NoyNoize

NoyNoize #𝗿𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 #𝗻𝗮𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 #𝗺𝘂𝗵𝗮𝘀𝗮𝗯𝗮𝗵

⚠️ ISTRI JUGA BERHAK BAHAGIAMenjadi istri dan ibu rumah tangga bukan pekerjaan ringan. Setiap hari ada anak yang harus d...
26/08/2026

⚠️ ISTRI JUGA BERHAK BAHAGIA

Menjadi istri dan ibu rumah tangga bukan pekerjaan ringan. Setiap hari ada anak yang harus diurus, suami yang dilayani, rumah yang dibersihkan, dan banyak urusan yang sering tidak terlihat oleh siapa pun. Karena itu, jangan menganggap kebutuhan istri untuk beristirahat, keluar sejenak, atau menikmati waktu bersama keluarga sebagai sesuatu yang tidak penting.

Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang suami tidak hanya dituntut untuk memberi nafkah, tetapi juga memahami kebutuhan dan hak keluarganya. Jangan sampai seorang suami merasa telah menunaikan kewajiban hanya karena memberi uang, sementara istrinya kelelahan, kesepian, dan tidak pernah diberi kesempatan untuk menikmati hidup dengan cara yang halal.

Allah ﷻ berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)

Nabi ﷺ juga bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak haknya.”
(HR. Bukhari)

Maka, wahai para suami, jangan hanya menuntut istri untuk selalu kuat. Sesekali ajaklah ia menikmati waktu bersama, bantu pekerjaannya, dengarkan keluhannya, dan bahagiakan ia dengan cara yang halal. Jangan menunggu ia benar-benar lelah untuk menyadari bahwa dirinya juga memiliki hak.

Menunaikan hak istri bukan berarti memanjakannya, tetapi menjalankan amanah. Bertakwalah kepada Allah dan tunaikan setiap hak dengan sebaik-baiknya. Rumah tangga yang sehat bukan dibangun dengan tuntutan semata, tetapi dengan saling memahami, saling membantu, dan saling menjaga dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.

.or.id

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini tanpa mengurangi atau menambahinya. Semoga bermanfaat.

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️ DOSA SUAMI TERHADAP ISTRIDalam Islam, pernikahan bukan hanya tentang tinggal bersama, tetapi tentang amanah yang akan...
26/08/2026

⚠️ DOSA SUAMI TERHADAP ISTRI

Dalam Islam, pernikahan bukan hanya tentang tinggal bersama, tetapi tentang amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ. Seorang suami bukan sekadar pemimpin dalam rumah tangga, melainkan orang yang berkewajiban menjaga agama, kehormatan, nafkah, dan perasaan istrinya.

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Karena itu, jangan sampai seorang suami rajin berbicara tentang tanggung jawab, tetapi lalai terhadap kewajibannya sendiri. Tidak mengajarkan agama, menelantarkan nafkah, membiarkan istri memikul beban sendirian, membenci, merendahkan, membuka aib, atau bersikap tidak peduli terhadap kehormatan istri adalah perkara yang harus ditakuti.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)»

Maka, sebelum menuntut istri menjadi pasangan yang baik, seorang suami hendaknya bertanya kepada dirinya: Apakah aku sudah menjadi suami yang baik menurut Allah?

Jangan merasa kuat hanya karena istri masih bertahan. Bisa jadi kesabarannya adalah bentuk ketaatan kepada Allah, bukan tanda bahwa ia tidak terluka. Jagalah amanah itu sebelum penyesalan datang ketika semuanya sudah tidak dapat diperbaiki.

.or.id

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini tanpa mengurangi atau menambahinya. Semoga bermanfaat.

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️ BUKTI CINTA YANG SEBENARNYA“Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, menjadikan kalian berbuat tidak adil (zalim) k...
25/08/2026

⚠️ BUKTI CINTA YANG SEBENARNYA

“Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, menjadikan kalian berbuat tidak adil (zalim) kepada mereka..!” [QS. Al-Maidah: 8]

Sehingga janganlah menuduh orang yang tidak ikut “Maulid Nabi”, dengan tuduhan “pasti tidak cinta Nabi” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Karena seringkali alasan dia tidak ikut “Maulid Nabi” adalah karena “cinta yang sangat tinggi” kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mungkin ada yang heran, mengapa karena “cinta Nabi”, seseorang malah meninggalkan “maulid Nabi”..?

