Ayu Shinta

Ayu Shinta kreator digital

"Kamu wangi banget malam ini, Ra. Pakai parfum apa sih?"Elang merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di pingg...
01/02/2026

"Kamu wangi banget malam ini, Ra. Pakai parfum apa sih?"

Elang merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Lira dari belakang. Mereka sedang berdiri di tepi pagar pembatas sebuah rooftop gedung tua yang sudah lama tidak terpakai, tempat rahasia yang selalu mereka datangi kalau ingin menjauh dari kebisingan kota. Di bawah sana, kelap-kelip lampu kota tampak seperti hamparan berlian yang tumpah, namun bagi Elang, pemandangan di depannya jauh lebih berharga.

Lira sedikit mendongak, menyandarkan punggung sepenuhnya ke dada bidang Elang. Dia membiarkan cowok itu membenamkan wajah di ceruk lehernya. "Nggak pakai apa-apa, Elang. Cuma sabun bayi sama sampo yang biasanya saja."

"Masa sih? Kok beda ya. Rasanya kayak vanila, manis, bikin aku nggak mau lepas," bisik Elang. Suaranya rendah dan serak, beradu dengan deru angin malam yang menyapu rambut kecokelatan Lira.

Elang menghirup napas dalam-dalam, menyesap aroma khas yang menguar dari kulit leher Lira yang halus. Dia bisa merasakan kehangatan tubuh Lira menjalar melalui sweter rajut tipis yang dikenakan gadis itu, menembus jaket denimnya sendiri. Pelukannya mengencang, seolah-olah sedang memastikan bahwa Lira benar-benar ada di sana, dalam dekapannya.

"Geli, Lang. Jangan ditiup-tiup gitu, ih" protes Lira sambil terkekeh kecil, namun dia sama sekali tidak berusaha menjauh. Justru, dia menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Elang yang masih melingkar di perutnya.

"Ra, coba lihat ke depan," kata Elang pelan, dagunya bertumpu di bahu Lira. "Dua tahun ya kita lewatin semuanya. Dari kamu yang juteknya minta ampun pas aku deketin di kantin, sampai sekarang kamu jadi orang paling cerewet yang aku punya."

Lira tersenyum, jemarinya mengusap punggung tangan Elang dengan lembut. "Aku nggak jutek ya, aku cuma lagi fokus makan bakso waktu itu. Kamu saja yang datang-datang langsung minta nomor WhatsApp kayak penagih utang. Mana maksa lagi."

"Tapi berhasil kan?" kekeh Elang mengingat momen memalukan sekaligus menegangkan baginya tersebut. "Buktinya sekarang kamu di sini, ngerayain anniversary kedua sama aku."

Suasana mendadak hening sejenak, hanya menyisakan suara angin dan sayup-sayup klakson dari kejauhan. Elang memutar tubuh Lira agar mereka bisa saling berhadapan. Di bawah cahaya rembulan yang menggantung, wajah Lira tampak begitu tenang namun ada binar yang sulit dijelaskan di matanya. Elang merapikan anak rambut yang menutupi dahi Lira, membelai p**inya yang terasa dingin karena udara malam.

"Ra, aku serius soal yang tadi di mobil. Soal rencana kita nanti," ujar Elang, suaranya kini terdengar lebih bersungguh-sungguh.

"Rencana yang mana? Yang mau jualan martabak di depan kampus?" gurau Lira, mencoba bercanda untuk menutupi kegugupannya.

Elang ikut tertawa kecil. Dia menatap mata Lira dalam-dalam, mencari kepastian di sana. "Rencana kuliah kita. Aku sudah lihat-lihat jurusan Arsitektur di universitas yang sama dengan kamu. Kalau kamu ambil Kedokteran di sana, aku bakal ambil gedung di sebelahnya. Jadi setiap jam makan siang, aku bisa jemput kamu. Kita nggak perlu takut jarak, Ra. Aku mau kita tetap bareng-bereng."

Lira terdiam cukup lama. Dia menatap kancing kemeja Elang, menghindari kontak mata.

"Itu jauh banget lho, Lang. Kamu yakin Papa kamu bakal izinin? Dia kan mau kamu bantu di kantornya nanti."

