SULUK

SULUK SULUKSUFI
(4)

“Jangan sekali-kali merendahkan siapa pun, baik ia orang yang sudah mati maupun yang masih hidup; jika tidak, engkau aka...
19/05/2026

“Jangan sekali-kali merendahkan siapa pun, baik ia orang yang sudah mati maupun yang masih hidup; jika tidak, engkau akan binasa. Karena engkau tidak pernah tahu, boleh jadi ia lebih mulia daripada dirimu di hadapan Allah.”

Manusia sangat mudah tertipu oleh apa yang terlihat di permukaan. Kita melihat penampilan, masa lalu, status sosial, pendidikan, atau kesalahan seseorang, lalu diam-diam merasa lebih baik darinya. Padahal para ulama dan sufi memahami bahwa nilai manusia di sisi Allah bukan ditentukan oleh apa yang tampak di mata manusia.

Ada orang yang terlihat biasa di dunia tetapi sangat mulia di hadapan Allah karena keikhlasan, kesabaran, dan kebersihan hatinya. Dan ada p**a yang dipuji manusia, dihormati, bahkan dianggap saleh, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan yang justru menjauhkannya dari Tuhan.

Karena itu para sufi sangat takut merendahkan manusia lain. Sebab mereka sadar, mereka tidak pernah benar-benar tahu bagaimana keadaan hati seseorang di sisi Allah. Bisa jadi orang yang hari ini terlihat penuh dosa justru sedang menuju taubat yang sangat dicintai Allah. Dan bisa jadi orang yang merasa dirinya paling benar perlahan sedang dihancurkan oleh kesombongannya sendiri.

Masalahnya, ego manusia senang merasa lebih tinggi. Dengan meremehkan orang lain, seseorang diam-diam sedang meninggikan dirinya sendiri. Ia lupa bahwa seluruh kebaikan yang ia miliki hanyalah karunia Allah, bukan alasan untuk memandang rendah sesama.

Para ulama mengingatkan bahwa salah satu dosa hati yang paling berbahaya adalah kesombongan. Sebab iblis tidak binasa karena tidak mengenal Allah, tetapi karena merasa dirinya lebih baik daripada manusia lain.

Para sufi memahami bahwa kehormatan manusia di sisi Allah adalah rahasia. Karena itu mereka memilih menjaga lisan dan hati dari merendahkan siapa pun. Mereka lebih sibuk melihat kekurangan dirinya sendiri daripada sibuk mengukur rendah tingginya manusia lain.

Bahkan kepada orang yang sudah meninggal pun mereka berhati-hati. Sebab manusia yang telah kembali kepada Allah tidak lagi berada di bawah penilaian kita. Dan sering kali orang yang sibuk membicarakan keburukan orang lain hanya sedang menunjukkan penyakit dalam hatinya.

Ada perasaan halus yang sering menyelinap tanpa disadari, yaitu ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih baik dari ya...
10/05/2026

Ada perasaan halus yang sering menyelinap tanpa disadari, yaitu ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih baik dari yang lain. Ia mungkin tidak mengucapkannya, tetapi di dalam hatinya ada perbandingan yang perlahan membesar. Ia melihat kekurangan orang lain dengan jelas, sementara kekurangannya sendiri terasa samar. Dalam keadaan seperti itu, hati tidak lagi jernih, karena ia sudah dipenuhi oleh ukuran ukuran yang menempatkan dirinya di atas.

Dalam kehidupan manusia, keinginan untuk merasa lebih baik sering lahir dari kebutuhan untuk merasa aman. Secara psikologis, seseorang ingin memastikan bahwa dirinya tidak berada di bawah. Namun secara filosofis, perasaan lebih baik justru menjadi tanda bahwa seseorang telah kehilangan arah dalam memahami dirinya sendiri. Dari sini muncul kesadaran yang dalam, bahwa kesesatan tidak selalu terlihat dalam tindakan besar, tetapi bisa hadir dalam perasaan kecil yang terus dibiarkan tumbuh tanpa dikoreksi.

