01/08/2026
JANJI DARI MASA LALU
Aku Dicampakkan karena Pria Lain, Tapi Kenapa Saat Bertemu lagi Dia Belum Menikah? Apa Alasan Sebenarnya dia meninggalkanku? Rahasia Apa yang Dia Simpan? Aku Harus Tahu!
Part 5~ POV Nada
“Tidak!” ucapku spontan dengan nada tegas, tanpa pikir panjang. Jawaban refleks yang langsung keluar tanpa bisa kutahan dan tidak mau ditawar lagi.
Semua orang langsung menatapku, termasuk Kalvin. Reaksiku tampaknya mengejutkannya. Ada sedikit ekspresi kecewa di matanya, meskipun dia berusaha menutupinya dengan tersenyum tipis.
“Bercanda, kok, Nad,” kata Kalvin pelan, mencoba mencairkan suasana.
“Itu nggak lucu,” balasku, sedikit bergetar karena merasa canggung.
“Nggak sopan juga langsung jawab ‘tidak’ gitu, meskipun cuma bercanda. Setidaknya pikirin dulu,” sela Mas Refra, agak memarahiku.
“Kan Kalvin juga bilangnya cuma bercanda, Mas,” ucapku lirih.
Kalvin menarik napas dalam-dalam, terlihat berusaha menutupi rasa kecewanya.
“Maaf ya, Nada, kalau bercandaku malah bikin kamu nggak nyaman,” katanya dengan nada menyesal.
Nada mengangguk pelan, berusaha memperbaiki suasana yang mendadak jadi canggung. Mbak Arini menepuk pelan punggungnya, sementara Ibu hanya diam, sepertinya agak kecewa. Apa mereka benar-benar berharap perkenalan ini berlanjut jadi perjodohan? Sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik dan nggak mau coba-coba.
“Nada, kamu sudah punya cowok yang kamu s**a ya?” tanya Kalvin, mencoba menggali kehidupan pribadiku lagi. “Atau mungkin sudah ada yang janji sehidup semati sama kamu?” lanjutnya, sepertinya sedang mencoba mengkonfirmasi dugaannya.
Aku menarik napas, lalu menjawab dengan tenang, “Maaf, Kalvin, tapi itu sudah masuk ranah pribadi. Nada nggak ingin jawab.”
Aku sudah berusaha sesopan mungkin menanggapinya. Aku berharap ada yang mengalihkan topik, tapi semua malah terdiam, seolah menunggu jawaban lebih. Sepertinya mereka sepakat ingin mengorek lebih dalam.
“Kenapa nggak bilang aja kalau memang ada yang kamu s**a? Jangan-jangan bertepuk sebelah tangan atau cowoknya nggak bertanggung jawab?” seloroh Kak Refra sambil geleng-geleng kepala.
Aku hampir terpancing, tapi aku berusaha tetap tenang. Kalvin pun tampak semakin tertarik, mendekat sedikit dan berkata, “Nggak apa-apa, Nada. Kan bisa berbagi cerita dengan keluarga di sini. Kalau cowok itu nggak baik, kami bisa kasih saran.”
Aku menggigit bibir, berusaha menemukan kata-kata yang tepat. “Tapi, Kalvin, kamu kan bukan keluarga Nada,” jawabku, berharap ini cukup untuk mengakhiri pembicaraan.
Namun, Kalvin hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, jelas masih penasaran. Dia melirik Kak Refra, seolah meminta bantuan.
“Ya udah, anggap Kalvin cuma teman. Tapi kami, keluarga kamu, berhak tahu. Kamu punya seseorang yang spesial nggak, Nad? Siapa namanya? Kamu udah punya pacar, tapi nggak bilang-bilang sama Mas atau Ibu?” desak Mas Refra, matanya menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku terdiam, mungkin aku memang harus berterus terang, supaya nggak memberi orang lain harapan yang salah di sini. Padahal, hubunganku dengan Sena pun nggak punya status yang jelas. Kami nggak pernah menyebut ini sebagai "pacaran." Dia hanya memintaku untuk menunggu, dan aku mengiyakan.
Kami nggak pernah benar-benar berkomunikasi selama bertahun-tahun. Sekalinya dia menghubungi dan lagi-lagi dia hanya memintaku menunggu. Kalau aku cerita semua ini, mungkin mereka akan langsung menilaiku bodoh karena mau-mau saja menunggu tanpa kepastian.
“Sudahlah, biarkan Nada punya privasinya,” ucap Ibu, akhirnya membelaku.
“Tapi Bu, nggak penasaran apa cowok yang dis**ai Nada itu kayak gimana? Usianya sudah 27, loh, harus mulai serius cari pasangan,” sahut Mas Refra seolah-olah umur 27 itu sudah terlambat. Seolah-olah kalau nggak segera menikah, aku bakal dilabeli "tidak laku" di pasaran seperti barang dagangan.
