26/11/2015
Zurvive (re-make)
Chapter 5 : "Fake of truth" (NTC story)
11 juni 2014
06 : 38 wib
Setelah melewati kerumunan zombie di kota surabaya, mereka bertiga akhir nya sampai di tempat evakuasi kota madya, banyak sekali tentara dan polisi berjaga di area sekitar, terlihat juga beberapa helikopter pengangkut, entah akan di pindahkan kemana orang-orang ini nanti.
"Hei kalian, cepat berlindung ke sini!! Terlalu berbahaya di situ!!", kata seorang tentara kepada mereka bertiga.
"Baik pak!", jawab mereka serempak.
Setelah melewati pemeriksaan medis, dan dinyatakan aman, mereka mengambil nomor pengungsian untuk di data. Terlihat banyak sekali orang bersedih, berdoa, dan ada p**a yang gila, karena kejadian ini.
"Woy, sini!!", teriak salah satu pengungsi.
"Loh... Ubed..?!", ujar miftah.
"Adit..??", ujar afif.
"Kalian kok bisa ada di sini..??", tanya ulum.
"Aku sama ubed lagi kencan.. :)", ujar adit.
"Hiiiiiii....", ujar miftah dan afif serempak.
"Kencan jidat lu.. Kami kemarin malem, jam 7 kalo gak salah, lagi ke hi-tech mall, nyari brosur... Pas perjalanan p**ang, kami kaget, kayak ada kerusuhan, gak tau nya... Ada banyak orang yang saling gigit... Gigit-gigitan... Terus, kami di arah kan sama polisi, ya ke sini... Dan kami gak di ijin kan p**ang..", ujar ubed sedikit murung.
Ternyata dia adalah salah satu teman dari komunitas kami bernama ubaidillah dan aditia, yang juga member dari komunitas. Setelah menceritakan kejadian yang mereka alami, mereka pun setuju untuk bekerja sama.
"Maaf bed... Sidoarjo.. Udah gak bisa ketolong lagi.. Di sana udah sepi dari manusia yg hidup..", ujar afif.
"Kami juga kehilangan semua keluarga, dan saudara... Gak ada yang bisa kami laku in saat itu..", ujar ulum.
"Setidak nya kami.. Eh enggak.. Kita, bisa selamat di sini.. Demi keluarga kita, demi teman dan saudara, atau pacar, biarpun gak punya... Kita harus tetap semangat.. Kita harus bisa hidup untuk mereka.. Gak boleh nyerah..", ujar miftah.
"Lu nulis dulu, atau njiplak pidato nya orang..??", ujar ulum.
"Sialan lu...!!", sahut miftah.
"Hahahaha....", afif, ubed, dan adit tertawa.
"Oh iya.. Mana angga?", tanya ubed.
"..........", Afif, ulum, dan miftah diam.
"Angga udah...??", ujar ubed.
"Enggak... Dia gak di gigit...", ujar afif.
"Sebelum kami menuju ke sini, kami sempat singgah di tempat evakuasi joyoboyo, dan saat perjalanan ke sana... Kami di serang oleh, entah makhluk apa, dan angga, terkena serangan nya, lalu terlempar masuk ke dalam sungai kalimas... Aku, afif, dan miftah langsung bersembunyi di terminal joyoboyo.. Kami mengira, angga mungkin udah, tewas, karena ombak di sungai kemarin cukup deras...", ujar ulum.
"Kita berdoa saja,... Jikalau dia masih hidup, semoga selamat, dan mencapai tempat evakuasi... Namun kalau, meninggal, kita hanya bisa berdoa, dan nanti nya kita cari mayat nya di sungai..", ujar afif.
"Setuju...", ujar adit.
"Kata-kata terakhir nya,.. Menyuruh kami agar bisa selamat sampai di sini, agar tidak berakhir seperti orang-orang di luar sana...", ujar miftah.
"Ya.. Memang itu seharus...", ujar ulum terpotong.
"Panggilan kepada pengungsi bernomor 2453, bernama afif rofiky, di mohon untuk memasuki ruangan staff medis 3, terima kasih...", suara yang berasal dari speaker di dekat tenda utama terdengar.
