Azzahra Rishi

Azzahra Rishi Posting Novel setiap hari
Follow agar tidak ketinggalan updatenya
reels Motivasi, Novel dan Curhat bisa DM

Jasprom DM ya

12/06/2026

(5) "Ini istri Bapak? Tadi di parkiran saya dengar dia menjerit-jerit nikmat dipangkuan pria itu." Kalimat yang diucapkan oleh agen properti itu meruntuhkan duniaku, tepat saat aku memegang sertifikat rumah mewah yang kubeli tunai untuk istriku..."

____

"Anwar! Buka pintunya! Jangan mati konyol cuma karena perempuan yang sudah membuang harga dirimu!"

Suara Angga menghantam pintu Kamar 304 berkali-kali.

Aku tetap berbaring di atas kasur busa tipis, menatap langit-langit losmen yang bernoda lembap. Bau rokok basi menempel di tirai kusam, bercampur aroma obat nyamuk dan minuman murah yang kubeli tanpa benar-benar ingin menghabiskannya.

"War!" Pintu digedor lagi. "Aku hitung sampai tiga. Kalau nggak buka, aku dobrak!"

Aku tidak menjawab.

Ponselku mati di lantai. Entah sudah berapa puluh panggilan kuabaikan sejak aku pergi dari rumah Citra Lavender. Dari Pak RT. Dari Angga. Mungkin dari Nimas juga yang utama aku ingin menghilang dari manusia bernama Kezia dan Altaf.

Aku tidak mau mendengar suara siapa pun.

Setelah pesan asing itu muncul di ponsel Kezia—rumah itu masih bisa direbut kembali—aku justru merasa makin muak berada di rumah yang kubeli sendiri. Pak RT menyuruhku tenang. Nimas bilang bukti harus disimpan baik-baik.

Tapi aku hanya ingin pergi.

Pergi dari sofa itu. Dari buku KB itu. Dari lantai marmer yang menyaksikan aku jatuh terduduk seperti lelaki yang kehabisan tempat pulang.

"Anwar!" Angga berteriak. "Satu!"

Aku memejamkan mata.

"Dua!"

Suara langkah orang losmen terdengar panik di luar. Mungkin penjaga kamar. Mungkin orang yang sudah disuap Angga supaya membiarkannya masuk.

"Tiga!"

Brak!

Pintu kayu tripleks itu terbuka kasar. Engselnya menjerit. Angga masuk dengan wajah merah dan napas memburu. Kemeja lapangannya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya menyala seperti orang yang siap menyeretku keluar dari lubang.

"Ya Allah, War..." Ia menatap botol di meja kecil. "Kamu ngapain di tempat begini?"

"Keluar."

"Bagus. Masih bisa marah."

"Aku bilang keluar, Ngga."

Angga mendekat, menyambar botol itu, lalu membuangnya ke tempat sampah. "Kamu pikir aku datang buat minta izin?"

Aku bangkit setengah duduk. "Jangan atur hidupku."

"Kalau hidupmu lagi waras, aku nggak akan atur."

"Aku waras."

"Kamu mengurung diri di losmen dekat stasiun, matiin ponsel, nggak makan, dan bau badanmu sudah kayak teknisi habis tiga shift. Itu namanya bukan waras."

Aku tertawa pendek. "Lalu aku harus apa? Pulang ke rumah itu? Duduk di sofa bekas Altaf?"

Angga mengatupkan rahang. "Aku sudah dengar dari Nimas."

"Adikmu terlalu banyak bicara."

"Justru karena dia bicara, aku tahu kamu masih hidup."

Aku menatapnya tajam. "Suruh dia jangan ikut campur."

"Dia sudah ikut campur sejak menyelamatkan bukti yang hampir direbut Altaf, bahkan sejak merekam desahan nikmat istrimu di pangkuan sahabatmu."

Nama Altaf membuat tanganku mengepal.

Angga melihatnya. "Nah, itu. Marah ke dia. Jangan marah ke diri sendiri."

Aku menunduk. Dadaku terasa sesak.

"Ini salahku, Ngga."

Angga diam sesaat. "Apa?"

"Ini salahku." Suaraku pecah, lebih cepat dari yang kuinginkan. "Aku yang kurang becus jadi suami. Aku jarang pulang. Aku terlalu sibuk kerja. Kalau aku ada di rumah, kalau aku bisa memenuhi batinnya, Kezia nggak akan mencari laki-laki lain."

"War—"

"Aku yang membuatnya pergi ke Altaf!"

Angga tiba-tiba mencengkeram bahuku.

"Dengar." Suaranya rendah. "Perempuan yang setia tidak mencari alasan dari absennya suami untuk berkhianat."

Aku menepis tangannya. "Kamu nggak tahu rasanya."

"Aku tahu rasanya lihat teman sendiri kelaparan di rig supaya bisa kirim uang sembilan puluh persen gajinya, ke istrinya."

Aku terdiam.

Angga menunjuk dadaku. "Kamu ingat bulan lalu? Kamu pinjam mie gelasku karena uangmu habis dikirim ke Kezia."

"Jangan ungkit."

"Harus kuungkit! Kamu bilang dia butuh biaya perawatan. Kamu bilang dia ingin belanja isi dapur. Ternyata uangmu dipakai untuk merapikan diri demi laki-laki lain. Itu bukan kurangmu, War. Itu rakusnya dia."

Aku menggigit bagian dalam p**i.

"Jangan bela dia di depan aku," lanjut Angga. "Aku bisa hormat pada istri yang kesepian. Tapi aku tidak akan kasihan pada orang yang memakai kesepian sebagai tiket untuk menginjak dan berkhianat suami sendiri."

