Langkah Besar

Langkah Besar Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Langkah Besar, News & Media Website, Rasuna Epicentrum, Jl. H. R. Rasuna Said lot 9 RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940, South Jakarta .

02/09/2026

POLITIK KANTOR

Anda boleh tidak tertarik pada kekuasaan. Kekuasaan tetap tertarik kepada Anda.

Ketika Ross Johnson menjadi orang nomor dua di Nabisco pada awal 1980-an, ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan posisi tertinggi. Johnson sebelumnya memimpin Standard Brands, perusahaan makanan yang kemudian bergabung dengan Nabisco.

Namun, ketika ia ingin menjadi orang pertama, Robert Schaeberle masih duduk kokoh sebagai CEO Nabisco. Dan Schaeberle bukan satu-satunya orang yang harus diperhitungkan. Ada Dick Owens, CFO sekaligus Executive Vice President yang berpengaruh dan duduk di dewan direksi.

Jadi, bila ingin menjadi orang nomor satu, Johnson punya dua masalah: orang yang masih menduduki kursi yang diinginkannya, dan orang yang berpeluang mendapatkannya.
Anehnya, Johnson tidak menyingkirkan Owens. Ia justru memberikan apa pun yang diminta rivalnya.

Ketika Owens meminta tambahan staf, analis, atau sumber daya, Johnson menyetujuinya. Dalam “pelukan hangat” Johnson, organisasi keuangan Owens tumbuh semakin besar dan tersentralisasi.
Owens mungkin merasa sedang memperkuat posisinya. Ia tidak menyadari bahwa setiap tambahan kekuasaan membuat “kerajaan” keuangannya semakin mudah dipersoalkan.
Ia mengira sedang diberi kekuasaan. Padahal ia sedang diberi cukup ruang untuk membangun alasan bagi kejatuhannya sendiri.
Ketika waktunya tiba, Johnson menemui Schaeberle. Ia menunjukkan bahwa organisasi keuangan Owens sudah terlalu besar dan tersentralisasi. Sesuatu yang sebelumnya tampak sebagai kekuatan kini dapat dibaca sebagai ancaman.
Owens akhirnya tersingkir.
Satu rival tumbang. Kini tinggal Schaeberle.

Tetapi sekali lagi, Johnson tidak menyerang. Kali ini senjatanya lebih sulit dicurigai: penghormatan.
Nabisco mendanai kursi akademik di bidang akuntansi di Pace University atas nama Robert M. Schaeberle. Johnson juga mendorong agar pusat riset baru perusahaan menggunakan nama sang CEO.

Sementara Schaeberle semakin dimuliakan, peta kekuasaan di bawahnya perlahan berubah. Orang-orang Johnson semakin menguasai posisi-posisi penting.
Pada 1984, Schaeberle menyerahkan gelar CEO kepada Johnson.
Ross Johnson menjadi orang nomor satu.

Begitulah politik kantor kadang-kadang bekerja.
Tidak selalu dengan pisau dari belakang. Kadang dengan pelukan dari depan.

Kita sering membayangkan politik kantor sebagai wilayah para penjilat, penyebar gosip, dan pencuri kredit. Karena jijik terhadap perilaku itu, banyak profesional memilih prinsip yang terdengar terhormat: "_Saya tidak mau ikut politik. Saya cukup bekerja dengan baik. Masalahnya, ketika kita memutuskan untuk tidak bermain, permainan tidak ikut berhenti.
Promosi tetap diputuskan. Anggaran tetap dibagikan. Proyek strategis tetap diberikan. Orang-orang tertentu tetap masuk ke ruangan tempat keputusan dibuat, sementara yang lain baru mengetahui hasilnya setelah semuanya selesai.

Jeffrey Pfeffer, profesor perilaku organisasi di Stanford, menunjukkan dalam _Power: Why Some People Have It—and Others Don’t_ bahwa kinerja dan kompetensi saja tidak selalu cukup untuk memperoleh pengaruh. Relasi, reputasi, kemampuan membaca kepentingan, dan kontribusi yang terlihat turut menentukan.
Sebab organisasi bukan hanya kumpulan pekerjaan. Organisasi adalah kumpulan manusia—dengan ambisi, ego, ketakutan, kepentingan, pertemanan, dan loyalitas.

