25/06/2026
Mulai 1 Juli 2026, pembagian pendapatan dalam bisnis ojek online akan mengalami perubahan besar. GoTo melalui Gojek dan Grab Indonesia akan menurunkan potongan aplikasi untuk layanan penumpang roda dua menjadi 8 persen. Kebijakan tersebut diumumkan setelah perwakilan kedua perusahaan bertemu dengan pimpinan DPR RI pada 23 Juni 2026. Langkah ini juga menjadi tindak lanjut dari tuntutan para pengemudi dan kelompok buruh yang sebelumnya meminta agar potongan aplikasi diturunkan.
Selama ini, potongan yang dikenakan kepada pengemudi dapat mencapai 20 persen. Dengan skema baru, pengemudi akan menerima sekitar 92 persen dari nilai perjalanan yang menjadi dasar pembagian pendapatan. Perubahan tersebut secara khusus disebut berlaku untuk layanan penumpang roda dua, seperti GoRide dan GrabBike. Jadi, potongan 8 persen belum otomatis berlaku untuk layanan antar makanan, pengiriman barang, transportasi mobil, atau layanan lainnya.
Sekilas, perubahan dari 20 persen menjadi 8 persen mungkin hanya terlihat sebagai penurunan angka. Namun, selisih 12 persen itu dapat mengubah perhitungan pendapatan pengemudi sekaligus mempengaruhi cara perusahaan menjalankan bisnisnya. Persoalan potongan aplikasi memang sudah lama menjadi keluhan para pengemudi ojol. Mereka bekerja menggunakan sepeda motor pribadi, membeli bahan bakar sendiri, membayar kuota internet, merawat kendaraan, dan menghadapi berbagai resiko selama berada di jalan.
Di sisi lain, perusahaan aplikasi menyediakan teknologi yang mempertemukan pengemudi dengan pelanggan. Platform juga mengelola sistem pembayaran, peta perjalanan, keamanan akun, layanan pengaduan, promosi, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya. Hubungan keduanya saling membutuhkan. Pengemudi memerlukan pesanan, sedangkan perusahaan tidak dapat menjalankan layanan tanpa pengemudi. Persoalannya selalu kembali kepada satu pertanyaan, yaitu bagaimana hasil transaksi dibagi secara adil tanpa membuat bisnis berhenti berkembang.
Dengan potongan 8 persen, bagian yang diterima pengemudi akan meningkat cukup besar. Sebagai gambaran, apabila nilai perjalanan yang menjadi dasar pembagian adalah Rp 20.000, potongan 20 persen membuat pengemudi menerima Rp 16.000. Jika potongannya menjadi 8 persen, pengemudi menerima Rp 18.400. Ada tambahan Rp 2.400 dari satu perjalanan dengan nilai yang sama.
Tambahan tersebut terlihat kecil apabila hanya dihitung dari satu pesanan. Namun, pekerjaan ojol terbentuk dari banyak transaksi bernilai kecil yang dikumpulkan setiap hari. Jika seorang pengemudi menyelesaikan 15 perjalanan dengan nilai masing-masing Rp 20.000, selisih pendapatannya dapat mencapai Rp 36.000 sehari.
Apabila dilakukan selama 25 hari, tambahan penerimaan kotornya bisa mencapai sekitar Rp 900.000 dalam sebulan. Perhitungan itu hanya gambaran sederhana. Pendapatan sebenarnya tetap bergantung pada tarif perjalanan, jarak, jumlah pesanan, jam kerja, lokasi, bonus, dan jenis layanan yang diambil.
Meski begitu, penurunan potongan tetap memberikan ruang yang lebih besar bagi pengemudi. Mereka tidak harus kehilangan bagian pendapatan sebanyak sebelumnya setiap kali menyelesaikan perjalanan.
Dari sisi bisnis pengemudi, perubahan ini dapat membuat pesanan yang sebelumnya dianggap kurang menarik menjadi sedikit lebih layak. Terutama untuk perjalanan pendek yang tarifnya tidak terlalu besar.
Namun, bagian pendapatan yang lebih besar belum tentu langsung berubah menjadi keuntungan bersih. Pengemudi masih harus membayar bensin, mengganti oli, memperbaiki ban, membayar cicilan kendaraan, membeli kuota internet, dan menanggung penyusutan sepeda motor.
Karena itu, dampak kebijakan ini seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah uang yang masuk ke aplikasi pengemudi. Hal yang lebih penting adalah berapa pendapatan bersih yang benar-benar tersisa setelah seluruh biaya bekerja dibayar.
