JWriting Soul Publishing

JWriting Soul Publishing Penerbit indie, dan jasa layanan edit dan layout naskah, yang bertempat tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.
(2)

Operating as usual

Segera terbit! Satu lagi buah karya sahabat AMK (Akademi Menulis Kreatif). Kumpulan puisi dan Opini, "Kritik Cinta" #jwr...
01/10/2020

Segera terbit!
Satu lagi buah karya sahabat AMK (Akademi Menulis Kreatif).

Kumpulan puisi dan Opini, "Kritik Cinta"

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#AMK
#kritikcinta

H-3 menjelang berakhirnya PO Watash*tachi no Hikari, nih. Cuzz pesan ke Kak @hopehap25 sebelum harga naik. Hanya 68.000 ...
01/10/2020

H-3 menjelang berakhirnya PO Watash*tachi no Hikari, nih. Cuzz pesan ke Kak @hopehap25 sebelum harga naik.

Hanya 68.000
Free bloknote unyu untuk 50 pemesanan pertama.

Yuk, ah ...

😍😍

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#penerbitindie
#jaekho
#watash*tachinohikari
#hope

Watash*tachi no HikariSebuah novel oleh: Kak Jae Kho @hopehap25"Ke mana pun kami pergi, pada akhirnya kembali menuju sat...
24/09/2020

Watash*tachi no Hikari
Sebuah novel oleh: Kak Jae Kho @hopehap25

"Ke mana pun kami pergi, pada akhirnya kembali menuju satu cahaya."

Novel teenlit bersetting Negeri Sakura ini adalah salah satu novel terpilih di event Nulis Novel, bulan Juli lalu. Berkisah tentang Hikari, gadis keturunan Indonesia-Jepang yang akhirnya mengikuti sang mama untuk kembali ke kampung halaman, setelah bercerai. Kehidupan baru pun dimulai, tetapi tidak seindah yang dibayangkan. Keduanya terpaksa terusir dari keluarga besar dan berjuang bersama untuk menata kembali mimpi yang telah hancur. Di saat itulah Hikari bertemu dengan Daichi, remaja yang dibesarkan oleh sang kakek, seorang lelaki mualaf yang begitu sabar mendidiknya. Daichi mulai tertarik pada Hikari dan takdir mereka pun bergulir.

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#penerbitindie
#jaekho
#watash*tachinohikari
#nulisnovel
#remaja
#keluarga
#persahabatan

OPEN POJudul: Raga Pencinta di Pangkuan IlahiPenulis: Takdir Alhabsy Penerbit: JWriting Soul PublishingHarga PO 65.000☘️...
22/09/2020

OPEN PO

Judul: Raga Pencinta di Pangkuan Ilahi
Penulis: Takdir Alhabsy
Penerbit: JWriting Soul Publishing

Harga PO 65.000

☘️☘️☘️

Bandara Melbourne menjadi saksi kecintaan dan keikhlasan seorang anak Bugis yang bermimpi melanjutkan kuliah di Negeri Kanguru, yang harus memilih apakah tetap mengejar mimpi ataukah kembali ke Tana Ogi demi sang ibu. Di saat bimbang memutuskan, dia harus menerima kenyataan pahit dari sang pujaan hati.

Hinaan yang merendahkan membawanya menyusuri dunia kerja, dan di sanalah hati perihnya disapa oleh senyuman penyejuk jiwa. Sinta, yang terpikat oleh kelihaiannya merangkai bait puisi. Rahma, yang tertarik dengan keramahan, kejujuran, dan keuletannya. Nadya Emilia Cortez, seorang gadis Meksiko yang terhanyut oleh kemerduannya melantunkan ayat-ayat indah Ilahi dan keteguhan imannya.

Kepada siapakah hati Sultan berlabuh? Akankah Ilahi Rabbi memilihkan jodoh terbaik untuknya?

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#novelromantis

Apa kenangan paling berkesan bersama ayah?Buku ini ditulis oleh 10 penulis cilik yang mengikuti kels Nulis Bareng untuk ...
20/09/2020

Apa kenangan paling berkesan bersama ayah?

