SilamoBaca

SilamoBaca celoteh remeh, cengkrama jelata Kesimpulan dari semua dialog dan perbincangan, sepenuhnya diserahkan kepada kesadaran dan kearifan masing-masing. Wassalam.

Sekilas Tentang "SilamoBaca"

SilamoBaca adalah Halaman dan Twitter resmi "Komunitas Ruang Baca SILAMO [Silaturrahim Layanan Aspirasi Masyarakat Otonom]" –sebuah kegiatan pembelajaran para pemerhati dan pengais gejala kesadaran sosial– guna memahami bentangan ruang antara harapan dan kenyataan yang terasa dalam kehidupan keseharian. Dengan mengais kesadaran dan pemahaman dari berbagai pihak, Silam

oBaca mencoba mendialogkan –untuk tidak mengatakan mempersoalkan— berbagai dinamika sosial yang laten (tersamar atau tersembunyi) dan fenomenal yang menjadi gunjingan publik, baik di lingkup Lokal Sumbawa, Regional NTB maupun di tataran Nasionlal dan bahkan Internasional. Menyadari segala keterbatasan pemahaman, wawasan dan sumberdaya, SilamoBaca sama sekali tidak mengklaim, mengaku atau menempatkan diri sebagai penentu kebenaran, perumus kebijakan, dan bahkan tidak juga berpretensi sebagai pemecah masalah. Karenanya, SilamoBaca membuka diri dan mengundang semua pihak yang memiliki kesamaan visi untuk ikut berperan serta, mengirimkan naskah sebagai cermin kesadaran dan kearifan penulisnya. Tulisan yang diterbitkan tidak selalu mewakili pikiran dan pemahaman SilamoBaca. Terhadap semua naskah tulisan yang diterima, bisa jadi dilakukan penyuntingan redaksional tanpa mengubah substansi, untuk disajikan dalam langgam “celoteh remeh” atau “cengkerama jelata”, yang memungkinkan masyarkat awam sekalipun mudah menghayatinya. Karana –mengutip seorang penyair— kebanyakan orang adalah orang-orang kebanyakan. Selamat membaca, SilamoBaca!

² ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶𝑮𝒆𝒍𝒊𝒕𝒊𝒌 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴿᵃᵇᵘ⁾ 𝐃𝐞𝐬𝐭𝐫𝐲 𝐃𝐚𝐦𝐚𝐲𝐚𝐧𝐭𝐢: 𝐌𝐚𝐭𝐚 𝐔𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐫𝐮 Dulu orang bilang, urusan ...
01/09/2026

² ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
𝑮𝒆𝒍𝒊𝒕𝒊𝒌 𝑷𝒖𝒃𝒍𝒊𝒌
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴿᵃᵇᵘ⁾

𝐃𝐞𝐬𝐭𝐫𝐲 𝐃𝐚𝐦𝐚𝐲𝐚𝐧𝐭𝐢: 𝐌𝐚𝐭𝐚 𝐔𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐖𝐚𝐣𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐫𝐮

Dulu orang bilang, urusan uang itu urusan lelaki. Yang duduk di kursi paling tinggi di gedung Bank Indonesia, pasti yang kumisnya tebal, suaranya berat, langkahnya gagah. Tapi hari ini, seperti diberitakan 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑎𝑠.𝑐𝑜𝑚 1 September 2026, sejarah menyapa kita dengan lembut namun tegas: kursi itu kini diduduki seorang perempuan. Destry Damayanti, perempuan pertama yang memimpin bank sentral negeri ini. Bukan karena belas kasih, bukan karena kuota, tapi karena ia menempuh jalan panjang, melewati padang ilmu dan lembah pengalaman, dari ruang kuliah hingga ruang rapat tertinggi — langkahnya tidak melompat, melainkan naik tangga, satu per satu, tegap dan tenang.
Ia bukan orang asing. Sudah tujuh tahun ia berada di jajaran pimpinan BI. Sebelum itu, ia mencium bau dunia nyata: mengamati denyut ekonomi di sektor swasta, memahami napas pasar di bank besar, merasakan bagaimana kebijakan di atas kepala rakyat yang di bawah. Latar belakang inilah yang mungkin menjadi kekuatan: ia tahu betul, angka di papan tulis itu nyawanya ada di perut rakyat. Rupiah yang dijaga nilainya itu bukan sekadar grafik di layar komputer, melainkan harga beras di pasar, biaya sekolah anak, obat di apotek.

Mandatnya tidak ringan. Di satu sisi, ia harus menjaga rupiah agar tidak limbung. Di sisi lain, ia harus membantu ekonomi agar tetap berjalan — dua hal yang sering ibarat menarik kuda ke dua arah berbeda. Namun rakyat tidak meminta mukjizat. Rakyat hanya meminta satu hal: keadilan dan kejelasan. Jangan biarkan yang kuat makin kuat, sementara yang lemah hanya menahan napas menunggu harga turun yang tak kunjung turun.

Maka, selamat bertugas, Ibu Gubernur. Jaga rupiah itu baik-baik, bukan hanya agar terlihat kuat di mata dunia, tapi agar terasa adil di tangan rakyat. Sebab uang yang baik nilainya, adalah uang yang bisa memberi makan yang lapar, dan memberi harapan yang berjuang. 🪙✨


¹ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶ # 𝑼𝒔𝒖𝒍 𝑰𝒔𝒆𝒏𝒈⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉˡᵃˢᵃ⁾ 𝐊𝐚𝐛𝐢𝐧𝐞𝐭 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫, 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐧 𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚? Bila ada yang bilang "rumah besar butuh ba...
31/08/2026

¹ ˢᵉᵖᵗᵉᵐᵇᵉʳ ²⁰²⁶
# 𝑼𝒔𝒖𝒍 𝑰𝒔𝒆𝒏𝒈
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉˡᵃˢᵃ⁾

𝐊𝐚𝐛𝐢𝐧𝐞𝐭 𝐁𝐞𝐬𝐚𝐫, 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐧 𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚?

Bila ada yang bilang "rumah besar butuh banyak kunci", mungkin benar — tapi kalau tiap pintu diisi tiga orang penjaga, sementara pintu itu sendiri jarang dibuka, maka yang bertambah bukan keamanan, melainkan daftar gaji yang harus dibayar penghuni rumah.