"Papa pasti ngerti. Selama ini aku selalu nurut kan? Sekali ini saja aku mau egois buat masa depan aku sendiri. Masa depan yang ada kamunya di dalamnya. Kamu mau kan janji sama aku? Kita bakal terus bareng, lewat masa-masa kuliah yang katanya berat itu, sampai nanti kita benar-benar siap buat jenjang yang lebih serius."

Elang meraih tangan Lira, lalu mengecup telapak tangannya dengan lembut. Sentuhan itu terasa lama dan penuh perasaan, membuat Lira sedikit gemetar. Elang bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu cepat, sama kencangnya dengan perasaan posesif yang mulai tumbuh di dadanya. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa aroma vanila ini di sisinya.

"Janji ya, jangan pernah tinggalkan aku? Apa pun yang terjadi nanti," desak Elang lagi.

Lira mengangkat wajahnya, menatap Elang dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia kemudian tersenyum, meski senyumnya tidak selebar biasanya. "Kamu sayang banget ya sama aku?"

"Pertanyaan macam apa itu? Kalau nggak sayang, aku nggak bakal mau berdiri kedinginan di atas sini cuma buat kasih ini," jawab Elang sambil merogoh saku jaketnya.

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah marun. Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran mungil berkilau tertimpa cahaya lampu kota. Elang mengambil cincin itu, lalu menyematkannya di jari manis Lira. Cincin itu pas sekali, melingkar cantik di jari Lira yang lentur.

"Ini bukan cincin tunangan yang mewah, Ra. Tapi ini pengikat. Supaya cowok-cowok di luar sana tahu kalau Lira itu sudah ada yang punya. Nanti kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku ganti sama yang berlian," kata Elang dengan nada bangga.

Lira menatap cincin itu, lalu kembali menatap Elang. Dia tiba-tiba memajukan tubuhnya, memeluk leher Elang dengan erat. Elang sempat terkejut, namun segera membalas pelukan itu tak kalah erat.

Pun ketika Lira lantas menempelkan bibir ke bibirnya. Awalnya Elang terkejut dengan keberanian Lira, tetapi buru-buru dia menornalkan kembali rasa terkekutnya. Tentu saja dia tidak mau melewatkan momen langka seperti ini. Demi apapun bibir Lira sudah menjadi candu untuknya. Begitu manis dan ... menggetarkan jiwa.

Tangan Elang menelusup si leher belakang Lira, menekan tengkuk gadisnya itu untuk memperdalam ciumannya. Dan begitu Lira memberinya celah dengan membuka sedikit bibirnya, Elang dengan secepat kilat melumat dan melilit lidah Lira dengan lidahnya. Ini adalah ciuman kedua mereka, lebih dalam dan menuntut.

"Lang... stop please...." Napas Lira tersenggal-senggal tetapi Elang seolah tak perduli.

Kemudian dirasa sudah benar-benar puas, Elang barulah melepas pagutannya. Menempelkan keningnya ke kening Lira yang sedang menghirup oksigen dengan rakusnya.

"Kamu mau bunuh aku, Lang. Dasar dikasih hati mintanya jantung. Enggak lagi lagi deh, hyper banget kamunya," dumel Lira masih berusaha menornalkan kembali pernapasannya.

"Habis enak banget, Ra."

Elang lantas menenggelamkan wajahnya di bahu Lira, merasakan napas gadis itu yang terasa hangat di lehernya.

"Makasih, Ra, yang tadi itu enggak akan pernah bisa aku lupakan. Tapi kalau boleh request lain kali...."

"Enggak ada lain kali ya, Elang. Sudah kapok aku, nyaris nyawaku melayang kamu buat."

Elang semakin menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Lira. Sebenarnya dia sedang berusaha untuk menutupi sesuatu di dalam dirinya yang sudah menegang. Rasanya sungguh sesak, ingin keluar tetapi belum waktunya. Dia tidak akan melakukannya tanpa persetujuan dari Lira, yang sangat mustahil memberinya izin.

"Sudah malam, ayo kuantar pulang."

Lira menganguk, lalu melepaskan diri dari pelukan Elang. Menatap mata Elang yang selalu menatapnya dengan binar cinta yang luar biasa. Bersama Elang dia merasa sangat dicintai, dan dilindungi.

"Makasih ya, Elang. Makasih buat semuanya. Kamu memang cowok paling baik yang pernah aku kenal," bisik Lira pelan.