Aku menatap lantai.

Kamar ini sempit. Satu kasur, satu meja kecil, satu kipas tua yang berputar lambat. Di luar, suara kereta lewat membuat kaca jendela bergetar. Kota ini terasa tidak punya ruang untukku.

"Keluargaku jauh, Ngga," kataku pelan. "Aku nggak punya siapa-siapa di sini."

"Makanya aku datang."

"Kamu juga punya kerja."

"Aku punya akal."

Angga mengambil map cokelat dari tasnya, lalu melemparkannya ke kasur.

"Apa itu?"

"Baca."

Aku membuka map itu. Mataku berhenti pada kop surat perusahaan.

Surat rekomendasi cuti darurat.

Dadaku seperti ditekan lagi.

"Mereka melarangku naik rig?"

"Untuk sementara." Angga duduk di kursi reyot. "Kepala tim bilang kondisi mentalmu belum aman. Di lapangan, satu orang kacau bisa bikin satu tim celaka."

Aku tertawa getir. "Hebat. Istri hilang, sahabat jadi pengkhianat, rumah jadi perkara, sekarang kerja juga ditarik."

"Jangan dramatis. Ini cuti, bukan pemecatan."

"Bagiku kerja itu satu-satunya yang tersisa."

"Justru karena itu jangan kamu rusak."

Aku meremas surat itu. "Aku nggak butuh cuti. Aku butuh kerja. Kalau aku diam, pikiranku balik ke rumah itu terus."

"Kalau kamu berangkat dengan kepala seperti ini, kamu bisa pulang tinggal nama."

"Jadi aku harus di sini? Di kamar pengap ini sampai busuk?"

Angga mengeluarkan napas kasar. "Tidak. Kamu ikut aku."

"Ke mana?"

"Ke rumahku dulu."

"Aku nggak mau dikasihani."

"Ini bukan kasihan. Ini pengawasan."

"Aku bukan anak kecil."

"Kelakuanmu sekarang lebih susah dijaga daripada anak kecil." tukas Angga, dan sedikit membenarkan ucapannya.

Aku menatapnya kesal.

Angga mengeluarkan ponsel, lalu menelepon seseorang. "Nim, kamu di mana?"

Aku langsung menegang. "Jangan libatkan dia."

Angga mengangkat telunjuk, menyuruhku diam. "Iya, dia masih hidup. Tapi kepalanya batu. Aku harus balik sebentar ke bengkel. Kamu bisa ke sini?"

"Angga!"

Ia menjauhkan ponsel dari telinganya. "Diam. Kamu nggak punya hak menolak bantuan setelah bikin semua orang panik."

"Aku tidak butuh Nimas."

"Justru kamu butuh orang yang mulutnya cukup pedas untuk melawan pikiran burukmu."

Aku berdiri. "Aku bisa pergi sekarang."

"Silakan." Angga menunjuk pintu rusak. "Tapi aku pegang kunci motormu, dompetmu aku simpan, dan penjaga losmen sudah kubayar untuk teriak kalau kamu keluar sendirian."

Aku menatapnya tidak percaya. "Kamu gila."

"Keluargaku memang begitu."

Dari ponsel, samar terdengar suara Nimas membentak, "Mas, jangan biarin dia lompat ke rel kereta! Aku otw!"

Angga menutup panggilan.

Aku terduduk lagi di tepi kasur. Sialan si Nimas, bisa-bisanya dalam keadaan begini meledekku.

Beberapa menit kemudian, ia meletakkan sekotak nasi Padang di meja. "Makan."

"Nggak lapar."

"Makan atau kusuapkan pakai sendok kamar mandi."

Aku meliriknya. Mulutnya persis mulut Nimas, mungkin karena keduanya bersaudara.

"Bagus, masih jijik. Berarti masih ada selera hidup."

Aku tidak menyentuh makanan itu.

Angga akhirnya berdiri. "Aku balik sebentar. Ada alat masuk bengkel, harus kutangani. Nimas sebentar lagi datang."

"Ngga."

Ia menoleh.

"Kenapa kamu masih repot?"

Angga menatapku lama. "Karena waktu di rig, kamu pernah menggantikan shift-ku saat ibuku sakit. Kamu bilang teman itu bukan cuma ada saat gaji cair. Sekarang giliranmu percaya pada omonganmu sendiri."

Pintu ditutup dari luar. Engselnya menggantung miring.

Kamar kembali sunyi.

Aku memandang nasi yang belum kubuka. Lalu map cuti. Lalu ponselku yang mati di lantai. Semua benda itu seperti menunggu aku memilih: hidup sebagai orang yang ditinggalkan, atau hancur sebagai orang yang menyalahkan diri sendiri.

Aku rebah lagi.

Suara kereta lewat, panjang dan parau. Malam mulai masuk lewat ventilasi kecil, membawa dingin yang tidak ramah.

Aku memejamkan mata.

Dug! Dug! Dug!

Pintu yang sudah rusak kembali digedor dari luar.

"Mas Anwar! Buka pintunya! Masih hidup, kan? Jangan bikin repot Mas Angga, ya! Aku ke sini bawa martabak telur ekstra pedas!"

Aku langsung membuka mata.

Suara itu.

"Dengar nggak? Buka!" Nimas berteriak lagi. "Atau pintu losmen miskin ini aku tendang sekalian, biar sekalian viral!"

Aku duduk tegak di atas kasur.

Gadis gila itu benar-benar datang.

Sendirian.

Dan entah kenapa, hatiku yang kacau balau sejak rumahku runtuh, dadaku tidak lagi sepenuhnya kosong ketika mendengar dia kalang kabut.