Buku ini ditulis oleh 10 penulis cilik yang mengikuti kels Nulis Bareng untuk Anak #batch2 di bulan Agustus kemarin. Ini adalah kali kedua JWriting Soul Publishing mengadakan kelas menulis untuk anak, setelah kelahiran buku pertama yang berjudul "Malaikat Kecil Pembawa Harapan"

Buku ready.

Harga 50.000

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#bukuanak
#kumpulanceritaanak
#nubaranak2
#akudanayah

Ohayogozaimasu, Hikari, Daichi. Ogenkidesuka?#jwritingsoulpublishing#penerbitsidoarjo#watash*tachinohikari#jaekho#nulisn...
19/09/2020

Ohayogozaimasu, Hikari, Daichi. Ogenkidesuka?

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#watash*tachinohikari
#jaekho
#nulisnovel

OPEN PO HINGGA 19 SEPTEMBER 2020Judul: Tribute to Ires: Untaian Kata Penawar RinduPenulis: Ires Restu Indah Fauziah Pene...
11/09/2020

OPEN PO HINGGA 19 SEPTEMBER 2020

Judul: Tribute to Ires: Untaian Kata Penawar Rindu
Penulis: Ires Restu Indah Fauziah
Penerbit: JWriting Soul Publishing
ISBN: 978-623-292-102-3
Dimensi buku: 14x20; 176 halaman

Harga PO Rp 45.000,-

Sebuah persembahan dari AMK Regional Banten untuk Almh. Ires Restu Indah Fauziah. Seluruh keuntungan penjualan buku ini akan dipersembahkan kepada keluarga Almh. Ires.

Pemesanan melalui wa.me/6282123114239

#jwritingsoulpublishing
#penerbitsidoarjo
#penerbitindie

Prank (Kala Mentari Tenggelam) Oleh: Rinanda Testiana14. KenyataanTeguh mengejar Safana yang berjalan cepat menuju area ...
10/09/2020

Prank (Kala Mentari Tenggelam)
Oleh: Rinanda Testiana

14. Kenyataan

Teguh mengejar Safana yang berjalan cepat menuju area parkir sepeda motor. Lelaki itu memanggil dengan suara keras, hingga Safana menghentikan langkahnya.

“Ada apa, Kak?” tanya Safana sopan.

“Fa, kamu ngeliat Tari gak?”

Safana menghela napas. Sebenarnya ia enggan menjawab pertanyaan apa pun tentang Mentari. Sudah dua bulan ini, Tari sangat berubah. Ia tidak lagi mau ke pustaka atau ke tempat mana pun yang biasa ia kunjungi bersama Safana.

“Gak, Kak. Udah dua bulan ini, Safa gak bareng Tari.”

“Kalian marahan?”

“Gak, Kak. Tari kayaknya menjaga jarak dari Safa, dan Safa gak tahu salah Safa apa.”

Teguh mengangguk-angguk.

“Udah tiga hari juga Tari gak masuk, Kak. Tari berubah banget, Kak. Safa takut, dia terjerumus narkoba. Atau ikut-ikutan kak Tio. Mereka, kan, akrab,” sambung Safana.

“Kamu gak nyari ke indekosnya?”

“Udah, Kak. Kosong. Sepi, gak ada orang.”

“Ya udah, Fa, ntar aku cari ke sana. Thankyou, ya.”

Safana tersenyum. Sesungguhnya, ia pun mencemaskan Tari, tapi ia tak tahu ke mana harus mencari Tari.

Teguh berpikir sebentar, kemudian memutuskan untuk mencari Tari ke indekosnya.

***

Tangan Tari bergetar melihat garis dua berwarna merah dari benda berharga lima ribu rupiah yang ia beli di apotek tadi pagi.

Ia berusaha tenang dan membuka satu lagi plastik berwarna biru tersebut, lalu mencelupkannya ke dalam air seni yang telah ia tampung. Tak lama, garis dua jelas terlihat.

Jantung Tari terasa berhenti berdetak. Seperti mimpi, ia masih tak yakin musibah ini menimpa dirinya.

“Apa salahku, ya, Tuhan. Apa?”