Elang ikut melepaskan pelukan itu sedikit, tangannya kini berada di pinggang Lira, sementara tangan Lira masih mengalung di lehernya. Jarak mereka begitu dekat, hingga napas mereka saling bersinggungan. Elang menatap bibir Lira yang sedikit terbuka, lalu beralih kembali ke matanya yang indah.

"Aku cuma mau jadi yang terbaik buat kamu, Ra," gumam Elang.

Perlahan, Elang mendekatkan wajahnya. Lira tidak menghindar, justru dia sedikit memejamkan matanya, memberikan izin tersirat bagi Elang. Saat bibir mereka bertemu kembali, dunia seolah berhenti berputar. Ciuman itu terasa sangat manis dan penuh kerinduan, sebuah perayaan atas dua tahun yang telah mereka lalui bersama. Elang bisa merasakan rasa manis di bibir Lira, serta kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa seolah dialah pria paling beruntung di dunia malam ini.

Tangan Elang yang berada di pinggang Lira bergerak perlahan, mengusap punggung gadis itu, mencoba meresapi setiap detik kebersamaan mereka. Dia ingin waktu berhenti di sini, di atas gedung ini, di mana hanya ada dia, Lira, dan janji-janji masa depan yang baru saja mereka rangkai.

"Aku sayang kamu, Lira. Lebih dari yang kamu tahu," bisik Elang setelah melepaskan ciumannya.

Lira tidak membalas ucapan itu. Dia justru melepaskan kalungan tangannya dari leher Elang. Gadis itu mundur satu langkah, membuat jarak yang tiba-tiba terasa begitu asing. Dia menatap jari manisnya, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, dia menarik cincin perak itu hingga terlepas.

"Lang, aku nggak bisa simpan ini."

Elang mengerutkan kening, mencoba mencari sisa-sisa candaan di wajah Lira. "Maksudnya? Kamu nggak s**a modelnya? Besok kita tukar ya?"

Lira menggeleng. Dia meraih tangan kanan Elang, lalu meletakkan cincin itu di atas telapak tangan cowok itu. Tatapannya yang tadi hangat, kini mendadak berubah menjadi sangat dingin dan datar.

"Aku mau kita selesai sekarang. Aku mau fokus ujian dan pacaran sama kamu cuma buang-buang waktu buat masa depanku. Kita putus, Elang."

Judul : Ganteng Tapi Maniak
Penulis : Oryza Sativa
Baca di Fizzo

Kisah Viral KBM
15/01/2026

Kisah Viral KBM


149 s**a, 17 komentar. "Just Spoiler guys! "Kenapa?" Bukan menjawab, Sabia malah memejamkan mata. Mendadak dia gelisah, dalam hati berusaha menenangkan diri agar tidak berlari saat itu juga. Mengingat pertemuan terakhirnya dengan lelaki ini tidak berakhir baik. Dalam hati merutuk, dari sekian juta m...

Baca selengkapnya di
15/01/2026

Baca selengkapnya di

Lihat postingan Pejuang Kata.

Tok tok tok!"Pengadilan Agama memutuskan, mengabulkan gugatan cerai antara Arsena Nadhifa dan Samudra Biru. Dengan demik...
12/11/2025

Tok tok tok!

"Pengadilan Agama memutuskan, mengabulkan gugatan cerai antara Arsena Nadhifa dan Samudra Biru. Dengan demikian, per tanggal hari ini, hubungan pernikahan keduanya secara hukum dinyatakan berakhir."

Waktu seolah berhenti.

Arsena menundukkan kepala, menahan sesak di dada yang terasa menghimpit. Matanya kosong, tapi air matanya tak mampu turun. Bukan karena dia tak ingin memangisi nasib tragis pernikahannya, akan tetapi dia sudah terlalu lelah untuk menangis. Air matanya seolah telah habis, hingga saat seperti ini hanya tatapan kosong yang mampu Sena perlihatkan.

Sementara itu di pihak lelaki, Biru mulai berdiri pelan, melirik ke arah wanita yang selama dua tahun ini menjadi istrinya. Bibirnya ingin bergerak, menyapa, menahan, atau setidaknya mengucapkan kata maaf. Tapi suaranya hilang. Ia hanya mampu menatap punggung Arsena yang berjalan menjauh dengan sorot yang tak bisa diungkapkan.