Jawabannya:

Karena menurut dia bukti cinta yang sebenarnya adalah “mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang dia cintai..”

Ketika dia sangat mencintai Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- .. dan dia tahu beliau mengatakan “Jauilah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)..”, dia juga tahu hadits: “Perkara paling buruk dalam agama adalah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)” .. kemudian dia melihat bahwa ritual maulid itu bid’ah, karena tidak pernah dilakukan, baik oleh Nabi, para sahabat, para tabiin, maupun para tabi’ut tabiin .. maka konsekuensinya dia akan meninggalkan “Maulid Nabi” .. bukan karena dia tidak “cinta Nabi”, justru dia tinggalkan itu, karena dia “sangat mencintai beliau” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Oleh karenanya, jangan zalimi saudaramu dengan tuduhan “tidak cinta kepada Nabi” shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dia sangat sadar akan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai melebih orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhari dan Muslim].

Kenyataannya setiap muslim yang ikhlas, dia pasti mencintai Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja bentuk cintanya bisa berbeda sesuai dengan latar belakang ilmu masing-masing.

Jangan sampai “maulidmu” menjadikanmu menzalimi saudaramu..!

Ingat sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Sungguh kezaliman akan mendatangkan banyak kegelapan kepadamu di hari kiamat nanti..!” [HR. Bukhari dan Muslim].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

🎙️ Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ref : https://bbg-alilmu.com/archives/55140

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️ MENOLAK BALA TETAPI MENGUNDANG MURKASemua orang tentu mendambakan keselamatan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada b...
25/08/2026

⚠️ MENOLAK BALA TETAPI MENGUNDANG MURKA

Semua orang tentu mendambakan keselamatan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada bencana yang mengancam mereka pun berusaha menangkalnya. Dan jika bencana sudah menimpa, maka berbagai cara pun ditempuh untuk menghilangkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang tidak memiliki pemahaman tauhid yang benar sangat rawan terjerumus dalam kesyirikan. Jangan sampai kita menolak bala tapi mengundang murka.

Hanya Allah Sumber Keselamatan

Seorang muslim harus yakin bahwasanya hanya Allah lah yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum menimpa maupun yang sudah menimpa. Allah ta’ala berfirman,_“Katakanlah: Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudhratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az Zumar [39]: 38)_

Ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya memupus ketergantungan hati kepada selain Allah dalam meraih kebaikan atau menolak madharat, dan menunjukkan bahwasanya ketergantungan hati kepada selain Allah itu termasuk perbuatan mempersekutukan-Nya.

Prinsip Penting Dalam Pengambilan Sebab

Seorang yang ingin meraih manfaat atau menolak mudharat tentunya berusaha menempuh sebab demi tercapainya keinginannya. Dalam menempuh sebab ini ada tiga pedoman yang harus diperhatikan:

1.Sebab yang ditempuh harus diizinkan oleh syariat, baik yang terbukti dengan jalan wahyu maupun yang diperoleh berdasarkan pengalaman.

2.Tidak boleh bersandar kepada sebab, tetapi harus senantiasa menyandarkan hati kepada pencipta dan penguasa sebab yaitu Allah ‘azza wa jalla, dengan tetap bersemangat mencari sebab-sebab yang bermanfaat.

3.Harus diyakini bahwa sekuat apapun sebab tetap ditentukan oleh takdir dari Allah. Bisa jadi hukum sebab akibat itu dibiarkan berjalan sebagaimana biasa dan bisa juga sebaliknya.

Bergantung Kepada Selain Allah

Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada seseorang yang mengenakan gelang dari bahan kuningan, maka Nabi pun bertanya kepadanya, “Apa ini?”, orang itu menjawab, “Ini aku pakai karena aku sakit”. Maka Nabi bersabda,_“Lepaskan saja itu, karena ia tidak akan menambah kepadamu kecuali kelemahan, sungguh jika engkau mati sementara gelang itu masih kau kenakan niscaya engkau tidak akan selamat selama-lamanya.” (HR. Ahmad)_

Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwasanya orang yang mengenakan gelang dan semacamnya dalam rangka menolak bala atau menghilangkannya termasuk perbuatan syirik karena Nabi bersabda,_“jika engkau mati sementara gelang itu masih kau kenakan niscaya engkau tidak akan selamat selama-lamanya,”_ ditepisnya keselamatan menunjukkan bahwa orang yang melakukannya pasti mendapatkan kebinasaan dan kerugian.