Air mata menganak sungai di pipinya. Ia sesenggukan, tangannya mencampakkan test pack jahanam itu. Benda tersebut makin memperjelas firasatnya. Firasat yang sudah ia tekan jauh-jauh ke dasar hatinya.

Harusnya ia tak usah membeli benda itu, lebih baik ia tidak tahu apa-apa. Namun, bagaimana menepis seluruh perasaan tak nyaman di tubuhnya? Meskipun belum pernah mengalami hal seperti ini, sebagainya wanita, Tari punya insting.

“Tari gagal, Bu. Tari gagal jaga diri, gagal jadi kebanggaan keluarga, gagal menyekolahkan adik-adik. Tari gagal memperjuangkan nasib keluarga,” raungnya.

Ia terus menangis, menyesali keteledorannya, meratapi kebodohannya. Tari menghabiskan waktu tiga hari tanpa jeda, sesenggukan sendiri di kamar.

Jika lelah menangis, ia tidur, ketika bangun, ia menangis lagi. Setapak pun Tari tak ada keluar dari kamar. Perempuan lugu itu takut, kehamilannya diketahui oleh penghuni lain.

Bisa jadi, ia akan diusir dari tempat ini, karena sudah memberi aib.

Hari keempat, pukul satu siang, pintu kamarnya diketuk dari luar.

Mata Tari nyaris tidak bisa dibuka karena bengkak, tubuhnya lemah karena sudah tiga hari, tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke lambungnya.

Tari mendiamkan ketukan itu, berharap si tamu pergi karena menyangka Tari tak ada di kamar.

Pintu terus diketuk, karena takut mengganggu penghuni lain, mau tak mau, Tari berjalan tertatih menuju pintu, membuka tanpa melihat dulu melalui jendela siapa tamunya. Gadis itu terkejut, mendapati Teguh berdiri dengan wajah cemas di balik pintu.

Senyum pria itu surut, melihat pucatnya wajah Tari. Kening Teguh berkerut. Matanya menyusuri tubuh Tari dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Rambut Tari yang biasa diikat rapi, kali ini tampak seperti akar pohon, ditambah matanya sangat bengkak membuat Tari terlihat seperti monster.

“Kamu kenapa?” tanya Teguh cemas. Wajah Tari tidak tampak baik-baik saja.

Tari menatap Teguh dengan sorot mata memelas. Ia ingin bercerita banyak hal, tapi takut, Teguh malah mencomooh dirinya. Tari mengerti, kondisinya saat ini tidak mudah diterima oleh orang lain.

“Kamu kenapa?” Teguh mengguncang bahu Tari.

Tari masih membisu. Tak mudah membuka mulut di depan Teguh. Ia pasti akan menyebarkan berita kehamilannya ke seantero kampus. Akhirnya, seluruh mata akan memandang Tari dengan sinis.

Lalu bagaimana kalau bapak dan ibu tahu? Bukan hanya hancur, tapi mungkin mereka langsung mati. Anak kebanggaan, yang menjadi harapan, malah hamil tanpa suami.

“Tar, kamu bisa cerita apa pun sama aku,” ucap Teguh lembut, menyadarkan Tari dari lamunan panjang.

Pertahanan Tari runtuh, tangisnya tumpah di pelukan Teguh. Tari sedang butuh tempat cerita, dan Teguh satu-satunya orang yang ada di depan mata.

Dada Tari naik turun ketika menuturkan kalimat demi kalimat tentang kejadian yang ia alami. Air mata pun ikut berbicara, seperti menjadi saksi mengenai pahitnya kenyataan yang sedang ia rasakan.

Darah Teguh mendidih, lelaki itu meninju tembok kamar Tari hingga tangannya perih.

“Siapa pelakunya?” desis Teguh.

“Kak,” rengek Tari. Ia tak ingin menyebut nama lelaki yang telah menghancurkan masa depannya.

“Bilang sama aku!” Suara Teguh meninggi, membuat Tari semakin takut.

Gadis itu membisu, tubuhnya semakin lemah. Dengan kondisi mental yang sedang rapuh, bentakan Teguh membuat perasaannya tambah kalut.