Bersambung.

Aduh Bunda-Bunda dan Bestie... sesak banget lihat Mas Anwar malah nyalahin diri sendiri atas pengkhianatan Kezia. Untung ada Mas Angga yang datang dobrak pintu dan Mbak Nimas si gadis absurd yang bawa martabak ekstra pedas! Kira-kira Nimas bakal bikin Mas Anwar makan atau malah bikin losmen heboh duluan? Ehh... Ada apa dengan hati Mas anwar ya hemmmm bikin penasaran aja! Yuk, lanjut ke Bab 6!

Buku Suntik KB Istriku
Penulis MrsFree
Selengkapnya baca di K-B-Mapp

Part 5“Taruh sini,” kata Ratih tanpa basa-basi.Liana berhenti di dekat meja. “Apa, Bu?”Ratih menatapnya tajam. “Jangan p...
12/06/2026

Part 5

“Taruh sini,” kata Ratih tanpa basa-basi.

Liana berhenti di dekat meja. “Apa, Bu?”

Ratih menatapnya tajam. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kunci cadangan kamar kamu.”

Bambang mengangkat wajah. “Aturan sudah jelas, Liana. Kalau kamu pergi kerja, kamar tidak usah dikunci. Kunci cadangan tetap dipegang Ibu.”

Indri tersenyum kecil. “Orang jujur nggak akan takut kamarnya dibuka.”

Liana merasakan kantong kain kecil di dalam tasnya menekan sisi tubuh. Ia sudah memindahkan yang paling perlu. Tapi menyerahkan kunci tetap terasa seperti melepas satu-satunya pegangan.

Ia menarik kunci cadangan dari saku seragam. Kunci itu asli. Bisa membuka kamarnya. Ia tidak ingin mengambil risiko menyerahkan kunci yang salah, lalu ketahuan dan membuat mereka membongkar semua hal dengan alasan lebih besar.

Tangan Liana bergerak pelan meletakkan kunci di meja.
Ratih segera mengambilnya.
Gerakan itu membuat d4d4 Liana seperti ditarik. Benda kecil yang semalam ada di telapak tangannya kini sudah berada di tangan ibunya.

Tidak ada terima kasih. Tidak ada rasa bersalah. Hanya wajah Ratih yang terlihat puas karena aturan rumah kembali berada di tangannya.

“Mulai sekarang jangan macam-macam,” kata Bambang. “Kamar itu bagian dari rumah ini.”

“Ya, Yah,” jawab Liana lirih.

Indri berdiri, lalu mengambil kunci dari tangan Ratih. “Aku coba dulu, Bu. Takutnya dia kasih kunci yang salah.”

Liana langsung menoleh. “Kak, aku mau berangkat kerja.”

“Sebentar saja.” Indri mengayunkan kunci di jarinya. “Kalau benar, kenapa panik?”

Ratih mengangguk. “Biar dicek. Nanti kalau Ibu mau bereskan tidak susah.”

Liana ingin merebut kunci itu, tapi Bambang masih duduk di sana. Satu gerakan terlalu cepat bisa berubah menjadi tuduhan. Ia mengikuti Indri ke depan kamar dengan langkah tertahan.
Indri memasukkan kunci ke lubang pintu.

Klik.

Pintu terbuka.

Liana merasakan perutnya mengeras.

Indri melangkah masuk setengah badan. Matanya bergerak cepat, menyapu kasur, meja, lemari, dan laci. Ia menyentuh ujung meja, lalu menoleh pada Liana.
“Rapi banget.”

“Aku bereskan semalam.”

“Biasanya nggak serapi ini.” Indri berjalan ke laci.

Liana maju satu langkah. “Aku sudah telat.”

Indri menatapnya, lalu tersenyum tipis. Tangannya tetap membuka laci kecil. Di dalamnya hanya ada sisir patah, karet rambut, lip balm murah, dan kertas-kertas bekas.
“Ini apaan?” Indri mengambil salah satu struk.

“Struk belanja lama.”

“Disimpan amat.”

“Lupa buang.”

Ratih muncul di belakang mereka. “Indri, jangan lama-lama. Dia mau kerja.”
Indri meletakkan struk itu kembali, tetapi matanya belum selesai memeriksa. Ia menunduk, melihat bagian bawah meja yang kini lebih kosong meski sudah Liana tutupi sebagian dengan kotak kecil.
“Mejamu dulu penuh, kan?” tanyanya.

Liana menjaga wajahnya tetap biasa. “Aku buang barang yang nggak dipakai.”

“Rajin mendadak.”

Liana tidak menjawab. Ia tahu satu kata saja bisa menjadi celah baru.

Bambang bersuara dari meja makan, “Sudah. Kalau memang tidak ada apa-apa, nanti juga bisa dilihat lagi.”

Kalimat itu tidak menenangkan. Justru membuat Liana paham bahwa pemeriksaan hari ini baru permulaan.

Indri keluar dari kamar dan menyerahkan kunci kembali pada Ratih. “Bisa dibuka, Bu.”

Ratih menyimpan kunci itu di saku dasternya. “Nah. Berangkat sana. Jangan pulang terlalu malam.”

Liana mengambil tasnya. Ia sengaja membuat tas itu terlihat biasa. Botol minum di sisi luar. Bekal kecil. Tidak terlalu penuh. Kantong kain kecil di dalamnya ia tekan agar tidak menonjol.
Saat melewati Indri, kakaknya berbisik, “Aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu.”

