FORUM Pimred

FORUM Pimred Forum Pimred, sebagai wadah para pimpinan media dalam menjalankan tugas pers yang diamanahkan UU 40 Th 1999 tentang pers

23/01/2017

PENGALAMAN KEMATIAN RICKY RANDOLPH

Materi berasal dari pikiran atau kesadaran, dan bukan pikiran atau kesadaran berasal dari materi.
11/01/2017
Ilusi Realitas

Materi berasal dari pikiran atau kesadaran, dan bukan pikiran atau kesadaran berasal dari materi.

From Book Science to God by Peter Russel Semua yang kita lihat atau terlihat, hanyalah mimpi di dalam mimpi. (Edgar Allen Poe) Paradigma baru ini didasarkan pada premis bahwa kesadaran adalah penye…

Melampaui Ruang & Waktu:Teori Kuantum Menyatakan Kesadaran Tetap Ada Setelah KematianDitulis oleh Arjun WaliaUntuk menja...
05/01/2017

Melampaui Ruang & Waktu:
Teori Kuantum Menyatakan Kesadaran Tetap Ada Setelah Kematian
Ditulis oleh Arjun Walia

Untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar ilmu pengetahuan modern hari ini tentang kesadaran manusia harus dilakukan dengan melihat asal-usulnya – apakah itu hanya produk dari otak, atau apakah otak itu sendiri hanyalah penerima kesadaran. Jika kesadaran bukan merupakan produk dari otak, itu berarti bahwa tubuh fisik kita tidak diperlukan untuk kontinuitas; bahwa kesadaran dapat eksis di luar tubuh kita.
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini adalah dasar untuk memahami sifat sejati dari realitas kita, dan dengan popularitas fisika kuantum pertanyaan tentang kesadaran dan hubungannya dengan fisik manusia menjadi semakin relevan.
Max Planck, fisikawan teoritis yang dikenal sebagai pelopor teori kuantum – dimana dia memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1918 – menawarkan penjelasan terbaik mengapa memahami kesadaran adalah sangat penting: “Saya menganggap kesadaran sebagai fundamental. Saya menganggap materi adalah turunan dari kesadaran. Kita tidak bisa mengabaikan kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita anggap ada, berasal dari kesadaran. ”
Eugene Wigner, yang juga seorang ahli fisika teoritis dan matematika, menyatakan bahwa tidak mungkin untuk “merumuskan hukum mekanika kuantum dengan cara yang sepenuhnya konsisten tanpa mengacu pada kesadaran.”

Apakah Kesadaran Berpindah Setelah Kematian?
Pada tahun 2010, salah satu ilmuwan yang paling dihormati di dunia, Robert Lanza, menerbitkan sebuah buku berjudul Biocentrism: How Life and Consciousness are the Keys to Understanding The True Nature of the Universe
Sebagai seorang ahli dalam pengobatan regeneratif dan direktur ilmiah dari Advanced Cell Technology Company, Lanza juga sangat tertarik dengan mekanika kuantum dan astrofisika, minat yang membawanya pada jalur untuk mengembangkan teori biocentrism: teori bahwa kehidupan dan kesadaran adalah dasar untuk memahami sifat dari realitas kita, dan kesadaran muncul sebelum penciptaan alam semesta material.
Teorinya menunjukkan bahwa kesadaran kita tidak mati setelah kematian fisik, melainkan bergerak, dan ini menunjukkan bahwa kesadaran bukan merupakan produk dari otak. Ini adalah sesuatu yang lain sama sekali, dan ilmu pengetahuan modern mulai memahami kemungkinan ini.
Teori ini diilustrasikan percobaan kuantum celah ganda . Ini adalah contoh yang bagus bagaimana faktor-faktor ini berhubungan dengan kesadaran dan dunia materi fisik kita saling terhubung dalam beberapa cara; bahwa pengamat menciptakan realitas.
Fisikawan dipaksa untuk mengakui bahwa alam semesta bisa dianggap sebagai konstruksi mental, atau setidaknya, kesadaran yang memainkan peranan penting dalam penciptaan materi.
RC Henry, Profesor Fisika dan Astronomi di Johns Hopkins University menulis dalam publikasi 2005 untuk jurnal Nature:
Menurut [perintis fisikawan] Sir James Jeans: “aliran pengetahuan adalah menuju realitas non-mekanik; semesta mulai terlihat lebih seperti pikiran besar daripada seperti mesin besar. Pikiran tidak lagi muncul menjadi penyusup tidak disengaja ke ranah materi … kita seharusnya menganggapnya sebagai pencipta dan pengatur alam materi. “. . . . . Semesta adalah immaterial – mental dan spiritual. (“The Mental Universe”; Nature 436:29,2005)
Teori Lanza ini mengimplikasikan bahwa jika tubuh menghasilkan kesadaran, maka kesadaran akan mati ketika tubuh mati. Tetapi jika tubuh menerima kesadaran dengan cara yang sama seperti alat penerima sinyal satelit, maka tentu saja kesadaran tidak berakhir pada saat kematian fisik. Ini adalah contoh yang kerap digunakan untuk menggambarkan teka-teki kesadaran.
Percobaan celah ganda telah menunjukkan berulang kali bahwa “pengamatan tidak hanya mengganggu apa yang harus diukur, tapi mereka menciptakannya. . . . . . . Jika kita memaksa [elektron] untuk mengukur posisinya yang pasti. . . . . . . Kita mendapatkan posisinya.”
Gagasan bahwa kita hidup dalam sejenis hologram alam semesta tidak terlalu mengada-ada , dan jika pengamat diperlukan untuk menciptakan materi fisik, maka pengamat harus sudah ada sebelum tubuh fisik.
Hipotesis bahwa otak menciptakan kesadaran mendominasi dunia materialistik arus utama ilmu pengetahuan, meskipun banyak bukti yang menunjukkan bahwa otak (dan realitas fisik keseluruhan, dalam hal ini) kemungkinan besar adalah produk kesadaran.
Berikut adalah kutipan yang bagus untuk menggambarkan apa yang dimaksud dengan ilmu “materi”.
“Cara pandang ilmiah modern terutama didasarkan pada asumsi-asumsi yang berkaitan erat dengan fisika klasik. Ide materialisme bahwa materi adalah satu-satunya realitas-adalah salah satu asumsi ini.” Asumsi yang terkait itu adalah reduksionisme, gagasan bahwa hal-hal kompleks dapat dipahami dengan mereduksinya sebagai interaksi dari bagian-bagiannya, atau mereduksinya sebagai dibangun dari materi yang lebih mendasar seperti partikel materi kecil. ”

