Social Media Information

Social Media Information Informasi Via Media Sosial

Petualangan Arung Palakka bersama VOC Belanda dalam memerangi wilayah nusantara di masa lalu. Dari Sumatra Barat hingga ...
23/07/2025

Petualangan Arung Palakka bersama VOC Belanda dalam memerangi wilayah nusantara di masa lalu. Dari Sumatra Barat hingga Nusa Tenggara Barat.

12 Agustus 1666
Hari keberangkatan Arung Palakka ke Pariaman di Sumatra barat. Arung Palakka bergabung dengan perwakilan VOC Belanda di Padang Pariaman bernama Jacob Gruys yang dikenal dengan nama Ekspedisi Verspreet.

7 Agustus 1670
Arung Palakka pergi ke Wajo untuk berperang.

19 Desember 1670
Arung Palakka tiba dari Wajoq
dan mengalahkan Tosora Wajo

6 Oktober 1671 :
Arung Palakka turun ke Mandar

15 November 1671
Arung Palakka tiba dari Mandar

14 April 1673
Arung Palakka turun ke Massepe (Sidrap) untuk berperang

8 Juni 1673
Kepala penguasa Massepe dipenggal selanjutnya dibawa ke VOC Belanda

31 Oktober 1673 :
Arung Palakka berlayar untuk memerangi
Mandar

28 Maret 1676
kami ditentang oleh Arung Palakka
setelah perang pertama di Gowa

2 September 1676
Arung Palakka berlayar ke Luwu untuk memerangi Luwu

16 Desember 1676
Arung Palakka tiba dari Luwu

3 Mei 1677
Arung Palakka terluka kena tombak
di pantatnya

16 September 1678
Sultan Muhammad Ali di asingkan ke luari ke Jakarta (Batavia), sebanyak 411 orang pengikutnya dari Makassar bepergian bersamanya

7 Oktober 1678
Arung Palakka berlayar ke ke Jakarta (Batavia) untuk memata-matai dan memantau Sultan Muhammad Ali bersama pengikutnya

12 Maret 1680
Arung Palakka datang dari Keper [Sidoarjo, Jawa timur] dan penaklukannya

9 Januari 1681
Arung Palakka berlayar ke Galinggang [Sawitto]

14 Januari 1681
Galinggang dikalahkan dan dikuasai

17 September 1694
Arung Palakka mengirim Armada untuk membantu VOC Belanda dalam konflik dengan penguasa Kengkelu, Tambora NTB yang berusaha menguasai seluruh p**au Sumbawa dan mendatangkan malapetaka di Bima, Dompu dan Pekat.

Disadur dari postingan Asfar Kaltara pada Grup Sejarah Makassar 2 di






semua orang
Sorotan Berita Viral

DAENG MALLARI, TOKOH PEMERSATU FEDERASI MANDARDaeng Mallari atau digelar Todipesso di Galesong adalah anak dari Todibose...
28/05/2025

DAENG MALLARI, TOKOH PEMERSATU FEDERASI MANDAR

Daeng Mallari atau digelar Todipesso di Galesong adalah anak dari Todiboseang raja ke enam Balanipa, Daeng Mallari menyatukan kembali federasi Mandar diambang perpecahan.

Menyambut kedatangan Sultan Hasanuddin dengan 1000 kapal / Jung dalam rangka diplomasi mempererat silaturahmi kekerabatan dan untuk menghadapi perang besar masa yang datang.

Dimasa pemerintahan Daeng Mallari, Gorontalo dan sekitar wilayah teluk Tomini diserahkan ke Gowa, akibat serangan yang terus menerus oleh kesultanan Ternate bersama VOC, Daeng Mallari berangkat ke Gowa dengan 1000 pas**an untuk bergabung dengan armada laut Gowa menyerang kesultanan Ternate dan kesultanan Buton.

Kekalahan pas**an gabungan armada laut kesultanan Gowa oleh VOC dan kawan-kawan sehingga Daeng Mallari ditangkap dan ditawan dip**au yang dijuluki p**au kuburan Makassar.

Daeng Mallari meloloskan diri dari p**au itu dan menuju ke Galesong, Daeng Mallari dibujuk oleh Arung Palakka untuk memihak VOC, tapi pemimpin federasi Mandar berkeras hati, Daeng Mallari bersama sisa pas**annya bertempur habis-habisan mempertahankan Benteng Galesong yang dikepung oleh pas**an Arung Palakka dan pas**an Kapiten Jonker dari Ambon dan gugur bersama seluruh pas**annya di benteng itu.

Pas**an Mandar lainnya dalam ekspedisi ke dua yang baru tiba dipimpin oleh Mara'dia Pamboang mendapati pemimpinnya tewas di Galesong, mayatnya dip**angkan ke Mandar dan dimakamkan di Buttu.

Pas**an Mandar juga membantu kesultanan Gowa mempertahankan Benteng Somba Opu dari pengepungan armada laut VOC dan aliansinya hingga Sultan Hasanuddin menyerah.

Diposting ulang dari postingan FB Acho Art


12/02/2025
25/10/2024

KORONGTIGI - PACCING

KORONGTIGI (Makassar) - Mapaccing (Bugis) adalah acara/melakukan acara kumpul-kumpul (tudang sipulung/Bugis atau assekre-sekre/Makassar) keluarga atau kerabat dekat calon mempelai pada malam terakhir sebelum melangsungkan akad nikah keesokan harinya, dimana pada acara tersebut ada prosesi mengoleskan daun pacar/lekok korongtigi ketelapak tangan calon pengantin yang dilakukan secara bergantian oleh keluarga yang dimulai dari urutan tertua atau yang dituakan dengan syarat yang bersangkutan sudah menikah sambil mendo'akan si calon pengantin. Dikesempatan ini juga dimanfaatkan oleh keluarga selain untuk bersilaturahmi mempererat kekerabatan juga kadang dijadikan moment oleh keluarga yang mempunyai urusan penting yang tak dapat ditinggalkan untuk minta maaf dan izin tidak menghadiri acara pernikahan. Sedangkan bagi keluarga yang tidak menghadiri acara korongtigi karena sesuatu dan lain hal akan berusaha datang diacara akad nikah atau pesta pernikahan.

Appalilik/ berkeliling (Makassar) adalah membawa kedua mempelalui keliling kampung terutama disekitaran rumah domisili pengantin dengan tujuan untuk memperkenalkan kedua mempelai ke warga sekitar sekaligus juga memperkenalkan mempelai terhadap kondisi sosial disekitar tempat domisilinya sehingga nantinya mereka bisa bersosialisasi dan diterima dengan baik oleh warga.

