01/08/2021
KETIKA TAKARAN DARAH MENJADI ACUAN KESETIAAN
(Kisah Pelantikan La Herrang Daeng Patompo sebagai Arung ke-14 dan Regen I Manimpahoi)
Oleh Drs. Muhannis, MM
Hari ini 159 tahun yang lalu tepatnya 1 Agustus 1862, dilantiklah seorang putra terbaik Manimpahoi bernama La Herrang Daeng PATOMPO sebagai Arung Manimpahoi ke- 14 sekaligus regent Pertama Manimpahoi menggantikan adiknya yang bernama I Fesyuk Daeng Nipalik.
Manimpahoi sendiri adalah sebuah kerajaan otonom di masa silam dengan posisi sentral karena berada antara Tellu limpoe dan PITU limpoe sehingga orang Belanda menyebutnya de trap van Wawobulu atau tangga menuju Wawobulu Pitulimpoe.
Sebagai sebuah kerajaan, Manimpahoi berawal dari Tomanurung Pattontongang yakni dengan munculnya sosok misterius yang dinamakan To Manurung di puncak bukit Pattontongang yang tengah duduk di atas sebuah batu dan membisu. Keadaan ini dilaporkan oleh warga kepada pemimpinnya yakni To Matoa Pattontongang yang akhirnya To Manurung itu didaulat menjadi Arung Manimbahoi Pertama dan digelar To Manurung Pattontongang. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh Arung Tungkek Kammula lalu Mattunruang, selanjutnya kepada Cinnong lalu ke Maddumpu Langi dst.
Perlu dipahami bahwa Manimpahoi itu sesungguhnya adalah sebuah Federasi yang terdiri dari Saotenga, Saolohe, Saotanre dan Bonto mencakup Saohiring dan selalu menempatkan Satenga sebagai pimpinan federasi. Sebagai sebuah federasi, sistem kekuasaannya terbagi dua yakni Puatta Tuppu Solok dan Puatta. Puatta Tuppu Solok adalah eksekutif yang diketuai oleh Arung Manimpahoi atau pimpinan federasi sedangkan legislatif dan yudikatifnya adalah pimpinan wilayah anggota federasi dengan sistem berbagi delik di antara mereka yakni :
1. Puatta Saotanre yang berhubungan dengan keamanan dan hukum atau pabbatang (pernah dijabat antara lain oleh I Manrio, La Baso, La Kati Daeng Sirihu dll)
2. Puatta Saolohe berhubungan dengan wilayah dan Pertanahan disebut jaga lembang (pernah dijabat antara lain oleh Puang Beddu bin La Mamappasoko, Syekkuk Daeng Tabau, Petta Cenning dll)
3. Puatta Saotenga berhubungan dengan kedaulatan wilayah disebut Jagampanua (semua yang pernah menjabat Arung Manimpahoi)
4. Puatta Bonto berhubungan dengan kemaslahatan warga disebut jaga to tebbek (pernah dijabat oleh antara lain oleh Pahitte Karaeng Lotteng dari Balas**a rumpun Sombaya Gowa, Puang Sisila, Puang Mattimpolo dll)
Semua kasus di Manimpahoi selalu ditangani oleh Puatta sesuai dengan deliknya dan dibicarakan di Baruga saoraja dan keputusannya tidak boleh dianulir secara sepihak oleh anggota lain yang disebut Tellura Bicara. Apabila sebuah delik telah selesai di baruga dan diterima oleh semua Puatta, barulah diserahkan kepada Puatta Tuppusolok yakni Arung untuk disahkan dan menjadi keputusan kerajaan. Sebelum diterima oleh Arung, dia selalu bertanya kepada Puatta, puraniga napaota puatta. Kalau penyampai delik mengatakan sudah, barulah diputuskan bersama oleh 4 dewan adat itu.
