Ngopidiyyah

Ngopidiyyah Menyediakan berbagai topik menarik tiap harinya
(4)

Penulis Kitab Weda dan Mahabharata adalah seorang Sudra. Benarkah?Orang orang Hindu modern malu Karena agamanya mengajar...
28/08/2026

Penulis Kitab Weda dan Mahabharata adalah seorang Sudra. Benarkah?

Orang orang Hindu modern malu
Karena agamanya mengajarkan sistem kasta.

Dimana seseorang lahir Brahmana akan tetap jadi Brahmana
Sudra akan tetap jadi Sudra selamanya

Tentu orang-orang Hindu modern malu sehingga menipu umat awam bahwa kasta itu tidak didasarkan kelahiran tapi kemampuan.

Kalau sudra tekun belajar, membaca, dia bisa bisa jadi Brahmana.

Katanya begitu…

Untuk mendukung pernyataannya itu, kalangan hindu menyebutkan banyak contoh tokoh tokoh keturunan rendah kemudian naik kelas kastanya karena kemampuan.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1390952063127643&id=100066385877062&mibextid=wwXIfr

Halaman Ajaran Veda menyebut beberapa tokoh
Diantara Byasa.

“Katanya Byasa putra dari seorang ibu Shudra yang belum menikah, seorang wanita nelayan miskin yang tinggal di sebuah desa terpencil.”

Benarkah ?

Tidak benar.

Ayah Byasa adalah Resi Parashara, seorang Brahmana.

Sementara ibunya adalah Satyavati.

Satyawati sendiri anak seseorang Raja dan ibunya
seorang bidadari yang terkena kutukan dan berubah menjadi ikan bernama Adrika.

Otomatis Byasa itu asli Brahmana bukan Sudra.

Ini nasab Satyawati

Mari lihat kisahnya langsung dari Mahabharata 1.63.

Dikisahkan bahwa air mani Raja Uparichara diambil oleh seekor burung elang. Namun, di tengah perjalanan, elang itu diserang oleh elang lain. Keduanya bertarung di udara hingga air mani yang dibawanya jatuh ke Sungai Yamuna.

Di dalam sungai itu terdapat seorang Bidadari bernama Adrika.

Adrika itu berwujud ikan karena kena kutukan seorang Brahmana. Ketika air mani sang raja jatuh ke dalam air, Adrika dalam wujud ikan itu menelannya.

Sepuluh bulan kemudian, ikan itu ditangkap oleh para nelayan.

Tetapi terjadi sesuatu yang tidak biasa: dari dalam tubuh ikan tersebut keluar dua bayi manusia seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Bayi laki-laki kemudian dibawa menghadap Raja Uparichara dan kelak menjadi Raja Matsya.

Sementara bayi perempuan diserahkan kepada para nelayan untuk dibesarkan. Gadis inilah yang kemudian hari dikenal sebagai Satyavati.

Kesimp**annta Satyavati justru keturunan Kesatria bukan Sudra!

Kemudian Satyavati besar dan bertemu dengan Pendeta bernama Parashara.

Menurut Mahabharata 1.63, Resi Parashara menjadi berahi setelah melihat Satyavati dan bahkan mengancam akan mengutuknya apabila ia menolak keinginannya.

akhirnya, Parashara berhasil membujuk Satyavati dengan alasan diberi anugerah. Setelah itu, keduanya melakukan hubungan seksual,

Satyavati pun mengandung, dan lahirlah Vyasa.

Dalam Narada Purana, Uttarabhaga 28.32, disebutkan:

“Vyasa, putra Parashara, adalah orang yang menyusun dan mengklasifikasikan Veda. Ia memiliki pandangan yang benar dan merupakan sosok yang menjunjung kebenaran.

Namun, ia lahir dari air mani seorang laki-laki yang telah mengambil keperawanan seorang perempuan. Karena itulah ia disebut Kanina, yaitu anak yang lahir dari seorang gadis yang belum menikah. Selain itu, ia juga melakukan hubungan seksual dengan istri-istri saudara laki-lakinya yang lebih muda.”

— Terjemahan G.V. Tagare

Inti

Mani seseorang Brahmana akan melahirkan brahmana
Mani sudra akan tetap jadi Sudra selamanya

————-
Klaim Valmiki penulis Kitab Ramayana keturunan Rampok

Sudah saya bantah disini

https://www.facebook.com/share/167NZbK1v1v/?mibextid=wwXIfr

Matanga keturunan Candala jadi Brahmana, sudah saya bantah disini

https://www.facebook.com/61592040685730/posts/122115051117401356/?mibextid=wwXIfr

baru……kemarin buat postingan tentang kisah Dewa Brahma yang berbohong , https://www.facebook.com/share/184VQz2QFx/?mibex...
28/08/2026

baru……kemarin buat postingan tentang kisah Dewa Brahma yang berbohong ,

https://www.facebook.com/share/184VQz2QFx/?mibextid=wwXIfr

lalu karena kebohongan itu Brahma mendapat kutukan dari Dewa Siwa kalau dirinya tidak disembah di manapun.

Lalu akun Ajaran Veda datang membantah.

https://www.facebook.com/share/1DLxtDC2t9/?mibextid=wwXIfr

Katanya, saya salah. Buktinya, Brahma masih disembah sampai sekarang. Dia bahkan menunjukkan beberapa kuil Brahma di India.

Lho, memang saya tidak tahu?

Saya tahu masih ada kuil Brahma. Tapi saya sedang mengutip kitabnya, bukan sedang menghitung jumlah kuil di India.

Karena tidak percaya, dia menantang:

“Mana slokanya dari Shiva Purana? Tunjukkan.”

Baik. Saya tunjukkan.

Shiva Purana, Vidyesvara-samhita, adhyaya 8, sloka 10–11.

“Bhairawa Siwa lalu mencengkeram jambul kepala kelima Brahma—kepala yang dengan angkuh telah mengucapkan kebohongan. Pedangnya terangkat, siap menebas kepala itu.