Liana berhenti sebentar, tapi tidak menoleh. “Apa kakak menemukan sesuatu yang Kaka bilang kalau aku menyembunyikannya? Aku cuma mau kerja, tapi sedari tadi kakak terus menahannya.”

Indri berdecak. “Kerja terus. U4ngnya jangan lupa.”

Liana keluar rumah sebelum napasnya pecah.

Di perjalanan, ia tidak merasa menang. Kunci sudah berpindah ke Ratih. Indri sudah berhasil masuk. Meski tidak menemukan apa-apa, kakaknya melihat cukup banyak untuk curiga.
Namun Liana juga tidak kalah sepenuhnya.

***

Di dekat area kerja, ia berhenti di tempat temannya. Kos-kosan yang tidak jauh dari pabrik. Tepatnya ada di gang kecil dibelakang pabrik. Tempat tersembunyi yang tidak aman diketahui secepat kilat.

"Kamu jadi ambil kos-kosan?" tanya Dina. Teman kerjanya.

"Jadi, apa sudah ada yang kosong?" tanya Liana.

"Kalau sekarang nggak ada. Tapi katanya bulan depan ada yang mau pindah. Nanti aku tanya-tanya dan booking duluan biar jadi tempat kamu."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih duluan. Nanti saja setelah dapat kos-kosannya."

"Baiklah. Aku pulang dulu." Mereka berpisah. Lagi pelan-pelan Liana menitipkan barang berharga di kos-kosan Dina untuk sementara waktu.

Saat pulang sore, rumah tampak tenang.

Terlalu tenang.

“Pulang juga.” Ratih duduk disamping suaminya.

Liana tidak menjawab hanya mengangguk sekilas. Ia langsung menuju kamar.
Pintunya tertutup, tapi tidak terkunci.

Jantungnya mulai berdetak keras.

Ia mendorong pintu perlahan. Kamar itu sekilas tampak sama. Kasur masih rapi. Lemari tertutup. Meja kecil masih di tempatnya.

Namun Liana tahu.
Bantalnya tidak berada di posisi yang sama.

Ia melangkah masuk, menahan napas. Laci meja tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang tidak ia tinggalkan pagi tadi. Di atas meja, lip balm murah yang ia ingat jelas berada di dalam laci kini tergeletak dekat sisir patah.
Seseorang sudah masuk.
Seseorang sudah mencari.

Dari ruang tengah, suara Indri terdengar ringan. “Kenapa diam, Li? Kamarnya kan cuma diberesin Ibu.”

"Terima kasih sudah susah-payah membersihkan kamar yang sudah dibersihkan oleh pemiliknya." Indri mem beku, tapi kemudian ia berlalu mungkin ingin mengadu kepada ibunya.

*****

Pergi Tanpa Syarat
Penulis Bunna Masya
Cerita ini hanya ada di KBM App ya


Mamaku selingkuh dan ingin menguasai harta papaku yang sedang di luar negeri, kujebak mamaku dengan cara...***"Papa Roni...
11/06/2026

Mamaku selingkuh dan ingin menguasai harta papaku yang sedang di luar negeri, kujebak mamaku dengan cara...

***

"Papa Roni itu gampang banget dibohongin, Sayang. Mumpung dia masih sibuk di Dubai berbulan-bulan, kita kuras aja semua ATM-nya. Nah, sertifikat rumah mewah ini juga besok pagi bakal aku gadai buat modal kita kabur berdua."

Langkahku otomatis berhenti. Es krim cokelat yang baru aja kubeli di depan komplek nyaris jatuh ke lantai.

Aku buru-buru ngumpet di balik tembok pembatas ruang keluarga sambil nutup mulut rapat-rapat.

Jantungku deg-degan parah, rasanya kayak lagi ketahuan guru nyontek pas ulangan matematika.

Di ruang tamu sana, Mama Arni, mamaku sendiri yang biasanya sok kalem dan s**a nyuruh aku rajin nabung, lagi asyik nyender di bahu cowok bertato yang jelas-jelas bukan Papa Roni!

"Kamu beneran udah pegang kunci brankasnya, Arni?" tanya cowok asing itu sambil ketawa girang.

"Udah d**g. Roni kan bucin banget sama aku. Dia percayain semua hartanya di rumah ini ke aku. Besok pagi kita langsung ke notaris, oke?"

Mama senyum manja banget, bikin perutku rasanya mual mau muntah.

Sumpah, gila banget! Papa capek-capek kerja di luar negeri sampai jarang pulang, eh Mama malah enak-enakan pacaran di rumah dan mau maling harta Papa? Jahat banget!

Kalau aku anak kecil yang cengeng, mungkin aku udah lari nangis sambil teriak-teriak.

Tapi kata Papa Roni, aku ini anak pintar kebanggaannya.

Jadi, daripada ngamuk dan bikin HP-ku disita Mama, mending aku diam-diam keluarin HP dari saku seragam SMP-ku.

Pelan-pelan, aku arahin kamera ke celah tembok. Aku rekam semua adegan pelukan mereka dan obrolan jahat tadi pakai kamera zoom. Kualitas videonya jernih banget, mantap!

"Awas aja, Mama pikir aku anak kecil yang gampang dibego-begoin?" batinku kesal.

Aku ngendap-endap mundur, pura-pura baru buka pintu depan.

"Mama! Aku pulang!" teriakku sengaja kencang-kencang.

Terdengar suara orang panik dari ruang tamu. Pas aku jalan ke sana dengan wajah polos seolah nggak tahu apa-apa, cowok bertato itu udah berdiri kaku di deket pintu, dan Mama lagi sibuk benerin rambutnya yang berantakan.

"Eh, Sayang, k-kamu udah pulang sekolah?" sapa Mama gugup banget.