Teguh mengambil napas, berusaha tenang. Ia tahu, Tari sedang tak bisa menerima sikap keras.

“Tar, kasih tahu aku, siapa yang udah jahatin kamu.”

Pengakuan itu pun meluncur dari mulut Tari.

“Tio harus tanggung jawab.” Teguh mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Kak ..., t-tapi,” bisik Tari.

“Udah! Kamu diem aja! Kali ini, Tio udah kelewatan, Tar.”

Teguh menempelkan ponsel ke telinganya. Tak ada nada sambung. Handphone Tio tidak aktif.

“Sialan! Gak aktif!”

Tangis Tari makin kencang. Padahal, ia sedikit berharap Teguh berhasil menghubungi Tio. Entah untuk apa, tapi jika Tio tahu akibat dari perbuatannya, mungkin beban Tari akan lebih ringan.

“Mungkin, Tio sengaja menukar nomor ponselnya, Tar, karena dia gak mau kamu teror.”

Tari menunduk. Air mata rasanya sudah kering hari ini. Bahkan, marah pun ia tak sanggup. Kepalanya pusing, mungkin karena sudah tiga hari tidak makan. Ditambah, rasa mual yang baru hari ini ia rasakan. Tari seperti sedang di atas mobil, tubuhnya seperti diguncang kuat.

Tari berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Kenyataannya, hanya air yang keluar dari mulutnya. Kepalanya seolah berputar-putar, perutnya pun sama. Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, pandangan Tari mendadak gelap.

Teguh memikirkan nasib Tari dengan iba. Gadis sebaik Tari, entah mengapa mendapat cobaan sedemikian beratnya.

Suara benda keras terjatuh mengganggu lamunan Teguh. Pemuda itu berlari ke belakang, dan mendapati Tari tergeletak tak sadarkan diri di depan kamar mandi.

“Tari astaga! Kamu kenapa?” Teguh mengangkat tubuh Tari ke atas kasur tipis, Satu-satunya kasur yang ada di kamar itu.

“Tar, bangun.” Teguh menepuk-nepuk pipi Tari. Mata gadis itu masih tertutup, belum ada tanda-tanda ia sadar.

“Duh, bisa disalahin gue kalo ada yang masuk,” gumam Teguh. Lelaki itu berpikir ingin meninggalkan Tari sendirian, tapi, melihat wajah tirus dan pucat itu, ia sungguh tak tega.
Akhirnya, Teguh memutuskan tetap berada di sana, menunggu Tari sadar.

~ bersambung

Prank (Kala Mentari Tenggelam) Oleh: Rinanda Tesniana13. Mencari TariTio menjadi bahan ejekan teman-temannya gengnya, se...
10/09/2020

Prank (Kala Mentari Tenggelam)
Oleh: Rinanda Tesniana

13. Mencari Tari

Tio menjadi bahan ejekan teman-temannya gengnya, sebab, ia bersikeras tak mempublikasikan video prank Tari.

“Dasar cemen lo!” maki Geo. Pemuda itu malu, karena ia sudah sesumbar di medsos, akan ada kejutan di channel youtube lelaki malam-channel milik Tio dan geng-yang berbeda dari biasanya.

Selama ini, mereka hanya meng-upload video mengenai jajanan malam atau petualangan dari satu klub ke klub lain. Belum pernah membuat content selain itu.

Komentar positif sudah diterima oleh Geo. Rata-rata, teman-temannya penasaran dan menunggu video yang Geo maksud, dan sekarang, Tio membatalkan seenaknya.

“Setan lo! Nanti gue pikirin content lain, video tentang Tari, udah gue delete semua.” Tio tak kalah keras memaki Geo.

Wajah Tio memerah, dadanya turun naik menahan amarah. Baru kali ini, ia berhadapan dengan seluruh anggota gengnya seperti musuh, dan berada dalam posisi terpojok. Biasanya, ia adalah orang paling dominan.

“Ah, udah gak asyik!” Sonny menunjuk hidung Tio dengan geram. “Lo udah bikin malu, Yo. Elo yang sesumbar, elo yang memulai! Semua rencana berasal dari otak lo! Lo beneran suka sama anak culun itu? Sampe menghapus semua video yang udah susah payah kita buat,” ejeknya.

