Putri Kumala Sari

Putri Kumala Sari Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Putri Kumala Sari, Kauman, Surabaya.

** Pesona Kecantikan Bendahara Desa **Hujan deras mengguyur Desa sejak sore tadi. Jalan tanah yang biasanya berdebu kini...
23/07/2026

** Pesona Kecantikan Bendahara Desa **

Hujan deras mengguyur Desa sejak sore tadi. Jalan tanah yang biasanya berdebu kini berubah menjadi lumpur licin yang menyulitkan setiap langkah. Di balik jendela rumah dinas yang sederhana namun selalu ramai tamu, Purwanto duduk di kursi kayu tua sambil menatap tumpukan berkas di meja kerjanya. Sebagai bendahara desa selama delapan tahun terakhir, ia sudah terbiasa dengan tekanan. Namun malam ini, beban terasa lebih berat dari biasanya.

"Mas Pur, ini laporan triwulan kemarin masih ada selisih kecil. Bapak kepala desa sudah nanya dua kali," kata Siti, sekretaris desa yang setia, sambil meletakkan secangkir kopi hitam panas di depannya.

Purwanto menghela napas panjang. Usianya baru 42 tahun, tapi garis kerut di dahi sudah mulai dalam. Tubuhnya yang tegap dari kerja lapangan masih terlihat gagah, meski rambut di pelipis mulai memutih. "Siti, tolong bilang besok saja. Malam ini saya mau istirahat. Istri saya lagi di rumah sakit ibu kota, sakitnya kambuh lagi."

Siti mengangguk penuh simpati sebelum pamit pulang. Rumah dinas kembali sepi. Hanya suara hujan dan sesekali petir yang menemani Purwanto. Pikirannya melayang ke istrinya yang sudah lima tahun terbaring lemah. Biaya pengobatan terus menggerogoti tabungan mereka. Sebagai bendahara, ia tahu betul betapa mudahnya "meminjam" dana desa untuk keperluan pribadi. Tapi ia selalu menolak godaan itu. Sampai hari ini.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang pelan tapi mendesak.

"Siapa malam-malam begini?" gumam Purwanto sambil berjalan ke pintu. Ia membuka daun pintu dan terkejut melihat sosok perempuan yang berdiri di bawah payung robek. Tubuhnya basah kuyup, kain batik yang dikenakannya menempel ketat di kulitnya yang putih mulus.

"Mas Purwanto... maaf mengganggu malam-malam. Saya Puji Astutik. Saya perlu bicara penting soal dana bantuan untuk usaha kelompok ibu-ibu kami," kata perempuan itu dengan suara gemetar karena dingin.

Purwanto langsung mengenali nama itu. Puji Astutik, 34 tahun, janda dari almarhum Kepala Dusun Timur yang meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan motor. Ia sering mendengar cerita tentang perjuangan Puji membesarkan dua anaknya sendirian sambil menjalankan warung kecil di pinggir jalan desa.

"Masuk dulu, Bu Puji. Hujan deras sekali, nanti sakit," ujar Purwanto cepat. Ia mengambil handuk bersih dari lemari dan menyerahkannya.

Puji menerima handuk itu dengan tangan gemetar. Saat ia mengusap rambut panjangnya yang basah, aroma sabun mandi murah bercampur bau tanah basah tercium samar. Purwanto berusaha tidak menatap terlalu lama pada lekuk tubuh yang samar terlihat di balik kain basah.

"Makasih, Mas. Saya tahu ini sudah malam, tapi besok pagi-pagi sekali ada rapat dengan kelompok. Kami butuh dana itu segera. Kalau tidak, usaha keripik singkong kami akan tutup. Anak-anak saya... mereka butuh makan setiap hari," kata Puji sambil duduk di kursi tamu. Matanya yang bulat dan sayu penuh harapan.

Purwanto duduk di seberangnya. "Saya paham, Bu. Tapi prosedurnya tidak semudah itu. Dana bantuan sudah diusulkan, tapi ada verifikasi dari kecamatan. Ada beberapa dokumen yang masih kurang."

Puji menunduk. Tiba-tiba bahunya terguncang pelan. "Mas Pur... saya sudah putus asa. Kemarin saya ke rumah Bapak Kepala Desa, tapi beliau bilang urusan itu di tangan Bapak sebagai bendahara. Kalau tidak ada dana ini, saya terpaksa jual tanah warisan suami. Tapi itu satu-satunya harta yang tersisa untuk anak-anak."

Suara Puji pecah. Air mata mengalir di p**inya yang halus. Purwanto merasa hatinya tersentuh. Ia pernah mendengar gosip bahwa Puji sering ditawari "jalan pintas" oleh oknum-oknum di desa, tapi ia selalu menolak dengan tegas.

"Tenang dulu, Bu Puji. Ceritakan lebih detail. Apa yang sebenarnya terjadi dengan usaha kelompok ibu-ibu itu?" tanya Purwanto lembut, sambil menyodorkan segelas air hangat.

