29/08/2026
³⁰ ᴬᵍᵘˢᵗᵘˢ ²⁰²⁶
# 𝑳𝒊𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒊𝒂𝒏𝒂
⁽ᴷʰᵃˢ ˢᵉᵗᶦᵃᵖ ᴹᶦⁿᵍᵍᵘ⁾
𝐏𝐞𝐧𝐚𝐫𝐢 𝑵𝒈𝒖𝒓𝒊¹ 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐑𝐞𝐦𝐩𝐞
𝑂𝑙𝑒ℎ 𝑁𝑦𝑜𝑛𝑑𝑒 𝑁𝑜𝑛𝑑𝑎 𝑆𝑢
Zulkifli menatap jendela mobil yang melaju pelan membelah jalan desa. Di luar sana, hamparan sawah yang mulai menguning berganti dengan bukit-bukit hijau yang tenang. Jauh di mata, dekat di hati — begitu orang tua sering berkata. Tapi baginya, perjalanan kali ini bukan sekadar pulang kampung. Ada sesuatu yang membuat dadanya berdebar pelan, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia pulang dari Yogyakarta, tempat ia menuntut ilmu. Hari itu, ia memenuhi ajakan sahabat karibnya, Lalu Permana, untuk ikut bertandang ke Desa Rempe, di Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Di sana, di kawasan bekas pusat Kerajaan Seran — salah satu dari tiga kerajaan Kemutar Telu yang dulu tunduk di bawah Kesultanan Sumbawa — Lalu Permana beserta keluatga besar Dea Radan Balaga akan melaksanakan upacara adat 𝑏𝑎𝑘𝑎𝑡𝑜𝑎𝑛², untuk melamar gadis yang dicintainya, Lala Nirmala, putri Dea Pati Manca Bagenta, trah Datu Seran.
Rombongan memasuki Jalan Lala Jinis, di Dusun Kenangan Baru. Di depan Kantor Desa Rempe, tenda-tenda telah berdiri rapi, dipenuhi tamu undangan yang datang dari jauh maupun dekat. Udara terasa hangat, penuh senyum dan sapaan. Kemudian, terdengar suara 𝑔𝑜𝑛𝑔 - 𝑔𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 dan 𝑠𝑒𝑟𝑢𝑛𝑎𝑖³ yang mengalun lembut namun berirama pasti.
Penari mulai melangkah. Tarian Nguri — tarian penyambutan yang penuh kelembutan dan penghormatan. Para penari bergerak serempak, tangan melambai, tubuh meliuk mengikuti irama. Dan di antara mereka, ada satu sosok yang membuat napas Zulkifli tertahan sejenak.
Gadis itu berdiri di ujung barisan. Wajahnya sederhana, tidak terlalu cantik menurut ukuran orang kota, tapi matanya bening seperti air sungai pagi hari. Ia menari dengan luwes, tulus, tanpa ada keinginan memamerkan diri. Gerakannya lembut, seolah ia sedang berbicara dengan alam, bukan sekadar menari untuk tamu yang menonton.
"Siapa nama gadis itu?" tanya Zulkifli pelan kepada seorang warga yang sedang berdiri di dekatnya, ikut menonton pertunjukan.
Warga itu tersenyum santai. "Itu Lestari. Bukan dari keluarga besar di sini, ya. Dia penari dari sanggar tari desa sebelah. Sering diundang ke mana-mana kalau ada acara seperti ini. Namanya mulai dikenal, katanya tariannya selalu membawa keberuntungan."
Zulkifli mengangguk pelan. Lestari. Nama itu terasa ringan namun membekas di hatinya.
Setelah tarian selesai, saat para tamu mulai masuk ke dalam tenda untuk menikmati hidangan, Zulkifli sengaja berjalan memutar ke pinggir halaman, tempat para penari sedang beristirahat dan merapikan kostum. Ia melihat Lestari sedang duduk di bawah pohon rindang, menyeka keringat di pelipis dengan ujung kain selendang. Wajahnya terlihat lelah namun matanya tetap cerah.
"Boleh duduk di sini?" tanya Zulkifli dengan sopan.
Lestari mendongak, sedikit terkejut, lalu tersenyum ramah. "Silakan, Kak. Tempat ini milik siapa saja yang butuh beristirahat."
Zulkifli duduk agak sedikit menjaga jarak. "Tarianmu tadi indah sekali. Terima kasih sudah menyambut kami dengan begitu baik."
Lestari menunduk sedikit, pipinya merona tipis. "Terima kasih kembali. Itu tugas kami. Menyambut tamu dengan sebaik-baiknya, begitu pesan orang tua dan guru sanggar. Nguri itu bukan sekadar gerakan, tapi doa dalam bentuk gerak."
Mereka pun berbicara. Bukan tentang hal-hal besar, bukan tentang cita-cita yang melambung tinggi. Hanya percakapan sederhana — tentang perjalanan dari desa ke desa, tentang latihan tari yang kadang lelah namun menyenangkan, tentang bagaimana ia harus menyeimbangkan waktu antara bekerja di ladang dan berlatih tari di sanggar. Lestari bercerita dengan lugas, tanpa kepura-puraan.
