Jejak Abah

Jejak Abah 🌾Otw mandiri pangan dan energi
Insyā Allāhu ta'ala

24/08/2026

Kadang kita terlalu sibuk mengejar hasil, sampai lupa bahwa proses menanam itu sendiri sedang mengajarkan banyak hal.

Bahwa tidak semua kebutuhan harus langsung dibeli.
Bahwa sedikit lahan tetap bisa menghasilkan.
Bahwa tangan yang mau belajar dan bekerja bisa menjadi sebab datangnya manfaat.

Dan bagi seorang muslim, semoga ikhtiar kecil ini bukan hanya menghasilkan pangan untuk keluarga… tetapi juga menjadi amal yang bernilai di sisi Allah.
Karena ketika sesuatu yang kita tanam dimakan manusia, burung, atau hewan,
ia bisa menjadi sedekah bagi penanamnya.
(HR. Bukhari no. 2320 dan Muslim no. 1553)

Maka mungkin, yang sedang kita tanam bukan hanya sayuran.
Kita sedang menanam kemandirian.
Menanam ketahanan.
Menanam kebermanfaatan.
Dan semoga… menanam pahala. 🌱

Aamiin 🤲

22/08/2026

Belum waktunya membangun rumah.
Jadi sementara...
kebunnya dulu yang kami bangun. 🌱

Pelan-pelan. Sesuai kemampuan.
Sesuai waktunya.

Belum waktunya membangun rumah,
bukan berarti tidak bisa mulai
membangun sesuatu.
Jadi sementara ini, kebunnya dulu.

Satu sudut dirapikan. Satu tanaman ditanam. Satu pergola dirakit. Tidak megah.
Tidak sempurna. Tapi ini adalah bagian dari perjalanan.

Dan siapa tahu, Insyā Allāh suatu hari nanti, ketika rumah akhirnya berdiri di kavling ini, kami bisa melihat kembali foto-foto kebun ini dan berkata:
“Ternyata semuanya memang dimulai dari sini.” 🌱

Tidak perlu resah dengan halaman
orang lain.
Tidak perlu malu dengan langkah yang masih kecil.
Yang penting kita tetap berjalan dengan rezeki, kemampuan, dan waktu yang Allah berikan kepada kita.

🌿“Tidak semua orang harus sampai di tujuan pada waktu yang sama.”

Setuju?

21/08/2026

Menanam ternyata bukan sekadar urusan dunia. 🌱

Selama ini mungkin kita melihat berkebun hanya sebagai usaha menghasilkan sayur, buah, atau pangan untuk keluarga, atau biar happy aja karena hobby.

Tapi ternyata ada nilai lain yang jauh lebih besar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman, lalu dimakan oleh manusia, hewan, atau burung, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim no. 1552a)

Bayangkan...
Kita menanam hari ini.
Tanamannya tumbuh.
Lalu suatu hari ada orang yang memetik buahnya.
Ada burung yang memakannya.
Ada hewan yang ikut menikmati.
Bahkan ketika sebagian tanaman rusak atau dimakan makhluk lain, selama itu terjadi dari tanaman yang kita tanam, Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai sedekah bagi kita.

MasyaAllah...

Jadi mungkin selama ini kita terlalu melihat berkebun dari hasil yang tampak:
berapa banyak panennya,
berapa rupiah nilainya,
berapa luas lahannya.

Padahal seorang Muslim bisa meniatkan aktivitas menanam sebagai ikhtiar dunia sekaligus amal yang bernilai di sisi Allah.

Maka jangan merasa kecil ketika baru bisa menanam satu pohon.
Satu pohon pun bisa menjadi jalan kebaikan.

Tanam untuk pangan.
Rawat dengan amanah.
Niatkan juga sebagai kebaikan.

Semoga apa yang tumbuh di kebun bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi sebab bertambahnya pahala bagi yang menanamnya. Aamiin. 🤲

🌾Follow Jejak Abah | RMK kalau kamu ingin melihat perjalanan membangun kemandirian pangan yang bukan hanya mengejar hasil dunia, tapi juga berharap keberkahan akhirat.

