01/06/2026
Di Hari Lahir Pancasila, Kita Menyalakan Kembali OborHari ini,
1 Juni, kita bukan sekadar meniup lilin. Kita menghidupkan obor yang dinyalakan para pendiri — api Pancasila yang sudah menyala sejak 1945.Bayangkan Pancasila sebagai jembatan gantung di atas jurang zaman. Lima silanya adalah tali utama. Jika satu tali rapuh, jembatan goyah. Jika satu tali putus, kita semua jatuh ke jurang perpecahan.
Maka memperingatinya berarti mengecek simpul tali, merawatnya, dan memastikan ia kuat menahan beban generasi setelah kita.Mempertahankan kedaulatan Pancasila itu seperti:Menjadi penjaga mercusuar di tengah badai ideologi. Ombak bisa setinggi apa pun, tapi cahaya sila-sila itu harus tetap menuntun kapal bernama Indonesia p**ang ke pelabuhan persatuan.Menjadi akar beringin: Tak tampak, tapi mencengkeram bumi. Tak bicara keras, tapi menahan pohon agar tak tumbang diterpa angin kepentingan. Kedaulatan kita berdiri karena akar itu dalam.Menjadi penenun kebhinekaan: Berbeda warna, berbeda motif, tapi dirajut dalam satu kain. Jika benang Pancasila ditarik, seluruh tenun bisa lepas. Jangan biarkan tangan-tangan asing atau tangan kita sendiri yang memotongnya.Perjuangan ini tak selalu dengan sorak. Kadang ia adalah guru yang tetap mengajarkan toleransi meski lelah, pegawai yang menolak amplop meski sepi, pemuda yang berkata “cukup” saat melihat nyala kebencian.Di hari lahirnya Pancasila, mari kita berjanji:
Selama jantung masih berdetak dalam irama Indonesia, selama itu p**a kita berdiri di benteng lima sila.
Karena jika dasar retak, rumah akan roboh. Dan jika rumah roboh, kita semua kehilangan tempat berteduh.Selamat Hari Lahir Pancasila. Jagalah Pancasila, maka Indonesia akan menjaga kita