1. Merasa lebih baik adalah awal dari tertutupnya hati

Ketika seseorang merasa sudah cukup baik, ia berhenti melihat kekurangannya. Dari sini, ia kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.

2. Perbandingan membuat seseorang lupa pada perjalanan dirinya sendiri

Fokus berpindah dari memperbaiki diri menjadi menilai orang lain. Dari sini, seseorang tersesat dari tujuan awalnya.

3. Kerendahan hati adalah tanda bahwa seseorang masih berjalan

Seseorang yang merasa masih banyak kekurangan akan terus belajar. Dari sini, kerendahan hati menjaga seseorang tetap berkembang.

4. Melihat kekurangan orang lain tidak membuatmu lebih baik

Apa yang kamu lihat pada orang lain tidak mengubah siapa dirimu. Dari sini, seseorang kembali fokus pada dirinya sendiri.

5. Kesadaran diri menjaga hati tetap jernih

Mengenal diri dengan jujur membuat seseorang tidak mudah merasa lebih dari yang lain. Dari sini, hati menjadi lebih tenang dan terbuka.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi lebih baik dari orang lain, tetapi tentang menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya.

Jika suatu hari kamu merasa dirimu lebih baik dari orang lain, apakah itu benar benar tanda kemajuan, atau justru tanda bahwa kamu mulai kehilangan arah.

Ada kenyataan yang perlahan dipahami manusia seiring bertambahnya usia, bahwa tidak semua yang terlihat dekat akan selal...
06/05/2026

Ada kenyataan yang perlahan dipahami manusia seiring bertambahnya usia, bahwa tidak semua yang terlihat dekat akan selalu tinggal. Kita tumbuh dengan kebutuhan untuk bersandar, untuk merasa ditemani, untuk percaya bahwa ada seseorang yang akan selalu ada kapan pun dibutuhkan. Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan bahwa manusia, sebaik apa pun niatnya, tetap memiliki keterbatasan. Ada saat mereka sibuk dengan hidupnya sendiri, ada saat mereka berubah, dan ada saat mereka pergi tanpa bisa kita tahan. Bahkan bayangan yang selalu mengikuti tubuh pun akan menghilang ketika gelap datang.

Bukan berarti manusia tidak boleh mencintai atau mempercayai sesama. Namun ada perbedaan besar antara mencintai dan menggantungkan seluruh hidup. Ketika hati terlalu bergantung pada seseorang, ketenangan kita ikut bergantung pada kehadirannya. Akibatnya, sedikit perubahan saja bisa mengguncang batin kita. Dalam dimensi psikologis dan spiritual, ketergantungan yang berlebihan membuat seseorang kehilangan pusat dirinya sendiri. Ia tidak lagi berdiri dengan utuh, tetapi hidup dari apa yang diberikan orang lain kepadanya. Di sinilah kehidupan perlahan mengajarkan bahwa sandaran paling kuat bukanlah manusia, melainkan kekuatan batin dan hubungan dengan Tuhan yang tidak berubah oleh keadaan.

1. Ketergantungan yang berlebihan membuat hati rapuh

Semakin besar ketergantungan seseorang kepada manusia, semakin besar p**a potensi kekecewaan yang akan ia rasakan. Dalam psikologi, ketergantungan emosional membuat seseorang sulit merasa tenang tanpa validasi atau kehadiran orang tertentu. Akibatnya, hidup menjadi mudah goyah oleh perubahan kecil. Ketika kita belajar berdiri dengan diri sendiri, hati menjadi lebih stabil karena kebahagiaan tidak sepenuhnya ditentukan oleh orang lain.

2. Manusia memiliki keterbatasan yang tidak bisa dihindari

Tidak ada manusia yang mampu selalu hadir, selalu memahami, atau selalu kuat untuk orang lain. Bahkan orang yang paling tulus pun tetap memiliki kelemahan dan keterbatasannya sendiri. Dalam kehidupan sosial, banyak luka muncul bukan karena seseorang sengaja menyakiti, tetapi karena kita berharap terlalu banyak darinya.