Sesaat sebelum pintu ruang sidang tertutup, Arsena sempat menoleh. Tatapan mereka betemu, tak ada senyum. Tapi dalam satu tatapan itu, ada serpihan luka yang tak sempat mereka bicarakan. Ada rindu yang tak akan pernah ditunaikan. Dan ada cinta yang, meski masih hangat, harus mati hari itu juga.

'Terimakasih waktu dua tahunnya, Mas.' Ucapnya dalam hati, sambil menahan sesak di dadanya.

'Setidaknya aku pernah merasakan menjadi seorang istri, meski tak sempurna karena tidak bisa memberikanmu keturunan.'

Tes!

Barulah air mata itu turun dan mulai mengalir, akan tetapi buru-buru Sena usap.

'Aku menyerah, Mas. Semoga Mas bisa bahagia dengannya, yang Mas anggap wanita sempurna dan bisa memberikan keturunan. Tidak sepertiku yang dia anggap mandul dan tidak sepantasnya menjadi istri Mas Biru.!

Semua telah berakhir sekarang, dia bukan lagi seorang istri. Tapi janda yang banyak cela. Sungguh ironi, pernikahan yang baru berumur dua tahun harus kandas. Sena berusaha tegar, siring langkah tegapnya keluar dari ruangan pesakitan. Di luar, nampaknya sudah ada yang menunggu Sena. Dia adalah Nisya dan Yasa, dua sahabat terbaik yang Sena miliki.

Sena menubruk tubuh sahabat perempuannya itu, begitu keluar dari ruang persidangan. Seketika tangisnya pecah dalam pelukan sang sahabat yang hari ini meluangkan waktu untuk turut menyaksikan detik-detik terakhirnya menjadi seorang istri.

"Nis, sekarang aku bukan seorang istri lagi. Lalu, setelah ini aku harus apa?" lirih Sena dengan suara yang bergetar.

"Aku sudah benar-benar berakhir, Nis, Mas Biru telah menceraikanku. Menjadikanku seorang janda yang nggak bisa punya anak."

"Hei... kenapa harus berkata seperti itu? Percayalah perpisahan bukan akhir dari segalanya, Sena. Hidupmu tidak akan berhenti hanya karena kamu bukan seorang istri lagi. Teruslah melangkah karena aku yakin di depan sana akan ada banyak kebahagiaan yang menanti," ujar Nisya menguatkan Sena yang hari ini sedang dirundung duka bernama perceraian.

Sena mencoba tegar dan tetap memberikan senyum keterpaksaan. Meski dalam hatinya penuh ketersiksaan.

"A-aku enggak sanggup, Nis, rasanya sakit sekali," ucapnya sambil terisak pilu.

"Bisa, ada aku dan mereka semua. Lihatlah kamu tidak sendiri, kami akan selalu ada untukmu."

Dia peluk raga tanpa daya itu dengan dekapan erat, sebagai sosok sahabat yang akan selalu mendampingi dalam keadaan apapun itu.

"Sena." Panggilan itu membuat Sena mendongak, menatap pria yang juga merupakan teman baiknya.

Pria itu merentangkan kedua tangan, meminta untuk Sena mendatanginya. Dan setelahnya dia dekap dengan sangat erat tubuh sahabatnya yang ringkih dan tak berdaya ini.

"Yang kuat, ya. Masih ada aku yang akan selalu ada kapanpun kamu butuh," ujarnya. Sama seperti Nisya, pria bernama Yasa itu pun memberikan semangat untuk Sena.

"Sebelum ini kamu adalah satu-satunya sahabat kami yang paling ceria. Masalah seperti ini harusnya tidak lantas membuat seorang Arsena Nadhifa akan menyerah kalah, buktikan kepada mereka yang telah memberimu luka bahwa seorang Sena bukan wanita lemah seperti yang mereka kira."

Usapan lembut di kepala yang dilakukan Yasa, semakin membuat Sena terenyuh. Ternyata dia tidak sendiri, setidaknya masih ada mereka yang peduli dengannya.

Sena mengangguk tanpa kata, rasanya sudah tak ada lagi yang bisa dia ungkapkan dengan perkataan. Lidahnya terlalu kelu, tak tau harus mengatakan apa. Terlalu sakit untuk dia utarakan.