Riset Gerald Ferris dan koleganya menyebut kemampuan membaca arena ini sebagai political skill: kemampuan membaca situasi sosial, memengaruhi orang, membangun jaringan, serta tampil tulus dan dapat dipercaya.
Jadi, pandai berpolitik tidak selalu berarti pandai menjilat.
Kita mengenal orang seperti itu di kantor. Ia tidak selalu paling pintar, tetapi ia tahu kapan harus bicara, siapa yang perlu diyakinkan sebelum rapat, dan siapa yang akan membela idenya ketika ia tidak berada di ruangan tersebut.
Sementara sebagian dari kita masih percaya pada kalimat yang terdengar mulia:
_“Biar hasil kerja yang bicara.”_
Masalahnya, hasil kerja tidak punya mulut.
Kalau tidak ada yang mengetahui kontribusi kita, memahami gagasan kita, atau bersedia memperjuangkannya ketika keputusan dibuat, pekerjaan hebat pun bisa berakhir sebagai satu baris dalam laporan yang tidak pernah dibaca.
Di sinilah paradoksnya. Orang baik sering menjauhi kekuasaan karena takut menjadi seperti orang yang menyalahgunakannya.
Akibatnya, kekuasaan justru lebih mudah dikuasai oleh mereka yang tidak memiliki kegelisahan moral yang sama.

Pelajaran dari Ross Johnson bukan agar kita menjadi seperti dirinya. Justru sebaliknya: kalau tidak memahami bagaimana kekuasaan bekerja, kita akan lebih sulit menyadari ketika kekuasaan sedang bekerja terhadap kita.
Maka, solusinya bukan menjadi manipulator. Solusinya adalah berhenti menyamakan integritas dengan kepolosan.
Kerjakan pekerjaan dengan baik, tetapi jangan berharap pekerjaan itu akan memperkenalkan dirinya sendiri. Bangun hubungan sebelum membutuhkannya. Kenali siapa yang berpengaruh, bukan hanya siapa yang memiliki jabatan. Pahami kepentingan orang sebelum menawarkan gagasan. Berikan kredit dengan murah hati, tetapi jangan membuat kontribusi Anda sendiri tidak terlihat.

Dan kisah Dick Owens mengajarkan pelajaran yang lebih mengganggu: jangan hanya waspada terhadap orang yang memusuhi Anda.
Kadang-kadang, perhatikan juga orang yang selalu mengabulkan semua yang Anda inginkan.
Sebab ancaman di kantor tidak selalu datang dengan wajah yang marah. Ia bisa tersenyum, memuji pekerjaan Anda, menambah staf, menyetujui anggaran, bahkan membuat Anda merasa semakin berkuasa.
Sampai suatu hari Anda menyadari bahwa semua yang diberikan kepada Anda ternyata sedang digunakan untuk membangun cerita tentang diri Anda.
Maka ketika kolega mendapatkan promosi, proyek besar, atau kursi di ruangan tempat keputusan dibuat, jangan terlalu cepat berkata, “Dia cuma pintar politik.”
Tanyakan:
_“Apa yang dia pahami tentang manusia dan kekuasaan yang selama ini saya abaikan?”_
Anda boleh tidak menjilat. Anda boleh menolak memanipulasi. Anda boleh menjaga integritas.
Tetapi jangan menjadi naif.
Sebab di kantor, orang yang tersenyum belum tentu kawan. Orang yang berbeda pendapat belum tentu adalah lawan. Dan sesuatu yang terlihat seperti hadiah belum tentu diberikan agar kita semakin kuat.

Suatu hari, mungkin kita tidak kalah karena kurang pintar, kurang bekerja keras, atau kurang kompeten.
Kita kalah karena mengira kompetensi adalah satu-satunya permainan yang sedang dimainkan.