"Udah, Ma. Ini Om siapa? Kang sedot WC ya?" tanyaku polos sambil natap cowok itu dari atas ke bawah.

Wajah cowok itu langsung merah nahan marah, tapi Mama buru-buru ketawa canggung.

"Bukan, Sayang! Ini ... ini Om Reno, temen bisnis Mama. Ya udah, sana kamu ganti baju gih. Om Reno juga udah mau pulang kok."

"Oh, oke Ma!" Aku senyum manis banget, terus langsung lari naik ke kamarku di lantai dua.

Begitu pintu kamar kututup dan kukunci, senyum polosku langsung hilang. Aku buru-buru buka laci meja belajarku.

Tadi pagi, mumpung Mama lagi pergi arisan, aku iseng bongkar laci meja rias Mama nyari jepit rambutku yang hilang.

Eh, aku malah nemu kunci cadangan brankas Papa yang disembunyiin Mama di dalem kotak bedak.

Sekarang, aku udah tahu rencana Mama.

Aku ambil HP-ku, lalu nelepon nomor Om Bima, tangan kanan sekaligus asisten paling setia Papa Roni. Nggak butuh waktu lama sampai teleponnya diangkat.

"Halo, Om Bima? Ini aku ... iya, dengerin aku baik-baik ya, Om." Aku ngomong sambil senyum miring, natap dua lembar kertas di tanganku.

"Tolong bilangin ke bank, blokir semua ATM dan kartu kredit atas nama Mama sekarang juga, alasannya bilang aja sistem lagi error. Terus, Om kasih tahu Papa di Dubai, mulai malam ini jangan transfer uang sepeser pun ke Mama. Tenang aja, Om, Papa nggak usah khawatir soal sertifikat rumah." Aku tertawa kecil, melirik kertas bersampul hijau di atas kasurku.

"Sertifikat rumah yang asli udah aku umpetin di dalem kandang si Meng. Yang ada di dalem brankas Mama sekarang cuma piagam lomba mewarnaiku waktu TK yang udah aku lipet-lipet. Kita lihat aja besok pagi, Mama mau gadai apaan ke notaris!"

***

Penulis Rahma La

Kelanjutannya di kolom komentar.

Part 4[Li, kunci kamarmu mana? Ibu mau masuk.]Liana menatap pesan itu dengan tangan yang mendadak lembap.Di sekelilingny...
11/06/2026

Part 4

[Li, kunci kamarmu mana? Ibu mau masuk.]

Liana menatap pesan itu dengan tangan yang mendadak lembap.
Di sekelilingnya, mesin pabrik tetap bergerak. Suaranya berulang, keras, dan teratur. Orang-orang di sampingnya masih bekerja seperti biasa, mengangkat, menyusun, memeriksa. Tidak ada yang tahu bahwa satu pesan pendek dari Indri membuat dada Liana terasa seperti ditekan dari dalam.

Ia melirik jam di dinding. Jam istirahat masih lama.
Jari Liana menggantung di atas layar. Kalau ia tidak membalas, Indri bisa makin curiga. Kalau ia membalas terlalu cepat, mereka akan tahu ia panik.

Ia menarik napas, lalu mengetik pelan.

[Kuncinya kebawa. Nanti aku buka setelah pulang.]
Pesan itu terkirim.

Tidak sampai sepuluh detik, balasan Indri masuk.
Kenapa kamar sendiri sampai dikunci?

Liana meng gi git bagian dalam bibir. Di ujung meja kerja, mandor lewat sambil mengamati hasil susunan. Liana buru-buru memasukkan ponsel ke saku, lalu kembali menggerakkan tangannya. Tapi pikirannya sudah tertinggal di rumah.

Kamar itu masih menyimpan beberapa barang. Tidak be sar. Tidak men co lok. Tapi cukup untuk membuatnya tidak tenang jika tangan Indri sampai masuk dan membuka semuanya.
Ponselnya bergetar lagi.

[Takut banget kamarmu dimasukin.]

Liana menunduk seolah memeriksa barang di depannya. Ia membalas singkat.
[Aku lagi kerja. Nanti saja.]

Kali ini yang masuk bukan pesan dari Indri, melainkan panggilan dari Ratih.

Liana menatap nama ibunya beberapa detik. Kalau diangkat, suara Ratih bisa terdengar oleh pekerja lain. Kalau ditolak, masalahnya bisa bertambah.
Ia menekan tombol terima, lalu menempelkan ponsel cepat ke telinga sambil sedikit menjauh dari barisan kerja.
“Kenapa, Bu?”

“Kamu ini kenapa kamar dikunci?” Suara Ratih langsung masuk tanpa salam. “Ibu mau bereskan, malah tidak bisa masuk.”

“Nanti aku bereskan sendiri pulang kerja, biasanya seperti itu kan?”

“Sejak kapan kamu punya rahasia dari Ibu?”

Liana memejam sebentar. “Bukan rahasia, Bu. Kuncinya kebawa. Bukannya selalu seperti itu dan Ibu nggak masalah. Kenapa sekarang dipermasalahkan?”

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa harus takut?” Ratih menekan. Di belakang suara ibunya, Liana mendengar Indri bicara samar, entah sengaja dekat dengan ponsel atau memang sedang berdiri di samping Ratih. “Kamu berubah sekali sejak punya u4ng.”

“Aku kerja dulu, Bu. Nanti aku pulang.”

“Jangan macam-macam, Liana. Ayahmu sudah bilang, kalau kamu sengaja menyembunyikan sesuatu, pintu itu bisa dibuka paksa.”

