02/08/2026
Istilah Londo Ireng kembali menjadi perbincangan publik. Sebutan ini kerap dikaitkan dengan pasukan elite bentukan pemerintah kolonial Hindia Belanda bernama Korps Marechaussee te Voet atau Marsose.
Secara historis, Marsose dibentuk pada 2 April 1890 di tengah sengitnya Perang Aceh.
Satuan khusus di bawah Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) itu ditugaskan menghadapi perang gerilya di pedalaman Aceh yang sulit dijangkau pasukan reguler.
Menariknya, gagasan pembentukan Marsose berasal dari Mohammad Syarif, seorang pribumi asal Sumatera Barat yang saat itu menjabat Kepala Jaksa di Kutaraja.
Mayoritas anggota Marsose direkrut dari kalangan pribumi, seperti Ambon, Minahasa, Jawa, Sunda, Madura, Nias, Timor, dan Nusa Tenggara.
Selain itu, pasukan ini juga merekrut tentara dari Prancis, Swiss, Belgia, hingga Afrika.
Berbekal senapan Karabin Mannlicher dan klewang, Marsose menerapkan strategi "gerilya melawan gerilya".
Namun, korps ini juga dikenal karena berbagai aksi kekerasan. Salah satunya penyerbuan Benteng Sukun di Sigli pada 6 Agustus 1897 yang menewaskan lebih dari 57 warga Aceh.
Selain beroperasi di Aceh, Marsose turut terlibat dalam operasi militer di Sumatera Utara yang berujung pada gugurnya Sisingamangaraja XII pada 1907.
Akibat rekam jejak kekerasannya, pemerintah kolonial Hindia Belanda membubarkan Marsose pada 1930.
Korps tersebut kemudian benar-benar berakhir pada 1942 setelah Belanda menyerah kepada Jepang.