Sesungguhnya Manimbahoi mengalami perubahan signifikan saat Arung Manimbahoi diperintah oleh Maulana sebagai Arung Manimbahoi ke 6 dimana saat itu dia dilamar oleh MANGUMPEANG Daeng Masuang. Dia adalah cucu La Maddaremmeng arumpone ke13 dari istri bernama Hadijah I Dasenrima. La Maddaremmeng sendiri adalah Raja Bone yang ditangkap oleh Gowa pada 23-7-1644 dan ditahan di Sanrangang walau dikembalikan lagi ke Bone pada 7-2-1667 yang diantar oleh Karaeng Lengkese. MANGUMPEANG juga cucu dari Arung Cabalu Laloasa Petta Naga TowaraniE ri Gowa MaturubelaE MatinroE ri Bontomanai yang menikah dengan I Jamila anak arung Saukang yang melahirkan MANGUMPEANG. Lamaran dari MANGUMPEANG diterima bahkan saat Maulana melahirkan anaknya MALLULUANG DAENG MATENGA kekuasaan dari Maulana dia serahkan kepada suaminya karena saat itu terjadi perang besar Bone Gowa yang sangat fenomenal itu, sehingga MANGUMPEANG menjadi Arung Manimpahoi pertama atau ke 7 secara keseluruhan gabungan Manimbahoi dan Manimpahoi karena sebelumnya adalah Manimbahoi berdasar bahasa Konjo dan berubah nama menjadi Manimpahoi era MANGUMPEANG dengan dasar bahasa Bugis. Era Mangumpeang jugalah nama Manimbahoi berubah menjadi Manimpahoi yang bermakna bahwa rumah kaum bangsawan sajalah yang dibolehkan menggunakan bentangan kain penutup rakkeang atau bola mattimpaho. Setelah Malluluang cukup umur, dia diserahi tugas sebagai Arung Manimpahoi ke 8. Malluluang menikahi keluarganya di Pattiro Bone dan melahirkan anak bernama To Addi Daeng Paroto yang akhirnya menjadi Arung Manimpahoi ke 9. To Addi menikah dengan bangsawan Lamatti bernama Besse Kampiri dan melahirkan anak bernama Bolong Daeng Maketti. Saat dia remaja, oleh bapaknya dia dikirim belajar ilmu agama Islam di Aceh.
Saat kekuasaan To Addi sebagai raja Manimpahoi ke 9 sistem pemerintahannya mengalami perubahan yakni dengan menjadikan anggota Federasi menjadi 6 anggota atau Puatta Ennenge dengan memasukkan Tanete dan Dadaka sebagai anggota Puatta. Tapi diakhir kekuasaannya dia ubah lagi menjadi Puatta LimaE sehingga disebutkan Dihunoi EnnengE dipatuhoi LimaE. Saat itu ada seorang tokoh yang sangat disegani di Manimpahoi yang tinggal di Labuaja dan Kahu kembali dan sebagai penghormatan kepada beliau dia diberi wilayah kekuasaan sehingga di pecahlah Saolohe menjadi dua yakni Saolohe di Attang dan Saolohe di Ahang. Sosok dimaksud adalah La Paremma Petta Tauk. Selanjutnya Tanete dilebur ke Saolohe dan Dadaka dilebur ke Bonto.
