Binua Dirik

Binua Dirik Menyampaikan semua informasi yang ada di sekitar kita

Putri Cermin dalam kisaran sejarah Raja Raja MempawahPada masa pemerintahan Panembahan Senggaok di Kerajaan Bangkule Raj...
19/04/2023

Putri Cermin dalam kisaran sejarah Raja Raja Mempawah

Pada masa pemerintahan Panembahan Senggaok di Kerajaan Bangkule Rajagnk terdampar/datang kapal besar beserta 40 orang awaknya yang sejatinya tujuanya dalah ke negeri Sambas, namun karna di hantam badai terdamparlah di muara sungai karimawant (sungai mempawah sekarang ), yang ternyata adalah Raja Qahar dari Indragiri Riau beserta putrinya yang bernama Putri Cermin, maka mudiklah Panembahan Senggaok menemui rombongan tersebut dan membawanya ke hulu sungai mempawah dan di jadikanya rombongan tersebut tamunya.

Alkisah berhasrat lah Panembahan dengan Putri cermin anak Raja Qahar, maka di pinangnya putri cermin untuk menjadi istrinya, Raja Qahar pun menyetujui lamaran tersebut dengan syarat apabila awak kapalnya yang laki laki ingin menikah di kerjaan Bangkule Rajangnk, jangan lah di ambil atau di minta maharnya, menyetujuilah sang panembahan atas syarat itu, maka beranak pinak lah orang orang melayu dari Indragiri riau pengikut raja kahar di negeri bangkule rajangk.
Sedangkan perkawinan panembahan Senggaok dan Putri Cermin melahirkan seorang putri bernama Mas Inderawati yang kemudian hari menjadi Permaisuri Sultan Matan Muhammad Zainudin, dari perkawinan itu melahirkan Putri Kesumba yang kelak menjadi istri Opu Daeng Menambon.
Dari mula perkawinan inilah masuknya gen melayu pada nasab Kerajaan Mempawah di awali dengan putri Cermin, sedangkan secara keseluruhan nasab kerajaan mempawah adalah percampuran Dayak Melayu, Luwu dan Jawa, menyiratkan kentalnya asimilasi multi etnis pada mas itu tidak memandang perbedaan ras dan suku.

Mitos yang dibesarkan besarkan. Suku D yang paling ditakuti Belanda. Suku itu bakal disegani karena memiliki beberapa Il...
18/04/2023

Mitos yang dibesarkan besarkan. Suku D yang paling ditakuti Belanda. Suku itu bakal disegani karena memiliki beberapa Ilmuan dari suku tsb.

Jika suku yang mewakili ratusan suku di Indonesia memiliki tokoh elite. Kecerdasan. Berupa Ilmuan dan tokoh dunia. Itu berarti suku tersebut mewarisi genetika yang hebat.

Coba tengok di Indonesia ini. Suku apa sajakah yang paling banyak menjadi tokoh tokoh utama dalam ilmunya.

Berarti suku tersebut mewarisi peradaban intelektual.

Kalo sekedar menunjukkan kebuasan, kengerian, membuat orang lain takut, bar bar, itu bukan zamannya lagi.

Ingatlah Jengis Khan dari Mongol. Pada masanya ia hebat. Tak ada yg lebih hebat dari suku suku dari bangsa lain selain Mongol.

Memiliki peradaban barbar, bengis s**a perang dan pembunuhan.

Tapi coba lihat sekarang. Negara mereka tidak ada apa apanya.

Jika peradaban manusia yang di utamakan adalah bukan pengetahuan. Tunggu saja kehancuran nya.

Jadi lah suku yang beradab dan berpengetahuan luas. Jadilah ilmuan dunia. Menyebar lah kepelosok dunia. Jgn hanya diam di dalam kandang.

Ini jaman penjelajahan. Manusia sudah menjelajahi planet mars. Kita malah jago kandang.

