12/06/2026
(5) "Ini istri Bapak? Tadi di parkiran saya dengar dia menjerit-jerit nikmat dipangkuan pria itu." Kalimat yang diucapkan oleh agen properti itu meruntuhkan duniaku, tepat saat aku memegang sertifikat rumah mewah yang kubeli tunai untuk istriku..."
____
"Anwar! Buka pintunya! Jangan mati konyol cuma karena perempuan yang sudah membuang harga dirimu!"
Suara Angga menghantam pintu Kamar 304 berkali-kali.
Aku tetap berbaring di atas kasur busa tipis, menatap langit-langit losmen yang bernoda lembap. Bau rokok basi menempel di tirai kusam, bercampur aroma obat nyamuk dan minuman murah yang kubeli tanpa benar-benar ingin menghabiskannya.
"War!" Pintu digedor lagi. "Aku hitung sampai tiga. Kalau nggak buka, aku dobrak!"
Aku tidak menjawab.
Ponselku mati di lantai. Entah sudah berapa puluh panggilan kuabaikan sejak aku pergi dari rumah Citra Lavender. Dari Pak RT. Dari Angga. Mungkin dari Nimas juga yang utama aku ingin menghilang dari manusia bernama Kezia dan Altaf.
Aku tidak mau mendengar suara siapa pun.
Setelah pesan asing itu muncul di ponsel Kezia—rumah itu masih bisa direbut kembali—aku justru merasa makin muak berada di rumah yang kubeli sendiri. Pak RT menyuruhku tenang. Nimas bilang bukti harus disimpan baik-baik.
Tapi aku hanya ingin pergi.
Pergi dari sofa itu. Dari buku KB itu. Dari lantai marmer yang menyaksikan aku jatuh terduduk seperti lelaki yang kehabisan tempat pulang.
"Anwar!" Angga berteriak. "Satu!"
Aku memejamkan mata.
"Dua!"
Suara langkah orang losmen terdengar panik di luar. Mungkin penjaga kamar. Mungkin orang yang sudah disuap Angga supaya membiarkannya masuk.
"Tiga!"
Brak!
Pintu kayu tripleks itu terbuka kasar. Engselnya menjerit. Angga masuk dengan wajah merah dan napas memburu. Kemeja lapangannya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya menyala seperti orang yang siap menyeretku keluar dari lubang.
"Ya Allah, War..." Ia menatap botol di meja kecil. "Kamu ngapain di tempat begini?"
"Keluar."
"Bagus. Masih bisa marah."
"Aku bilang keluar, Ngga."
Angga mendekat, menyambar botol itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. "Kamu pikir aku datang buat minta izin?"
Aku bangkit setengah duduk. "Jangan atur hidupku."
"Kalau hidupmu lagi waras, aku nggak akan atur."
"Aku waras."
"Kamu mengurung diri di losmen dekat stasiun, matiin ponsel, nggak makan, dan bau badanmu sudah kayak teknisi habis tiga shift. Itu namanya bukan waras."
Aku tertawa pendek. "Lalu aku harus apa? Pulang ke rumah itu? Duduk di sofa bekas Altaf?"
Angga mengatupkan rahang. "Aku sudah dengar dari Nimas."
"Adikmu terlalu banyak bicara."
"Justru karena dia bicara, aku tahu kamu masih hidup."
Aku menatapnya tajam. "Suruh dia jangan ikut campur."
"Dia sudah ikut campur sejak menyelamatkan bukti yang hampir direbut Altaf, bahkan sejak merekam desahan nikmat istrimu di pangkuan sahabatmu."
Nama Altaf membuat tanganku mengepal.
Angga melihatnya. "Nah, itu. Marah ke dia. Jangan marah ke diri sendiri."
Aku menunduk. Dadaku terasa sesak.
"Ini salahku, Ngga."
Angga diam sesaat. "Apa?"
