03/05/2026
Diplomasi "Ulur Tarik" Trump: Kaji 14 Poin Usulan Iran, Tapi Masih Ogah Setuju
WASHINGTON – Panggung diplomasi dunia kembali riuh. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menimbang proposal terbaru dari Iran guna mengakhiri ketegangan yang kian meruncing. Meski jalur komunikasi tetap terbuka, Trump tetaplah Trump—pemimpin yang sulit ditebak dan penuh skeptisisme.
Sesaat sebelum menaiki Air Force One pada Sabtu (2/5), Trump memberikan bocoran tipis kepada wartawan. Ia mengakui Teheran tengah merumuskan redaksi usulan yang lebih mendetail. "Nanti akan saya beri tahu. Mereka akan segera memberikan redaksi yang persisnya kepada saya sekarang," ujarnya singkat, meninggalkan teka-teki bagi para pemburu berita.
Informasi yang dihimpun dari media Iran, Tasnim dan Fars, menyebutkan bahwa Teheran telah menyodorkan 14 poin proposal strategis. Usulan ini merupakan "jawaban" atas penawaran sembilan poin yang sebelumnya diajukan Gedung Putih. Pakistan kembali mengambil peran krusial sebagai perantara sekaligus tuan rumah perundingan "rahasia" kedua negara tersebut.
Namun, hanya berselang beberapa jam setelah pernyataan di depan wartawan, Trump langsung "mendinginkan" suasana lewat unggahan di media sosial. Dengan gaya bicaranya yang lugas, ia meragukan isi proposal tersebut akan diterima begitu saja oleh AS.
Alasannya tajam: Trump merasa Iran belum membayar "harga" yang setimpal atas tindakan mereka selama 47 tahun terakhir terhadap kemanusiaan. "Saya tidak bisa membayangkan itu (proposal) akan dapat diterima," tulisnya, merujuk pada rekam jejak panjang perselisihan kedua negara sejak revolusi 1979.
Di tengah tarik-ulur diplomatik ini, nasib Selat Hormuz tetap menjadi pertaruhan utama. Trump bahkan melempar gagasan baru untuk membuka kembali akses di jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut. Sejauh ini, gencatan senjata selama tiga minggu masih bertahan, meski rapuh.
Dunia kini menanti, apakah 14 poin dari Teheran mampu melunakkan hati Trump, atau justru menjadi pemicu babak baru ketegangan di kawasan Teluk. Yang pasti, bagi Trump, setiap kesepakatan haruslah menjadi "kemenangan" mutlak bagi kepentingan Amerika.