Manifesto untuk Sains Post-materialis
Meneliti proses neurokimia di dalam otak yang terjadi ketika seseorang memiliki pengalaman subjektif adalah penting, dan memberikan wawasan tertentu. Ini memberitahu kita bahwa ketika pengalaman terjadi, ada proses di dalam otak. Tapi itu tidak membuktikan bahwa proses neurokimia itulah yang memproduksi pengalaman. Bagaimana jika pengalaman itu sendiri sesungguhnya yang memproduksi proses neurokimia?
Menentukan bagaimana kesadaran menciptakan materi fisik adalah langkah berikutnya. Satu hal yang pasti, dengan semua informasi di luar sana yang mendalilkan adanya kesadaran yang independen dari otak, saatnya kita untuk mendorong batas-batas kerangka pengetahuan yang kita terima saat ini dan mempertanyakan apa yang kita pikir kita ketahui.
Implikasi dari teori ini sangat besar. Coba bayangkan jika kehidupan setelah kematian bisa dikonfirmasi oleh komunitas ilmiah utama – berapa banyak ini akan berdampak tidak hanya pemahaman kita tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga filsafat, agama, dan banyak wawasan lain dari kehidupan kita?

Pemahaman Besar
Beberapa ilmuwan dan filsuf materialistis cenderung menolak untuk mengakui fenomena ini karena mereka tidak konsisten dengan konsepsi eksklusif mereka terhadap dunia. Penolakan penyelidikan pasca-materialis terhadap alam atau penolakan untuk mempublikasikan temuan ilmu pengetahuan yang kuat mendukung kerangka pasca-materialis yang bertentangan dengan spirit sejati penyelidikan ilmiah, yaitu bahwa data empiris harus selalu ditangani secara memadai. Data yang tidak cocok dengan teori dan keyakinan yang disukai tidak dapat begitu saja diberhentikan secara apriori. Pemberhentian tersebut adalah ranah ideologi, bukan ilmu pengetahuan.– Dr. Gary Schwartz, Professor of Psychology, Medicine, Neurology, Psychiatry, and Surgery at the University of Arizona ( 1 )