Puji mulai bercerita panjang lebar. Tentang bagaimana ia memimpin kelompok 15 ibu-ibu untuk membuat keripik singkong dan olahan makanan ringan. Awalnya lancar, tapi modal habis karena harga bahan baku naik drastis. Ia menceritakan perjuangannya membesarkan anak sulung yang baru kelas 6 SD dan anak bungsu yang masih TK. Kisah tentang malam-malam ia menjahit baju tetangga demi tambahan uang.

"Mas Purwanto, saya tahu Bapak orang baik. Selama ini desa ini aman karena pengelolaan dana yang Bapak pegang. Tolong bantu kami. Saya bersedia mengerjakan apa saja agar dana itu cair cepat," kata Puji dengan nada penuh harap, matanya menatap langsung ke mata Purwanto.

Ada sesuatu dalam tatapan itu. Bukan hanya keputusasaan, tapi juga kehangatan yang lama tak dirasakan Purwanto. Udara di ruangan terasa lebih pengap meski hujan masih deras di luar.

Purwanto mengusap wajahnya. "Baiklah. Besok pagi saya akan cek ulang berkasnya. Mungkin ada cara mempercepat. Tapi Bu Puji, saya juga punya masalah sendiri. Istri saya sakit parah, biaya rumah sakit menumpuk. Kadang saya berpikir, apa salahnya sedikit... mengatur ulang dana untuk keperluan mendesak."

Puji terkejut mendengar pengakuan itu. "Mas... Bapak juga manusia. Saya mengerti. Kalau ada yang bisa saya bantu, katakan saja. Saya bisa masak untuk Bapak, atau bantu urus rumah dinas ini kalau sekretaris sedang sibuk."

Dialog mereka berlanjut hingga larut. Purwanto menceritakan tekanan pekerjaannya: tuduhan korupsi kecil yang selalu muncul saat musim pemilihan kepala desa, pertanggungjawaban dana desa yang rumit, dan kesepiannya sejak istrinya jarang pulang. Puji mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan komentar yang bijak dan empati yang tulus.

"Mas Purwanto, laki-laki sebaik Bapak pantas dapat yang lebih baik. Saya lihat Bapak selalu tegar di depan orang desa, tapi malam ini saya lihat ada lelah yang dalam," kata Puji pelan sambil menyentuh lengan Purwanto sekilas. Sentuhan itu seperti listrik kecil.

Purwanto tersenyum tipis. "Bu Puji juga luar biasa. Sendiri mengurus segalanya. Cantik, kuat, dan penuh semangat. Desa ini butuh lebih banyak orang seperti Ibu."

Obrolan semakin akrab. Mereka tertawa kecil saat Puji menceritakan kenangan lucu saat suaminya masih hidup, dan Purwanto berbagi cerita masa mudanya dulu saat baru menjadi bendahara. Hujan di luar semakin reda, tapi di dalam ruangan, ketegangan tak terucapkan mulai terbangun.

Pukul dua dini hari, Puji akhirnya pamit. "Terima kasih banyak, Mas. Besok saya datang lagi untuk lanjut urus dokumennya. Semoga Bapak bisa istirahat."

Purwanto mengantarnya sampai pintu. Saat Puji berbalik untuk melangkah ke kegelapan, ia berhenti sejenak. "Mas Pur... saya serius. Kalau ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Bapak, katakan saja."

Tatapan mereka bertemu lagi. Purwanto merasakan denyut n4fsu yang lama tertidur mulai bergerak pelan. Ia mengangguk saja, menutup pintu setelah sosok Puji lenyap di balik hujan gerimis.

Malam itu Purwanto sulit tidur. Bayangan Puji Astutik dengan kain basah menempel di tubuhnya terus berputar di kepala. Ia tahu ini berbahaya. Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa hidup lagi.

Keesokan harinya, matahari bersinar terik setelah hujan semalam. Purwanto sudah duduk di kantor desa sejak pagi, tapi pikirannya tidak tenang. Berkas dana bantuan untuk kelompok Puji sudah ia siapkan, tapi ia sengaja menunda sedikit agar ada alasan untuk bertemu lagi.

Tepat pukul sepuluh, Puji datang. Kali ini ia mengenakan kebaya sederhana berwarna krem yang membuat kulitnya semakin bersinar. Rambutnya digelung rapi, dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di lehernya.

"Selamat pagi, Mas Purwanto. Saya bawa nasi liwet dan sayur untuk Bapak. Biar ada tenaga kerja di kantor," kata Puji sambil meletakkan rantang di meja.

Purwanto tersenyum lebar. "Wah, Bu Puji baik sekali. Aroma ini saja sudah bikin laper. Duduk dulu, kita bicara dokumennya."

Mereka duduk berdekatan. Saat menjelaskan berkas, lengan mereka sesekali bersentuhan. Purwanto mulai melancarkan rayuan khasnya dengan halus.

