Robithoh 37

Robithoh 37 ilaahii anta maksuudi waridlooka mathluubii a,tini mahabbataka wama,rifatka
tqn suryalaya
(1)

22/04/2026

Pertemuan dengan Syekh Abdul Qadir Jaelani: Atas saran para wali, pria tersebut pergi ke Baghdad untuk menemui Sultanul Aulia, Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani. Syekh Abdul Qadir menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan mulai memohon ampunan langsung kepada Allah [
Lanjut kisah nya melalui channel youtube "Jendela Kisah Menggugah"
berat

VIDEO ADA DI DALAM KOMENTAR saksikan kisah serunya di channel youtube" jendela kisah menggugah
22/04/2026

VIDEO ADA DI DALAM KOMENTAR saksikan kisah serunya di channel youtube" jendela kisah menggugah

2.“TAJRID dan KASAB” ٭ إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ مِنَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإراد...
19/04/2026

2.“TAJRID dan KASAB”

٭ إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ مِنَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإرادَتـُكَ الاَسْبَابِ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى التَجْرِيْدَ اِنْحطاط ٌ عن الهِمَّةِ العَليَّةِ ٭

2.“Keinginanmu untuk tajrid [hanya beribadat saja tanpa berusaha untuk dunia], padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha [kasab], maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar [halus]. Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha [kasab], padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab [berusaha], maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggi”.
Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah(menghamba) kepada Alloh,sesuai tuntunan Al-qur’an.
Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja(kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah.
Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar.
Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Alloh yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya.
Dan tanda-tanda bahwa Alloh menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.
Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.
Syeikh Ibnu ‘Atoillah berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- mursy. Aku merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu. #

BERSANDARLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA AMAL  hikam ke 1Kitab Alhikam Ibnu Atthailah asakandari٭ مِنْ علاماتِ الاِعْتِمادِ ع...
19/04/2026

BERSANDARLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA AMAL hikam ke 1Kitab Alhikam Ibnu Atthailah asakandari

٭ مِنْ علاماتِ الاِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّللِ ٭

Salah satu tanda bahwa seseorang bergantung pada kekuatan amal dan usahanya adalah ketika pengharapannya terhadap rahmat dan karunia Allah berkurang saat ia terjatuh dalam kesalahan atau dosa.

Setiap orang yang beramal ibadah pasti memiliki harapan kepada Allah, memohon agar kebaikan tercapai melalui amalnya. Namun, jangan sampai kita bersandar pada amal itu sendiri karena sejatinya, Allah-lah yang menggerakkan kita untuk beramal. Apabila seseorang melakukan kesalahan, seperti terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan ibadah rutinnya, jangan sampai ia merasa putus asa atau kehilangan harapan kepada rahmat Allah. Ketika pengharapan kepada rahmat Allah melemah, semangat dalam beramal pun akan turut pudar, bahkan bisa berhenti sama sekali.

Sejatinya, amal kita semua terjadi atas kehendak dan izin Allah. Kita hanyalah media bagi berlangsungnya kekuasaan Allah di dunia ini. Lafaz *Laa ilaha illallah* yang memiliki makna “Tiada Tuhan selain Allah” menegaskan bahwa tiada tempat bersandar, berlindung, dan berharap selain kepada Allah, karena hanya Dia yang memberi kehidupan dan kematian, menganugerahkan rezeki, serta menolak segala keburukan.

Syariat Islam memang memerintahkan kita untuk berusaha dan beramal. Namun, syariat juga mengajarkan agar tidak menyandarkan hati sepenuhnya pada amal tersebut. Kita harus tetap bersandar kepada rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Jika kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, pohon, kuburan, binatang, maupun manusia, maka jangan sampai kita menyekutukan-Nya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Jangan merasa bahwa diri ini mampu berdiri tanpa pertolongan-Nya. Semua taufik, hidayah, rahmat, dan karunia yang kita dapat berasal sepenuhnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. berat

18/04/2026

Kisah awal iblis berkembang biak pada masa nabi Adam di surga



16/04/2026

Dunia gelap hakikatnya trang bagi wasilin

16/04/2026


berat

Rabia al-Adawiyya, seorang tokoh sufi perempuan paling terkemuka, menggambarkan puncak dari perjalanan spiritual. Maksud...
15/04/2026

Rabia al-Adawiyya, seorang tokoh sufi perempuan paling terkemuka, menggambarkan puncak dari perjalanan spiritual. Maksud dari "sunyi dari dunia" di sini bukanlah sekadar tinggal di tempat sepi, melainkan sebuah kondisi batin yang sangat dalam.

Berikut adalah penjelasan maknanya:

1. Dunia Tak Lagi Berisik di Dalam Hati
"Sunyi" bukan berarti telinga kita tidak mendengar suara, tetapi hati kita tidak lagi terganggu oleh "kebisingan" duniawi. Pujian orang tidak lagi membuat kita terbang, dan makian orang tidak lagi membuat kita jatuh. Ketika seseorang sangat dekat dengan Tuhan, hiruk-pikuk pencapaian, harta, dan status menjadi suara latar yang tidak lagi mendominasi pikiran.

