27/01/2026
JANGAN RUSAK MENTALMU KETIKA SUAMIMU BERSELINGKUH
Tulisan ini ditujukan untuk para istri, khususnya istri yang pernah atau sedang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), salah satunya, yaitu perselingkuhan.
Hidup dalam budaya patriarki ini mengharuskan para istri menanggung banyak beban di pundaknya. Bukan hanya beban secara fisik namun, juga secara mental.
Para istri adalah pelayan suami, tugas wajib istri ada di tiga tempat, yaitu sumur, dapur, dan kasur. Istri bertanggung jawab sepenuhnya keadaan rumah beserta penghuninya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bayangkan, betapa lelahnya fisik istri ketikan menjadi multitask woman. Bersyukur ketika sang suami adalah laki-laki yang baik, penyabar, mapan, dan setia, mungkin beban itu tidak akan terasa berat. Namun, ujian itu datang ketika suaminya adalah orang dengan temperamental, lemah dari segi ekonomi, bahkan tidak setia alias tukang selingkuh.
Seperti yang sering kita dengar, hal yang paling tidak bisa dimaafkan dalam rumah tangga adalah perselingkuhan. Ketika suami selingkuh, kebanyakan dalam budaya kita yang disalahkan adalah istri, yang malu adalah istri, yang kehilangan harga diri adalah istri, yang menanggung aib pun istri. Istri sering disalahkan karena tidak bisa menjaga penampilannya, sehingga suami berpaling ke wanita lain, itu adalah bentuk judgemental yang paling sering kita dengar, bukan? Bahkan, dulu sempat viral iklan-iklan produk kewanitaan yang menggaungkan kalimat membenarkan tindakan “perpelakoran” akibat sang istri yang enggan menjaga organ kewanitaannya. Miris sekali, ketika suami yang berzina, tapi istri yang harus menanggung rasa malu karena dianggap tidak bisa merawat dirinya dan tidak bisa melayani suaminya dengan baik. Lebih menyakitkan lagi, jika kata-kata itu terlontar dari mulut seorang perempuan juga.
💔Betapa hancurnya hati seorang istri ketika suaminya berselingkuh, membagi cintanya dengan wanita lain, hingga akhirnya sang istri merasa rendah diri, lalu menyalahkan dirinya sendiri. Merasa diri tidak cantik dan tidak layak untuk dicintai, sampai akhirnya berada di fase “oh, wajar saja suami saya selingkuh, karena saya jelek, saya kurus, saya gemuk, saya enggak pintar masak, saya enggak bisa cari uang, saya ini, saya itu” kalimat-kalimat perusak mental.
🙅Wahai istri, ketika suamimu berselingkuh, bercerminlah! Bukan untuk mengutuk dirimu, tapi pandang dirimu, tegakkan wajahmu, jangan menunduk. Kamu cantik, kamu baik, kamu hebat, kamu sudah melakukan yang terbaik dalam rumah tanggamu. Kesalahan bukan ada pada dirimu, tapi pada orang yang tidak bisa menghargai arti dari kesetiaan, orang yang tidak bisa menjaga marwah rumah tangganya, orang yang nafsunya mudah dihasut oleh setan. Hatimu sudah remuk redam, jangan kamu tambah dengan
😒 menghakimi diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Tidak sedikit para istri yang mentalnya hancur lebur karena pengkhianatan. Namun, sedikit sekali yang mampu bangkit, karena buruknya support system dalam masyarakat kita yang masih banyak beranggapan bahwa istri sumber kesalahan ketika suaminya sampai melirik perempuan lain.
🗣️ Sekali lagi, wahai istri, bangkit! Kamu hebat, kamu baik, kamu cantik dengan predikat setia yang sedang kamu sandang. Jangan pernah tenggelamkan diri pada kehancuran yang bukan disebabkan olehmu. Kamu berhak bahagia, apa pun keadaanmu.