"Bu Puji, makin hari makin cantik saja. Kejujuran dan kerja keras Ibu membuat saya kagum. Kalau semua perempuan di desa seperti Ibu, pasti desa ini maju pesat," katanya sambil menatap mata Puji dalam-dalam.

Puji tersipu. "Mas Pur jangan gombal. Saya hanya ibu rumah tangga biasa yang berusaha bertahan."

"Bukan gombal, ini kenyataan. Lihat saja, senyum Ibu bisa bikin orang lupa segala masalah. Saya yang biasanya pusing dengan angka-angka ini, tiba-tiba jadi ringan saat Ibu ada di sini," balas Purwanto sambil menyentuh punggung tangan Puji sekilas.

Dialog semakin hangat. Puji tertawa kecil saat Purwanto bercerita lelucon tentang oknum pejabat kecamatan yang s**a korupsi tapi sok suci. "Mas Pur lucu sekali. Pantas istri Bapak dulu jatuh cinta."

Purwanto mendekatkan kursinya. "Sekarang istri saya jauh di ibu kota. Saya di sini sendirian. Kadang merasa dingin, Bu. Tapi kemarin malam, saat Ibu datang... rasanya ada kehangatan yang lama hilang."

Puji menunduk malu, tapi tidak menarik tangannya saat Purwanto menggenggamnya pelan. "Mas... kita ini di kantor desa. Orang bisa lihat."

"Tenang saja. Saya tutup pintu dulu," kata Purwanto sambil bangkit dan mengunci pintu kantor. Ia kembali duduk lebih dekat. "Bu Puji, saya tahu ini cepat. Tapi saya benar-benar tertarik. Ibu cantik, kuat, dan pengertian. Saya ingin bantu Ibu lebih dari sekadar dana desa."

Rayuan semakin intens. Purwanto memuji gundukan sintal yang ranum di balik kebaya Puji dengan kata-kata halus, "Bentuk tubuh Ibu seperti patung yang sempurna. Pasti banyak yang iri."

Puji tersipu tapi mulai membalas godaan. "Mas Pur juga gagah. Saya lihat otot lengan Bapak waktu kemarin bantu angkat barang. Kok bisa tetap fit padahal kerjaannya di meja terus?"

Mereka tertawa bersama. Purwanto mulai menyentuh lengan Puji, mengusap pelan. "Kalau Ibu izinkan, saya ingin dekat lebih dari ini. Saya bisa urus dana itu hari ini juga. Tapi izinkan saya c1um tangan Ibu dulu sebagai tanda terima kasih."

Puji tidak menolak saat Purwanto mencium punggung tangannya lama. Nafsu di ruangan mulai memanas. Puji menggigit bibir bawahnya, "Mas... Bapak pandai merayu. Saya jadi bingung sendiri."

Purwanto terus membangun godaan dengan kata-kata manis dan sentuhan ringan di bahu, leher, hingga Puji mulai mendekatkan tubuhnya. Obrolan penuh tawa, rayuan, dan janji bantuan berganti dengan bisikan-bisikan intim yang membuat keduanya semakin dekat.

Malam berikutnya, di rumah dinas Purwanto yang sepi, Puji datang lagi dengan alasan menyerahkan dokumen tambahan. Pintu terkunci rapat. Rayuan dari siang tadi berlanjut ke sentuhan yang lebih berani.

Purwanto memeluk Puji dari belakang, mencium lehernya lembut. "Kamu cantik sekali malam ini, Puji."

Mereka berpindah ke kamar. Pakaian luruh satu per satu dengan penuh kelembutan. Purwanto menyentuh gundukan sintal yang ranum milik Puji, memainkan put1ng-nya hingga Puji mengeluarkan d3sah4n pelan.

Selanjutnya.....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/07/pesona-kecantikan-bendahara-desa.html

**Cinta Terlarang Kuli Dengan Janda **Jalan tanah yang biasanya berdebu kini berubah menjadi lumpur lengket yang menyedo...
11/07/2026

**Cinta Terlarang Kuli Dengan Janda **

Jalan tanah yang biasanya berdebu kini berubah menjadi lumpur lengket yang menyedot sepatu boot Wawan setiap langkah. Tubuhnya yang kekar, penuh peluh bercampur air hujan, terasa berat setelah seharian mengangkat bata dan menyemen dinding rumah warga. Usianya baru tiga puluh tahun, tapi garis wajahnya sudah mengeras seperti batu yang ia bangun setiap hari.

Wawan tinggal di pondokan sederhana di belakang rumah-rumah penduduk. Sebagai kuli bangunan, ia datang ke desa ini tiga bulan lalu bersama rombongan pekerja dari kampung halaman. Kontrak proyek rumah mewah di ujung desa masih berjalan enam bulan lagi. Setiap malam, ia pulang dengan tubuh pegal dan pikiran kosong, hanya ditemani rokok dan secangkir kopi hitam pekat.

