05/09/2026
Topeng Ayah Tiri: Tragedi Bagus Prasetya dan Kecemburuan Berdarah Ziath.
Malang, April 2022. Di balik hiruk-pikuk kota pelajar, sebuah tragedi kelam sedang direncanakan oleh seseorang yang seharusnya menjadi pelindung, bukan predator. Bagus Prasetya Lazuardi (26), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) yang cerah masa depannya, menjadi korban dari rasa cemburu buta dan keserakahan Ziath Ibrahim Bal Biyd (37), pria yang secara hukum adalah ayah tiri dari kekasih Bagus.
Kasus ini bukan sekadar pembunuhan biasa. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan kepercayaan, di mana ikatan keluarga disalahgunakan untuk menyembunyikan niat jahat, dan di mana rasa cinta yang toksik berubah menjadi racun mematikan.
>>> Janji Oleh-Oleh dan Jebakan Maut (7 April 2022)
Semua bermula dari sebuah undangan yang tampak ramah. Pada 7 April 2022, Ziath menghubungi Bagus. Dengan alasan ingin memberikan oleh-oleh untuk keluarga Bagus di Tulungagung, ia mengajak mahasiswa muda itu bertemu di Malang. Bagus, yang tidak menaruh curiga pada sosok "ayah" dari kekasihnya, menyetujui pertemuan tersebut.
Mereka bertemu di dalam mobil Toyota Innova milik Bagus. Awalnya, percakapan mungkin berjalan normal. Namun, suasana cepat memanas. Adu mulut terjadi. Di balik kemudi, Ziath tidak lagi melihat Bagus sebagai calon menantu atau anak muda yang perlu dihormati, melainkan sebagai rival asmara yang harus disingkirkan.
Dalam ledakan amarah dan kecemburuan, Ziath melakukan aksi brutal. Ia menindih dada Bagus, membekap kepala korban menggunakan kantong plastik, dan menahan napas pemuda itu hingga nyawanya melayang. Dalam hitungan menit, masa depan cerah seorang calon dokter berakhir di tangan orang yang ia percaya.
>>> Sandiwara Duka dan Penemuan Jasad
Setelah membunuh Bagus, Ziath tidak langsung lari. Ia memainkan peran yang paling licik: berpura-pura menjadi anggota keluarga yang berduka. Untuk mengelabui penyelidikan dan menutupi jejak, Ziath bahkan ikut bertakziah dan melayat ke rumah duka keluarga korban di Tulungagung. Bayangkan betapa hancurnya hati keluarga Bagus saat mengetahui bahwa pria yang turut menangis di samping mereka adalah pembunuh anak mereka.
Selama lima hari, Bagus dinyatakan hilang. Keluarga dilanda kecemasan. Namun, pada 12 April 2022, kabar buruk datang. Warga menemukan jasad Bagus tergeletak di dalam semak-semak di pinggir Jalan Raya Purwodadi, Pasuruan. Tubuh itu adalah bukti bisu dari kekejaman yang telah terjadi.
Motif Ganda: Cinta Terlarang dan Uang
Penyelidikan Polda Jawa Timur mengungkap motif ganda yang mendorong Ziath bertindak nekat:
• Cemburu Buta (Asmara): Ziath memiliki perasaan asmara terlarang terhadap anak tirinya sendiri (kekasih Bagus). Ia tidak bisa menerima kedekatan antara anaknya dengan Bagus. Kecemburuan ini mengubahnya menjadi monster yang rela menghilangkan nyawa saingannya.
• Keserakahan Ekonomi: Ziath sedang mengalami kesulitan keuangan. Setelah membunuh Bagus, ia tidak hanya mengambil nyawa, tetapi juga harta. Ia menguras uang di rekening Bagus dan berniat menguasai mobil Toyota Innova serta barang berharga lainnya milik korban. Pencurian dengan kekerasan menjadi bagian integral dari rencana kejahatannya.
>>> Vonis Seumur Hidup: Keadilan yang Tertegun
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kepanjen menyatakan Ziath bersalah secara sah dan meyakinkan. Kekejaman pembunuhan berencana yang dipadu dengan pencurian membuat hakim tidak memberikan keringanan.
Ziath dijerat dengan pasal berlapis:
• Pasal 340 KUHP: Pembunuhan Berencana.
• Pasal 338 KUHP: Pembunuhan.
• Pasal 365 KUHP: Pencurian dengan Kekerasan.
Hukuman yang dijatuhkan adalah maksimal: penjara seumur hidup.
>>> Epilog: Luka yang Tak Pernah Sembuh
Kasus Bagus Prasetya Lazuardi meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, teman-teman, dan institusi Universitas Brawijaya. Seorang calon dokter yang seharusnya menyelamatkan nyawa orang lain, justru diambil paksa oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Ziath kini menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi, membawa beban dosa ganda: membunuh karena cemburu, dan merampok karena serakah. Sandiwara dukanya di Tulungagung kini hanya menjadi kenangan pahit tentang betapa tipisnya batas antara manusia dan monster ketika ego dan nafsu mengambil alih akal sehat.
📌DISCLAIMER: Narasi ini tidak dimaksudkan untuk pihak mana pun dan dibuat semata-mata untuk tujuan edukasi, dokumentasi, serta refleksi sosial. Kasus Ini disusun berdasarkan berbagai laporan media dan informasi yang telah dipublikasikan terkait kasus tersebut."