Ini cuma buat berpikir saja. Berpikir jernih. Agar tiap orang yang mewakili sukunya. Memiliki cara pandang yang luas tentang peradaban manusia dan kemajuannya.

Instrumen Sape' Menyentuh Hati || Indona
14/04/2021

Instrumen Sape' Menyentuh Hati || Indona

Adil ka' Talino, bacuramin ka' Saruga, basengat ka' Jubata, arus 3x...Semoga Instrumen Sape' ini dapat menghibur kalian semua 🙏

Lagu Dayak Kanayant "LEDANG"
09/06/2020

Lagu Dayak Kanayant "LEDANG"

Lagu Dayak Kanayan LEDANG merupakan lagu yang sangat sakral bagi sebagian Suku Dayak yang ada di Pulau Kalimantan.

Rumah Panjang Dayak MandauLokasi : Desa Lubuk Pantak, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Ba...
08/06/2020

Rumah Panjang Dayak Mandau
Lokasi : Desa Lubuk Pantak, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.
Satu-satunya Rumah Panjang suku Dayak yang masih tersisa dan terawat. Semoga kedepan situs/cagar budaya ini mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Sintang.

Bantu Channel Youtube kami dengan cara Subcribe agar kami dapat berkembang dan selalu berkarya 🙏

Rumah Panjang Dayak Mandau ini terletak di Desa Lubuk Pantak, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Rumah Panjang Dayak Mand...

PANGLIMA GUNTUR / KILATMenelusuri Panglima Guntur berasal dari Negeri Sambas banyak menyimpan misteri yang belum terpeca...
02/12/2019

PANGLIMA GUNTUR / KILAT

Menelusuri Panglima Guntur berasal dari Negeri Sambas banyak menyimpan misteri yang belum terpecahkan hingga sekarang, banyak cerita-cerita rakyat yang berkembang dari mulut ke mulut secara turun temurun.

Negeri Sambas meliputi wilayah SingBeBas yaitu Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Wilayah ini berpatokan bekas wilayah kedaulatan Kesultanan Sambas pada zaman dahulu. Ada beberapa subsuku dari kalangan Dayak yaitu rumpun suku KANAYANT yang mendiami Negeri Sambas, mulai dari Dayak SALAKO ( Ba'Damea) , BAKATI', dan SAMBAS ( keturunan Salako yg berbudaya Melayu, yang disebut orang Melayu)

Dalam masyarakat Pulau Borneo khususnya masyarakat Dayak, percaya akan sosok panglima perang yang sangat melegenda yaitu Panglima Burung / Panglima Besar Dayak / Panglima Perang. Sosok ini disebut-sebut sangat agung, sakti, berwibawa dan ksatria.

Menurut cerita yang berkembang, Panglima Dayak ini hidup dan tinggal di pegunungan perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Selama beratus tahun hidup dalam pertapaan di gunung dan akan 'turun gunung' kalau ada situasi genting seperti kekacauan dan kerusakan di tanah Kalimantan.

Banyak versi cerita mengenai sosok panglima tertinggi masyarakat Dayak (Panglima Burung), tetapi secara nasional nama Panglima Burung mencuat ke seluruh Nusantara saat pertikaian etnis di Bumi Sambas dan Sampit.

Pada kali ini, saya akan fokus untuk membahas Panglima Guntur, selain dari Panglima Burung.
Panglima Guntur juga ada turut berperan aktif saat pertikaian etnis di Bumi Sambas. Di Bumi Sambas yang melegenda adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum yang bernama Panglima Guntur. Panglima Guntur dipercaya bertugas menjaga tanah pusaka Negeri Sambas. Panglima Guntur adalah perlambang orang Dayak, baik dari sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.

Panglima Guntur selain sakti dan kebal juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak s**a membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar.