Hukum Mengalungkan Tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan untuk menolak bala, orang Arab dahulu biasa memakaikannya pada anak-anak untuk menjaga mereka dari gangguan mata jahat (‘ain). ‘Ain ini bila menimpa seseorang dapat membuatnya jatuh sakit secara tiba-tiba. Bahan tamimah bisa terbuat dari kerang, batu, kayu, akar, kulit, kain atau bahan apapun yang dipakai untuk tujuan menolak bala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengalungkan tamimah maka dia telah berbuat syirik.” (Hadits shohih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad). Dan hukum mengenakan tamimah menjadi syirik akbar jika pelaku meyakini bahwa benda yang dipakainya itu bisa memberikan pengaruh sediri di luar kehendak Allah. Adapun jika dia meyakini bahwa itu sekedar sebab saja maka hukumnya syirik ashghor.*Namun seseorang tidak boleh meremehkan syirik ashghor, karena tingkah polah hati sering kali cenderung bersandar kepada sebab.

Terlebih lagi syirik ashghor yang penampakannya sangat samar adalah dosa terbesar seorang muslim, yang kadarnya lebih berat daripada dosa berzina, mencuri dan semacamnya maka tidak ada kata lain kecuali waspada.

Muslim Tetapi Musyrik

Orang yang memakai tamimah atau jimat tergolong musyrik dengan jenis syirik ashghor, tapi statusnya masih muslim. Karena hanya dosa syirik akbar dan yang sederajatlah yang dapat membatalkan keislaman seseorang. Dalam sebuah riwayat yang dibawakan Ibnu Abi Hatim diceritakan bahwa suatu saat Hudzaifah melihat ada seseorang yang memakai tali untuk mengobati demam yang dideritanya, maka beliau pun memutus tali tersebut sambil membaca firman Allah, “Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Alloh melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.” (QS. Yusuf [12]: 106). Maksudnya adalah mereka beriman dengan rububiyah Allah tetapi mengingkari uluhiyyah Allah.

Ayat di atas tidak mesti digunakan sebagai hujjah (alasan) untuk mengingkari syirik akbar, akan tetapi bisa dipakai untuk mengingkari syirik ashghor. Hal ini karena syirik ashghor dan syirik akbar sama-sama dari jenis syirik, sehingga tepatlah Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berdalil dengan memakai ayat ini.

Berserah Diri Hanya Kepada Allah

Apabila kita cermati baik-baik maka ternyata kunci utama agar kita terbebas dari ketergantungan kepada selain Allah adalah dengan bertawakal kepada-Nya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan untuk mengatakan, “Cukuplah Allah bagiku” dan Allah tegaskan bahwa orang yang bertawakal itu senantiasa menyerahkan urusannya kepada Allah ta’ala. Ini artinya orang yang tidak bertawakal kepada-Nya maka tidaklah ia disebut orang yang bertawakal. Bahkan dia telah kehilangan kesempurnaan atau bahkan seluruh imannya, sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Kepada Allah lah orang-orang yang beriman menyerahkan diri.” (QS. At Taubah [9]: 51). Dan barangsiapa yang menyerahkan urusan kepada selain-Nya maka dia akan dihinakan dan tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya.

Memang demikianlah keadaannya, segala yang dijadikan sandaran oleh manusia untuk mengatasi permasalahannya adalah justru berbalik menjadi sebab kelemahannya kecuali jika yang dijadikan sandaran adalah Allah ‘azza wa jalla, karena memang hanya Allah lah yang pantas. Dia lah satu-satunya Dzat yang menguasai langit dan bumi, kehidupan dan kematian serta keselamatan dan kebinasaan. Oleh karena itu marilah kita cermati hati kita masing-masing apakah selama ini kita memiliki ketergantungan hati kepada selain-Nya, jangan-jangan kita berkubang syirik namun kita tidak sadar dan merasa aman-aman saja. Padahal keamanan dan petunjuk hanya akan diperoleh jika kita senantiasa menjaga keimanan agar tidak terkotori kesyirikan.

