28/10/2018
PAK UTIH
---------------
Kami memanggilnya pak Utih, pak Utih kini tinggal sebatang kara, setelah ditinggal Istrinya pulang kampung ke Bireun, sejak 2 tahun lalu. Ia punya anak namanya Lela sekarang menempuh pendidikan pesantren setara SMA di salah satu pesantren di Kecamatan Celala.
Tadi pagi, saat saya jalan mengendarai sepeda motor saya dari kampung menuju Angkup, saya lihat pak Utih berjalan sendirian di pinggir jalan dengan membawa tas ransel dibahunya. Mendengar suara motor/hoda saya, beliau moneleh kearah saya. Sayapun mndekat dan menghampiri beliau.
"Pak Utih mau kemana?," tanyaku.
"Mau ke Berawang Gading," Jawabnya.
"Jalan kaki pak Utih?," tanyaku lagi.
"Ia, sambil menunggu tumpangan," jawabnya dengan logat bahasa Aceh yang masih kental.
"Yasudah, naik pak Utih, sama aku aja," kataku sambil mempersilahkan naik.
Sepanjang jalan kami banyak bercerita, termasuk soal statusnya yang kini menduda dan tinggal sebatang kara. Keseharian dia bekerja sebagai buruh, kadang buruh tani kadang juga buruh bangunan.
Diusianya yang sudah senja, ia tak meiliki apapun, tempat tinggalnya masih numpang pada rumah orang.
"Pak, bapak sudah tua, sebentar lagi bapak ini sudah tak sanggup lagi bekerja sebagai buruh, apalagi nanti datang penyakit. Segeralah kerjakan kebun bapak milik bapak sendiri, tanam saja sere wangi, untuk biaya hidup penghujung usia bapak, selagi bapak masih sehat dan mampu, jangan lalai dengan kehidupan sebagi buruh," demikian pesanku padanya.
"Bagaimana aku bisa mengerjakan kebunku, sementara setiap hari aku harus mencari sesuap nasi untuk menjadi buruh," katanya lirih.
Pak Utih ini juga statusnya sekarang hanya warga mandah di kampungku, setelah dulu pindah dari kampung ke kampung asalnya, di Bireun.
Orang seperti pak Utih ini perlu diperhatikan, bagaiman agar bisa mandiri, dan mendapatkan penghidupan yang layak.