Hatinya teramat sakit. Bahkan telah hancur berkeping-keping, sebagai seorang wanita yang dianggap tak sempurna. Mandul. Satu kata yang cukup bisa meluluh lantahkan kepercayaan diri seorang Arsena Nadhifa. Menjadikan sosok yang ceria, telah kehilangan keceriaanya.

"Terimakasih ya, Nis, Sa, kalian karena masih mau menganggapku sebagai teman. Dan menerimaku dengan status baruku sebagai janda."

Hanya kata itu yang mampu diucapkan Sena, karena sejatinya ada ribuan kata yang ingin ia ungkapkan tetapi sekali lagi tidak sanggup Sena utarakan. Bahkan untuk bernapas saja terasa begitu sulit bagi Sena, dadanya teramat sesak seperti terhimpit beban yang berjuta kali lipat beratnya.

"Menangislah untuk hari ini, kuras semua air mata penderitaan yang selama ini kamu tahan. Karena saat kita keluar dari sini nanti, semua penderitaan itu akan resmi berakhir dan kamu sahabatku berhak bahagia," ucap Yasa.

Melihat sahabatnya yang serapuh itu, Yasa lantas menarik tubuh Sena untuk kembali dia dekap erat. Memberikan perlindungan sebagai seorang sahabat. Menjadikan dada bidangnya sebagai tempat bersandar Sena dari keterpurukan. Mengusap lelehan air mata yang senantiasa terus mengalir membasahi seluruh permukaan wajah teman wanitanya ini.

"Akhirnya aku yang kalah 'kan, Sa. Sekuat-kuatnya aku mencoba bertahan nyatanya aku memang tidak bisa sekuat itu. Dan rasanya kenapa sesakit ini,?" lirihnya tersedu pilu dalam dekapan erat seorang sahabat.

"Karena memang sakit, maka dari itu aku suruh kamu menangis. Dengan menangis setidaknya beban dalam diri kamu bisa tersalurkan." Nisya mengambil alih atensi Sena, menangkup wajah sahabatnya yang semakin memprihatinkan.

"Semua telah berakhir Nisya, lalu setelah ini apa yang harus aku lakukan? Bahkan Bubun sudah menolakku, Nis. Harus kemana aku setelah ini?" tanya wanita yang baru saja mendapat gelar janda tersebut.

"Ada aku yang selalu menerimamu bahkan dalam kondisi terburukmu sekalipun. Ada aku yang selalu merentangkan tangan untuk menyambut kedatanganmu. Ada anak-anak yang akan menyambut kedatangan Mama Sena-nya, dan masih ada kami selaku keluargamu Sena, jangan katakan jika tidak ada yang menerimamu."

Sena semakin tergugu dalam tangis pilu yang menyesakkan, entah apa jadinya dia tanpa mereka sahabatnya ini.

"Jangan berkecil hati akan statusmu, kamu wanita istimewa, Sena, karena Tuhan, tidak akan memilihmu untuk menerima ujian seperti ini jika kamu tidak mampu."

"Apa aku bisa?" tanyanya kembali meragu.

"Sangat bisa, jangan perdulikan orang-orang yang menghakimimu. Kamu hanya perlu fokus pada diri sendiri, bahagiakan dirimu sendiri mulai sekarang karena kamu hidup untuk dirimu sendiri bukan untuk orang lain."

Sungguh luar biasa peran seorang sahabat dan memang ini lah yang paling dibutuhkan Sena. Karena hanya kepada sahabatnya ini Sena dapat menemukan ketenangan batinnya. Dan perlahan mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi kejamnya dunia yang pasti sudah tak sama lagi.

*

"Sudah merasa puas, Biru? Selamat atas status barumu, ada saat di mana kamu akan begitu menyesali keputusan yang kamu buat ini. Dan saat itu terjadi percayalah tidak ada satu pun dari kami yang akan sudi menoleh ke arahmu!"