“Jaga mulut lo, Son! Gak semuanya mesti lo hubungkan sama perasaan gue.”

“Terus apa? Kalo bukan suka, apa? Lo cinta? Sayang! Najis!” maki Geo.

“Berengsek!” Tio berteriak.

“Elo yang berengsek!” balas Aldy.

Tio menggeram, lalu ia berlari meninggalkan kerumunan gengnya.

Di dalam mobil, Tio berteriak dengan kalut. Bagaimana mungkin ia tega meng-upload video malam itu? Masih lekat dalam ingatannya, air mata Tari, kesedihan Tari, makian Tari. Lebih gilanya, Tio begitu merindukan Tari. Dia merasa sukar mengendalikan diri.

Tio malah ingin meminta ampun pada Tari akan semua hal yang ia lakukan, bertanya pada Tari, apa yang bisa ia lakukan untuk menebus semua kesalahannya.

Beberapa kali berpapasan dengan Tari di kampus, gadis itu memandang lurus ke depan, seolah ia tak mengenal Tio. Kadang, Tio lemparkan seulas senyuman, Tari bergeming, ekspresinya datar saja.

Tak pernah lagi Tio menjumpai Tari di Pustaka, di kantin atau di ruangan BEM. Tari datang ke kampus hanya untuk kuliah, lalu ia tak terlihat lagi di mana-mana.

Tio tersiksa dengan semua itu. Ia ingin melihat Tari di setiap sudut kampus, seperti biasa. Ia ingin melihat wajah malu-malu Tari ketika sedang digoda, senyum Tari saat melihat wajahnya, atau sekalian, ia ingin Tari muntah lagi di mobilnya.

Pernah, berjam-jam Tio memarkirkan mobilnya di depan indekos Tari. Menunggu Tari muncul, hingga sore, gadis itu tak tampak.

Tak hilang akal. Sekarang, Tio betah mendengar Vira berbicara tentang apa saja, asal jangan mengajak Tio pergi dari teras depan kamarnya. Tio tahan duduk hingga larut malam di sana. Gadis itu bahagia, merasa Tio sangat menyukainya. Padahal, mata lelaki itu melirik kamar Tari, hatinya pun berada di dalam sana.

Tio panik, entah dengan cara apa dia bisa menjumpai Tari.

Tabiat Tio berubah akhir-akhir ini, ia lebih sering marah untuk urusan kecil, ia pun tak pernah nongkrong lagi bersama gengnya. Ia menghabiskan waktu di kampus, mengendus jejak Tari, atau di depan indekos Tari, atau di mana saja, yang ia pikir ia dapat menemukan gadis itu.

Siang itu, Tio sedang berbaring di kamarnya. Ruangan besar itu, penuh dengan asap dari embusan batang nikotin di bibirnya. Sementara, pendingin udara dibiarkan menyala.

Tio menghisap rokoknya hingga habis. Setelah itu, ia mengambil permen karet yang selalu tersedia di laci.

Akhir-akhir ini, begitulah cara Tio menghabiskan waktu, selain ke kampus, ia tidak punya jadwal apa-apa lagi.

Ponsel Tio berbunyi nyaring. Lelaki itu mengumpat. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun.

“Ya, Yah,” jawab Tio ogah-ogahan.

“Yo, cepat balik, ibu masuk rumah sakit.” Ayah berkata dengan gugup dari seberang sana.

“Kenapa?” tanya Tio panik.

“Ibu ..., ibu minum racun serangga,” ujar ayah pelan.

“Setan!” Tio membanting ponselnya hingga hancur.

***

Tari tahu, Tio selalu mengikutinya sejak hari itu. Hari di mana harga dirinya hancur lebur, kehormatannya tercabik, dan semangatnya hilang tak bersisa.

Tari muak melihat wajah Tio-walaupun masih ada cinta di hatinya- ia pura-pura tak peduli.

Lelaki itu acapkali melempar senyuman yang tak pernah Tari balas, bahkan sengaja Tari acuhkan.