Penurunan potongan juga belum tentu menyelesaikan persoalan jika jumlah pesanan tidak bertambah. Penghasilan pengemudi tidak hanya ditentukan oleh berapa persen komisi yang dipotong, tetapi juga berapa banyak perjalanan yang berhasil diperoleh.
Potongan 8 persen akan terasa manfaatnya jika pengemudi tetap mendapatkan pesanan dalam jumlah cukup. Jika jumlah pengemudi terlalu banyak sementara jumlah pelanggan tidak bertambah, waktu menunggu dapat semakin lama.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena pendapatan per perjalanan yang lebih menarik berpotensi mengundang lebih banyak orang mendaftar menjadi pengemudi. Akibatnya, pesanan harus dibagi kepada lebih banyak mitra.
Di sinilah tantangan perusahaan tidak berhenti pada penurunan komisi. GoTo dan Grab juga harus menjaga jumlah pelanggan agar tetap tinggi supaya pengemudi tidak hanya menerima bagian lebih besar, tetapi juga memiliki cukup banyak pekerjaan.
Selama ini, salah satu cara perusahaan menjaga permintaan adalah melalui promo, potongan harga, paket langganan, dan berbagai penawaran perjalanan. Program seperti itu membuat tarif ojol tetap menarik bagi masyarakat.
Masalahnya, promo membutuhkan biaya. Ketika bagian perusahaan dari setiap transaksi menjadi lebih kecil, kemampuan untuk memberikan subsidi dalam jumlah besar juga dapat ikut berkurang.
Bagi GoTo dan Grab, penurunan potongan dari 20 persen menjadi 8 persen berarti pemasukan dari komisi perjalanan roda dua akan menyusut. Dalam transaksi yang sama, bagian perusahaan turun lebih dari separuh.
Hal tersebut menjadi ujian karena kedua perusahaan kini tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah transaksi. Mereka juga dituntut menunjukkan bahwa bisnis digital dapat menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Pada masa awal perkembangan transportasi online, perusahaan dapat mengandalkan modal besar untuk membiayai promo dan memperluas pasar. Kini, investor dan pemegang saham semakin memperhatikan keuntungan, efisiensi, dan kemampuan bisnis bertahan dalam jangka panjang.
Penurunan komisi membuat perusahaan harus mencari cara lain untuk menjaga pendapatan. Salah satunya dengan memperbesar jumlah transaksi agar pemasukan yang lebih kecil dari setiap perjalanan dapat ditutup oleh volume perjalanan yang lebih besar.
Perusahaan juga dapat memperluas sumber pendapatan dari iklan, program langganan, layanan keuangan, pembayaran digital, pengantaran makanan, logistik, dan berbagai layanan tambahan di dalam aplikasi.
Strategi lainnya adalah meningkatkan efisiensi. Penggunaan teknologi dapat membantu perusahaan mengurangi biaya pelayanan pelanggan, mendeteksi transaksi mencurigakan, memperbaiki pencocokan pengemudi, dan menghemat biaya operasional.
Semakin efisien sistem bekerja, semakin kecil biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk menangani setiap transaksi. Dalam bisnis yang melayani jutaan perjalanan, penghematan kecil dapat menghasilkan dampak besar.
Namun, terdapat kekhawatiran bahwa berkurangnya pendapatan dari komisi pengemudi akan diganti dengan biaya lain yang dibebankan kepada konsumen. Misalnya melalui biaya platform, biaya pemesanan, atau komponen tambahan lainnya.
Jika itu terjadi, beban tidak benar-benar hilang, tetapi hanya berpindah. Pengemudi mendapatkan bagian lebih besar, sementara pelanggan harus membayar tarif yang lebih tinggi. Kenaikan harga dapat menjadi masalah karena banyak masyarakat menggunakan ojol berdasarkan pertimbangan biaya. Ketika tarif terlalu mahal, sebagian pelanggan dapat mengurangi perjalanan, beralih ke kendaraan pribadi, atau memilih transportasi lain.
Jika jumlah pelanggan menurun, pengemudi kembali terkena dampaknya karena pesanan semakin sedikit. Tambahan pendapatan dari potongan yang lebih rendah dapat tertutup oleh berkurangnya jumlah perjalanan.
Perusahaan juga dapat memilih mempertahankan tarif dasar, tetapi mengurangi promo. Bagi pelanggan, dampaknya tetap sama karena biaya yang harus dibayar menjadi lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Karena itu, kebijakan 8 persen perlu dijalankan dengan hati-hati. Tujuannya bukan hanya menaikkan bagian pengemudi, tetapi juga menjaga agar layanan tetap terjangkau dan bisnis perusahaan tetap berjalan.
