07/06/2026
"Mereka Cuma Ingin Pulang Sejenak"
Nyaris dua tahun–tamu (baca: warga) yang datang bersilaturahmi ke rumah Jokowi bukannya surut, tapi malah makin meningkat. Baik jumlah mau pun frekuensi. Belakangan, kaum muda, Gen Z, siswa, mahasiswa, datang bergelombang. Banyak ragam motif mereka. Melepas rindu, bersalaman, berfoto, rasa penasaran, 𝘩𝘦𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 foto, 𝘯𝘨𝘰𝘯𝘵𝘦𝘯, dst–bahkan sampai yang sekadar FOMO. Ini sudah bukan lagi sebuah peristiwa, tapi fenomena. Fenomenal! Mereka datang dari seluruh pelosok Indonesia, bahkan dari luar negeri. Meliputi seluruh strata sosial (ekonomi politik).
Banyak orang yang datang bahkan sudah cukup puas untuk "sekadar" berfoto ria di depan rumah itu, saat sang empunya rumah tak di tempat. Apa yang sesungguhnya terjadi? Pada sosok Jokowi mereka melihat diri mereka sendiri. Sosok yang kadang tertindas, tapi harus bertahan. Bukan sosok di menara gading, tapi membumi. Pada sosoknya juga ada perjalanan hidup dari "bukan siapa-siapa" menuju sosok "pemenang". Sebuah kisah hidup yang juga menjadi mimpi mereka, pun harapan mereka. Dan sosok yang multi makna itu tinggal di sebuah rumah di gang Kutai. Maka rumah itu menjadi rumah sejarah, rumah harapan, rumah mimpi, rumah rindu, rumah cinta, rumah 𝘩𝘦𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨–rumah rakyat. Jokowi adalah mereka, dan mereka adalah Jokowi. Begitulah proses identifikasi (sosial) yang berlangsung.
Dan nampaknya, Jokowi sendiri menangkap serta memahami dinamika tersebut. Mungkin karena itu p**a dia tak mau pindah dari rumahnya di gang Kutai, meski rumah jatah dari negara relatif sudah siap dan jauh lebih megah.
Rumah di gang Kutai itu rumah rakyat (Indonesia). Ketika mereka datang ke rumah di gang Kutai, sesungguhnya mereka cuma ingin "p**ang" sejenak.
(Fenomena itu sekaligus identik dengan kekuasaan informal luarbiasa besar dari seorang Jokowi. Itu sebabnya banyak yang ribut ketika dia ingin keliling Indonesia. Itu sebabnya, bagi yang mau 'meninggalkannya"', seharusnya berpikir ulang beberapa kali. Itu sebabnya, gerakan 'oposisi' yang riil bukan pada pemerintah–tapi malah pada Jokowi. Edan).
By: HT