Seharusnya, Tari memukuli lelaki itu atas semua perbuatannya. Tak cukup, harusnya Tari mengirim Tio ke balik jeruji besi. Perbuatannya keterlaluan. Tari malu.

Setiap kali berpapasan dengan Tio atau teman-teman gengnya, Tari merasa terhina.
Seperti semalam, ia berselisih jalan dengan Tio di selasar. Tio tersenyum, Tari mengosongkan pandangannya.

Tari datang ke kampus, belajar dan pulang. Ia berusaha tidak berteman dengan siapa pun. Untuk apa? Teguh yang ia anggap baik pun menghinanya. Tio yang ia sukai tak lebih serigala berbulu domba.

Rasanya, Tari ingin menyerah dan kembali ke kampung. Mengadukan semua deritanya pada ibu. Menangis di pangkuan bapak. Namun, Tari tak tega, menggali lubang duka lebih dalam lagi di tengah keluarganya.

Pastilah, ia akan mendapat cemooh jika menyerah sekarang. Pak Aziz akan tertawa keras. Tari tak sanggup membayangkan hal itu terjadi.

“Ayolah, Tar, bangkit! Jangan hancur karena Tio. Anggap saja, kejadian hari itu tak pernah ada.” Tari menyugesti diri sendiri, membangkitkan semangat hidup yang sudah surut, memompa dirinya agar mau belajar kembali.

“Ingat tujuanmu, Tar. Ingat alasanmu memperjuangkan semua ini.”

Tari menatap dirinya di cermin. Perempuan lusuh, dengan tubuh kurus, lingkar mata berwarna hitam dan rambut kusut masai. Tari tertawa. Meskipun bukan perempuan yang sangat modis, Tari tak pernah berpenampilan sekusut ini. Ia selalu menjaga kerapian diri.
Kali ini, Tari terkejut melihat wajahnya sendiri, dan itu membuat ia geli.

“Ini bukan kamu, Tar. Come on, kamu bakal buka praktik sendiri, 'kan? Mewujudkan cita-cita jadi psikolog forensik, masuk televisi ngasih komentar buat kasus kriminal. Ayolah, Tar. Ini belum seberapa. Hidup baru dimulai.”

Tari tersenyum pada pantulan dirinya dalam cermin. Besok, ia akan berubah. Ia akan belajar sebaik-baiknya, kembali menjadi Tari yang rajin dan senang diskusi. Kembali mencari buku di Pustaka bersama Safana, dan menjadi pengurus BEM bersama kak Teguh. Tentu saja, sambil berusaha mengeluarkan Tio dari dalam hatinya.

Tari kadang benci pada dirinya sendiri, seburuk itu perlakuan Ratio padanya, perasaannya untuk lelaki itu, tak pernah berubah.

“Goblok kamu,” maki Tari pada dirinya sendiri.

“Tar ....” Pintu kamar Tari diketuk dari luar. Tari tahu, itu suara Vira.

“Ya, Kak.” Gadis bermata cokelat itu bergegas membuka pintu. “Ada apa, Kak?”

“Tar, minta pembalut, dong. Aku dapet nih, belum sempat keluar buat beli.”

“Sebentar, Kak.”

Tari mencari benda itu di dalam lemarinya.

“Ini, Kak,” ujarnya sambil menyerahkan ke tangan Vira.

“Gak aku ganti, ya.” Vira tertawa.

“Santai aja, Kak,” kata Tari.

Sstelah menutup pintu, Tari baru menyadari sesuatu. Sesuatu yang membuat ia takut. Tari berusaha menepis bayangan buruk yang lewat di benaknya.

“Gak mungkin, gak mungkin.” Ia menggelengkan kepala.