Begitulah kira-kira perasaannya rakyat, saat tuduhan "kabinet gemuk" dijawab dengan membandingkan jumlah kursi menteri kita dengan Timor Leste.

Logikanya diputar sedemikian rupa: "mereka yang kecil saja punya banyak kursi, kita yang besar wajar lebih banyak". Pertanyaannya sederhana dan polos: kalau warung kopi kecil punya dua pelayan, apakah restoran besar wajib punya dua puluh pelayan — atau cukup pelayan yang cepat melayani, bukan cepat duduk?

Kalau kita telusuri logika itu sampai ke ujung jalan, maka Kabupaten Bogor yang penduduknya melebihi negara tetangga itu seharusnya punya presiden sendiri, kabinet sendiri, dan istana sendiri.

Begitu juga Banyuwangi. Tapi nyatanya tidak — mereka cukup punya Bupati dan wakilnya. Artinya, jumlah penduduk bukanlah satu-satunya alasan yang otomatis melipatgandakan jabatan.

Kalau ukurannya cuma "makin besar makin banyak", maka sapi raksasa seharusnya butuh kandang sepuluh kali lipat — padahal yang dibutuhkan sapi itu cuma makan, rumput, dan tempat berdiri yang layak, bukan gedung bertingkat untuk setiap kakinya.

Yang jarang ikut dipajang saat berdebat soal besar-kecilnya kabinet adalah angka yang tidak bisa dibantah: berapa satu kursi menteri itu "harga sewanya" setahun?

Berapa triliun rupiah yang mengalir tiap bulan untuk tunjangan, mobil dinas, rumah dinas, staf, dan perjalanan dinas — yang kalau dijumlahkan, mungkin bisa membangun ribuan jalan desa, atau memberi makan ribuan anak yang kurang gizi?

Angka itu seakan disembunyikan di balik tirai "skala negara", seolah semakin besar angka biayanya, semakin pantas untuk tidak ditanya. Padahal rakyat itu seperti ibu rumah tangga: tidak perlu tahu teori ekonomi makro, cukup tahu berapa rupiah yang keluar dan berapa manfaat yang pulang ke meja makan.

Memang, koalisi itu seperti pesta pernikahan besar — banyak keluarga, banyak kerabat, banyak yang harus diakomodasi. Tapi rakyat bukan tamu yang cuma datang makan dan pulang. Rakyat adalah yang menanggung biaya resepsinya.

Jadi wajar kalau mereka bertanya: "Pesta ini meriah sekali, tapi kapan pengantinnya mulai bekerja?" Kabinet besar itu belum tentu kabinet berat — berat di kertas belum tentu berat di kerja.

Yang rakyat tunggu bukan berapa banyak orang yang berdiri di panggung, tapi berapa banyak langkah yang turun ke tanah. Kursi yang empuk memang nyaman bagi yang duduk, tapi kalau tidak bergerak, lama-lama rakyat yang mendorong kursi itu dari belakang.

Dari semua kerancuan logika dan pertanyaan yang tak kunjung dijawab secara gamblang itu, wajar jika muncullah satu kesimpulan sederhana — sekaligus usulan yang terdengar agak nyeleneh, agak terlalu polos untuk diterapkan, tapi jujur saja: kenapa tidak kita coba saja?

Mari kita buat aturan main yang adil dan transparan, tanpa membandingkan diri dengan siapa-siapa lagi. Setiap kali ada tambahan satu kursi menteri baru, maka gaji pokok dan seluruh tunjangan seluruh menteri yang sudah ada dipotong persentase yang sama dengan kenaikan jumlahnya. Tambah satu orang, semua dikurangi porsi yang setimpal.

Dengan begitu, kalau ada yang mau menambah kursi demi kenyamanan koalisi, mereka sendiri yang akan merasakan "keberatannya", bukan rakyat yang harus menelan tagihan tanpa pernah diberi daftar harganya. Barulah saat itu, kita akan melihat siapa yang benar-benar mau melayani negara, dan siapa yang sekadar mau duduk di kursi yang empuk. 🤔🤭 -- 𝐺𝑎𝑎

________________
Catatan Rujukan:

Merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Muktamar NU, Jombang, 30 Agustus 2026 — Sumber: 𝐴𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎𝑛𝑒𝑤𝑠, 31 𝐴𝑔𝑢𝑠𝑡𝑢𝑠 2026





³¹ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶ # 𝑪𝒆𝒍𝒐𝒕𝒆𝒉 𝑹𝒆𝒎𝒆𝒉⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉⁿᶦⁿ⁾Wawancara Imajiner dengan Bayu Atika Dewi, SST., SKM: 𝐌𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧 𝐈𝐭𝐮 𝐀𝐝𝐚...
30/08/2026

³¹ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑪𝒆𝒍𝒐𝒕𝒆𝒉 𝑹𝒆𝒎𝒆𝒉
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵉⁿᶦⁿ⁾

Wawancara Imajiner dengan Bayu Atika Dewi, SST., SKM:

𝐌𝐞𝐦𝐢𝐦𝐩𝐢𝐧 𝐈𝐭𝐮 𝐀𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐲𝐚𝐧𝐢

𝐷𝑒𝑠𝑐𝑙𝑎𝑖𝑚𝑒𝑟:

Wawancara ini bersifat rekaan semata. Disusun sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi terhadap kiprah tokoh yang diangkat. Isi dialog merupakan hasil penafsiran naratif berdasarkan kisah yang diketahui, tidak mewakili pernyataan resmi tokoh, institusi atau pihak tertentu. Jika ada kemiripan ucapan atau peristiwa, itu adalah kebetulan dan tidak mengikat secara hukum maupun kelembagaan.

---000---

𝑃𝑎𝑔𝑖 𝑖𝑡𝑢, 𝑅𝑢𝑎𝑛𝑔 𝐾𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝐾𝑒𝑐𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐴𝑙𝑎𝑠, 𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑆𝑢𝑚𝑏𝑎𝑤𝑎, 𝑡𝑎𝑚𝑝𝑎𝑘 𝑐𝑒𝑟𝑎ℎ. 𝐶𝑎ℎ𝑎𝑦𝑎 𝑚𝑎𝑡𝑎ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑙𝑒𝑤𝑎𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑑𝑒𝑙𝑎 𝑘𝑎𝑐𝑎 𝑔𝑒𝑑𝑢𝑛𝑔 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑔𝑎ℎ 𝑛𝑎𝑚𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎 ℎ𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎𝑤𝑖. 𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠 -- 𝑑𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝑖𝑡𝑢 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑝𝑎 -- 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑦𝑢𝑚 𝑠𝑢𝑚𝑟𝑖𝑛𝑔𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑗𝑎𝑛𝑗𝑖 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎.