Silariang/annyala (Makassar) atau kawin lari, yakni dimana bila dua sejoli s**a sama s**a dan ingin melanjutkan kehubungan pernikahan namun tidak disetujui oleh orangtua si wanita karena dianggap tidak pantas misalkan status sosial dan atau status ekonomi keluarga laki-laki lebih rendah dari keluarga wanita, atau pertimbangan lainnya seperti masalah akhlak atau sudah ada pria lain yang dicalonkan oleh orang tua wanita, maka sang lelaki akan membawa kabur si wanita dari rumah orang tuanya dan selanjutnya akan dititip di rumah imam/penghulu di kampung lainnya selama kurun waktu tertentu. Selama masa penitipan ini, pihak imam/penghulu akan berkomunikasi dengan pihak keluarga perempuan untuk mencari solusi terbaik agar kedua sejoli ini bisa dinikahkan, walaupun sangat mustahil diterima oleh pihak keluarga wanita karena dianggap sudah mempermalukan harkat dan martabat keluarga perempuan. Oleh karena itu sang lelaki dicap sebagai Tumasiri' (orang yang mempermalukan) keluarga perempuan. Bila tidak ada titik temu, maka kedua sejoli ini dinikahkan oleh penghulu dan setelah itu kedua pasangan ini akan menjauh sejauh mungkin dari kampung keluarga perempuan (napelaki kalenna) untuk membangun mahligai rumahtangganya. Selama masa membuang diri ini, bilamana salahsatu atau keduanya ditemukan oleh keluarga perempuan maka akan dihukum mati/dibunuh. Itulah mengapa kedua pasangan silariang ini berusaha pindah sejauh mungkin ke tempat yang kecil kemungkinannya bertemu dengan keluarga perempuan.
Selama masa silariang ini, pihak keluarga laki-laki akan berusaha untuk menjalin komunikasi dengan pihak keluarga perempuan melalui mediator agar pihak keluarga berkenan untuk hubungan perkawinan anaknya dan menerima anak dan menantunya kembali ke pangkuan keluarga. Bila diterima maka pihak keluarga laki-laki akan membawa kedua pasangan tersebut ke rumah orang tua wanita melalui prosesi layaknya seperti mengantar calon mempelai laki-laki menuju ke rumah calon mertua yang disebut dengan mabajik atau islah/berdamai. Pasangan silariang ini ada yang cepat diterima bajik-nya ada yang sangat lama, bahkan ada yang tidak diterima sama sekali sampai meninggal.

Kira-kira seperti itulah pengertiannya sependek pengetahuan saya. Mohon dikoreksi bagi yang lebih tahu tentang perihal ini. By Hadi Nai

Disadur dari komen FB Hadi Nai

Catatan dari Negeri Para Pelaut UlungTakunjungak Bangunturuk, Nakuguncirik Gulingku, Kualleanna Tallanga na Toalia [Tida...
12/04/2024

Catatan dari Negeri Para Pelaut Ulung

Takunjungak Bangunturuk, Nakuguncirik Gulingku, Kualleanna Tallanga na Toalia [Tidak begitu saja aku ikut angin buritan, Dan aku putar kemudiku, Lebih baik aku pilih tenggelam dari pada balik haluan].

Lekbak Kusorongna Biseangku, Kucampakna Sombalakku, Tamassaile Punna Teai Labuang [Ketika perahuku kudorong, Ketika layarku kupasang, Aku takkan menggulungnya kalau bukan labuhan].

Demikian Falsafah Hidup Orang Makassar. Dari falsafah ini sudah dapat dilihat betapa kehidupan orang-orang Makassar begitu dekat bahkan sangat dekat dengan yang namanya laut. Maka tak heran jika orang-orang Makassar dikenal sebagai pelaut-pelaut ulung.

Sebelum kedatangan orang Eropa, orang Makassar sudah dikenal sebagai pelaut ulung. Banyak bukti yang menunjukkan kepiawaian orang Makassar menguasai laut dengan layar. Diantaranya adalah keterangan dari Tome Pires yang juga dianggap sebagai sumber Barat tertulis yang paling tua yang bisa ditemukan. Pires mengemukakan: "Orang-orang Makassar telah berdagang sampai ke Malaka, Jawa, Borneo, negeri Siam dan juga semua tempat yang terdapat antara Pahang dan Siam".

Oleh Pelras, gelombang tinggi dan laut yang sangat luas bukanlah hambatan bagi mereka. Keberanian, kekasaran dan kematianlah yang akan mereka pilih jika mereka di perhadapkan pada pilihan yang rumit. Apalagi kalau itu menyangkut dengan harga diri dan kepercayaan yang di anutnya.

Disamping itu Kerajaan Makassar [Gowa-Tallo] juga dikenal sebagai kerajaan yang pernah mempunyai kekuatan armada laut yang besar dan disegani.

Oleh Antonio de Paiva seorang pelaut portugis mencatat pertemuannya dengan Baginda Sultan Malikkussaid (Raja Gowa ke 15) yang dikawal tidak kurang dari 1182 [seribu seratus delapan puluh dua] kapal perang Kerajaan Gowa-Tallo yang menyertai Baginda Sultan Malikussaid saat melakukan pelayaran ke daerah Maje'ne.

Selain itu dalam Lontara Bilang Gowa, tercatat pada 30 April 1655, Sultan Hasanuddin berkayuh ke Mandar terus ke Kaili dikawal 183 perahu. Perjalanan Sultan Hasanuddin ke Maros, 29 Desember 1659 dikawal 239 perahu. Ketika ke Sawitto 8 Nopember 1661 dikawal 185 perahu. Sebanyak 450 perahu digunakan mengangkut sekitar 15.000 lasykar Kerajaan Gowa ke Pulau Buton pada bulan Oktober 1666.

Kebesaran armada laut Kerajaan Gowa dahulu didukung oleh armada perahu yang besar dan tangguh. Selain jenis perahu Phinisi yang dikenal sekarang ini, Kerajaan Gowa pernah memiliki ribuan perahu jenis "Galle" yang mempunyai desain cantik menawan yang dikagumi pelaut-pelaut Eropa, seperti I Galle I Nyannyik Sangguk yang pernah ditumpangi oleh Baginda Sultan Muhammad Said [Sultan Malikussaid] dalam pelayarannya ke Walinrang dan negeri Bolong di Tanah Toraja.

Perahu Galle Kerajaan Gowa dahulu, konstruksinya bertingkat dengan panjang mencapai 40 meter dan lebar 6 meter. Tiang layar besar dilengkapi pendayung 200 hingga 400 orang. Setiap perahu Galle diberi nama tersendiri. Seperti I Galle Dondona Ralle Cappaga panjang 25 depa [kurang lebih 35 m], I Galle I Nyannyik Sangguk dan I Galle Mangking Naiya, panjang 15 depa [kurang lebih 27 m], I Galle kalabiu, I Galle Galelangan, I Galle Barang Mamase, I Galle Siga, dan I Galle Uwanngang dengan panjang masing-masing 13 depa atau sekitar 23 meter.