Malam itu, saat ia berjalan melewati rumah kayu tua milik Sri, lampu teras masih menyala redup. Sri, janda berusia dua puluh delapan tahun, berdiri di pintu dengan selendang kain batik menutupi bahunya. Rambutnya yang hitam panjang terurai basah karena tadi sempat kehujanan saat mengambil jemuran. Matanya yang sendu menatap ke arah Wawan yang berjalan tertatih.

“Mas Wawan… tunggu sebentar,” panggil Sri pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru hujan.

Wawan berhenti. Air hujan mengalir di wajahnya yang kecokelatan. “Iya, Bu Sri? Ada apa malam-malam begini?”

Sri menggigit bibir bawahnya sejenak. “Anda basah kuyup. Masuk dulu, saya buatkan teh hangat. Kasihan kalau sakit, besok masih harus kerja berat.”

Wawan ragu. Ia tahu reputasi dirinya di desa ini kuli bangunan kasar, tidak punya apa-apa selain otot dan keringat. Sementara Sri adalah janda terhormat. Suaminya, seorang pegawai kantoran kecil di ibu kota, meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Sejak itu, Sri hidup sendirian dengan anak perempuannya yang berusia lima tahun, kini sedang tidur di dalam.

“Tapi… nanti orang desa ngomong apa, Bu,” jawab Wawan sambil mengusap wajahnya.

Sri tersenyum tipis, senyum yang penuh kepedihan. “Biarkan mereka bicara. Saya sudah terbiasa sendirian. Malam ini… saya butuh bicara dengan seseorang.”

Ada getar dalam suara Sri yang membuat Wawan akhirnya melangkah masuk. Rumah kayu itu sederhana tapi rapi. Aroma masakan sayur lodeh masih menempel di dinding. Sri menyuruhnya duduk di kursi kayu ruang tamu sambil ia ambil handuk dan baju kering milik almarhum suaminya.

“Pakai ini dulu. Jangan sampai masuk angin,” kata Sri sambil menyerahkan baju.

Wawan menerimanya dengan kikuk. Saat ia ganti baju di belakang pintu, Sri berbalik, tapi matanya sempat melirik sekilas pada punggung lebar dan otot lengan Wawan yang terbentuk dari kerja keras.

Mereka duduk berhadapan. Teh panas mengepul di antara mereka.

“Kenapa Bu Sri masih betah di desa ini? Bisa pindah ke ibu kota, kan? Punya saudara di sana?” tanya Wawan membuka pembicaraan.

Sri menunduk, jari-jarinya memilin ujung selendang. “Saya pernah coba. Tapi… di sana terlalu ramai. Anak saya sering sakit-sakitan. Di desa ini, setidaknya ada tanah warisan suami yang bisa ditanami. Saya jual hasil kebun untuk makan sehari-hari. Tapi yang paling berat… kesepiannya.”

Suara Sri pecah. Air mata menggenang di pelupuknya. Wawan merasa dadanya sesak. Ia bukan tipe pria romantis, tapi melihat perempuan sekuat Sri menangis membuatnya ingin melindungi.

“Saya tahu rasanya, Bu. Dulu di kampung, saya tinggalkan istri muda karena hutang. Saya kerja ke mana-mana supaya bisa bayar. Tapi saat pulang, dia sudah pergi dengan orang lain. Katanya capek nunggu suami yang jarang pulang. Pengorbanan saya sia-sia.”

Sri mengangkat wajahnya. “Jadi Mas Wawan juga pernah patah hati?”

“Lebih dari patah, Bu. Hancur. Tapi saya terus kerja. Bangun rumah orang lain, sementara rumah saya sendiri cuma pondokan reyot ini,” kata Wawan sambil tersenyum pahit.

Mereka bicara panjang lebar. Sri menceritakan bagaimana suaminya dulu jarang pulang, sibuk di ibu kota, meninggalkannya dengan beban mengurus anak dan kebun. Wawan bercerita tentang hari-harinya yang melelahkan, angkat besi, campur semen di bawah terik matahari, dan mimpi sederhananya ingin punya rumah kecil sendiri suatu hari.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat hujan mulai reda. Sri berdiri untuk mengambilkan makanan sisa.

“Anda makan dulu, Mas. Saya masak sayur banyak tadi.”

Wawan menggeleng. “Sudah kenyang, Bu. Tapi… terima kasih. Jarang ada yang peduli sama kuli seperti saya.”

Sri mendekat, tangannya menyentuh lengan Wawan sekilas. “Saya lihat Anda setiap hari lewat sini. Badan Anda kuat, tapi mata Anda lelah. Saya juga lelah, Mas. Lelah sendirian.”

Ada hening yang panjang. Wawan merasakan getaran aneh di dadanya. Pengorbanan cinta yang pernah ia lakukan dulu meninggalkan segalanya demi keluarga yang akhirnya mengkhianatinya tiba-tiba terasa relevan dengan kesedihan Sri. Mereka berdua sama-sama korban waktu dan keadaan.