Masyarkaat Dayak percaya ketika Panglima Guntur 'turun gunung' dari pertapaan di gunung akan disertai suara gemuruh dari langit, yaitu guntur. Maka dari itu, ia mendapat gelaran Panglima Guntur, dan juga mempunyai nama lain yaitu Panglima Angsa yang artinya guntur atau kilat.

Menurut cerita, Panglima Guntur memakai Gelang Besi Kuning disertai Mahkota. Pada pertikaian etnis di Bumi Sambas, Panglima Guntur mengerahkan anak buahnya dari kaum bunian (kerajaan Batu Bejamban Paloh) dengan mengenakan ikat kepala kuning.

Ketika terjadi pertikaian di Sambas, orang-orang dari pas**an yang entah datangnya dari arah mana, tiba-tiba muncul, Masyarakat yang ikut dalam rombongan itu terheran-heran akan pas**an yang mengenakan ikat kepala kuning dan merah yang mereka tidak tahu dari mana datangnya.

Konon ketika terjadi pertikaian Panglima Guntur dipercayai masyarkat Sambas membantu menyatukan Dayak di pedalaman Kalimantan. Bahkan orang Dayak yang berada di Malaysia ada yang turun ke Negeri Sambas untuk bersatu membantu masyarakat Sambas.

Cerita mandau terbang pun menjadi buah bibir masyarakat Sambas dan Sampit saat terjadinya pertikaian. Karena Panglima Guntur dan pas**an dari kaum bunian notebane-nya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, membantu masyarakat Sambas memenangkan pertikaian itu, mereka dapat dengan tepat mencari dan menebas (mengayau) kepala musuh-musuh di tempat yang tersembunyi sekalipun.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, seperti di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Sekitar tahun 1800an, ada 5 (lima) Panglima Dayak yang ada di tanah lelulur Kalimantan yaitu Panglima Guntur, Panglima Naga Sabui, Panglima Burung, Panglima Batur dan Panglima Antang.

Tidak tahu kapan tepatnya Panglima Guntur hadir ditengah-tengah masyarkat Sambas. Bermula dari Raden Sulaiman (raja pertama Kesultanan Sambas) diberi 3 (tiga) meriam kecil dari mertuanya yaitu Ratu Sepudak. Meriam kecil itu merupakan hasil pertapaan para raja-raja Sambas sebelum berdirinya Kesultanan Sambas.

3 (tiga) meriam peninggalan Ratu Sepudak adalah:
Raden Sambir, lela (meriam kecil) yang panjang berbuntut,
Raden Mas, lela (meriam kecil) yang besar pendek,
Raden Pajang, lela (meriam kecil) yang kecil pendek dan tidak berbuntut.

Meriam Beranak Keraton Sambas

Anehnya, masih memiliki 4 saudara yang berupa meriam kecil juga. Keempat pusaka meriam kecil itu datang dengan sendirinya, masing-masing bernama: Raden Putri, Ratu kilat, Pangeran Pajajaran dan Panglima Guntur.

Panglima Guntur menjelma menjadi sebuah lela (meriam kecil) atau masyarakat Sambas lebih mengenalnya dengan Meriam Beranak. Tidak tahu persis bagaimana Panglima Guntur bisa tunduk kepada Kesultanan Sambas. Tapi ada cerita yang menyebutkan Panglima Guntur dan pas**annya sedang terbang di hutan hendak menyerang Kesultanan Sambas. Dengan di bantu Kerajaan Gaib Batu Bejamban Paloh dan ayat Kitabullah (ayat kursi), maka runtuhlah pas**an Panglima Guntur. Sejak peristiwa itulah mereka tunduk kepada Sultan Sambas.

Ciri-ciri Panglima Dayak yang berhasil rangkum adalah:
Tatto Melingkar dari kaki sampai ujung kepala atau belakang kepala.
Mahkota Terbuat dari Besi Kuning
Ketiga Rambut Dari Bunyian/Mahluk Halus yang di-kayau (kayau adalah tradisi suku Dayak jaman dahulu)
Memakai Gelang Besi Kuning atau Gelang ara latek lantak
Jarang "turun gunung" kecuali untuk urusan genting seperti kekacauan dan kerusakan di tanah Kalimantan.
Ia jarang bahkan sudah lama tidak menampakkan dirinya karena Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam.