Wawancara pun segera berlangsung:

𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎: Ibu Bides, siapa yang menyangka — dulu namanya dikenal sebagai bidan desa yang keliling naik sepeda motor, kini Ibu memimpin Puskesmas Kecamatan Alas dengan gedung baru yang megah dan fasilitas terlengkap di kabupaten. Sebelum masuk ke kisah perjalanan hidup Ibu, mari kita mulai dari awal: bagaimana cita-cita membangun tempat pelayanan kesehatan yang layak ini bermula?

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: (tersenyum tenang, menatap ke luar jendela ke arah halaman yang hijau) Semuanya bermula dari keprihatinan melihat ibu-ibu hamil harus berjalan jauh di tanah berlumpur, menunggu di ruang yang pengap, anak-anak sakit tapi tidak ada tempat istirahat yang layak. Saat saya diangkat menjadi Kepala Puskesmas di sini, saya berjanji pada diri sendiri: kalau saya diberi amanah memimpin, saya tidak akan sekadar duduk di kursi empuk. Saya ingin warga yang datang merasa dihargai, bukan ditahan. Saya datang ke dinas, ke pemda, membawa data — bukan mengeluh, tapi menunjukkan kebutuhan yang nyata. Dan akhirnya, anggaran itu cair, gedung ini berdiri.

𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎: Banyak yang tahu, di tengah masa-masa keberhasilan Ibu memimpin Puskesmas Alas inilah, justru tekanan dari lingkungan keluarga mulai datang. Bagaimana Ibu menyikapi itu?

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: (mengangguk pelan, napasnya teratur) Memang begitulah urutannya. Saya sudah membangun pelayanan ini, sudah meletakkan batu pertama gedung ini, bahkan sebelum saya memutuskan untuk berpisah. Orang bilang: "Posisimu sudah tinggi, kenapa tidak sabar saja?" Tapi justru karena saya sudah tahu betapa berharganya waktu dan tenaga saya untuk rakyat, saya tidak mau membuang-buangnya lagi untuk meyakinkan orang yang tidak mau percaya. Saya tetap bekerja, tetap membangun, sampai semuanya berjalan baik di sini. Baru setelah itu — ketika saya tahu Puskesmas ini sudah kokoh berdiri tanpa harus bergantung pada satu orang saja — saya memutuskan: saatnya saya jujur pada diri sendiri. Saya pindah rumah ke kecamatan Alas Barat, tapi tetap datang ke sini setiap pagi, seperti biasa. Tugas tidak berubah, hanya tempat pulang yang berbeda.

(𝑃𝑖𝑛𝑡𝑢 𝑟𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛. 𝑆𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑏𝑢 𝑝𝑎𝑟𝑢ℎ 𝑏𝑎𝑦𝑎, 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙, 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑟𝑎𝑔𝑢-𝑟𝑎𝑔𝑢)

𝐼𝑏𝑢 𝑊𝑎𝑟𝑔𝑎 (𝑆𝑎𝑙𝑒ℎ𝑎ℎ): Assalamualaikum, Bu Kepala... Maaf mengganggu waktu.

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: (segera berdiri, menyambut dengan hangat, melangkah mendekat) Waalaikumsalam, eh, Ibu Saleha. Silakan, duduk dulu, bu. Ada yang bisa dibantu? Ini cucu atau anak?

𝐼𝑏𝑢 𝑆𝑎𝑙𝑒ℎ𝑎: Anak, masuk angin, batuk-batuk. Saya mau ke dokter, tapi... saya mau menyapa dulu Ibu. Dulu waktu Ibu masih keliling naik sepeda motor ke dusun kami, dusun Penua, yang bantu melahirkan anak ini kan Ibu sendiri, di gubuk kecil, hujan deras di luar. Sekarang lihatlah... (menengok ke sekeliling ruang, menggeleng-gelengkan kepala takjub)... 𝑙𝑢𝑘 𝑛𝑎𝑚𝑝𝑖𝑠 𝑘𝑎𝑡𝑜𝑘𝑎𝑙 𝑡𝑎 𝑝𝑒¹..., gedungnya setinggi langit, lantainya mengkilap. Tapi Ibu tetap sama, kan? Tidak berubah?

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: (tersenyum tulus, menepuk pelan punggung tangan ibu itu) Yang berubah gedungnya, Bu. Hati kita tetap sama. Yang dulu melayani di gubuk, yang sekarang di gedung ini — tetap Bides yang sama. Yang penting bukan tempatnya, tapi bagaimana kita melayani orang yang datang.

𝐼𝑏𝑢 𝑆𝑎𝑙𝑒ℎ𝑎: Itulah yang membuat orang di desa kami bangga, sekaligus sedih. Katanya Ibu sudah tidak tinggal di sini lagi, sudah pindah ke kecamatan sebelah. Kenapa, Bu? Apakah di sini kurang nyaman?

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: (menatap lembut, jujur namun tenang) Nyaman untuk bekerja, Bu. Tapi rumah itu bukan sekadar tempat tidur — harus ada kepercayaan, harus ada ketenangan. Kalau ketenangan itu sudah tidak ada di satu tempat, lebih baik pindah ke tempat yang damai, daripada memaksakan diri dan akhirnya tidak bisa melayani siapa pun dengan baik. Jangan khawatir — saya tetap datang ke sini setiap pagi. Puskesmas ini tetap milik warga Alas, bukan tempat saya saja.

𝐴𝑛𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙: (tiba-tiba bersuara polos) Bu Bides, nanti kalau saya besar saya mau jadi bidan juga, biar bisa bantu orang sakit!

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: (terkekeh kecil, gemas mengusap kepala anak itu) Boleh, Nak! Bidan atau dokter, atau apa pun yang kamu cita-citakan — yang penting hatinya mau melayani. Gedung besar ini memang butuh tenaga, tapi yang paling dibutuhkan nanti adalah orang yang tidak malu merendah untuk mengangkat orang lain.

𝐼𝑏𝑢 𝑆𝑎𝑙𝑒ℎ𝑎: Terima kasih, Bu. Sekarang saya paham. Ibu bukan lari, Ibu cuma memilih jalan yang lebih tenang supaya bisa terus melayani. Mari kita berobat, Nak, pamit dulu Bu Bides.