*Edhy Aruman*
_*JAM 6 TENG*—enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung._

*DAFTAR PUSTAKA*
Burrough, B., & Helyar, J. (1990). _Barbarians at the gate: The fall of RJR Nabisco_. Harper & Row.
Ferris, G. R., Treadway, D. C., Kolodinsky, R. W., Hochwarter, W. A., Kacmar, C. J., Douglas, C., & Frink, D. D. (2005). Development and validation of the Political Skill Inventory. _Journal of Management_, 31(1), 126–152. https://doi.org/10.1177/0149206304271386
Pfeffer, J. (2010). _Power: Why some people have it—and others don’t._ HarperBusiness.

01/09/2026

Cukup satu ekor Anjing...

Polisi San Diego melumpuhkan seorang terduga penyanderaan, seekor anjing K9, berhasil melumpuhkan dalam hutungan detik. ゚viralシ

01/09/2026

Detik-detik banjir bandang menghajar kawasan Nepal-Tibet.

(Video )

Otoritas penanggulangan bencana mengungkapkan banjir bandang dahsyat di dekat perbatasan Nepal dan China telah menewaskan sedikitnya 939. Sementara jumlah orang hilang di negara tersebut turun menjadi 3.925 orang saat upaya penyelamatan memasuki hari keenam.

Dilansir AFP, Senin (31/8/2026), media pemerintah China sebelumnya mengonfirmasi 16 orang tewas dan 546 orang hilang di Tibet, sehingga total korban secara keseluruhan mencapai 955 orang tewas dan 4.471 orang hilang.

Daftar orang hilang di Nepal mencakup 592 warga negara asing. Namun, jumlah pekerja yang hilang di lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air--yang diterjang langsung oleh derasnya arus banjir--turun menjadi 639 orang dari angka sebelumnya sebanyak 933 orang.

Badan penanggulangan bencana Nepal mencatat 3.333 warganya hilang dalam pembaruan data.

Angka tersebut mencakup 1.158 orang hilang di distrik Nuwakot dan 865 orang lainnya yang belum diketahui keberadaannya di distrik Rasuwa. (Detik, 31082026)

30/08/2026

4 Momen Hari Penting pada tanggal 31 Agustus.

1. Hari JadinKota Semarang.
2. 31 Agustus diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Malaysia.
3. Hari Kesadaran Overdosis Internasional.
4. Hari Orang Keturunan Afrika Internasional.
゚viralシ

29/08/2026

JAM 6 TENG

TERJUNGKAL
(Naskah Edhy Aruman)
CEO baru jarang gagal sendirian; organisasi sering menjatuhkannya sebelum ia sepenuhnya memimpin.

Perusahaan jarang hancur pada hari CEO baru dilantik. Kerusakannya sering dimulai jauh lebih awal, ketika semua orang merasa suksesi sudah selesai hanya karena nama baru sudah tercetak di kartu nama.
Dalam lomba estafet, kita tahu persis kapan kesalahan terjadi. Tongkat jatuh, pelari kehilangan ritme, dan sepersekian detik saja cukup untuk menghapus bertahun-tahun latihan.

Di organisasi, tongkat bisa jatuh tanpa bunyi. Rapat tetap berjalan, laporan masuk tepat waktu, para direktur masih tersenyum, tetapi beberapa tahun kemudian barulah orang sadar: perlombaan sebenarnya sudah kalah sejak pergantian pemimpin.

Dan Ciampa dan David Dotlich dalam Transitions at the Top mengingatkan bahwa suksesi bukan sekadar mengganti orang. Ia adalah proses memindahkan kepercayaan, legitimasi, kekuasaan, dan harapan dari satu manusia ke manusia lain. Masalahnya, banyak perusahaan memperlakukan pergantian CEO seperti serah terima mobil. “Ini kuncinya, target ada di dashboard, silakan jalan.”
Padahal organisasi bukan mobil. Ia lebih mirip rumah tua yang menyimpan sejarah, aliansi, luka, ego, dan beberapa pintu yang hanya bisa dibuka oleh orang tertentu.