Bārakallāhu fīkum

20/08/2026

Selalu ada saja kejutan kecil di luar rencana kerja.
Yang penting bukan semua pekerjaan berjalan sempurna.
Yang penting kita tetap bisa menyelesaikan satu demi satu.

Project pergola lanjut lagi setelah gangguan kecil ini beres. 🌿

“Berkebun mengajarkan kita untuk fleksibel: rencana boleh dibuat, tapi keadaan tetap harus dihadapi.”

🌾Follow Jejak Abah | RMK kalau mau ikut melihat project pergola ini sampai selesai.
Masih panjang perjalanannya, karena hanya dikerjakan setelah jam kerja 🌱

Semoga Allah mudahkan.

18/08/2026

Cuma punya waktu 2 jam di kebun?
Tetap bisa menghasilkan sesuatu. 🌱

Project pergola belum selesai.

Hari ini waktunya terbatas, jadi kami tidak memaksakan harus selesai semuanya.
Cukup 1-2 lajur rambatan.
Satu bagian berhasil terpasang.

Dan ternyata, berkebun juga mengajarkan kami satu hal:
Tidak harus menunggu punya banyak waktu untuk mulai mengerjakan sesuatu.

Punya 1 jam → kerjakan 1 bagian.
Punya 30 menit → kerjakan yang bisa diselesaikan.
Belum selesai hari ini → lanjut besok.

Yang penting bukan seberapa cepat semuanya selesai.
Tapi ada progres yang terus bergerak.

Begitu juga dengan membangun kemandirian pangan.
Tidak harus langsung punya kebun yang sempurna.
Mulai dari lahan yang ada.
Bangun sedikit demi sedikit.
Tanam apa yang bisa ditanam.
Manfaatkan apa yang tersedia.

Hari ini satu lajur.
Besok, insyaAllah lanjut lagi.

“Sedikit yang dikerjakan terus-menerus lebih baik daripada rencana besar yang tak pernah dimulai.”

🌾Follow Jejak Abah | RMK kalau kamu ingin ikut melihat project pergola ini sampai penuh oleh tanaman rambatan.

Bārakallāhu fīkum

18/08/2026

Alhamdulillaah jadi tahu bentuk tanamannya.
Perdana makan umbinya,
keluarga langsung pada s**a.
Namanya yakon.

Awalnya kami juga belum terlalu mengenal tanaman ini. Karena dapat bibit dari tetangga, akhirnya kami coba tanam dan pelajari.

Yakon merupakan tanaman umbi yang menarik. Umbinya bisa dimakan segar dan memiliki rasa manis alami serta tekstur yang renyah. Penampakan seperti ubi jalar, rasa seperti bengkuang.

Yang membuat kami penasaran justru hasil akhirnya.
🌱 Apakah cocok tumbuh di kebun kami?
🌱 Seberapa banyak umbi yang akan terbentuk?
🌱 Seperti apa hasilnya saat nanti dibongkar?

Jadi sekarang kami tidak hanya menanam, tapi juga belajar dari setiap tanaman yang masuk ke kebun.

Dan inilah yang kami s**ai dari berkebun: kadang sebuah bibit sederhana dari tetangga pun bisa membuka pintu untuk mengenal tanaman yang sebelumnya sama sekali belum kami kenal.

InsyaAllah nanti kita bongkar bersama saat sudah waktunya panen. 👀

“Jangan takut mencoba tanaman yang belum kita kenal. Tanam, amati, pelajari—karena kebun adalah tempat belajar yang tidak pernah habis.”

🌾Follow Jejak Abah | RMK kalau kamu ingin ikut melihat perjalanan yakon ini sampai waktunya dibongkar. Siapa tahu hasilnya justru bikin sama-sama kaget.