Disamping itu terdapat p**a jenis-jenis perahu yang dibuat untuk kepentingan tertentu, seperti jenis perahu Binta untuk penyergapan, perahu Palari sebagai alat pengontrol wilayah kekuasaan di perairan dan pesisir pantai, perahu Padewakang untuk kepentingan dagang, perahu Banawa untuk mengangkut binatang ternak, perahu Palimbang khusus angkutan penumpang antarp**au, perahu Pajala bagi nelayan penangkap ikan, perahu Birowang dan perahu Bilolang untuk mengangkut penumpang jarak dekat.

Dengan itu, maka tak heran jika wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa pada pertengahan abad XVII dapat meliputi sebagian besar kep**auan Nusantara bagian timur, seluruh Sulawesi, Sangir - Talaud - Pegu - Mindanao di bagian utara, Sula - Dobo - Buru - Kep**auan Aru [Maluku] di sebelah timur, Marege [Australia Utara] - Timor - Sumba - Flores - Sumbawa - Lombok [Nusa Tenggara] di sebelah selatan, dan Kutai dan Berau [Kalimantan Timur] di sebelah Barat.

Selain sebagai armada perang, juga digunakan untuk menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan dengan kerajaan lain di Nusantara, juga dengan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, dan Gujarat di India.

Dengan bermunculnya kapal-kapal bangsa Eropa di perairan Nusantara dalam permulaan abad XVII, terutama di bagian timur Indonesia, yang secara langsung berlayar ke tempat penghasil rempah-rempah, maka mau tak mau akan terjadi persaingan diantara mereka, tak terkecuali dengan orang-orang Makassar [Kerajaan Gowa-Tallo].

Oleh Kompeni Belanda orang-orang Makassar merupakan saingan yang berat baginya. Terlebih sesudah orang-orang Belanda selesai mengadakan perhitungan dengan orang-orang Spanyol, Portugis, dan Inggris di Maluku, ternyata pelabuhan Makassar selalu terbuka bagi bangsa-bangsa ini untuk datang berdagang dan membeli rempah-rempah lebih murah di Makassar daripada di daerah Maluku sendiri.

Dalam tahun 1607 setibanya Cornelis Matelief di Ambon, Dia mengirim utusan ke Makassar untuk menyampaikan surat kepada Raja Gowa supaya jangan mengirim beras ke Malaka dan membuka pelabuhannya untuk kapal-kapal Belanda. Permintaan itu tiada di pedulikan Gowa. Dengan sendirinya merenggangkan hubungan baik diantara keduanya, terutama seketika Belanda telah mulai berhasil memperoleh monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Pedagang-pedagang Eropa lainnya dengan sendirinya memindahkan pusat kegiatannya ke Makassar. Disamping untuk menjual barang dagangan yang dibawanya, juga yang terpenting ialah untuk membeli barang-barang dagangan yang diperlukan, terutama rempah-rempah, kayu cendana dan kayu sapan.

Dengan sendirinya sikap menjauhi dari pihak Kompeni Belanda [VOC] mulai nampak. Dalam tahun 1615 Jan Pieterszoon Coen sebagai Direktur Jenderal atas perdagangan Kompeni di Indonesia mempertimbangkan penghapusan kantor di Makassar, yang berarti putusnya hubungan baik diantara keduanya. Tetapi sebelum hal ini merupakan suatu ketetapan, wakil dagang Belanda di Makassar Abraham Sterck atas kuasanya telah meninggalkan kantornya dan memindahkan seluruh inventarisnya ke kapal "Engkhuysen" yang sedang berlabuh dan berniat berangkat pamit. Akan tetapi masih terdapat piutangnya sama Raja. Oleh sebab itu atas anjurannya, maka kapitan kapal mengundang sejumlah pembesar-pembesar Makassar untuk datang melihat-lihat kapalnya. Setelah pembesar-pembesar itu berada di atas kapal, maka di suruh serangnya untuk melucuti seluruh senjata-senjatanya karena hendak dijadikan sebagai sandra [gijselaar].

Perkelahian pun terjadi di kapal itu pada tanggal 25 April 1615, menyebabkan kedua belah pihak menderita kerugian. Pembesar-pembesar Makassar yang datang itu kebanyakan tewas, terkecuali dua orang, yakni Ince Husain [Syahbandar] dan KaraEngta ri Kotengang [salah seorang keluarga raja] terutama dan dibawa ke Banten. Dengan sendirinya ketegangan-ketegangan pun mulailah terjadi, tetapi belumlah secara besar-besaran.

Sultan Alauddin sangat gusar sekali, tetapi masih dapat menahan diri menunggu sampai kedua pembesar itu dikembalikan dengan selamat oleh Belanda. Beberapa buah kapal Belanda yang masih singgah di Makassar masih diterimanya dengan baik. Tetapi setelah kedua pembesar itu tiba di Makassar dalam tahun 1616, barulah Raja melampiaskan pembalasan dendamnya.

Pada akhir tahun 1616 sebuah kapal Belanda yang bernama "De Eendragt" yang setelah meninggalkan tanah airnya terdampar di pantai barat Australia dan membikin peta sebagian daerah itu. Dari Australia kapal itu tiba di laut Jawa melalui selat Bali dan tanpa mengetahui kejadian itu di Makassar dan penutupan kantor dagangnya, telah berlabuh di pelabuhan Makassar dan telah turun ke daratan. Kapal serta muatan dan anak buahnya itu pun menjadi mangsa orang Makassar. Dan mulai pada waktu itulah terjadi perang antara Kompeni dengan Makassar yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. Berpuncak pada kejatuhan Makassar pada tahun 1667 yang ditandai dengan diadakannya Perjanjian Bungaya.

Namun walaupun demikian, orang-orang Makassar yang tidak menerima Perjanjian Bungaya dan merasa tidak senang dengan kehadiran Belanda tetap menjadi ancaman bagi Belanda [VOC] baik didarat maupun di lautan. Beberapa tokoh sentral Gowa yang menolak menyerah salah satunya adalah Karaeng Galesong hijrah ke Tanah Jawa. Bersama armada lautnya yang perkasa, mereka memerangi setiap kapal Belanda yang mereka temui. Oleh karena itu, Belanda yang saat itu dibawah pimpinan Spellman menjulukinya dengan "Si-Bajak-Laut". Mereka menjadi Bajak Laut bagi Belanda [VOC] beserta koloni-koloninya yang merupakan musuh-musuh mereka, sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap ketidakadilan. Mereka berjuang untuk kemerdekaan dan kesejahteraan mereka.**

Dari Berbagai Sumber
Disadur kembali dari Fanpage Sejarah Suku Makassar

KOMPLEK MAKAM RAJA-RAJA TALLODiantara sekitar 78 kuburan di Makam Raja-Raja Tallo ini, hanya 20 yang bisa dikenali. Sedi...
29/05/2022

KOMPLEK MAKAM RAJA-RAJA TALLO

Diantara sekitar 78 kuburan di Makam Raja-Raja Tallo ini, hanya 20 yang bisa dikenali. Sedikitnya ada tiga makam berkubah disini, tampak dalam foto yang dibuat tahun 1937 makam berkubah yang ada dalam komplek Makam raja-raja Tallo.

