07/04/2017
Pendidikan Gratis Saja Belum Cukup
ditulis oleh Aiglé Jayasri
Kita semua (saya harap) sudah sepakat bahwa pendidikan wajib diberikan kepada seluruh Warga Negara Indonesia. Pendidikan ini penting untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, yang menjadi harapan setiap pemimpin yang memiliki akal sehat. Namun, apakah memberikan akses pendidikan formal seluas-luasnya dapat dikatakan cukup untuk mewujudkan kesejahteraan sosial? Bisa dikatakan cukup apabila sistem pendidikannya sudah ideal untuk mendidik manusia untuk menjadi sesuai kodratnya. Namun, apabila pendidikan yang diberikan melupakan aspek memanusiakan manusia − sekalipun tidak ada niatan untuk membuat manusia menjadi serigala bagi sesamanya− maka pendidikan gratis saja belum cukup.
Kita yang tidak peka sudah terbiasa terhadap pelbagai problematika di negeri ini tentu menganggap tidak ada yang salah dari penerapan pendidikan formal yang ada. Tuntutan akan tugas, tuntutan akan nilai yang tinggi, dan kompetisi, dipandang sebagai tuntutan yang baik bagi kemajuan serta masa depan mereka yang diberikan pendidikan. Bahkan mereka yang mampu memenuhi tuntutan tersebut dianggap superior, orang yang nantinya dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara, orang yang membanggakan orang tua, dan sembah puja lainnya. Padahal tanpa disadari tuntutan tersebut mengikis gemeinschaftsgefühl (perasaan menyatu dengan umat manusia) dari pelajar tersebut.
Di sekolah kita dituntut untuk lebih unggul dibandingkan yang lain. Sebagian orang tua juga mendorong dengan kuat anaknya untuk mendapatkan juara di kelas. Hal ini memang dapat meningkatkan motivasi mencari nilai belajar. Namun, di sisi lain hal ini berdampak pada sikap dan pola pikirnya. Ia akan berpikir bahwa apabila orang lain tidak mampu, maka itu adalah kesalahan mereka sendiri yang tidak mau bekerja keras, sama halnya ia berpikir temannya yang memiliki nilai rendah adalah karena malas belajar. Pada perkembangan di jangka panjang anak ini berkemungkinan memiliki rasa tanggung jawab akan kesejahteraan sosial umat manusia yang rendah. Karena ia merasa kesejahteraan orang lain tidak ada kaitannya dengan dirinya.
Dalam dunia industri, orang akan berusaha untuk menjadi yang paling unggul untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Akhirnya kecerdasan yang ia miliki digunakan untuk memperoleh keuntungan yang besar tanpa peduli dampaknya terhadap kehidupan orang lain. Adapun memberi bantuan dari hasil usahanya, bisa diprediksi itu hanya sebagai bentuk legitimasi kedermawanan, meskipun tindakan merusak tetap dijalankan. Hal ini disebabkan karena penanaman yang kurang akan makna hidup untuk bermanfaat bagi orang lain di bangku pendidikan formal.
Kita mungkin juga tidak asing dengan meme yang secara humoris membiasakan perilaku mencontek. Sejak Ujian Nasional menyerang, saya dihadapkan pada dilema moral untuk mengerjakan UN tanpa memberi contekan atau memberi contekan agar menyelamatkan kelulusan teman. Saya memilih membantu teman saya ketika UN. Namun, akibat dari perbuatan saya dan ratusan ribu anak lainnya yang memiliki keputusan yang sama dengan saya adalah, kecurangan yang semakin lumrah di kalangan siswa terutama SMP dan SMA. Ketika saya SMP, saya sudah memutuskan untuk tidak memberikan contekan karena contekan tidak lagi berpengaruh terhadap kelulusan teman saya. Saya menyangka di SMP orang akan berpikiran sama dengan saya. Namun ternyata tidak, mereka mempertahankan budaya mencontek tersebut.
Saya pun juga pernah ikut-ikutan karena perasaan takut terhimpit, namun kebiasaan ini sangat menyiksa batin, sehingga saya perlahan tapi pasti bertaubat atau seperti kata teman-teman tarbiyah, “hijrah” (walau tidak pindah tempat tinggal). Saya berpikir bahwa tindakan kecurangan tersebut tidak hanya menipu guru, namun juga orang tua, dan diri sendiri. Guru akan merasa sudah berhasil, orang tua merasa bangga anaknya pintar, namun apabila saya menjadi mereka, saya akan sakit jika mengetahui semua kemewahan nilai itu hanya tipuan.
Hendaknya ketika pelajar sudah duduk di bangku SMP mereka mulai diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran brilian dari tokoh-tokoh yang memberikan perubahan baik bagi kesejahteraan umat manusia, seperti mereka yang menanamkan pemikiran akan sama rata dan sama rasa agar tidak terjadi penindasan, dan pemikiran lain yang mengarah pada makna hidup manusia yang sebenarnya.
Menurut Alfred Adler, individu yang tidak sehat secara psikologis adalah mereka yang berjuang untuk memperoleh superioritas pribadi, sedangkan individu yang sehat secara psikologis adalah mereka yang mencari keberhasilan untuk semua umat manusia. Pemahaman akan manusia dengan psikologis yang sehat ini juga kurang ditanamkan di lingkungan sekolah, padahal ini adalah pendidikan yang penting untuk memanusiakan manusia. Pemahaman akan memanusiakan manusia ini semestinya lebih didahulukan dibanding materi lainnya agar si pemilik ilmu sadar untuk menggunakan ilmunya sebagai manusia yang sehat secara psikologis.
Tidak jarang kita melihat mereka yang memiliki ilmu dan tinggi pendidikannya lupa untuk menggunakan ilmu tersebut untuk memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Alih-alih memberi kebermanfaatan, kerusakan sebagai hasil dari pencapaiannya menjadi hal yang biasa dengan konsekuensi yang dapat ditolerensi. Contohnya, ikut berkontribusi dalam merusak memodifikasi alam sehingga tidak alami lagi untuk menjadi lahan suatu pabrik. Berbagai ahli diterjunkan untuk melegitimasi bahwa yang mereka lakukan tidak salah. Contoh lainnya adalah lulusan psikologi yang cenderung memanfaatkan ilmunya untuk membantu perusahaan mendapatkan pelanggan yang banyak, tanpa peduli penggunaan produk tersebut dalam jumlah yang berlebihan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Hal ini juga bisa jadi disebabkan karena ketika duduk di bangku sekolah dan kuliah, tidak ada penanaman akan tanggung jawab moral terhadap ilmu yang dimiliki tersebut, serta pemisah-misahan bidang ilmu hingga membuat seseorang tidak peduli dengan ilmu yang lain. Saya berpendapat bahwa ilmu sosial hendaknya juga dipahami oleh pelajar dengan fokus bidang lain sehingga dalam mengaplikasikan ilmunya tetap berorientasi terhadap kesejahteraan umat selaras dengan pemikiran-pemikiran brilian para tokoh seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Sayan cenderungnya ilmu tersebut biasanya hanya dipelajari di ranah sosial.
Oleh karena itu, apabila kita hanya berhenti pada pendidikan harus didapatkan oleh setiap warga negara Indonesia, tanpa mempertimbangkan pendidikan itu akan menjadikan mereka manusia atau robot yang takut terhimpit, maka kesejahteraan sosial yang menjadi tujuan diberikannya pendidikan akan sulit untuk tercapai.
Kita semua (saya harap) sudah sepakat bahwa pendidikan wajib diberikan kepada seluruh Warga Negara Indonesia. Pendidikan ini penting untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, yang men…