Persaingan antara Gojek dan Grab juga akan memasuki tahap baru. Jika keduanya menerapkan potongan yang sama, perusahaan tidak bisa lagi terlalu mengandalkan besarnya komisi untuk membedakan layanan kepada pengemudi.
Persaingan akan bergeser kepada kualitas sistem. Pengemudi akan mempertimbangkan aplikasi mana yang memiliki pesanan lebih banyak, pembagian perjalanan lebih merata, perhitungan pendapatan lebih jelas, dan penanganan masalah akun lebih cepat.
Bonus dan insentif juga akan tetap berpengaruh. Meskipun potongan utamanya sama, pengemudi dapat memperoleh hasil berbeda tergantung target perjalanan, bonus harian, biaya tambahan, dan aturan yang diberlakukan masing-masing platform.
Dari sisi konsumen, persaingan akan terlihat dari harga, kecepatan mendapatkan pengemudi, keamanan perjalanan, serta kualitas pelayanan. Platform yang mampu menjaga harga tetap terjangkau tanpa menekan pengemudi akan memiliki keunggulan.
Kebijakan ini juga dapat menjadi ujian terhadap hubungan perusahaan dengan mitranya. Selama ini, salah satu sumber ketegangan adalah perasaan bahwa pengemudi menanggung sebagian besar biaya kerja, tetapi tidak memiliki cukup kendali atas pembagian pendapatan.
Penurunan potongan dapat memperbaiki kepercayaan jika diterapkan secara terbuka dan konsisten. Pengemudi harus dapat melihat dengan jelas nilai perjalanan, jumlah potongan, bonus, biaya tambahan, dan pendapatan yang diterima.
Keterbukaan menjadi penting karena angka 8 persen dapat kehilangan makna jika muncul potongan lain dengan nama berbeda. Tujuan kebijakan tidak akan tercapai apabila komisi utama turun, tetapi penghasilan pengemudi tetap berkurang melalui komponen yang sulit dipahami. Karena itu, pemerintah perlu mengawasi pelaksanaan kebijakan setelah 1 Juli 2026. Pengawasan tidak cukup hanya memastikan angka 8 persen tampil di dalam aturan.
Pemerintah juga perlu melihat kondisi nyata di lapangan. Apakah pendapatan bersih pengemudi benar-benar naik, apakah tarif konsumen berubah, apakah jumlah pesanan menurun, dan apakah terdapat biaya baru yang muncul setelah kebijakan diterapkan.
Evaluasi juga harus memperhatikan keberlangsungan perusahaan. Jika aturan membuat platform tidak mampu membiayai operasional, pengembangan teknologi, keamanan, dan pelayanan, dampaknya dapat kembali dirasakan oleh pengemudi dan pelanggan.
Sebaliknya, perusahaan yang sehat tidak seharusnya bergantung pada potongan besar dari mitra. Bisnis yang kuat seharusnya mampu tumbuh melalui teknologi, volume transaksi, efisiensi, dan layanan tambahan yang memberikan manfaat nyata.
Dari sisi bisnis, kebijakan ini memaksa GoTo dan Grab memperbaiki kualitas pendapatannya. Perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan potongan dari pengemudi, tetapi harus menciptakan lebih banyak sumber pemasukan tanpa membuat biaya konsumen melonjak.
Bagi pengemudi, potongan 8 persen membuka peluang mendapatkan bagian lebih besar dari hasil kerja. Namun, manfaatnya akan benar-benar terasa jika pesanan tetap tersedia, tarif tidak turun, dan tidak muncul potongan tambahan yang mengurangi pendapatan.
Bagi konsumen, perubahan ini dapat membawa dua kemungkinan. Layanan tetap terjangkau karena perusahaan semakin efisien, atau biaya perjalanan meningkat karena sebagian beban dipindahkan kepada pelanggan.
Pada akhirnya, kebijakan ini bukan hanya soal mengganti angka 20 persen menjadi 8 persen. Perubahan tersebut sedang menguji apakah bisnis transportasi online di Indonesia mampu membagi keuntungan secara lebih seimbang. Pengemudi membutuhkan pendapatan yang layak, pelanggan membutuhkan tarif yang masuk akal, dan perusahaan membutuhkan keuntungan untuk menjaga layanan tetap berjalan.
Jika ketiganya dapat dijaga, penurunan potongan ini dapat menjadi langkah penting untuk menciptakan bisnis ojol yang lebih sehat. Namun, jika hanya mengubah angka tanpa memperbaiki jumlah pesanan, keterbukaan biaya, dan efisiensi perusahaan, persoalannya hanya akan berpindah dari satu bagian ke bagian lainnya.
---
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.