"Ini salahku." Suaraku pecah, lebih cepat dari yang kuinginkan. "Aku yang kurang becus jadi suami. Aku jarang pulang. Aku terlalu sibuk kerja. Kalau aku ada di rumah, kalau aku bisa memenuhi batinnya, Kezia nggak akan mencari laki-laki lain."
"War—"
"Aku yang membuatnya pergi ke Altaf!"
Angga tiba-tiba mencengkeram bahuku.
"Dengar." Suaranya rendah. "Perempuan yang setia tidak mencari alasan dari absennya suami untuk berkhianat."
Aku menepis tangannya. "Kamu nggak tahu rasanya."
"Aku tahu rasanya lihat teman sendiri kelaparan di rig supaya bisa kirim uang sembilan puluh persen gajinya, ke istrinya."
Aku terdiam.
Angga menunjuk dadaku. "Kamu ingat bulan lalu? Kamu pinjam mie gelasku karena uangmu habis dikirim ke Kezia."
"Jangan ungkit."
"Harus kuungkit! Kamu bilang dia butuh biaya perawatan. Kamu bilang dia ingin belanja isi dapur. Ternyata uangmu dipakai untuk merapikan diri demi laki-laki lain. Itu bukan kurangmu, War. Itu rakusnya dia."
Aku menggigit bagian dalam p**i.
"Jangan bela dia di depan aku," lanjut Angga. "Aku bisa hormat pada istri yang kesepian. Tapi aku tidak akan kasihan pada orang yang memakai kesepian sebagai tiket untuk menginjak dan berkhianat suami sendiri."
Aku menatap lantai.
Kamar ini sempit. Satu kasur, satu meja kecil, satu kipas tua yang berputar lambat. Di luar, suara kereta lewat membuat kaca jendela bergetar. Kota ini terasa tidak punya ruang untukku.
"Keluargaku jauh, Ngga," kataku pelan. "Aku nggak punya siapa-siapa di sini."
"Makanya aku datang."
"Kamu juga punya kerja."
"Aku punya akal."
Angga mengambil map cokelat dari tasnya, lalu melemparkannya ke kasur.
"Apa itu?"
"Baca."
Aku membuka map itu. Mataku berhenti pada kop surat perusahaan.
Surat rekomendasi cuti darurat.
Dadaku seperti ditekan lagi.
"Mereka melarangku naik rig?"
"Untuk sementara." Angga duduk di kursi reyot. "Kepala tim bilang kondisi mentalmu belum aman. Di lapangan, satu orang kacau bisa bikin satu tim celaka."
Aku tertawa getir. "Hebat. Istri hilang, sahabat jadi pengkhianat, rumah jadi perkara, sekarang kerja juga ditarik."
"Jangan dramatis. Ini cuti, bukan pemecatan."
"Bagiku kerja itu satu-satunya yang tersisa."
"Justru karena itu jangan kamu rusak."
Aku meremas surat itu. "Aku nggak butuh cuti. Aku butuh kerja. Kalau aku diam, pikiranku balik ke rumah itu terus."
"Kalau kamu berangkat dengan kepala seperti ini, kamu bisa pulang tinggal nama."
"Jadi aku harus di sini? Di kamar pengap ini sampai busuk?"
Angga mengeluarkan napas kasar. "Tidak. Kamu ikut aku."
"Ke mana?"
"Ke rumahku dulu."
"Aku nggak mau dikasihani."
"Ini bukan kasihan. Ini pengawasan."
"Aku bukan anak kecil."
"Kelakuanmu sekarang lebih susah dijaga daripada anak kecil." tukas Angga, dan sedikit membenarkan ucapannya.
Aku menatapnya kesal.
Angga mengeluarkan ponsel, lalu menelepon seseorang. "Nim, kamu di mana?"
Aku langsung menegang. "Jangan libatkan dia."
Angga mengangkat telunjuk, menyuruhku diam. "Iya, dia masih hidup. Tapi kepalanya batu. Aku harus balik sebentar ke bengkel. Kamu bisa ke sini?"