Brahma pun gemetar ketakutan seperti pohon pisang diterjang angin kencang. Perhiasannya berantakan, pakaiannya kusut, kalungnya bergeser, kain atas tubuhnya terlepas, dan jambulnya pun acak-acakan. Dalam ketakutan, Brahma akhirnya jatuh tersungkur di kaki Bhairava.

Melihat Brahma dalam keadaan demikian, Wisnu segera memohon kepada Siwa:

“Wahai Tuhan, ampunilah kesalahannya kali ini. Kasihanilah dia.”

Setelah itu Siwa menoleh kepada Brahmā yang telah menipu dan kini tertunduk. Ia berkata:

“Wahai Brahmā, demi mendapatkan penghormatan dari manusia, engkau telah bertindak licik dengan mengambil kedudukan sebagai Sang Tuhan dan mengaku sebagai penguasa.”

10–11. KARENA ITU, ENGKAU TIDAK AKAN LAGI MENDAPATKAN PENGHORMATAN. ENGKAU JUGA TIDAK AKAN MEMILIKI KUILMU SENDIRI DAN TIDAK AKAN MEMILIKI FESTIVAL YANG KHUSUS DISELENGGARAKAN UNTUKMU.”

Nah, ini masalahnya.

Saya tidak sedang mengarang-ngarang bahwa Brahma suatu saat kelak tidak akan ada yang menyembah. Kitabnya sendiri yang berkata begitu.

Sekarang faktanya “kuil Brahma ternyata masih ada.”

Berarti pilihannya hanya dua:

Siwa bukan Tuhan karena ramalan dan kutukannya meleset.

Atau Kitab sucimu yang keliru ?

Bahkan dalam Padma Purana, Srishti-khanda, Adhyaya 17 justru yang mengutuk bukan Siwa melainkan Saraswati.

Mana yang benar ?
Saraswati atau Siwa ?
Padma Purana atau Siva Purana ?

Kitab kok kontradiksi

Sekalian PR-nya dijawab
Dewa kok berbohong
Dewa kok nafsu sama anaknya sendiri

Sampai tahun 1950 orang Bali masih kebingungan ketika ditanya “nama agama kamu apa ?”Ada yang usul namanya Agama BaliAda...
26/08/2026

Sampai tahun 1950 orang Bali masih kebingungan ketika ditanya “nama agama kamu apa ?”

Ada yang usul namanya Agama Bali
Ada yang usul Agama Tirta (Agama Air)
Ada yang usul namanya Agama Siwa dan Budha
Ada juga usul Siwa-Budha
Ada yang usul Hindu

Jika membuka sumber sumber lontar, prasasti,

abad 5 M Raja Punawarman dari Tarumanegara mengaku agamanya “Waisnawa”

856 M prasasti Siwagraha raja Medang bernama Rakai Pikatan agamanya bernama “Siwa Pamta”

Abad 12-13 M Mpu Prapanca dalam Negarakertagama menyebut agama Majapahit itu sebagai Siwa Budha.

Di India jadi perdebatan juga

Srila Prabupada menolak dipanggil Hindu lebih nyaman Varnasrama

Swami Vivekananda menyebut agamanya Vaidika

Perdana mentri India, Jawarhalal Nehru menyebutnya Sanatan Dharma

Dari perdebatan ketidakjelasan ini, Majalah Surya Kanta bertanya: yang mana dari nama-nama ini yang sebenarnya ?

Apa dampaknya ?

Agama orang Bali itu “terlambat” diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah sebab saat itu karena tidak jelas

Siapa Tuhannya
Siapa yang membawanya
Apa kitab sucinya
Ibadahnya gimana ?

La wong setiap desa punya Tuhan Tuhan sendiri yang berbeda-beda. Ada yang nyembah pohon, leluhur, dewa-dewa, Tiap tiap keluarga punya kitab suci dengan lontar yang berbeda-beda.

Sehingga awalnya kepercayaan orang Bali ini digolongkan ke kepercayaaan daerah bukan agama selayaknya Islam dan Kristen yang memiliki konsepsi yang jelas.

Bahkan Michel Picard berani memastikan kalau orang Bali itu tidak mengenal “Weda” sama sekali.

Akhirnya untuk mengakali administrasi dan cepat cepat diputuskanlah ada kesepakatan make nama Hindu.

Tapi masih debat lagi, disepakatilah kata Hindu Bali..

Debat lagi, sepakatlah Hindu tok…..

Dari sini karena sudah “ngaku Hindu” mereka terpaksa import kitab kitab dari India dan disebarkan di Bali dan mulailah indianisasi sehingga meski berbeda bali itu sekarang masih “bau bau” Hindu India.

Tuhan hindu bali itu satu, Sang Hyang Widhi Wasa
Nabinya Resi Vyasa
Ibadahnya sehari tiga kali,

Kemudian Pandit Sastri orang India membuatkan sebuah pujian diperkenalkanlah Puja Trisandya ke Bali
Sebagai saingan solatnya umat Muslim yang 5 kali

Kitab sucinya Weda
Akhirnya agama orang Bali ini punya struktur pakem.
Diakuilah sebagai agama resmi.

Masalahnya.
Karena sekarang pakai nama Hindu.

Dari kata Hindu ini, karena tak terbatas pada agama bali.

orang orang Kaharingan, orang Sunda, Tengger (?) bahkan agama diseberang p**au dayak sana yang nggak kenal dewa-dewa Hindu secara administrasi di golongkan sebagai Hindu.

Sebab mau dimasukan Islam juga nggak solat
Mau di masukan Kristen juga nggak percaya Yesus
Akhirnya dimasukan ke Hindu deh.

Akhirnya karena nyaman, ya mereka sampe sekarang ngaku Hindu padahal 180 derajat dengan Hindu baik di Bali maupun di India.

Bagaimana jika ada orang memamerkan (mohon maaf:) alat vitalnya ditempat umum ?Pasti dipidana.Kalau Dewa Bagaimana ?kata...
26/08/2026

Bagaimana jika ada orang memamerkan (mohon maaf:) alat vitalnya ditempat umum ?

Pasti dipidana.

Kalau Dewa Bagaimana ?

kata chanel Hindu 440 K Follower: Kenapa kamu mempermasalahkan tubuh telanjang Dewa Siwa ?