Bagaimana Tentang Near Death Experiences?
Dr. Bruce Greyson adalah Professor Emeritus of Psychiatry and Neurobehavioral Science at the University of Virginia. Dia dianggap sebagai salah satu bapak studi pengalaman dekat kematian, dan merupakan Profesor Emeritus Psikiatri dan Ilmu Neurobehavioral di University of Virginia.
Dia mendokumentasikan kasus individu-individu yang sudah meninggal secara klinis (tidak menunjukkan aktivitas otak), tapi mampu mengamati segala sesuatu yang terjadi terhadap mereka diatas meja operasi pada waktu yang sama. Ia menjelaskan bagaimana ada banyak contoh dari ini – di mana individu dapat menjelaskan hal-hal yang seharusnya mereka tidak mungkin bisa menggambarkan. Pernyataan lain yang signifikan dari Dr. Greyson adalah bahwa penelitian seperti ini telah banyak diabaikan karena kecenderungan kita untuk melihat ilmu pengetahuan sebagai total materialistis. Dengan melihat dulu baru percaya, di komunitas ilmiah. Ini sangat disayangkan bahwa hanya karena kita tidak bisa menjelaskan sesuatu melalui cara-cara yang materialistis, itu harus langsung didiskreditkan. Fakta sederhananya adalah bahwa “kesadaran” itu sendiri adalah “hal” non-fisik yang menyulitkan bagi beberapa ilmuwan untuk memahami, dan sebagai akibat dari bentuk non-materi, mereka percaya hal itu tidak dapat dipelajari oleh ilmu pengetahuan
Near Death Experiences (NDE) telah didokumentasikan dan dipelajari dalam waktu yang cukup lama. Misalnya, pada tahun 2001, jurnal medis internasional The Lancet, menerbitkan sebuah studi tentang 13 tahun penelitian Near Death Experiences (NDE):
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa faktor medis tidak dapat menjelaskan terjadinya NDE. Semua pasien memiliki serangan jantung, dan secara klinis mati dengan kondisi tidak sadar akibat kekurangan pasokan darah ke otak. Dalam keadaan tersebut, EEG (ukuran aktivitas listrik otak) menjadi datar, dan jika CPR tidak dimulai dalam waktu 5-10 menit, kerusakan otak tidak dapat diperbaiki dan pasien akan mati.
Para peneliti telah memonitor total 344 pasien, dan yang mengejutkan adalah 18% dari mereka memiliki semacam memori ketika mereka meninggal atau tidak sadar (tidak ada aktivitas otak), dan 12% (1 dari setiap 8) memiliki pengalaman yang sangat kuat dan “mendalam “. Perlu diingat bahwa pengalaman ini terjadi ketika tidak ada aktivitas listrik di otak akibat serangan jantung.

Pikiran dan Kesadaran
21/12/2016
Pikiran dan Kesadaran

Pikiran dan Kesadaran

Oleh : Osho Kita harus memahami perbedaan antara otak dan pikiran. Otak adalah bagian dari tubuh. Setiap anak dilahirkan dengan otak yang baru tapi tidak dengan pikiran yang baru. Pikiran adalah la…

Bukti Reinkarnasi Secara Ilmiah
05/12/2016
Bukti Reinkarnasi Secara Ilmiah

Bukti Reinkarnasi Secara Ilmiah

Oleh : Paramhansa Yogananda , Juni 1937 Jika kita percaya pada keberadaan Tuhan yang maha adil, maka kepercayaan reinkarnasi dapat dengan mudah dipahami, kedua keyakinan ini sesungguhnya saling ber…

Timeline Photos
04/11/2016

Timeline Photos

ADA 4 FAKTA MENARIK KASUS JESSICA WONGSOYANG DIRELEASE MEDIA INTERNASIONALDrama itu telah berakhir: 46 saksi, 32 sesi pe...
03/11/2016

ADA 4 FAKTA MENARIK KASUS JESSICA WONGSO
YANG DIRELEASE MEDIA INTERNASIONAL

Drama itu telah berakhir: 46 saksi, 32 sesi persidangan yang bahkan berlangsung hingga dini hari, gaduh di luar pengadilan, hingga kontroversi yang diramaikan pemberitaan media massa.
Pada Kamis 20 Oktober 2016, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dipimpin Kisworo menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Jessica Kumala Wongso dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin.
Jessica dianggap melakukan tindakan sadis, dengan membubuhkan sianida ke dalam es kopi Vietnam yang menyebabkan kematian temannya sendiri. Terdakwa juga tak mengaku menyesal.
"Menyatakan terdakwa Jessica terbukti sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, menjatuhkan vonis selama 20 tahun penjara," kata Kisworo menjatuhkan vonis, yang sesuai dengan tuntutan jaksa.
Atas putusan tersebut, pihak Jessica Wongso segera menyatakan banding.

Tak hanya ramai dikabarkan media massa di Indonesia, sejumlah kantor berita asing juga ikut mengabarkan kasus pembunuhan tersebut, lengkap dengan segala macam kontroversinya.