Pada saat La Bolong daeng Maketti kembali dari Aceh belajar agama Islam oleh ayahnya Arung Manimpahoi ke 9, dia didaulat menggantikan ayahnya dan menjadi Arung Manimpahoi ke 10. Saat dia berkuasa, dia memanfaatkan ilmunya kepada masyarakatnya dengan membuka pengajian di Bulobulo, Lamatti dan Tondong termasuk di Manimpahoi sendiri. Selanjutnya dia ubah lagi sistem legislatifnya menjadi Adek Asera dgn memisahkan eksekutif dengan legislatif merangkap yudikatif. Komposisi Adek Asera adalah:
1. Puatta ri Bonto
2. Puatta Saolohe ri Attang
3. Puatta Saolohe di Ahang
4. Puatta Saotanre
5. Aru Banyira
6. Aru Bacikoro
7. Aru Bulolohe
8. Aru Tapillasa
9. Aru Halimping
Saat itu Puatta Saotengnga menjadi eksekutif atau Puatta Tuppu Solok. Tidak lama kemudian dia ubah lagi menjadi Adek Seppulo dengan memasukkan Songing sebagai anggota baru. Diakhir kekuasaannya atau awal 1800an dia ubah lagi menjadi Adek Seppulo seddi dengan mengembalikan tugas Puatta Eppake sebagai pimpinan kolektif legislatif dibantu bali tudangeng dengan tetap menjadikan Puatta Satengnga sebagai Puatta Tuppu Solok. Kemudian dibentuk Bali Tudangeng sebanyak 11 anggota dengan tambahan Kadhi sebagai anggota baru untuk urusan agama Islam dan Bili yang mengurusi masalah adat. Lengkapnya adalah:
1. Aru Bacikoro dibantu oleh seorang Kapala dan Sulewatang
2. Aru Banyira dibantu oleh seorang Kapala dan Gella (Bongki)
3. Aru Tapillasa dibantu seorang Kapala dan Gella
4. ARU Halimping yang dibantu seorang Kapala.
5. Aru Bululohe dibantu seorang Kapala
6. Tomatoa Kessi
7. Gella Pepara
8. Kapala Saohiring
9. Aru Kompang dibantu seorang Kapala dan Gella
10. Bili yang mengurusi Adat
11. Kadhi atau Puang Kali yang mengurusi hal yang berhubungan dengan agama (islam)
Hal yang mirip dengan komposisi di atas adalah catatan Matthes, seorang pakar budaya Bugis yang berkunjung ke Manimpahoi November 1864 yang mana saat kunjungannya itu, Puatta Ciroro Daeng Paesa baru saja dilantik sebagai Arung atau Puatta Tuppu Solok Manimpahoi merangkap rege ke-2 Manimpahoi. Dia mencatat komposisi dewan adat Manimpahoi saat itu yang terdiri dari :
1. BILI RI AHA yang terdiri dari, Aru Bacikoro, aru Songing dan Aru Bulolohe
2. MACOA SAOHIRING yang terdiri dari Aru Banyira, Aru Halimping, Aru Lengkese dan Aru Campaga.
3. GALLA PEPARA yang terdiri dari Macoa Tanete dan Macoa Kassik
4. GALLA SATTULU yang terdiri Macoa Tangkulu, Macoa Manubbuk dan Macoa Sompong
Setelah Bolong Daeng Maketti meninggal, dia digantikan oleh anaknya sebagai Arung Manimpahoi ke 11 bernama La Oddung Daeng Paola. Dia menikah dengan bangsawan Labuaja bernama Petta Minneng binti Lahampang Daeng Paware pemberani Bone Selatan. Petta Minneng yang bersaudara dengan I Mandasini La P**e Isi Dulung Tellulimpoe. Saat kekuasaan La Oddung lah bayangan perang Rumpakna Mangarabombang ke-2 mulai terasa sehingga dengan pernikahan antara La Oddung dengan Petta Minneng disambut dengan s**acita oleh masyarakat Manimpahoi.
I Mandasini pun sebagai Dulung Tellulimpoe merasa senang karena akan terbantu pada Rumpakna Mangarabombang yang dibuktikan dengan kesediaan La Oddung untuk membangun benteng bersama semua anggota Konfederasi PITULIMPOA yang dibangun sekitar Takkurok bernama LalengpituE. Pas**annya pun terlibat aktif dalam perang di Mangarabombang.