Betapa gelisahnya kamu dengan sesuatu yang nggak kamu pahami”

Ngopidiyyah: la iya emang kenapa kan aku nggak paham ?

Nih gw tau Doksli Lingga Siwa….
——

Nabi Muhammad itu selalu menutup aurat, mandi, memakai minyak rambut, tidak lepas dari parfum, di sakunya ada siwak yang bisa dipakai tiap waktu.

Bandingkan saja dengan sebelah..

Kesatria kok mundur dari Debat!!, situ Kesatria atau Sudra ?Memang debat Debat itu sulit.Soal nya yang dipertaruhkan buk...
26/08/2026

Kesatria kok mundur dari Debat!!, situ Kesatria atau Sudra ?

Memang debat Debat itu sulit.
Soal nya yang dipertaruhkan bukan malu-nya isteri dan 5 saudaramu. (Upsss keinget kisah Pandawa kalah judi, sampe isterinya jadi taruhan)

Soalnya ini menyangkut malunya 400 ribu followermu !😁

Dia yang nuduh pengecut
Eh diseriusin malah dirinya kicut

Dia yang nuduh blokir
Eh dirinya sendiri malah “mengancam memblokir”

Padahal saya persiapkan mas Fahmi Rizky Ardhani sebagai moderator debat nantinya.

dalam Bhagavad Gita 1.38-39

Komentar Prabuphada “hendaklah seseorang Kesatria menanggapi ajakan pertempuran dan judi musuhnya”

Itu kalau kesatria…..
Lain Sudra

“TERNYATA NIKAH BEDA KASTA DI BAKAR’’ “SUDRA DISAMAKAN DENGAN ANJING !” Eiitss....Ini bukan kata saya loh ya...., tapi d...
25/08/2026

“TERNYATA NIKAH BEDA KASTA DI BAKAR’’ “SUDRA DISAMAKAN DENGAN ANJING !”

Eiitss....
Ini bukan kata saya loh ya...., tapi dari sebuah buku yang diterbitkan oleh Universitas Hindu di Bali, Udayana berjudul “Bias Gender: PERWAKINAN TERLARANG Pada Masyarakat Bali”

Memangnya Masyrakat Bali melarang nikah apa ?

Nikah beda kasta.

Menurut orang Bali Menikah beda Kasta itu ada dua:

Adanya kalanya, ASU PUNDUNG
Adanya kalanya, Aniloma

Kapan ASU PUNDUNG ?

apabila seseorang perempuan menikah dengan seseorang yang kastanya dibawahnya maka wanita itu disebut sebagai “ASU PUNDUNG” (sumber Paswara DPRD No. 11 Tahun 1951)

dimana seseorang wanita yang berkasta itu sama saja menggend**g seekor anjing (Pria sudra) .....(gila disamakan dengan anjing loh rek...)

Itu untuk wanita.
adapun untuk pria yang menikah wanita diatas kastanya, orang Bali menyebutnya “ALANGKAHI KARANG HULU” Karena pria itu dianggap sama saja melangkahi “wilayah sakral” (Karang Hulu) wanita yang berkasta itu.

Bahasa sederhanannya “NGGAK BERMORAL KARENA SAMA SAJA MELOMPATI KEPALA KELUARGA TUANNYA (KASTA ATASNYA)”

Itulah pandangan orang BALI.

“Oh.. dilarang ya bang, emang, kalau dilanggar kena hukuman bang?”

IYA KENA HUKUMAN
1. Menurut Hindu JAWA
2. Menurut Hindu BALI

Menurut Hukum Hindu Jawa, maka dilihat dulu.
Apakah pria yang berkasta rendah ketika melamar mendapat persetujuan dari keluarga wanita yang berkasta tinggi atau tidak?

Jika TIDAK maka pria itu harus DIHUKUM MATI.
Jika keluarga SETUJU, maka sang pria harus membayar mahar.

Bunyi undang-undang Majapahit itu begini “Jika ada orang yang berketurunan tinggi, dilamar oleh seseorang gadis (dari keturunan rendah), orang yang dilamar tidak dikenai denda”

“akan tetapi, jika ada orang bawahan yang tidak berketurunan, dilamar oleh sesorang gadis itu didengar keterangannya. Jika ia tidak menghendaki menantu laki-lakinya dari keturunan rendah, maka laki-laki itu akan DIKENAKAN PIDANA MATI. (DAN) Gadis (itu HARUS) dikembalikan ke orangtuanya”

(Kutara Manawa Dharmasastra Pasal, 213 KITAB RESMI UU MAJAPAHIT)


Sebagai catatan meski seandainya keluarganya setuju, pernikahan ini TIDAK UMUM TERJADI karena dianggap AIB Masyarakat.
Itu menurut Hindu JAWA.

KEDUA, Menurut Hindu BALI
Maka tak peduli, mau keluarga wanitanya setuju kek atau tak setuju kek, tak PEDULI, MAKA KEDUA PASANGAN HARUS DIHUKUM MATI.

“Menarik nih, bang, memang di hukum apa sih ?.......“

Tinggal pilih kak, bisa request. 😊
1. Labuh geni (dibakar hidup-hidup)
2. Labuh batu (diikat kakinya, dan di tenggelamkan disungai)

“WOIGGHH KADRUN JANGAN NGARANG KAU!”

Ini bukan kata saya, tapi dari R. Friederich seseorang turis yang pernah datang ke Bali dan menulis kesaksiannya dalam buku The Civilization on Culture of Bali:

In Bali, all marriages of high-caste women with men of lower birth (provided they are acknowledged) are punished with death. The guilty woman is burnt alive: a hole is made in the ground and filled with combustibles, into which the woman is cast. This punishment is called labuh gni (“to fall or to be cast into the fire”). The man is weighted with stones and drowned in the sea; this is called labuh batu. This penalty, however, especially the burning of the woman, is not always carried out relentlessly. In several cases that came to my knowledge, both the man and the woman were drowned. In another case, where the guilty man had escaped vengeance by flight, the woman, at the command of her father (a Gusti in Kutta), was killed with the kris by a relative, her mother’s brother, after being adorned with flowers and fine clothes, and rendered fearless by o***m and strong drink


Di Bali semua perkawinan antara perempuan berkasta tinggi dengan laki-laki dari kasta yang lebih rendah dihukum mati. Perempuan yang bersalah itu DIBAKAR HIDUP-HIDUP. Sebuah lubang besar digali dan dipenuhi dengan BARA API. Ke lubang bara itulah perempuan itu DILEMPARKAN SECARA PAKSA. Inilah yang disebut hukuman labuh gni (dicemplungkan atau dilempar hidup-hidup ke bara api).