Memang legenda yang berkembang sekarang kebanyakan memiliki makna yang tersirat. Banyak misteri yang belum terpecahkan karena kurangnya data yang dapat memperkuat dugaan yang selama ini terngiang di masyarakat. Mungkin setiap daerah mempunyai cerita tersendiri untuk mendeskripsikan sosok Panglima Perang Dayak.

01/07/2019

Cuma Dara - Yandhi Daylin

Kisah Kepahlawanan Pang Suma dan Perang Majang DesaBanyak yang tidak mengetahui asal-usul perang Majang Desa yang digema...
25/06/2019

Kisah Kepahlawanan Pang Suma dan Perang Majang Desa

Banyak yang tidak mengetahui asal-usul perang Majang Desa yang digemakan oleh Pang Suma dalam melawan penjajahan Jepang di Kalimantan Barat. Sayang sekali, sejarah tidak mencatat dengan baik sehingga anak cucu tidak mengetahui salah satu pahlawan besar Dayak pernah berjuang bersama rakyat untuk mematahkan kekuasaan Jepang di bumi Khatulistiwa.

Pang Suma (Panglima Menera) adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara. Terlahir dengan nama Bendera bin Dulung atau ada juga yang memanggilnya Menera, adalah tokoh pejuang dari suku Dayak yang tinggal di Dusun Nek Bindang di tepian Sungai Kapuas Desa Baru Lombak Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau. Nama Pang Suma sendiri memiliki arti Bapak Suma. Panggilan dengan menggunakan Pang merupakan satu kebiasaan penduduk setempat memanggil nama orang tua dengan menyebut nama anaknya yang paling besar. Agar lebih sopan dan hormat dari pada menyebut nama langsung orang tersebut.
Konon Pang Suma berjuang dalam membebaskan negerinya dari penjajah hanya dengan berbekal keberanian dan sebilah Nyabur (sejenis mandau/parang panjang). Sebelum memulai perlawanan Pang Suma sudah menyebar “mangkok merah” sebagai tanda adanya ancaman terhadap orang dayak. Tetapi karena pada masa itu sulit komunikasi dan transportasi sehingga “berita” mangkok merah diterima terlambat oleh beberapa suku Dayak. Pang Suma sendiri berhasil mengumpulkan laskar perlawanan yang dinamakan Angkatan Perang Majang Desa.

Pada pertengahan Februari 1945 di komplek Nitinan, di sebuah kampung yang bernama Sekucing (Sekarang terletak di lingkungan Benua Labai yang berada di batas antara kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau dengan Kecamatan Balai Bekuak Kabupaten Ketapang) terjadi pembunuhan pimpinan perusahaan perkayuan berkebangsaan Jepang bernama Kusaki yang mati tergeletak tanpa kepala. Pelakunya adalah Pang Suma. Peristiwa berdarah itu adalah merupakan gejolak awal dan rentetan peristiwa yang muncul sebagai bentuk perlawanan para Patriot suku Dayak. Beberapa hari kemudian terjadi lagi di perusahaan perkayuan Niciran di Pulau Jambu Kecamatan Tayan. Soet Soegisang mati dengan leher terpenggal. Berita terbunuhnya pemimpin perusahaan perkayuan milik Jepang itu , seketika menjadi ramai di perbincangkan.

