlambat,” jawab Kanaya gemetar, ia pun mencabut asal ponsel yang bahkan belum penuh terisi daya, lalu mengambil tas dan berlari.

“Akan aku antar,” cegah Muhammad menarik tas istrinya dengan tatapan menyelidik.

Ia seorang pembaca pikiran, pembaca strategi, tentu apa yang tersirat dari raut wajah istrinya dapat ia mengerti kalau ada yang tidak beres telah terjadi.

“Aku bisa berangkat sendiri, gak perlu diantar kayak anak kecil seperti yang kamu bayangkan!” jawab Kanaya ketus dan Muhammad hanya bisa melepaskan istrinya pergi sendiri.

Kanaya mengambil motor miliknya di garasi, lalu berangkat dengan tergesa tanpa tahu kalau Muhammad bersama anak buahnya mengikuti dari belakang.

“Nanti saat aku berangkat kerja, kalian jaga dia ke mana pun dia pergi tanpa harus dia tahu kalau ada kalian yang mengikuti, paham? Kecuali aku yang meminta kalian muncul di depannya.”

“Siap Kap!”

PYDL

Tiba di kampus, Kanaya gegas menuju kelas untuk mencari Rivan. Saat akan masuk ke dalam lift lantai satu, ia bertemu Rivan di sudut anak tangga berkumpul dengan teman-teman basketnya.

“Rivan!” panggil Kanaya bergetar. Demi apa ia malu melihat Rivan karena lelaki itu jelas sudah melihat bagian tubuhnya yang seharusnya tertutup. Tubuh yang seharusnya ia berikan untuk suami atau mahramnya.

“Hai Beb?" Rivan tersenyum lebar penuh arti.

"Kamu sudah masuk? Sudah baikan? Aku turut berduka ya, atas meninggalnya ayahmu,” ucapnya berdiri sambil melirik pada teman-temannya, pamit “Aku temani pacarku dulu?”

Rivan menjauh dan tangannya langsung ditarik Kanaya ke sudut, dekat ruang prodi. Lelaki itu pun tersenyum senang. Tatapannya selalu tajam menelisik wajah Kanaya yang cantik, manis juga imut, pemilik wajah baby face.

"Santai Beb. Kok kayak gak sabaran gitu. Mau apa? Mau cium aku?"

Kanaya mengepalkan tangannya, detak jantungnya bergemuruh hebat. Saat langkah berhenti, di sana Kanaya melayangkan tangannya sekuat tenaga penuh emosi hingga membuat p**i Rivan memerah.

“Apa maksudmu mengirimkan aku foto itu? Siapa yang mengirimnya padamu?” jerit Kanaya dengan air mata yang sudah jatuh, tatapannya terlihat kecewa pada Rivan.

Ia tak peduli ada beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya juga Rivan, dalam pikirannya hanya ingin lepas dari bayangan fotonya sendiri dan menghapusnya tanpa ada lagi jejak yang tersisa.

"Tega kamu, Van sama aku. Kamu bukannya melindungiku malah mengancamku dengan foto itu. Itu bukan aku!" katanya tak ingin mengakui.

"Oh, iyakah itu bukan kamu?" ledek Rivan. "Kalau aku jahat, sudah aku sebar fotomu karena kamu sudah melakukan hal menjijikkan itu dengan orang lain, Beb," desisnya.

"Aku gak nyangka kamu ternyata semurah itu, tahu seperti itu sudah aku lakukan hal yang sama sebelum mahkotamu diambil orang lain," ejek Rivan tertawa. “Aku bisa menyebar foto itu atau menjual foto-fotomu kalau aku mau, tapi aku hanya memberikan foto itu ke kamu.”

Sekali lagi Kanaya menampar Rivan untuk melepaskan emosinya. Rasa kesal, marah juga malu membuat Kanaya lepas kendali. Ia pun ingin kembali menampar Rivan, tapi kali ini berhasil Rivan tepis.

“Aku apa? Aku sudah melihat betapa munafiknya kamu bersembunyi di balik kerudungmu itu, Beb. Tapi aku s**a dan aku semakin ingin melihatmu seperti di dalam foto itu secara nyata.”

“Kamu?!”

Dulu ia menganggap Rivan adalah lelaki baik, lelaki yang tepat untuknya, lelaki yang tulus mencintainya. Tapi sekarang setelah ancaman itu datang dan betapa berbisa kata-katanya, Kanaya menyesal. Jika benar Rivan mencintainya, seharusnya Rivan menyimpan dan menyembunyikan foto itu atau lebih bagus lagi menghapusnya atau mungkin bisa mencari siapa pengirimnya tanpa harus berkata apapun padanya.

Namun, sekarang, Rivan seakan berubah menjadi laki-laki yang tak ia kenal. Beringas dan mengerikan.

“Katakan, siapa yang ngirim foto itu ke kamu? Aku mau kamu hapus semua fotoku. Sekarang!” desis Kanaya dengan napas memburu dan tangan mengepal menahan emosinya yang meledak.

“Menghapusnya? Aku bisa rugi, d**g,” jawab Rivan tersenyum.

“Gak peduli siapa yang mengirimkan foto itu padaku, yang jelas kamu adalah milikku!” ucap Rivan mendorong Kanaya ke tembok, lalu menguncinya dan menekan dagunya agar menatapnya. Tatapan itu bahkan terlihat bernap suu ketika melihat bagaimana sosok Kanaya yang tampak lebih cantik setelah lama tak terlihat olehnya.

“Rivan! Jangan gila. Ada apa denganmu? Kenapa aku gak kenal kamu? Jahat kamu, Van!”

“Jahat? Ya, aku jahat. Tapi aku justru ingin memakanmu sekarang. Aku ingin membawamu ke hotel.”

“Rivan kamu –“

Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat tepat mengenai Rivan hingga tubuhnya terhuyung jatuh cukup keras menabrak dinding, lalu merosot ke bawah.

“Jangan sentuh Kanaya!”

Bersambung ...

Judul: Perempuan yang dijaga Langit
Napen: ceisyaarsy
Status: NOVEL TAMAT

Baca selengkapnya hanya di KBM APP

Address

Sidoarjo
62256

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ryuji Win 2 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share