~ bersambung

Address

Sidoarjo

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JWriting Soul Publishing posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to JWriting Soul Publishing:

Videos

Category

Nearby media companies


Other Publishers in Sidoarjo

Show All

Comments

Bagiku, sehari tanpa menulis adalah sehari hilang, terbuang. Howard Fast
Pertama kali saya baca tulisan horor perdana "Evan Tambolang" ini di kumcer PENGAKUAN SEORANG PENYELAM. Nyaris semua kisah horor yang dia paparkan buat saya tercengang. Dengan kejutan tiap endingnya. Di buku perdananya itu dituturkan dengan sangat slow, dengan ide-ide yang tak bisa. Dari halaman pertama sampai akhir tak bisa saya tinggalkan. Karena menegangkan dan menarik. Dibaca sampai habis. Lalu dia menerbitkan kembali kumcer horor kedua bertajuk "RUMAH TAK BERUJUNG" dalam foto yang saya tampilkan ini penampakannya. 😁 Saya penasaran sama ide cerita horor apalagi yang Evan sajikan. Dari halaman pertama sampai hampir ke tengah, sungguh!!! Saya disajikan kisah horor yang tak membosankan. Bahasanya to the point tapi tetap menarik dan setiap cerita gilanya itu adalah, dia bisa mengejutkan saya!! Oh ini cerita horornya lebih greget dari buku perdananya kemarin. Alhasil saya sangat berkesan dengan ide-ide cerita yang dia sajikan. Gila, menarik, tak biasa tapi lebih dapat horornya. Horor dalam kumcer RUMAH TAK BERUJUNG ini bukan hantu-hantuan lho. Tapi sesuatu yang ditampilkan dari sisi lain cerita horor yang belum pernah saya temukan di buku novel horor Indonesia yang pernah saya baca. Mirip-mirip paduannya cerita horor luar negeri tapi tidak klise. Cerita-ceritanya meski singkat tapi, keren sekali. Segar dan tak bosan dibaca berulang. Penasaran dengan bukunya. Kepoin saja Penerbit #JWritingSoulPublishing dan Penulisnya. EVAN TAMBOLANG. 😎👍👍 Saya doakan semoga tulisan-tulisan horor kamu bisa tembus Penerbit Mayor. AAAMIIN.
Selamat Siang.... Paketan bukunya sudah sampai. Terima kasih juga dengan bonusnya. Sukses buat JWriting Soul Publishing. Happy Reading to me ... lagi.. 😍😎
Bambu itu tanda cinta kita lho ya, sahut hati yang menelisik ukiran cantik dari bambu. Rasa ini semakin bergemuruh dengan ukiran yang begitu tajam memandang. Andri, aku rindu kamu, segeralah pulang dan temui aku dengan degupan cinta yang membara. Aku dan hati ini menunggumu, dan akan selalu begitu sampai kau kembali sayang.
rahmat cinta a:seorang pemuda dgn kesederhaan yakin dgn cinta ny akan terwujud meski dy tau cinta ny tdk mndpt restu tp dy tetap berjuang dgn keperyaan b:tetap menant kehadiran sang pujaan ia jg yakin cinta ny akan datang menjemput nya meski jarak memisa kan mereka justru jarak itu menja pupuk kerinduan yg mendalam akhir ny sang pujaan dtg menemui cinta ny mereka minta restu dr ort ny org tua wanita in kagum dgn kebranian n ketulusan pemuda trsebut akhir ny mmbri restu kepda mereka kebagiaan pun nampak di waja psngn in .
judul cerita ketulan cinta berujung bahagia putra. mulai mengenal waja sang pujaan hati timbul rasa suka tapi berjalan ny waktu rasa cinta itu makin tumbuh sementara. futri . yg tampak lugu juga membalas cinta nya putra mereka saling cinta jalinan cinta yg terhalang oleh jarak yg begitu jau menanamkn rasa rindu yang semakin dalam mereka saling percaya dan tdk perna untuk mendua mereka jaga cinta itu meski orang tua tdk merestui ny jalan terbuka buat cinta mereka peria itu memutuskan untuk menemui kekasi ny dgn meninggal kn kampung halaman ny demi restu calon mertua dgn berani dia menemui org tua wanita idaman ny sehingga takdir menyatukan mereka . bait syair bua kisa ini rindu hati kian membara goyakn hati saat gundaku gemetar tampak bertemu pandang rintihan kalbu menusuk hati ku oh cintaku kasiku jgn bunu mati kn cinta mu jgn keringkn rindu di hati mu nnt2 kanla dgn sbr dan tabah sampai tuhan mempertemukan kita di hari yg bahagia