Sebelum Wawan pulang, Sri berkata pelan, “Besok malam… kalau hujan lagi, mampir ya. Saya tunggu.”

Wawan mengangguk. “Baik, Bu Sri. Hati-hati ya.”

Ia berjalan kembali ke pondokan dengan hati yang tidak tenang. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, ia tidur dengan mimpi tentang seorang perempuan yang tersenyum sendu di teras rumah kayu.

Hari-hari berikutnya, pertemuan kecil itu berulang. Sri sering memberi Wawan bekal makan siang nasi dengan ikan asin dan sambal. Wawan balas dengan membantu memperbaiki pagar rumah Sri yang rusak. Dialog mereka semakin dalam. Sri bercerita tentang mimpi-mimpinya yang terkubur sejak menjadi janda, tentang keinginan disentuh kasih sayang lagi. Wawan menceritakan rasa rindunya pada kehangatan sebuah pelukan setelah hari yang panjang.

Suatu sore, saat anak Sri bermain di rumah tetangga, Sri menangis di depan Wawan.

“Saya takut, Mas. Takut jatuh cinta lagi. Dulu saya korbankan segalanya untuk suami. Sekarang… saya takut sakit lagi.”

Wawan memegang tangan Sri dengan lembut. “Saya juga takut, Bu. Tapi kadang, pengorbanan itu yang bikin kita tahu arti cinta yang sebenarnya.”

Momen itu penuh ketegangan emosional. Hujan kembali turun, seolah langit ikut merasakan gejolak hati mereka berdua. Wawan pulang malam itu dengan n4fsu yang mulai terbangun, tapi ia tahan. Ia ingin menghargai Sri, bukan hanya memanfaatkan kesepiannya.

Namun benih godaan sudah ditanam. Dan di desa kecil itu, rahasia mulai tumbuh di balik tirai hujan.

Keesokan malamnya, Wawan kembali ke rumah Sri setelah kerja. Kali ini ia membawa buah tangan—seikat pisang dari pasar desa. Sri menyambutnya dengan senyum yang lebih hangat, matanya berbinar di bawah cahaya lampu minyak.

“Masuk, Mas. Anak saya sudah tidur.”

Mereka duduk di ruang tamu yang sempit. Sri mengenakan kebaya tipis yang menempel di tubuhnya karena cuaca lembab. Wawan sulit mengalihkan pandangan dari lekuk tubuh Sri yang masih kencang meski sudah melahirkan.

“Bu Sri cantik sekali malam ini,” puji Wawan dengan suara rendah, khas gombalan laki-laki pekerja keras. “Kayak bunga desa yang baru mekar setelah hujan.”

Sri tertawa kecil, p**inya merona. “Mas Wawan bisa saja. Saya sudah janda, mana ada yang bilang cantik.”

“Kalau tidak cantik, kenapa setiap lewat sini hati saya berdegup kencang?” balas Wawan sambil mendekatkan kursinya. “Saya kerja capek seharian, tapi bayangin senyum Bu Sri bikin capek hilang seketika.”

Sri menunduk malu, tapi tangannya tidak menolak saat Wawan menyentuh punggung tangannya. “Mas… jangan bikin saya bingung. Saya perempuan biasa, butuh kehangatan.”

Wawan tersenyum nakal. “Saya tahu, Bu. Saya lihat Bu Sri sendirian setiap malam. Tubuh saya kuat, Bu. Bisa jaga Bu Sri dengan baik. Bayangin saja, tangan kasar ini memeluk pinggang ramping Bu Sri, menghangatkan malam yang dingin.”

Rayuan itu membuat Sri gelisah. Ia berdiri untuk mengambil air, tapi Wawan mengikuti. Di dapur sempit, tubuh mereka hampir bersentuhan.

“Mas Wawan… nakal sekali,” bisik Sri.

“Nakal karena Bu Sri terlalu menggoda,” jawab Wawan sambil memeluk pinggang Sri dari belakang pelan. “Lihat ini, tubuh Bu Sri lembut. Saya cuma kuli, tapi malam ini saya ingin jadi pria yang Bu Sri butuhkan.”

Sri berbalik, wajah mereka sangat dekat. Napas mereka bercampur. “Kalau orang desa tahu…”

“Biarkan. Malam ini cuma kita berdua,” kata Wawan sambil mengusap p**i Sri. “Saya rela kerja dua kali lipat besok, asal bisa lihat senyum puas di wajah Bu Sri.”

Godaan berlanjut dengan dialog panjang. Wawan memuji setiap bagian tubuh Sri dengan kata-kata kasar tapi penuh gairah khas pekerja. Sri mulai merespons, menceritakan betapa ia merindukan sentuhan pria setelah dua tahun. Tangan Wawan menjelajah pelan di punggung Sri, membuat perempuan itu menggigil.

“Rasanya hangat sekali dekat Mas Wawan,” desah Sri pelan.

