19/04/2026
BERSANDARLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA AMAL hikam ke 1Kitab Alhikam Ibnu Atthailah asakandari
٭ مِنْ علاماتِ الاِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّللِ ٭
Salah satu tanda bahwa seseorang bergantung pada kekuatan amal dan usahanya adalah ketika pengharapannya terhadap rahmat dan karunia Allah berkurang saat ia terjatuh dalam kesalahan atau dosa.
Setiap orang yang beramal ibadah pasti memiliki harapan kepada Allah, memohon agar kebaikan tercapai melalui amalnya. Namun, jangan sampai kita bersandar pada amal itu sendiri karena sejatinya, Allah-lah yang menggerakkan kita untuk beramal. Apabila seseorang melakukan kesalahan, seperti terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan ibadah rutinnya, jangan sampai ia merasa putus asa atau kehilangan harapan kepada rahmat Allah. Ketika pengharapan kepada rahmat Allah melemah, semangat dalam beramal pun akan turut pudar, bahkan bisa berhenti sama sekali.
Sejatinya, amal kita semua terjadi atas kehendak dan izin Allah. Kita hanyalah media bagi berlangsungnya kekuasaan Allah di dunia ini. Lafaz *Laa ilaha illallah* yang memiliki makna “Tiada Tuhan selain Allah” menegaskan bahwa tiada tempat bersandar, berlindung, dan berharap selain kepada Allah, karena hanya Dia yang memberi kehidupan dan kematian, menganugerahkan rezeki, serta menolak segala keburukan.
Syariat Islam memang memerintahkan kita untuk berusaha dan beramal. Namun, syariat juga mengajarkan agar tidak menyandarkan hati sepenuhnya pada amal tersebut. Kita harus tetap bersandar kepada rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jika kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, pohon, kuburan, binatang, maupun manusia, maka jangan sampai kita menyekutukan-Nya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Jangan merasa bahwa diri ini mampu berdiri tanpa pertolongan-Nya. Semua taufik, hidayah, rahmat, dan karunia yang kita dapat berasal sepenuhnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. berat