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: Sama-sama, Bu. Jangan sungkan datang, pintu ini selalu terbuka. Sehat selalu ya.

(𝐼𝑏𝑢 𝑠𝑎𝑙𝑒ℎ𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑒𝑚𝑢𝑑𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑙𝑢)

𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎: Pertemuan tadi itu mewakili apa yang banyak dirasakan warga, bukan? Bahwa Ibu tetap dekat, meski gedung ini sudah megah dan status Ibu sudah berubah.

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: Betul. Saya selalu ingatkan seluruh staf di sini: batu semen membangun gedung, tapi senyum dan kesabaran yang membangun kepercayaan. Saya pindah rumah bukan berarti pindah hati dari tugas di sini. Saya tetap datang setiap pagi sebelum gerbang dibuka, pulang setelah semua warga terlayani. Perpisahan dengan lingkungan keluarga dulu itu bukan kekalahan — itu keputusan agar saya bisa utuh sepenuhnya untuk masyarakat yang sudah menaruh harapannya pada saya.

𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎: Pesan terakhir untuk warga Alas dan tenaga kesehatan lainnya?

𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠: Jangan ciptakan birokratisasi dalam melayani. Berilah pelayanan dengan tulus di mana pun kaki berpijak — sekecil apa pun tempatnya. Kalau memang benar, lama-lama cahayanya akan terlihat, meski dari seberang sungai pun orang akan datang mencarinya. Seperti gedung ini — berdiri kokoh bukan karena megah dari luar, tapi karena fondasinya diletakkan satu per satu dengan kesabaran dan kejujuran. Bagi saya, memimpin itu adalah melayani.

(𝐽𝑎𝑟𝑢𝑚 𝑗𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑗𝑢𝑘𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 08.30. 𝑆𝑢𝑎𝑠𝑎𝑛𝑎 𝑃𝑢𝑠𝑘𝑒𝑠𝑚𝑎𝑠 𝑚𝑢𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑖𝑏𝑢𝑘 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑎𝑛 𝑟𝑎𝑚𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛. 𝑀𝑒𝑛𝑦𝑎𝑑𝑎𝑟𝑖 ℎ𝑎𝑙 𝑖𝑡𝑢, 𝑆𝑖𝑙𝑎𝑚𝑜𝐵𝑎𝑐𝑎 𝑠𝑒𝑔𝑒𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟𝑖 𝑤𝑎𝑤𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑖𝑛𝑡𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖. 𝐵𝑖𝑑𝑒𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑦𝑢𝑚 𝑟𝑎𝑚𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑘𝑖𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑘𝑒 𝑝𝑖𝑛𝑡𝑢 𝑟𝑢𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛).








____________
Catatan kaki:

¹. Terjemahan bebas: "𝑏𝑒𝑡𝑎𝑝𝑎 𝑚𝑎𝑛𝑡𝑎𝑝𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖, ℎ𝑎ℎ"

Dalam muatan lokal dan sastra budaya Sumbawa, kata "nampis" atau "kapuli" dimaknai sebagai sifat semangat yang melahirkan kekuatan (power) yang selalu prima).

³⁰ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶ # 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾𝐏𝐞𝐧𝐚𝐫𝐢 𝑵𝒈𝒖𝒓𝒊¹ 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐑𝐞𝐦𝐩𝐞 𝑂𝑙𝑒ℎ 𝑁𝑦𝑜𝑛𝑑𝑒 𝑁𝑜𝑛𝑑𝑎 𝑆𝑢Zulkifli menatap jendela m...
29/08/2026

³⁰ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾

𝐏𝐞𝐧𝐚𝐫𝐢 𝑵𝒈𝒖𝒓𝒊¹ 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐑𝐞𝐦𝐩𝐞
𝑂𝑙𝑒ℎ 𝑁𝑦𝑜𝑛𝑑𝑒 𝑁𝑜𝑛𝑑𝑎 𝑆𝑢

Zulkifli menatap jendela mobil yang melaju pelan membelah jalan desa. Di luar sana, hamparan sawah yang mulai menguning berganti dengan bukit-bukit hijau yang tenang. Jauh di mata, dekat di hati — begitu orang tua sering berkata. Tapi baginya, perjalanan kali ini bukan sekadar pulang kampung. Ada sesuatu yang membuat dadanya berdebar pelan, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia pulang dari Yogyakarta, tempat ia menuntut ilmu. Hari itu, ia memenuhi ajakan sahabat karibnya, Lalu Permana, untuk ikut bertandang ke Desa Rempe, di Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Di sana, di kawasan bekas pusat Kerajaan Seran — salah satu dari tiga kerajaan Kemutar Telu yang dulu tunduk di bawah Kesultanan Sumbawa — Lalu Permana beserta keluatga besar Dea Radan Balaga akan melaksanakan upacara adat 𝑏𝑎𝑘𝑎𝑡𝑜𝑎𝑛², untuk melamar gadis yang dicintainya, Lala Nirmala, putri Dea Pati Manca Bagenta, trah Datu Seran.

Rombongan memasuki Jalan Lala Jinis, di Dusun Kenangan Baru. Di depan Kantor Desa Rempe, tenda-tenda telah berdiri rapi, dipenuhi tamu undangan yang datang dari jauh maupun dekat. Udara terasa hangat, penuh senyum dan sapaan. Kemudian, terdengar suara 𝑔𝑜𝑛𝑔 - 𝑔𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 dan 𝑠𝑒𝑟𝑢𝑛𝑎𝑖³ yang mengalun lembut namun berirama pasti.

Penari mulai melangkah. Tarian Nguri — tarian penyambutan yang penuh kelembutan dan penghormatan. Para penari bergerak serempak, tangan melambai, tubuh meliuk mengikuti irama. Dan di antara mereka, ada satu sosok yang membuat napas Zulkifli tertahan sejenak.

Gadis itu berdiri di ujung barisan. Wajahnya sederhana, tidak terlalu cantik menurut ukuran orang kota, tapi matanya bening seperti air sungai pagi hari. Ia menari dengan luwes, tulus, tanpa ada keinginan memamerkan diri. Gerakannya lembut, seolah ia sedang berbicara dengan alam, bukan sekadar menari untuk tamu yang menonton.