Wawan mengecup kening Sri. “Besok saya mau lebih dari ini, Bu. Saya ingin buktikan betapa saya bisa memuaskan Bu Sri.”

Pemanasan terus berlanjut hingga larut. Mereka berpelukan lama di kursi, saling bisik rayuan dan cerita masa lalu. N4fsu semakin membara, tapi Wawan menahan diri, membuat Sri semakin penasaran dan tergoda.

Malam ketiga, pintu rumah Sri sudah terkunci rapat. Anaknya menginap di rumah neneknya. Hanya ada Wawan dan Sri di dalam kamar kecil yang diterangi lampu temaram.

Selanjutnya....👇👇

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/07/cinta-terlarang-kuli-dengan-janda.html

⭐ Mertua yang Memikat Menantu⭐ Di sebuah rumah mewah di pinggiran ibu kota, sinar matahari sore menyusup lembut melalui ...
10/07/2026

⭐ Mertua yang Memikat Menantu⭐

Di sebuah rumah mewah di pinggiran ibu kota, sinar matahari sore menyusup lembut melalui tirai tipis ruang keluarga. Kayla, seorang perempuan berusia 26 tahun dengan kulit putih mulus dan rambut hitam sebahu yang selalu tergerai indah, sedang sibuk menyusun meja makan. Ia mengenakan dress rumah sederhana berwarna krem yang sedikit ketat di bagian dada dan pinggul, menonjolkan lekuk tubuhnya yang anggun. Sudah dua tahun ia menikah dengan Reza, putra tunggal dari keluarga besar ini. Pernikahan mereka awalnya penuh kebahagiaan, tapi belakangan Reza sering bepergian untuk bisnis keluarga, meninggalkan Kayla sendirian bersama ayah mertuanya, Zidan.

Zidan, pria berusia 52 tahun yang masih terlihat gagah dengan tubuh atletis hasil olahraga rutin, rambut sedikit beruban di pelipis, dan tatapan mata tajam yang penuh karisma. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang telah membangun kerajaan bisnis dari nol. Meski sudah menduda sejak lima tahun lalu, Zidan selalu menjaga penampilan dan aura kelelakiannya yang kuat. Ia mencintai menantunya lebih dari yang seharusnya, sebuah perasaan yang tumbuh pelan sejak pertama kali melihat Kayla masuk ke keluarga ini.

“Kayla, kamu tidak perlu repot-repot masak malam ini,” kata Zidan dengan suara baritonnya yang dalam, sambil berjalan mendekat dari arah teras. Ia baru pulang dari lapangan golf, masih mengenakan polo shirt yang menempel di dada bidangnya. “Kamu kelihatan lelah. Biar aku yang pesan makan malam dari luar.”

Kayla menoleh, senyumnya manis dan penuh hormat. “Tidak apa-apa, Pak Zidan. Saya senang masak untuk keluarga. Lagian Mas Reza bilang dia pulang besok malam. Saya mau buatkan makanan kes**aannya.”

Zidan berdiri di samping meja, cukup dekat hingga Kayla bisa mencium aroma sabun mandi dan aftershave mahal yang selalu melekat di tubuh mertuanya. “Kamu memang istri yang baik sekali. Reza beruntung sekali punya kamu. Tapi… kamu juga harus jaga diri sendiri. Jangan terlalu memikirkan dia yang jarang di rumah.”

Ada nada lembut dalam suara Zidan, hampir seperti bisikan penuh perhatian. Kayla merasa hangat di dada. Selama ini, Zidan selalu ada untuknya. Saat ia sakit, mertuanya yang mengantar ke dokter. Saat ia sedih karena kesepian, Zidan yang mendengarkan curhatannya sampai larut malam di teras sambil minum teh hangat.

“Terima kasih, Pak. Bapak selalu peduli sama saya,” balas Kayla pelan, p**inya sedikit merona. Ia menyodorkan segelas air dingin. “Minum dulu, Pak. Cuaca panas hari ini.”

Zidan menerima gelas itu, jari mereka bersentuhan sesaat. Sentuhan itu terasa seperti aliran listrik kecil bagi Zidan. Ia menatap Kayla lebih lama dari biasanya, mengagumi bagaimana cahaya sore membuat kulit menantunya bersinar. “Kamu tahu, Kayla… sejak kamu masuk ke rumah ini, suasana jadi lebih hidup. Aku… aku merasa ada yang hilang kalau kamu tidak ada.”

Kayla tertawa kecil, mengira itu hanya pujian biasa dari mertua. “Bapak bisa saja. Saya cuma menantu biasa.”

“Bukan biasa,” jawab Zidan tegas tapi lembut. Ia duduk di kursi meja makan, menarik kursi di sebelahnya agar Kayla duduk juga. “Kamu istimewa. Reza sering cerita betapa bahagianya dia. Tapi aku lihat sendiri, kamu perempuan yang kuat, sabar, dan cantik luar dalam. Kadang aku iri sama anakku.”

