16/09/2026
✨ Kunang-kunang Semakin Langka, Tanda Alam Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Semakin sulitnya menemukan kunang-kunang ternyata bukan sekadar nostalgia. Menurut Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi dari IPB University, kunang-kunang merupakan bioindikator yang dapat mencerminkan kesehatan lingkungan. Ketika habitat rusak dan kualitas lingkungan menurun, populasinya ikut berkurang bahkan menghilang.
Fenomena ini terjadi di berbagai negara. IUCN mencatat sekitar 11–20% spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam, termasuk beberapa spesies Asia Tenggara yang hidup di kawasan mangrove.
Penyebab utamanya antara lain kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan, polusi cahaya, penggunaan insektisida, perubahan iklim dan kekeringan, semenisasi saluran air, serta urbanisasi. Cahaya buatan yang terlalu terang bahkan dapat mengganggu kunang-kunang dalam menemukan pasangan untuk berkembang biak.
Kunang-kunang masih dapat bertahan di tempat yang lembap, alami, minim cahaya, dan bebas pencemaran, seperti mangrove, tepi sungai, rawa, sawah tradisional, perkebunan organik, dan lantai hutan.
Jika habitat terus rusak, generasi mendatang bisa saja hanya mengenal kunang-kunang dari buku atau layar. Karena itu, menjaga halaman tetap memiliki tanah, mengurangi lampu luar yang terlalu terang, menghindari penggunaan bahan kimia berlebihan, serta menjaga sungai dan saluran air tetap bersih dapat membantu mempertahankan keberadaan mereka.
Menjaga kunang-kunang berarti menjaga habitat dan kesehatan lingkungan tempat kita hidup. 🌿✨