Judul : Kita Cerai Saja, Mas!
Napen : Oceana
Baca di KBM

B 1 TAK LAGI SUCI  “PUASKAN AKU MALAM INI!”  Suara berat dan serak terdengar mengerikan di antara ramai hujan menerpa je...
12/11/2025

B 1 TAK LAGI SUCI
“PUASKAN AKU MALAM INI!” Suara berat dan serak terdengar mengerikan di antara ramai hujan menerpa jendela. Rexanda Adiwangsa sudah lupa daratan hingga ingin bercinta dengan perawat neneknya sendiri.
Mendadak, tangan perempuan manis tersebut dicengkeram sangat kencang dan kasar! Tuan Muda tampan membuka mata mabuknya, memandang buas penuh nafsu birahi.
Lalu, dalam hitungan detik, tubuh wanita bernama Lyra sudah dihempas ke atas ranjang. Ditindih dan diciumi dengan ganas.
“Tuan Rex! Jangaaan!”
***
Malam ini hujan deras mengguyur kediaman sebuah rumah mewah yang terletak di tengah kota Jakarta. Petir bertalu, angin bergemuruh, dan pekat dingin malam membuat linu tulang-tulang manusia.
Seorang pemuda bernama Rexanda Adiwangsa baru saja memasuki kamar tidur dibantu dengan sopir dan tukang kebun. Kondisinya sedang mabuk setelah pulang dari sebuah klub untuk berpesta pora menghamburkan uang.
Dengkus napas terdengar berat, bersamaan dengan mata memerah. Kepala jelas terasa pusing tujuh keliling. Ia merebahkan diri, lalu menutup pelupuk.
Namun, suara hingar bingar musik menghentak masih terngiang jelas di telinga. Begitu juga dengan pemandangan para st******se, penari telanjang yang meliuk di atas panggung.
Ia terkekeh sendiri, sesekali menggelengkan kepala. Wajah cantik para penari erotis itu membayangi ingatan, tak mau pergi. Bentuk liuk tubuh molek, sintal, dan padat berisi menggoda kelaki-lakiannya meski sudah tak lagi berada di lokasi.
Alkohol memang memiliki pengaruh sedemikian rupa bagi orang yang menenggaknya. Otak mereka tidak bisa berpikir jernih.
***
Sementara itu, di luar kamar seorang wanita yang bekerja sebagai perawat lansia sedang diberi tugas tambahan. Namanya Lyra Kanigara, masih berusia 23 tahun dengan paras semanis gula-gula. Kulitnya putih dan lembut, kontras dengan rambut hitam panjang tergerai sepunggung.
Keluarga Adiwangsa memiliki satu orang wanita lansia berusia 80 tahun, yaitu Nenek Tariyah—neneknya Rexanda. Lyra adalah perawat sang nenek tersebut. Akan tetapi, jika terjadi kasus-kasus tertentu, maka tugasnya pun bertambah.
“Rex pulang dalam keadaan mabuk lagi. Urusi dia seperti kemarin!” perintah seorang perempuan yang tidak lain adalah ibunda sang pemuda. Ini adalah tugas tambahan yang dimaksud tadi. “Ganti pakaiannya dengan baju bersih, jangan lupa bersihkan juga wajahnya.”
“Baik, Bu Ajeng,” angguk Lyra bersiap menjalankan tugas. Ini bukan pertama kalinya ia ditugasi oleh Nyonya Rumah mengurusi Rex yang sedang mabuk.
Melangkahkan kaki menuju kamar lelaki itu, lalu membuka daun pintu perlahan. Di atas ranjang, majikannya sedang berbaring sambil memejamkan mata.
Jika Rex pulang dalam keadaan seperti ini, maka ia bertugas untuk melepas pakaian atas dan menggantinya dengan kaos bersih untuk tidur. Jika di wajah atau tangan ada kotoran, maka ia wajib menyekanya hingga bersih.
Mata bundar sang gadis mengerjap prihatin begitu melihat hem putih tipis Rex dipenuhi bercak noda kuning. Berpikir itu pasti sisa minuman yang ditenggak sampai membuatnya mabuk.
Langkah menuju lemari, sudah tahu di mana letak tumpukan baju tidur dan segera mengambil satu helai. Kemudian, ia duduk di pinggir ranjang, lalu memanggil pelan. “Tuan Rex, saya ganti dulu bajunya sebentar.”
“Hmm,” sahut Rex bergumam tidak jelas. Mata beratnya terbuka sedikit dan melihat sesosok wanita cantik polos ada di depannya. “Siapa?” racau sang pemuda.
“Saya Lyra, Tuan. Saya mau mengganti baju Anda,” jawab Lyra tersenyum dan mengangguk.
Sudah satu tahun lebih wanita itu bekerja sebagai perawat lansia. Hampir setiap pagi mereka bertemu di meja makan, tetapi Rex sama sekali tidak pernah menoleh apalagi berbicara dengannya. Kehadiran seorang perawat di meja makan utama hanyalah sebagai pekerja rendahan yang tidak perlu diperhatikan.
“Ganti baju?” racau Rex lagi. Matanya jadi lebih terbuka saat kata ganti baju berafiliasi dengan para penari telanjang yang melepas pakaian di atas panggung.
Lyra mengangguk, mulai membuka kancing baju pemuda tampan beralis tebal itu satu per satu. Jemarinya begitu telaten melepaskan butiran demi butiran.
Namun, mendadak ....
“Tuan Rex!” pekiknya mendelik saat tangan kekar Rex mencengkeram jemari dengan kasar.