"Gue tinggal dulu ya... Entar gue ke sini lagi..", ujar afif meninggalkan teman-teman nya.
"Oke.... Santai aja fif..", sahut miftah.
Afif yang mendengar hal tersebut, langsung bergegas menuju tempat yang di sebutkan. Sementara ulum, miftah, adit dan ubed, melihat-lihat sekitar tempat pengungsian. Banyak tentara bersenjata berlalu lalang, masih terdengar suara tembakan dari luar tempat evakuasi, di sertai geraman dari zombie-zombie di luar sana. Para petugas medis juga tak henti-henti nya, memeriksa keadaan para pengungsi, khawatir jika virus akan menyebar ke dalam.
"Eh, gue mau liat ke sana dulu bentar...”, kata ulum sambil meninggalkan mereka bertiga.
"Oh oke...", ujar miftah.
"Di sini ada makanan gak ya, gue laperr...", ujar adit.
"Lu ikut makan aja bareng zombie di luar sana...", ujar miftah.
"Gimana kalo lu aja yang gue makan mif...", ujar adit.
"Jangan... Entar lu bakal jadi zombie yang jerawatan.. Hiii..", sahut ubed.
"Kamprett lu..", ujar miftah.
Miftah, ubed, dan adit tengah bercanda sambil berkeliling tempat evakuasi. Ulum saat itu tengah curiga akan beberapa orang yang berpangkat, mengendap-endap di tenda yang paling belakang, 'apa yang di bicarakan? Mengapa secara sembunyi?', Itu lah yang ada di benak nya. Ulum mencoba mengikuti mereka. Setelah berada di tenda yang paling belakang, dan paling sepi, tanpa ada orang lalu lalang di situ, ulum menguping pembicaraan mereka.
“Presiden belum tahu apa-apa tentang ini... jangan sampai bocor ke siapapun...”
“Bagaimana dengan pers? Mereka berhak tahu apa yang sedang terjadi...”
“Sebelum semua ini tertangani, dan virus tersebut sampai ke tangan kita, buat lah seakan ini adalah berasal dari kebocoran gas alam...sudah ratusan juta dollar kita habis kan untuk membeli virus tersebut, jangan sampai kacau!!”
“Baik pak! Siap Pak!”
“Sebentar, seperti nya aku melihat ada yang sedang mendengar pembicaraan kita...”
Mendengar hal tersebut, ulum segera mencari tempat sembunyi yang aman. Setelah orang-orang tersebut mencari penyusup yang sedang mendengar pembicaraan mereka, mereka tidak menemukan siapapun. Akhirnya mereka kembali ke tempat pengungsian, seolah tidak terjadi apa-apa. ‘Virus? Milyaran dollar? Apa yang sedang mereka rencanakan sebenarnya?’, banyak sekali pertanyaan ada untuk di ungkapkan. Namun tanpa pikir panjang, ulum segera kembali menuju teman2 nya, dan menceritakan semua yang di dengar nya.
"Eh... Darimana lu..?? Lu nemu makanan gak..??", tanya adit.
"Gue tadi habis denger beberapa orang bicara in sesuatu di belakang sana, secara diam-diam...", ujar ulum.
"Kalo diam-diam berarti gak ngomong donk..", sahut ubed.
"Gue serius...!! Mereka membicarakan tentang virus berharga jutaan dollar... Bisa jadi, virus itu yang jadi penyebab wabah ini...", ujar ulum.
"Dan mereka secara sengaja merahasiakan nya dari publik, dari orang seperti kita...", sambung ulum.
"Virus, jutaan dollar, jadi penyebab semua ini, karena tujuan mereka yang tidak kita ketahui, secara sengaja..?? Memang banyak yang di sembunyikan oleh pemerintah kita..", ujar miftah.
"Presiden belum tau kata nya, jadi bisa jadi.. Ada pengkhianat di sini, ada penyusup..", ujar ulum.
"Menyerang negara dari dalam..??", sahut ubed.
"Bisa jadi... kita kan baru saja mengadakan pemilihan presiden.. Jadi, mungkin ada pihak yang mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan pemerintahan...", ujar ulum.