"Angga!"
Ia menjauhkan ponsel dari telinganya. "Diam. Kamu nggak punya hak menolak bantuan setelah bikin semua orang panik."
"Aku tidak butuh Nimas."
"Justru kamu butuh orang yang mulutnya cukup pedas untuk melawan pikiran burukmu."
Aku berdiri. "Aku bisa pergi sekarang."
"Silakan." Angga menunjuk pintu rusak. "Tapi aku pegang kunci motormu, dompetmu aku simpan, dan penjaga losmen sudah kubayar untuk teriak kalau kamu keluar sendirian."
Aku menatapnya tidak percaya. "Kamu gila."
"Keluargaku memang begitu."
Dari ponsel, samar terdengar suara Nimas membentak, "Mas, jangan biarin dia lompat ke rel kereta! Aku otw!"
Angga menutup panggilan.
Aku terduduk lagi di tepi kasur. Sialan si Nimas, bisa-bisanya dalam keadaan begini meledekku.
Beberapa menit kemudian, ia meletakkan sekotak nasi Padang di meja. "Makan."
"Nggak lapar."
"Makan atau kusuapkan pakai sendok kamar mandi."
Aku meliriknya. Mulutnya persis mulut Nimas, mungkin karena keduanya bersaudara.
"Bagus, masih jijik. Berarti masih ada selera hidup."
Aku tidak menyentuh makanan itu.
Angga akhirnya berdiri. "Aku balik sebentar. Ada alat masuk bengkel, harus kutangani. Nimas sebentar lagi datang."
"Ngga."
Ia menoleh.
"Kenapa kamu masih repot?"
Angga menatapku lama. "Karena waktu di rig, kamu pernah menggantikan shift-ku saat ibuku sakit. Kamu bilang teman itu bukan cuma ada saat gaji cair. Sekarang giliranmu percaya pada omonganmu sendiri."
Pintu ditutup dari luar. Engselnya menggantung miring.
Kamar kembali sunyi.
Aku memandang nasi yang belum kubuka. Lalu map cuti. Lalu ponselku yang mati di lantai. Semua benda itu seperti menunggu aku memilih: hidup sebagai orang yang ditinggalkan, atau hancur sebagai orang yang menyalahkan diri sendiri.
Aku rebah lagi.
Suara kereta lewat, panjang dan parau. Malam mulai masuk lewat ventilasi kecil, membawa dingin yang tidak ramah.
Aku memejamkan mata.
Dug! Dug! Dug!
Pintu yang sudah rusak kembali digedor dari luar.
"Mas Anwar! Buka pintunya! Masih hidup, kan? Jangan bikin repot Mas Angga, ya! Aku ke sini bawa martabak telur ekstra pedas!"
Aku langsung membuka mata.
Suara itu.
"Dengar nggak? Buka!" Nimas berteriak lagi. "Atau pintu losmen miskin ini aku tendang sekalian, biar sekalian viral!"
Aku duduk tegak di atas kasur.
Gadis gila itu benar-benar datang.
Sendirian.
Dan entah kenapa, hatiku yang kacau balau sejak rumahku runtuh, dadaku tidak lagi sepenuhnya kosong ketika mendengar dia kalang kabut.
Bersambung.
Aduh Bunda-Bunda dan Bestie... sesak banget lihat Mas Anwar malah nyalahin diri sendiri atas pengkhianatan Kezia. Untung ada Mas Angga yang datang dobrak pintu dan Mbak Nimas si gadis absurd yang bawa martabak ekstra pedas! Kira-kira Nimas bakal bikin Mas Anwar makan atau malah bikin losmen heboh duluan? Ehh... Ada apa dengan hati Mas anwar ya hemmmm bikin penasaran aja! Yuk, lanjut ke Bab 6!
Buku Suntik KB Istriku
Penulis MrsFree
Selengkapnya baca di K-B-Mapp