Bārakallāhu fīkum

17/08/2026

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dari berkebun. Capeknya nyata.
Panasnya terasa.
Kadang sudah dirawat, ternyata gagal.
Kadang sudah ditanam, dimakan hama.
Tapi ketika suatu pagi melihat bunga yang kemarin masih kuncup tiba-tiba mekar...
hati seperti diberi hadiah. 🌸

Ternyata perasaan itu sudah Allah gambarkan dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman tentang orang-orang beriman:
“...seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya...”
📖 QS. Al-Fath: 29

Ayat ini sebenarnya sedang menggambarkan orang-orang beriman dan perkembangan mereka, bukan sekadar berbicara tentang berkebun.
Namun perumpamaan tanaman itu begitu indah. Ada benih. Ada tunas.
Ada proses menjadi kuat.
Lalu ada sesuatu yang menyenangkan hati orang yang menanamnya.

Bukankah kehidupan juga begitu?
Kita menanam banyak hal dalam hidup.
Menanam ilmu. Menanam amal.
Menanam kebaikan. Menanam kesabaran.

Mungkin hari ini belum terlihat hasilnya.
Tapi teruslah menanam.
Karena tidak semua yang kita tanam harus langsung berbunga hari ini. 🌱

🌿Follow rmk kalau kamu ingin melihat cerita kebun yang bukan hanya tentang apa yang tumbuh di tanah, tapi juga apa yang bisa kita pelajari untuk kehidupan.

Bārakallāhu fīkum

15/08/2026

Tapi perlu digarisbawahi:
Ini adalah pengamatan dan percobaan kecil di kebun kami, bukan berarti cara ini pasti meningkatkan hasil pada semua tanaman kacang tanah.
Karena kondisi tanah, varietas, air, cahaya, dan teknik budidaya juga sangat berpengaruh.
Dan justru di situlah menariknya berkebun…

Kadang ilmu yang kita baca di layar
baru benar-benar kita pahami setelah melihatnya langsung di dunia nyata 🌱

Semoga semakin menguatkan wawasan
dan keilmuan kita semua.
Terimakasih kepada teman-teman online yang telah turut memberikan pencerahan dalam hal ini.

Bārakallāhu fīkum

14/08/2026

100 followers pertama
Biidznillāhi ta'ala

Mungkin bagi sebagian orang,
angka 100 ini terlihat kecil.

Tapi bagi sebuah akun yang baru
mulai tumbuh,
100 orang yang memilih mengikuti perjalanan ini adalah sesuatu yang sangat berarti.

Kalian datang ketika semuanya
masih sederhana.
Belum banyak yang melihat.
Belum banyak yang mengenal.

Dan justru karena itu…
kalian akan selalu menjadi bagian dari cerita perjalanan Jejak Abah.
Terimakasih semua...

Semoga akun kecil ini tidak hanya bertambah angka,
tetapi juga bertambah manfaat.

Pelan-pelan.
Satu konten.
Satu ilmu.
Satu inspirasi.
Satu langkah setiap hari.

Bismillah… semoga Allah tumbuhkan menjadi sesuatu yang jauh lebih bermanfaat. 🌱

Kalau kamu termasuk 100 pertama, tinggalkan 🌱 di komentar.

Dan kalau baru menemukan Jejak Abah hari ini, selamat datang.
Kita tumbuh bersama. 🤎

Bārakallāhu fīkum

13/08/2026

Inilah fakta "unik" kacang tanah
yang jarang orang tahu.

Bunganya tumbuh di atas tanah, tapi setelah bunga dibuahi, tangkainya justru tumbuh membengkok ke bawah dan masuk ke dalam tanah.

Di sanalah bakal polong berkembang menjadi kacang tanah yang kita panen.

Jadi sebenarnya… kacang tanah bukan tumbuh seperti wortel atau ubi yang akarnya membesar. Tapi buah yang berkembang di dalam tanah.

Mā syā Allāh, sungguh Allah Maha Kuasa menumbuhkan setiap tanaman sesuai yang dikehendakiNya.

Pelan-pelan tumbuh. Diam-diam bekerja. Sampai waktunya tiba untuk dipanen.

🌿 Follow Jejak Abah | RMK untuk memetik pelajaran iman dari kebun berikutnya

Bārakallāhu fīkum

Address

Sukabumi
431XX

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jejak Abah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share