Sayang sekali pernikahan agung La Oddung dengan Petta Minneng harus ternoda dengan keputusan La Oddung untuk menikah lagi sementara Petta Minneng sedang hamil tua yang dalam kandungannya adalah bakal Pattola Seddi Manimpahoi. Saat itu La Oddung p**ang dari Manimbahoi di Gowa dan singgah sejenak di Saoraja Bonto. Melihat gadis cantik yang tak lain adalah anak Arung Bonto Pahitte Karaeng Lotteng dan Karaeng Sagala bernama Rukiah Karaeng Mattimpolo dia langsung melamarnya dan akhirnya menikah. Usai nikah La Oddung membawa istri barunya ke Saoraja Aho yang ditempati Petta Minneng. Saat tiba di istana, la Oddung meminta kepada Petta Minneng untuk keluar dari kamarnya dan diminta untuk tidur didekat dinding lontang Saliweng atau lontara menulis,, dipatinro cappak tunebbek,, sementara istri barunya masuk kamar. Perlakuan ini membuat marah keluarga besar Petta Minneng dan La Oddung juga memahami kemarahan itu sehingga Petta Minneng diungsikan ke Kaherrang Tondong. Dan disanalah Petta Minneng melahirkan putra mahkota Manimpahoi dan diberi nama La Herrang. Saat lahir La Herrang, datanglah keluarga besarnya untuk menjemput sang putra mahkota seperti Mandasini dan Petta Haji Cakkela di Manimpahoi dengan berbekal senjata sisa-sisa perang Mangarabombang. Akhirnya Pattola Seddi Manimpahoi diboyong ke Bulobulo dan Labuaja dan oleh La Oddung pun merelakan kepergiannya apalagi Rukiahpun akhirnya hamil juga yang dalam kandungannya adalah Pattola Dua Manimpahoi. Setelah lahir diberi nama Fesyuk Daeng Palik
Sesampai di Labuaja Petta Minneng minta untuk diceraikan oleh La Oddung dan diterima perceraian itu. Selanjutnya Petta Minneng dinikahkan dengan sepupunya sendiri bernama Masurung Petta Pawenno bin La Mallongi Datu Sailong dan tak lama kemudian melahirkan anak yang diberi nama La Teha Petta Parewek
Pada saat La Oddung Arung Manimpahoi ke 11 meninggal, La Herrang tidak menghadiri pemakaman ayahnya dan tentu saja tidak bisa menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Arung karena tidak berada di Manimpahoi sehingga yang dilantik sebagai arung Manimpahoi adalah Fesyu Daeng Palik sebagai Arung Manimpahoi ke 12 merangkap Bonto karena berjaga-jaga siapa tahu La Herrang tiba-tiba datang sebagai Pattola Seddi sementara Fesyuk hanyalah Pattola Dua. Dalam tradisi Manimpahoi, seorang arung yang meninggal tidak bisa dimakamkan sebelum ada penggantinya yang diistilahkan dengan,, "engkapa nasappei wajunna"