2. Penunggalan Fokus (Khalwat bil Jalwat)
Rabia mengajarkan bahwa ketika cinta kepada Sang Pencipta sudah memenuhi seluruh ruang di hati, maka tidak ada lagi ruang untuk cinta atau ketakutan kepada selain-Nya. Dunia menjadi "sunyi" karena perhatian kita terserap sepenuhnya kepada Keindahan Ilahi. Ibarat seseorang yang sedang jatuh cinta setengah mati, ia tidak akan mendengar suara orang lain di sekitarnya karena hanya fokus pada sang kekasih.

3. Kemandirian Spiritual
Semakin dekat dengan Tuhan, semakin seseorang merasa cukup (qana'ah). Ia tidak lagi merasa perlu mencari pengakuan atau keramaian untuk merasa bahagia. "Kesunyian" ini adalah bentuk kemerdekaan jiwa—di mana ia merasa tenang dalam kesendirian karena ia tahu ia tidak pernah benar-benar sendiri; ia bersama Allah.

4. Melepaskan Keterikatan
Dunia menjadi sunyi karena kita sudah melepaskan keterikatan (tarku dunya). Kita tetap bekerja, tetap berkeluarga, dan tetap bersosialisasi, namun semua itu tidak lagi "mengikat" jiwa kita. Kita menggunakan dunia hanya sebagai alat, bukan sebagai tujuan yang membuat hati gelisah.

14/04/2026

rahasia karomah tuan syeikh





Al-Ghazali sering mengibaratkan hati manusia seperti sebuah cermin.Kotoran pada Cermin: Dosa, kesombongan, rasa iri, dan...
14/04/2026

Al-Ghazali sering mengibaratkan hati manusia seperti sebuah cermin.

Kotoran pada Cermin: Dosa, kesombongan, rasa iri, dan kecintaan berlebih pada dunia dianggap sebagai "debu" atau "karat" yang menutupi cermin hati. Jika cermin itu kotor, ia tidak bisa memantulkan apa pun.

Cahaya Tuhan: Kebenaran, hidayah, dan ketenangan dari Tuhan selalu ada di mana-mana. Namun, hanya hati yang bersih (qalbun salim) yang mampu menangkap dan memantulkan cahaya tersebut sehingga pemiliknya bisa "melihat" kebenaran dengan mata batinnya.

Tujuan Al-Ghazali menyampaikan kutipan ini adalah untuk mengajak kita melakukan beberapa hal:

Tazkiyatun Nafs (Pembersihan Jiwa): Mengingatkan bahwa tugas utama manusia bukan hanya menghias lahiriah (fisik/harta), tapi rajin membersihkan batin dari penyakit hati.

Mencapai Makrifat: Agar manusia bisa mencapai tingkat makrifat (mengenal Allah). Kita tidak bisa mengenal Tuhan dengan logika semata; kita mengenal-Nya ketika hati kita sudah cukup jernih untuk merasakan kehadiran-Nya.

Konsistensi dalam Kebaikan: Menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan buruk akan meninggalkan noda hitam di hati, sementara kebaikan akan mengilapkannya kembali.

1. Cinta sebagai Penghancur JarakSeringkali, kita merasa terpisah dari orang lain, dari alam, bahkan dari Tuhan. Kita me...
13/04/2026

1. Cinta sebagai Penghancur Jarak
Seringkali, kita merasa terpisah dari orang lain, dari alam, bahkan dari Tuhan. Kita merasa "aku di sini" dan "dunia di sana". Rumi mengajarkan bahwa Cinta adalah satu-satunya hal yang bisa menghapus rasa terpisah itu. Ketika kamu mencintai sesuatu, tidak ada lagi jarak antara kamu dan hal tersebut; kamu menjadi satu dengannya.

2. Melihat Tuhan dalam Segala Sesuatu
Dalam pandangan sufisme Rumi, segala sesuatu di dunia ini adalah cerminan dari keindahan Sang Pencipta. Jika hatimu dipenuhi cinta, kamu tidak akan melihat benda mati atau manusia biasa, melainkan kamu akan melihat "jejak" Tuhan di mana-mana. Cinta menjadi jembatan yang membuatmu bisa berkomunikasi dan merasakan kehadiran Tuhan melalui makhluk-Nya.

3. Kunci Memahami Rahasia Kehidupan
Tanpa cinta, kita hanya melihat dunia secara logika dan fisik. Namun, dengan cinta, kita mulai memahami hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Cinta memungkinkan kamu untuk memahami penderitaan orang lain, keindahan bunga yang mekar, hingga rahasia takdir. Tanpa jembatan cinta ini, kita akan tetap terisolasi dalam diri kita sendiri.

4. Cinta sebagai Motivasi Tertinggi
Mengapa seseorang rela berkorban? Mengapa seseorang mau memaafkan? Mengapa kita terus berjuang meskipun sulit? Jawabannya adalah cinta. Cinta adalah penggerak yang menghubungkan keinginan di dalam hati dengan tindakan nyata di dunia luar.

Pesan Intinya:
Dunia ini bisa terasa dingin dan asing jika kita menjalaninya hanya dengan pikiran. Rumi mengajak kita untuk membangun "jembatan" tersebut. Jika kamu ingin memahami hidup, cintailah hidup. Jika kamu ingin dekat dengan Tuhan, cintailah ciptaan-Nya.

Cinta bukan sekadar perasaan, tapi alat navigasi agar kita tidak pernah merasa sendirian di alam semesta ini.

Address

Jalan Raya Bandung Garut Km 24
Sumedang
45364

Telephone

+6289655823517

Website

https://instagram.com/robithoh37?utm_medium=copy_link, https:/

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Robithoh 37 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Robithoh 37:

Share