Napas Liana tertahan.
Sebelum ia sempat menjawab, suara Ratih sudah lebih keras. “Dengar tidak?"

“Iya, Bu. Aku dengar.”

“Pulang kerja langsung buka kamarmu.”

Sambungan terputus.
Liana menurunkan ponsel. Di layar, wajahnya terpantul samar. Pu cat, lelah, dan terlalu mudah dibaca. Ia cepat memasukkan ponsel ke saku saat mandor menoleh.

Sisa jam kerja terasa lebih panjang dari biasanya.
Tangannya tetap bergerak, tetapi kepalanya dipenuhi bayangan pintu kamar.
Bagaimana kalau ayahnya benar-benar memaksa membukanya? Bagaimana kalau Indri mencari cara mengambil kunci cadangan lama? Bagaimana kalau Ratih menunggu sampai Liana tidak bisa pulang cepat?

***

Saat sirene pulang berbunyi, Liana hampir tersentak.

Ia tidak mampir membeli apa pun. Bahkan ketika melewati toko kecil yang menjual sepatu murah, kakinya hanya melambat sebentar. Ujung sepatunya masih menganga, mengingatkan bahwa ia pun punya kebutuhan. Tapi hari ini, yang ia pikirkan hanya pintu kamar. "Sabar ya, nanti kita lem. Nanti kalau Aku sudah keluar dari rumah itu. Kita beli sepatu baru."

Dalam perjalanan pulang, ponselnya tidak berhenti bergetar. Pesan Indri masuk beberapa kali.

[Cepat pulang.]

[Ibu nunggu.]

[Ayah juga sudah tahu.]

Setiap pesan seperti menarik langkah Liana agar lebih cepat, sekaligus membuat perutnya makin melilit.

Saat sampai rumah, pagar terbuka. Ruang tengah menyala terang. Ratih duduk di sofa dengan wajah kaku. Indri berdiri dekat pintu kamar Liana, seolah sejak tadi menjaga tempat itu agar tidak lari. Bambang duduk di kursi makan, tangannya terlipat di dada.

Liana melepas sepatu pelan.
“Lama sekali,” kata Indri.

“Aku baru pulang kerja.”

“Kerja atau mampir dulu?” Indri melirik tasnya. “Tasmu masih berat juga?”

Ratih berdiri. “Kunci.”

Liana menatap ibunya. “Aku mau mandi dulu, Bu.”

“Buka kamar dulu,” potong Bambang dari meja makan. Suaranya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat Liana tahu tidak ada ruang menawar. “Setelah itu baru urusan lain.”

Liana merasakan telapak tangannya basah. Ia mengambil kunci dari saku seragam. Kunci kecil itu terasa lebih berat daripada seharusnya.
Indri tersenyum tipis. “Nah, ternyata benar kebawa. Sengaja, kan?”

Liana tidak menjawab. Ia berjalan ke pintu kamar. Indri hendak ikut mendekat, tetapi Liana berhenti dan menoleh.
“Aku buka sendiri.”

Ratih mendelik. “Kami cuma mau lihat.”

“Aku buka pintunya. Ibu bisa lihat dari luar.”

“Liana,” suara Bambang menekan.

Liana menelan ludah. Lututnya lemas, tetapi ia memaksa berdiri tegak. “Kamarku belum rapi, Yah. Aku pulang kerja belum sempat beres-beres. Nanti kalau Ibu mau lihat, aku rapikan dulu.”

Indri tertawa kecil. “Alasan.”

“Kalau memang berantakan, ya biarkan Ibu lihat,” kata Ratih. “Dari kecil kamu juga Ibu yang urus.”

Liana ingin berkata bahwa Ratih tidak pernah benar-benar mengurusnya seperti Indri. Tapi kalimat itu akan menjadi api. Ia hanya memasukkan kunci ke lubang pintu.

Klik.

Pintu terbuka.

Liana cepat melangkah masuk setengah badan, lalu berdiri di ambang pintu. Dari tempat Ratih berdiri, kamar itu terlihat: kasur tipis, lemari tua, meja kecil, pakaian kerja yang dilipat. Tidak ada yang aneh pada pandangan pertama.

Ratih mencoba maju.
Liana tidak bergerak.
“Ibu mau lihat meja kamu.”

“Nanti aku bereskan sendiri.”

“Kenapa kamu menahan Ibu?” Mata Ratih menyipit. “Apa yang kamu sembunyikan?”

“Tidak ada.”

“Kalau tidak ada, minggir.”
Indri mendekat dari sisi Ratih. Matanya bergerak cepat, memeriksa sudut kamar. Liana melihat tatapan itu berhenti pada bagian bawah meja yang tampak lebih kosong daripada biasanya. Sebagian barang yang semalam ada di sana memang sudah ia pindahkan.

“Kok mejamu kosong?” tanya Indri.

Dada Liana berdebar.
“Aku buang kertas-kertas yang tidak dipakai.”

“Rajin sekali mendadak,” sindir Indri.

"Biar tidak jadi sarang tikus," kilah Liana.

Bambang bangkit dari kursi makan. Langkahnya berat mendekati mereka. “Cukup. Mulai besok, kunci cadangan kamar ini serahkan ke Ibu.”

Liana menoleh cepat. “Yah?”

“Dan kalau kamu pergi kerja, pintu kamar tidak perlu dikunci.”
Ratih mengangguk seolah keputusan itu sudah paling benar. “Biar kalau Ibu mau bersih-bersih tidak susah.”

“Kamarku bisa aku bersihkan sendiri,” ucap Liana, lebih pelan dari yang ia inginkan.

