01/02/2026
"Kamu wangi banget malam ini, Ra. Pakai parfum apa sih?"
Elang merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Lira dari belakang. Mereka sedang berdiri di tepi pagar pembatas sebuah rooftop gedung tua yang sudah lama tidak terpakai, tempat rahasia yang selalu mereka datangi kalau ingin menjauh dari kebisingan kota. Di bawah sana, kelap-kelip lampu kota tampak seperti hamparan berlian yang tumpah, namun bagi Elang, pemandangan di depannya jauh lebih berharga.
Lira sedikit mendongak, menyandarkan punggung sepenuhnya ke dada bidang Elang. Dia membiarkan cowok itu membenamkan wajah di ceruk lehernya. "Nggak pakai apa-apa, Elang. Cuma sabun bayi sama sampo yang biasanya saja."
"Masa sih? Kok beda ya. Rasanya kayak vanila, manis, bikin aku nggak mau lepas," bisik Elang. Suaranya rendah dan serak, beradu dengan deru angin malam yang menyapu rambut kecokelatan Lira.
Elang menghirup napas dalam-dalam, menyesap aroma khas yang menguar dari kulit leher Lira yang halus. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Lira menjalar melalui sweter rajut tipis yang dikenakan gadis itu, menembus jaket denimnya sendiri. Pelukannya mengencang, seolah-olah sedang memastikan bahwa Lira benar-benar ada di sana, dalam dekapannya.
"Geli, Lang. Jangan ditiup-tiup gitu, ih" protes Lira sambil terkekeh kecil, namun dia sama sekali tidak berusaha menjauh. Justru, dia menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Elang yang masih melingkar di perutnya.
"Ra, coba lihat ke depan," kata Elang pelan, dagunya bertumpu di bahu Lira. "Dua tahun ya kita lewatin semuanya. Dari kamu yang juteknya minta ampun pas aku deketin di kantin, sampai sekarang kamu jadi orang paling cerewet yang aku punya."
Lira tersenyum, jemarinya mengusap punggung tangan Elang dengan lembut. "Aku nggak jutek ya, aku cuma lagi fokus makan bakso waktu itu. Kamu saja yang datang-datang langsung minta nomor WhatsApp kayak penagih utang. Mana maksa lagi."
"Tapi berhasil kan?" kekeh Elang mengingat momen memalukan sekaligus menegangkan baginya tersebut. "Buktinya sekarang kamu di sini, ngerayain anniversary kedua sama aku."
Suasana mendadak hening sejenak, hanya menyisakan suara angin dan sayup-sayup klakson dari kejauhan. Elang memutar tubuh Lira agar mereka bisa saling berhadapan. Di bawah cahaya rembulan yang menggantung, wajah Lira tampak begitu tenang namun ada binar yang sulit dijelaskan di matanya. Elang merapikan anak rambut yang menutupi dahi Lira, membelai p**inya yang terasa dingin karena udara malam.
"Ra, aku serius soal yang tadi di mobil. Soal rencana kita nanti," ujar Elang, suaranya kini terdengar lebih bersungguh-sungguh.
"Rencana yang mana? Yang mau jualan martabak di depan kampus?" gurau Lira, mencoba bercanda untuk menutupi kegugupannya.
Elang ikut tertawa kecil. Dia menatap mata Lira dalam-dalam, mencari kepastian di sana. "Rencana kuliah kita. Aku sudah lihat-lihat jurusan Arsitektur di universitas yang sama dengan kamu. Kalau kamu ambil Kedokteran di sana, aku bakal ambil gedung di sebelahnya. Jadi setiap jam makan siang, aku bisa jemput kamu. Kita nggak perlu takut jarak, Ra. Aku mau kita tetap bareng-bereng."
Lira terdiam cukup lama. Dia menatap kancing kemeja Elang, menghindari kontak mata.
"Itu jauh banget lho, Lang. Kamu yakin Papa kamu bakal izinin? Dia kan mau kamu bantu di kantornya nanti."
"Papa pasti ngerti. Selama ini aku selalu nurut kan? Sekali ini saja aku mau egois buat masa depan aku sendiri. Masa depan yang ada kamunya di dalamnya. Kamu mau kan janji sama aku? Kita bakal terus bareng, lewat masa-masa kuliah yang katanya berat itu, sampai nanti kita benar-benar siap buat jenjang yang lebih serius."
Elang meraih tangan Lira, lalu mengecup telapak tangannya dengan lembut. Sentuhan itu terasa lama dan penuh perasaan, membuat Lira sedikit gemetar. Elang bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu cepat, sama kencangnya dengan perasaan posesif yang mulai tumbuh di dadanya. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa aroma vanila ini di sisinya.
"Janji ya, jangan pernah tinggalkan aku? Apa pun yang terjadi nanti," desak Elang lagi.
Lira mengangkat wajahnya, menatap Elang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia kemudian tersenyum, meski senyumnya tidak selebar biasanya. "Kamu sayang banget ya sama aku?"
"Pertanyaan macam apa itu? Kalau nggak sayang, aku nggak bakal mau berdiri kedinginan di atas sini cuma buat kasih ini," jawab Elang sambil merogoh saku jaketnya.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun. Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran mungil berkilau tertimpa cahaya lampu kota. Elang mengambil cincin itu, lalu menyematkannya di jari manis Lira. Cincin itu pas sekali, melingkar cantik di jari Lira yang lentur.