Beberapa nama-nama raja atau keluarga raja yang makamnya masih bisa dikenali, yaitu:

• Sultan Mudaffar (I Manginyarrang Daeng Makiok, Raja Tallo VII, 1598 - 1641)
• I Sawe Rannu (istri Raja Tallo VII)
• Sultan Abd. Kadir (I Mallawakkang Daeng Matinri, Raja Tallo IX)
• Sultan Syaifuddin (I Makkasukmang Daeng Mangukrangi, Raja Tallo XII, 1770 - 1778)
• Sultana Sitti Saleha (I Madulung, Raja Tallo XIII)
• Sultan Muh Zainal Abidin (La Oddang Riu Daeng Mangeppe, Raja Tallo XV, Raja Gowa ###)
• I Yandulu (Karaeng Sinrijala)
• I Pakanna (Raja Sanrobone XI)
• Sultana Sitti Aisyah (I Mangati Daeng Kenna)
• I Mallawakkang Daeng Sisila (Abd Kadir)
• Abdullah Bin Abdul Gaffar (Duta Bima di Tallo)
• Linta Daeng Tasanging (Karaeng Bonto Sunggua Tumabicara Butta Gowa)
• Abdullah Daeng Riboko
• Arif Karaeng Lakbakkang
• I Manuntungi Daeng Matola
• Karaeng Parang-parang (Karaeng Bainea ri Tallo)
• Saribulang (Karaeng Campagana Tallo)
• Mang Towaya
• Sinta (Karaeng Samanggi)
• Karaengta Yabang Daeng Talomo Karaeng Campagaya (Karaeng Bainea ri Tallo)
• Karaeng Mangara Bombang (Karaeng Bainea Ri Tallo).

(Leiden University Libraries Digital Collections)

Disadur dari akun FB Abbas Daming pada grup publik FB






75 Nama Kampung di kota Makassar 1894 :Dari Utara ke Selatan : 1. Sapong2. Ujung Tanah3. Sidenreng4. Wajo5. Lompo Ganran...
14/01/2022

75 Nama Kampung di kota Makassar 1894 :

Dari Utara ke Selatan :
1. Sapong
2. Ujung Tanah
3. Sidenreng
4. Wajo
5. Lompo Ganrang
6. Melayu
7. Ende
8. Ende Cakdia
9. Maccini Ayo
10. Mallimongang
11. Loro
12. Kampong Beru
13. Maloku
14. Galesong
15. Losari
16. Bassi
17. Lojia
18. Pannambungang
19. Mariso
20. Matto Anging
21. Bonto Rannu
22. Sambung Jawa

Dari Timur Laut ke Barat :
23. Agang Pancaya
24. Mangarak Bombang
25. Tallo
26. Cambaya
27. Pattingalloang
28. Pattingalloang Lompoa
29. Pannampuk
30. Gusung
31. Paoterek
32. Tamalakba

Dari Selatan ke Utara
33. Jongaya
34. Parang
35. Mamajang
36. Mariyo
37. Dadik
38. Maricaya
39. Mangkura
40. Jawa
41. Parang
42. Renggang
43. Balang
44. Pattunuang

Dari Timur ke Barat, lalu ke Selatan:
45. Rappo Kalling
46. Rappo-rappo
47. Sinassara
48. Kaluku Bodoa
49. Bonto Talak
50. Buloa
51. Butta Butta
52. Berowanging
53. Lembo
54. Tabaringang
55. Layang
56. Gotonga
57. Pannampuk
58. Biring Balang
59. Suwangga
60. Walawala Jawaya

61. Kalukua
62. Laklatang
63. Maccinik
64. Baraya
65. Bontoalak
66. Tompok Balang
67. Gakdong
68. Gusung
69. Parang
70. Lariang Bangi
71. Maradekaya
72. Maradekaya Cakdia
73. Bara-baraya
74. Pammaukang Lambarak
75. Tamamau

Pengarang/pencipta :
Seijdlitz Kurzbach, H.F.W.B.E. von

Diterbitkan/dibuat :
Batavia : Biro Topografi, 1894.

Disunting oleh :
Pajappa Bangkeng





Manggarai tanah Mahar 1727Mungkin selama perjalanan sejarah dunia ini, baru terjadi pernikahan yang teramat istimewa dim...
11/01/2022

Manggarai tanah Mahar 1727

Mungkin selama perjalanan sejarah dunia ini, baru terjadi pernikahan yang teramat istimewa dimana sebuah p**au dijadikan Mahar dalam perkawinan. Peristiwa ini terukir dalam Sejarah Bima di ujung timur p**au Sumbawa. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-18 pada masa pemerintahan I Mappatalli Sultan Hasanuddin Muhammad Syah atau Mabata Bo’u yang memerintah pada tahun 1696-1731 M.

Pada tanggal 5 April 1727 Mappatalli [Penguasa Bima] mengawini puteranya yang bernama Bumi Partiga, yang kelak bernama Sultan Alauddin Muhammad Syah, dengan puteri raja Gowa ke-21 Mappaurangi Karaeng Boddia Sultan Sirajuddin, Tuminanga ri Pasi
yang bernama Karaeng Tanasanga Mamuncaragi Mahbubah.

Inilah sebuah titian perjalanan cinta dua insan dari keluarga yang serumpun hingga p**au Manggarai dijadikan mahar dalam perkawinan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari pengaruh dan intrik adu domba dari Belanda yang tidak menginginkan hubungan Bima dengan Gowa harmonis.

Penyerahan Manggarai sebagai mahar merupakan keputusan yang terpaksa dari Sultan Hasanuddin Ali Syah karena Belanda yang menjadi perantara pernikahan itu. Dengan dijadikan Mahar itu, maka wilayah Manggarai secara otomatis menjadi wilayah kesultanan Gowa dan Belanda punya andil besar terhadap p**au itu.

Setelah Alauddin diangkat menjadi Sultan Bima menggantikan ayahnya, membantah bahwa Manggarai dijadikan Mahar. Dia sangat keberatan karena tidak ada dokumen resmi tentang penyerahan p**au Manggarai dari Mahar perkawinannya.

Sejak saat itu hubungan Bima dengan Gowa menjadi tegang. Kesultanan Bima ingin tetap mempertahankan Tanah Manggarai. Mertua dan menantu terlibat perang dan Belanda bermain di antara keduanya. Pas**an Gowa dikirim secara besar-besaran ke Manggarai. Kemudian Belanda menawarkan bantuan kepada Alauddin untuk membantu menghadapi Pas**an Gowa. Pertempuran di Manggarai terus berlanjut hingga masa pemerintahan Sultan Abdul Kadim. Lasykar Bima yang dibantu Belanda kembali menyerang pada tahun 1762.