Yang laki-laki, kakinya diberi PEMBERAT BATU, lalu DITENGGELAMKAN HIDUP-HIDUP KE DALAM LAUT. Hukuman ini disebut labuh batu. Hukuman ini, terutama hukuman bakar terhadap perempuan, TIDAK SELALU DILAKSANAKAN SEKEJAM ITU.
Dalam beberapa kasus yang saya ketahui, KEDUANYA, YANG LAKI-LAKI MAUPUN YANG PEREMPUAN, DITENGGELAMKAN.

(lalu kalau lakinya sembunyi gimana bang lari dari hukuman, dan ceweknya enggak ?)

Dalam kasus yang lainnya, bila yang lelaki berhasil lari menyembunyikan diri, yang perempuan, atas perintah ayahnya (seorang Gusti dari Kuta), DIBUNUH DENGAN TIKAMAN KERIS oleh keluarganya, yaitu oleh paman perempuan itu (kakak dari ibunya), setelah dia DIDANDANI DENGAN BUNGA-BUNGAAN DAN DIBERI PAKAIAN YANG INDAH-INDAH, dan rasa takutnya DIHILANGKAN DENGAN MEMBERINYA OPIUM/MADAT DAN MINUMAN KERAS TERLEBIH DAHULU.

(Friederich, n.d., pp. 102–103).

Begitulah kesaksian penelitian eropa yang datang ke BALI

“AH HOAX LU KADRUN, ITU CUMAN PASAL PASAL ATURAN AJA...., FAKTANYA GAK ADA ORANG BALI BEGITU “

Ah.... yang benerrrrr...........

Buktinya Dalem Ide, menjatuhkan hukuman mati kok ke Dalem Tarukan.
Buktinya Dalam Babad Dalem, dimasa Kekuasaan Batur Renggong (raja legendaris di Bali saya yakin semua kenal)
ada Bhujangga besar beraliran pemuja Dewa Wisnu. Bhujangga itu, mengawini Dewa Ayu Laksmi, putri keluarga Dalem Kerajaan. Al hasil, karena kesalahan itulah Sang pendeta Waisnawa di vonis hukuman mati kok....
Dan semenjak itu aliran Waisnawa dilarangggg untuk selamanya....

Kliwon demi kliwon berlalu...
Cinta terus bersemi tapi agama dan negara tak merestui

Banyak putera putera Bali ini jadi Korban kebiadan sistem kasta...


Lalu datanglahhh penjajah Kolonial Belanda....

Ketika menguasai BALI. Melihat hukum hukum yang tak manusiawi, para intelektual Belanda merespon “loh...gila masyarakat ini kok primitif banget”
Akhirnya diputuskanlah lewat Paswara Sang Amangkurat Buleleng (Penguasa Kolonial Belanda di Buleleng) bahwa pasangan yang menikah beda kasta cukup di hukum buang atau denda, nggak perlu labuh geni (dibakar hidup-hidup) atau labuh batu (ditenggelamkan). Bunyinya begini:

“”Nihan paswaran nira sang amangku rat ring gumi Buleleng, katiba ring punggawa kabeh. Iki lewira, yan ana wong istri mewangsa brahmana, kerangkatang olih wong lanang dudu wangsane, satriya, wesiya, sudra, pilih tunggal kapamitrin, yan wus katon samangkana, teka wenang wangsane wong brahmana ika linebar kulakili, kna manut ring wangsa sang ngamet, yan wus samangkana, janma ika lanang wadon kayogiya kapisisip kakutang kaluaring gumi Bali, nanging kni patunggalan genah, saumure hidup makutang, tan wenang tulak muah.

Inilah paswaraku dari penguasa di Buleleng, yang disampaikan kepada seluruh punggawa. Isinya adalah: bila ada wanita yang berkasta brahmana, diambil istri oleh lelaki yang bukan dari kastanya, satrya, waisya, sudra, dan sudah terbukti dapat digauli, patutlah kasta wanita brahmana itu diturunkan menjadi sama dengan lelaki yang mengawininya. Selanjutnya, pasangan laki-istri itu disalahkan dengan hukuman buang ke luar Bali seumur hidup, tetapi mereka tidak boleh dipisahkan tempatnya. Pasangan itu tidak boleh p**ang lagi ke Bali.””

Berdasarkan penuturan sejarawan Barat, Kron.
Maka hukum yang tadinya di pidana mati, cukup dihukum buang selamanya.
Dari hukum dibuang selamanya, lambat laut diganti hukum buang 6 tahun. Dulu dendanya banyak, kini makin lama makin sedikit.

Lalu apa Respon Orang-Orang Bali ?

Bagi orang orang Bali yang terdidik, modernis, dan berisi golongan jaba (kasta rendah) tergabung dalam Organisasi Suryakanta sepakat apabila sanksi larangan nikah antar kasta itu dihapuskan, jangankah dikurangi dendanya bahkan bila PERLU KASTA DIHAPUS SAJA...Menurut Surya Kanta

Kenapa ?
Menurut Surya Kanta, Kasta itu bukan asli Bali, tapi akibat orang Hindu majapahit menjajah Bali dan memperkenalkan tradisi KASTA. LELUHUR KAMI DULU NGGAK MENGENAL KASTA...

“memang bener bang orang BALI Dulu nggak mengenal kasta?”

Benar
Baca dipostingan ini

Orang Bali asli tak mengenal Kasta, tidak mengenal mengenal pembakaran mayat
https://web.facebook.com/share/p/1CkF4iBFse/



Salah satu Majalah Hindu, Bali Adnyana melontarkan kritik keras ke sesama saudara pribuminya.