"Siapa nama gadis itu?" tanya Zulkifli pelan kepada seorang warga yang sedang berdiri di dekatnya, ikut menonton pertunjukan.

Warga itu tersenyum santai. "Itu Lestari. Bukan dari keluarga besar di sini, ya. Dia penari dari sanggar tari desa sebelah. Sering diundang ke mana-mana kalau ada acara seperti ini. Namanya mulai dikenal, katanya tariannya selalu membawa keberuntungan."

Zulkifli mengangguk pelan. Lestari. Nama itu terasa ringan namun membekas di hatinya.

Setelah tarian selesai, saat para tamu mulai masuk ke dalam tenda untuk menikmati hidangan, Zulkifli sengaja berjalan memutar ke pinggir halaman, tempat para penari sedang beristirahat dan merapikan kostum. Ia melihat Lestari sedang duduk di bawah pohon rindang, menyeka keringat di pelipis dengan ujung kain selendang. Wajahnya terlihat lelah namun matanya tetap cerah.

"Boleh duduk di sini?" tanya Zulkifli dengan sopan.

Lestari mendongak, sedikit terkejut, lalu tersenyum ramah. "Silakan, Kak. Tempat ini milik siapa saja yang butuh beristirahat."

Zulkifli duduk agak sedikit menjaga jarak. "Tarianmu tadi indah sekali. Terima kasih sudah menyambut kami dengan begitu baik."

Lestari menunduk sedikit, pipinya merona tipis. "Terima kasih kembali. Itu tugas kami. Menyambut tamu dengan sebaik-baiknya, begitu pesan orang tua dan guru sanggar. Nguri itu bukan sekadar gerakan, tapi doa dalam bentuk gerak."

Mereka pun berbicara. Bukan tentang hal-hal besar, bukan tentang cita-cita yang melambung tinggi. Hanya percakapan sederhana — tentang perjalanan dari desa ke desa, tentang latihan tari yang kadang lelah namun menyenangkan, tentang bagaimana ia harus menyeimbangkan waktu antara bekerja di ladang dan berlatih tari di sanggar. Lestari bercerita dengan lugas, tanpa kepura-puraan.

Zulkifli mendengarkan. Di dalam hatinya, sesuatu tumbuh pelan dan lembut. Bukan nafsu, bukan keinginan untuk memiliki. Melainkan rasa kagum yang tulus — kagum pada kesederhanaan, pada ketulusan, pada keanggunan yang lahir dari hati, bukan dari perhiasan atau gelar.

Namun di saat yang sama, ia sadar sepenuhnya di mana ia berada. Ia datang sebagai tamu kehormatan, sahabat dari pemuda yang akan meminang putri bangsawan. Lestari adalah penari yang diundang untuk memeriahkan suasana. Dunia mereka berpapasan di sini, di halaman rumah trah Datu Seran, tapi jalur pulang mereka berbeda arah.

Perasaan itu ada, nyata dan hangat. Tapi ia tahu — tanah ini bukan tempat yang tepat untuk menanamnya.

Hari berganti sore. Upacara bakatoan berjalan lancar, disepakati dengan baik oleh kedua belah pihak keluarga. Rombongan pun bersiap pulang ke Sumbawa Besar.

Zulkifli berjalan menuju kendaraan bersama yang lain. Di tepi jalan, di antara kelompok penari yang sedang merapikan perlengkapan, ia melihat Lestari berdiri. Ia menatap ke arah Zulkifli. Tidak ada kata terucap. Hanya tatapan mata yang saling bertemu, seakan saling memahami tanpa perlu suara.

Zulkifli mengangguk hormat. Lestari membalas dengan anggukan yang sama, lalu tersenyum tipis — senyum yang berkata "selamat jalan, semoga kau baik-baik". Zulkifli membalas senyum itu, lalu menaiki mobil. Ia tidak menoleh ke belakang lagi, bukan karena tidak mau, tapi karena ingin menyimpan pemandangan itu dengan utuh dan tenang di dalam hatinya.

Mobil mulai melaju meninggalkan Desa Rempe. Sawah dan bukit kembali bergulir di luar jendela. Tapi kali ini, pemandangan itu terasa berbeda. Dulu perjalanan pulang selalu terasa biasa saja, kadang membosankan. Kini setiap lekuk jalan membawa satu kenangan lembut — tentang tarian Nguri, tentang gadis penari yang menari dengan hati tulus, tentang pertemuan singkat yang mengajarkan satu hal berharga.

Cinta pertama tidak selalu harus dimiliki. Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk berjalan beriringan hingga tua. Ada yang datang sebentar, hanya untuk mengajarkan kita mengenal apa itu keindahan hati, dan bagaimana cara melepaskan dengan baik dan penuh hormat — di waktu dan tempat yang benar.

Sesampainya di rumah, Zulkifli berdiri sejenak di halaman, menatap langit senja yang memerah ke arah barat — ke arah Rempe. Angin sore membelai wajahnya. Ia tersenyum sendiri. Suatu hari nanti, di waktu yang tepat, di tempat yang benar, ia akan menemukan kisahnya sendiri. Dan saat itu tiba, ia akan melangkah dengan hati yang lebih lembut, lebih dewasa, dan lebih tahu cara menghargai apa yang ada di hadapannya.

Dan di kejauhan, di Desa Rempe, Lestari pun mungkin sedang menatap langit yang sama, tersenyum tipis, lalu kembali berlatih — menari untuk tamu berikutnya, menari untuk kehidupan yang terus berjalan, dengan kelembutan yang tak pernah pudar.

_____________
Catatan kaki:

¹ Nguri: Tari Nguri adalah tarian tradisional penyambutan dan persembahan yang berasal dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diciptakan pada tahun 1950-an oleh seniman H. Mahmud Dea Batekal, berasal dari tradisi nguri, yaitu kegiatan masyarakat memberikan semangat dan penghiburan kepada Sultan atau Raja yang sedang tertimpa musibah atau masalah.

Menggambarkan dukungan, penghormatan, pengabdian, serta keramahan masyarakat Sumbawa. Kini, tarian ini lazim dipakai untuk menyambut tamu agung.

² Bakatoan : prosesi resmi lamaran atau meminang rangkaian adat pernikahan masyarakat Sumbawa (Tau Samawa), dimana keluarga calon pengantin pria datang mengunjungi keluarga calon pengantin wanita.