Bambang menatapnya t a ja m. “Selama kamu tinggal di rumah ini, jangan merasa punya wilayah sendiri. Rumah ini rumah orang tuamu.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi me nu suk.

Indri tersenyum kecil, puas. “Dengar, Li? Besok jangan sok bawa kunci lagi.”

Liana menggenggam kunci di telapak tangan sampai tepinya m e ne kan kulit. Hari ini, ia berhasil menahan mereka di luar kamar. Tidak ada laci yang dibuka. Tidak ada lemari yang diac ak. Tidak ada bu kti besar yang ditemukan.
Tapi kemenangan itu hanya setipis napas.

Ratih berbalik ke dapur sambil berkata, “Besok pagi kunci cadangan taruh di meja makan.”

Bambang kembali ke ruang tengah. Indri masih berdiri sebentar di ambang pintu, menatap kamar Liana dengan mata yang belum selesai mencari.

Setelah mereka pergi, Liana menutup pintu perlahan. Ia tidak menguncinya.

Di dalam kamar, udara terasa lebih sempit. Liana membuka telapak tangannya. Kunci kecil itu meninggalkan bekas merah di kulit.

Ia menatapnya lama.

"Ini bukan rumah. Tapi penjara. Rumah seharusnya menjadi tempat yang am an. Tidak aku harus segera pergi. Tapi kalau aku pergi sekarang mereka akan menyadarinya. Sebaiknya aku gerak secara perlahan-lahan."

****

Pergi Tanpa Syarat
Penulis Bunna Masya
Ceritanya hanya ada di KBM App teman-teman

Part 3Pagi itu, Liana bangun sebelum alarm berbunyi.Matanya terbuka begitu saja, padahal tu-buhnya masih meminta tidur. ...
11/06/2026

Part 3

Pagi itu, Liana bangun sebelum alarm berbunyi.

Matanya terbuka begitu saja, padahal tu-buhnya masih meminta tidur. Semalaman ia beberapa kali terjaga, menoleh ke pintu, lalu memeriksa tas di samping kasur. Setiap suara kecil dari luar kamar membuat dadanya berdebar.

Ucapan Bambang masih menempel di kepalanya.
Selama dia tinggal di rumah ini, tidak ada barang yang boleh disembunyikan.

Liana duduk perlahan. Kamar kecil itu tampak sama seperti kemarin. Lemari kayu tua di sudut. Meja sempit dekat jendela. Tumpukan pakaian kerja yang sudah dilipat rapi. Sepatu bolong di dekat pintu.
Namun pagi ini, semua sudut terasa seperti sudah bukan miliknya.

Laci bisa dibuka. Lemari bisa diacak. Bawah kasur bisa diperiksa. Bahkan bantal pun bisa diangkat dengan alasan mencari sesuatu.

Tidak ada tempat aman di rumah ini.

Liana menoleh pada tas kainnya. Di dalamnya, amplop g4ji masih terselip. Tidak utuh lagi, karena semalam ia sudah memberikan sebagian u4ng kepada Ratih. Tapi bagian utama masih ada. Itu yang paling penting.

Ia menarik napas pelan, lalu mulai bergerak.
Beberapa lembar u4ng ia pisahkan. Buku catatan kecil ia masukkan ke kantong dalam tas. Satu map tipis berisi berkas pribadi ia lipat hati-hati, lalu dibungkus kain agar tidak terlalu terlihat. Ia tidak membawa semuanya. Terlalu banyak barang akan membuat tas tampak mencurigakan.
Tapi tidak membawa apa pun lebih berbahaya.

Liana menatap lemari sebentar. Ada beberapa barang yang ingin ia amankan, tetapi pagi ini ia harus memilih. Kalau ia serakah, ia bisa ketahuan sebelum sempat keluar rumah.

Dari luar kamar terdengar suara piring. Ratih sudah di dapur.
Liana cepat menata kasur seperti biasa. Ia menyelipkan beberapa barang tidak penting di tempat yang mudah ditemukan, seolah kamarnya memang tidak menyimpan apa-apa. Lalu ia memakai seragam kerja dan menyisir rambut seadanya.

Saat keluar kamar, ia membawa tas di bahu kanan.
Ratih langsung menoleh dari dapur.

Tatapan ibunya turun ke tas Liana, lalu naik ke wajahnya. “Hari ini berangkat pagi sekali? Sampai-sampai Ibu sendiri yang bekerja di dapur.”

“Masuk shif pagi, Bu.”

“Kemarin juga kamu bilang capek. Sekarang berangkat cepat.” Ratih mengaduk sesuatu di wajan, tetapi matanya tetap mengikuti gerak Liana. “Jangan-jangan ada yang dikejar. Atau memang ada yang kamu sembunyikan.”

Liana menahan napas sejenak. “Takut telat.”

Indri muncul dari ruang tengah dengan rambut tergerai dan wajah masih mengantuk. Berbeda dengan Liana yang sudah rapi kerja, Indri memakai kaus longgar dan membawa gelas air hangat,
“Pulang jam berapa, Li?” tanyanya manis.

Terlalu manis.

Liana mengancingkan tasnya lebih rapat. “Seperti biasa.”

“Seperti biasa itu jam berapa? Sore? Malam?” Indri bersandar di dinding, matanya memeriksa tas Liana. “Aku cuma tanya. Jangan sensitif.”

Ratih ikut menyahut, “Jawab yang jelas kalau ditanya kakakmu.”

“Sore Bu, jam limaan,” jawab Liana. “Kalau tidak lembur.”

Indri tersenyum kecil. “Lembur terus. U4ngnya banyak d**g.”