_Wallahu a’lam bish showaab_

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel muslim.or.id

Sumber : https://muslim.or.id/601-menolak-bala-tetapi-mengundang-murka.html

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

24/08/2026

⚠️ SUNGGUH, AKAN DATANG ZAMAN YANG BURUK • قال ابن عباس رضي الله عنهما:لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ هِمّ...
24/08/2026

⚠️ SUNGGUH, AKAN DATANG ZAMAN YANG BURUK

• قال ابن عباس رضي الله عنهما:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُونُ هِمَّةُ أَحَدِهِمْ فِيهِ بَطْنَهُ وَدِينُهُ هَوَاهُ

ابن المبارك في الزهد (٦١٣)

Sahabat BNabi yang mulia, Abdullah bin Abbas rodhiyallohu anhuma pernah berkata :

_“Sungguh akan datang suatu zaman, di mana cita-cita (perhatian utama) seseorang itu hanyalah perutnya, dan agamanya mengikuti hawa nafsunya.”_ ( Az-Zuhd, (hal. 613), karya Al-Imam Ibnul Mubarok rohimahulloh).

*Catatan :

Perkataan Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma tersebut di atas menggambarkan tentang kerusakan manusia di akhir zaman.

a/ Mereka hanya fokus pada urusan perut (kesenangan dunia). Yakni, hidupnya hanya untuk mencari harta, makan, minum dan menikmati berbagai kesenangan dunia.

Tetapi mereka tidak peduli halal atau haram, dan tidak mempunyai tujuan akhirat.

b/ Agama bukan lagi prioritas, tetapi sekedar pelengkap hidup saja. Dan agamanya itu pun hanya mengikuti hawa keinginan hawa nafsunya.

✓ Mereka menentukan benar atau salah berdasarkan keinginan pribadi.
✓ Mereka mencari dalil hanya untuk membenarkan hawa nafsunya.
✓ Dan mereka menolak kebenaran jika tidak sesuai dengan keinginannya.

c/ Mereka menjadikan agama tunduk kepada kepentingan hawa nafsunya.

Sungguh, ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Karena:
✓ Bisa menyeret kepada penyimpangan dalam akidah dan ibadah.
✓ Menjadikan seseorang mengikuti agama secara selektif, sesuai selera hawa nafsunya.
✓ Pada akhirnya mereka akan keluar dari jalan yang lurus tanpa sadar.

Faedah atau Pelajaran yang bisa kita ambil :

1/ Wajib bagi kita untuk selalu meluruskan niat.

Yakni, jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama. Tetapi seharusnya tujuan utama hidup kita adalah beribadah kepada Alloh, kemudian mencari keridhoan-Nya dan mengharapkan balasan di akhirat nanti. Jika tidak seperti itu, sungguh kita akan merugi !

Allah ta'ala berfirman :

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

_"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan."_ (QS Huud : 15)

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

_"Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan."_ (QS Huud : 16)

2/ Bahwa hawa nafsu itu jangan dituruti kemauannya. Tetapi harus dikendalikan dan kita tundukkan.

Allah ta'ala berfirman :

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

_"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan."_ (QS Shood : 26)

Intinya, mengikuti kemauan hawa nafsu itu, akan menyeret kita kepada kesesatan dan penyimpangan .....

3/ Diantara tanda rusaknya hati itu adalah kalau seseorang itu lebih bersemangat dalam mengejar urusan dunia daripada urusan ibadah/akhirat.

Orang seperti itu akan bermudah-mudah melanggar aturan syariat, demi mendapatkan kepentingan pribadinya.

4/ Pentingnya ilmu dan kejujuran dalam beragama.

Yakni, janganlah kita menafsirkan/memahami agama seenaknya sendiri, dan jangan p**a mengikuti dalil yang sesuai selera.

Tetapi hendaknya hawa nafsu kita itu tunduk kepada dalil dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh dalil.

5/ Diantara kenyataan yang ada di akhir zaman, termasuk di zaman kita sekarang ini adalah banyak orang yang berani menghalalkan yang haram, demi untuk meraih keuntungan.

Mereka menjadikan agama disesuaikan dengan tren masa kini, dan keinginan hawa nafsunya.