Situs berita Negeri Kanguru, ABC Australia (abc.net.au) bahkan menyebut, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, telah menjatuhkan putusan atas kasus kriminal terkemuka dan paling kontroversial dalam sejarah hukum di Indonesia.
Tak hanya mengabarkan soal vonis Jessica, sejumlah media asing juga mengupas fakta-fakta menarik dalam kasus kopi sianida, baik dari dalam maupun luar persidangan.

Berikut 4 fakta menarik kasus Jessica Wongso yang disarikan dari sejumlah pemberitaan media terkemuka di dunia:

1. 'Bolong' dalam Vonis Jessica
Meski diputuskan dalam sebuah sidang pengadilan yang terbuka untuk umum, masih ada tanda tanya yang belum terjawab soal kasus kopi sianida.
Situs ABC Australia mewawancarai Direktur Indonesian Law, Islam and Society di Melbourne Law School, Profesor Tim Lindsey.
Sang profesor mengatakan, bisa jadi vonis terhadap perempuan 28 tahun itu akan berubah di pengadilan yang lebih tinggi.
"Putusan dalam kasus kriminal besar sering berbalik di Mahkamah Agung, bahkan dalam pengadilan tingkat banding," kata Lindsey kepada ABC.
"Saya pikir apapun hasil putusan banding, kedua kubu akan terus mengajukan perlawanan hingga akhir. Prosesnya bisa berlangsung selama bertahun-tahun."
Menurut Lindsey, ada sejumlah celah hukum dalam putusan serta pertimbangan yang disampaikan hakim. "Ada banyak hal yang 'bolong'." Termasuk sejumlah bukti yang 'patut dipertanyakan'.
Salah satu faktor utama adalah kurangnya otopsi konklusif. Pun dengan bukti-bukti lain.
"Masalahnya, apa sesungguhnya yang membunuh korban. Bukti bahwa Jessica Wongso meracuni kurang kuat, juga ada titik lemah dalam proses otopsi, sepertinya hal-hal itu tak dipertimbangkan secara rinci oleh hakim," tambah dia.
"Isu-isu tersebut adalah hal yang sangat penting dalam proses pengajuan banding atau kasasi."
Tiga ahli racun dan forensik asal Australia yang bersaksi dalam sidang juga menyebut, tak ada bukti bahwa sianida menjadi penyebab kematian Mirna.
Namun, jaksa mengatakan, sejumlah bukti, seperti warna kopi yang berubah setelah dibubuhi sianida, mengindikasikan korban tewas akibat diracun.
Sementara itu, Simon Butt, Professor of Indonesian Law, University of Sydney menulis artikel berjudul, 'Jessica Wongso found guilty in cyanide coffee case, but she may not yet have had a fair trial' di situs The Conversation'
Dalam opini tersebut, Butt mempertanyakan kurangnya alat bukti dalam proses persidangan kopi sianida.

2. Es Kopi Vietnam yang Kian Populer
Media terkemuka Amerika Serikat, The New York Times memuat artikel tentang vonis 20 tahun Jessica dalam versi internet maupun cetak.
Dalam artikel tersebut disebutkan, kasus kopi sianida memicu penasaran warga Indonesia dan ramai diberitakan media, setelah Jessica ditahan
Pada Januari 2016 -- tiga pekan setelah ia dan korban, Mirna Salihin bertemu di Kafe Olivier yang ada di mal terbesar di Jakarta.
"Warga yang penasaran berbondong-bondong ke kafe itu, duduk di mana Mirna Salihin diracun, untuk memesan es kopi Vietnam -- minuman terakhir yang dinikmati korban. Restoran itu sering kehabisan minuman tersebut," demikian dimuat situs New Tork Times, 27 Oktober 2016.
Rekaman kamera pengawas atau CCTV di dalam kafe tersebut pada 6 Januari 2016 menunjukkan Jessica tiba setengah jam sebelum korban dan rekannya, Hani. Setelah duduk di lokasi yang ia pilih, terdakwa memesan tiga minuman sekaligus.
Rekaman menunjukkan, Jessica meletakkan 3 tas belanja di atas meja, menutupi tubuh dan minuman yang ia pesan dari kamera. Setelah melakukan sejumlah gerakan, ia kemudian meletakkan tas-tas tersebut di kursi.
Poto. Detik-detik Pergerakan Jessica di Kafe Olivier
Jaksa berpendapat, terdakwa membubuhkan racun ke dalam es kopi di balik 'barikade' itu. Jessica diduga menghabisi Mirna karena meminta terdakwa putus dari pacarnya.

