12/04/2026
Dia Pilih yang Kaya… Tapi Nggak Tahu yang Dia Tinggalin Adalah yang Paling Tulus
Namanya Arga. Hidupnya sederhana—bahkan bisa dibilang pas-pasan. Kerja serabutan, kadang jadi ojek, kadang bantu di bengkel. Tapi satu yang nggak pernah kurang dari dia: kejujuran dan kesetiaan.
Arga jatuh hati sama satu cewek, namanya Dinda. Cantik, rapi, hidupnya beda jauh sama Arga. Dinda terbiasa nongkrong di tempat bagus, temen-temennya juga orang berada. Sementara Arga? Buat traktir kopi aja kadang harus mikir dua kali.
Tapi Arga nggak pernah malu. Setiap ada kesempatan, dia selalu nyapa Dinda dengan tulus. Nggak pernah jaim, nggak pernah sok kaya. Dia cuma jadi dirinya sendiri.
“Din, gue nggak punya apa-apa. Tapi kalau soal serius, gue nggak main-main.”
Dinda cuma senyum tipis. Buat dia, Arga baik… tapi nggak cukup.
Pelan-pelan, Dinda mulai menjauh. Chat dibales lama, ketemu pun jarang. Sampai akhirnya, Arga lihat sendiri Dinda jalan sama cowok lain—lebih mapan, lebih rapi, lebih “pantas” di mata orang.
Hati Arga? Hancur, jelas. Tapi dia nggak marah. Nggak maksa. Dia cuma mundur pelan-pelan, sambil tetap jadi orang yang sama.
Malam itu, Arga duduk sendiri di pinggir jalan, ditemani kopi sachet. Dia senyum kecil, walau matanya keliatan capek.
“Gue kalah bukan karena gue nggak tulus… mungkin karena gue belum cukup di dunia dia.”
Waktu jalan terus.
Arga tetap kerja keras. Nggak berubah jadi orang lain, nggak juga nyalahin keadaan. Dia percaya, hidup itu bukan soal siapa yang dipilih sekarang, tapi siapa yang tetap berdiri walau sering diabaikan.
Beberapa tahun kemudian, hidup Arga mulai berubah. Pelan, tapi pasti. Usahanya jalan, hidupnya lebih stabil. Bukan jadi orang kaya banget, tapi cukup buat berdiri dengan bangga.
Dan yang paling penting—dia tetap jadi Arga yang dulu: jujur, setia, dan nggak pernah pura-pura.
Karena pada akhirnya, yang tulus mungkin sering kalah di awal…
tapi mereka nggak pernah benar-benar kalah dalam hidup.