Penyerangan ini membuahkan hasil dan Manggarai kembali dikuasai. Namun apa yang terjadi, seperti pepatah kalah jadi abu menang menjadi arang. Meski pada perkembangan selanjutnya hubungan Bima-Gowa kembali mesra berkat silaturahmi dan ikatan keimanan antara dua kerajaan yang serumpun itu intens dilakukan. Hingga pada abad ke 19 Manggarai masih menjadi bagian dari wilayah kesultanan Bima dan kekuasaan itu berakhir setelah terbentuknya daerah-daerah Swapraja sesuai tuntutan proklamasi NKRI.

Sumber :
Peran Kesultanan Bima
Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara,
M. Hilir Ismail
----------

Pernikahan ini juga tercatat dalam Lontara Bilang [catatan harian Kerajaan Gowa Tallo] yaitu :

5 April 1727
Kakak saya, Karaeng Tanasanga
dan Bumi Partiga menikah.
᨞nasikalabini daengku᨞
Karae Tanasanga᨞ Bumi Partiga᨞

Penerus atau putra mahkota Bima yang ditunjuk menyandang gelar ini, yang di sini disebut Alauddin Muhammad Syah, putra Mappatalliq Hasanuddin.
[The Makassar Annals]

3 Mei 1727
penguasa Bima [Mappatalliq] pergi bersama istrinya [Karaeng Bisangpole] ke tanah kelahirannya [di Sumbawa].
᨞namaqlampamo Karae Dima sikalabini᨞
taqle ri paqrasangana᨞

Malam Senin,
27 April 1728 :
kakak saya Karaeng Tanasanga,
melahurkan seorang putri
bernama Rante Patola Sitti Rabiah.
᨞namamanaq daengku Karaeng Tanasanga baine᨞ nikana Rante Patola Sitti Rabiah᨞

Jum'at,
8 Oktober 1728 :
kapal yang membawa Bumi Partiga,
yang membawa istrinya [Karaeng Tanasanga]
ke Bima, sebentar turun ke Kampung Beru.
᨞namaqdongkoq ri biseang Bumi Partiga᨞ angerangi bainenna taqle ri Dima᨞
manaungiji ri Kampong Beru᨞

20 Mei 1730 :
hari kematian kakek saya di Bima;
paman saya yang lebih muda Karaeng Panaikang berlayar [ke Bima] untuk menjemput kakak saya Karaeng Tanasanga.
᨞allo nakamateanga toaku ibaqle ri Dima᨞ namamise putoku Karae Panaikang
ambuntuli daengku Karae Tanasanga᨞

Rabu,
12 Juli 1730 :
Paman saya yang lebih muda Karaeng Panaikang tiba dari Bima membawa kakak saya [Karaeng Tanasanga].
᨞nabattumo ri Dima putoku
Karae Panaikang angerangi daengku᨞

Selasa,
23 Januari 1731 :
Dikabarkan ini adalah hari wafatnya penguasa Bima, Mappatalliq Sultan Hasanuddin Muhammad Syah di Bima.
᨞ia anne bedeng alloa nakamateang
Karaenga ri Dima᨞ ibaqle ri Dima᨞

Sumber :
Lontaraq bilang
"Catatan harian Kerajaan Gowa"

Disunting oleh :
Pajappa Bangkeng

Sunnah Memotong KukuMemotong KUKU, hingga HARI-nya pun ada sunnahnya💕 - SABTU(Menyebabkan Banyak makan)💕 - AHAD/minggu(H...
12/08/2021

Sunnah Memotong Kuku

Memotong KUKU, hingga HARI-nya pun ada sunnahnya
💕 - SABTU
(Menyebabkan Banyak makan)
💕 - AHAD/minggu
(Hilang barokah hidupnya)
💕 - SENIN
(Barokah ilmunya)
💕 - SELASA
(Mendatangkan bencana dan kerusakan)
💕 - RABU
(Buruk budi pekerti dan akhlaknya),
💕 - KAMIS
(Dilapangkan Rizkinya),
💕 - JUM'AT
(Punya sifat belas kasihan pada orang lain/welas Asih)

● Anjuran hari yang di sunnahkan memotong kuku yaitu :
💕 *SENIN, KAMIS, JUM'AT
Ketika memotong kuku hendaknya diawali membaca Istighfar, Sholawat Nabi, LAA ILAA HA ILLALLAH ●

💕 Selesai memotong kuku, potonganya disimpan atau dikubur dalam tanah•
(sumber Kitab Al Bajuri Juz 1)

💕 Rasulullah S.A.W bersabda: "Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

+ : mulai lah sesuatu dari arah kanan

01/08/2021

KETIKA TAKARAN DARAH MENJADI ACUAN KESETIAAN
(Kisah Pelantikan La Herrang Daeng Patompo sebagai Arung ke-14 dan Regen I Manimpahoi)

Oleh Drs. Muhannis, MM

Hari ini 159 tahun yang lalu tepatnya 1 Agustus 1862, dilantiklah seorang putra terbaik Manimpahoi bernama La Herrang Daeng PATOMPO sebagai Arung Manimpahoi ke- 14 sekaligus regent Pertama Manimpahoi menggantikan adiknya yang bernama I Fesyuk Daeng Nipalik.
Manimpahoi sendiri adalah sebuah kerajaan otonom di masa silam dengan posisi sentral karena berada antara Tellu limpoe dan PITU limpoe sehingga orang Belanda menyebutnya de trap van Wawobulu atau tangga menuju Wawobulu Pitulimpoe.
Sebagai sebuah kerajaan, Manimpahoi berawal dari Tomanurung Pattontongang yakni dengan munculnya sosok misterius yang dinamakan To Manurung di puncak bukit Pattontongang yang tengah duduk di atas sebuah batu dan membisu. Keadaan ini dilaporkan oleh warga kepada pemimpinnya yakni To Matoa Pattontongang yang akhirnya To Manurung itu didaulat menjadi Arung Manimbahoi Pertama dan digelar To Manurung Pattontongang. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh Arung Tungkek Kammula lalu Mattunruang, selanjutnya kepada Cinnong lalu ke Maddumpu Langi dst.
Perlu dipahami bahwa Manimpahoi itu sesungguhnya adalah sebuah Federasi yang terdiri dari Saotenga, Saolohe, Saotanre dan Bonto mencakup Saohiring dan selalu menempatkan Satenga sebagai pimpinan federasi. Sebagai sebuah federasi, sistem kekuasaannya terbagi dua yakni Puatta Tuppu Solok dan Puatta. Puatta Tuppu Solok adalah eksekutif yang diketuai oleh Arung Manimpahoi atau pimpinan federasi sedangkan legislatif dan yudikatifnya adalah pimpinan wilayah anggota federasi dengan sistem berbagi delik di antara mereka yakni :