Ada jenis kesabaran yang tidak banyak dibicarakan, bukan kesabaran dalam menunggu sesuatu yang pasti datang, tetapi kesa...
20/04/2026

Ada jenis kesabaran yang tidak banyak dibicarakan, bukan kesabaran dalam menunggu sesuatu yang pasti datang, tetapi kesabaran dalam bertahan pada sesuatu yang tidak pernah kita pilih. Ia tidak memberi kepastian kapan akan berakhir, tidak menawarkan kenyamanan, bahkan sering kali terasa seperti jalan yang tidak memiliki ujung. Dalam keadaan seperti itu, manusia diuji bukan hanya pada kekuatannya, tetapi pada kejujurannya terhadap dirinya sendiri. Apakah ia mampu tetap berdiri ketika hatinya ingin menyerah.

Dalam kehidupan sosial dan psikologis, manusia cenderung kuat ketika memiliki harapan yang jelas. Ia mampu bertahan karena tahu bahwa ada sesuatu yang dituju. Namun dalam situasi yang tidak diinginkan, harapan sering kali menjadi kabur. Tidak ada jaminan, tidak ada kepastian, hanya kenyataan yang harus dihadapi. Secara filosofis, ini adalah titik di mana kesabaran berubah makna, bukan lagi tentang menunggu hasil, tetapi tentang menerima proses yang tidak sesuai dengan keinginan. Dari sinilah muncul kedalaman yang tidak semua orang mampu mencapainya.

1. Bertahan tanpa pilihan adalah ujian paling sunyi

Ketika seseorang tidak memiliki pilihan selain bertahan, ia memasuki ruang yang sangat sunyi. Tidak ada yang benar benar memahami apa yang ia rasakan, tidak ada yang bisa menggantikan beban itu. Dalam kesunyian ini, ia belajar berbicara dengan dirinya sendiri, menghadapi pikirannya, dan berdamai dengan kenyataan yang tidak bisa ia ubah. Ini adalah ujian yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.

2. Ketidaknyamanan yang terus menerus menguji batas diri

Berada dalam situasi yang tidak diinginkan berarti hidup dalam ketidaknyamanan yang berulang. Hari demi hari terasa seperti pengulangan yang melelahkan. Namun di sinilah seseorang mulai mengenal batas dirinya. Ia belajar bahwa dirinya mampu bertahan lebih dari yang ia kira. Dari sini, lahir kekuatan yang tidak dibangun dalam kenyamanan, tetapi dalam tekanan yang terus menerus.

3. Menerima bukan berarti menyerah

Banyak orang mengira bahwa menerima keadaan adalah bentuk kelemahan. Padahal menerima adalah langkah awal untuk menemukan ketenangan.

Ada malam… di mana kamu tidak menangis. Bukan karena kamu kuat. Tapi karena kamu sudah terlalu lelah untuk menangis. Kam...
18/04/2026