³Gong-Genang: sebutan untuk keseluruhan ansambel dan alat kesenian musik tradisional khas suku Samawa di Sumbawa.

Komponen Alat Musik
Utama dalam gong-genang umumnya terdiri dari:

Sepasang Gendang:
Dua buah gendang yang ditabuh secara bersahutan.

Satu Buah Gong:
Pemberi aksen atau ketukan dasar yang besar.

Sebuah Serunai:

Alat musik tiup tradisional yang terbuat dari batang padi yang memberikan melodi khas.






²⁹ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶ # 𝑴𝒆𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌 𝑻𝒂𝒋𝒖𝒌⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵃᵇᵗᵘ⁾𝐃𝐢 𝐁𝐚𝐰𝐚𝐡 𝐀𝐧𝐠𝐤𝐚 𝟔𝟖, 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐲𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚 𝐒𝐚𝐦𝐚𝐰𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐋𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐓𝐮𝐚Desa Semamung...
28/08/2026

²⁹ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑴𝒆𝒓𝒖𝒋𝒖𝒌 𝑻𝒂𝒋𝒖𝒌
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ˢᵃᵇᵗᵘ⁾

𝐃𝐢 𝐁𝐚𝐰𝐚𝐡 𝐀𝐧𝐠𝐤𝐚 𝟔𝟖, 𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐲𝐢 𝐓𝐚𝐧𝐚 𝐒𝐚𝐦𝐚𝐰𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐋𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐓𝐮𝐚

Desa Semamung merayakan usia 378 tahun. Panggungnya megah, puitika upacaranya agung, dan angka itu lahir dari perbincangan tokoh masyarakat yang menggali jejak masa lalu lalu menyepakati satu titik awal. Sementara Kabupaten Sumbawa bersiap merayakan hari jadi ke-68 tahun pada Januari 2027. Angka itu tertulis rapi di spanduk, di kop surat, di naskah pidato. Namun di balik angka itu tersembunyi satu pertanyaan mendasar: tanggal apa yang sebenarnya kita rayakan?

Tanggal 22 Januari 1959 bukanlah hari kelahiran Kabupaten Sumbawa dalam makna sejarah maupun hukum. Itu adalah hari peralihan status — hari ketika kedaulatan swapraja Kesultanan Sumbawa dicabut dan diubah menjadi daerah administrasi tingkat II. Keputusan ini baru ditetapkan secara resmi tiga dekade kemudian, pada Mei 1990, melalui keputusan DPRD yang bersifat administratif, bukan hasil penelusuran sejarah yang mendalam. Ironisnya, hari yang seharusnya dikenang sebagai hari berakhirnya satu era kedaulatan justru dirayakan sebagai hari lahir era yang baru.

Akibatnya, narasi resmi yang dibangun menjadi terbalik. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta pada 1945, kalender resmi Sumbawa seakan belum ada. Ketika Sultan Muhammad Kaharuddin III terlibat baku tembak mempertahankan istananya dari sisa pas**an Belanda pada 1942, belum ada yang mencatatnya sebagai bagian dari perjuangan daerah. Ketika beliau duduk di jantung perdebatan pembentukan Negara Indonesia Timur, menandatangani Surat Emas yang menyatukan Sumbawa ke dalam Republik, peran itu seolah dihapus dari ingatan resmi karena "daerahnya belum lahir."

Padahal sejarah tidak dimulai dari surat keputusan tahun 1959. Nama-nama wilayah di pulau ini sudah tertulis dalam Nagarakretagama pada 1365. Sumbawa telah berdiplomasi dengan VOC pada abad ke-17. Islam menyatu dengan adat sejak 1618 dalam sumpah yang hingga kini menjadi landasan hidup masyarakat Samawa: adat barenti lako syara', syara' barenti lako Kitabullah. Istana Dalam Loka berdiri kokoh, bahasa dan tata kelola adat hidup berabad-abad sebelum undang-undang pembentukan daerah itu disusun.

Daerah-daerah lain di Indonesia telah melangkah lebih jauh dalam menghormati masa lalunya. Bima menetapkan hari lahir sejak 1640, Bone merujuk ke tahun 1330, Gowa ke 1320, bahkan Kebumen berani mengganti tanggal warisan kolonial dengan tonggak perjuangan rakyat pada tahun 1629. Mereka tidak menolak negara; mereka hanya menolak diputus dari akarnya sendiri. Sebagian bahkan memisahkan dua tanggal — hari jadi kerajaan dan hari jadi kabupaten — agar keduanya hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Sumbawa justru memilih sebaliknya: satu keputusan administratif memotong jejak sejarah ratusan tahun.

Bahaya menetapkan usia yang terlalu muda bukan sekadar soal angka. Ia menyempitkan cakrawala identitas generasi mendatang. Anak-anak Sumbawa diajarkan bahwa tanah mereka baru lahir setelah kemerdekaan selesai diperjuangkan orang lain. Mereka tidak belajar bahwa leluhur mereka datang ke meja perundingan kemerdekaan dengan martabat yang setara, bukan sebagai wilayah yang kebetulan tertinggal. Ingatan kultural yang tidak diakui secara resmi lama-lama akan memudar, digantikan narasi yang disesuaikan dengan kenyamanan birokrasi semata.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan peralihan status tahun 1959. Itu adalah bagian dari arus sejarah yang harus dijalani dan diterima dengan kedewasaan. Yang keliru adalah cara membacanya: hari peralihan dibaca sebagai hari permulaan, hari penyerahan kewenangan dibaca sebagai hari kelahiran. Seolah-olah sebelum surat keputusan itu turun, tanah ini hanya hutan belantara yang belum bertuan.

Kini saatnya meninjau ulang. Bukan untuk menciptakan sejarah baru, melainkan untuk memulihkan ingatan yang terpotong. Lembaga adat, perguruan tinggi, sejarawan, dan masyarakat sipil di Sumbawa sudah ada. Yang diperlukan hanyalah kemauan politik untuk menggelar seminar sejarah yang terbuka, musyawarah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, dan keputusan yang kemudian dikukuhkan melalui peraturan daerah — bukan sekadar keputusan sementara.

Tonggak mana yang paling tepat dijadikan hari jadi memang masih perlu diperdebatkan secara akademis: apakah tahun 1618 saat Islam menyatu dengan adat, 1648 saat pelantikan raja pertama, atau 1674 saat mulai hubungan resmi dengan VOC. Yang mana pun dipilih, ia harus lahir dari kajian yang jujur, bukan dari kesepakatan yang menutup mata terhadap fakta sejarah.