1. Puatta Saotanre yang berhubungan dengan keamanan dan hukum atau pabbatang (pernah dijabat antara lain oleh I Manrio, La Baso, La Kati Daeng Sirihu dll)
2. Puatta Saolohe berhubungan dengan wilayah dan Pertanahan disebut jaga lembang (pernah dijabat antara lain oleh Puang Beddu bin La Mamappasoko, Syekkuk Daeng Tabau, Petta Cenning dll)
3. Puatta Saotenga berhubungan dengan kedaulatan wilayah disebut Jagampanua (semua yang pernah menjabat Arung Manimpahoi)
4. Puatta Bonto berhubungan dengan kemaslahatan warga disebut jaga to tebbek (pernah dijabat oleh antara lain oleh Pahitte Karaeng Lotteng dari Balas**a rumpun Sombaya Gowa, Puang Sisila, Puang Mattimpolo dll)
Semua kasus di Manimpahoi selalu ditangani oleh Puatta sesuai dengan deliknya dan dibicarakan di Baruga saoraja dan keputusannya tidak boleh dianulir secara sepihak oleh anggota lain yang disebut Tellura Bicara. Apabila sebuah delik telah selesai di baruga dan diterima oleh semua Puatta, barulah diserahkan kepada Puatta Tuppusolok yakni Arung untuk disahkan dan menjadi keputusan kerajaan. Sebelum diterima oleh Arung, dia selalu bertanya kepada Puatta, puraniga napaota puatta. Kalau penyampai delik mengatakan sudah, barulah diputuskan bersama oleh 4 dewan adat itu.

Sesungguhnya Manimbahoi mengalami perubahan signifikan saat Arung Manimbahoi diperintah oleh Maulana sebagai Arung Manimbahoi ke 6 dimana saat itu dia dilamar oleh MANGUMPEANG Daeng Masuang. Dia adalah cucu La Maddaremmeng arumpone ke13 dari istri bernama Hadijah I Dasenrima. La Maddaremmeng sendiri adalah Raja Bone yang ditangkap oleh Gowa pada 23-7-1644 dan ditahan di Sanrangang walau dikembalikan lagi ke Bone pada 7-2-1667 yang diantar oleh Karaeng Lengkese. MANGUMPEANG juga cucu dari Arung Cabalu Laloasa Petta Naga TowaraniE ri Gowa MaturubelaE MatinroE ri Bontomanai yang menikah dengan I Jamila anak arung Saukang yang melahirkan MANGUMPEANG. Lamaran dari MANGUMPEANG diterima bahkan saat Maulana melahirkan anaknya MALLULUANG DAENG MATENGA kekuasaan dari Maulana dia serahkan kepada suaminya karena saat itu terjadi perang besar Bone Gowa yang sangat fenomenal itu, sehingga MANGUMPEANG menjadi Arung Manimpahoi pertama atau ke 7 secara keseluruhan gabungan Manimbahoi dan Manimpahoi karena sebelumnya adalah Manimbahoi berdasar bahasa Konjo dan berubah nama menjadi Manimpahoi era MANGUMPEANG dengan dasar bahasa Bugis. Era Mangumpeang jugalah nama Manimbahoi berubah menjadi Manimpahoi yang bermakna bahwa rumah kaum bangsawan sajalah yang dibolehkan menggunakan bentangan kain penutup rakkeang atau bola mattimpaho. Setelah Malluluang cukup umur, dia diserahi tugas sebagai Arung Manimpahoi ke 8. Malluluang menikahi keluarganya di Pattiro Bone dan melahirkan anak bernama To Addi Daeng Paroto yang akhirnya menjadi Arung Manimpahoi ke 9. To Addi menikah dengan bangsawan Lamatti bernama Besse Kampiri dan melahirkan anak bernama Bolong Daeng Maketti. Saat dia remaja, oleh bapaknya dia dikirim belajar ilmu agama Islam di Aceh.
Saat kekuasaan To Addi sebagai raja Manimpahoi ke 9 sistem pemerintahannya mengalami perubahan yakni dengan menjadikan anggota Federasi menjadi 6 anggota atau Puatta Ennenge dengan memasukkan Tanete dan Dadaka sebagai anggota Puatta. Tapi diakhir kekuasaannya dia ubah lagi menjadi Puatta LimaE sehingga disebutkan Dihunoi EnnengE dipatuhoi LimaE. Saat itu ada seorang tokoh yang sangat disegani di Manimpahoi yang tinggal di Labuaja dan Kahu kembali dan sebagai penghormatan kepada beliau dia diberi wilayah kekuasaan sehingga di pecahlah Saolohe menjadi dua yakni Saolohe di Attang dan Saolohe di Ahang. Sosok dimaksud adalah La Paremma Petta Tauk. Selanjutnya Tanete dilebur ke Saolohe dan Dadaka dilebur ke Bonto.
Pada saat La Bolong daeng Maketti kembali dari Aceh belajar agama Islam oleh ayahnya Arung Manimpahoi ke 9, dia didaulat menggantikan ayahnya dan menjadi Arung Manimpahoi ke 10. Saat dia berkuasa, dia memanfaatkan ilmunya kepada masyarakatnya dengan membuka pengajian di Bulobulo, Lamatti dan Tondong termasuk di Manimpahoi sendiri. Selanjutnya dia ubah lagi sistem legislatifnya menjadi Adek Asera dgn memisahkan eksekutif dengan legislatif merangkap yudikatif. Komposisi Adek Asera adalah:
1. Puatta ri Bonto
2. Puatta Saolohe ri Attang
3. Puatta Saolohe di Ahang
4. Puatta Saotanre
5. Aru Banyira
6. Aru Bacikoro
7. Aru Bulolohe
8. Aru Tapillasa
9. Aru Halimping

Saat itu Puatta Saotengnga menjadi eksekutif atau Puatta Tuppu Solok. Tidak lama kemudian dia ubah lagi menjadi Adek Seppulo dengan memasukkan Songing sebagai anggota baru. Diakhir kekuasaannya atau awal 1800an dia ubah lagi menjadi Adek Seppulo seddi dengan mengembalikan tugas Puatta Eppake sebagai pimpinan kolektif legislatif dibantu bali tudangeng dengan tetap menjadikan Puatta Satengnga sebagai Puatta Tuppu Solok. Kemudian dibentuk Bali Tudangeng sebanyak 11 anggota dengan tambahan Kadhi sebagai anggota baru untuk urusan agama Islam dan Bili yang mengurusi masalah adat. Lengkapnya adalah:

1. Aru Bacikoro dibantu oleh seorang Kapala dan Sulewatang
2. Aru Banyira dibantu oleh seorang Kapala dan Gella (Bongki)
3. Aru Tapillasa dibantu seorang Kapala dan Gella
4. ARU Halimping yang dibantu seorang Kapala.
5. Aru Bululohe dibantu seorang Kapala
6. Tomatoa Kessi
7. Gella Pepara
8. Kapala Saohiring
9. Aru Kompang dibantu seorang Kapala dan Gella
10. Bili yang mengurusi Adat
11. Kadhi atau Puang Kali yang mengurusi hal yang berhubungan dengan agama (islam)
Hal yang mirip dengan komposisi di atas adalah catatan Matthes, seorang pakar budaya Bugis yang berkunjung ke Manimpahoi November 1864 yang mana saat kunjungannya itu, Puatta Ciroro Daeng Paesa baru saja dilantik sebagai Arung atau Puatta Tuppu Solok Manimpahoi merangkap rege ke-2 Manimpahoi. Dia mencatat komposisi dewan adat Manimpahoi saat itu yang terdiri dari :