Belum sempat berkata apa-apa, apalagi berteriak, tubuh sintal perawat itu sudah dijatuhkan di atas kasur. Saking kasarnya, kepala Lyra sampai menghantam jeruji besi yang menjadi sandaran ranjang.
Ia memekik tertahan, memegangi kepala yang kini terasa nyeri dan sedikit pusing. Akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya sudah ditindih oleh Rex tanpa bisa dilawan.
“T-Tuan! Apa-apaan ini!” jerit Lyra berbarengan dengan gelegar petir mengaum di angkasa. Hujan lebat mulai sama deras seperti air mata yang mengalir di p**i putih mulus.
“Diam kamu!” bentak Rex terkekeh menyeramkan. Mata yang memerah, napas berbau alkohol tebal, dan kaki mulai meregangkan paha sang gadis.
“Ja-jangan, Tuan! Jangan!” geleng Lyra tidak mau melakukan ini.
“AKU BILANG DIAM!” tampar Rex begitu kencang hingga ada cap telapak tangannya di p**i gadis malang tersebut.
Lyra menangis, menjerit kesakitan, “Saya masih perawan, Tuan! Jangan lakukan ini!” pintanya memelas.
Mendengar kata perawan, otak Rex yang sudah kacau terendam alkohol justru semakin bergairah. Napasnya memburu dengan cepat, karena sesuatu di antara kedua kakinya juga mulai bereaksi dengan cepat.
Tak ayal, nafsu bejat Tuan Muda itu meninggi hingga ia tarik daster batik Lyra ke arah atas sampai setinggi dada. Matanya terbelalak saat melihat segitiga mungil berwarna merah muda di antara kedua paha mulus.
“Jangan! Jangan!” tangis Lyra meronta, tetapi tiada guna. Rex sudah menguncinya dengan segenap kekuatan yang ada.
Dengan beberapa kali usaha, segitiga itu berhasil diturunkan dan terpampanglah semua area pribadi seorang Lyra Kanigara. Air liur Rex serasa menetes saat melihat itu semua.
Jeritan yang membuat kepalanya kian pusing dibungkam dengan ciuman panas hingga ada saat-saat di mana Lyra merasa kesulitan bernapas.
“Tuan, jangan lakukan ini! Sadarlah, Tuan!” pinta wanita itu memelas. “Saya mohon!”
Namun, satu tamparan datang di p**i kanan, berlanjut dengan tamparan kedua di p**i kiri. Jari Rex yang besar dan kokoh kini membekap mulut Lyra. Persis seperti orang yang keras**an setan, ia berdesis. “Diam, atau aku akan mencekikmu hingga mati!”
Lyra benar-benar tak berdaya lagi menghadapi serangan majikannya. Tenaga yang dimiliki semakin lama semakin habis dipakai untuk meronta. Wajahnya pun sudah dirasa sangat panas dan perih akibat ditampar beberapa kali.
Maka, ketika sebuah benda tumpul dirasa meringsek ke antara dua pangkal paha ....
“AAAAKKKHHH!” jeritannya membahana, meraung di kamar Rex yang besar dan mewah. Lagi, jeritannya itu bersamaan dengan dentuman petir di angkasa penuh hujan deras.
“Uugghh!” desah Rex tak peduli jika ada rasa sakit yang menghunjam di tubuh lawan bercintanya. Dengan beringas, ia terus melesakkan kejantanannya yang sudah sedari tadi bereaksi akibat bayangan penari telanjang.
Perih! Sungguh perih, sungguh sakit! Itu yang kini dirasakan Lyra, baik di jiwa maupun di antara kedua pahanya. Ada sesuatu yang terkoyak, dan itu lebih dari sekadar harga diri!
Kesuciannya malam ini telah terenggut dengan paksa. Tidak ada lagi malam pertama yang syahdu bagi sang wanita ....
***
Sekian menit berlalu dari berhentinya Rex menodai Lyra. Lelaki itu telah mencapai klimaksnya dan ambruk begitu saja di atas ranjang. Bahkan, dengan mudahnya ia mendengkur seakan tidak terjadi apa-apa.
Berbeda dengan Rex yang mendengkur nyaman, Lyra justru kini merintih kesakitan dan bersimbah air mata. Seluruh tubuhnya lemas, nyeri, sangat sakit!
Tamparan di wajah, pukulan di kepala dan juga bagian tubuh lain, itu yang baru saja dilakukan oleh Rex kepadanya. Bayangan masa depan akan keluarga yang bahagia seketika runtuh di batin Lyra.
Bayangan ayah ibu yang ada di desa melintas, membuatnya merasa sangat malu dengan apa yang dialami sekarang. Dirinya tak lagi suci! Pergi ke ibu kota untuk mencari uang, ternyata justru dinodai dengan cara yang teramat keji.
Menoleh pelan ke kanan, menatap wajah tampan sedang tertidur pulas seperti bayi. Gemuruh hati Lyra menjerit luar biasa. Jemari ingin memukuli, tetapi tak ada satu pun lentik yang bergerak. Bibir ingin berteriak, tetapi tak satu patah suara pun keluar.
Membeku, demikian kondisinya sekarang yang dipenuhi oleh rasa syok teramat hebat. Saking terguncangnya fisik dan jiwa sampai tak bisa bergerak sama sekali.
Lyra memejamkan mata, membiarkan linang terus mengalir sebagai pelampiasan atas kesialan yang dialami detik ini. Ingin turun dan berlari dari ranjang, tetapi ia tak mampu bergerak.