Ada malam… di mana kamu tidak menangis. Bukan karena kamu kuat. Tapi karena kamu sudah terlalu lelah untuk menangis. Kamu hanya diam. Menatap kosong. Dan untuk pertama kalinya… kamu merasa sendirian di dunia ini. Bukan karena tidak ada manusia. Tapi karena tidak ada lagi yang bisa kamu sandari. Orang yang dulu kamu percaya… sudah berubah. Orang yang dulu kamu andalkan… sudah pergi. Dan hidup yang dulu terasa pasti… sekarang terasa asing. Kamu mencoba bertahan. Tapi jauh di dalam dada… ada sesuatu yang sudah patah. Dan kamu tidak tahu bagaimana memperbaikinya. Malam itu… kamu hanya bisa berbisik pelan… “Ya Allah… kenapa semuanya diambil dariku?” Dan tidak ada jawaban. Hanya sunyi. 1. Allah menghancurkan apa yang selama ini kamu andalkan Bukan karena Allah kejam. Tapi karena Allah tahu… kamu bersandar pada yang salah. Kamu berharap pada manusia yang bisa pergi. Kamu menggantungkan hati pada dunia yang bisa hilang. Dan Allah tidak ingin hatimu hancur bersama mereka. Maka Allah hancurkan dulu sandaran itu… sebelum sandaran itu menghancurkanmu sepenuhnya. 2. Ada rasa sakit yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun Kamu tersenyum di depan orang lain. Tapi hancur saat sendirian. Kamu terlihat kuat. Tapi sebenarnya… kamu hampir menyerah. Tidak ada yang tahu… berapa banyak malam yang kamu lewati dalam diam. Tidak ada yang tahu… berapa banyak luka yang kamu simpan sendirian. Kecuali Allah. 3. Saat semua sandaran hilang… hanya Allah yang tersisa Dan di titik terendah itu… kamu mulai sadar. Selama ini… kamu bersandar pada yang bisa hilang. Padahal satu-satunya sandaran yang tidak pernah runtuh… adalah Allah. Nasihat ini pernah diingatkan oleh Ibnu ‘Athaillah… Barangsiapa bersandar pada sesuatu, akan jatuh ketika itu jatuh. Dan mungkin… semua yang Allah ambil darimu… bukan untuk menghancurkanmu. Tapi untuk membuatmu kembali bersandar hanya kepada-Nya. Suatu hari nanti… kamu akan mengerti. Kenapa Allah membuatmu sendirian. Kenapa Allah menghancurkan sandaranmu. Karena Allah ingin kamu tahu… Saat kamu tidak punya siapa-siapa… tapi kamu punya Allah… Kamu tidak pernah benar-benar jatuh Jika dunia menjatuhkanmu… biarkan akun ini mengingatkanmu kepada Allah.” “Pelan-pelan… kita

Kamu tidak lelah karena hidup terlalu berat… kamu lelah karena terlalu lama berpura-pura kuat. Tidak ada yang tahu… bera...
17/04/2026

Kamu tidak lelah karena hidup terlalu berat… kamu lelah karena terlalu lama berpura-pura kuat. Tidak ada yang tahu… berapa kali kamu ingin menyerah. Berapa kali kamu menangis diam-diam. Berapa kali kamu berkata, “Ya Allah… aku sudah tidak kuat.” Kamu tetap tersenyum… padahal hatimu hancur pelan-pelan. Tapi satu hal yang harus kamu tahu… Allah tidak pernah menyia-nyiakan lelahmu. Jika hari ini hidupmu terasa paling berat, mungkin itu karena Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang besar. Bukan untuk menyakitimu. Tapi untuk mengubahmu… menjadi versi terkuat yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan. Jangan menyerah sekarang. Karena bisa jadi… kamu sudah sangat dekat dengan jawaban doamu. Kalau kamu membaca ini sampai akhir… mungkin ini bukan kebetulan. 1. Ada hari-hari di mana kamu bangun dengan hati yang berat… bukan karena tubuhmu lemah, tapi karena jiwamu terlalu lelah untuk berpura-pura kuat. Kamu tersenyum di depan orang lain… tapi tidak ada yang tahu, betapa sering kamu berbicara dengan dirimu sendiri dalam diam, menenangkan hati yang hampir menyerah. Dan kamu mulai bertanya dalam hati… “Ya Allah… sampai kapan aku harus sekuat ini?” 2. Kamu sudah mencoba. Sudah berusaha. Sudah berdoa sampai air matamu jatuh tanpa suara. Tapi hidup masih terasa berat. Masih terasa sepi. Masih terasa seperti kamu berjalan sendirian di jalan yang panjang… tanpa kepastian. Dan yang paling menyakitkan… bukan lelahnya. Tapi perasaan seolah semua usahamu tidak berarti apa-apa. 3. Kamu melihat orang lain tersenyum bahagia. Hidup mereka terlihat mudah. Langkah mereka terlihat ringan. Sementara kamu… harus berjuang hanya untuk tetap berdiri. Dan dalam diam, kamu bertanya… “Ya Allah… apakah Engkau melihatku?” Padahal… tanpa kamu sadari… Allah melihat setiap air matamu. Allah mendengar setiap doa yang bahkan tidak mampu kamu ucapkan. 4. Apa yang kamu rasakan hari ini… bukan hukuman. Ini adalah proses. Allah tidak sedang menghancurkanmu. Allah sedang membentukmu. Seperti besi yang harus dipanaskan untuk menjadi kuat… seperti tanah yang harus diinjak untuk menjadi kokoh… Hatimu sedang dipersiapkan… untuk menjadi lebih sabar… lebih kuat… dan lebih dekat kepada-Nya. 5. Karena ada versi dirimu