"Oh.. Itu afif..", ujar miftah.
Afif pun yang se-dari tadi masih bersama staff medis dan kimia, akhirnya harus ikut dengan beberapa dokter dan ilmuwan menuju jakarta, untuk melakukan penelitian virus baru ini.
“Bro, gue harus ikut ke jakarta, kata nya di sana ada sesuatu yang mampu ku kerjakan, entah apapun itu.. maaf kalo harus ninggalin kalian semua di sini... Nanti aku beri kabar lebih lanjut kalau ada kesempatan...”, ujar afif.
“Ok bro, hati-hati...”, jawab mereka serempak.
"Mungkin aku bisa nemu in sesuatu di sana...", ujar afif sambil meninggalkan ulum, adit, miftah, dan ubed.
Mereka berempat pun masih membicarakan tentang apa yang ulum dengar tadi. Saat mereka sedang mengobrol, sirine berbunyi...
“Di mohon untuk tetap tenang, karena ada sesuatu yang ingin menerobos masuk ke tempat evakuasi...jangan panik”, kata salah satu tentara lewat mikrofon.
AAAAAA....!!!!!!
Semua orang panik seketika mendengar hal tersebut. Ulum, miftah, ubed, dan adit pun segera pergi menyelamatkan diri. Mereka tak sengaja tiba di tenda bagian persenjataan. Setelah mereka mengambil beberapa senjata dan pelindung di sana, mereka sepakat untuk bekerja sama keluar dari tempat evakuasi. Setelah keluar dari tenda, miftah dan ulum pun terkejut akan makhluk besar yang masuk ke dalam tempat evakuasi. Makhluk itu sama dengan makhluk yang menyerang mereka berdua di jembatan sungai kalimas, di tempat evakuasi terminal joyoboyo. Miftah pun langsung berlari mencari kendaraan mereka yang terparkir di luar tempat evakuasi, sementara ulum, ubed, dan adit berusaha menembaki monster tersebut. Ternyata monster itu tidak sendiri, total mereka ada 5 ekor. Semua nya di bunuh di tangan monster-monster tersebut, tempat itu hancur, layak nya titik evakuasi sebelum nya. Setelah semua sudah siap, mereka berempat pergi meninggalkan tempat tersebut, tanpa arah.
“Jadi, ini mau kemana?”, tanya adit.
“Gak tau...gue masih bingung”, jawab miftah dengan wajah kebingungan.
“Ok, gini aja...kita ke jakarta, dengan mobil ini, kita cukup aman di dalam nya”, kata ulum dengan penuh semangat.
“Lu udah gila, kita aja gak tau tempat-tempat di sana, titik evakuasi nya pun belum kita dengar...kita mau nekat?”, tanya miftah.
“Ya, kita nekat, bila angga ada di sini, bersama kita, dia juga akan mengatakan hal yang sama dengan ku...”, ujar ulum.
“Ya udah-udah, kita cari perbekalan dulu di supermarket, yang bisa di konsumsi selama perjalanan ke sana...”, kata ubed mendukung ulum.
“Ok kalo gitu, kita sudah sejauh ini selamat, gak boleh kita sia-sia kan...kalian siap?!!”, kata miftah dengan semangat.
“SIAP...!!!”, mereka semua berkata dengan kompak nya. Setelah mereka membawa perbekalan, mereka pun bahu membahu menuju, jakarta.
'Jadi ini kah perasaan tadi.. Kenapa masih membekas? Apa belum selesai?', ulum masih menebak apa yang ia rasakan semenjak tiba di tempat tersebut. Mereka berencana menuju jakarta, menuju tempat yang mereka anggap aman. Senjata, perlindungan, bekal, semua telah mereka bawa, di harap cukup untuk kehidupan menuju ke sana. 'Kehidupan', tak pantas kita menyebut nya saat ini, mengetahui bahwa sudah tidak ada yang hidup saat ini. Kemana kita harus menanyakan ini semua, pada pengkhianat di sana? Pada mayat hidup ini? pada senjata-senjata yang mereka genggam saat ini? Yang harus di lakukan adalah, bertahan hidup.
v
v
v
v
v
Berlanjut ke chapter 6.....