Pada 22 Januari 2027 nanti, ketika lampu pesta dinyalakan kembali di sepanjang jalan kota, semoga pertanyaan itu tidak hilang di tengah hiruk-pikuk perayaan: usia siapakah yang sebenarnya sedang kita rayakan? Administrasi memberi legalitas, tetapi sejarahlah yang memberi jiwa. Sebuah daerah yang hanya berdiri di atas surat keputusan akan selalu sekadar wilayah pemerintahan. Namun daerah yang berdiri kokoh di atas ingatan dan kebenaran sejarah — itulah tanah yang akan terus dihuni oleh martabat dan kebanggaan: 𝑇𝑎𝑛𝑎 𝑆𝑎𝑚𝑎𝑤𝑎. 🙏-- 𝑅𝑒𝑑.


________________
Sumber Rujukan: Poetra Adi Soerjo, postingan Facebook, 27 Agustus 2026; dikutip dan diolah untuk keperluan analisis dan opini publik.





²⁸ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶ # 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏    ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾²⁸ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶ # 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏    ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾𝐒𝐚𝐚𝐭 𝐓𝐚𝐛...
27/08/2026

²⁸ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾

²⁸ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑮𝒖𝒎𝒂𝒎 𝑷𝒊𝒏𝒈𝒈𝒊𝒓𝒂𝒏
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴶᵘᵐᵃᵗ⁾

𝐒𝐚𝐚𝐭 𝐓𝐚𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐑𝐚𝐤𝐲𝐚𝐭 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐭 𝐓𝐞𝐤𝐚𝐧𝐚𝐧

Ada sesuatu yang lebih tajam daripada gunting yang memotong kartu ATM. Itu adalah rasa tidak aman yang merembes pelan namun pasti ke dalam dada jutaan nasabah.

Ketika Bank Mandiri memblokir rekening milik Supriyono, aktivis dari Pati, yang berisi uang pribadi dan donasi warga sebesar sekitar Rp80,9 juta — bukan uang hasil kejahatan, melainkan sumbangan rakyat untuk menyuarakan aspirasi di depan Gedung DPR — satu pertanyaan besar melayang di udara: sejak kapan tabungan rakyat menjadi alat tekanan politik?

Bank menyatakan: pemblokiran itu atas permintaan aparat penegak hukum, sesuai prosedur, sesuai ketentuan. Kata-kata yang rapi, sopan, dan tertulis di buku peraturan. Namun di balik kerapian itu, ada kebisuan yang tidak kalah nyata: di mana transparansi dasarnya?

Apakah surat perintah itu terbuka untuk diketahui nasabah? Apakah seseorang diberi kesempatan membela diri sebelum pintu akses ke hartanya sendiri dikunci rapat? Dan yang paling mendasar: apakah menyampaikan aspirasi warga negara adalah hal yang pantas dihadapi dengan memutus aliran uang yang sah?

Gelombang protes yang melanda media sosial — dari gunting kartu ATM hingga seruan memindahkan dana ke bank lain — bukan sekadar kemarahan sesaat. Itu adalah cermin kepercayaan yang retak. Rakyat sadar: jika hari ini rekening orang yang menggalang donasi aksi bisa diblokir tanpa proses pengadilan yang terbuka, besok rekening siapa pun bisa mengalami nasib serupa. Bukan hanya aktivis, bukan hanya tokoh masyarakat. Bisa pedagang kecil, bisa petani, bisa siapa saja yang dianggap "tidak sejalan" dengan kehendak kekuasaan.

Itulah bahayanya. Ketika lembaga keuangan yang seharusnya netral dan melayani seluruh rakyat tanpa pandang sisi, perlahan terlihat seperti perpanjangan tangan satu kekuasaan, maka kepercayaan yang sudah puluhan tahun dibangun bisa runtuh dalam hitungan hari.

Bank Mandiri mungkin hanya menjalankan perintah, tapi bank yang profesional seharusnya juga berani menjaga batas antara kepatuhan hukum dan perlindungan hak nasabah. Dua hal itu tidak selalu bertentangan — asalkan ada keberanian untuk transparan dan adil.

Aksi gunting kartu itu kecil, sederhana, dan mungkin dianggap tidak berdampak besar bagi laba bank raksasa. Tapi simbolnya besar. Ia berkata: kami rakyat kecil pun punya harga diri, dan kami punya hak memilih tempat menaruh kepercayaan.

Jangan sampai negeri ini kehilangan kepercayaan pada sistem perbankan bukan karena banknya bangkrut, melainkan karena banknya lupa kepada siapa sebenarnya ia berhutang nasib — kepada rakyat. 😇 -- 𝐺𝑢𝑛 𝑀𝑎ℎ𝑚𝑢𝑑.

______________
Sumber berita:

𝑆𝑖𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑤𝑠, 25 Agustus 2026






²⁷ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶ # 𝑪𝒆𝒏𝒈𝒌𝒓𝒂𝒎𝒂 𝑱𝒆𝒍𝒂𝒕𝒂    ⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴷᵃᵐᶦˢ⁾𝐃𝐞𝐤𝐥𝐚𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐃𝐚𝐦𝐚𝐢 𝐝𝐢 𝐏𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐞𝐬𝐚𝑫𝒊𝒔𝒄𝒍𝒂𝒊𝒎𝒆𝒓:Profil 'cengkeramawan' ...
26/08/2026

²⁷ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑪𝒆𝒏𝒈𝒌𝒓𝒂𝒎𝒂 𝑱𝒆𝒍𝒂𝒕𝒂
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴷᵃᵐᶦˢ⁾

𝐃𝐞𝐤𝐥𝐚𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐃𝐚𝐦𝐚𝐢 𝐝𝐢 𝐏𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐞𝐬𝐚

𝑫𝒊𝒔𝒄𝒍𝒂𝒊𝒎𝒆𝒓:

Profil 'cengkeramawan' dalam rubrik ini adalah gambaran kiasan yang mewakili berbagai lapisan masyarakat:

- Cakrudu 🧕: Tetua kelompok. Bijaksana, tulus, memahami keadaan, bersimpati dan setia kepada kebenaran; lambang masyarakat yang tidak memiliki kedudukan namun berhati mulia.
- Tembeke 🐜: "Anak jangkrik". Generasi muda yang berpikir praktis, peka, s**a mencari tahu hal baru.
- Jeluting 🐸: "Anak katak". Cepat menyesuaikan diri, waspada, tangkas, mengikuti kata hati dan naluri yang baik.
- Jelomang 🐌: "Siput telanjang laut". Berpikir cermat, pandai mengambil peluang, luwes dan unik dalam memandang kenyataan.