Menuju Sifat yang Sempurna Pernahkah engkau merenung… siapakah yang sebenarnya sedang mengendalikan dirimu? Wahai saudar...
16/04/2026

Menuju Sifat yang Sempurna Pernahkah engkau merenung… siapakah yang sebenarnya sedang mengendalikan dirimu? Wahai saudaraku, telah kusampaikan sebelumnya— dalam dirimu terdapat tiga kecenderungan: sifat hewan, sifat setan, dan sifat malaikat. Aku tidak datang untuk menghakimi siapa pun. Aku hanya mengajakmu merenung— engkau lebih sering mengikuti yang mana? Karena sering kali kita merasa baik— padahal kita hanya mengikuti keinginan diri yang dibungkus dengan pembenaran. Maka renungkanlah dengan jujur— agar engkau mampu memperbaiki, bahkan meningkatkan dirimu sendiri. 1. Sifat Hewan Tanpa dijelaskan pun, engkau telah mengenalnya: makan, tidur, syahwat, dan amarah. Namun ketahuilah— sifat ini bukan untuk dibuang, tetapi untuk dikendalikan. Jika engkau menuruti tanpa kendali, engkau akan diperbudak olehnya. Namun jika engkau menguasainya, ia akan menjadi kekuatan dalam hidupmu. Sebagaimana Allah mengingatkan: “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami… mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (Al-A’raf: 179) Artinya, manusia bisa jatuh lebih rendah dari hewan jika ia hanya mengikuti hawa nafsunya. 2. Sifat Setan Bukan berarti engkau adalah setan— ini hanyalah istilah agar engkau mampu membedakan. Sifat ini tampak dalam: tipu daya, dusta, membenarkan yang salah, bahkan mendustakan kebenaran. Dan sifat ini memiliki banyak bentuk: sombong, iri hati, hasad, riya’, ujub (merasa diri lebih baik), serta meremehkan orang lain. Namun aku hanya menyebutkan sebagian— agar engkau memahami, bahwa sifat ini sangat luas dan sering hadir dalam bentuk yang halus. Dan inilah yang paling berbahaya— ia datang dengan wajah yang seolah benar, bahkan membuatmu merasa paling benar— padahal engkau sedang jauh dari kebenaran. Terkadang ia tidak datang sebagai keburukan yang jelas— tetapi sebagai kebaikan yang disalahgunakan. Sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh.” (Fatir: 6) Dan juga: “Setan menjanjikan kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji…” (Al-Baqarah: 268) Maka berhati-hatilah— karena tipuannya bukan selalu kasar, tetapi sering halus dan tersembunyi. 3. Sifat Malaikat Sifat ini a

“Di dalam dirimu… ada ruh, jiwa, akal, dan ego. Mereka semua sedang bertempur memperebutkan kendali hidupmu.” Banyak ora...
16/04/2026

