25/07/2026
“Orang NU itu akalnya akal politik.” Kalimat itu saya dengar tiga tahun lalu, Juli 2023, ketika saya menginap beberapa hari di Rembang. Kami ngobrol santai, tetapi kadang suara Gus Yahya meninggi jika percakapan kami sesekali masuk ke topik yang membuat dia kesal, dan politik adalah topik yang membuat nadanya sering meninggi. Pada saat seperti itu saya merasa seperti dibentak-bentak.
“Saya bisa paham terhadap obsesi sebagian besar aktivis NU pada politik,” katanya. “Itu konsekuensi wajar dari situasi tertentu. Pada 1952 NU menjadi partai politik, melakukan rekrutmen secara longgar dan besar-besaran untuk tujuan politik. Kemudian lahir pemerintahan Orde Baru, dan NU terbunuh secara politik selama masa Orde Baru. Tapi obsesi politiknya tidak mati. Isinya masih kader politik semua, akalnya masih akal politik, dan itu direproduksi dari waktu ke waktu.
“Dalam masa Orde Baru mereka mencari ruang politik sendiri sebisa-bisanya. Ada yang masuk Golkar, ada yang masuk PDI. Lalu ruang politik terbuka lagi setelah reformasi. Semua terjun ke politik, sebisa-bisanya juga.
“Karena NU punya massa besar, dan massa besar ini bisa dijual, orang jualan massa NU. Ini terjadi karena konstruksi organisasinya kacau; ini yang membuat tiap-tiap orang bisa menjual massa—sekepal-sekepal, cuma dagangan kecil, tetapi terus-menerus dilakukan karena hasilnya cukup untuk memberi makan anak-istri.
“Saya sedih melihat NU diperlakukan dengan pola pikir seperti itu. NU terlalu agung untuk dijadikan landasan bagi aktivisme kelas rendah. Ini harus dihentikan, dan untuk menghentikannya, kita harus menciptakan situasi yang tidak memungkinkan pola pikir ini beroperasi di NU. Maka, saya pikir saya harus mengandangi mereka agar tidak ke mana-mana, duduk bersama, dan melihat apa saja yang bisa dikerjakan oleh NU.
“Tidak harus politik. Ada prospek kepemimpinan sosial, misalnya, sesuatu yang tidak akan terlihat ketika orang tidak meluaskan jangkauan imajinasinya. Jika orang menginginkan wibawa, kekuasaan, dan lain-lain, mereka perlu tahu bahwa wibawa bukan hanya di situ letaknya, bukan hanya di politik. Kekuasaan juga bukan hanya di situ letaknya. Ada prospek-prospek alternatif. Jika butuhnya duit, ayo bikin bisnis yang benar, dikelola secara benar, ada banyak ruang di situ.
“Jika maunya menghidupkan lembaga yang dimiliki, kita carikan insentif. NU ini sudah punya sekitar 26 ribu madrasah/sekolah dan sekitar lebih dari 200 perguruan tinggi. Makanya saya minta kepada teman-teman itu untuk merumuskan sistemnya dulu, sistem nasional kita, sistem NU ini. Jika sistemnya sudah terumuskan secara jelas, selanjutnya kita mobilisasi lembaga-lembaga yang sudah ada untuk masuk ke dalam sistem. Kita carikan insentifnya.
“Insentif ini bisa macam-macam, termasuk kemudahan dalam berbagai fasilitas, termasuk tunjangan finansial pada saatnya nanti, ketika bisnisnya jadi. Dan saya tidak akan mengganggu siapa-siapa. Saya hanya ingin ikut serta di dalam sistem ekonomi yang ada ini. Ikut serta saja, tidak mengancam siapa pun, karena saya tidak ingin merebut kekuasaan politik.”
AS Laksana