“Kalau tuan, juga senang bangsa Tuan bersenang perempuan Brahmana berharga f.1.50, haruslah Tuan juga senang bangsa Tuan berharga 1/6 x F 1.50 sama dengan f 0,375, bukan?”

Intinya menurut Bali Adnyana, kalau hukuman buang selama enam tahun diganti dengan f.150 BERARTI NILAI PEREMPUAN BRAHMANA HANYA SEPERENAM DARI F.150 DALAM SETAHUN. JUMLAH INI DIANGGAP PENGHINAAN KE GOLONGAN BRAHMANA.

Gusti Alit dari Bali Ajnand menulis "Kalau angan-angan itu terlaksana, jumlah orang sudra yang akan mengambil istri yang berasal dari kaum triwangsa rendahan akan bertambah banyak. Hal ini berarti ancaman bagi triwangsa, karena golongan triwangsa rendahan itulah yang paling banyak jumlahnya".

Alhasil berkat lobi-lobi jahat dari Bali Adnyana kepemerintah kolonial, Surya Kantapun dibubarkan.....
Dan menariknya I Nengah Metra, seorang tokoh Pande dari Bratan, Singaraja Tokoh sentral Surya Kanta yang gigih menentang perlakuan yang tidak adil itu, ternyata berjodoh p**a dengan seorang putri brahmana. Al hasil Metra dipindahkan ke Lombok pada tahun 1926.
Menurut Jiwa Atmaja mutasi itu sebenarnya

“adalah pelaksanaan hukum selong secara halus, karena "kesalahannya" mengawini seorang Ida Ayu Putu Mas Mirah dari Griya Mas, Liligundi, Singaraja, kawan seperjuangannya. Pemindahannya ke Lombok oleh Regen Buleleng.”

Gila-gila

Kliwon demi kliwon berlalu.....
Bali sebagai negara merdeka baru resmi mengumumkan
ditetapkan Paswara No. 11/DPRD Bali, tanggal 12 Juli tahun 1951, yang menghapus Paswara tahun 1910, maka secara formal, mempidana pelaku asu pundung dan alangkahi karang hulu dihapus,

sehingga perkawinan antarkasta sudah tidak menjadi halangan lagi.

Tapi apa kemudian sterotip anti kasta sudah hilang ?

Jelantik Sushila menulis, umat Hindú di Bali masih menyenangi bila perkawinannya dilakukan antarwangsa sendiri (endogami), dalam ikatan keluarga yang tidak begitu dekat sampai batas-batas tertentu (Sushila, 1988: 3).

Jelantik Sushila menulis:" Kiranya masih menjadi pandangan masyarakat Hindu di Bali, bahwa perkawinan seorang pria dengan wanita yang kasta/wangsanya lebih tinggi, dianggap JANGGAL.

Walaupun ketentuan adat asu pundung dan alangkahi karang hulu dengan Perda No. 11/DPRD tanggal 12 Juli 1951 telah dihapus" (Sushila, 1988: 4). Hal ini berarti, bahwa secara normatif perkawinan antarkasta tidak dihalanginya, namun secara psikologis, mungkin secara ritual tetap tidak dapat diterima.

ITU BUKAN KATA NGOPIDIYYAH YA.

Adapun pernikahan Aniloma, itu pernikahan jika laki-lakinya dari kasta tinggi sedangkan perempuannya dari kasta rendah.

Pernikahan ini tidak terlalu dimasalahkan. Sebab tidak merusak nasab keturunan karena nasab keturunannya nyambung ke ayahnya bukan ibunya.

Hikmah:
1. Yang memperkenalkan Kasta Pertama Kali Hindu Penjajah Majapahit, Bali asli tak kenal kasta

2. Hukum ini diberlakukan di Bali dan Jawa, bukan India, kamu nggak bisa ngelak.

3. Terimakasih lah sama bule karena udah membuka banyak wawasan bahkan menyelamatkan generasi Hindu yang saling mencintai meski beda kelas ekonomi.

4. Orang Bali baru menutup dadanya
Baru menghapus pidana kejam semenjak Indonesia merdeka.

5. Bersyukur beragama Islam

Baca juga:

“Manak Salah” punya anak kembar di Bali kok dilarang ?

https://www.facebook.com/share/p/199wQ9m7D3/?mibextid=wwXIfr

“Sing Beling Sing Nganten”, Di Bali Hamili Dulu Baru di Nikahi

https://www.facebook.com/share/p/19HucpYngo/?mibextid=wwXIfr

Kenapa Lukisan Bali Wanita Selalu Kerja Keras Tapi Suaminya Malah Sabung Ayam ?

https://www.facebook.com/share/p/1CWNa1Ddcu/?mibextid=wwXIfr

Tak Di Restui, Hindu Bali Legalkan Kawin Culik

https://www.facebook.com/share/p/1F727majiq/?mibextid=wwXIfr

Kenapa Dewa Siwa Telanjang ?Chanel Hindu Berfilsafat 400 K Follower : Kalau Iya Kenapa !emang mereka itu sebenarnya itu ...
25/08/2026

Kenapa Dewa Siwa Telanjang ?

Chanel Hindu Berfilsafat 400 K Follower : Kalau Iya Kenapa !

emang mereka itu sebenarnya itu nggak bisa membantah ngopidiyyah,

Bisanya cuman main filosofi filosofian.

Baca disini: Siwa Dewa Pemabuk, Pengemis dan Nggak Make Baju

https://www.facebook.com/share/1D2emtwqEr/?mibextid=wwXIfr

——

Baca juga halaman Fb Yang berusaha membantah Ngopidiyyah malah mempermalukan dirinya sendiri. Verifikasi dua langkah

Bro kenapa ? Krishna mencuri pakaian gadis:

Lalu dibela dengan filosofi chanel Ajaran Veda:

“Bukankah segala sesuatu pada hakikatnya adalah milik Tuhan? Pakaian, tubuh, alam, bahkan kehidupan manusia semuanya berasal dari-Nya. Maka ketika Tuhan mengambil pakaian para gadis, Dia sebenarnya tidak mengambil sesuatu yang benar-benar milik orang lain; Dia hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal merupakan milik-Nya. Lagi p**a, konsep ‘kepemilikan pribadi’ hanyalah konstruksi manusia.”