“Di dalam dirimu… ada ruh, jiwa, akal, dan ego. Mereka semua sedang bertempur memperebutkan kendali hidupmu.” Banyak orang merawat tubuhnya… tapi lupa siapa yang sebenarnya memimpin dirinya. Malam turun perlahan di halaman pesantren tua. Angin menggerakkan daun bambu seperti sedang berzikir. Seorang murid perempuan duduk di hadapan gurunya. Wajahnya cantik rupawan, namun matanya menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Murid: “Guru… akhir-akhir ini aku merasa seperti ada perang di dalam diriku. Kadang aku ingin mendekat kepada Allah. Tapi kadang ada sesuatu yang menarikku kembali ke dunia. Kenapa hatiku seperti medan tempur?” Sang guru memandang langit malam yang penuh bintang. Wajahnya teduh seperti danau yang tak pernah bergelombang. Guru: “Karena engkau bukan hanya tubuh, anakku. Di dalam dirimu ada banyak penghuni.” Murid itu mengerutkan dahi. Murid: “Penghuni…?” Guru: “Ya. Manusia bukan sekadar daging dan tulang. Di dalam dirimu ada ruh, jiwa, akal, dan ego. Mereka semua sedang berebut memegang kendali.” Murid itu terdiam. Angin malam terasa semakin dingin. Murid: “Guru… siapa sebenarnya ruh itu?” Sang guru menutup matanya sejenak, lalu berkata dengan suara perlahan. Guru: “Ruh adalah cahaya yang ditiupkan Allah ke dalam dirimu. Ia selalu rindu p**ang kepada-Nya. Ia tidak pernah lelah memanggilmu untuk kembali.” Mata murid itu mulai berkaca-kaca. Murid: “Kalau begitu… kenapa aku sering tidak mendengar panggilan itu?” Guru: “Karena suara ruh sering kalah oleh suara lain.” Murid menelan ludahnya. Murid: “Suara apa, Guru?” Guru: “Suara nafs… ego yang berbisik: ‘Aku ingin ini… aku ingin itu… aku harus menang…’” Guru menatap muridnya dengan lembut. Guru: “Itulah nafs ammarah. Ia mencintai dunia, kekuasaan, pujian, dan kesenangan. Jika ia memimpin, manusia akan berjalan menjauh dari Allah… tanpa sadar.” Murid menggenggam tangannya sendiri. Murid: “Lalu… jiwa itu apa?” Guru tersenyum tipis. Guru: “Jiwa adalah medan perang Di sanalah ruh dan nafs saling menarik Kadang ruh menang… kadang nafs menguasai Murid terdiam lama Murid: “Kalau begitu… aku ini siapa sebenarnya? Guru menunjuk dada murid itu Guru: “Engkau adalah penentu siapa yang memimpin Murid mengangk

Di sebuah desa kecil yang sunyi, hiduplah seorang pemuda bernama Hasan. Dahulu, Hasan dikenal sebagai anak yang rajin me...
16/04/2026

Di sebuah desa kecil yang sunyi, hiduplah seorang pemuda bernama Hasan. Dahulu, Hasan dikenal sebagai anak yang rajin mengaji. Suaranya merdu saat membaca Al-Qur'an, dan ibunya sering berkata, "Hasan, semoga kamu menjadi orang saleh yang menerangi keluarga kita." Namun waktu berubah… Setelah ayahnya meninggal, Hasan mulai bergaul dengan teman-teman yang salah. Ia meninggalkan shalat, jarang p**ang, dan hatinya perlahan menjadi keras. Ibunya hanya bisa menunggu di depan rumah setiap malam, dengan air mata yang selalu jatuh tanpa suara. 😔 Suatu malam, hujan turun deras. Hasan p**ang dalam keadaan mabuk dan pakaian basah. Ibunya membuka pintu dengan tangan gemetar. "Hasan… kamu sudah makan?" tanya ibunya lembut. Hasan hanya menggerutu dan masuk tanpa menjawab. Ibunya tetap menyiapkan makanan, walau ia tahu Hasan mungkin tak akan menyentuhnya. Malam itu, ibunya duduk di sudut rumah. Ia mengangkat tangan dan berdoa sambil menangis… "Ya Allah… ambillah umurku jika itu bisa membuat Hasan kembali kepada-Mu…" Hasan mendengar doa itu. Namun ia menutup telinganya, mencoba tidur, dan mengabaikan rasa bersalah yang mulai muncul di hatinya. Beberapa hari kemudian… Hasan p**ang larut malam seperti biasa. Tapi rumahnya gelap. Tidak ada lampu minyak yang menyala. Tidak ada suara batuk ibunya. Tidak ada makanan hangat di meja. Ia memanggil, "Ibu…?" Tak ada jawaban. Ia masuk ke kamar. Di sana, ibunya terbaring diam… dengan wajah yang tenang. Di sampingnya, ada mushaf Al-Qur'an yang terbuka dan sajadah yang masih basah oleh air mata. Tetangga datang dan berkata pelan, "Ibumu meninggal setelah shalat tahajud… sambil menyebut namamu." Dunia Hasan runtuh saat itu juga. Ia jatuh di samping jasad ibunya dan menangis sekeras-kerasnya. 😭 "Ibu… bangun Bu… Hasan p**ang… Hasan mau berubah… Hasan janji…" Namun semuanya terlambat. Saat hendak menguburkan ibunya, Hasan menemukan secarik kertas di bawah bantal. Tulisan ibunya gemetar: "Ya Allah, jika Hasan belum sempat berubah saat aku hidup… maka jangan Engkau ambil nyawanya sebelum dia bertaubat…" Hasan memeluk kertas itu sambil menangis tanpa henti. Sejak hari itu, Hasan berubah total. Ia selalu berada di masjid. Setiap selesai shalat,