Tiga jam berlalu dari detik yang memilukan, Lyra masih terduduk lemas di tepi ranjang. Menatap jendela, matahari mulai terbit terang. Melirik jam dinding, sudah pukul enam pagi.
Biasanya, dari jam lima ia sudah mulai bekerja mempersiapkan segala sesuatunya. Akan tetapi, bagaimana bisa berbuat itu dalam kondisi seperti ini? Barusan, ia mencoba turun ranjang dan disambut dengan rasa nyeri luar biasa di area kewanitaan.
Air mata kembali meleleh, kebingungan melanda. Daster batik berwarna biru tua miliknya sudah rusak tidak karuan. Sobek di bagian dada karena ulah tangan jahanam Rex.
Lalu, saat matanya melihat secarik celana dalam berwarna merah muda di atas lantai, rintih kehancuran mulai terdengar dari bibirnya. Bagai video yang terus terputar ulang dengan sendirinya, momen mengerikan itu kembali teringat.
Tidak hanya itu, Lyra juga berpikir bagaimana caranya bisa turun ke lantai satu, ke kamarnya, tanpa dilihat orang dalam kondisi seperti sekarang.
Tidak perlu berkaca, ia sudah tahu dari perihnya wajah kalau pasti banyak lecet-lecet di sana. Apalagi, dasternya sudah sobek tidak karuan. Ia akan jadi pusat perhatian.
Seakan belum cukup rasa kalut yang diderita, terdengarlah suara langkah mendekati pintu kamar. Lalu, suara Ajeng Adiwangsa terdengar. Dia adalah Nyonya Rumah, ibundanya Rex.
“Rex! Ayo, bangun! Papamu sudah hampir datang dari bandara! Jangan sampai kamu kelihatan mabuk!”
“Rex! Bangun! Nanti kamu diamuk lagi seperti kemarin kalau ketahuan mabuk! Bangun, bangun!”
Karena tidak ada jawaban, wanita itu kembali mengetuk dan memanggil. “Rex! Mama masuk, ya! Kamu harus cepat bangun!”
Mata Lyra terbelalak, napasnya tersengal hebat! Seseorang akan memasuki kamar dengan kondisinya masih seperti ini!
Pintu kamar terbuka dan ....

Address

Jalan Patimura
Surabaya
60188

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ayu Shinta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share