"Ini bukan cincin tunangan yang mewah, Ra. Tapi ini pengikat. Supaya cowok-cowok di luar sana tahu kalau Lira itu sudah ada yang punya. Nanti kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku ganti sama yang berlian," kata Elang dengan nada bangga.
Lira menatap cincin itu, lalu kembali menatap Elang. Dia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memeluk leher Elang dengan erat. Elang sempat terkejut, namun segera membalas pelukan itu tak kalah erat.
Pun ketika Lira lantas menempelkan bibir ke bibirnya. Awalnya Elang terkejut dengan keberanian Lira, tetapi buru-buru dia menornalkan kembali rasa terkekutnya. Tentu saja dia tidak mau melewatkan momen langka seperti ini. Demi apapun bibir Lira sudah menjadi candu untuknya. Begitu manis dan ... menggetarkan jiwa.
Tangan Elang menelusup si leher belakang Lira, menekan tengkuk gadisnya itu untuk memperdalam ciumannya. Dan begitu Lira memberinya celah dengan membuka sedikit bibirnya, Elang dengan secepat kilat melumat dan melilit lidah Lira dengan lidahnya. Ini adalah ciuman kedua mereka, lebih dalam dan menuntut.
"Lang... stop please...." Napas Lira tersenggal-senggal tetapi Elang seolah tak perduli.
Kemudian dirasa sudah benar-benar puas, Elang barulah melepas pagutannya. Menempelkan keningnya ke kening Lira yang sedang menghirup oksigen dengan rakusnya.
"Kamu mau bunuh aku, Lang. Dasar dikasih hati mintanya jantung. Enggak lagi lagi deh, hyper banget kamunya," dumel Lira masih berusaha menornalkan kembali pernapasannya.
"Habis enak banget, Ra."
Elang lantas menenggelamkan wajahnya di bahu Lira, merasakan napas gadis itu yang terasa hangat di lehernya.
"Makasih, Ra, yang tadi itu enggak akan pernah bisa aku lupakan. Tapi kalau boleh request lain kali...."
"Enggak ada lain kali ya, Elang. Sudah kapok aku, nyaris nyawaku melayang kamu buat."
Elang semakin menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Lira. Sebenarnya dia sedang berusaha untuk menutupi sesuatu di dalam dirinya yang sudah menegang. Rasanya sungguh sesak, ingin keluar tetapi belum waktunya. Dia tidak akan melakukannya tanpa persetujuan dari Lira, yang sangat mustahil memberinya izin.
"Sudah malam, ayo kuantar pulang."
Lira menganguk, lalu melepaskan diri dari pelukan Elang. Menatap mata Elang yang selalu menatapnya dengan binar cinta yang luar biasa. Bersama Elang dia merasa sangat dicintai, dan dilindungi.
"Makasih ya, Elang. Makasih buat semuanya. Kamu memang cowok paling baik yang pernah aku kenal," bisik Lira pelan.
Elang ikut melepaskan pelukan itu sedikit, tangannya kini berada di pinggang Lira, sementara tangan Lira masih mengalung di lehernya. Jarak mereka begitu dekat, hingga napas mereka saling bersinggungan. Elang menatap bibir Lira yang sedikit terbuka, lalu beralih kembali ke matanya yang indah.
"Aku cuma mau jadi yang terbaik buat kamu, Ra," gumam Elang.
Perlahan, Elang mendekatkan wajahnya. Lira tidak menghindar, justru dia sedikit memejamkan matanya, memberikan izin tersirat bagi Elang. Saat bibir mereka bertemu kembali, dunia seolah berhenti berputar. Ciuman itu terasa sangat manis dan penuh kerinduan, sebuah perayaan atas dua tahun yang telah mereka lalui bersama. Elang bisa merasakan rasa manis di bibir Lira, serta kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa seolah dialah pria paling beruntung di dunia malam ini.
Tangan Elang yang berada di pinggang Lira bergerak perlahan, mengusap punggung gadis itu, mencoba meresapi setiap detik kebersamaan mereka. Dia ingin waktu berhenti di sini, di atas gedung ini, di mana hanya ada dia, Lira, dan janji-janji masa depan yang baru saja mereka rangkai.
"Aku sayang kamu, Lira. Lebih dari yang kamu tahu," bisik Elang setelah melepaskan ciumannya.
Lira tidak membalas ucapan itu. Dia justru melepaskan kalungan tangannya dari leher Elang. Gadis itu mundur satu langkah, membuat jarak yang tiba-tiba terasa begitu asing. Dia menatap jari manisnya, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, dia menarik cincin perak itu hingga terlepas.
"Lang, aku nggak bisa simpan ini."
Elang mengerutkan kening, mencoba mencari sisa-sisa candaan di wajah Lira. "Maksudnya? Kamu nggak s**a modelnya? Besok kita tukar ya?"
Lira menggeleng. Dia meraih tangan kanan Elang, lalu meletakkan cincin itu di atas telapak tangan cowok itu. Tatapannya yang tadi hangat, kini mendadak berubah menjadi sangat dingin dan datar.
"Aku mau kita selesai sekarang. Aku mau fokus ujian dan pacaran sama kamu cuma buang-buang waktu buat masa depanku. Kita putus, Elang."
Judul : Ganteng Tapi Maniak
Penulis : Oryza Sativa
Baca di Fizzo