1. BILI RI AHA yang terdiri dari, Aru Bacikoro, aru Songing dan Aru Bulolohe
2. MACOA SAOHIRING yang terdiri dari Aru Banyira, Aru Halimping, Aru Lengkese dan Aru Campaga.
3. GALLA PEPARA yang terdiri dari Macoa Tanete dan Macoa Kassik
4. GALLA SATTULU yang terdiri Macoa Tangkulu, Macoa Manubbuk dan Macoa Sompong

Setelah Bolong Daeng Maketti meninggal, dia digantikan oleh anaknya sebagai Arung Manimpahoi ke 11 bernama La Oddung Daeng Paola. Dia menikah dengan bangsawan Labuaja bernama Petta Minneng binti Lahampang Daeng Paware pemberani Bone Selatan. Petta Minneng yang bersaudara dengan I Mandasini La P**e Isi Dulung Tellulimpoe. Saat kekuasaan La Oddung lah bayangan perang Rumpakna Mangarabombang ke-2 mulai terasa sehingga dengan pernikahan antara La Oddung dengan Petta Minneng disambut dengan s**acita oleh masyarakat Manimpahoi.
I Mandasini pun sebagai Dulung Tellulimpoe merasa senang karena akan terbantu pada Rumpakna Mangarabombang yang dibuktikan dengan kesediaan La Oddung untuk membangun benteng bersama semua anggota Konfederasi PITULIMPOA yang dibangun sekitar Takkurok bernama LalengpituE. Pas**annya pun terlibat aktif dalam perang di Mangarabombang.
Sayang sekali pernikahan agung La Oddung dengan Petta Minneng harus ternoda dengan keputusan La Oddung untuk menikah lagi sementara Petta Minneng sedang hamil tua yang dalam kandungannya adalah bakal Pattola Seddi Manimpahoi. Saat itu La Oddung p**ang dari Manimbahoi di Gowa dan singgah sejenak di Saoraja Bonto. Melihat gadis cantik yang tak lain adalah anak Arung Bonto Pahitte Karaeng Lotteng dan Karaeng Sagala bernama Rukiah Karaeng Mattimpolo dia langsung melamarnya dan akhirnya menikah. Usai nikah La Oddung membawa istri barunya ke Saoraja Aho yang ditempati Petta Minneng. Saat tiba di istana, la Oddung meminta kepada Petta Minneng untuk keluar dari kamarnya dan diminta untuk tidur didekat dinding lontang Saliweng atau lontara menulis,, dipatinro cappak tunebbek,, sementara istri barunya masuk kamar. Perlakuan ini membuat marah keluarga besar Petta Minneng dan La Oddung juga memahami kemarahan itu sehingga Petta Minneng diungsikan ke Kaherrang Tondong. Dan disanalah Petta Minneng melahirkan putra mahkota Manimpahoi dan diberi nama La Herrang. Saat lahir La Herrang, datanglah keluarga besarnya untuk menjemput sang putra mahkota seperti Mandasini dan Petta Haji Cakkela di Manimpahoi dengan berbekal senjata sisa-sisa perang Mangarabombang. Akhirnya Pattola Seddi Manimpahoi diboyong ke Bulobulo dan Labuaja dan oleh La Oddung pun merelakan kepergiannya apalagi Rukiahpun akhirnya hamil juga yang dalam kandungannya adalah Pattola Dua Manimpahoi. Setelah lahir diberi nama Fesyuk Daeng Palik
Sesampai di Labuaja Petta Minneng minta untuk diceraikan oleh La Oddung dan diterima perceraian itu. Selanjutnya Petta Minneng dinikahkan dengan sepupunya sendiri bernama Masurung Petta Pawenno bin La Mallongi Datu Sailong dan tak lama kemudian melahirkan anak yang diberi nama La Teha Petta Parewek
Pada saat La Oddung Arung Manimpahoi ke 11 meninggal, La Herrang tidak menghadiri pemakaman ayahnya dan tentu saja tidak bisa menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Arung karena tidak berada di Manimpahoi sehingga yang dilantik sebagai arung Manimpahoi adalah Fesyu Daeng Palik sebagai Arung Manimpahoi ke 12 merangkap Bonto karena berjaga-jaga siapa tahu La Herrang tiba-tiba datang sebagai Pattola Seddi sementara Fesyuk hanyalah Pattola Dua. Dalam tradisi Manimpahoi, seorang arung yang meninggal tidak bisa dimakamkan sebelum ada penggantinya yang diistilahkan dengan,, "engkapa nasappei wajunna"
Pada saat Rumpakna Mangarabombang jilid 4 atau November 1859, muncullah masalah baru di Manimpahoi karena rakyat mendambakan Pattola Seddi yang jadi arung mereka mengingat takaran darah bangsawannya yang berhubungan dengan Arumpone La Maddaremmeng serta predikat pattola seddi. Saat itu semua penentang pengembalian La Herrang sudah meninggal. Kedudukan Mandasini sebagai dulung Tellulimpoe sudah diserahkan kepada putra kandungnya Patimbangi Daeng Mangatta, La Hampang dan Haji Cakkela juga sudah meninggal. Dengan demikian sebuah kesempatan emas untuk berunding lagi dengan Labuaja agar La Herrang bisa p**ang ke Manimpahoi walau berat untuk berhasil. Saat Sinjai jatuh ke tangan Belanda 25-11-1859, Gezaghebber Sinjai yakni Kapten Wiegen mengatakan akan segera melantik penguasa baru pada semua akkarungeng, maka Manimpahoi semakin tegang dan berupaya mendesak la Herrang untuk p**ang ke Manimpahoi menjadi Arung tapi belum berhasil. Maka dicarilah perunding baru dan pilihan jatuh ke sosok Kareba Daeng Mannessa yang tinggal di Maccini Kajang karena menikahi keluarga Karaeng Kajang Karaeng Dea Daeng Lita yang dilantik sebagai Karaeng Kajang pada 27-7-1875 bernama Becce ri Malimali. Dan babakan barupun dimulai dan perundingan dimulai.Perundingannyapun berlangsung alot tetapi akhirnya Kareba Daeng Mannessa berhasil meyakinkan Labuaja dengan syair pamungkas,, maittani llorong bojokke nadeppa Gaga Mulle mbolloi, Akhirnya, La Herrang diboyong ke Manimpahoi dengan jaminan keamanan yang diberikan oleh keluarga besarnya di Manimpahoi. Saat itu La Herrang sudah berusia 34 tahun sedangkan Fesyu berusia 33 tahun. Akhirnya sang pattola seddi Manimpahoi berhasil dip**angkan ke tanah asalnya dan langsung diangkat menjadi Arung secara adat Manimpahoi ke-13 dan Fesyu dikembalikan ke Bonto yang saat berkuasanya memang tetap dia rangkap warisan dari kakeknya yakni I Pahitte Karaeng Lotteng dan Karaeng Sagala. Saat kep**angan La Herrang ke Manimpahoi, jabatan Gezaghebber dari Kapten Wiegend telah berubah menjadi Asisten Residen sejak 15-11-1862, dan penguasa Sinjai saat itu adalah. J. Bakkers. Dia akhirnya melantik La Herrang menjadi Regen Pertama Manimpahoi merangkap Arung Manimpahoi ke 13.La Herrang dilantik sebagai regen bersama dengan Pahare Daeng Mangiri regen Tondong dan Besse Rameng Regen Manipi merangkap Turungang yang telah dihapus sebelumnya. Mereka dilantik bersamaan di Tondong pada tanggal 1-8 -1862 dan usai dilantik secara kolonial, La Herrang diusung dengan tandu khusus dikawal lengkap oleh warganya serta semua arajangnya termasuk batenya ke Manimpahoi untuk dilantik secara adat lagi. La Herrang bertugas sampai tahun 1864. Pada saat La Herrang menjabat Regen Manimpahoi Istilah Puatta Tuppu Solok berubah menjadi Puatta Makkantorokke walau sapaannya tetap disebut Arung Manimpahoi.

