26/02/2026
Dalam Cerita Presiden RI
KANG DEDI MULYADI dalam Bencana Alam Sumatera & Aceh
Janjikan 3 Kampung di Sumatera, Ini Sumber Dana KDM
Di hari ketika banjir dan longsor menghancurkan kampung-kampung di Sumatera, ribuan keluarga kehilangan lebih dari sekadar tempat tinggal. Dinding yang dulu hangat kini tinggal lumpur. Foto pernikahan, ijazah anak, pakaian bayi—semua dibawa arus tanpa kompromi.
Di banyak titik, pengungsian penuh tangis lirih yang tak tuntas. Sebab kehilangan rumah bukan hanya kehilangan atap, tapi kehilangan rasa aman, kehilangan tempat pulang.
Lalu datanglah Dedi Mulyadi. Tidak dengan rombongan protokoler panjang atau seremoni televisi. Ia datang dengan mata yang menyaksikan langsung luka itu, dengan tangan yang membawa logistik, dan dengan janji yang tidak main-main: 50 rumah untuk para korban di Tapanuli Utara, dan 50 rumah lagi untuk warga Aceh Tamiang yang tanahnya runtuh dan rumahnya hilang diterjang air.
Di Padang, ketika hujan masih turun dan lumpur belum kering, ia bahkan mengucap niat yang lebih besar—membangun satu kampung baru bagi warga yang kehilangan rumahnya, agar mereka tidak lagi hidup berpindah-pindah di tenda, menunggu bantuan yang kadang hanya jadi berita.
Ini bukan cerita proposal yang berhenti di meja rapat. Bukan wacana yang menunggu konferensi pers dan tanda tangan. Januari nanti, ia berjanji akan kembali ke Sumatera untuk mulai membangun rumah-rumah itu. Bukan sekadar meletakkan batu pertama sebagai simbol, tetapi untuk memastikan dinding pertama berdiri, seng pertama terpasang, dan harapan pertama kembali hidup.
Dan yang membuat publik diam sejenak adalah sumber tenaganya. KDM tidak bergantung pada APBD atau proyek negara. Ia sudah membuktikan bahwa konten sosial medianya bisa menjadi mesin kemanusiaan. Dengan rata-rata engagement jutaan penonton di TikTok, Facebook, dan YouTube, penghasilannya ditaksir publik hingga miliaran per bulan, cukup untuk menopang berbagai aksi sosial yang selama ini ia lakukan. berat