“Jangan buru-buru usir lalat… bisa jadi yang pergi itu rahmat.” Kamu jijik pada lalat… tapi pernahkah kamu jijik pada ha...
15/04/2026

“Jangan buru-buru usir lalat… bisa jadi yang pergi itu rahmat.” Kamu jijik pada lalat… tapi pernahkah kamu jijik pada hatimu sendiri? Murid : Guru… aku benci lalat. Setiap datang… aku langsung mengusirnya. Guru : Kau yakin… yang kau gunakan itu hanya lalat? Murid : Memangnya apa lagi, Guru…? Guru : Bisa jadi… yang kau gunakan itu… adalah pelajaran yang Allah kirimkan… karena kau terlalu sombong untuk belajar dari yang hina. Murid : … Guru: Lalat tidak pernah meminta jadi lalat. Ia tidak pernah menangis ingin jadi kupu-kupu. Ia lahir… lalu patuh. Tanpa protes. Tanpa drama. Tanpa merasa dirinya pantas lebih. Murid : Sedangkan aku…? Guru : Kau? Diberi takdir… tapi tolak. Diberi jalan…tapi mengeluh. Diberi hidup… tapi merasa kurang. Guru : Lalat itu hidup dari sisa. Dari yang kau buang. Tapi anehnya… yang kau buang itu cukup untuk menghidupinya. Sedangkan kau… diberi begitu banyak… tapi tetap merasa kekurangan. Murid : Guru… kenapa rasanya… seperti aku yang sedang dihakimi… Guru: Karena memang itu yang sedang terjadi. Murid: Lalat itu kotor, Guru… Guru : Lebih kotor mana… lalat yang hinggap di bangkai… atau hati… yang dipenuhi riya, iri, dan kesombongan? Murid : Aku… tidak tahu lagi harus berkata apa… Guru: Bagus. Karena banyak bicara… biasanya belum melihat. (Seekor lalat datang. Hinggap di tangan murid.) Murid : Guru… ini— Guru : Jangan. Untuk sekali ini… jangan gunakan. Guru : Lihat dia… Dia tidak tahu kau jelek. Ia tidak tahu kau merasa lebih tinggi. Ia hanya tahu satu hal: di situ ada kehidupan… lalu ia datang. Murid : Guru… aku merasa… lebih hina dari lalat… Guru : Kalau kau masih bisa merasa begitu… berarti kau belum mati sepenuhnya. Murid: Apakah lalat itu… lebih dekat kepada Allah dariku…? Guru : Ia tidak membangkang. Sedangkan kau… sering melawan dalam diam. Murid: Tapi dia tidak beribadah… Guru : Kamu yakin? Dengungnya…itu dzikir. Hidupnya… itu tasbih. Kepatuhannya… itu ibadah. Ia tidak pernah ingin dilihat. Tidak pernah ingin dipuji. Guru : Sedangkan banyak manusia… beribadah… tapi diam-diam… ingin disaksikan. Murid : Lalu… bagaimana aku harus hidup, Guru…? Guru : Turunlah. Murid: Turun…? Guru: Turun dari merasa suci. Turun dari merasa lebih baik. Turun…

Address

Sukabumi

Telephone

+6287871510400

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SULUK posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share