(Filosofi Krishna Mencuri Pakaian Gadis 🤪 linknya:

https://www.facebook.com/share/p/1EpXUbn1nF/?mibextid=wwXIfr)

—————

Ngopidiyyah

https://www.facebook.com/share/p/1KVLqgzKyM/?mibextid=wwXIfr

Kenapa Dewa Candra Menculik dan Menghamili Isteri Gurunya ?

Filosofi 🤪
https://www.facebook.com/share/p/19cZZVwkTp/?mibextid=wwXIfr

———-

Ngopidiyyah: Kenapa Hindu Menganggap Sapi lebih mulia dari Ibu ?

https://www.facebook.com/share/p/19YZuCuo6f/?mibextid=wwXIfr

Respon Filosofi 🤪

Filosofi Ibu Sapi Lebih Mulia dari Ibu Kita 🤪

https://www.facebook.com/share/p/1ErLZAJ53z/?mibextid=wwXIfr
———-

Contoh filsafat lain:

“Dia telanjang di tempat umum.”

“Manusia sejak lahir tidak mengenakan pakaian. Tubuh manusia adalah bagian dari alam, bukan sesuatu yang pada dirinya sendiri tercela. Rasa malu terhadap tubuh merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya. Buktinya, setiap budaya memiliki standar berbeda tentang batas ketelanjangan: sesuatu yang dianggap tidak pantas di satu masyarakat belum tentu dianggap demikian di masyarakat lain. Karena itu, ketelanjangan pada dirinya sendiri tidak dapat disebut amoral; yang membuatnya dianggap salah hanyalah norma yang dibentuk masyarakat”

Semua bisa boleh kalau maen filsafat filsafatan
Pantes nama chanelnya filsafat Hindu

😁

BENARKAH MAHABHARATA MEMBUKTIKAN KASTA RENDAH BISA JADI BRAHMANA?Klaim bahwa “kasta bisa berubah” sering dibuktikan deng...
24/08/2026

BENARKAH MAHABHARATA MEMBUKTIKAN KASTA RENDAH BISA JADI BRAHMANA?

Klaim bahwa “kasta bisa berubah” sering dibuktikan dengan kisah Rsi Matanga.

Di media sosial, termasuk channel Facebook Sloka Veda

https://www.facebook.com/share/p/1BiGC1qcAz/

dan beberapa akun Hindu lainnya, Matanga kerap diceritakan sebagai seorang kasta rendah yang bertapa keras, lalu berhasil jadi Brahmana.

Mengapa pembahasan ini penting ?

Sebab kalau seorang Candala bisa jadi Brahmana karena kemampuan dan ketekunannya, maka jelas kasta tidak harus mengikuti kelahiran.

Tapi kalau Matanga ternyata tidak jadi Brahmana, justru ceritanya berbalik: kisah ini malah bisa dipakai untuk menunjukkan bahwa kasta tidak bisa diubah, karena Matanga tetap tidak keluar dari kasta kelahirannya meskipun sudah bertapa keras.

Pertanyaanya Benarkah Matanga adalah “berhasil menjadi Brahmana?”

Kalau kisahnya dibaca secara utuh, jawabannya justru berbeda.

dalam Mahābhārata, Anuśāsana Parva, Adhyāya 27–29.

Matanga lahir dari seorang perempuan Brahmana yang berhubungan badan dengan seorang laki-laki Sudra yang kerja jadi tukang cukur. Karena kedudukannya mengikuti ayahnya, Matanga terlahir jadi Candala.

Tentu dirinya terima d**g, “ibunya saja kasta Brahmana”.

Ia juga ingin status Brahmana juga.

Untuk memperoleh apa yang diinginkannya, Matanga pergi ke hutan dan menjalani tapa yang sangat berat. Ia meninggalkan kenikmatan duniawi dan terus menyiksa dirinya dalam pertapaan.

Pertapaannya begitu dahsyat hingga menarik perhatian Indra, penguasa para dewa.

Indra datang menemuinya dan mempersilakannya meminta sebuah anugerah.

Matanga pun menyampaikan keinginannya.
Ia ingin menjadi Brahmana.

Tetapi Indra tidak mengabulkannya.
Matanga tidak menyerah.
Ia kembali bertapa.

Indra datang lagi.
Matanga kembali meminta hal yang sama.
“Aku ingin menjadi Brahmana.”
Indra kembali menolaknya.

Matanga tetap bertahan. Ia memperkeras pertapaannya. Bahkan pada suatu tahap ia berdiri dengan satu kaki selama seratus tahun.
Namun ketika Indra datang kembali, jawabannya tetap sama.

Kali ini Indra menyampaikan penolakan itu secara sangat tegas:

Sloka 4
चण्डालयोनौ जातेन नावाप्यं वै कथंचन
Caṇḍālayonau jātena nāvāpyam vai kathañcana.
“Seseorang yang lahir dalam kelahiran/rahim Caṇḍāla tidak akan memperoleh Brahmanahood (status Brahmana) dengan cara apa pun.”


Sloka 5
एवमुक्तो मतङ्गस्तु भृशं शोकपरायणः ।
अध्यतिष्ठद् गयां गत्वा सोंऽगुष्ठेन शतं समाः ॥

Setelah mendengar perkataan tersebut, Mataṅga diliputi kesedihan yang mendalam. Ia pergi ke Gayā dan berdiri hanya dengan bertumpu pada ibu jarinya selama seratus tahun.

Tetapi Matanga masih belum menyerah.
Ia kembali bertapa bahkan lebih ekstrim

Indra kembali datang.
Dan kembali menjelaskan bahwa permintaan Matanga tidak mungkin dipenuhi:

मतंग ब्राह्मणत्वं ते विरुद्धमिह दृश्यते ।
ब्राह्मणयं दुर्लभतरं

Mataṅga brāhmaṇatvaṃ te viruddham iha dṛśyate |
brāhmaṇyaṃ durlabhataram.

