02/03/2026
PIUTANG KEJAHATAN
Cerpen Afifah Afra
Kamu telah menjemputku. Aku tahu tanpa harus melihatnya. Udara telah membungkus aroma keringatmu yang khas, dan meminta angin mengantarkan ke sini. Angin telah bekerja sangat purna. Paket aroma itu, diterima saraf olfaktoriku, yang kemudian mengirim rangsang ke jejala otakku. Aha, kutahu, sejumlah endorfin telah dilepaskan. Membuat aku mirip seorang anak muda yang tengah menikmati narkotika.
Aku terangkat ke angkasa. Kakiku seakan terbang, tatkala berlari menuju ke arah perempuan itu. Kamu. Kulihat, kamu ada di depan sana. Menopang dagu ke sadel kereta angin, satu-satunya harta milik kita yang berharga. Kita beli tiga hari usai pesta pernikahan yang sangat sederhana, sepuluh tahun silam.
Kereta angin itu masih kokoh menopang tubuhmu yang tak juga bertambah gemuk, meski dari rahim yang mulia itu, pernah tumbuh tiga bayi montok nan sehat. Aku yakin, meskipun nanti penumpangnya bertambah satu, kereta itu akan tetap kuat. Karena kamu telah merawatnya dengan sangat baik. Sebaik engkau merawat cinta yang sempat hendak dipentalkan oleh jarak dan nasib.
Ah, persis seperti harapanku, kau menjemputku. Kau sendiri, bukan yang lain. Karena memang hanya engkau yang kuinginkan menungguku di depan gerbang ini. Tatapmu mesra. Bahkan meninggi kadarnya. Tatapan yang jika ditranslasikan dalam lesan, akan berubah menjadi ucapan: Bagiku, kau tetap pahlawanku. Bui tidak mengubah penilaianku atasmu. Kau tetap lelaki yang sangat kupuja.
Perempuan itu tak mahir berkata-kata indah. Namun sentuhan tangan, tatapan dan senyum tulusnya, adalah bahasa cinta yang lebih indah dari puisi macam apapun.
Dan puisi itu terus melantun. Diseretnya aku sebagai pesakitan, vonis hakim, penjara enam purnama, tak melirihkan lantunan itu. Kau tetap perempuanku yang setia. Mengunjungiku saban pamungkas pekan, menjinjing makanan kegemaran—terkadang menyuapi—dan kini, menjemputku.
link cerpen silakan cek bio atau cek di komentar, ya.