07/02/2022
Reposted from Kamu sedang nge-scroll linimasa Twitter dan tiba-tiba menemukan postingan berupa foto atau video yang diikuti caption βSEGGS SEGGS SEGGSβ, βuwu seggsβ, βso sexcβ. Twit semacam ini bikin kamu mengernyitkan dahi. Meski bisa menangkap maksudnya, kamu bingung kenapa orang sengaja salah mengeja seks dan seksi.
Beberapa orang menganggapnya sebagai tren aneh ABG yang sulit dimengerti, tapi kenyataannya tidak sesimpel itu.
Dewasa ini, platform media sosial semakin membatasi penggunaan istilah-istilah yang mengandung makna seksual sebagai upaya pemberantasan konten berbahaya di internet. Pengguna akhirnya dipaksa berpikir lebih kreatif saat ingin membicarakan seks, tapi tidak mau akunnya dikunci sementara atau bahkan diblokir permanen.
βPlatform secara tidak langsung menyatakan perang terhadap seks, ketelanjangan dan seksualitas,β ujar Carolina Are, instruktur pole dance sekaligus peneliti moderasi konten di London.
Pada 2018, pemerintah AS mengesahkan undang-undang FOSTA-SESTA yang dimaksudkan untuk mengakhiri perdagangan seks. Berhubung sebagian besar platform medsos berasal dari Amerika, perusahaan harus menaati aturan yang dicanangkan politikus di Washington. Namun, menurut Are, kebijakan ini justru dapat merugikan orang yang tidak salah apa-apa.
Akun Instagram Are pernah diblokir sekali, sedangkan profil TikTok berulang kali ditangguhkan secara sementara. βSaya tidak mau kejadiannya terulang kembali. Maka dari itu, saya kadang-kadang mengubah bahasanya,β ungkapnya.
Dia mengatakan, kamu tidak akan menemukan satu video pun yang membahas tentang **oy di TikTok. Lain ceritanya jika kamu mencari pakai tagar .
βKonten seksual dan ruang untuk mendiskusinya semakin menyusut di medsos,β tutur Are. βIni menunjukkan seperti apa hubungan yang dimiliki pengguna dengan platform. Mereka takut disensor atau dihapus. Mereka sampai harus melindungi diri sendiri, padahal sedang membicarakan isu yang penting bagi mereka.β
πΈ LILY BLAKELY