“Matanga, dalam kehidupan ini, memperoleh status Brahmana bertentangan dengan keadaanmu dan tampaknya tidak mungkin bagimu. Status Brahmana merupakan sesuatu yang sangat sulit diperoleh.” — Mahābhārata, Anuśāsana Parva, Adhyāya 29, Śloka 8

Tetapi Matanga tetap bersikeras.
Indra pergi.
Matanga kembali bertapa.
Indra datang lagi.
Matanga kembali meminta status Brahmana.
Indra kembali menolaknya.
Berkali-kali.
Jadi, alur kisahnya bukan:
Caṇḍāla → tapa → menjadi Brahmana.
Melainkan:
Caṇḍāla → ingin menjadi Brahmana → tapa → Indra datang → meminta Brahmanahood → ditolak → tapa lagi → ditolak lagi → dan terus demikian.

Sampai akhirnya datanglah pertemuan terakhir.
Pada saat itu Matanga tidak lagi meminta status Brahmana.
Ia akhirnya meminta anugerah lain:

Śloka 22–23
यथा कामविहारी स्यां कामरूपी विहङ्गमः ॥
ब्रह्मक्षत्राविरोधेन पूजां च प्राप्नुयामहम् ।
यथा ममाक्षया कीर्तिर्भवेच्चापि पुरंदर ॥
कर्तुमर्हसि तद् देव शिरसा त्वां प्रसादये ॥

Matanga berkata:

“Wahai Purandara, berilah aku anugerah agar aku dapat terbang ke mana pun sesuka hatiku, dan mengambil bentuk apa pun yang kuinginkan.
Aku ingin dihormati di mana pun aku berada, tanpa pertentangan dengan kaum Brahmana dan Kṣatriya. Aku juga memohon agar namaku dikenang dengan kemasyhuran yang tak pernah berakhir.
Wahai Deva, kiranya engkau mengabulkan permohonanku ini. Aku menundukkan kepala di hadapanmu dan memohon kemurahan hatimu.”

Dan kali ini Indra mengabulkan permintaannya.
Indra berkata:

Śloka 24

छन्दोदेव इति ख्यातः स्त्रीणां पूज्यो भविष्यसि ॥
कीर्तिश्च तेऽतुला वत्स त्रिषु लोकेषु यास्यति ॥

“Anakku, engkau akan dikenal dengan nama Chandodeva dan akan menjadi sosok yang dihormati oleh kaum perempuan. Namamu akan masyhur tanpa tanding, dan kemasyhuranmu akan tersebar ke seluruh tiga dunia.”

Śloka 25

एवं तस्मै वरं दत्त्वा वासवोऽन्तरधीयत ॥
प्राणांस्त्यक्त्वा मतङ्गोऽपि सम्प्राप्तः स्थानमुत्तमम् ॥

“Setelah menganugerahkan hal itu kepadanya, Vāsava pun menghilang. Mataṅga kemudian meninggalkan kehidupan duniawinya dan mencapai kedudukan yang tinggi.”

Śloka 26

एवमेतत् परं स्थानं ब्राह्मण्यं नाम भारत ।
तच्च दुष्प्रापमिह वै महेन्द्रवचनं यथा ॥

Evam etat paraṃ sthānaṃ brāhmaṇyaṃ nāma Bhārata,
tac ca duṣprāpam iha vai Mahendravacanaṃ yathā.

“Demikianlah, wahai Bhārata, Kasta Brahmana merupakan kedudukan yang paling tinggi. Namun, sebagaimana telah dikatakan oleh Mahendra, kedudukan itu sangat sulit dicapai dalam kehidupan ini.”


Apa hikmahnya?
Sesuai dengan perkataan Dewa Indra bahwa:

चण्डालयोनौ जातेन नावाप्यं वै कथंचन

“Seseorang yang lahir dalam kelahiran/rahim Caṇḍāla tidak akan memperoleh status Brahmana dengan cara apa pun.”

Ingat, cara apapun…
Mau kamu nggak nikah..
Mau kamu puasa sampe mati…

Kalau sudra ya sudra…
Dan Matanga memang faktanya tidak memperoleh gelar Brahmana.

itu Yang Ngomong Dewa Indra
Ini Dewa Cok….

Akhirnya Indra hanya memberikan gelar kehormatan, Ia diberi nama Chandodeva, dihormati oleh kaum perempuan, dan terkenal di tiga dunia.


karena Matanga telah menunjukkan ketekunan dan tapa yang luar biasa.

Jadi, dalam kisah ini, Matanga TIDAK JADI BRAHMANA

Dan Mahābhārata menegaskan:
Śloka 26

एवमेतत् परं स्थानं ब्राह्मण्यं नाम भारत ।
तच्च दुष्प्रापमिह वै महेन्द्रवचनं यथा ॥

Evam etat paraṃ sthānaṃ brāhmaṇyaṃ nāma Bhārata,
tac ca duṣprāpam iha vai Mahendravacanaṃ yathā.

“Demikianlah, wahai Bhārata, Kasta Brahmana merupakan kedudukan yang paling tinggi. Namun, sebagaimana telah dikatakan oleh Mahendra, kedudukan itu sangat sulit dicapai dalam kehidupan ini.”


Karena itu, kisah Matanga tidak tepat jika diringkas menjadi:

“Matanga adalah Caṇḍāla yang bertapa lalu menjadi Brahmana.”

Sebab yang terjadi justru sebaliknya.
Ia lahir sebagai Caṇḍāla.
Ia ingin menjadi Brahmana.
Ia melakukan tapa yang sangat berat.
Indra datang berkali-kali.
Setiap kali Matanga meminta Brahmanahood, Indra menolaknya.

Bagaimana Hoaks “Matanga Menjadi Brahmana” Kemudian Muncul?

Dalangnya adalah Swami Dayananda Saraswati tokoh Hindu Revolusionis Modern.

Ingat, tokoh Modern ya.
Revolusionis.
melalui karya Satyārtha Prakāśa.
Dalam Caturtha Samullāsa,

terdapat jawaban Dayananda atas pertanyaan apakah anak dari orang tua yang berasal dari varṇa berbeda dapat menjadi Brahmana.