Barbara masuk ke rumah semacam itu. Ia adalah eksekutif finansial cemerlang yang dibesarkan dalam budaya Six Sigma, Lean, data, disiplin, dan proses yang rapi.
Ketika menjadi CFO di perusahaan yang sedang tumbuh, Barbara melakukan persis apa yang selama ini membuatnya sukses. Ia meminta data, membenahi sistem, dan memperketat disiplin operasional.
Masalahnya, perilaku yang sama dibaca dengan bahasa berbeda. Ketelitian dianggap lamban, struktur dianggap birokrasi, dan disiplin terdengar seperti ancaman bagi organisasi yang terbiasa bekerja secara informal. Di situlah paradoksnya. Barbara direkrut karena membawa sesuatu yang tidak dimiliki perusahaan, lalu ditolak justru karena ia membawa sesuatu yang tidak dimiliki perusahaan.
Secara teknis, ia berhasil. Sistem finansial dan teknologi yang dibangunnya solid, tetapi hubungan sosialnya perlahan retak.
Setahun kemudian, Barbara tersingkir. Bukan karena ia tidak mampu bekerja, melainkan karena tak seorang pun membantunya memahami bahwa setiap organisasi memiliki dua struktur.

Struktur pertama tercetak dalam bagan organisasi. Struktur kedua hidup di kepala manusia: siapa dipercaya, siapa ditakuti, siapa berpengaruh, dan siapa bisa menggagalkan keputusan hanya dengan diam dalam rapat.
Di puncak organisasi, struktur kedua sering lebih menentukan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin jarang kegagalannya disebabkan oleh apa yang tidak ia ketahui, dan semakin sering oleh apa yang gagal ia baca.

Dave nyaris terjebak di sana. Ia adalah CEO sukses yang bersiap pensiun, sementara Jim disiapkan sebagai penerus. Sebelum Jim bekerja, Dave mengetahui bahwa seorang anggota dewan berpengaruh mengenalnya dan memberikan komentar positif. Seharusnya itu berita baik.
Namun, kekuasaan punya matematika aneh. Apa yang menambah legitimasi Jim terasa seperti mengurangi legitimasi Dave.
Dave mulai curiga bahwa Jim akan membangun jalur langsung ke dewan. Suksesi yang semula tampak seperti regenerasi mendadak terasa seperti kudeta, hanya dengan agenda rapat yang lebih sopan dan kopi lebih hangat.
Untungnya, Wes, Chief Human Resources Officer (CHRO), tidak membiarkan asumsi kecil berkembang menjadi perang politik. Ia memeriksa fakta, menjernihkan persepsi, lalu mempertemukan Dave dan Jim untuk membahas gaya pengambilan keputusan, batas kewenangan, ekspektasi, dan cara bekerja bersama.

Tiga tahun kemudian, Jim menjadi CEO dan Dave pensiun dengan tenang. Tongkat berpindah karena keduanya memahami bahwa transisi yang sehat bukan soal siapa lebih kuat, tetapi apakah kekuatan bisa berpindah tanpa membuat seseorang merasa dilenyapkan.

Alan dan Wayne menunjukkan kebalikannya. Wayne didatangkan karena perusahaan membutuhkan inovasi setelah terlalu lama hidup dari konservatisme dan efisiensi biaya. Ia meluncurkan produk baru, menyegarkan merek, dan membuka pasar. Namun inovasi membutuhkan investasi, sementara investasi jarang membuat laporan kuartalan langsung terlihat cantik.