Jessica yang tinggal di Sydney, Australia pulang kampung Desember lalu, diduga dengan merencanakan 'balas dendam' pada korban.
Pegawai restoran mengatakan, wajah Jessica tak menunjukkan ekspresi apapun, datar, setelah Mirna kolaps. Terdakwa juga tak menunjukkan itikad untuk menolong korban.
Sementara itu, pihak Jessica menuding bahwa hakim tak mempertimbangkan bukti dalam persidangan, hanya bukti dari jaksa yang dianggap penting. "Bukti CCTV bahkan tak dipertimbangkan oleh para hakim," kata pengacara terdakwa, Otto Hasibuan.

3. Masa Lalu Jessica Wongso
Jessica Wongso berstatus sebagai penduduk tetap (permanent resident) di Australia. Itu mengapa kasus dan persidangan perempuan berambut panjang itu menarik perhatian publik Negeri Kanguru.
Media populer Australia, News.com.au pada 28 Oktober 2016 memuat artikel berjudul 'Cyanide coffee murder: Jakarta court sentences Jessica Kumala Wongso'.
Dalam artikel tersebut, dipaparkan mengenai masa lalu Jessica Wongso. Dilaporkan, terdakwa dan Mirna Salihin bertemu ketika keduanya sama-sama menuntut ilmu di Billy Blue College of Design di Sydney pada 2007.
Hakim menyebut, motif meracuni tersebut adalah kecemburuan, karena Mirna meminta Jessica memutuskan pacarnya kala itu, Patrick O’Connor.
Beberapa bulan sebelum pembunuhan dilakukan, Mirna menikah dengan Arief Soemarko tanpa mengundang Jessica.
Para hakim juga mengutip bukti dari Kepolisian Australia bahwa pada 2015 Jessica depresi dan kerap minum-minum. Suatu ketika, ia bahkan menabrakkan mobilnya ke sebuah panti jompo di Sydney. Ia juga pernah mencoba bunuh diri.
Pengadilan juga mendengarkan keterangan mantan bos Jessica di NSW Ambulance, yang mengatakan perempuan itu tahu benar bagaimana membunuh seseorang dan tahu benar soal dosis yang tepat.
Pada 1 Desember 2015, Jessica dipecat dari pekerjaannya di NSW Ambulance. Segera ia kemudian pulang ke Indonesia untuk mencari pekerjaan.

Setelah vonis, media mewawancarai pihak NSW Ambulance.
"Dengan adanya kemungkinan banding, penting bagi saya bahwa keadilan harus tetap berjalan semestinya tanpa interfensi dan spekulasi yang tidak perlu," kata Kristie Carter, Director Marketing & Media, NSW Ambulance seperti dikutip dari News.com.au.
Carter mengaku, ia dan rekannya yang lain menghadapi masa-masa sulit setelah dikaitkan dengan kasus yang kompleks itu.
Ia mengaku sedih atas dampak kasus pembunuhan tersebut pada kedua sosok yang masih muda: Mirna Salihin, juga Jessica.
Menurut dia, Jessica adalah pekerja yang berbakat, anggota tim yang berharga, dan punya karier yang menjanjikan di masa depan.
"Rasa tulus dan simpati saya sampaikan untuk keluarga Salihin, dengan harapan agar vonis tersebut memberikan ketenangan pada mereka sekaligus menutup masa-masa sulit tersebut," kata Carter yang tak bersedia memberikan pernyataan lebih lanjut pada media

4. Janji pada Australia
Tak ada luapan ekspresi yang ditunjukkan Jessica Wongso saat mendengar vonis 20 tahun yang dijatuhkan kepadanya pada Kamis 27 Oktober 2016.
Ia hanya menghela nafas. Tanpa teriakan, tanpa air mata yang mengalir.
Sidang putusan kasus Jessica menjadi akhir drama kasus kopi sianida. Meski baru sementara. Sebab, masih ada upaya banding, kasasi, dan peninjauan kembali yang bakal makan waktu bertahun-tahun.
Penyelidikan kasus tersebut sebelumnya juga berlangsung gaduh, tak hanya melibatkan penyelidik di Indonesia, tapi juga pihak Australia
Situs Daily Mail dalam artikel 'Australian student found guilty of murdering her friend using cyanide-laced coffee sentenced to 20 years in an Indonesian prison' menyebut soal pernyataan ayah korban, Eddy Dermawan Salihin bahwa putusan hakim 20 tahun sesuai dengan janji pada Pemerintah Australia.

Address

Jl.Tunjungan Surabaya
Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when FORUM Pimred posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to FORUM Pimred:

Nearby media companies


Other Media/News Companies in Surabaya

Show All