Dari Pontianak kemudian dikirim, kompetai-kompetai yang terlatih dengan pimpinan Kaisu Nagatani. Pada saat itu yang memegang kekuasaan Jepang sebagai bunken di Tayan adalah Miagi dan sebagai Guncho di Meliau adalah Demang Adat Dogom Siregar. Nagatani bertekat untuk menghancurkan laskar Pang Suma dan membunuh semua yang terlibat, termasuk keluarganya. Sesampai di Meliau, mereka menjadikan rumah seorang pedagang China bernama Kiung Tjhiu Siong sebagai markas pertahanan sementara. Dengan di temani oleh Mantri Mamboe (menantu Demang Adat Dogom) dan seorang polisi Guncho bernama Yeb menjadi penunjuk jalan, pada esok harinya mereka menyeberangi sungai Embuan. Tujuan mereka adalah pedalaman Desa Kunyil. Tengah malam mereka sampai ke Kampung Balai Putih. Keesokan harinya mereka meneruskan perjalanan ke Desa Kunyil. Desa Kunyil pun berhasil pas**an Nagatani kuasai. Kepala Desa Kunyil bernama Temenggung Mandi (Orang Kaya Mandi) atau dikenal dengan nama panggilan Pang Dandan. Pang Dandan sudah tiga hari tidak berada di rumah.

Sebuah bangunan bekas kantor loging K*K dijadikan markas oleh pas**an Nagatani. Kemudian di suatu malam dikomando oleh Pang Suma dan panglima suku dayak lainnya diikuti oleh berpuluh-puluh anak buahnya, yang tergabung dalam "Angkatan Perang Majang Desa", tiba-tiba menyerbu markas Nagatani di kantor bekas loging K*K. Kaisu Nagatani berhasil dibunuh oleh Pang Suma, lalu orang kedua nya yaitu Nakamura, berhasil di penggal kepalanya oleh Pang Dusi. Dalam pertempuran itu juga hadir Pang Diyo, Pang Linggan, Panglima Burung dan Jampi, mereka turut serta memenggal kepala Kepala pimpinan Heiho yang lain bernama Yamamani. Perwira Kaigun lain , Yamamoto yang mencoba melarikan diri dengan berlindung di rumah seorang China bernama Djap Kio , berhasil dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya oleh Pang Suma dengan bantuan Pang Linggan. Mantri Mamboe berhasil melarikan diri bersama dua anak buahnya, sedangkan Yeb dan anak buahnya menggabungkan diri dengan pas**an Pang Suma.

Pembunuhan terhadap pas**an Jepang yang dipimpin oleh Pang Suma mengejutkan pihak Jepang. Mantri Mamboe dan Guncho Amat Dogom Siregar, dituntut oleh pihak Jepang agar bertanggung jawab. Mereka kemudian dikurung di bekas gudang penyimpanan garam di Tayan. Bersama mereka dikurung ; Soelaiman (juru tulis Guncho), Abang Sjahdansjah (sekretaris damang), Huseein , Madrus, Mas Dermawan, Raden Mochtar, Mas Minan, Liem Tjung Hie dan Liem A Thung. Mas Dermawan dihukum pancung karena sikap kerasnya kepada Jepang ,sedangkan Amat Dogom Siregar dan Mantri Mamboe kabar terakhir ikut dibantai Jepang.

Kembali ke Pang Suma. Oleh karena keberhasilannya, Pang Suma merupakan sosok yang dianggap Jepang membahayakan kedudukannya, kemudian Jepang mendekati teman seperguruan Pang Suma untuk mencari kelemahan dan membunuh Pang Suma. Sementara itu Pang Suma dan Raden Iting (pewaris kerajaan Meliau) mendirikan markasnya di Kampung Rambai. Laskar Pang Suma berhasil menduduki Kantor Guncho Meliau , sementara pas**an Raden Iting memperkuat pertahanan mereka di seberang. Sejak ditangkapnya Demang Adat Dogong Siregar , pemerintahan distrik Meliau Vakum.