Alan, CEO lama, mulai bergerak di belakang layar dan melemahkan posisi Wayne di dalam dewan. Akhirnya, Wayne yang diminta membawa perubahan justru disingkirkan oleh sistem yang belum siap berubah.
Paradoksnya lebih kejam. Perusahaan merekrut Wayne untuk menciptakan masa depan, lalu menghukumnya karena masa depan itu tidak datang dalam satu kuartal.
Di sinilah suksesi berubah dari persoalan organisasi menjadi persoalan identitas. Kekuasaan bukan hanya jabatan; bagi sebagian pemimpin, ia adalah jawaban atas pertanyaan tentang siapa dirinya.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menyiapkan penerus. Mereka juga harus menyiapkan pendahulu untuk benar-benar melepaskan.

Mitch memahami hal ini ketika Marcus akan menjadi CEO. Ia tidak hanya memberi laporan, data pasar, dan strategi, tetapi juga menjelaskan ketakutan tim senior, sejarah konflik, kebiasaan kerja, dan luka psikologis organisasi.
Ia sedang memberikan sesuatu yang jarang masuk ke dokumen suksesi: peta emosi organisasi. Pada saat yang sama, Mitch mempersiapkan para manajer menghadapi gaya Marcus yang cepat dan menuntut.
Marcus dipersiapkan untuk organisasi. Organisasi pun dipersiapkan untuk Marcus.
Di situlah rumusnya menjadi sederhana: pemimpin baru harus belajar membaca organisasi, pemimpin lama harus belajar melepaskan, dan organisasi harus belajar menerima cara memimpin yang berbeda.

Itulah sebabnya tugas dewan dan CHRO bukan hanya menemukan kandidat terbaik. Mereka harus mengelola transfer legitimasi: siapa yang dipercaya, kapan kewenangan berpindah, bagaimana pemimpin lama mundur, dan bagaimana kecemasan orang-orang lama dikelola. Kandidat paling pintar belum tentu menjadi penerus paling berhasil. Kecerdasan membantu seseorang memahami bisnis, tetapi legitimasilah yang membuat orang bersedia mengikutinya.
Maka pertanyaan suksesi yang paling penting mungkin bukan, “Apakah pemimpin baru siap?” Ada dua pertanyaan lain yang lebih tidak nyaman.

Apakah pemimpin lama benar-benar siap tidak lagi memimpin, dan apakah organisasi siap berhenti hidup dalam bayang-bayangnya? Pertanyaan itu jauh lebih sulit dijawab daripada sekadar memilih nama pengganti.

Kursi CEO bisa berpindah dalam satu rapat dewan. Wewenang formal bisa berubah dalam satu tanda tangan. Tetapi kepercayaan tidak mengenal tanggal efektif. Loyalitas tidak otomatis berpindah pada tengah malam.
Dalam estafet, tongkat yang jatuh terdengar. Semua orang tahu perlombaan sedang melemah.
Di organisasi, tragedinya jauh lebih sunyi. Tongkat bisa jatuh ketika semua orang masih berlari.dan perusahaan terus merasa sedang berlomba, padahal tongkatnya sudah lama tertinggal di belakang.

Edhy Aruman
JAM 6 TENG "enam menit untuk membaca, seharian untuk merenung."

27/08/2026

Di Universitas Gadjah Mada, mahasiswa baru menjalankan sebuah tradisi tahunan pada awal tahun akademik:

Tradisi ini sangat terkenal, dan ribuan mahasiswa baru berpartisipasi dengan mengangkat papan berwarna di atas kepala mereka, yang pada akhirnya membentuk gambar artistik atau logo raksasa yang terlihat jelas melalui pemotretan dari udara!

27/08/2026

Hingga Malam sebagian Pendemo masih bertahan, dengan diiringi lagu perjuangan.

20/07/2026

Berburu biawak terus pindahin ke habitatnya. ゚viralシ

01/05/2026

ALDI TAHER DAN ASAL MUASAL KATA 'SEMUA MILIK ALLAH'
Tonton selengkapnya di YT Jeda Nulis dan HAQIQI
Bersama Habib Jafar dan Aldi Taher "I love You so Much"

Address

Rasuna Epicentrum, Jl. H. R. Rasuna Said Lot 9 RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940
South Jakarta

Telephone

+628170792792

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Langkah Besar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Langkah Besar:

Shortcuts

Share