Zulkifli mendengarkan. Di dalam hatinya, sesuatu tumbuh pelan dan lembut. Bukan nafsu, bukan keinginan untuk memiliki. Melainkan rasa kagum yang tulus — kagum pada kesederhanaan, pada ketulusan, pada keanggunan yang lahir dari hati, bukan dari perhiasan atau gelar.
Namun di saat yang sama, ia sadar sepenuhnya di mana ia berada. Ia datang sebagai tamu kehormatan, sahabat dari pemuda yang akan meminang putri bangsawan. Lestari adalah penari yang diundang untuk memeriahkan suasana. Dunia mereka berpapasan di sini, di halaman rumah trah Datu Seran, tapi jalur pulang mereka berbeda arah.
Perasaan itu ada, nyata dan hangat. Tapi ia tahu — tanah ini bukan tempat yang tepat untuk menanamnya.
Hari berganti sore. Upacara bakatoan berjalan lancar, disepakati dengan baik oleh kedua belah pihak keluarga. Rombongan pun bersiap pulang ke Sumbawa Besar.
Zulkifli berjalan menuju kendaraan bersama yang lain. Di tepi jalan, di antara kelompok penari yang sedang merapikan perlengkapan, ia melihat Lestari berdiri. Ia menatap ke arah Zulkifli. Tidak ada kata terucap. Hanya tatapan mata yang saling bertemu, seakan saling memahami tanpa perlu suara.
Zulkifli mengangguk hormat. Lestari membalas dengan anggukan yang sama, lalu tersenyum tipis — senyum yang berkata "selamat jalan, semoga kau baik-baik". Zulkifli membalas senyum itu, lalu menaiki mobil. Ia tidak menoleh ke belakang lagi, bukan karena tidak mau, tapi karena ingin menyimpan pemandangan itu dengan utuh dan tenang di dalam hatinya.
Mobil mulai melaju meninggalkan Desa Rempe. Sawah dan bukit kembali bergulir di luar jendela. Tapi kali ini, pemandangan itu terasa berbeda. Dulu perjalanan pulang selalu terasa biasa saja, kadang membosankan. Kini setiap lekuk jalan membawa satu kenangan lembut — tentang tarian Nguri, tentang gadis penari yang menari dengan hati tulus, tentang pertemuan singkat yang mengajarkan satu hal berharga.
Cinta pertama tidak selalu harus dimiliki. Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk berjalan beriringan hingga tua. Ada yang datang sebentar, hanya untuk mengajarkan kita mengenal apa itu keindahan hati, dan bagaimana cara melepaskan dengan baik dan penuh hormat — di waktu dan tempat yang benar.
Sesampainya di rumah, Zulkifli berdiri sejenak di halaman, menatap langit senja yang memerah ke arah barat — ke arah Rempe. Angin sore membelai wajahnya. Ia tersenyum sendiri. Suatu hari nanti, di waktu yang tepat, di tempat yang benar, ia akan menemukan kisahnya sendiri. Dan saat itu tiba, ia akan melangkah dengan hati yang lebih lembut, lebih dewasa, dan lebih tahu cara menghargai apa yang ada di hadapannya.
Dan di kejauhan, di Desa Rempe, Lestari pun mungkin sedang menatap langit yang sama, tersenyum tipis, lalu kembali berlatih — menari untuk tamu berikutnya, menari untuk kehidupan yang terus berjalan, dengan kelembutan yang tak pernah pudar.
_____________
Catatan kaki:
¹ Nguri: Tari Nguri adalah tarian tradisional penyambutan dan persembahan yang berasal dari Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Diciptakan pada tahun 1950-an oleh seniman H. Mahmud Dea Batekal, berasal dari tradisi nguri, yaitu kegiatan masyarakat memberikan semangat dan penghiburan kepada Sultan atau Raja yang sedang tertimpa musibah atau masalah.
Menggambarkan dukungan, penghormatan, pengabdian, serta keramahan masyarakat Sumbawa. Kini, tarian ini lazim dipakai untuk menyambut tamu agung.
² Bakatoan : prosesi resmi lamaran atau meminang rangkaian adat pernikahan masyarakat Sumbawa (Tau Samawa), dimana keluarga calon pengantin pria datang mengunjungi keluarga calon pengantin wanita.
³Gong-Genang: sebutan untuk keseluruhan ansambel dan alat kesenian musik tradisional khas suku Samawa di Sumbawa.
Komponen Alat Musik
Utama dalam gong-genang umumnya terdiri dari:
Sepasang Gendang:
Dua buah gendang yang ditabuh secara bersahutan.
Satu Buah Gong:
Pemberi aksen atau ketukan dasar yang besar.
Sebuah Serunai:
Alat musik tiup tradisional yang terbuat dari batang padi yang memberikan melodi khas.