Pada saat Rumpakna Mangarabombang jilid 4 atau November 1859, muncullah masalah baru di Manimpahoi karena rakyat mendambakan Pattola Seddi yang jadi arung mereka mengingat takaran darah bangsawannya yang berhubungan dengan Arumpone La Maddaremmeng serta predikat pattola seddi. Saat itu semua penentang pengembalian La Herrang sudah meninggal. Kedudukan Mandasini sebagai dulung Tellulimpoe sudah diserahkan kepada putra kandungnya Patimbangi Daeng Mangatta, La Hampang dan Haji Cakkela juga sudah meninggal. Dengan demikian sebuah kesempatan emas untuk berunding lagi dengan Labuaja agar La Herrang bisa p**ang ke Manimpahoi walau berat untuk berhasil. Saat Sinjai jatuh ke tangan Belanda 25-11-1859, Gezaghebber Sinjai yakni Kapten Wiegen mengatakan akan segera melantik penguasa baru pada semua akkarungeng, maka Manimpahoi semakin tegang dan berupaya mendesak la Herrang untuk p**ang ke Manimpahoi menjadi Arung tapi belum berhasil. Maka dicarilah perunding baru dan pilihan jatuh ke sosok Kareba Daeng Mannessa yang tinggal di Maccini Kajang karena menikahi keluarga Karaeng Kajang Karaeng Dea Daeng Lita yang dilantik sebagai Karaeng Kajang pada 27-7-1875 bernama Becce ri Malimali. Dan babakan barupun dimulai dan perundingan dimulai.Perundingannyapun berlangsung alot tetapi akhirnya Kareba Daeng Mannessa berhasil meyakinkan Labuaja dengan syair pamungkas,, maittani llorong bojokke nadeppa Gaga Mulle mbolloi, Akhirnya, La Herrang diboyong ke Manimpahoi dengan jaminan keamanan yang diberikan oleh keluarga besarnya di Manimpahoi. Saat itu La Herrang sudah berusia 34 tahun sedangkan Fesyu berusia 33 tahun. Akhirnya sang pattola seddi Manimpahoi berhasil dip**angkan ke tanah asalnya dan langsung diangkat menjadi Arung secara adat Manimpahoi ke-13 dan Fesyu dikembalikan ke Bonto yang saat berkuasanya memang tetap dia rangkap warisan dari kakeknya yakni I Pahitte Karaeng Lotteng dan Karaeng Sagala. Saat kep**angan La Herrang ke Manimpahoi, jabatan Gezaghebber dari Kapten Wiegend telah berubah menjadi Asisten Residen sejak 15-11-1862, dan penguasa Sinjai saat itu adalah. J. Bakkers. Dia akhirnya melantik La Herrang menjadi Regen Pertama Manimpahoi merangkap Arung Manimpahoi ke 13.La Herrang dilantik sebagai regen bersama dengan Pahare Daeng Mangiri regen Tondong dan Besse Rameng Regen Manipi merangkap Turungang yang telah dihapus sebelumnya. Mereka dilantik bersamaan di Tondong pada tanggal 1-8 -1862 dan usai dilantik secara kolonial, La Herrang diusung dengan tandu khusus dikawal lengkap oleh warganya serta semua arajangnya termasuk batenya ke Manimpahoi untuk dilantik secara adat lagi. La Herrang bertugas sampai tahun 1864. Pada saat La Herrang menjabat Regen Manimpahoi Istilah Puatta Tuppu Solok berubah menjadi Puatta Makkantorokke walau sapaannya tetap disebut Arung Manimpahoi.