Hal ini membuktikan kebenaran firasat para Sahabat Nabi, diantaranya adalah seperti apa yang disampaikan oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu anhuma, sebagaimana tersebut di atas.

Nasehat penutup :

Seorang muslim yang benar itu adalah :

✓ Yang menjadikan agama sebagai pemimpin yang ditaatinya.

✓ Menundukkan hawa nafsunya kepada hukum syariat agama.

✓ Menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.

Sebagaimana kata para ulama :

_“Orang yang baik itu bukanlah orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya di bawah perintah Alloh.”_

Demikianlah pembahasan yang ringkas ini, semoga bermanfaat untuk kita semuanya ....

Dan semoga p**a kita termasuk orang-orang yang dijadikan oleh Alloh sebagai orang-orang yang tunduk dan patuh kepada tuntunan syari'at agama Islam yang mulia, dan dijauhkan dari sifat-sifat yang tercela, sebagaimana tersebut di atas .....

_Nas-alulloha As-Salaamah Minas Syuruur wal Fitan ......_

🎙️ Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️ KETIKA MARAH ORANG TUA LEBIH BAIK DARIPADA DIAM SELAMANYAJangan merasa menang hanya karena orang tua masih bisa memar...
24/08/2026

⚠️ KETIKA MARAH ORANG TUA LEBIH BAIK DARIPADA DIAM SELAMANYA

Jangan merasa menang hanya karena orang tua masih bisa memarahi kita. Ada kemarahan yang lahir dari rasa sayang, kekhawatiran, dan keinginan agar anaknya tidak salah jalan. Yang harus kita takutkan justru ketika nasihat berubah menjadi diam, teguran berhenti, dan mereka tidak lagi peduli dengan apa yang kita lakukan.

Allah ﷻ berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan jangan membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23)

Rasulullah ﷺ bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Maka, ketika orang tua marah, jangan buru-buru membalas, apalagi merasa diri paling benar. Introspeksilah. Bisa jadi teguran yang membuatmu sakit hari ini adalah bentuk kasih sayang yang kelak sangat kamu rindukan.

Jangan tunggu mereka diam selamanya untuk menyadari betapa mahalnya suara mereka. Selagi masih ada kesempatan, rendahkan ego, minta maaf, berbakti, dan bahagiakan mereka sebelum penyesalan datang ketika pintu itu telah tertutup. Sebab setelah kematian datang, tidak ada lagi kesempatan memperbaiki ucapan, mencium tangan, meminta maaf, atau mendengar mereka memanggil namamu dengan penuh kasih.

.or.id

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini tanpa mengurangi atau menambahinya. Semoga bermanfaat.

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️ BERHATI-HATILAH DALAM MEMILIH GURU AGAMAPertanyaan:Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang b...
22/08/2026

⚠️ BERHATI-HATILAH DALAM MEMILIH GURU AGAMA

Pertanyaan:

Saya sudah mengetahui bahwa wajib belajar agama dari ustadz yang bermanhaj salaf. Namun saya masih bingung bagaimana cara mengetahui seorang ustadz itu bermanhaj salaf dan layak diambil ilmunya? Syukran atas jawabannya.

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Cara memilih guru dalam belajar agama atau memilih seorang ustadz untuk diambil ilmunya adalah dengan memperhatikan tiga hal:

Aqidah dan manhajnya lurus, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.
Ilmunya mendalam, layak, dan kompeten untuk mengajarkan ilmu. Bukan orang jahil atau ruwaibidhah, yang bicara masalah agama tanpa ilmu.
Akhlaknya baik.
Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah mengatakan:

كَانُوا إِذَا أَتَوْا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ، نَظَرُوا إِلَى هديه، وَإِلَى سَمْتِهِ، وَ صلاته, ثم أخذوا عنه

“Para salaf dahulu jika mendatangi seseorang untuk diambil ilmunya, mereka memperhatikan dulu bagaimana aqidahnya, bagaimana akhlaknya, bagaimana shalatnya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya” (HR. ad-Darimi dalam Sunan-nya, no.434)
Maka kepandaian berbicara bukanlah ukuran. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan: “Wajib bagi anda wahai kaum Muslimin dan para penuntut ilmu agama, untuk bersungguh-sungguh dalam tatsabbut (cek dan ricek) dan jangan tergesa-gesa dalam menanggapi setiap perkataan yang anda dengar (dalam masalah agama). Dan hendaknya mencari tahu:

Siapa yang mengatakannya?
Dari mana datangnya pemikiran tersebut?
Apa landasannya?
Adakah dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah?
Orang yang mengatakannya belajar di mana?
Dari siapa dia mengambil ilmu (siapa gurunya)?
Inilah perkara-perkara yang perlu dicek dan ricek. Terutama di zaman sekarang ini.

sumber: rodja.id/5d6
id

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
______________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕..............................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️ DENGAN SIAPA KITA BERTEMAN?Manusia sering kali tidak sadar bahwa lingkungan pertemanan perlahan membentuk cara berpik...
22/08/2026

⚠️ DENGAN SIAPA KITA BERTEMAN?

Manusia sering kali tidak sadar bahwa lingkungan pertemanan perlahan membentuk cara berpikir, ucapan, kebiasaan, bahkan agama seseorang. Kita mungkin merasa mampu tetap menjadi diri sendiri, tetapiL siapa yang sering kita temui dan dengarkan akan meninggalkan pengaruh dalam diri kita.

Allah ﷻ berfirman:
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.”

(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Karena itu, jangan hanya mencari teman yang membuat kita nyaman, tetapi carilah teman yang membuat kita semakin dekat kepada Allah. Teman yang mengingatkan ketika kita lalai, menasihati ketika kita salah, dan mengajak kepada kebaikan meskipun nasihat itu terkadang tidak menyenangkan.

Berteman dengan orang saleh mungkin tidak selalu membuat hidup kita mudah, tetapi insyaAllah membantu kita tetap berada di jalan yang benar. Sebaliknya, pertemanan yang buruk bisa membuat dosa terasa biasa, maksiat terasa ringan, dan hati semakin jauh dari ketaatan.

Jika belum menemukan teman yang baik, sendiri dalam ketaatan jauh lebih baik daripada ramai-ramai dalam kemaksiatan. Sebab pada akhirnya, kita akan mempertanggungjawabkan pilihan kita di hadapan Allah.

Jangan remehkan siapa yang sering duduk di sampingmu. Bisa jadi, ia sedang menentukan ke mana arah hidupmu.

.or.id

Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini tanpa mengurangi atau menambahinya. Semoga bermanfaat.

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
____________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕................................✍️

Ptn (NoyNoize)

⚠️TAWADHUSemoga saya dan anda diberi perhiasan akhlak tawadhu' Tawaadhu': Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Ki...
20/08/2026

⚠️TAWADHU

Semoga saya dan anda diberi perhiasan akhlak tawadhu'

Tawaadhu': Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita

Hakikat dari tawaadhu’ yaitu memandang orang lain selalu lebih baik dari kita.

(Bukan baju yang lusuh dan muka yang lemas dan layu, atau kalau shalat terlalu menunduk dipaksakan)
Sikap tawaddu’ ini akan memberikan dua manfaat:

1.Ia akan berusaha memuliakan orang lain karena menganggap orang lain lebih baik serta ia tidak mudah meremehkan orang lain. Sikap ini akan memudahkan ia berinteraksi dan melahirkan ahklak yang mulia.

2.Ia akan berusaha terus memperbaiki dirinya dan meningkatkan kualitas diri karena ia merasa ada yang perlu ditingkatkan.

‘Abdullah Al Muzani pernah berkata,

Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah.
Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.”
Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan,

“Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.”

Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.”
[Hilyatul Awliya’ 2/226]

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

BACA SELENGKAPNYA:

Sumber
https://muslimafiyah.com/tawaddhu-memandang-orang-lain-selalu-lebih-baik-dari-kita.html

Penyusun:
🎙️ustadz Raehanul Bahraen

⚠️ 𝐀𝐌𝐁𝐈𝐋 𝐈𝐋𝐌𝐔 𝐌𝐄𝐃𝐈𝐀 𝐒𝐀𝐋𝐀𝐅
______________________
♏𝐒 𝐀𝐲𝐨-𝐀𝐲𝐨 𝐁𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐋𝐚𝐠𝐢
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟

📕..............................✍️

Ptn (NoyNoize)

Address

Tangerang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NoyNoize posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share