27/03/2026
Lentera di Persimpangan Jalan
​Di sebuah kota yang tak pernah tidur, hiduplah seorang pria bernama Arkan. Arkan adalah definisi sukses bagi banyak orang: memiliki jabatan tinggi di sebuah perusahaan multinasional, apartemen mewah di pusat kota, dan jadwal yang sangat padat. Baginya, hidup adalah sebuah perlombaan. Setiap detik adalah angka, dan setiap pertemuan adalah transaksi.
​Arkan jarang sekali pulang ke kampung halamannya. Baginya, desa kecil tempat ia tumbuh hanyalah memori usang yang menghambat produktivitasnya. Ibunya, seorang wanita tua yang masih setia menjaga kedai kopi kecil milik almarhum ayahnya, sering menelepon hanya untuk bertanya, "Kapan pulang, Nak?" Arkan selalu menjawab dengan kalimat yang sama: "Nanti, Bu, kalau proyek ini selesai."
​Namun, proyek itu seolah tak pernah ada ujungnya.
​Bagian 1: Peringatan dari Semesta
​Suatu sore, saat Arkan sedang mempersiapkan presentasi besar, sebuah kabar mengejutkan datang. Ibunya jatuh sakit dan tak sadarkan diri. Dengan perasaan campur aduk antara panik dan kesal karena jadwalnya terganggu, Arkan terpaksa meninggalkan segalanya dan kembali ke desa.
​Sesampainya di sana, ia menemukan ibunya terbaring lemah di rumah sakit kecil setempat. Di sudut ruangan, ia melihat seorang pemuda berpakaian lusuh sedang duduk sambil membawa sekantong obat. Arkan mengenali pemuda itu sebagai Satria, teman masa kecilnya yang dulu sering dianggap "lambat" karena tidak seambisius Arkan.
​"Dia sudah menunggumu sangat lama, Kan," ujar Satria pelan. "Ibumu tidak pernah mengeluh, tapi setiap pagi dia selalu membersihkan kursi di depan kedai, berharap kamu tiba-tiba muncul di sana."
​Malam itu, Arkan terjaga di samping tempat tidur ibunya. Dalam kesunyian rumah sakit, ia menyadari sesuatu yang menakutkan: ia tahu harga setiap jam lembur di kantornya, tapi ia tidak tahu kapan terakhir kali ia mendengar suara tawa ibunya dengan sungguh-sungguh.