Karena zaman semakin modern masyarakat makin banyak yang kritis.

Ia menjawab bahwa hal itu pernah terjadi dan memberi beberapa contoh, salah satunya Matanga:

“छान्दोग्य उपनिषद् में जाबाल ऋषि अज्ञातकुल, महाभारत में विश्वामित्र क्षत्रिय वर्ण और मातङ्ग ऋषि चाण्डाल कुल से ब्राह्मण हो गये थे।”

“Dalam Chāndogya Upaniṣad, ṛṣi Jābāla dari keluarga yang tidak diketahui; dalam Mahābhārata, Viśvāmitra dari varṇa Kṣatriya; dan ṛṣi Mataṅga dari keluarga Caṇḍāla menjadi Brahmana.”

Akhirnya kebohongan Dayanand ini dicopas dimana-mana deh sampelah ke akun “ajaran veda” dan jadi status fb.

Nah, Untuk mendukung pernyataan itu, dalam edisi Satyarth Prakash Arya Samaj Shatabdi Selanjutnya yang diterbitkan Ram Lal Kapoor Trust, halaman 141,

para editor pengikutnya mencantumkan sebuah śloka dari Mahābhārata, Anuśāsana Parva (3/19)

sebagai catatan kaki dibukunya Dayanand,
“INI LOH DALIL NYA”

tetapi TETAPI TIDAK MEMBERI TERJEMAHAN:

स्थाने मातंगो ब्राह्मण्यमलभद् भरतर्षभ ।
चण्डालयोनौ जातो हि कथं ब्राह्मण्यमवाप्तवान् ॥

Upaya serupa juga ditemukan dalam edisi standar Satyarth Prakash yang diterbitkan Śrīmad Dayananda Satyārtha Prakāśa Nyāsa.

Dalam bagian catatan khusus, halaman 27, ketika membahas kisah Ṛṣi Mataṅga, mereka kembali mencantumkan śloka tersebut TANPA TERJEMAHAN:

स्थाने मतंगो ब्राह्मण्यमलभद् भरतर्षभ ।
चण्डालयोनौ जातो हि कथं ब्राह्मण्यमवाप्तवान् ॥
— Mahābhārata, Anuśāsana Parva (3/19)

PEMALSUAN TEKS ini kemudian dilakukan penulis-penulis setelahnya.


DIMANA LETAK PEMASULANNYA ?
1. TIDAK MENERJEMAHKAN
2. DAN MENAMBAHI “SATU KATA” YANG MAKNANYA BERUBAH
3. MENGHAPUS KONTEKS AYAT


Pertama, kutipan itu tidak diberi terjemahan. Pembaca hanya disuguhi teks Sanskerta dan diberi tahu “ITULOH itu bukti Matanga menjadi Brahmana, ADA DI MAHABHARATA”.

Yang tidak bisa membaca Sanskerta tentu saja akan percaya begitu saja—dan akhirnya dibodohi oleh kutipan yang tidak bisa ia periksa sendiri.

Kedua, terdapat perubahan pada teks yang dikutip. Bentuk yang ditampilkan adalah:

स्थाने मतंगो ब्राह्मण्यमलभद् भरतर्षभ ।
Sthāne mataṅgo brāhmaṇyam alabhad bharatarṣabha.

Bagian pentingnya:

मतंगो ब्राह्मण्यमलभद्
Mataṅgo brāhmaṇyam alabhad

yang berarti:
“Mataṅga memperoleh Brahmanatva.”

Namun dalam bacaan lengkap terdapat kata न (na):

स्थाने मतंगो ब्राह्मण्यं नालभद् भरतर्षभ ।

Sthāne mataṅgo brāhmaṇyaṃ nālabhad bharatarṣabha.

Sehingga maknanya menjadi:

“Mataṅga tidak memperoleh Brahmanatva.”

Jadi, kata न (na), yang berarti “tidak”, adalah bagian yang menentukan arah kalimat. Tanpanya, makna yang muncul adalah “memperoleh”; dengan adanya kata tersebut, maknanya menjadi “tidak memperoleh”.

Lebih jauh, ayat itu juga dipisahkan dari konteksnya. Kalau baca teks lengkapnya,

kalimat itu asalnya pertanyaan Yudhiṣṭhira

स्थाने मतंगो ब्राह्मण्यं नालभद् भरतर्षभ ।
चण्डालयोनौ जातो हि कथं ब्राह्मण्यमवाप्तवान् ॥

Sthāne mataṅgo brāhmaṇyaṃ nālabhad
bharatarṣabha,
caṇḍālayonau jāto hi kathaṃ brāhmaṇyam avāptavān.

“Wahai yang terbaik di antara keturunan Bharata, (Maksudnya Bisma)

memang sudah sewajarnya Mataṅga TIDAK MEMPEROLEH Brahmanatva, sebab ia lahir dalam kelahiran Caṇḍāla. Namun, bagaimana mungkin Viśvāmitra memperoleh Brahmanatva?” Mahābhārata beserta terjemahannya, Terbitan Gītā Press Gorakhpur, hlm. 5439,:

Maka persoalannya menjadi terang: yang dibicarakan bukan keberhasilan Mataṅga, melainkan ketidakberhasilannya.

Itu kata Yudistira Pandawa dan di Jawab oleh Maharsi Bisma.

Ya Kali Perkataan Indra,
Yudisitra
dan Bisma
sudah jelas jelas Matanga bukan Brahamana kok malah kamu katakan dia Brahamana.

Pertanyaanku sederhana sih, sebenarnya chanel ajaran Weda ini baca nggak sih kitab sucinya hehe ?

——-

Kasta Hindu Di Dasarkan Kelahiran Bukan Kemampuan

https://www.facebook.com/share/p/1DPpogj5Hu/?mibextid=wwXIfr

Valmiki Penulis Ramayana Bukan Keturunan Rampok

https://www.facebook.com/share/p/1BjfVCsN7a/?mibextid=wwXIfr

Address

Kusuma Bangsa
Surabaya
60136

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ngopidiyyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category