Dialog itu mengalir alami. Mereka berbincang tentang hari-hari Kayla yang kesepian, tentang bisnis Zidan yang semakin berkembang, dan kenangan kecil saat pertama kali mereka bertemu di acara lamaran. Zidan bercerita bagaimana ia langsung terkesan dengan kepribadian Kayla yang hangat dan cerdas.

“Waktu itu aku bilang ke Reza, ‘Anakku, jangan sia-siakan perempuan seperti dia.’ Dan sekarang… aku yang merasa harus menjagamu saat dia tidak ada,” ujar Zidan sambil menatap mata Kayla dalam-dalam.

Malam semakin larut. Mereka pindah ke ruang keluarga setelah makan malam. Televisi menyala pelan menayangkan film romantis lama. Kayla duduk di sofa panjang, Zidan di sebelahnya dengan jarak yang semakin dekat seiring obrolan.

“Pak Zidan tidak pernah menikah lagi? Banyak perempuan yang pasti ngejar Bapak,” tanya Kayla polos, penasaran.

Zidan tersenyum tipis, tangannya tanpa sengaja menyentuh lengan Kayla saat mengambil remote. “Aku sudah menemukan yang aku cari. Tapi… kadang yang aku cari itu ada di depan mata, tapi tidak boleh disentuh.”

Kayla mengerutkan kening, tapi ia menganggap itu hanya metafor. “Bapak romantis sekali. Pasti ibu dulu bahagia banget.”

Percakapan mereka terus mengalir penuh kehangatan. Zidan menceritakan masa mudanya, bagaimana ia bekerja keras demi keluarga, dan betapa ia merindukan kehadiran seorang pendamping yang pengertian seperti Kayla. Kayla pun terbuka tentang kesulitannya menjalani pernikahan jarak jauh dengan Reza. Ia merasa nyaman berbagi dengan Zidan, seperti ayah sekaligus sahabat.

“Kadang aku merasa sendirian, Pak. Tapi ada Bapak, rasanya ada tempat pulang,” kata Kayla dengan suara pelan, kepalanya hampir bersandar di bahu Zidan saat rasa kantuk datang.

Zidan menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengangkat tangan, hampir membelai rambut Kayla, tapi menahan diri. “Kamu tidak akan pernah sendirian selama aku ada, Kayla. Aku janji.”

Malam itu mereka tertidur di sofa, tubuh mereka bersisian tanpa sentuhan yang berlebihan, tapi getar perasaan sudah mulai terbangun. Zidan memandangi wajah damai Kayla dalam tidur, hatinya dipenuhi cinta dan hasrat yang semakin sulit dibendung. Ia tahu ini salah, tapi semakin hari, semakin ia tidak peduli.

Keesokan harinya, Reza menelepon mengabarkan ia tertunda lagi. Kayla terlihat kecewa. Zidan melihat kesempatan itu.

“Kita jalan-jalan yuk, Kayla. Biar kamu tidak bosan di rumah. Aku traktir makan siang di restoran favoritmu,” ajak Zidan pagi itu di meja sarapan.

Kayla ragu sebentar, tapi senyum Zidan yang tulus membuatnya setuju. Mereka pergi bersama, tertawa di dalam mobil mewah Zidan sambil mendengarkan lagu-lagu lama. Di restoran, Zidan memesan semua makanan kes**aan Kayla, bercerita lucu tentang masa lalunya hingga Kayla tertawa lepas.

“Kamu cantik sekali kalau tertawa seperti itu,” puji Zidan tulus. “Reza bodoh kalau sampai menyia-nyiakanmu.”

“Pak Zidan… jangan bilang gitu dong,” protes Kayla sambil tersipu, tapi hatinya tersentuh.

Hari demi hari berlalu dengan kedekatan yang semakin dalam. Zidan selalu mencari alasan untuk berada di dekat Kayla: membantu di dapur, menonton film bersama, bahkan mengajak berolahraga pagi di taman belakang rumah. Dialog-dialog penuh perhatian itu membuat Kayla merasa dihargai dan dicintai dengan cara yang berbeda dari suaminya.

Suatu sore, saat hujan deras mengguyur ibu kota, listrik padam. Mereka duduk berdua di ruang tamu dengan cahaya lilin. Zidan mengambil selimut dan menyelimuti Kayla.

“Kamu kedinginan ya?” tanyanya lembut.

Kayla mengangguk. “Sedikit. Tapi enak kok dekat Bapak. Hangat.”

Zidan tersenyum dalam gelap. Tangannya menyentuh punggung Kayla pelan, mengusapnya menenangkan. “Aku selalu ingin membuatmu hangat, Kayla. Selalu.”

Di antara kilat dan petir, tatapan mereka bertemu lebih lama. Ada sesuatu yang berubah malam itu. Cinta terlarang mulai menunjukkan batang hidungnya, meski masih dibungkus kelembutan dan perhatian tulus.