Tokoh-tokoh ini tidak mewakili orang atau kelompok tertentu yang ada di dunia nyata.

-----00000-----

Bale Literasi KRBS. Siang terik. Cakrudu sedang menata tumpukan koran bekas. Tembeke membersihkan daun kering di halaman. Jeluting sedang menyeduh kopi di gelas yang gagangnya sudah patah. Jelomang datang sambil memegang ponsel kecil, wajahnya sedikit berkerut.



Jelomang: Eh, ada berita bagus nih. Katanya 67 calon kepala desa di Sumbawa sudah deklarasi damai. Semua siap menang, siap kalah. Tanda tangan di atas kertas putih, pakai tinta hitam, dihadiri Bupati, Kapolres, Kejaksaan, lengkap semua.

Tembeke (menghentikan menyapu, menatap langit): Deklarasi damai... itu yang ditandatangani sebelum bertarung, ya? Seperti orang yang janji tidak akan memukul saat main catur. Tapi kalau catur sudah mulai, yang janji itu lupa semua?

Cakrudu (meletakkan koran pelan-pelan): Jangan meremehkan deklarasi itu, Tem. Setidaknya mereka sudah bilang di depan umum: "Saya siap kalah." Itu sudah langkah bagus. Tapi...

Jeluting (menyodorkan kopi): Tapi apa, Kak Crudu? Kan sudah tanda tangan, sudah damai, berarti nanti pemilihan pasti bersih, kan?

Cakrudu: Kertas itu mudah ditandatangani, Jelut. Yang susah itu menjaga hati. 67 calon untuk 20 desa — rata-rata lebih dari tiga orang bertarung di satu kampung. Itu persaingannya padat. Kalau cuma modal janji di atas kertas, takutnya saat suara mulai dihitung, tangan yang tadi menandatangani damai, diam-diam sibuk menyodorkan amplop di balik pintu.

Jelomang: Nah, itu yang saya maksud tadi. Kelihatannya bagus, rapi, seremonialnya lengkap. Tapi pertanyaannya: siapa yang mengawasi setelah ini? Apakah Bupati dan Kapolres mau turun ke setiap lorong desa, setiap rumah warga, mengecek apakah ada uang berganti tangan?

Tembeke (tersenyum sinis): Kalau ada yang melanggar deklarasi itu, hukumannya apa? Cuma dibilang "tidak sopan"? Atau dicoret namanya dari daftar calon? Kalau hukumannya cuma rasa malu, ya malu itu murah harganya. Banyak calon kades yang tidak jual malu, mereka jual janji.

Cakrudu: Jangan jadi orang yang selalu curiga duluan, Tem. Deklarasi itu ada gunanya — sebagai pegangan moral. Tapi pegangan moral itu seperti pagar hidup. Kalau tidak dijaga dan dipantau oleh rakyat sendiri, pagar itu bisa dirubuhkan oleh siapa saja yang punya uang lebih tebal.

Jeluting: Terus apa yang harus kita lakukan? Kita kan cuma di sini, di Bale Literasi, bukan panitia pemilihan, bukan polisi.

Jelomang: Justru karena kita di sini, kita yang paling tahu apa yang terjadi di kampung. Yang mengawasi pemilihan itu bukan aparat dari luar desa — yang paling tahu siapa jujur siapa yang menyuap, itu kita sendiri, tetangganya, saudara kandungnya, temannya waktu kecil.

Tembeke: Itu yang lucu. Deklarasi damai ditandatangani di kantor Bupati, di ruangan ber-AC, pakai baju rapi. Tapi pemilihan itu terjadi di desa-desa, di tanah yang berdebu, di hati yang gelap-gelapan. Kalau rakyatnya diam saja, maka tinta di kertas deklarasi itu akan pudar lebih cepat daripada cat di papan nama jalan.

Cakrudu: Itulah sebabnya deklarasi damai itu baru permulaan, bukan akhir. Yang sesungguhnya baru dimulai saat kampanye turun ke jalan, saat kotak suara dibuka. Dan di situlah suara rakyat — yang miskin maupun yang kaya — punya bobot yang sama. Satu orang, satu suara. Tidak lebih, tidak kurang.

Jelomang: Tapi kalau suaranya sudah dibeli duluan?

Cakrudu: Maka itu tugas kita semua — bukan membelanya, bukan membelinya, tapi menjaganya agar tidak dijual. Karena suara rakyat itu harga dirinya sendiri. Kalau dijual murah, lima tahun ke depan yang bayar mahal itu kita semua.

Jeluting (mengangguk antusias): Berarti deklarasi damai itu bagus, tapi yang lebih bagus lagi kalau rakyatnya juga "deklarasi damai" — damai dengan dirinya sendiri, tidak menjual suaranya sendiri.

Tembeke (tertawa kecil): Nah, itu deklarasi yang paling susah dibuat. Yang tanda tangan di atas kertas itu gampang. Yang susah itu menandatangani kesetiaan di dalam hati. Tanpa saksi, tanpa pejabat, tanpa kamera liputan.

Cakrudu (tersenyum tipis, mengambil koran kembali): Itulah pekerjaan yang tidak ada upacara penandatanganannya. Tapi itulah yang paling penting.

Jelomang: Ayo, kopinya sudah dingin. Selesaikan dulu pekerjaan di sini, nanti kita bawa cerita ini ke desa-desa. Biar yang tahu bukan cuma kita berempat.

Tembeke (berdiri mengambil sapu): Siap. Kalau deklarasi damai itu cuma seremonial, biar cerita rakyat yang menjadi saksinya. Yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dibungkam, dan tidak bisa ditandatangani oleh orang lain atas namanya. 🙏🤝
________________
Catatan Redaksi:

Sumber berita: 𝑠𝑎𝑚𝑎𝑤𝑎𝑟𝑒𝑎.𝑐𝑜𝑚, 24 Agustus 2026

Address

Samawa Tana Bulaeng
Sumbawa

Telephone

+6281213201633

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when SilamoBaca posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to SilamoBaca:

Shortcuts

Share