25/05/2026
Guru di Kapal Besar
Katanya negeri ini kapal besar.
Aku percaya saja,
karena dari dulu kami memang diajarkan
bahwa kalau kapal goyang,
yang salah biasanya ombak.
Aku guru di kapal ini.
Pekerjaanku mengajar anak-anak tentang cita-cita.
Pekerjaan yang cukup menantang,
karena kadang cita-cita murid lebih stabil
daripada harga kebutuhan.
Setiap pagi aku bertanya,
"Anak-anak, mau jadi apa nanti?"
"Aku mau jadi dokter."
"Aku mau jadi pilot."
"Aku mau jadi pengusaha."
Lalu satu anak mengangkat tangan:
"Ustadz, saya mau jadi orang yang kalau belanja nggak perlu lihat harga."
Seketika kelas hening.
Aku, sebagai guru, tersentuh.
Negara mungkin belum tentu.
Di kapal ini juga banyak pelajaran hidup.
Yang mendayung disuruh lebih semangat.
Yang capek disuruh lebih sabar.
Yang hampir tenggelam disuruh lebih kuat.
Lengkap sekali.
Kapal ini ternyata bukan cuma alat transportasi,
tapi tempat pelatihan mental.
Kadang aku mendengar suara:
"Krek..."
Aku menoleh pelan.
"Krek..."
Aku menoleh lagi.
Tapi tenang,
mungkin itu bukan papan kapal yang retak.
Mungkin itu suara dompet orang-orang
yang mulai belajar teknik bertahan hidup tingkat lanjut.
Aku tetap masuk kelas seperti biasa.
Tetap mengajar dengan senyum yang sama.
Karena di kapal ini ada satu pelajaran yang tidak tertulis di buku:
Kalau keadaan sedang sulit,
tertawa kadang bukan tanda semuanya baik-baik saja...
kadang cuma cara paling murah
untuk tetap waras.