Pada 24 Juni 1945, Pang Suma atau disebut juga Panglima Menera memasuki Meliau. Meliau sendiri berhasil direbut pada 30 Juni 1945. Pada 14 Juli 1945 bala tentara Jepang menyerbu Meliau dan berhasil menguasai beberapa wilayah Meliau. Tanggal 17 Juli 1945 Pang Suma menyerbu markas Jepang di Kantor Guncho Meliau. Pada hari itu, Pang Suma telah mendapatkan pertanda buruk. Ujung Nyabur (pedang) yang dimilikinya patah, sebelum ia menyerbu markas Jepang di Kantor Gunco Meliau. Pertanda itu pun menjadi kenyataan. Pang Suma tertembak dipaha kaki yang merupakan sumber kelemahannya (kelemahan Pang Suma didapat dari saudara perguruannya), tertembak bersama adiknya. Sang adik dapat menyelamatkan diri, namun perjuangan Pang Suma berakhir dengan meninggalnya beliau di bawah jembatan (saat ini lokasi jembatan di sebelah dermaga Meliau). Turut menjadi korban Apae dan Panglima Beli yang tewas. Di sekitar Kantor Guncho Meliau Panglima Ajun dan Pang Linggan tertembak dengan luka yang parah. Tetapi perlawanan dari suku Dayak tidak berakhir. Karena masih banyak penerus-penerus pejuang Dayak.

Sebuah peluru menembus pahanya yang konon merupakan rahasia kekuatan dari Panglima Perang ini. Namun, disaat menahan kesakitan itu, ia sempat berpesan kepada rekan seperjuangannya yang membopongnya dari lokasi perang. "Tinggal aja aku disito uda nada aku to idop lagi, pogilah kita, maju terus berjuang," pesan Pang Suma dalam bahasa Dayak seperti yang dikutip dari "Pang Suma Riwayat Hidup dan Pengabdiannya" yang artinya tinggalkan saja saya di sini saya tidak bisa hidup lagi pergilah kamu maju terus berjuang. Demikianlah pada hari itu gugur seorang Pahlawan Bangsa , yang berjuang untuk rakyatnya.

Bagi orang Dayak perang menganut doktrin perang semesta (seperti perang puputan di Bali). Semua unsur masyarakat harus terlibat. Penyelesaianya juga harus melalui proses adat yang diadakan melalui ritual tertentu. Tanpa semua proses itu maka perang masih dianggap masih berlangsung. Contohnya sekelompok orang Dayak yang dipimpin Panglima Burung datang menyerang Pontianak untuk mencari serdadu Jepang untuk melakukan pembalasan terhadap Perang Majang Desa yang dipimpin Pang Suma, padahal Jepang sudah menyerah dan keluar dari Indonesia.

*Pada Juni 1980, Laksus Pangkopkamtibda Kalbar, Untung Sridadi bersama gubernur Kalbar Soedjiman melakukan serah terima dari ahli waris APMD seperti YAM Linggi, dan Agustinus Timbang berupa 5 tengkorak pas**an Jepang sewaktu Perang Dayak Desa dan sebilah samurai milik Nagatani. Selanjutnya barang-barang ini diserahkan ke Pemerintah Jepang diwakili K. Tasima dan wakil keluarga Nagatani dan Yoshida dari Kedutaan Besar Jepang di Indonesia di Jakarta untuk dibawa pulang ke Tokyo , Jepang.
* Menurut catatan penulis Belanda. Benteng Belanda di Sintang dan Sanggau selalu mendapat serangan tanpa henti dari Orang Dayak, sehingga terpaksa mereka tinggalkan dan bertahan di Pontianak.

Guna mengenang kepahlawanan Pang Suma namanya diabadikan :

1. Bandara di Putusibau (Kapuas Hulu - Kalbar) dinamakan Bandara Pang Suma
2. GOR Pontianak
3. Nama Asrama Mahasiswa di Pontianak (sempat terkenal sewaktu terjadi aksi Penolakan FPI di Kalbar 2012)
4. Nama Jalan

Address

Jln. Sintang/Putussibau
Sintang
78656

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Binua Dirik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category