La Herrang menikah dengan Besse Kanari melahirkan
1. Petta Sunggu
2. Makkanyarang Petta Sahi
3. Panyomai Petta Mase
4. Lembang Petta Haji
5. Petta La Hakkung
6. Petta Dimang
7. Paressa Petta Tanga.

Dari istri Puang Ratena lahir Ciroro Daeng Paesa. Dari istri Puang Baeang lahir 1. Tenggo Petta Kerra (nenek Bupati Bulukumba sekarang atau Andi Utta) 2. Petta Runo, 3. Petta Majjoppo. LA HERRANG digantikan oleh Ciroro Daeng Paesa sebagai Arung Manimpahoi ke 14 atau regent ke 2 pada 23-10-1864 dan bertugas sampai 1889 yang selanjutnya digantikan oleh Makkumpellek Daeng Paesong sebagai Arung Manimpahoi ke 15 atau regen terakhir atau ke 3 pada 17-10-1889 sampai pengangkatannya sebagai Adat Gemeenschapthopt pada tahun 1913 dan masih menjalankan kekuasaanya walau akhirnya menjadi kecewa karena calon penggantinya Karaeng Indo Rukka yang menjabat sebagai jaksa di Pare-pare dan Sengkang tidak diizinkan oleh Belanda karena sedang menangani kasus berat di Sengkang. Salahsatu jalan adalah dengan pemilihan Arung Pasanre sambil menunggu Karaeng Indo Rukka. Calon itu adalah Karaeng Mappasessu dan Karaeng Makkasolang Daeng Parebbung dan yang ditetapkan adalah Karaeng Mappasessu sebagai Arung Manimpahoi ke 16. Karaeng Mappasessu adalah anak dari Makka Daeng Pasau Arung Tombolo Pao bin Mattalitti Daeng Mattata bin Fesyu daeng Palik. Sedangkan Makkasolang Daeng Parebbung adalah anak dari Makkanyarang Petta Sahi. Setelah Karaeng Indo Ruka mendapat izin dari Belanda, dia p**ang ke Manimpahoi dan dilantik sebagai Arung Manimpahoi ke 17 sedangkan Karaeng Mappasessu dipindahkan ke Tombolo Pao dan dilantik sebagai Karaeng Tombolo Pao menggantikan bapaknya yaitu Karaeng Makka Daeng Pasau. Raja Manimpahoi terakhir adalah Karaeng Paduppa sebagai raja ke 18 yang dilantik pada tahun 1936.
Dalam keseharian masyarakat Manimpahoi, mereka diikat Oleh dua pesan leluhur yaitu:
1. Mauni tanre ajuara riliputta, ko mattamakki ri Manimpahoi, cellukmutoki ri tujunna ajuaranna. Pesan ini ditujukan kepada orang dari luar Manimpahoi termasuk orang Manimpahoi yang akan ke kampung orang. Maksud dari pesan ini adalah bahwa siapa saja yang memasuki Manimpahoi wajib menghargai adat Manimpahoi, demikian p**a dengan orang Manimpahoi yang akan tinggal di kerajaan lain wajib p**a menghargai adat setempat.
2. Sama soe, sama njappa, sama teppa, lao tungkek pesan warga Manimpahoi yang menetap di Manimpahoi yang bermakna untuk bahu-membahu menjaga kebesaran Manimpahoi dan bersatu-padu demi kejayaan Manimpahoi dibawah kepemimpinan Arung Tuppu Solok dan Puatta.

Sebagai sebuah kerajaan yang disegani, maka tentu saja kita dengan mudah mendapatkan data Lontarak diluar Sinjai yang menulis tentang Manimpahoi ini.
Lontarak yang banyak mencatat tentang Manimpahoi adalah Lontarak La Tenritappu arumpone antara lain dia mencatat tentang kehadiran Rombongan Arung Manimpahoi saat I Manneng Arung Data putrinya di aqiqah, Saat itu rombongan Arung Manimpahoi datang ke Bone pada tanggal 16-11-1776 dengan membawa hadiah emas 2 kati 2 taik atau lebih 1000 gram krn 1 kati nilainya 600 gram dan 1 taik seberat 40 gram jadi totalnya 1280 gram. Catatannya tertulis,, To MarilalengE patek i solokna to Manimpahoi, to Balas**aE dua kati dua taik.

Catatan lain dari lontara Catatan Harian La Patau 17-10-1702 tertulis, kiarewangeng ri Enrekang ia taddapik bilabilanna arung Raja, Arung Manimpahoi na Arung Pao Wawobulu. Saat itu La Patau memohon bantuan ke Manimpahoi meredam perang di Toraja dan tiba di Enrekang, pas**an La Patau bertemu pas**an Manimpahoi dan bersama-sama ke Toraja.

Sumber Data
1.Lontara Manimpahoi milik Karaeng Tafa, salinan lontara Tomanurung Pattontongan milik Petta Akile di Manimpahoi, Lontara La Tenritappu, Lontara La Patau, daftar nama regent Oostdistrichten Sinjai, Lontara Silsilah Manimpahoi milik Petta Solong, lontara silsilah Manimpahoi milik Puang Ambo, M. S. Pel di Bogor, catatan Matthes di Sinjai milik pribadi penulis dll

Address

BTN Minasa Indah Blok D
Sungguminasa
94349

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Social Media Information posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Social Media Information:

Share