Liana tidak menjawab. Ia mengambil botol minum dari meja, lalu memasukkannya ke sisi luar tas. Gerakan itu membuat tasnya tampak sedikit penuh. Mata Indri langsung menyipit.

“Tasmu kok kelihatan berat?”

Tangan Liana berhenti sebentar. Ia memaksa dirinya tetap tenang. “Bawa bekal.”

“Bekal apa?” Indri maju satu langkah.

“Air minum sama baju ganti.” Liana menatap jam dinding. “Aku sudah hampir telat.”

Dari ruang tengah, Bambang berdeham. Ia duduk dengan koran di pangkuan, tetapi jelas mendengar semuanya,
“Mulai bulan ini, ingat aturan semalam,” katanya tanpa melihat Liana. “G4jian lapor. U4ng belanja serahkan ke Ibu langsung. Jangan tunggu ditanya.”

Liana menggenggam tali tas. “Iya, Yah.”

Jawaban itu terasa pahit. Tapi pagi ini ia tidak boleh memancing perdebatan. Bukan saat sebagian barang penting berada di dalam tasnya.

Ia bergerak menuju pintu,
“Li,” panggil Indri.
Langkah Liana tertahan.

Indri mengangkat alis. “Aku mau pinjam sisir kecilmu. Yang biasa kamu simpan di meja kamar.”

“Sisirku sudah rusak.”

“Ya sudah aku lihat sendiri.” Indri berjalan mendekat, seolah itu hal biasa. “Kuncinya mana?”

Liana merasakan tenggorokannya mengering.
Ratih menoleh dari dapur. “Saudara sendiri pinjam sisir saja kamu pelit?”

“Bukan pelit, Bu.” Liana berusaha menjaga suara.
“Kamarku belum rapi.”

Indri tertawa pendek. “Memangnya ada apa di kamarmu sampai aku tidak boleh masuk?”

Pertanyaan itu seperti kail.
Kalau Liana menjawab terlalu cepat, ia akan terlihat panik. Kalau diam terlalu lama, Indri akan makin yakin.

Liana menarik kunci dari lubang pintu kamarnya, lalu memasukkannya ke saku seragam. Gerakan itu langsung membuat wajah Indri berubah,
“Sekarang kamar dikunci?” tanya Indri.

“Takut ada ti-kus masuk,” jawab Liana.

Alasan itu terdengar tidak sempurna, tapi masih lebih aman daripada mengatakan yang sebenarnya.
Indri mencibir. “Ti-kus atau orang rumah?”

“Liana!” Ratih membentak sebelum Liana sempat bicara. “Jangan kurang ajar sama kakakmu.”

“Aku belum bilang apa-apa, Bu.”

“Mulai membantah lagi,” gumam Bambang dari ruang tengah.
Liana merasakan p4nas naik ke wajahnya. Ia ingin menjelaskan bahwa ia hanya ingin kamarnya tidak diacak. Ia ingin berkata bahwa barang pribadinya bukan milik semua orang. Tapi setiap kalimat di rumah ini bisa dipelintir menjadi kesalahan.
Jadi ia menunduk sedikit. Bukan menyerah. Hanya memilih jalan keluar.

“Aku berangkat dulu.”

Indri berdiri di dekat pintu, sengaja tidak segera menyingkir. “Jangan lama-lama pulangnya. Ibu butuh u4ng belanja tambahan, vitamin kakakmu sudah mau habis.”

Liana menatap kakaknya sebentar. Di dalam dada, sesuatu terasa menekan. Kemarin ia masih berusaha mempertahankan amplop gaji. Hari ini, mereka sudah menunggu uang berikutnya seolah hidup Liana hanya mesin penarik rupiah.

“Kalau ada u4ngnya, nanti aku kasih,” ucap Liana.

Indri mendelik. Ratih membuka mulut, tapi Liana cepat melangkah keluar sebelum kalimat baru dilemparkan kepadanya.

Begitu pagar tertutup di belakangnya, Liana baru berani mengembuskan napas.
Kakinya bergerak cepat menyusuri gang. Tas di bahunya terasa lebih berat daripada biasanya, bukan karena barangnya banyak, tetapi karena risiko yang ikut ia bawa. Setiap beberapa langkah, ia menoleh ke belakang. Tidak ada yang mengikuti.

***

"Aku harus cari kos-kosan murah. Ya, aku harus segera pergi dari rumah itu. Tempat itu sudah tidak aman buatku."

Seketika Liana teringat teman pabriknya yang hidup jauh dari keluarga, memilih tinggal di kos-kosan kecil dengan bayar bulanan murah.

[Jangan lupa, pulang nanti belikan vitamin seperti biasanya. Di apotek, yang mahal jangan yang murahan.] Pesan dari kakaknya membuat Liana menghembuskan napas lelah.

"Aku sebenarnya keluarga mereka atau bukan?" bisiknya pelan.

Matanya panas, d4d4nya terasa ses4k, hubungannya bukan semakin baik malah semakin menjauh. Segala cara sudah ia lakukan sampai mengalah demi menarik perhatian ibu dan bapaknya. Tapi yang didapat ia hanya dijadikan sebagai alat pencetak u4ng untuk segala kebutuhan kakaknya.

[Jangan seperti kemarin. Hari ini harus dibelikan, tidak ada alasan dan bantahan lainnya, kecuali kamu mau ibu dan ayah
marah.]

*****

Pergi Tanpa Syarat
Penulis Bunna Masya ceritanya hanya ada di KBM App ya teman-teman terima kasih

Address

Jalan Nasional
Surabaya

Telephone

+13102851000

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Azzahra Rishi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Azzahra Rishi:

Share