Keesokan paginya, suasana rumah masih sepi. Reza mengabarkan ia baru bisa pulang dua hari lagi. Kayla terlihat murung saat sarapan. Zidan, yang sudah rapi dengan kemeja casual, duduk di hadapannya.

“Kenapa wajah cantik itu murung?” goda Zidan dengan senyum nakal yang jarang ia tunjukkan. “Mas Reza lagi? Sudah biasa kan dia begitu. Tapi aku di sini, Kayla. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian.”

Kayla tersenyum tipis. “Bapak selalu bisa menghibur saya.”

Zidan berdiri, berjalan mendekat dan berdiri di belakang kursi Kayla. Tangan besarnya menyentuh bahu menantunya pelan, memijat ringan. “Kamu tegang sekali. Biar aku pijit bahumu. Sebagai ayah mertua yang peduli.”

Sentuhan itu hangat dan kuat. Kayla merasa nyaman, tapi ada getar aneh yang mulai muncul. “Pak… enak sekali. Terima kasih.”

“Enak ya?” bisik Zidan di dekat telinga Kayla, napasnya hangat. “Kalau begitu biarkan aku pijit yang lebih dalam. Kamu pantas dimanja, Kayla. Perempuan seindah kamu tidak boleh kekurangan apa pun.”

Godaan mulai mengalir. Zidan terus memijat, jari-jarinya turun sedikit ke lengan Kayla, memuji kulitnya yang halus. “Kulitmu lembut sekali. Seperti sutra. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana Reza bisa tahan meninggalkanmu lama-lama.”

Kayla tertawa gugup. “Bapak gombalnya berat sekali hari ini.”

“Bukan gombal, ini kenyataan,” balas Zidan serius tapi penuh rayuan. Ia memutar tubuh Kayla agar menghadapnya. Mata mereka bertemu. “Kamu tahu tidak, sejak pertama melihatmu, aku sudah terpesona. Kamu bukan hanya menantu bagiku, Kayla. Kamu… kamu seperti mimpi yang hidup di rumah ini.”

Pemanasan berlanjut sepanjang hari. Zidan mengajak Kayla ke kolam renang belakang rumah. Ia mengenakan celana pendek dan kaos ketat, memperlihatkan otot-ototnya yang masih terjaga. Kayla mengenakan swimsuit sederhana yang sopan.

“Wah, kamu semakin cantik saja,” puji Zidan saat Kayla masuk ke air. Ia berenang mendekat. “Badanmu proporsional sekali. Gundukan sintal yang ranum itu… pasti membuat banyak pria iri sama Reza.”

Kayla memerah. “Pak Zidan! Jangan ngomong gitu.”

Tapi Zidan semakin berani. Di pinggir kolam, ia menarik Kayla duduk di sampingnya. “Kenapa? Aku cuma jujur. Kamu perempuan dewasa yang luar biasa. Aku lihat caramu bergerak, caramu tersenyum… itu membangkitkan sesuatu dalam diriku yang sudah lama mati.”

Dialog penuh godaan berlanjut. Zidan menceritakan betapa ia sering memikirkan Kayla saat sendirian. Ia memuji kecantikan wajahnya, kelembutan suaranya, dan betapa ia ingin melindunginya. Tangan Zidan sesekali menyentuh paha Kayla “tak sengaja”, membuat gadis itu gelisah.

Malam harinya, mereka menonton film di ruang keluarga lagi. Kali ini Zidan duduk sangat dekat. “Kamu dingin? Sini dekat aku,” katanya sambil merangkul bahu Kayla.

Kayla tidak menolak. Tubuh mereka bersentuhan. Zidan mulai membisikkan kata-kata manis. “Kalau aku yang jadi suamimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan memanjakanmu setiap hari, menc1um kamu setiap saat, membuatmu merasa sebagai ratu.”

Rayuan semakin panas. Zidan mengusap lengan Kayla naik turun, matanya penuh n4fsu yang tertahan. “Kamu merasakan ini tidak, Kayla? Getar di antara kita? Aku tahu ini salah… tapi aku tidak bisa bohong lagi. Aku menginginkanmu.”

Kayla bernapas cepat, tapi ia terpikat oleh perhatian dan gombalan mertuanya yang lihai. “Pak Zidan… kita tidak boleh…”

“Siapa yang melarang cinta yang tulus?” balas Zidan sambil mendekatkan wajahnya. “Aku mencintaimu, Kayla. Lebih dari sekadar menantu.”

Ketegangan mencapai puncak di kamar utama rumah saat malam semakin larut. Zidan menuntun Kayla dengan lembut ke ranjangnya sendiri. “Biarkan aku menunjukkan betapa aku mencintaimu,” bisiknya.

Selanjutnya....

https://dramaranjang.blogspot.com/2026/07/mertua-yang-memikat-menantu.html

Address

Kauman
Surabaya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Putri Kumala Sari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share