“Mas Refra kan nikahnya juga umur 35. Jadi, usia 27 itu belum terlambat, kan?” jawabku, mencoba mengingatkan bahwa nggak ada patokan kapan seseorang harus menikah.
“Mas kan laki-laki, Nad. Mbak Arini aja nikah sama Mas waktu umur 25. Lebih muda dari kamu sekarang,” balasnya lagi.
“Jodoh dan maut kan rahasia Tuhan, Mas. Nggak bisa dibanding-bandingin kayak gitu,” ucapku, suaraku sedikit meninggi.
Nada bicaraku yang tegas berhasil membuat percakapan terhenti sejenak. Kalvin pun diam, nggak menanggapi lagi.
Tiba-tiba terdengar bunyi dering ponselku yang kutinggal di kamar. Aku sengaja nggak mematikan suaranya.
“Maaf, sepertinya Nada ada telepon. Permisi dulu, ya,” ucapku dengan sopan sambil menatap Ibu, minta izin.
“Pergilah…” Ibu tersenyum, memberi izin. Mas Refra cuma geleng-geleng kepala.
“Nada, jangan lupa simpan nomorku, ya,” seru Kalvin saat aku mau pergi.
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab, lalu cepat-cepat meninggalkan ruang tamu menuju kamar. Rasanya lega sekali, seolah oksigen di kamar ini jauh lebih banyak daripada di sana. Aku mengecek ponselku—panggilan dari Sena.
“Ya, Sena,” sapaku.
“Sudah kenalannya?” tanyanya, terdengar penasaran.
Entah kenapa aku malah merasa lega. Seolah Sena peduli kalau aku disuruh kenalan dengan cowok lain. “Sudah,” jawabku.
“Terus gimana?” tanyanya lagi
“Terus, ya, sekarang aku malah lagi teleponan sama kamu.”
“Teleponku ganggu, ya?” tanyanya hati-hati.
Aku tersenyum kecil, meskipun Sena nggak bisa lihat. “Nggak kok. Telepon kamu malah penyelamatku. Makasih ya, Sen,” ucapku tulus.
“Penyelamat? Memangnya tadi kenalannya kayak gimana? Bukan kenalan biasa, kan?” Suaranya terdengar cemas.
“Kamu percaya sama aku, kan? Seperti aku percaya sama kamu,” tanyaku, mencoba memastikan.
“Aku percaya,” jawabnya lirih, membuatku semakin yakin dengan perasaanku sendiri.
“Kepercayaanmu itu sudah cukup. Karena itu... aku akan tetap memilih untuk menunggumu,” ucapku akhirnya, kata-kata yang sebelumnya selalu kupendam. Aku nggak peduli kalau orang-orang bilang aku bodoh. Saat ini, hatiku yakin dengan pilihanku.
“Terima kasih, Nada,” jawab Sena, suaranya terdengar lega.
“Kapan kamu pergi lagi?” tanyaku, berusaha menahan rasa sedih yang tiba-tiba muncul.
“Setelah tujuh hari tahlilan ayahku,” jawab Sena.
Aku terdiam, terkejut. “Ayahmu sudah meninggal?” tanyaku pelan.
“Iya. Sudah lama beliau sakit. Dan tadi pagi, akhirnya beliau pergi,” jelas Sena.
“Jadi, sekarang di rumah cuma ada adikmu?”
“Iya, untungnya adikku sudah menikah. Setidaknya, ada yang menjaganya. Jadi, aku nggak perlu terlalu khawatir,” jawabnya.
Perkataannya membuatku berpikir tentang Mas Refra yang selalu mendesakku untuk menikah. Mungkin, dia juga merasa cemas seperti Sena, hanya saja cara menyampaikannya berbeda.
“Kamu pikir semua kakak laki-laki memang selalu khawatir sama adik perempuannya yang belum menikah?” tanyaku.
“Kakakmu nyuruh kamu cepat-cepat nikah?” Sena bertanya, terdengar penasaran.
“Nggak juga... cuma, waktu kamu bilang lega karena adikmu sudah ada yang jagain, aku jadi ingat Mas Refra. Mungkin dia juga merasa seperti itu, cuma caranya aja yang lebih... keras.”
Sena terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Mungkin aku perlu datang ke rumahmu, Nad.”
Aku mengerutkan kening. “Kenapa?” tanyaku, mencoba menutupi rasa gugup.
“Biar aku bisa bilang langsung sama kakak dan ibumu. Biar mereka tahu... Aku akan bilang yang bikin kamu nunggu itu memang aku, tapi aku betul-betul serius dengan hubungan ini dan aku nggak akan biarkan kamu menunggu sendirian terlalu lama.”
Jantungku berdebar kencang mendengar ucapannya. Apa... Sena benar-benar serius? Apa aku harus tolak atau terima permintaannya ini?
~~~
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App.
JUDUL: JANJI DARI MASA LALU
PENULIS: WINDRA YUNIARSIH
USERNAME KBM APP: windrayu