La Herrang menikah dengan Besse Kanari melahirkan
1. Petta Sunggu
2. Makkanyarang Petta Sahi
3. Panyomai Petta Mase
4. Lembang Petta Haji
5. Petta La Hakkung
6. Petta Dimang
7. Paressa Petta Tanga.
Dari istri Puang Ratena lahir Ciroro Daeng Paesa. Dari istri Puang Baeang lahir 1. Tenggo Petta Kerra (nenek Bupati Bulukumba sekarang atau Andi Utta) 2. Petta Runo, 3. Petta Majjoppo. LA HERRANG digantikan oleh Ciroro Daeng Paesa sebagai Arung Manimpahoi ke 14 atau regent ke 2 pada 23-10-1864 dan bertugas sampai 1889 yang selanjutnya digantikan oleh Makkumpellek Daeng Paesong sebagai Arung Manimpahoi ke 15 atau regen terakhir atau ke 3 pada 17-10-1889 sampai pengangkatannya sebagai Adat Gemeenschapthopt pada tahun 1913 dan masih menjalankan kekuasaanya walau akhirnya menjadi kecewa karena calon penggantinya Karaeng Indo Rukka yang menjabat sebagai jaksa di Pare-pare dan Sengkang tidak diizinkan oleh Belanda karena sedang menangani kasus berat di Sengkang. Salahsatu jalan adalah dengan pemilihan Arung Pasanre sambil menunggu Karaeng Indo Rukka. Calon itu adalah Karaeng Mappasessu dan Karaeng Makkasolang Daeng Parebbung dan yang ditetapkan adalah Karaeng Mappasessu sebagai Arung Manimpahoi ke 16. Karaeng Mappasessu adalah anak dari Makka Daeng Pasau Arung Tombolo Pao bin Mattalitti Daeng Mattata bin Fesyu daeng Palik. Sedangkan Makkasolang Daeng Parebbung adalah anak dari Makkanyarang Petta Sahi. Setelah Karaeng Indo Ruka mendapat izin dari Belanda, dia p**ang ke Manimpahoi dan dilantik sebagai Arung Manimpahoi ke 17 sedangkan Karaeng Mappasessu dipindahkan ke Tombolo Pao dan dilantik sebagai Karaeng Tombolo Pao menggantikan bapaknya yaitu Karaeng Makka Daeng Pasau. Raja Manimpahoi terakhir adalah Karaeng Paduppa sebagai raja ke 18 yang dilantik pada tahun 1936.
Dalam keseharian masyarakat Manimpahoi, mereka diikat Oleh dua pesan leluhur yaitu:
1. Mauni tanre ajuara riliputta, ko mattamakki ri Manimpahoi, cellukmutoki ri tujunna ajuaranna. Pesan ini ditujukan kepada orang dari luar Manimpahoi termasuk orang Manimpahoi yang akan ke kampung orang. Maksud dari pesan ini adalah bahwa siapa saja yang memasuki Manimpahoi wajib menghargai adat Manimpahoi, demikian p**a dengan orang Manimpahoi yang akan tinggal di kerajaan lain wajib p**a menghargai adat setempat.
2. Sama soe, sama njappa, sama teppa, lao tungkek pesan warga Manimpahoi yang menetap di Manimpahoi yang bermakna untuk bahu-membahu menjaga kebesaran Manimpahoi dan bersatu-padu demi kejayaan Manimpahoi dibawah kepemimpinan Arung Tuppu Solok dan Puatta.
Sebagai sebuah kerajaan yang disegani, maka tentu saja kita dengan mudah mendapatkan data Lontarak diluar Sinjai yang menulis tentang Manimpahoi ini.
Lontarak yang banyak mencatat tentang Manimpahoi adalah Lontarak La Tenritappu arumpone antara lain dia mencatat tentang kehadiran Rombongan Arung Manimpahoi saat I Manneng Arung Data putrinya di aqiqah, Saat itu rombongan Arung Manimpahoi datang ke Bone pada tanggal 16-11-1776 dengan membawa hadiah emas 2 kati 2 taik atau lebih 1000 gram krn 1 kati nilainya 600 gram dan 1 taik seberat 40 gram jadi totalnya 1280 gram. Catatannya tertulis,, To MarilalengE patek i solokna to Manimpahoi, to Balas**aE dua kati dua taik.
Catatan lain dari lontara Catatan Harian La Patau 17-10-1702 tertulis, kiarewangeng ri Enrekang ia taddapik bilabilanna arung Raja, Arung Manimpahoi na Arung Pao Wawobulu. Saat itu La Patau memohon bantuan ke Manimpahoi meredam perang di Toraja dan tiba di Enrekang, pas**an La Patau bertemu pas**an Manimpahoi dan bersama-sama ke Toraja.
Sumber Data
1.Lontara Manimpahoi milik Karaeng Tafa, salinan lontara Tomanurung Pattontongan milik Petta Akile di Manimpahoi, Lontara La Tenritappu, Lontara La Patau, daftar nama regent Oostdistrichten Sinjai, Lontara Silsilah Manimpahoi milik Petta Solong, lontara silsilah Manimpahoi milik Puang Ambo, M. S. Pel di Bogor, catatan Matthes di Sinjai milik pribadi penulis dll